• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertumbuhan Jumlah Tenaga Pelayan GKPA

BAB III PERKEMBANGAN GKPA DARI TAHUN 1988-2000

3.5. Pertumbuhan Jumlah Tenaga Pelayan GKPA

Bertumbuhnya jumlah Parlagutan, Resort dan warga jemaat di GKPA tentu harus diikuti oleh tenaga Pelayan di GKPA terutama Pendeta yang menjadi Pimpinan Resort yang mengatur segala rencana, pembinaan, program, dan pembangunan GKPA dari tingkatan paling bawah. Meskipun Pendeta tidak semua menjabat sebagai Pendeta Resort karena harus menjabat sebagai Ephorus, Sekretaris Jenderal, Kepala Biro, Pendeta diperbantukan, dan Praeses namun fungsinya sama pentingnya dalam usaha meningkatkan mutu pelayanan terhadap warga jemaat GKPA. Meskipun merupakan sebuah gereja yang tidak bisa disandingkan dengan gereja besar seperti HKBP, HKI dan GKPI, GKPA hanya mau menerima tenaga calon pendeta dari sekolah-sekolah dan institut teologia yang menjadi mitranya dan diakui oleh GKPA kurikulumnya sesuai untuk diterapkan dengan kultur warga jemaat GKPA.56 Adapun hingga tahun 2000, GKPA hanya menerima tamatan dari lima buah sekolah teologia, yaitu:

1. Sekolah Tinggi Teologia (STT) HKBP Pematang Siantar, Sumatera Utara.

2. Intitut Injil Indonesia (III) Batu, Malang, Jawa Timur.

3. Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta, 4. Institut Teologia Abdi Sabda Medan (ITAS) .

5. Sekolah Tinggi Teologia (STT) GMI Bandar Lampung.

Seluruh mahasiwa yang menuntut Ilmu Teologia di Sekolah Tinggi yang menjadi mitra GKPA, mendapat beasiswa dari GKPA sebagai otivasi agar semangat

56 Wawancara: Pdt. G.P. Harahap, MST. (12 Agustus 2016)

dalam menuntut ilmu dan memiliki rasa tanggungjawab untuk membesarkan GKPA ketika telah selesai menuntut Ilmu Teologia.57

Tabel 3.6. Jumlah Pendeta di GKPA Tahun 1988-2000 No. Tahun Jumlah Pendeta Jumlah Vicar

1 1988 23 10

2 1989 31 4

3 1900 31 3

4 1991 31 6

5 1992 32 3

6 1993 38 4

7 1994 37 5

8 1995 39 3

9 1996 39 4

10 1997 40 5

11 1998 41 2

12 1999 41 4

13 2000 43 6

(Sumber: Almanak GKPA tahun 1989, 1990, 1991, 1992, 1993, 1994, 1995, 1996, 1997, 1998, 1999, 2000 dan 2001)

57 Wawancara dengan Nursini br. Hombing, Medan pada tanggal 1 September 2016 pukul 22.00 WIB

Dalam jumlah tenaga gereja pendeta yang sangat sedikit sementara jumlah parlagutan dan warga jemaat yang semakin banyak, harus diakui bahwa GKPA setiap tahunnya mengalami masa kekurangan tenaga pelayan. Namun kekurangan tenagaa pelayan tersebut tidak membuat GKPA menerima tamatan Ilmu Teologia secara sembarangan demi tercapainya kuantitas tenaga pelayan. Semua tenaga pelayan di GKPA harus diawali dengan mendaftar ke Kantor Pusat GKPA dengan melampirkan Ijazah tamatan Sekolah Tinggi mitra GKPA dengan IPK minimal 2.51 kemudian melalui masa Vicar yaitu dimulai dengan training di Kantor Pusat GKPA paling sedikit selama 3 bulan, agar mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan sejarah, organisasi, latar belakang teologi, dan pelayanan di GKPA. Setelah melalui masa training di Kantor Pusat, calon pendeta juga akan praktek selama kurang lebih 20 bulan di parlagutan yang ditempatkan oleh Pucuk Pimpinan GKPA untuk belajar kultur warga jemaat, cara melayani, cara memimpin jemaat, dan cara membuat program. Apabli masa 20 bulan dianggap belum mencukupi seorang calon pendeta diangkat menjadi pendeta, maka dapat dilakukan peninjauan kembali untuk memperpanjang status calon pendeta. Selain itu calon pendeta juga harus mampu berbahasa Indonesia dengan lancar dan mampu berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Angkola dan diusahakan dapat berbahasa Inggris.58

Meskipun tidak semua pendeta yang melayani di GKPA bukan merupakan tamatan dari sekolah tinggi yang menjadi mitra GKPA, banyak terdapat tenaga

58 Wawancara dengan Nursini br. Hombing, Medan pada tanggal 1 September 2016 pukul 22.00 WIB

pelayan GKPA non-struktural yang membantu GKPA dalam tugas pelayanan warga Jemaat. Para pendeta tersebut berasal dari Gereja mitra GKPA di dalam negeri seperti GKPS dan mitra GKPA di luar negeri. Para pendeta ini hanya diberi kebutuhan hidup dan tempat tinggal oleh GKPA tanpa diberi gaji pokok dan tunjangan seperti Pendeta GKPA struktural lainnya meskipun melakukan tugas pelayanan jemaat yang sama.

Dalam hal melakukan penginjilan, GKPA tidak pernah membentuk suatu tim khusus yang terdiri dari pendeta-pendeta ataupun missionaris-missionaris dengan tugas khusus melakukan Penginjilan dan Kristenisasi seperti yang dilakukan oleh para pendahulu di tanah Angkola. Hal ini disebabkan GKPA memahami bahwa tanah Angkola merupakan tanah yang majemuk yang hampir seluruh masyarakatnya telah memeluk agama, yang situasi dan kondisinya berbeda dengan beberapa ratus Tahun yang lalu. Dikhawatirkan juga apabila pendeta GKPA melakukan Penginjilan di tanah Angkola terjadi penolakan dari masyarakat sehingga menimbulkan konflik horizontal dan mengganggu hubunagn kekeluargaan yang dibangun selama ini antar masyarakat tanpa memandang perbedaan kepercayaan.

GKPA sebelum menerima pendeta selalu memperhatiakn kualifikasi ; kerendahan hati, kejujuran, contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari, dan mutu yang baik dalam keahlian melayaniPeran pendeta yang kontekstual, terbuka, dialogis, serta memberi ruang pelayanan dengan berbagai pihak, termasuk kualifikasi yang sangat dibutuhkan untuk program menuju Kemandirian GKPA. Kualifikasi ini memampukan para pendeta GKPA menghadapi berbagai masalah sosial, politik, agama dan budaya. Secara teologis, keseimbangan pelayanan di bidang pemberitaan,

diakonia, dan keadilan, hak-hak azasi manusia mendapat perhatian dalam mempersiapkan pendeta di GKPA, sehingga peran pendeta tidak dipahami hanya dalam kegiatan ritual gereja semata-mata, tetapi mencakup jangkauan luas untuk mewujudkan gerak partisipatoris dan dialogis.

BAB IV

FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG BERKEMBANGNYA GKPA DI TAPANULI SELATAN

4.1. Faktor Internal

GKPA sesudah menerima hak otonom dan dalam usaha mencapai kemandirian, GKPA terus meningkatkan misi pekabaran Injil dan pembinaan rohani di wilayah Tapanuli Selatan. Namun disamping itu GKPA juga berhasrat dan bebrbuat untuk meningkatkan hidup jasmaniah masyarakat sekitar melalui kegiatan dan lembaga-lembaga yang dapat membantu dan bermanfaat jangka panjang bagi kehidupan masyarakat sekitar. GKPA sadar bahwa posisinya sebagai gereja yang baru merintis tentulah harus dapat meraih simpati dari masyarakat sembari menjalankan tugas-tugas pelayanan Gereja kepada umat Kristen dan masyarakat secara umum.59 Maka untuk menjalankan misi tersebut GKPA membentuk tiga lembaga yang dianggap sangat penting untuk membantu kehidupan masyarakat yaitu lembaga kesehatan, lembaga pendidikan, dan lembaga sosial.

Keberadaan lembaga-lembaga tersebut dikemudian hari ternyata melebihi ekspektasi tujuan pada awalnya karena lembaga-lembaga tersebut yang pada akhirnya mengangkat harga diri GKPA sebagai suatu gereja yang baru berdiri namun sudah berusaha ada dan dekat dengan masyarakat. Keberadaan lembaga-lembaga ini yang akhirnya membuat GKPA menerima banyak bantuan dari pihak-pihak swasta dan

59 Wawancara: dengan Ginda Harahap, Jakarta, pada tanggal 12 Agustus 2016, pukul 15.00 WIB.

pemerintah, serta membantu perkembangan gereja di tengah-tengah masyarakat sehingga GKPA dapat diterima dengan baik oleh masyarakat yang mayoritas tidak memeluk agama Kristen.

4.1.1. Bidang Kesehatan

Balai Pengobatan Kesehatan Masyarakat (BPKM) Muara Sipongi merupakan lembaga GKPA yang bergerak dalam bidang kesehatan. BPKM Muara Sipongi berada di Kecamatan Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal (dahulu Kabupaten Tapanuli Selatan). BPKM Muara Sipongi merupakan lembaga tertua dan yang pertama dimiliki GKPA.60 BPKM Muara Sipongi dalam program kesehatannya telah diresmikan pada tahun 1981 di Muara Sipongi untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat sekitar.

BPKM Muara Sipongi sebagai suatu lembaga yang bergerak di bidang kesehatan diakui dan diberikan izin oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia melalui Kantor Wilayah Provinsi Sumatera Utara dan diperpanjang izin praktek setiap lima tahun sekali.61 Dalam menjalankan fungsinya sebagai balai pengobatan, BPKM Muara Sipongi dipimpin oleh seorang Kepala yang memiliki latar belakang di bidang kesehatan dan pengobatan, juga ditanggungjawabi oleh seorang dokter dan beberapa perawat atau bidan.

60 Wawancara, dengan A.B. Marpaung, Padangsidimpuan, pada tanggal 19 Mei 2016, pukul 10.00 WIB

61 Surat Depertemen Kesehatan Republik Indonesia Kantor Wilayah Provinsi Sumatera Utara; Surat Izin Balai Pengobatan Nomor: 1973/KANWIL/YK-2/BP/X/1990

Tujuan BPKM Muara Sipongi adalah sebagai penting pelayanan dan kepedulian GKPA di tengah-tengah masyarakat dalam bidang kesehatan tanpa mengenal latar belakang suku, agama dan budaya. Melalui tujuan ini BPKM Muara Sipongi memberikan perawatan kepada masyarakat sakit yang mendatangi Balai Kesehatan dan menjual obat-obatan dengan biaya yang murah. Meskipun BPKM Muara Sipongi memiliki keterbatasan alat-alat medis serta tenaga media, BPKM Muara Sipongi tetap menjadi tempat pertama masyarakat

Secara struktural sejak berada dalam naungan GKPA sampai tahun 1991 BPKM Muara Sipongi berada dibawah Kepala Departemen Kesehatan Kantor Pusat GKPA yang berkedudukan di Padangsidimpuan dan berhubungan langsung dengan Kepala BPKM yang berkedudukan di BPKM Muara Sipongi. Maka, dalam menjalankan tugasnya Kepala BPKM Muara Sipongi harus senantiasa memberi laporan kepada Departemen Kesehatan Kantor Pusat GKPA.62 Sejak tahun 1991 pasca berakhirnya Sinode AM IX ditetapkan bahwa dihapuskannya struktur Kepala Departemen Kantor Pusat dan dibentuk Biro I hingga V, maka seluruh yayasan dan lembaga GKPA yang sebelumnya berada di bawah Kepala Departemen berubah menjadi di bawah Kepala Biro, termasuk Panti Asuhan Debora yang berada di bawah Biro III Kantor Pusat yang mengurus bidang Pembinaan Warga Gereja (PWG), Partisipasi dalam Pembangunan (Parpem), Diakonia63 dan Kesehatan) yang pada saat

62 Wawancara, dengan Firman Nasution, Muara Sipongi pada tanggal 26 Mei 2016 pukul 17.00 WIB.

63 Diakonia Berasal dari kata kerja Yunan yang berarti melayani. Diakonia merupakan salah satu dati tritugas panggilan Gereja ( Marturia, Koinonia dan Diakonia).

itu dikepalai oleh Pdt. Y.P. Siregar, S.Th. yang berkedudukan di Kantor Pusat GKPA Padangsidimpuan. Pucuk Pimpinan GKPA juga membentuk Yayasan Karia Kasih Agung Muara Sipongi guna meningkatkan koordinasi dengan GKPA dan meningkatkan pelayanan BPKM Muara Sipongi.64 Adapun struktur Yayasan yang diketuai langsung oleh Ephorus tersebut adalah :

Ketua Umum : Pdt. Ginda P. Harahap, MST.

Ketua I : -

Ketua II : St. Bgd. Hasibuan Direksi : St. J. Ritonga Wakil Direksi : St. F Naibaho Dokter Pengawas : dr. Aminuddin Tata Usaha : P. br. Tambunan Tenaga Medis : Asan Basri Tumanggor

Intan br. Lumban Tobing Botwan Lubis

Rismawati br. Paranginangin Karyawan : M.T. Sitompul

Pendanaan dan kebutuhan medis BPKM Muara Sipongi berasal dari Kantor Pusat GKPA yang memberikan bantuan dana setiap bulannya guna menunjang

64 Harahap, Pdt. Ginda P. , Almanak Huria Kristen Batak Protestan Angkola (HKBP-A) 1993, Sipirok : Kantor Pusat GKPA, 1992. Hlm.311

kualotas pelayanan di BPKM Muara Sipongi. Selain sumber dana dari Kantor Pusat GKPA, BPKM Muara Sipongi juga mempertoleh pemasukan hasil penjualan obat-obatan dan biaya perawatan yang jumlahnya tidak terlalu besar, serta subsidi dari Pemerintah yang tidak selalu datang tepat waktu dan tidak tetap jumlah dana yang diterima.65

Jumlah pasien yang diterima dan menerima pengobatan oleh BPKM Muara Sipongi, sejak tahun 1988 setiap tahunnya selalu bertambah seiring semakin bertambahnya kuantitas perawat dan juga kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyaratakat.

Tabel 4.1. Jumlah Pasien dan Jenis Penyakit Tahun 1988-1993

(Sumber: Buku Tahunan BPKM Muara Sipongi tahun 1988-1993) Pada tanggal 23 September 2009 diresmikanlah gedung baru BPKM Muara Sipongi oleh Ephorus GKPA diatas tanah yang dihibahkan oleh ST. Firman Nasution

65 Wawancara, dengan Firman Nasution, Muara Sipongi pada tanggal 26 Mei 2016 pukul 17.00 WIB

No. Tahun Jumlah Pasien Jumlah Jenis Penyakit

1 1988 510 33

pada tanggal 15 Juli 1990. Peresmian gedung baru ini ternyata berdampak pada pertumbuhan jumlah pasian dan meningkatnya mutu pelayanan dikarenakan telah terdapat kamar-kamar sebagai tempat rawat inap pasien-pasien yang harus mendapat perawatan media secara intensif.

Tabel 4.2. Jumlah Pasien dan Jenis Penyakit Tahun 1994-2000

(Sumber: Buku Tahunan BPKM Muara Sipongi tahun 1994-2000) Demi meningkatkan mutu pelayanan dan produktifitas kerja secara optimal, pada tanggal 29 November 1997 Kantor Pusat GKPA meminta agar BPKM Muara Sipongi melaksanakan Program Kunjungan Pelayanan (PKP) secara terjadeal dan terpandu, baik pada jam dinas maupun diluar jam dinas.66 Meskipun pada awal pelaksaan PKP dilakukan dengan baik dan teratur, PKP hanya dapat bertahan selama 14 bulan. Hal ini dikarenakan PKP mengharuskan tenaga medis untuk meninggalkan

66 Surat Kantor Pusat GKPA No. 1937/KP.F.3/’97

No. Tahun Jumlah Pasien Jumlah Rawat Inap Jumlah Jenis Penyakit

1 1994 642 10 38

BPKM Muara Sipongi dan menuju daerah-daerah yang jauh dari jangkauan pelayanan kesehatan, sementara tenaga medis di BPKM Muara Sipongi masih dirasa kurang banyak sehingga seringkali mengakibatkan kewalahan dan kelelahan bagi tenaga medis.67

4.1.2. Bidang Pendidikan

Sekolah Menengah Pertama (SMP) Berkat Kampung Baru merupakan lembaga GKPA yang bergerak dalam bidang pendidikan. SMP Berkat Kampung Baru berada di Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (dahulu Kabupaten Tapanuli Selatan). SMP Berkat Kampung Baru resmi beroperasi pada tanggal 10 Agustus 1984 dan diresmikan oleh Pucuk Pimpinan HKBPA. Ketika diresmikan gedung sekolah hanya memiliki 3 ruangan kelas untuk belajar siswa-siswi dan satu ruangan kecil untuk ruangan guru.

Latar belakang yang menjadi alasan berdirinya SMP Berkat Kampung Baru karena sebelumnya tidak ada sekolah tingkat menengah pertama yang berada di daerah Kampung Baru, sehingga mengakibatkan para siswa-siswi yang telah lulus Sekolah Dasar harus melalui perjalanan yang jauh untuk dapat mencapai sekolah.

Maka masyarakat khususnya yang beragama Kristen melakukan permusyawaratan untuk mendirikan sebuah SMP di daerah Kampung Baru, serta memberikan rekomendasi kepada HKBPA untuk bersedia sebagai Yayasan SMP tersebut kelak.

67Wawancara, dengan Firman Nasution, Muara Sipongi pada tanggal 26 Mei 2016 pukul 17.00 WIB

Maka Pucuk Pimpinan HKBPA yang telah mengambil keputusan bersama Majelis Pusat HKBPA menerima rekomendasi dari masyarakat Kristen Kampung Baru, dan bekerjasama dengan masyarakat secara kolektif dalam membangun gedung SMP Berkat Kampung Baru.68

Pada awal peresmian HKBPA sebagai Pimpinan Yayasan menunjuk Pdt. S.P.

Marpaung, Sm.Th., sebagai Kepala Sekolah SMP Berkat Kampung Baru dan 10 orang tenaga pengajar pertama yang berasal dari 3 gereja, yaitu;

1. Gr. B. Pardede (HKBPA)

Kesulitan dialami oleh SMP Berkat Kampung Baru terutama dibidang keuangan karena siswa-siswi dipatok dengan uang sekolah yang sangat murah sehingga masyarakat dan HKBPA harus terus memberikan bantuan dana untuk

68 Wawancar dengan Romulur Lumbantoruan, Panyabungan pada tanggal 24 Juli 2016 pukul 17.00 WIB.

keperluan honor tenaga pengajar, peralatan mengajar dan buku-buku sehingga seringkali honor tenaga pengajar terlambat diberikan ataupun kurang dari honor yang seharusnya diterimanya. Kesulitan lainnya karena SMP Berkat Kampung Baru dipimpin oleh seorang Pendeta yang notabene tidak begitu paham dunia pendidikan mengakibatkan terjadi beberapa kesulitan dan kendala terutama dalam penyusunan kurikulum siswa dan pengambilan keputusan dalam rapat guru. Maka pasca terpilihnya Pucuk Pimpinan GKPA tahun 1988, Pdt. G.P. Harahap, MST., selaku Ephorus melakukan mutasi terhadap sejumlah Pendeta termasuk Pdt. S.P. Marpaung, S.Th., menjadi Kepala Sekolah Pendidikan Guru Agama Kristen (PGAK) Sipirok menggantikan Pdt. Mardiha S.Th., serta menunjuk A.P. Dongoran BA sebagai Kepala Sekolah SMP Berkat Kampung Baru. Pergantian Kepala Sekolah baru terjadi kembali pada tahun 1997 setelah para guru melakukan rapat dan memilih St.

Romulur Lumbantoruan, S.Pd., sebagai Kepala Sekolah dan memberikan rekomendasi kepada Pucuk Pimpinan GKPA selaku Ketua Yayasan untuk mengangkatnya sebagai Kepala Sekolah.69

Jumlah siswa di SMP Berkat Kampung Baru hampir setiap tahunnya selalu bertambah meskipun sejak awal berdiri sampai tahun 2000 tenaga pengajar tetap hanya sepuluh orang. Hal ini dikarenakan hingga tahun 2000 belum ada SMP yang berdiri di Kampung Baru baik itu SMP Negeri maupun swasta. Jumlah siswa yang bertambah setiap tahunnya memiliki suatu keanehan tersendiri karena sepanjang SMP

69 Wawancar dengan Romulur Lumbantoruan, Panyabungan pada tanggal 24 Juli 2016 pukul 17.00 WIB

Berkat Kampung Baru berdiri belum pernah ada siswa yang bergama diluar Kristen yang mendaftar diri, meskipun SMP Berkat Kampung Baru membuka siswa tanpa melihat latar belakang agama. Namun hal tersebut juga berdampak pada suasana kehidupan sekolah yang lebih menonjolkan kekeluargaan karena seluruh warga sekolah merupakan tetangga dan merupakan warga jemaat dalam satu gereja.70

Tabel 4.3. Jumlah Siswa SMP Berkat Kampung Baru Tahun 1984-2000

70Wawancar dengan Romulur Lumbantoruan, Panyabungan pada tanggal 24 Juli 2016 pukul 17.00 WIB

No Tahun Kelas I Kelas II Kelas III Jumlah

1 1984 31 - - 31

2 1985 34 31 - 65

3 1986 34 34 30 98

4 1987 37 32 34 103

5 1988 36 37 30 103

6 1989 38 36 37 111

7 1990 38 37 35 110

8 1991 38 38 36 112

9 1992 41 36 35 112

10 1993 42 41 36 119

11 1994 44 42 39 125

12 1995 44 42 41 127

(Sumber: Data Siswa SMP Berkat Kampung Baru tahun 1984-1989, 1989-1994, 1994-1999, 1999-2004)

Jumlah siswa yang bertambah ini tidak diikuti dengan pembangunan gedung sekolah, sehingga mekibatkan terjadi pembagian waktu belajar pagi dan siang agar setiap siswa dapat menggunakan ruangan belajar secara bergantian. Maka karena lahan yang digunakan oleh SMP Berkat Kampung Baru tidak memungkinkan untuk diperluas bangunannya maka Pucuk Pimpinan GKPA melalui Pengurus Yayasan Pendidikan GKPA pada tanggal 11 Agustus 2000 membeli sebidang tanah dengan luas 3.205m2 di Aek Bingke Kelurahan Huta Tinggi Kecamatan Panyabungan Mandailing Natal untuk kemudian dibangun menjadi gedung sekolah baru SMP Berkat Kampung Baru.71

4.1.3. Bidang Sosial

Panti Asuhan Debora merupakan lembaga GKPA yang bergerak dalam bidang sosial. Panti Asuhan Debora berada di Kelurahan Silangge, Kecamatan

71 Surat Jual Beli Tanah Keturunan Jalontung Simamora dengan Yayasan Pendidikan GKPA

13 1996 46 42 43 131

14 1997 45 46 41 132

15 1998 70 42 44 156

16 1999 74 70 42 186

17 2000 81 71 68 220

Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan.72 Panti Asuhan Debora diresmikan pada tanggal 13 Januari 1997 seusai ibadah minggu di GKPA Silangge tepat di sebelah Panti Asuhan Debora oleh Ephorus GKPA Pdt. B. Matondang, S.Th.

Sebelum diresmikan, Panti Asuhan Debora sebelumnya telah beroperasi terhitung sejak tanggal tanggal 1 Desember 199673, sesuai dengan Keputusan Rapat Majelis Pusat XXXIX GKPA tanggal 19-21 September 1996 di Padangsidimpuan yang menetapkan Diak. Naomi br. Hasibuan yang sebelumnya bertugas sebagai Diakones74 sebagai Kepala Panti Asuhan Debora dan menjadi ibu asuh tunggal Panti Asuhan Debora. Adapun terhitung sejak tanggal 1 Desember 1996 hingga peresmian tanggal 13 Januari 1997 jumlah anak asuh yang menjadi tanggungan Panti Asuhan Debora sebanyak tujuh orang yang terdiri dari tiga orang laki-laki dan empat orang perempuan.75

Nama Panti Asuhan Debora sendiri diambil dari nama bangunan yang kini digunakan sebagai tempat tinggal anak asuh dan ibu asuh, yang sebelumnya digunakan sebagai Asrama Putri Debora kepada siswi Pendidikan Guru Agama Kristen (PGAK) Sipirok. 76 PGAK Sipirok sendiri berdiri sejak tahun 1978 dan tutup

72 Surat Ketetapan Pucuk Pimpinan GKPA No. 674/KP.I.2/97

73 Surat Ketetapan Pucuk Pimpinan GKPA No. 696/KP.H.6/96

74 Diakones adalah pelayan gerejawi, pria dan wanita yang telah menempuh Pendidikan Theologia yang diakui atau diselenggarakan oleh GKPA dan telah melalui masa praktek sekurang-kurangnya dua tahun, yang diangkat dan ditempatkan oleh pucuk pimpinan di suatu Parlagutan atau Resort. Menjalankan pelayanan diakonia sosial kepada anggota-anggota Parlagutan dan masyarakat umum yang membutuhkannya, khususnya terhadap janda, yatim piatu dan jompo ( Tata Laksana GKPA Bab V Pasal 20 ayat 3a-3b)

75 Wawancara dengan Diak Naomi br. Naibaho, Ujung Batu Sosapada tanggal 8 Juni 2016 pukul 15.00 WIB

76 Wawancara, dengan A.B. Marpaung, Padangsidimpuan, pada tanggal 19 Mei 2016, pukul 10.00 WIB

pada tahun 1991, sehingga bangunan Asrama PGAK sama sekali tidak digunakan hingga dialihfungsikan menjadi Panti Asuhan Debora pada tahun 1996. Sementara ketika digunakan PGAK nama Debora sendiri diambil nama nama seorang Hakim Wanita yang Pemberani dalam Kitab Agama Kristen Protestan.

Gambar 3.1

Gedung Asrama Putri “Debora” Silangge Sipirok

Sumber : Panitia Pesta Olop-olop 20 Thn GKPA, Bertumbuh Menuju Kedewasaan, Padangsidimpuan : Kantor Pusat GKPA, 1995.

Tujuan GKPA sendiri mendirikan Panti Asuhan Debora Silangge adalah agar GKPA dapat bergerak dalam bidang pelayanan sosial, setelah sebelumnya GKPA telah bergerak dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Meskipun pada awalnya terjadi perbedaan pendapat mengenai yang berhak mendapat status sebagai anak asuh

apakah anak yang sudah yatim piatu, yatim, piatu, banyaknya tanggungan keluarga ataupun dari keluarga kurang mampu. Perbedaan pendapat ini agar bantuan tempat tinggal, biaya hidup, biaya pendidikan, dan pelatihan keterampilan tidak salah sasaran kepada orang yang tidak benar-benar membutuhan. Para anak asuh juga terus dididik dengan baik hingga menyelesaikan pendidikan ataupun hingga mendapatkan orangtua asuh yang mengadopsi.77

Secara struktural Panti Asuhan Debora berada di bawah tanggung jawab Kepala Panti Asuhan dan bertanggung jawab kepada Biro III Kantor Pusat yang mengurus bidang Pembinaan Warga Gereja (PWG), Pekabaran Injil, Diakonia dan Partisipasi dalam Pembangunan Parpem) yang pada saat itu dikepalai oleh Pdt. Y.P.

Siregar, S.Th. yang berkedudukan di Kantor Pusat GKPA Padangsidipuan dan berhubungan langsung dengan Kepala Panti Asuhan Debora yang berkedudukan di Panti Asuhan Debora Silangge. Maka, untuk kebutuhan sehari-hari anak asuh dan ibu asuh, Kepala Panti Asuhan Debora harus senantiasa memberi laporan kepada Biro III Kantor Pusat GKPA, karena sumber dana dan kebutuhan ditanggung oleh GKPA.

Pendanaan dan kebutuhan hidup Panti Asuhan Debora diluar dari tanggungan wajib Kantor Pusat GKPA juga berasal dari sumbangan-sumbangan dermawan dari luar daerah yang menyumbangkan dana ke Kantor Pusat GKPA dan dermawan yang datang langsung ke Panti Asuhan Debora membawa makanan pokok, buku, baju dan

77 Wawancara dengan Diak Naomi br. Naibaho, Ujung Batu Sosapada tanggal 8 Juni 2016 pukul 15.00 WIB

uang sekaligus melihat langsung kondisi Panti Asuhan Debora.78 Selain dermawan, Gereja-gereja GKPA di setiap Resort juga rutin memberikan sumbangan ke Panti Asuhan Debora melalui ucapan syukur warga jemaat, dan masyarakat yang tinggal di sekitar Panti Asuhan Debora sehingga turut mengharumkan nama GKPA secara umum di tengah masyarakat Tapanuli Selatan dan khususnya di Silangge-Sipirok.79 Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari para anak asuh diajarkan beternak ayam dan menanam sayur dan biji-bijian dengan peraturan bahwa semua hasil ternak dan tanam tidak boleh dijual tetapi untuk dikonsumsi bersama.

Jumlah anak asuh di Panti Asuhan Debora sejak berdiri hingga tahun 2000 kian tahun selalu meningkat, dan tercatat pada akhir tahun 2000 jumlah anak asuh di

Jumlah anak asuh di Panti Asuhan Debora sejak berdiri hingga tahun 2000 kian tahun selalu meningkat, dan tercatat pada akhir tahun 2000 jumlah anak asuh di

Dokumen terkait