• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertumbuhan Jumlah Gereja di GKPA

BAB III PERKEMBANGAN GKPA DARI TAHUN 1988-2000

3.3. Pertumbuhan Jumlah Gereja di GKPA

Parlagutan, sebagai persekutuan anggota jemaat di satu tempat tertentu, dan Resort sebagai persekutuan sejumlah Parlagutan dalam kesatuan daerah

pelayanan,adalah juga faktor pendukung untuk program kemandirian dan kemajuan GKPA. GKPA yang pada awal manjae dengan nama HKBPA hanya memiliki modal 22 parlagutan51 kecil yang diserahkan oleh HKBP telah menjelma menjadi gereja yang cukup besar di tengah-tengah tantangan jaman. Di dalam tempo 12 tahun sejak menerima panjaeon de jure, banyak tantangan yang terjadi di HKBPA di Tapanuli Selatan dan perantauan. Pada tahun 1988 GKPA telah memiliki 15 Resort dan 122 parlagutan yang diantaranya sepuluh Resort dan 102 parlagutan berada di di Tapanuli Selatan.52

Tabel 3.1. Jumlah Gereja di Tapanuli Selatan Tahun 1988-1991

No. PARLAGUTAN TAHUN

51 Naskah panjaeon HKBP Angkola oleh HKBP

52 Panitia Pesta Olop-olop 20 Thn GKPA. Op. Cit. hlm. 70

10 Simanosor 15 15 16 9

11 Silantom 9 9 9 9

12 Padangbolak - - - 6

13 Pahae - - - 4

JUMLAH 102 102 103 108

(Sumber: Almanak GKPA tahun 1989,1990,1991 dan 1992)

Pada tahun 1987 jumlah parlagutan yang ada di HKBPA masih berjumlah 102 parlagutan, namun begitu memasuki tahun 1988 ketika terjadi momen perubahan nama HKBPA menjadi GKPA dan persatuan kembali GPA ke GKPA maka jumlah parlagutan di GKPA bertambah 18 parlagutan. Hal itu tentu merupakan sebuah respon positif dari masyarakat Kristen Tapanuli Selatan dan Sumatera Utara dengan berubahnya nama gereja dari bayang-bayang HKBP berdampak pada pertumbuhan gereja GKPA. Pada masa tahun 1988 hingga tahun 1991 terjadi pertumbuhan 6 buah parlagutan di wilayah Tapanuli Selatan yaitu penambahan masing-masing satu Parlagutan di Resort Padangsidempuan Timur yaitu GKPA parlagutan Simasomom, Resort Tanotombangan yaitu GKPA parlagutan Nabonggal, Resort Aekbingke yaitu parlagutan Aek Garut, Resort Batangtoru yaitu parlagutan GKPA Janji Maria dan Resort Bunga Bondar yaitu parlagutan Napompar. Pada masa sepanjang tahun 1989 hingga 1990 hanya terdapat penambahan satu parlagutan yaitu GKPA parlagutan Galanggang Resort Simanosor.

Pada periode tahun 1990 hingga tahun 1991 terjadi pemekaran dan pembentukan Resort-resort baru untuk menunjang kualitas pelayanan mengingat

bahwa satu Resort hanya dipimpin oleh satu Pendeta, sehingga mengakibatkan warga jemaat merasa kurang dilayani. Maka Pucuk Pimpinan GKPA membentuk dan meresmikan tiga Resort baru yaitu Resort Padangsidimpuan barat yang merupakan Pemekaran dari Resort Padangsidimpuan Timur membawa delapan buah parlagutan dibawahnya, Resort Padangbolak yang merupakan pemekaran dari Resort Simanosor yang membawahi enam buah parlagutan dibawahnya, dan Resort pahae yang merupakan Resort baru di GKPA. Pada akhir periode kepemimpinan GKPA dibawah Pucuk Pimpian Pdt. G.P. Harahap memiliki 15 Resort di Tapanuli Selatan

Pada masa periode kedua terpilihnya kembali Ephorus dan Sekjen masa bakti 1991 hingga 1996, menumbukan dan mengembangkan gereja menjadi program utama Pucuk Pimpinan GKPA. Terdapat banyak Resort dan Parlagutan baru yang dibentuk oleh Pucuk Pimpinan GKPA di wilayah Tapanuli Selatan namun lebih banyak di wilayah di luar Tapanuli Selatan.

Tabel 3.2. Jumlah Gereja di Tapanuli Selatan Tahun 1992-1996

(Sumber: Almanak GKPA tahun 1993,1994,1995,1996 dan 1997)

Pada masa tahun 1991 hingga tahun 1992 terjadi pertumbuhan lima buah parlagutan di wilayah Tapanuli Selatan yaitu tiga parlagutan Resort Padangsidimpuan Timur; GKPA parlagutan Sibaganding, parlagutan Transpir, parlagutan Garonggang, dan dua parlagutan Resort Aek Bingke; GKPA parlagutan persiapan Ranto Panjang dan parlagutan persiapan Lumban Pinasa. Pada periode

1992 sampai 1996 terdapat pertambahan dua buah Resort baru yaitu Pada tahun 1992 Resort Ujung Batu Sosa yang pada tahun sebelumnya baru dibentuk parlagutan dan masuk ke dalam bagian Resort Padangsidimpuan Timur Membawahi tujuh buah parlagutan, dan pada tahun 1995 dibentuk Resort Marancar yang merupakan pemekaran dari Resort Sipirok dan membawahi tiga buah parlagutan. Selama masa ini pula dibentuk 14 parlagutan baru di seluruh wilayah Tapanuli Selatan.

Tabel 3.3. Jumlah Gereja di Tapanuli Selatan Tahun 1997-2000

No. PARLAGUTAN TAHUN

(Sumber: Almanak GKPA tahun 1998,1999,2000, dan 2001)

Sepanjang tahun 1997 hingga 2001 dibawah pemerintahan Pucuk Pimpinan Baru yaitu Pdt B. Matondang, S.Th., dan Pdt. Kaleb Manurung, M.Th., di Tapanuli Selatan parlagutan GKPA bertambah lima buah, yaitu pada tahun 1996 sampai 1997 parlagutan persiapan Simaronop di Resort Padangsidimpuan Timur, parlagutan persiapan Sibolga di Resort Batangroru, parlagutan persiapan Pardomuan dan parlagutan persiapan Sukadamai di Resort Ujung Batu Sosa, tahun 1997 sampai 1998 hany ada satu palagutan yaitu parlagutan Immanuel Sipetang di Resort Pahae.

Dalam perjalanan sejarahnya selama 12 tahun di Tapanuli Selatan GKPA harus diakui bahwa bukan hanya terjadi perkembangan parlagutan tetapi juga terdapat banyak penutupan parlagutan. Hal ini dikarenakan banyak hal seperti daerah yang terlalu jauh sehingga sulit diakses, kurangnya rasa dilayani oleh tenaga pelayan yaitu Pendeta, serta warga jemaat yang sangat sedikit dalam satu parlagutan sehingga mengharuskan digabungkan dengan parlagutan lain yang terdekat. Selain itu beridirnya sebuah parlagutan dianggap tidak produktif karena didirikan karena konflik dan ketidakinginan berada dalam satu gereja yang sama dengan kelompok yang berselisih. Sehingga melalui usaha-usaha Pendeta Resort dan Pucuk Pimpinan, konflik dapat terselesaikan dan parlagutan yang sebelumnya bertikai dapat kembali bersama dalam satu gereja.53

53 Wawancara: dengan Ginda Harahap, Jakarta, pada tanggal 12 Agustus 2016, pukul 15.00 WIB

Tabel 3.4. Jumlah Gereja GKPA Tahun 1988-2000

(Sumber: Almanak GKPA tahun 1989, 1990, 1991, 1992, 1993, 1994, 1995, 1996, 1997, 1998, 1999, 2000 dan 2001)

Jumlah Parlagutan dan Resort setiap tahunnya selalu bertambah di GKPA secara Nasional. GKPA yang awalnya hanya berada di daerah Tapanuli Selatan telah menjelma menjadi sebuah gereja yang besar dan universal, bukan hanya terpatok di wilayah Tapanuli Selatan saja, namun juga sudah sampai di luar Kabupaten, Provinsi, dan Pulau ya didirikan oleh masyarakat Angkola Perantau. Meskipun dalam

tahun-No. Tahun Resort Parlagutan

1 1988 15 122

2 1989 18 130

3 1990 18 132

4 1991 21 138

5 1992 21 141

6 1993 22 148

7 1994 23 154

8 1995 25 156

9 1996 25 159

10 1997 25 161

11 1998 25 162

12 1999 25 163

13 2000 25 163

tahun tertentu terjadi pertumbuhan gereja yang sangat kecil di Tapanuli Selatan, tetapi dibarengi dengan pertumbuhan parlagutan di daerah perantauan. GKPA juga bukan hanya menjadi sebuah gereja milik sebuah suku dan aliran saja namun GKPA juga telah menjadi gereja yang menerima segala jemaat dari suku apapun seperti di Resort Pangkalan Berandan yang hampir seluruh warga jemaatnya bersuku Batak Toba, Resort Batang Toru yang hampir seluruh warga jemaatnya bersuku Nias dan boleh menggunakan bahasa sukunya dalam ibadah, dan Resort Mandailing yang merupakan bagian persatuan dari GMM, tidak dipaksakan untuk mengikuti tata ibadah GKPA yang beraliran Lutheran dan tetap menjalankan tata ibadah Menonnite.

Dokumen terkait