• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Kerjasama Luar Negeri

BAB IV FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG BERKEMBANGNYA

4.2 Faktor Eksternal

4.2.2. Hubungan Kerjasama Luar Negeri

GKPA diterima secara resmi menjadi GKPA anggota Dewan Gereja se-Asia atau Christian Conference of Asia (CCA)86 pada Sidang Raya CCA di Manila, Pilippina, 5 Juni, 1990, Dan pada Sidang Raya Wordl Council of Courches (WCC) 87 yang diadakan di Canbera, Australia, tanggal 7 Pebruari 1990, GKPA diterima menjadi anggota penuh dalam wadah WCC.88 Selain itu GKPA juga membangun mitra kerjasama dengan World Association for Christian Communication (WACC) yang berpusat di London Inggris. Lembaga ini membangun kerjasama dengan GKPA dalam bidang pengembangan toko buku di Padangsidimpuan. Overseas Missinary Fellowship (OMF) merupakan organisasi yang paling sering mengirimkan tenaga missinaris ke GKPA. Organisasi yang berpusat di Singapura ini telah menjalin

84 Panitia Pesta Olop-olop 20 Thn GKPA. Op. Cit. hlm 113

85 Wawancara dengan Nursini br. Hombing, Medan pada tanggal 1 September 2016 pukul 22.00 WIB.

86 CCA merupakan wadah bagi persekutuan Gereja-gereja Kristen Protestan tanpa memandang aliran di Asia yang berpusat di Hongkong

87 WCC merupakan wadah bagi persekutuan Gereja-gereja Kristen Protestan di seluruh dunia yang berpusat di Geneva, Swiss.

88 Wawancara: Pdt. G.P. Harahap, MST. (12 Agustus 2016)

kerjsama jangka panjang dengan GKPA demi tercapainya misi-misi penginjilan di Tapanuli Selatan. Lembaaga universal terakhir yang menjalin kerjasam dengan GKPA adalah Bread For the World (BFW) yang berpusat di Stuttgart Jerman. Falam jalinan kerjasama BFW senantiasa membantu GKPA dalam program pengembangan dan pengabdian terhadap masyarakat Tapanuli Selatan sesuai dengan bidang gerakan organisasi ini.

GKPA juga membangun kerjasama dengan Gereja Distrik Braunfels di Jerman sejak rahun 1983. Melalui kerjasama ini GKPA telah mengirim tenaga pelayanannya yaitu Pendeta dan Bibelvrow untuk melayani di Jerman sesuai dengan undangan Distrik Braunfels, yang kemudian kembali ke Indonesia untuk melakukan penerapan layanan jemaat sepulang dari Jerman.. Disamping berkerjasama dengan Distrik Braunfels, GKPA juga mengembangkan hubungan partner dengan Distrik Westfalia dan Distrik Bad Zal suflen Gereja Lippe di Jerman. Hubungan ini dinyatakan resmi pada tanggal 18-19 Januari 1990 dan kedepannya terus melakukan pertukaran tenaga pelayanan dalam tujuan meningkatkan mutu pelayanan terhadap jemaat di GKPA.89

Dalam usaha membangun jaringan dan kerjasama dengan Gereja yang sealiran dengannya yaitu Lutheran, GKPA menjali hubungan dengan lembaga-lembaga internasional yaitu, Lutheran Church of Australia (LCA) yang berpusat di

89 Wawancara: dengan Ginda Harahap, Jakarta, pada tanggal 12 Agustus 2016, pukul 15.00 WIB

Adelaide Australia dan Lutheran World Federation (LWF)90 yang berpusat di Jenewa, Swiss. Melalui LWF ini banyak pendeta-pendeta GKPA dibina di luar negeri dan melakukan pertukaran pendeta antar negara dan antar benua yang menjadi anggota LWF sehingga meningkatkan mutu dan meninspirasi pelayanan para pendeta di tempatnya melayani.91 LWF juga banyak memberikan bantuan keuangan kepada GKPA dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh GKPA baik itu pesta perayaan, acara pembangunan, dan acara pendirian sebuah gereja di Tapanuli Selatan.

LWF senantiasa memperhatikan persoalan dan ikut serta membantu GKPA keluar dari persoalan-persoalan yang dihadapinya terutama kesulitan dalam pembangunan dan keuangan.

Mitra GKPA yang terakhir adalah Vereinighte Evangelusche Mission (VEM)92. VEM adalah lembaga yang dianggap GKPA sebagai induknya karena merupakan perwujudan dari lembaga zending RMG di era sekarang. VEM merupakan lembaga yang dianggap paling banyak memberikan kontribusi dan bantuan kepada GKPA. Dalam upaya pembangunan Kantor Pusat, Pusat Pembinaan GKPA, dan Rumah Dinas Pucuk Pimpinan GKPA, VEM menunjukkan keseriusannya dalam membantu GKPA menuju kemandirian. Selain dalam bantuan pembuatan gedung-gedung VEM juga membantu GKPA dalam menyekolahkan

90 LWF atau Federasi Lutheran se duniaadalah wadah kebersamaan dan persekutuan gereja-gereja Kristen yang berkembang dari tradisi Lutheran. Lembaga ini didirikan tahun 1947 dengan jumlah anggota 140 gereja.

91 Dahlenburg, G.D. Konfensi-konfesi Gereja Lutheran. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

1991.hlm 62

92 VEM didirikan sejak tahun 1828, bernama RMG di daerah tanah batak. Pada tahun 1978 VEM melakukan konsolidasi dengan seluruh partner VEM di seluruh dunia termasuk Indonesia dan GKPA.

tenaga-tenaga pelayanan dengan memberikan bantuan beasiswa kepada pendeta-pendeta GKPA ke jenjang magister dan doktoral.

Namun dalam memberikan bantuan, VEM tidaklah ingin menjadikan GKPA menjadi satu buah gereja yang manja dengan batuan-bantuan yang diberikan terus menerus oleh VEM. Dalam kaitan memberikan bantuan, gereja-gereja anggota VEM didorong untuk mandiri dalam hal mendukung program kerja bersama. Semua anggota memberikan sumbangan sesuai kemampuan masing-masing gereja, akan tetapi hal itu dapat tercapai jika gereja-gereja anggota VEM telah mencapai kemandirian sendri dibidang dana.93 Maka VEM mendorong dan membantu proyek-proyek yang dapat membantu GKPA dalam usaha menuju kemandiriannya seperti sumbangan pengadaan proyek kebun salak yang dirasa nantinya akan menjadi usaha menuju kemandirian di bidang dana.

93 Hasil wawancara GKPA dengan Presidenr VEM, Dr. Ulrich Beyer, di Singapore pada saat Asia Regional Consultation UiM, 28-31 Agustus 1995)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

GKPA sebagai suatu gereja yang telah otonom dan bebas menentukan jalannya sendiri serta telah terbebas dari bayang-bayang gereja manapun haruslah mampu berkembang dan mandiri sesuai dengan cita-cita didirikan. Kemandirian GKPA adalah faktor penting yang memungkinkan GKPA melaksanakan tugas panggilannya secara bertanggung jawab. Di dalam program kemandirian teologi, daya, dan dana, pelayan-pelayan GKPA dan warga gereja secara terpadu terpanggil untuk meningkatkan dan mengembangkan kesadaran dan kemampuan GKPA sebagai Gereja yang mandiri. dan menata dan mengatur apa yang menjadi tugas dan tanggungjawab GKPA sesuai panggilannya untuk menyaksikan kepercayaannya dalam hidup pribadi, keluarga, jemaat, antar Gereja dan masyarakat.

Dalam Program Menuju Kemandirian Teologi, Daya dan Dana, GKPA yang masih terus bergantung pada mitra diharapkan dapat menjadi mandiri tanpa bergantung kepada partner GKPA di luar negeri. Kemandirian GKPA diharapkan merupakan tanggung jawab bersama GKPA dalam menjawab kebutuhan-kebutuhan GKPA. Kemandirian ini hanya dapat dijawab oleh GKPA sendiri dengan menyadari bahwa kemandirian GKPA adalah suatu keharusan yang tidak dapat ditunda. Di dalam program Kemandirian ini, GKPA harus tetap menyadari perlunya panggilan gereja-gereja secara oikumenis, mengembangkan kerja sama di antara gereja-gereja

di seluruh dunia untuk saling menopang satu dengan yang lain. GKPA yang inklusif, terbuka dan dialogis akan menjadi berkat bagi sesama dan masyarakat lain. Program Kemandirian GKPA memampukan jemaat-jemaat GKPA mengimbangi perkembangan yang terjadi baik ditengah-tengah gereja maupun ditengah-tengah masyarakat. Boleh dikatakan bahwa kemandirian GKPA adalah syarat untuk memperjelas identitas GKPA sebagai suatu gereja yang layak disejajarkan dengan gereja-gereja besar lainnya di Indonesia.

Oleh sebab itu, program kemandirian teologi, daya dan dana harus dijalankan secara terus-menerus, selaras, dan seimbang bagi persekutuan dan pelayanan secara menyeluruh di GKPA. Jika tidak demikian, maka GKPA hanya menerima kelemahan dan kekurangan atau menyerah kepada suatu keadaan, bahkanakan menjadi kerdil, tercecer, ketinggalan dan akhirnya tidak relevan lagi dalam dunia yang terus berubah dan berkembang. Kemandirian GKPA merupakan suatu upaya bersama yang terus-menerus memperkembangkan semua potensi GKPA.

Sejarah telah membuktikan bahwa sejak awal berdiri hingga tahun 25 tahun GKPA tahun 2000 merupakan perjuangan yang tiada habisnya. Sebagai sebuah gereja yang berdiri diatas tanah miliknya sendiri, GKPA harus mampu menjadi tuan ditanahnya sehingga GKPA mampu memperlebar sayap ke daerah-daerah lain ketika daerahnya telah menjadi ladang pelayanannya sendiri. Perjuangan menuju kemandirian GKPA bukanlah suatu perkara yang mudah dengan permberian hadiah, namun melalui proses yang rumit selama berpuluh-puluh tahun, dan setelah

memperoleh hak menentukan nasibnya sendiri bukan berarti memperleh seluruh kemewahan, namun emngawali perjuangan yang baru dengan medan yang lebih sulit dan sukar dilewati apabila tidak dengan semangat kebersamaan. Perpecahan yang pernah terjadi dalam tubuh GKPA bukanlah menjadi cambuk menyakitkan bagi perkembangan GKPA yang dapat menumbangakan tubuh yang menjadi cerminan semangat warga jemaat, tetapi menjadikannya sebgai usaha penyatuan kembali dan mempererat kesatuan sesama warga jemaat.

5.2. Saran

Adapun saran yang dapat diberikan penulis yaitu :

1. Disarankan kepada Kantor Pusat GKPA untuk melakukan pengarsipan data-data mengenai sejarah, surat menyurat, statistik, kegiatan dan perkembangan GKPA dari masa mererima panjaeon oleh HKBP sampai masa-masa selanjutnya agar memudahkan penulis selanjutnya dalam mengumpulkan data yang lebih spesifik.

2. Disarankan untuk penulis selanjutnya yang ingin melanjutkan Penelitian mengenai GKPA tidak hanya terfokus pada pengumpulan data dari Kantor Pusat GKPA saja, namun dapat juga melalui lembaga-lembaga yang memiliki hubungan dengan, dokumen yang disimpan oleh mantan Pucuk Pimpinan dan oleh pendeta-pendeta yang telah pensiun.

DAFTAR PUSTAKA

Aritonang, Jan. S., Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja. Jakarta : BPK Gunung Muia, 2012

Band. Warneck, J. Kamus Batak Toba-Indonesia. Medan: Bina Media, 2001 Berkhof . H & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011.

Bonar. Pdt. Matondang, Almanak Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) 1997, Padangsidimpuan : Kantor Pusat GKPA, 1996

_________ Almanak Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) 1998, Padangsidimpuan : Kantor Pusat GKPA, 1997

_________ Almanak Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) 1999, Padangsidimpuan : Kantor Pusat GKPA, 1998

_________ Almanak Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) 2000, Padangsidimpuan : Kantor Pusat GKPA, 1999

_________ Almanak Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) 2001, Padangsidimpuan : Kantor Pusat GKPA, 2000

Bonar. Pdt. Matondang & Pdt. Kaleb Manurung, Laporan Pertanggung Jawaban Pucuk Pimpinan GKPA Periode 1996-2001, Padangsidimpuan : Kantor Pusat GKPA. 2001

BPH Resort Jakarta I. Berkat, Berita Kegiatan Jemaat edisi 1, Jakarta. 2003

Christano, Ch. Asal Mula Jemaat Mennonite. Semarang: Komisi Literatur Sinode Muria Indonesia, 1987.

Dahlenburg, G.D. Konfensi-konfesi Gereja Lutheran. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

1991

Darban, A. Adaby. 1997. SejarahLisanMemburuSumberSejarahdari Para PelakudanPenyaksiSejarah.Humaniora.No.4.http://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1908. 21 Januari 2016.

End, Thomas Van den, Harta Dalam Bejana : Sejarah Gereja Ringkas. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1985.

End, Thomas Van den, Ragi Carita 1. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002

End, Thomas Van den & J. Weitjens, Ragi Carita 2. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003

Harahap, Ramli SN, Bunga Rampai, Padangsidempuan: Kantor Pusat GKPA, 2011 Hutauruk, JR, Sejarah Pelayanan Diakonal di Tanah Batak (1857-2011). Pematang

Siantar : Percetakan HKBP, 2009

Harahap, E.St. Hikayah Perjalanan Injil di Tanah Batak.

Harahap, Pdt. Z.S., Almanak Huria Kristen Batak Protestan Angkola (HKBP-A) 1985, Sipirok : Kantor Pusat GKPA, 1984.

_________ Almanak Huria Kristen Batak Protestan Angkola (HKBP-A) 1986, Sipirok : Kantor Pusat GKPA, 1985.

Harahap, Pdt. Ginda P. , Almanak Huria Kristen Batak Protestan Angkola (HKBP-A) 1988, Sipirok : Kantor Pusat GKPA, 1987.

_________ Almanak Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) 1989, Padangsidimpuan : Kantor Pusat GKPA, 1988.

_________ Almanak Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) 1990, Padangsidimpuan : Kantor Pusat GKPA, 1989.

_________ Almanak Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) 1991,

Koetoro, Lucas Partanda, Kilasan Sejarah dan Arkeologi Beberapa Gedung Gereja di Sumatera Utara, Medan : Bina Media Perintis, 2015.

Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1995.

Marpaung, Adolf Bastian. Jiwa Kerukunan Masyarakat Sipirok. Bekasi : Dian Karsa Kencana, 2011 .

Nasution, Darwis cs. Sejarah Gereja Mennonite Protestan Indonesia Mandailing.

Jakarta : Bhatara

Nommensen, J.T. Ompu i Dr Ingwer Ludwig Nommensen, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1974.

Pakpahan, Pdt. M., Almanak Huria Kristen Batak Protestan Angkola (HKBP-A) 1979, Sipirok : Kantor Pusat GKPA, 1978.

Panitia Pesta Olop-olop 20 Thn GKPA, Bertumbuh Menuju Kedewasaan, Padangsidimpuan : Kantor Pusat GKPA, 1995.

Panitia Pesta Olop-olop 35 Tahun GKPA Distrik III Sumatera Timur. Kenang-kenangan 35 Tahun GKPA (26 Oktober 1975-26 Oktober 2010) di GKPA Medan Barat. Medan. 2010.

Pedersen, Paul B. Darah Batak dan Jiwa Protestan, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1976.

Schreiner, Lother. Adat dan Injil. Jakarta : BPK Gunung Mulia. 2010.

Sihombing, P.T.D. & B.A.M.H. Simangunsong. Kami adalah Hamba Yang Tidak Berguna. Medan : PT. Bina Asih Consultan. 2005

Sulasman. Metodologi Penelitian Sejarah. Bandung: PustakaSetia, 2014.

Artikel dan Essai

Catatan tentang Gagasan HKBPA sebelum Perang Dunia II, Dimuat dalam Buku Peringatan Peresmian HKBPA Ressort Jakarta, 1976.

Harahap, Frans F. “Disini HKBP lahir, Desa Parau Sorat, Desa “Pembebasan”. Kini Sepi dari Pelayanan Pendeta”. Suara Pembaruan 1 September 1993

Harahap, Pdt. Z.S. ” Halak Kristen na Parjolo dohot Angka Pandita na Parjolo, dohot Baritana secara ringkas”

Luat Angkola Monumen Sejarah Perkembangan Kekristenan di Sumut perlu dilestarikan, Sambutan tertulis Gubsu Raja Inal Siregar pada Pembukaan Synode AM GKPA ke IX di Padangsidimpuan, 1991, Harian SIB 29 Juni 1991.

Siregar, B gelar Ompu Parlindungan. “ Menongsong Panjaeon HKBP-A” Publikasi khusus kalangan HKBPA, Oktober 1975

Tobing, Marganda STh : “ HKBP waktu Perang Dunia ke II”. Harian SIB Medan 4 Agustus 1979.

DAFTAR INFORMAN

1. Nama : Pdt. Adolf Bastian Marpaung, M.Th., M.Min.

Usia : 50 tahun

Alamat : Padangsidimpuan

Jabatan : Ephorus GKPA Periode 2011-2016 2. Nama : Pdt. Ginda P. Harahap

Usia : 69 tahun

Alamat : Jakarta

Jabatan : Ephorus GKPA Periode 1986-1996 3. Nama : Diak. Naomi br. Naibaho

Usia : 46 tahun

Alamat : Ujung Batu Sosa, Padang Lawas

Jabatan : Kepala Panti Asuhan Debora tahun 1996-1997 4. Nama : Herlina Sihombing

Usia : 44 tahun

Alamat : Padangsidimpuan

Jabatan : Kepala Panti Asuhan Debora tahun 2000 5. Nama : St. Romulur Lumbantoruan S.Pd.

Usia : 59 tahun

Alamat : Panyabungan, Mandailing Natal Jabatan : Kepala Sekolah SMP Berkat 6. Nama : St. Firman Nasution, BA

Usia : 61 tahun

Alamat : Muara Sipongi, Mandailing Natal Jabatan : Kepala BPKM Muara Sipongi 7. Nama : Pdt. Nursini br Hombing, M.Th.

Usia : 50 tahun

Alamat : Bekasi

Jabatan : Pendeta GKPA

8. Nama : Pdt. Kaleb Manurung, M.Th.

Usia : 62 tahun

Alamat : Medan

Jabatan : Sekretaris Jenderal GKPA Periode 1996-2001 9. Nama : Pdt. A.B. Marpaung, S.Th.

Usia : 70 tahun

Alamat : Padangsidimpuan Jabatan : Ephorus GPA

10. Nama : St. R. Lumban Tobing

Usia : 64 tahun

Alamat : Medan

Jabatan : Sintua GKPA

LAMPIRAN Lampiran 1

1. Logo HKBP Angkola (1975-1988)

Sumber : Sampul Almanak GKPA tahun 1987

2. Logo GKPA (1988-2000)

Sumber : Biro 1 Kantor Pusat GKPA

Lampiran 2

Makna Logo GKPA:

Huruf A : Alfa dalam huruf Yunani Kuno berarti yang pertama

Huruf O : Omega dalam huruf Yunani Kuno berarti yang terakhir

Maknanya adalah Angkola sebagai tempat Kekristenan pertama sekali masuk ke tanah Sumatera Utara juga harus menjadi tempat terakhir Kekristenan bertahan di Sumatera Utara.

Tangga : Perjuangan GKPA seperti menaiki anak tangga yang terjal

Salib : bentuk perjuangan dan pengorbanan yang harus terus memikul salib tetap tegak.

Makna Warna:

Merah : Kekuatan, energi, dan keberanian GKPA dalam melakukan pelayanan

Kuning :GKPA menjadi pembawa sukacita ditengah-tengah masyarakat Indonesia

Hijau :GKPA menjadi sumber keteduhan dan ketenangan bagi masyarakat.

Putih : Cita-cita suci GKPA dalam melakukan pelayanan.

Hitam : Keteguhan GKPA dalam melakukan pelayanan dan pengabdian.

Lampiran 3

3. Peta Kabupaten Tapanuli Selatan tahun 1988

Sumber : Sihombing, P.T.D. & B.A.M.H. Simangunsong. Kami adalah Hamba Yang Tidak Berguna. Medan : PT. Bina Asih Consultan. 2005

Lampiran 4

4. Pucuk Pimpinan (Ephorus dan Sekretaris Jenderal) HKBPA Periode 1975-1981

Sumber: Panitia Pesta Olop-olop 20 Thn GKPA, Bertumbuh Menuju Kedewasaan, Padangsidimpuan : Kantor Pusat GKPA, 1995

Lampiran 5

5. Pucuk Pimpinan HKBPA (Ephorus dan Sekretaris Jenderal) tahun 1981-1986

Sumber: Panitia Pesta Olop-olop 20 Thn GKPA, Bertumbuh Menuju Kedewasaan, Padangsidimpuan : Kantor Pusat GKPA, 1995

6. Pucuk Pimpinan GKPA (Ephorus dan Sekretaris Jenderal) tahun 1986-1996

Sumber: Panitia Pesta Olop-olop 20 Thn GKPA, Bertumbuh Menuju Kedewasaan, Padangsidimpuan : Kantor Pusat GKPA, 1995

Lampiran 6

7. Pucuk Pimpinan GKPA (Ephorus dan Sekretaris Jenderal) tahun 1996-2001

Sumber: Panitia Pesta Olop-olop 20 Thn GKPA, Bertumbuh Menuju Kedewasaan, Padangsidimpuan : Kantor Pusat GKPA, 1995

Lampiran 7

8. Para Pendeta GKPA seusai Pentahbisan Pendeta pada tahun 1991 di Sipirok

Sumber: Panitia Pesta Olop-olop 20 Thn GKPA, Bertumbuh Menuju Kedewasaan, Padangsidimpuan : Kantor Pusat GKPA, 1995

Lampiran 8

9. Majelis Pusat GKPA Periode 1991 – 1996

Sumber : Koleksi Pribadi Ginda Harahap

Lampiran 9

10. Gereja GKPA Teuku Umar Padangsidimpuan

Sumbeer : Koleksi Pribadi Penulis, Tanggal 19 Mei 2016.

Lampiran 10

11. Kantor Pusat – Pusat Pembinaan GKPA Padangsidimpuan

Sumber : Koleksi Pribadi Penulis, Tanggal 19 Mei 2016-10-13

Lampiran 11

12. Guest House dan Rumah Pendeta Resort GKPA di Ujung Batu Sosa Tapanuli Selatan, Diresmikan tanggal 21 Juni 1993

Sumber: Panitia Pesta Olop-olop 20 Thn GKPA, Bertumbuh Menuju Kedewasaan, Padangsidimpuan : Kantor Pusat GKPA, 1995

Lampiran 12

13. Dedication Day Alkitab Bahasa Angkola Mandailing saat penyerahan Buku Ende Angkola Mandailing secara Resmi dari Lembaga Alkitab Indonesia kepada GKPA tangggal 27 Oktober 1991 di GKPA Teuku Umar Padangsidimpuan.

Sumber: Panitia Pesta Olop-olop 20 Thn GKPA, Bertumbuh Menuju Kedewasaan, Padangsidimpuan : Kantor Pusat GKPA, 1995

Dokumen terkait