BAB II SEJARAH BERDIRINYA HOTEL PRAPAT
2.3 Berdirinya Hotel Prapat
Situasi dan kegiatan-kegiatan di Hindia-Belanda pada akhir abad ke-19 memberikan pengaruh pada para perintis pariwisata Hindia-Belanda. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain penyebaran agama Kristen terutama Protestan, perkembangan penerbitan media cetak (surat kabar), penanaman modal swasta, perkembangan struktur birokrasi, dan kegiatan militer (ekspedisi ke wilayah-wilayah selain Jawa).14
Perkembangan pariwisata juga banyak di pengaruhi oleh perkembangan sarana angkutan motoritas, yaitu sarana angkutan seperti sepeda, sepeda motor, dan mobil.Akibat dari motorisasi ini, maraknya wisata domestik dan tumbuhnya penginapan-penginapan di sepanjang jalan raya. Khususnya pembukaan jalan raya tobaweg juga menjadi salah satu alasan maraknya wisata yang datang ke Prapat.
14Achmad Sunjayadi, op.cit, hlm 97.
21
Pembukaan Jalan raya tobawegmerupakan pembukaan Jalan raya yang menghubungkan wilayah Simaloengoen dengan wilayah Tapanuli. Pembukaan jalan ini tentunya berdampak pada meningkatnya jumlah orang-orang yang melakukan perjalanan ke wilayah pedalaman Sumatera. Hal ini tentunya dimanfaatkan dan menjadi salah satu faktor didirikannya Hotel Prapat. Hotel ini didirikan dengan tujuan sebagai tempat persinggahan dan peristirahatan bagi orang-orang yang melakukan perjalanan jauh.
Pertumbuhan usaha akomodasi juga baru dikenal seiring dengan perkembangan pariwisata dekade kedua abad ke-20. Itu pun masih terbatas pada kota-kota besar yang berdekatan dengan daerah pelabuhan saja.Fungsi hotel yang utama hanya melayani tamu-tamu atau penumpang kapal yang baru datang dari Belanda dan Eropa, yang kemudian dibawa dengan menggunakan kereta-kereta yang ditarik beberapa kuda ke tujuan yang dimaksudkan. Kereta kuda digunakan sebelum kendaraan bermotor atau mobil belum dikenal saat itu.15 Pertumbuhan dan perkembangan akomodasi berupa losmen atau penginapan baru mulai berkembang pada dekade ketiga abad ke-20 terutama di daerah pedalaman. Perkembangan kemudian di kenal nama penginapan besar (hotel) dan penginapan kecil (losmen).16
Pada awal perkembangan kegiatan pariwisata yang berkaitan dengan kegiatan perjalanan masih terbatas dilakukan oleh kalangan masyarakat tertentu yaitu para
15Bungaran A. Simanjuntak, Flores Tanjung, Rasramadhana Nasution, Sejarah Pariwisata : Menuju Perkembangan Pariwisata Indonesia, Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2015, hlm 16. 16
Ibid.
22
bangsawan pribumi, pejabat pemerintah, pergawai perkebunan perusahaan Belanda dan orang-orang Eropa. Hal ini disebabkan oleh biaya yang harus dikeluarkan dalam setiap perjalanan sangat mahal. Melihat populasi orang Eropa yang berada di wilayah Simaloengoen berjumlah cukup banyak tentunya menjadi pertimbangan baik untuk memperbaiki akomodasi pariwisata di wilayah pedalaman, khususnya Prapat.
Keindahan alam yang ada di Prapat juga dijadikan sebagai salah satu alasan pendirian hotel disini.Dari catatan perjalanan yang ditulis oleh beberapa orang dalam surat kabar yang menceritakan tentang pengalaman mereka ketika mengunjungi pedalaman sumatra di sebutkan bahwa Prapat merupakan bagian dari keindahan alam yang tidak dapat dilupakan. Pemandangan Danau Toba yang terlihat sangat luas dan indah mulai dapat dinikmati ketika melewati jalan raya berkelok-kelok disepanjang tepi pegunungan.
Dari Prapat terlihat Danau Toba yang berkilau dibawah sinar matahari pagi, di dataran tinggi diatas tebing curam dengan garis tegas terlihat awan putih dan langit biru yang cerah menyatu dengan birunya danau, serta pulau samosir yang terlihat dari kejauhan terpisah oleh air danau.Dinding gunung, atap merah rumah-rumah di pedesaan mewarnai hijaunya hutan pinus.Sepanjang perjalanan menuju tempat ini melalui hutan yang berkelok-kelok dan menyuguhkan pemandangan yang selalu baru, dimana danau lebar dan besar seperti laut terlihat indah dari sudut pandang manapun.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Robert Cribb dapat di ketahui hubungan antara objek pemandangan alam dan kegiatan pariwisata di Hindia, yaitu pertama para wisatawan asing pada hari pertama para wisatawan asing cenderung mengikuti
23
itinerary sehingga mereka melakukan perjalanan ke tempat dengan fasilitas perjalanan dan akomodasi yang tersedia. Dalam hal ini mereka pergi ke daerah pegunungan yang didiami oleh orang Belanda. Pada poin pertama ini dijelaskan bahwa para wisatawan asing akan melakukan perjalanan mengunjungi tempat-tempat wisata yang telah mereka rencanakan sebelum bepergian. Biasanya mereka akan mencari terlebih dahulu informasi tentang daerah-daerah pedalaman yang telah didiami oleh orang Belanda.
Kedua, objek pemandangan alam memenuhi perasaan estetika, orang Eropa yang dipengaruhi romantisme.Objek wisata yang menyuguhkan pemandangan alam tentunya menjadi salah satu hal yang diperhitungkan saat melakukan perjalanan ke wilayah pedalaman.
Ketiga, objek pemandangan alam mendapat posisi penting sebagai identitas dari kalangan masyarakat pendatang yang tinggal di negeri yang baru, mereka ingin memiliki sesuatu yang berbeda dengan negeri asalnya.Wisatawan asing yang datang berkunjung ke wilayah pedalaman Hindia Belanda biasanya mengunjungi objek wisata alam yang ada. Perjalanan ini tentunya akan menjadi pengalaman hidup yang baru bagi mereka yang tidak akan mereka temui di negera asalnya. 17
Begitu pula dengan pemandangan yang disuguhkan di Prapat.Keindahan alam yang ditawarkan tentunya tidan dapat ditemukan di negara-negara asal para wisatawan asing yang datang mengunjungi tempat itu. Prapat memiliki pesona yang
17Achmad Sunjayadi, op.cit, hlm 11 .
24
tidak dapat dilewatkan oleh siapapun yang mengunjunginya. Setiap sudut hamparan danau yang tenang dan perbukitan memiliki keindahan yang luar biasa.
Tak hanya keindahan alam, pemandangan lain yang juga dapat dinikmati di sini adalah kebiasaan-kebiasan dan pola hidup masyarakatnya yang luar biasa dan berbeda dengan kebiasaan hidup orang-orang Eropa maupun orang-orang dari negara lain. Setiap pemandangan membawa pengalaman yang tak terlupakan.
Pendirian hotel ini juga tidak terlepas dari gencarnya Pemerintah Kolonial Belanda untuk meningkatkan pariwisata di wilayah Hindia Belanda. Pariwisata yang ditawarkan tidak terlepas dari keindahan alam yang tentunya menjadi daya tarik yang luar biasa. Target pemasaran pariwisata di wilayah Hindia Belanda yaitu bangsawan pribumi, pejabat pemerintah, pegawai perkebunan perusahaan Belanda dan terkhusus orang-orang Eropa. Melihat jumlah orang-orang Eropa yang berada di wilayah Afdeling Simaloengoen yang cukup banyak yaitu sekitar 816 orang tentunya tidak di sia-siakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Melihat jumlah tersebut kemudian direncanakan pembangunan sebuah hotel modern untuk mendukung keberhasilan pariwisata di wilayah pesisir Danau toba. Hal tersebut tentunya dilakukan guna meningkatkan kenyamanan bagi banyak orang mengunjungi ataupun melintasi Danau Toba dan sekitarnya yang mengesankan setiap tahun, pembangunan hotel modern di Prapat direncanakan dimulai pada tahun 1918.18
18De Sumatra Post, Parapat, 26-06-1918.
25
Rencana pembangunan hotel ini telah lama dipersiapkan sejak jauh-jauh hari, pada tahun 1916 telahdilakukan jual beli tanah untuk pendirian hotel dengan Raja-raja setempat namun rencana pembangunan hotel ini baru diumumkan kepada umumpada tahun 1918. Setidaknya membutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun hingga hotel ini resmi di buka untuk umum pada tanggal 15 mei 1920.19 Hotel modern ini di beri nama Hotel Prapat yang berada dibawah pengawasan perusahaan N.V Hotel en Handel Maatschappij Toba. Penamaan hotel ini disamakan dengan nama tempat berdirinya hotel tersebut yaitu Prapat.
Tanah ini merupakan tanah yang dijual oleh Raja-raja disana pada tahun 1916 kepada tuan-tuan kepala maatschappij. Tanah yang akan dibeli merupakan tanah pargodungan (tanah gereja) yang mana karena keindahannya kemudian dipilih agar dapat menjadi tempat yang diminati dan dikunjungi apabila terjadi pembangunan hotel ini nantinya. Letaknya berada di lereng perbukitan dan sangat dekat dengan bibir pantai. Para Raja setempat dibujuk untu menarik tanah dari gereja agar dijual kepada tuan-tuan maatschappij dan memberikan tanah diwilayah lain sebagai ganti untuk pendirian gereja yang baru.20
Kedatangan para missionaris di tanah Prapat di mulai pada tanggal 27 Februari 1901 yaiu dengan diutusnya Evangelis Daniel (Evangelis Zending HKBP) dari Sigumpar (wilayah tempat tinggal Ephorus Nommensen) menuju Tomok. Pada masa
19De Sumatra Post, N. V. Hotel Mij, Toba, 12-05-1920.
20Pdt. Antoni Manurung,STh dan Pdt. Jojor Br Pardede, STh,dkk, Perjalanan Umat Tuhan : Sejarah Huria Kristen Batak Protestan Parapat (HKBP) 1904-2010, Jakarta: PT. Nadia Jaya Utama, 2010, hlm 25.
26
itu para daerah Samosir sebagai tempat penginjilan berikutnya.Kemudian pada keesokan harinya mereka berlayar bersama dengan beberapa masyarakat Tomok untuk berbelanja ke Tiga Raja. Dari sana diperoleh banyak informasi tentang situasi daerah Prapat yang hidup dalam kemiskinan dan kepercayaan primitif.
Dihari-hari berikutnya Evangelis Daniel beserta rombongannya datang lagi ke Prapat dengan tujuan hendak bertemu dengan raja yang berkuasa pada masa itu yaitu Raja Galumbang Laut Tawar (Raja Ompu Bangbang Sinaga).Pada pertemuan tersebut Evangelis Daniel menyampaikan misi yang dibawanya yaitu Injil, keselamatan bagi semua umat manusia. Disampaikan juga rencana pendirian bangunan sekolah, menawarkan peradaban dan gaya hidup yang lebih baik. Selain bertemu dengan Raja Galumbang Laut Tawar, Evangelis Daniel juga bertemu dengan raja-raja lainnya yang berkuasa di Prapat, Girsang dan Sipanganbolon.Setidaknya Evangelis Daniel merintis penginjilan di daerah Prapat kurang lebih selama 2 bulan.
Kira-kira 6 bulan berikutnya yaitu pada bulan september 1901 setelah menerima laporan dari Evangelis Daniel, Ephorus Nommensen turut datang ke Prapat untuk bertemu dengan para Raja Prapat dan mengadakan pertemuan di Sipiak dengan misi untuk mengabarkan Injil dan memperkenalkan keselamatan abadi. Kemudian pada tahun 1904, Pendeta Weissenbruch diutus kembali secara khusus bersama dengan Guru Marinus Hutabarat ke Prapat dengan tugas merealisasikan dan membentuk kebaktian (parmingguon) di tanah Prapat dan sekitarnya.
Menyadari semakin banyaknya jumlah orang yang percaya akan pemberitaan Injil di Prapat sehingga Pendeta Weissenbruch dan rombongannya diberikan tempat
27
tinggal. Lokasinya yaitu berada di wilayah Sipiak. Sebelum dijadikan sebagai tempat peristirahatan para zending penyebaran agama kristen, bangunan ini yang merupakan sebuah gudang perusahaan perkebunan Marihat.Gudang ini merupakan pemberian dari Tuan Cook atas persetujuan Tuan Controleur Pemerintah Belanda kepada Pendeta Weissenbruch yang datang bersama rombongannya dengan tujuan penyebaran agama kristen di Prapat dan dibangun kembali dijadikan sebagai rumah tempat bersekutu orang-orang yang telah percaya setiap hari minggu.Di rumah ini kemudian dilakukan kebaktian pertama dengan mengajarkan bernyanyi, berkotbah dan membacakan firman Tuhan.21
Setelah proses perkenalan, pengkaderan dan kebaktian-kebaktian singkat yang dilaksanakan selama beberapa tahun, maka pada pertengahan tahun 1908 dibangun kembali sebuah tempat kebaktian/parmingguon yang disebut parlapelapean dengan bentuk gereja yang sederhana sederhana dan beratap ijuk. Gereja ini lah yang kemudian disebut sebagai rumah ijuk.
Kemudian pada tahun 1911 diadakan pembangunan kembali gereja Sipiak dikarenakan pertambahan jemaat.Pertapakan gereja ini diberikan oleh Pangulu Jonathan Sinaga. Pembangunan gereja ini dilakukan oleh para jemaat dan para penetua yang bekerja sama dalam pembangunan gereja mereka. Hingga tahun 1914 terdapat beberapa bangunan milik gereja yang terdiri dari satu unit Gereja, satu unit rumah tempat tinggal pendeta, dua unit rumah tempat tinggal para guru, satu unit
21Ibid.
28
pesanggerahan milik pendeta,bangunan sekolah Zending dengan 3 ruangan yang dibangun di Ambarita (kelas 4- kelas 6).22
. Ditahun yang sama pula Pendeta Weissenbruch dimutasi ke HKBP Balige dan digantikan oleh Pendeta Brucner dari Muara. Setelah pergantian tugas tersebut pelayanan menjadi lemah dan semakin rumit ditahun 1916 HKBP Sipiak menghadapi pergumulan dan permasalahan mengenai tanah tempat berdirinya gereja.
Proses jual-beli tanah gereja ini awalnya tidak disetujui oleh pihak gereja, yaitu Tuan Bruckner dan Ephorus beserta dengan Jemaat. Mereka berusaha rencana untuk menjual tanah gereja ini dibatalkan oleh para Raja dengan membuat perjanjian, namun hal tersebut tidak berhasil dan di tolak oleh para Raja.Walaupun telah berusaha dengan kuat agar tanah tersebut tidak dijual namun pada akhirnya lokasi Gereja dipindahan dengan menggantikannya dengan sebidang tanah di sebelah timur, yaitu di daerah Dolok Pangulu.23
Perpindahan gereja ini tentunya membuahkan hasil yang pahit bagi para jemaat.Walaupun telah dilakukan penggantian tanah untuk mendirikan gereja yang baru namun mereka tetap merasa terluka.Pergantian tanah itu dianggap tetap tidak menyelesaikan permasalahan dan meninggalkan pertikaian antara jemaat dengan para Raja karena telah menjual tanah gereja. Hal ini juga berdampak mengecewakan Badan Zending Rynsche sehingga tuan Bruckner harus dipindahkan ke Lumban Lobu.
22Ibid.
23Ibid.
29
Pada awal pendirian Hotel Parapat belum terdapat banyak bangunan penting milik Belanda, hanya terdapat sebuah pesangrahan yang terletak tidak jauh dari hotel.Namun seiring dengan perkembangan pariwisata di wilayah Prapat kemudian mulai di dirikan bangunan-bangunan baru di sekitaran hotel seperti electric central, hulp post kantoor,Deli maatschappij dan bangunan-bangunan lainnya.