• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : PENGATURAN HUKUM TERHADAP HAK ASUH ANAK

C. Akibat Hukum Terhadap Hak Asuh Anak

2. Yang Berhak Mendapatkan Hak Asuh Anak

Hadhanah adalah kegiatan mengasuh, memelihara, mendidik anak hingga dewasa atau mampu berdiri sendiri.55 Hadhanah menurut bahasa adalah Al-Janbu yang berarti erat atau dekat, sedangkan menurut istilah memelihara anak laki-laki atau perempuan yang masih kecil dan belum dapat mandiri, menjaga kepentingan anak, melindungi dari segala yang membahayakan dirinya, mendidik rohani dan jasmani serta akalnya supaya si anak dapat berkembang dan dapat mengatasi persoalan hidup yang akan dihadapinya.56

Pengertian di atas selaras dengan pendapat yang dikemukakan oleh Sayyid Sabiq bahwa hadhanah adalah melakukan pemeliharaan anak yang masih kecil, laki-laki ataupun perempuan atau yang sudah besar belum mumayyiz tanpa kehendak dari siapa pun, menjaga dari sesuatu yang menyakiti dan merusaknya, mendidik jasmani dan rohani agar mampu berdiri sendiri menghadapi hidup dan memikul tanggung jawabnya.57

Faktor untuk kecakapan atau kepatutan untuk memelihara anaknya maka harus ada syarat-syarat tertentu yaitu :58

a. Berakal sehat, karena orang gila tidak boleh menangani dan menyelenggarakan hadhanah.

b. Merdeka, sebab seorang budak kekuasaannya kurang lebih terhadap anak dan kepentingan terhadap anak lebih tercurahkan kepada orangtuannya.

c. Beragama Islam, karena masalah ini untuk kepentingan agama yang ia yakini atau masalah perwalian yang mana Allah tidak mengizinkan terhadap orang kafir.

d. Amanah.

e. Belum menikah dengan laki-laki lain bagi ibunya.

f. Bermukim bersama anaknya, bila salah satu diantara mereka pergi maka ayah lebih berhak karena untuk menjaga nasabnya.

g. Dewasa, karena anak kecil sekalipun mumayyiz tetapi ia butuh orang lain untuk mengurusi dirinya.

h. Mampu mendidik, jika penyakit berat atau perilaku tercela maka membahayakan jiwanya.

Hadhanah atau pengasuhan anak hukumnya wajib, karena anak yang masih memerlukan pengasuhan ini akan mendapatkan bahaya jika tidak mendapatkan pengasuhan dan perawatan, sehingga anak harus dijaga agar tidak sampai membahayakan. Selain itu ia juga harus tetap diberi nafkah dan diselamatkan dari segala hal yang dapat merusaknya.

Hadhanah sangat terkait dengan tiga hak : 1. Hak wanita yang mengasuh.

2. Hak anak yang diasuh.

3. Hak ayah atau orang yang menempati posisinya.

Jika masing-masing hak ini dapat disatukan, maka itulah jalan yang terbaik dan harus ditempuh. Jika masing-masing hak saling bertentangan, maka hak anak harus didahulukan daripada yang lainnya. Terkait dengan hal ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, pihak ibu terpaksa harus mengasuh anak jika kondisinya memang memaksa demikian karena tidak ada orang lain selain dirinya yang dipandang pantas untuk mengasuh anaknya.

Kedua, ibu tidak boleh dipaksa mengasuh anak jika kondisinya memang tidak mengharuskan demikian, sebab mengasuh anak itu adalah haknya dan tidak ada mudaharat yang dimungkinkan akan menimpa si anak karena adanya mahram lain selain ibunya.

Ketiga, seorang ayah tidak berhak merampas anak dari orang yang lebih berhak mengasuhnya (baca: ibu) lalu memberikannya kepada wanita lain kecuali ada alasan syar’i yang memperbolehkannya.

Keempat, jika ada wanita yang bersedia menyusui selain ibu si anak, maka ia harus menyusui bersama (tinggal serumah) dengan si ibu hingga tidak kehilangan haknya mengasuh anak. Mengingat bahwa wanita lebih memahami

dan lebih sering berada bersama anak, maka ia lebih berhak mendidik dan mengasuh anak dibandingkan laki-laki.59

 Pemeliharaan menurut Hukum Islam :

Sebagai yang kita maklum bersama bahwa kewajiban memelihara, mendidik, dan mengasuh anak adalah tanggung jawab kedua orangtua, hal demikian tentunya kalau kondisi kedua orang tua adalah harmonis akan tetapi jika yang terjadi disharmonisasi kedua orangtuannya (terjadi perceraian), maka siapa yang paling berhak diantara mereka ;

Menurut Prof. Dr. Satria Efendi dibedakan menjadi:

a. Sebelum mumayyiz adalah masa dimana seorang anak belum dapat membedakan mana yang bermanfaat bagi dirinya dan mana yang berharga bagi dirinya : Jika demikian maka :

1. Tidak diperkenankan memisahkan anak dengan ibunya, jika tidak ingin dipisahkan Allah di hari kiamat (Hr. Abu Daud).

2. Hadist Abdullah Bin Umar ibunya lebih berhak selama belum menikah dengan laki-laki lain.

3. Keputusan Abu Bakar tentang kasus Umar bin Khattab dimana Umar hendak mengambil anaknya ketika pergi ke Quba tetapi Abu Bakar memeutuskan yang berhak mengasuh anak adalah ibunya.

4. Islam memandang bahwa seorang ibu lebih faham dan mengerti akan kebutuhan anak, begitu juga pendapat pakar Islam lainnya As Shan’ani Sayyid Sabiq, Muhammad Jawad Mugniyah termasuk As Syafi’i, dan Mazhab Hanafi.

b. Mumayyiz yakni massa dimana seorang anak telah mulai dapat membedakan mana yang membahayakan dirinya dan mana yang bermanfaat bagi dirinya (+ umur 7 tahun sampai menjelang baliq) yang demikian di dasarkan pada hadist Abu Hurairah yakni kasus tentang kedua orang tuanya yang bercerai dimana anak tersebut sudah mampu membantu Ibunya mengambil air dari sumur anak tersebut dipandang nabi sebagai anak yang mumayyiz karena telah dapat membantu ibunya yan pada gilirannya sang anak memilih ibunya.

Syarat-syarat bagi pengasuh anak :

1. Baliq, berakal, tidak terganggu ingatan, adil, jujur, bahkan Ahmad bin Hambal menambahkan tidak boleh terkena penyakit menular;

2. Amanah sehingga ada jaminan bagi terpeliharannya anak dengan baik;

3. Mempunyai kemampuan dan kemauan terhadap pekerjaan tersebut;

4. Seorang ibu dapat memelihara anak sekalipun ia telah menikah dengan

Kompilasi Hukum Islam menyatakan bahwa hak asuh anak yang belum mumayyiz adalah hak ibunya liat pada pasal 105 yang berbunyi : Dalam hal terjadi perceraian: a) pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya, b) pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan untuk memilih diantara ayah atau ibunya sebegai pemegang pemeliharaannya, c) biaya pemeliharaan ditanggung ayahnya.60

Hal ini dikarenakan ibu mempunyai tahap kasih sayang serta kesabaran yang lebih tinggi selain itu seorang ibu lebih lembut ketika menjaga dan mendidik anak-anaknya yang masih dalam usia menyusui dan ukuran umur ibu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki semua orang.

Dalam hal terjadinya perceraian orangtua, biasanya anaklah yang menjadi korban. Orangtua beranggapan dalam perceraian mereka, persoalan akan segera dapat di selesaikan. Padahal tidak demikian adanya dan tidak sederhana itu untuk menyelesaikan masalah dengan perceraian. Bahwa penyelesaian terbaik bagi anak-anak dapat dengan mudah dicapai. Dalam kondisi apapun harus tetap diingat bahwa anak adalah individu yang mempunyai hak-hak dasar yang diakui sebagaimana halnya orang dewasa. Oleh karena itu, dalam kasus perceraian di atas anak merupakan salah satu subjek.

Dan kepentingan anak tetap harus di prioritaskan.

Seorang anak yang belum mumayyiz masih berhak atas penggasuhan kedua orangtuanya, walaupun orangtuanya sudah bercerai dan pengasuhan tersebut semata-mata hanya untuk kepentingan anak-anak tersebut. Bila nantinya terjadi perselisihan dan penguasaan anak maka pengadilan memberikan putusan yang seadil-adilnya tanpa sedikit pun mengurangi hak-hak anak tersebut.

Sesuai dengan rumusan dan makna undang-undang, bahwa dalam menentukan hak asuh yang harus diperhatikan adalah demi kepentingan hukum anak-anaknya. Hakim harus benar-benar memperhatikan apabila anak-anak tersebut di pelihara pemohon atau termohon mempunyai jaminan sosial dan kesejahteraan yang lebih baik atau tidak. Meskipun sebelum di proses ke pengadilan telah terjadi kesepakatan antara keluarga pemohon dan keluarga termohon untuk membagi hak asuh anak-anak tersebut. Jadi dengan demikian, walaupun Undang-undang menghendaki hak asuh anak yang belum mumayyiz jatuh ke tangan ibu, namun hal itu bukanlah suatu yang mutlak atau keharusan, karena bisa saja Majelis Hakim dalam suatu persidangan menjatuhkan hak asuh anak yang belum mumayyiz ke tangan bapaknya sesuai dengan alasan-alasan yang telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan. Misalnya karena ibunya berkelakuan buruk, seperti judi, zinah, boros dan lain-lain.

mendapatkan hadhanah baik dari ayah ataupun ibunya (vide pasal 156 huruf (b) KHI).61

 Pemeliharaan anak menurut UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974

Menurut UU Perkawinan, bahwa kewajiban orangtua terhadap anaknya pada dasarnya terbagi kepada 2 bagian yaitu pemeliharaan dan pendidikan.

Kewajiban ini berlaku terus sampai anak tersebut kawin atau dapat berdiri sendiri walaupun perkawinan antara kedua orangtua itu telah putus. Sebagai landasan Hukum tentang kewajiban orangtua untuk memelihara dan mendidik anak-anak tersebut di dalam UU Perkawinan pasal 45 ayat 1 dan 2 di jelaskan tentang hak dan kewajiban antara orangtua dan anak.62

1. Kedua orangtua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya.

2. Kewajiban orangtua yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berlaku sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri kewajiban mana berlaku terus meskipun perkawinan antara kedua orangtuanya putus.

3. Dalam Pasal 41 UU Perkawinan akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah : Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak, bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, Pengadilan memberi keputusannya.

4. Bapak bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu, bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memberi kewajiban tersebut, Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.

5. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas istri.

Apabila ada seorang anak yang menjadi korban perceraian orangtuanya tidak mendaftarkan pernikahan secara Agama Islam (Non Muslim), maka pihak Majelis Hakim Pengadilan Agama harus mempunyai beberapa alasan yang dapat menguatkan putusan Pengadilan terkait hak asuh anak yang jatuh ke tangan ibunya. Alasan-alasan yang dianggap kuat antara lain:

a. Fakta-fakta yang terungkap di persidangan;

1. Salah satu pihak tidak dapat memelihara anaknya dengan baik, misalnya: ayahnya suka mabuk-mabukan, atau ibunya suka berjudi, maka pihak yang dianggap tidak dapat memelihara anaknya dengan baik tidak akan diberikan hak asuh anak.

2. Salah satu pihak tidak memberikan jaminan keselamatan terhadap si

2. Bukti bahwa memang benar pihak yang diberikan hak asuh anak tidak bisa menjamin kesehatan dan keselamatan si anak baik secara jasmani dan rohani.

3. Bukti bahwa memang benar pihak yang diberikan hak asuh anak tidak dapat menafkahi dan membiayai segala kebutuhan sang anak.

4. Argumentasi yang dapat menyakinkan hakim mengenai kesanggupan dari pihak yang memohonkan hak asuh anak tersebut dalam mengurus dan melaksanakan kepentingan dan pemeliharaan atas anak tersebut baik secara materi, pendidikan, jasmani, dan rohani anak tersebut.

5. Pemeliharaan anak (hadhanah) adalah suatu kewajiban bagi para orangtua. Sebab, ketika seorang suami menjatuhkan talak kepada istrinya, maka yang menjadi korban adalah anaknya. Maka anak harus dipelihara serta dibimbing baik secara materi, pendidikan, jasmani, dan rohani. Orangtua harus tetap mengajarkan hal-hal baik pada anaknya terlebih ketika anak tersebut belum mumayyiz (dibawah 12 tahun). Agar anak senantiasa merasa bahwa meskipun orangtuanya bercerai namun ia tetap disayang dan dilindungi oleh ayah dan ibunya.63

Dokumen terkait