• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berita Negara Republik Indonesia 1947 No. 17

Dalam dokumen WARGANEGARA 0JANG A SING. (f / (Halaman 142-179)

Ditetapkan di Jogjakarta pada tanggal 1 Mei 1947.

P R E S ID E N R E P U B LIK IN D O N E S IA , S O E K A R N O .

Menteri Kehakiman, S O E S A N T O T IR T O P R O D JO . Diumumkan

pada tanggal 2 Mei 1947 Sekretaris Negara, A .G . P R IN G G O D IG D O . P E N D J E L A S A N U N D A N G - U N D A N G 1947 No. 8 T E N T A N G M E M P E R P A N - D JA N G W A K T U U N T U K M E N G A D JU K A N PER- N JA T A A N B E R H U B U N G D E N G A N K E W A R G A - A N N E G A R A IN D O N E S IA .

Dalam hampir satu tahun sesudah Undang-undang tentang W arga Negara dan Penduduk Negara Indonesia diumumkan, ter- njata sedikit sekali orang-orang termaksud dalam pasal 1 bab b > (dengan singkat orang-orang Peranakan) jang menjatakan kebe-

ratannja mendjadi W arga Negara Indonesia.

Lebih-lebih orang djanda, jang mendjadi W arga Negara Indo­ nesia karena perkawinannja, tiada jang menjatakan mau melepas­ kan kewargaannja dari Negara Indonesia. Demikian pula orang djanda, jang karena perkawinannja kehilangan kewargaan Negara Indonesia lagi.

Keadaan demikian ini mungkin sekali disebabkan oleh karena Undang-undang tentang W arga Negara Indonesia itu belum tjukup diketahui atau dimengerti oleh umum.

Sesuai dengan djiwa dari Undang-undang itu, jang meng­ hargai kemerdekaan seseorang untuk menetapkan kewargaan ne- garanja, maka kepada orang-orang jang sebetulnja ingin atau hendak mengadjukan pemjataan-pernjataan itu, hendaknja diberi kesempatan lagi.

Oleh karena itu maka baiklah kiranja djika waktu untuk mengadjukan pernjataan jang akan lampau pada hari 10 April 1947 (atau sebelum 10 April 1948) diperpandjang sampai 10 April 1948.

U N D A N G -U N D A N G 19 47 No. 9 *)

W A R G A N E G A R A , N A T U R A L IS A S I. Naturalisasi Frans Matheas Hesse.

P R E S ID E N R E P U B L IK IN D O N E S IA ,

Menimbang : a. bahwa Menteri Kehakiman dengan perantaraan Pengadilan Negeri Indramaju telah menerima surat permohonan jang bermeterai dari Frans Matheas Hesse, tertanggal 3 September 1946, jang menjatakan keinginannja mendjadi W'arga Negara Indonesia dengan djalan naturalisasi ; b. bahwa menurut ketetapan Pengadilan Negeri

Indramaju No. 1/1946/1 tanggal 18-12-1946, se­ gala sjarat-sjarat jang ditetapkan oleh Undang- undang tentang W arga Negara dan Penduduk Negara Indonesia telah dipenuhi ;

c. bahwa tidak ada alasan untuk menolak permo­ honan tersebut;

Mengingat : Pasal 20 ajat (1) berhubung dengan pasal IV Aturan Peralihan Undang-undang Dasar dan M ak­ lumat W ak il Presiden tanggal 16 Oktober 1945 No. X, pasal 1 bab c dan pasal 5 Undang-undang ten­ tang W arga Negara dan Penduduk Negara Indo­ nesia ;

Dengan persetudjuan Badan Pekerdja Komite Nasional Pusat ; M e m u t u s k a n :

Menetapkan peraturan sebagai berikut:

U N D A N G - U N D A N G T E N T A N G N A T U R A L IS A S I F R A N S M A T H E A S H E SSE .

Pasal 1..

Permohonan Frans Matheas Hesse, lahir pada tanggal 2 D juli 1879, di Huls/Krys Kempen Rhynland di Djerman, bertempat ting­ gal di Karangampel, kabupaten Indramaju, untuk mendjadi W a rg a Negara Indonesia dikabulkan, dengan pengertian, bahwa ia mem­ peroleh kewargaan Negara pada hari ia dihadapan Pengadilan Negeri dari daerah tempat kedudukannja bersumpah atau berdjandji setia kepada Negara Indonesia, sebagai termaksud dalam pasal 5 ajat (8) Undang-undang tentang W arg a Negara dan Penduduk Negara Indonesia.

Pasal 2.

Undang-undang ini mulai berlaku pada hari diumumkan. 4

* ) B erita Negara Republik Indonesia 1947 No. 18.

134

Ditetapkan di Jogjakarta pada tanggal 2 Mei 1947.

P R E S ID E N R E P U B LIK IN D O N E S IA , S O E K A R N O .

Menteri Kehakiman, S O E S A N T O T IR T O P R O D JO . Diumumkan

pada tanggal 3 Mei 1947. Sekretaris Negara, a.g . P R IN G G O D IG D O . 5 P E R S E T U D JU A N P E R IH A L P E M B A G IA N W A R G A - N E G A R A . L.N. 1950 No. 2

Republik Indonesia Serikat dan Keradjaan Nederland,

menimbang bahwa pada saat penjerahan kedaulatan bagi orang-orang jang hingga saat itu kaulanegara Keradjaan Nederland ^ terhadap kepada Republik Indonesia Serikat termasuk orang- orang jang menurut perundang-undangan Republik Indonesia war- ganegara Republik tersebut — haruslah ditetapkan apakah mereka akan berkebangsaan Belanda ataukah berkebangsaan Indonesia,

bermupakat bahwa tentang hal tersebut pada saat itu berlaku penetapan jang berikut :

Pasal 1. Dalam arti peraturan ini jang disebut dewasa ialah mereka jang berusia delapanbelas tahun penuh atau jang telah kawin lebih dahulu.

Djika telah berlangsung pemutusan pertalian kawin sebelum mereka berusia delapanbelas tahun penuh, maka mereka itu tetap dewasa.

2. Bagi Republik Indonesia Serikat, bila persetudjuan ini di­ perlakukan kepada orang-orang jang warganegara Republik Indo­ nesia menurut perundang-undangan kewarganegaraan Republik tersebut pada saat mendjelang waktu penjerahan kedaulatan, maka dimana disebut, „memperoleh” atau „memilih” kebangsaan Indo­ nesia atau bertempat tinggal disitu sekurang-kurangnja enam bulan, Indonesia, dan, dimana disebut „tetap memegang” kebangsaan Belanda atau „menolak” kebangsaan Indonesia, hilanglah kebang­ saan Republik.

3. Orang-orang Belanda jang dewasa tetap memegang ke­ bangsaan Belanda, akan tetapi djika mereka dilahirkan di Indo­ nesia atau bertempat tinggal disitu sekurang-kurangnja enam bulan, maka mereka berhak akan menjatakan didalam waktu jang ditetap­ kan bahwa mereka memilih kebangsaan Indonesia.

4. (1) Melainkan apa jang ditentukan pada pasal ini ajat kedua, maka kaulanegara Belanda bukan-orang-Belanda jang de­ wasa, jang mendjelang waktu penjerahan kedaulatan termasuk golongan penduduk orang-orang asli di Indonesia, memperoleh ke- bangsaan Indonesia, akan tetapi, djika mereka lahir diluar Indo­ nesia dan bertempat tinggal di Negeri Belanda atau diluar daerah peserta Uni, mereka berhak akan menjatakan didalam waktu jang ditentukan bahwa mereka memilih kebangsaan Belanda.

(2) Kaulanegara Belanda jang tersebut pada ajat diatas, jang bertempat tinggal di Suriname atau di Antillen Belanda :

a. djika mereka lahir diluar daerah Keradjaan, maka mereka memperoleh kebangsaan Indonesia, akan tetapi mereka berhak akan menjatakan didalam waktu jang ditentukan bahwa mereka memilih kebangsaan Belanda ;

b. djika mereka lahir didaerah Keradjaan, maka mereka tetap memegang kebangsaan Belanda, akan tetapi mereka berhak akan menjatakan didalam waktu jang ditentukan bahwa mereka memilih kebangsaan Indonesia.

5. Orang-asing jang kaulanegara Belanda bukan-orang- Belanda jang telah dewasa mendjelang waktu penjerahan kedau­ latan dan jang lahir di Indonesia atau bertempat tinggal di Republik Indonesia Serikat mendapat kebangsaan Indonesia, tetapi berhak menolaknja didalam waktu jang ditetapkan itu ;

djika dalam hal ini mendjelang waktu penjerahan kedaulatan kebangsaannja tidak lain lagi daripada kebangsaan Belanda, maka mereka itu mendapat kembali kebangsaan itu ;

djika pada saat itu mereka mempunjai kebangsaan asing pula, maka sesudah menolak kebangsaan Indonesia mereka hanjalah mendapat kembali kebangsaan Belanda, djikalau mereka pada w ak­ tu itu djuga menjatakan keterangan guna itu.

6. Orang-asing jang kaulanegara Belanda bukan-orang- Belanda jang telah dewasa mendjelang waktu penjerahan kedau­ latan, jang lahir tidak di Indonesia dan bertempat tinggal di Ke­ radjaan, tetap berkebangsaan Belanda, tetapi mereka berhak di­ dalam waktu jang ditetapkan menolak kebangsaan Belanda dan memilih kebangsaan Indonesia ;

djika mereka itu pada saat tersebut mempunjai kebangsaan asing pula, maka mereka berhak akan menolak kebangsaan Belanda dengan begitu sadja.

Hak menolak kebangsaan Belanda itu, berhubung atau tidak dengan memilih kebangsaan Indonesia, tidaklah berlaku bagi pen­ duduk Suriname jang berasal dari India atau Pakistan.

7. Orang-asing jang kaulanegara Belanda bukan-orang- Belanda dari luar negeri jang telah dewasa mendjelang wak­ tu penjerahan kedaulatan jang bertempat tinggal diluar daerah peserta U ni dan jang lahir di Negeri Belanda, Suriname atau

Antillen Belanda, tetap berkebangsaan Belanda, tetapi, djika orang tua mereka kaulanegara Belanda karena lahir di Indonesia, maka mereka berhak didalam waktu jang ditetapkan memilih kebangsaan Indonesia dengan menolak kebangsaan Belanda itu ;

djika pada saat tersebut mereka berkebangsaan asing djuga, maka mereka berhak menolak kebangsaan Belanda dengan begitu sadja.

Djika mereka lahir diluar daerah peserta Uni, maka berlakunja pasal ini atau pasal 5 baginja tergantung kepada tempat lahir bapaknja atau ibunja, jaitu menurut pembedaan-pembedaan ter- maktub pada Undang-undang 1892 tentang Kewarganegaraan Be­ landa dan Penduduk, pasal-1 ;

djika orang tua itu lahir pula diluar daerah peserta Uni, maka jang menentukan ialah tempat lahir bapaknja ataupun ibunja.

8. Jang belum dewasa mengikuti kebangsaan bapaknja atau­ pun ibunja menurut pembedaan-pembedaan jang termaktub pada Undang-undang 1892 tadi, djikalau orang tua itu mendjelang waktu penjerahan kedaulatan kaulanegara Belanda dan masih hidup.

9. Aturan-aturan diatas langsung berlaku bagi jang belum dewasa jang bapaknja atau ibunja, menurut pembedaan-pembedaan termaktub pada Undang-undang 1892 pasal 1 tersebut, mendjelang waktu penjerahan kedaulatan bukan kaulanegara Belanda atau telah meninggal, ja'ni dengan pengertian bahwa dalam hal jang terachir itu tempat tinggalnja jang sebenarnja akan dianggap tempat ting- galnja jang sah dan bahwa dalam kedua hal itu, dimana tersebut menjatakan keterangan, maka keterangan itu dapatlah dinjatakan oleh wakilnja jang sah.

Djika tidak ada wakil jang sah, maka tempoh-tempoh jang di­ tentukan akan mulai sedjak saat seorang wakil diangkat.

10. Isteri itu mengikuti kedudukan suaminja. Sesudah, putus pertalian kawin maka selama waktu setahun sesudah itu jang perempuan berhak akan memperoleh atau menolak kebangsaan jang diperolehnja seandainja ia belum kawin pada saat penjerahan ke­ daulatan, ataupun jang dapat diperolehnja atau ditolaknja, ialah dengan djalan menjatakan keterangan.

11. Karena mendjalankan hak memilih atau menolak kebang­ saan tidaklah mendjadi batal sesuatu tindakan jang terlangsung sebelum itu jang sekiranja akan mendjadi sah seandainja hak itu tidak didjalankan

K E T E N T U A N - K E T E N T U A N P E N D JA L A N K A N . 12. Keterangan-keterangan tentang memilih atau menolak kebangsaan dapat dinjatakan oleh jang berhak dihadapan, ataupun dikirimkan berupa surat kepada baik Komisaris-komisaris Agung kedua belah pihak, baik hakim harian biasa orang-orang bersang­ kutan itu, maupun pegawai-pegawai jang lagi akan ditundjukkan 137

untuk itu dikedua negara oleh tingkatan-djawatan jang berkuasa. Dinegeri asing keterangan tersebut boleh dinjatakan dihadapan ataupun dikirimkan berupa surat kepada pegawai-pegawai diplo­ matik atau konsol kedua belah pihak jang didaerahnja orang jang bersangkutan itu bertempat tinggal.

Tanda-tangan jang dibubuh dibawah surat penjatakan kete­ rangan ataupun tjap empoe djari harus dinjatakan sahnja (dilega­ lisir).

Barangsiapa jang menjatakan keterangan atau mengirimkannja berupa surat, dengan segera akan diberi atau dikirimi seputjuk surat bukti tentang itu.

Sekalian keterangan jang dinjatakan dalam masa satu bulan- kalender diumumkan pada bulan jang berikut pada Surat Berita Negara penerbitan negara jang pegawainja sudah dipermaklumi keterangan ta d i; duplikat atau salinan jang sah keterangan tadi dikirimkan setiap bulan kepada Pemerintah negara jang lain.

Kedua belah pihak berdjandji akan mengumumkan dengan se- luas-luasnja keleluasaan menjatakan keterangan tersebut. Kete­ rangan itu serta surat bukti jang akan diberikan tentang itu bebas daripada meterai dan biaja.

13. Arti perkataan „waktu jang ditentukan” pada persetu- djuan ini ialah masa jang lamanja dua tahun sesudah penjerahan kedaulatan.

14. Keputusan atas hal melakukan atau rintangan melakukan hak-opsi boleh diminta kepada hakim harian biasa pada tempat tinggal orang jang bersangkutan. Djikalau orang itu bertempat tinggal dinegeri asing, maka jang berkuasa ialah Pengadilan Arron- dissemen di Amsterdam dan hakim harian biasa di Djakarta (Batavia). Membantah putusan itu maka boleh diminta pengadilan lebih tinggi ataupun dipergunakan alat-alat pengadilan lain seperti untuk perkara sipil. Keputusan jang tidak dapat diubah lagi di­ beritahukan oleh Pemerintah Negeri jang daerah-hukumnja tempat keputusan itu diambil kepada Pemerintah Pihak jang lain ;

Pemerintah Pihak jang lain mengakui keputusan itu. T JA T A T A N .

Tentang kebangsaan penduduk Irian (Nieuw-Guinea) tidak diputuskan suatu apapun pada ketentuan-ketentuan diatas ini, dji­ kalau kedaulatan atas daerah itu tiada berpindah kepada Republik Indonesia Serikat.

P E R A T U R A N - P E M E R IN T A H P E L A K SA N A A N P E M ­ B A G IA N W A R G A N E G A R A

(Per.-Pem. No. 1, tg. 31 Djan. 1950) L N /1 950-8. (Pendjelasan TLN 2)

Konsiderans. M e n i m b a n g : bahwa perlu diadakan ke­ tentuan-ketentuan pendjalankan lebih landjut untuk melaksanakan Persetudjuan perihal Pembagian Warganegara, jang dilampirkan pada Persetudjuan Perpindahan, jang tertjapai pada Konperensi Medja Bundar di Den Haag pada tanggal 2 Nopember 1949 ;

M e n g i n g a t : pasal 141 ajat 1 Konstitusi; M e m u t u s k a n :

M e n e t a p k a n :

Peraturan-Pemerintah tentang mendjalankan hak memilih dan hak menolak kebangsaan Indonesia bagi orang jang mendjelang waktu penjerahan kedaulatan kaulanegara Keradjaan Belanda.

Pasal 1. Keterangan tentang memilih atau menolak kebang­ saan Indonesia dapat dinjatakan, dengan bebas dari pada meterai dan biaja, oleh orang jang bersangkutan sendiri atau, djika ia belum dewasa, oleh wakilnja jang sah dengan lisan dihadapan ataupun dengan surat kepada :

1. Hakim-perdata harian biasa orang jang bersangkutan, jang daerah hukumnja meliputi tempat tinggal orang itu, djika ia ber­ tempat tinggal dipulau Djawa atau dipulau Madura ;

2. Hakim-perdata tersebut diatas, atau Bupati ataupun pe- djabat Pamong Pradja lain sederadjat Bupati, jang daerahnja me­ liputi tempat tinggal orang jang bersangkutan, djika ia bertempat tinggal di Indonesia, diluar pulau Djawa dan pulau Madura ;

3. Komisaris Agung Republik Indonesia Serikat pada peme­ rintah Keradjaan Belanda,, djika orang jang bersangkutan bertempat tinggal didalam daerah Keradjaan Belanda ;

4. W a k il diplomatik atau konsol Republik Indonesia Serikat atau pedjabat lain jang diserahi mengurus kepentingan Indonesia pada sesuatu negara asing, jang daerahnja meliputi tempat tinggal orang jang bersangkutan, djika ia bertempat tinggal diluar daerah peserta U n i ;

5. Pengadilan Negeri (sekarang „Landgerecht” ) di Djakarta, djika orang jang bersangkutan bertempat tinggal diluar daerah pe­ serta Uni dan tiada ada salah seorang pedjabat tersebut pada angka 4 jang daerahnja meliputi tempat tinggalnja.

Pasal 2. Keterangan jang dinjatakan, baik dengan lisan mau­ pun dengan surat, harus disertai pemberian-pemberian jang dapat tjukup memberi penundjukan sepintas-lalu (summier) kepada pe­ djabat, bahwa orang jang bersangkutan memenuhi sjarat-sjarat untuk memilih atau menolak kebangsaan Indonesia, dan, djika

terangan dinjatakan oleh orang lain, maka harus dibuktikan bahwa orang ini adalah wakil jang sah dari orang jang bersangkutan.

Pasal 3. (1) Dari keterangan jang dinjatakan dengan lisan jang pemberian-pemberian atau buktinja termaksud dalam pasal 2 mentjukupi, pedjabat tersebut dalam pasal 1 membuat surat tjatatan dalam empat rangkap, jang ditanda-tanganinja, menurut model A jang terlampir pada Peraturan-Pemerintah ini.

(2) Keterangan tentang memilih atau menolak kebangsaan Indonesia jang dinjatakan dengan surat, harus dikirimkan dalam empat rangkap dan harus menjebutkan hal-hal tentang diri orang jang bersangkutan jang menundjukkan ia berhak memilih atau me­ nolak kebangsaan Indonesia, sebagaimana tertera dalam model A tersebut diatas.

Tanda-tangan atau tjap (empu) diari jang dibubuh dibawah surat penjatakan keterangan, harus dinjatakan sahnja menurut aturan-aturan jang berlaku untuk orang jang menjatakan kete­ rangan.

(3) Djika hal-hal jang disebutkan dalam surat penjatakan keterangan menurut pendapat pedjabat jang menerimanja tjukup ditundjukkan sepintas-lalu dengan pemberian-pemberian jang di­ sertakan pada surat penjatakan keterangan, maka dibawah masing- masing lembar olehnja dibubuh keterangan jang ditanda-tanganinja sebagai berikut:

Diterima di ... (Nama tempat kantor pedjabat) pada tanggal ... (hari, bulan dan tahun)

... (pediabatan) ... (nama pedjabat).

(4) Selembar surat tjatatan penjatakan keterangan atau se­ lembar surat penjatakan keteranoan jang sudah dibubuh keterano- an-penerimaan oleh pedjabat diberikan atau dikirimkan kepada orang jang menjatakan keterangan, dan berlaku sebagai bukti ten­ tang penjatakan keterangan.

Dua lembar dikirimkan kepada Menteri Kehakiman Republik Indonesia Serikat, dan selembar lagi disimpan oleh pedjabat dengan didjahit dalam suatu barkas bersama dengan surat-surat (tjatatan) penjatakan keterangan jang lain, dengan diberi nomor-urut me­ nurut hari pembuatan atau penerimaan.

Barkas itu djika sudah tjukup tebal •—■ setidak-tidaknja pada achir tahun — didjilid dengan diberi samak jang kuat.

Pasal 4. Djika pedjabat menganggap pemberian-pemberian jang disertakan pada keterangan tidak tjukup memberi penundjuk- an-sepintas-lalu akan hak orang jang bersangkutan atau bukti akan hak orang jang menjatakan untuk orang lain, maka semua surat olehnja dikembalikan kepada jang menjatakan keterangan, dengan membubuh keterangan dibawah surat penjatakan keterangan itu, sebagai berikut:

Dikembalikan karena ... (alasan pengembalian)

di ... ... (nama tempat kantor pedjabat) pada tanggal ... (hari, bulan dan tahun)

... (pedjabatan)

... (tanda-tangan pedjabat) ... (nama pedjabat).

Pasal 5. Menteri Kehakiman didalam kementeriannja dan masing-masing pedjabat tersebut dalam pasal 1 dalam kantornja, memelihara sebuah daftar untuk penjatakan keterangan memilih, dan sebuah daftar lagi untuk pentjatatan keterangan menolak ke- bangsaan Indonesia, masing-masing disusun seperti model B jang terlampir pada Peraturan-Pemerintah ini, hanja dengan perbedaan nama.

Semua keterangan jang diterima, baik jang dinjatakan dengan lisan maupun jang dikirimkan dengan surat, segera setelah surat tjatatannja dibuat atau keterangan-penerimaan termaksud dalam pasal 3 ajat 3 dibubuh, oleh pedjabat ditjatat dalam daftar.

Pasal 6. (1) Dari dua lembar surat (tjatatan) penjatakan keterangan jang diterima, Menteri Kehakiman memisahkan selem­ bar untuk, bersama dengan semua surat (tjatatan) penjatakan ke­ terangan jang diterima dalam masa satu bulan-kalender, disampai­ kan kepada Pemerintah Keradjaan Belanda dengan melalui Komisaris Agung Keradjaan Belanda pada Pemerintah Republik Indonesia Serikat, pada permulaan bulan jang berikut.

Selembar lagi disimpan sebagaimana tertera dalam pasal 3 ajat 4 kalimat kedua dan ketiga.

(2) Menteri Kehakiman mengusahakan pemuatan semua ke­ terangan, jang diterima dalam masa satu bulan-kalender, dalam Berita-Negara Republik Indonesia Serikat, pada bulan jang berikut.

Pasal 7. Djika Menteri Kehakiman dapat mengetahui, bahwa seorang jang keterangannja tentang memilih atau menolak kebang- saan Indonesia telah diterima, sesungguhnja tidak memenuhi sjarat, maka segera ia mengembalikan surat (tjatatan) penjatakan kete­ rangan jang masih ada dalam kementeriannja kepada orang jang menjatakan keterangan dengan melalui pedjabat jang menerimanja agar supaja daftar dan barkasnja dibetulkan.

Hal ini oleh Menteri Kehakiman diberitahukan kepada Komi­ saris Agung Keradjaan Belanda pada Pemerintah Republik Indo­ nesia Serikat, djika perlu, dan disiarkan djuga didalam Berita- Negara.

Pasal 8. Pemilihan atau penolakan kebangsaan Indonesia mulai berlaku pada hari surat tjatatan penjatakan keterangan dibuat atau pada hari surat penjatakan keterangan diterima oleh pedjabat jang berwadjib.

D jikalau dengan suatu keputusan-hakim diputus, bahwa orang jang bersangkutan dan/atau orang jang menjatakan keterangan jang tidak diterima oleh pedjabat sesungguhnja memenuhi sjarat- sjarat, maka pemilihan atau penolakan kebangsaan Indonesia oleh orang itu berlaku djuga mulai pada hari surat (tjatatan) tentang keterangan jang tidak diterima, seharusnja dibuat atau pada hari surat penjatakan keterangannja diterima oleh pedjabat itu.

Guna itu orang jang bersangkutan dapat mengirimkan tiga lembar salinan jang sah dari keputusan-hakim itu kepada jang berwadjib.

Pedjabat tersebut dan Menteri Kehakiman berbuat dengan salinan keputusan-hakim jang sah ini seperti dengan surat penjata­ kan keterangan jang dibubuh keterangan-penerimaan.

Pasal 9. Beraturan-Pemerintah ini dapat disebut : „Peratur- an-Pemerintah pelaksanaan pembagian warganegara”.

Pasal 10. Peraturan-Pemerintah ini segera berlaku dan ber­ laku surut sampai pada waktu pemulihan kedaulatan.

U N D A N G 2 P E N G A W A S A N O R A N G A SIN G . (Undang2 Darurat tgl. 16 Okt. 1953 No. 9) L N 1953-64. Konsid. Menimbang : bahwa perlu diadakan pengawasan ter­ hadap orang2 asing jang berada di Indonesia dan Organisasi Peng­ awasan Orang Asing sebagai alat perlengkapan jang chusus diberi tugas untuk melakukan pengawasan itu ;

Menimbang : bahwa karena keadaan-keadaan jang mendesak, peraturan ini perlu segera diadakan ; dst.

U N D A N G - U N D A N G D A R U R A T T E N T A N G PENG- - A W A S A N O R A N G A SIN G .

Pasal 1.

Menteri Kehakiman melakukan pengawasan terhadap orang2 asing jang berada di Indonesia.

Pasal 2.

Untuk menjelenggarakan pengawasan termaksud dalam pasal 1, Menteri Kehakiman dapat mengadakan Organisasi Pengawas Orang Asing, jang tugas dan kekuasaannja diatur dengan Per­ aturan Pemerintah.

Pasal 3.

Pelaksanaan Pengawasan tersebut dalam pasal 2 diatur lebih landjut dengan Peraturan Pemerintah, jang dapat mengantjamkan hukuman2 atas pelanggaran aturan2nja, berupa hukuman kurungan atau denda denqan setinggi-tingginja masing2 satu tahun atau se­ ratus ribu rupiah.

H al2 jang diantiam denqan hukuman2 tersebut dianggap se­ bagai kedjahatan. (LN. 54-83.)

Pasal 4.

Tiap2 orang asing jang berada di Indonesia diwadjibkan mem­ berikan segala keterangan atau bantuan jang diperlukan untuk mengenal dirinja.

Pasal 5.

(1) Orang2 asing jang berbahaja untuk ketenteraman, kesu­ silaan atau kesedjahteraan umum atau tidak mengindahkan per­ aturan2 jang diadakan bagi orang2 asing jang berada di Indonesia, oleh Menteri Kehakiman :

a. dapat diharuskan untuk berdiam pada sesuatu tempat jang ter­ tentu di Indonesia ;

b. dapat dilarang untuk berada di beberapa tempat jang tertentu di Indonesia dari mana ia harus pergi;

c. dapat dikeluarkan dari Indonesia, meskipun ia penduduk Ne­ gara.

(2) Surat keputusan Menteri Kehakiman dalam mendjalan­ kan kekuasaannja menurut ajat 1 bermuat alasan2 dan pertim­ bangan2.

(3) Sebelumnja orang asing jang menurut ajat 1 huruf c pasal ini dikeluarkan dari Indonesia ia dimasukkan dalam tahanan dahulu dengan diberi kesempatan untuk membela diri.

Lamanja tahanan itu tidak boleh melebihi waktu satu tahun. (4) Ajat 1 pasal ini tidak mengurangi hak orang asing untuk meninggalkan Indonesia atas beaja sendiri djikalau ia tidak ter­ sangkut lagi dalam perkara pidana dan semua kewadjiban2nja terhadap Republik Indonesia dipenuhinja.

Pasal 6.

(1) Barang siapa jang dikenakan pasal 5 ajat 1 dan mengaku dirinja warga negara Republik Indonesia, dapat mengadjukan per­ mohonan kepada Pengadilan jang daerah hukumnja meliputi tempat tinggalnja orang itu, untuk menetapkan bahwa pasal tersebut tidak berlaku baginja.

(2) Pengadilan jang berhak menurut ajat 1 ialah Pengadilan Tinggi.

Pasal 7. Undang2 ini tidak berlaku bagi :

a. pedjabat2 diplomatik dan konsuler asing ;

b. pegawai2 organisasi2 antar-negara jang diberikan kedudukan jang dapat disamakan dengan kedudukan mereka jang disebut pada huruf a.

Pasal 8.

Undang2 Darurat ini disebut Undang2 Pengawasan Orang Asing dan mulai berlaku pada hari diundangkan. (20 Okt. ’53.)

8 P E N D J E L A S A N U N D A N G 2 D A R U R A T No. 9 T A H U N 1953, T L N 463 T E N T A N G P E N G A W A S A N O R A N G A S IN G U M U M

Berhubung dengan banjaknja orang-orang asing di Indonesia jang kian hari akan bertambah pula, pertambahan mana sebagian besar merupakan pemasukan setjara illegal melalui daerah-daerah pinggiran (Riau, Kalimantan Barat), maka sangat perlu diadakan pengawasan terhadap orang-orang asing pada umumnja.

Agar pengawasan dapat dilakukan dengan saksama, dianggap perlu menugaskannja chusus pada suatu Organisasi Pengawas

Dalam dokumen WARGANEGARA 0JANG A SING. (f / (Halaman 142-179)

Dokumen terkait