• Tidak ada hasil yang ditemukan

WARGANEGARA 0JANG A SING. (f /

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "WARGANEGARA 0JANG A SING. (f /"

Copied!
290
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Prof. Mr Dr GOUW GIOK SIONG

W A R G A N E G A R A

d a n

0 J A N G A S I NG

' /

(berikut Peraturan2 dan Tjontoh2)

(f

/

(4)

¿ ¿ S

PjiRPUSTA^AA^

Mo. s t

n

ib o c

k tyO 'jZ

F AT.Htr.ttTH ~ UNIVERSITAS D 00.••¿SIA,

i-fohon d ik c m b a lik o .n

->i|,‘ nf,gu- ‘

s e s a r i r-'h. "brvnn. ££^2. "fcsb« j.brivTfxln •

?r

-

O

s >/ f k « ^ 9 - r t< r r 19T r ^ 1-t) !

n

1-3 MAY \ m -( f,C j

2 7 AUG1971 M l Z

’ a

11

m

!®i

H

(d

i

i

i

I

/pern­ ya —

ex-%

.

ha^

i

| 1 Tk a tar]6 'd i nas ^ m a h a s is wa 'd i dai a m ' *d an ^ laksanaan Penp so n g a t> |j ® sendiri dan atas beaja pemertateh dll negGrl’

Harga : Rp. 37.— . p orto 10%,

! j K E N G P O ( B a g . P e n e r b i t a n ) ■ P in t u B esa r S e la ta n 86-88 - D j a k a r t a - K c t a . ¡ij

(5)

W A R G A N BG A R 4

dan

* s

OB AN G A S I N G

(berikut Peraturan2 dan Tjontoh2)'

. r. *..* 'v: A", n' ■v*' ' j ■~ :» -v -v* " \t Ík.^=¿.

T * *

„ . ‘‘wN-v/* •* ■■ > / ( j i • :-^rr— / v. ' s/*>' I ! { / . .-W . -■■. . .- \ 7 / -\ Prof. n ; ’-: ó r j c ^ w . G I O K S I Ó N G / / « n r ^ ^ i s ^ L » ^ . pada Fakultas \ " lia ^ u u i V ^ a n ' ^tásj arakat '■• .fcniyoJ^^S indonesia' di TDjakartn.

*' ■>!. ’ '' PengaríaE^.áj Dinkárta.

Call Number

3 n . &

¿

Universitas Indonesia " g o

2012

^ perpustakaan

(6)

I I

Harga Rp. 68.— ‘ Porto : 10%

(7)

S ^ a f a <~ P e n g a n ta r.

Masalah kewarganegaraan merupakan suatu soal jang pen- ting bagi kita di Indonesia. Diwaktu sekarang lebih- lagi terasa pentingnja status warganegara atau asing jang dimiliki oleh se­ seorang dinegeri ini. Hal ini disebabkan oleh pengeluaran pel­ bagai peraturan2 baru jang demikian „deras mengalirnja laksana air dari gunung”. Proces pemberian „isi” kepada status warga­ negara ini dalam masa bergeloranja semangat nasionalisme se­ perti kita alami sekarang nampaknja tak akan berkurang di- kelak kemudian hari. Perhatian terhadap soal2 warganegara dan orang asing semakin memuntjak !

Berhubung dengan itu kami telah rasa perlu untuk menulis rangkaian karangan tentang masalah kewarganegaraan ini, an- taranja dalam madjalah „Pantja W arna”. Adalah menggembira­ kan bahwa kini karangan2 tersebut dapat dihimpunkan dalam buku ini. Beberapa karangan jang telah diterbitkan dalam ma­ djalah tentang hukum sekalian dihimpunkan dalam buku ini. Oleh karena itu buku ini memperlihatkan tjorak agak „dualistisch”. Sebagian besar ditulis setjara populer, sedangkan sebagian lain dimaksudkan untuk pembatja jang lebih mengenal seluk-beluknja ilmu hukum.

Lain daripada itu, seperti djuga dengan buku2 kami „Mas=^\ alah Perumahan” dan „Masalah Agraria”, telah dihimpunkan pula pelbagai peraturan terpenting dibidang kewarganegaraan In- donesia. Dengan demikian kiranja akan bertambah manfaatnja bagj praktek. Peraturan2 jang tersebar disana sini pada umumnja su-v^/ kar untuk didapati oleh chalajak ramai. Kiranja himpunan pesf ' aturan2 sekarang ini dapat membantu pendjabat2 — misalnja pe­ gawai-pegawai imigrasi, pegawai2 Kementerian Kehakiman, para I hakim, para pengatjara, dsb. — dan semua mereka — misalnji ' pedagang2, pengusaha, peladjar dsb. — jang dalam kehidupe hari2 seringkah harus mempergunakan peraturan2 jang bei"'* paut dengan hal2 kewarganegaraan.

Achirulkalam perlu kami mengutjapkan terima kasih,

Redaksi „Pantja W arna”, „Sin Po” dan „Hukum dan jvrasju_ rakat” berhubung dengan penerbitan kembali karangan2 tersebut, kepada Sdr.. Tan Eng Sin dan Gani Djemat untuk koreksi drukproef2.

M u dah2an buku sederhana ini dapat membantu kearah pembi­ naan warga2 jang sedar dan berguna bagi Negara dan m asjarakal Indonesia !

(8)

D a f t a r - i s i

• halaman

Bab I : Faham kewarganegaraan.

§ 1. Pentm gnja status kewarganegaraan ... 1

§ 2. Tiap negara berdaulat u n tu k m enentukan sendiri siapa2 warganja ... 5

§ 3. Azas keturunan atau azas daerah-kelahiran ... 10

Bab n : Tindjauan sedjarah kedudukan h ukum kenegaraan golongan Tionghoa di Indonesia. D ari „asing” sampai „Nederlands Onderdaan” ... 16

Bab m : Kekaulanegaraan Belanda (Nederlands Onderdaanschap) dibandingkan dengan kewarganegaraan Indonesia. § 1. Pentingnja kekaulanegaraan Belanda untu k kewarganega­ raan Indonesia ... 42

§ 2. j,Pergerakan Tionghoa” sebagai sebab Undang2 Kekaula­ negaraan Belanda ... 43

§ 3. Keberatan-keberatan terhadap kekaulanegaraan Belanda ... 45

§ 4. „Isi” daripada kekaulanegaraan Belanda ... 47

§ 5. Diskriminasi antara sesama warganegara batu sontohan terutama Kekaulanegaraan Belanda sebagai tjontoh ... 51

Bab IV : „Isi” kewarganegaraan Indonesia. § 1. Hak untu k m em ilih dan dipilih ... ... 57

§ 2. Lapangan usaha chusus u n tu k warganegara ... 58 .

§ 3. Tindakan“ chusus terhadap orang asing ... 61

§ 4. Pengawasan terhadap orang2 asing ... 66

^ Pendaftaran dan padjak ... .... 71

§ 6. Kewarganegaraan dan hak atas tanah ... 75

§ 7. Hak-hak dan kewadjiban-kewadjiban warganegara atau asmS ... 80

ab v : Siapa warganegara R.L ? Y . § !• Pasal 144 U.U.D.S... 83

• * ^ 3 p ! ' f U* Uan Perih*l Pembagian W arga Negara ..." ...• 85

§ 3. Perdjandjian Soenario-Chou, 1955 ... 89

ndang-undang tentang Kewarganegaraan R.1... 91

Bab V I : Perkawinan dan kewarganegaraan. § 2 JaL UL P: re, T r dalam perkawinan tjam puran ... 96

atau seban? • ' perempuan m engikuti status suam i § 3. Perkawinan11*-1 memegang tetaP kewarganegaraan semula ? 101 Perkawinan tjam puran dan padjak bangsa asing ... 107

Bab VII: Soal assimilasi, Pembagian gc Indonesia. Dan W.N.I. keturunan asing sampai W.N.t.„asli" ... 113 f n d t S T e°l0ne“ ' r , t i “ d“ > Perubahan masjarakat

(9)

h acinan

L A M P IR A N PERATURAN-PERATURAN. i . v

1. Undang2 No. 3 tahun 1946 tentang Warga Negara dan P enduduk-/ : Negara Republik Indonesia ...•'■'121 V

í 2. Undang2 1947 No. 6 tentang perubahan Undang2 No. 3 tahun 194';. ’•

tentang Warga Negara dan penduduk Negara Republik Indonesia 129 3. Undang2 1947 No. 8 tentang memperpandjang waktu untuk

mens-adjukan pernjataan berhubung dengan kewargaan Negara In ^ - i

nesia ... \ 4. Undang2 1947 No. 9 tentang naturalisasi Frans Matheas Hessc ' s/,^ 5. Persetudjuan Perihal Pembagian Warganegara, L.N. 1950 No. 2 • l i á ,

6. Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Pembagian Warga \ . negara ... 139 : 7. Undang2 Pengawasan orang asing, U.U. Dar. 1953 No. 9, L.N. • ’

1953 No. 64 ...;... vI43

8. Pendjelasan Undang2 Darurat No. 9 tahun 1953 TLN 463 tentang ' pengawasan orang asing ... 144,- "• 9. Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Pengawasan terhadap 1 (

orang Asing jang berada di Indonesia, No. 45 tahun 1954, I-.v. 1954 No. 83 ... .5

10. Pendjelasan P.P. No. 45 tahun 1954 tentang pelaksanaan ■. ■ awasan terhadap orang asing jang berada di Indonesia, TJj\; • ■ No. 645 ...< ■} U . Peraturan Penguasa Militer No. Prt/PM/012/1957 tentang k e ' 1 * ^

dinasi pelaksanaan pengawasan orang asing, B.N. 1957 No. 60 :■ 154 ' 12- Pendjelasan Peraturan Penguasa Militer No. Prt/PM/012/1957

13- Peraturan Pemerintah tentang Pendaftaran orang asing, No. 32 1

tahun 1954, LN 1954 No. 52 ...

14- Pendjelasan P.P. No. 32 tahun 1954 tentang pendaftaran orang '• • \ \ asing, TLN No. 569 ... . 161 15- Penetapan Menteri Kehakiman tg. 1 D juni 1954 No. J.M.2/17/2 ' •

tentang Peraturan tjara pendaftaran orang asing, TLN 593 ... 1U3 -i *6. U ndang2 Darurat No. 9 tahun 1955 tentang Kependudukan o r a n j

asing, LN 1955 No. 33 ... I<j5

!7. Pendjelasan U.U. Dar. No. 9 tahun 1955 tentang kependudukan orang asing, TLN 812 ... 167 18. Perdjandjian Indonesia — R.R.T. tentang penjelesaian

dwikewar-ganegaraan, 22 A pril 1955, U.U. 1958 No. 2 ... 169

19. Peraturan Penguasa Militer No. Prt/PM/09/1957 tentang beberapa hal mengenai kewarganegaran, 4 D juni 1957 ... 179

(10)

h a la m a n : 20. Pendjelasan P.P.M. No. Prt/PM/09/1957 te ntang beb e rapa h a l ^

m engenai kew arganegaraan ... 21 P eraturan Penguasa Militer No. 756/P.M.T./1957 tentang p e r­

ub a ha n dan tam bah an a turan bea m eterai 1921, B.N. 1957 No. 71, ^ 4 Agustus 1957 ... ... 22. Pendjelasan P.P.M. tg. 14 Agustus 1957 No. 756/P.M.T./1957 ten­

tang perubahan dan tambahan aturan bea meterai 1921 ... 185 23. Peraturan Penguasa Militer No. 875/PMT/1957 tentang perubahan

dari P.P.M. No. 756/PMT/1957, tgl. 14 Agustus 1957, tentang perubahan dan tambahan aturan bea meterai 1921, tgl. 10 Oktober 1957, B.N. 1957 No. 87 ... 187 24. Pendjelasan P.P.M./Menteri Pertahanan No. 875/PMT/1957 tgl.

10 Oktober 1957 ... 189 25. Instruksi No. HI/7/PMT/1957 Menteri Pertahanan, tgl. 10 Oktober

1957 bagi pedjabat2 resmi, chusus pamong 'pradja, Inspeksi Ke­ uangan, Kas Negara, para Hakim dan Kepala2 Perwakilan Repu­ blik Indonesia diluar negeri untuk memperlakukan Peraturan Penguasa Militer/K.S.A.D. No. Prt/PM/09/1957 tgl. 4 D juni 1957 dan Peraturan Penguasa Militer/Menteri Pertahanan, No. 756/ PMT/1957, tgl. 14 Agustus 1957 sebagaimana dirubah dan di­ tambah kemudian dengan Peraturan Penguasa Militer/Menteri Pertahanan, No. 875/PMT/1957 tgl. 10-10-1957 ... 191

e

26. Undang2 Darurat No. 16 tahun 1957 tentang Padjak Bangsa Asing tahun 1957, L.N. 1957 No. 63 ... 202 27. Memori Pendjelasan Undang2 Darurat No. 16 tahun 1957 tentang

Padjak Bangsa Asing, TLN 1957 No. 1345 ... 210jjujco. jjaiigoa IJLjlN lysv no. 1340 ...

P

28. -Peraturan Penguasa Militer No. 989/PMT/1957, tgl. 6 Nopember r 1957, tentang Pengawasan Pengadjaran Asing, B.N. 1957 No. 99

>

29. Pendjelasan P.P.M. tentang Pengawasan Pengadjaran Asing wn 989/PMT/tahun 1957 tgl. 6 Nopember 19^7 228

“ 1‘" l'“ ik*n' P“ »® » «" Kebud.ja.n tgl.

P e lS ™ » ', laksanaan Pengawasan Pengadjaran Asing ... . N°' m “26/S «**5«. 233 1957 t i t a n r S aja 2 m er/Mtenteri Pertahanan No- HI/13/PM/ ngan-Pedjabat Kem enterianV p/T f^^sa-Penguiasa Militer de- naan Peraturan Penguasa M iiV ^ aerah tentang Pelaksa- tanggal 6 Nopember 1957 tenta 989/™ T /ta h u n 1957,

«n TT 37 t6n tan g ^Pengawasan Pengadjaran Asing 251 32. Undang2 tentang Kewarganegaraan w ,

(11)

W A R G A N E G A R A D A N O R A N G A S IN G .

BAB I : F A H A M K E W A R G A N E G A R A A N . § 1. Pentingnja status kewarganegaraan.

Semendjak diproklamirkan Republik Indonesia soal kewarga­ negaraan merupakan suatu masalah jang tetap aktuil. Perhatian terhadap persoalan ini tak kundjung padam. Terutama daripada fihak mereka jang dipandang sebagai „warganegara baru mas­ alah ini merupakan buah tuturan jang tak habis2nja dalam per- tjakapan se-hari2. Djuga dalam pelbagai karangan dan siaran2 melalui pers soal ini merupakan suatu persoalan jang hangat.

Perhatian memuntjak diwaktu belakangan ini, tatkala dalam rangkaian pernjataan keadaan S.O.B. oleh penguasa militer telah dikeluarkan pelbagai peraturan jang dengan lantas ,,ber- bitjara” kepada orang2 jang bersangkutan. Kami maksudkan peraturan2 perihal padjak istimewa untuk bangsa asing,*) peratur­ an pembuktian kewarganegaraan2) dengan embePan pembajaran -Padjak” 3) puia serta lain2 tindakan2 jang bersangkutan dengan status kewarganegaraan ini. 4) Djuga dengan pembitjaraan Ran- tjangan Undang2 mengenai Dwikewarganegaraan <>) dan R U U kewarganegaraan 7) dalam Parlemen masalah kewarganegaraan

mendjadi bertambah aktuil. . 1 , 2

, D iw aktu sekarang ini status seseorang dinegeri kita lebih dari dahulu dirasa sebagai suatu hal jang penting. Kmi persoalan-

n* tak lebih lama berkumandang dalam suasana teoretis. Kmi adalah sanoat penting dalam kehidupan setiap orang dmegen kita aPakah ia° termasuk warganegara atau bukan. Bukan sadja jj°nsekwensi2 dilapangan finansiil ja n ,.

1 * 9 « P e r a t u r a n j a n g t e r l e t a k d i b i d a n g e k o n o m , , » ) , , a n g d , s e r t a ,

n 9 a n s a n k s i t u n t u t a n p i d a n a - , j e r ] a |u d j . ] e b i h 2k a n b a h w a

D apat dikatakan dengan tidaic waraaneaara Sedjak dilahirkan hinqqa kelobang kubur status warganegara

a t « u b u k a n d i w a k t u s e k a r a n g i n i m e r u p a k a n s u a t u h a l , a „ g p e n

3} J a m p lia n p | £ a tu r a n n J . ^ ^ " p j ^ e l a s i i n ' n o . 22; P e r o b a h a n , N o. 23 , P e n d je

-Lam piran P eraturan No. 21, re

41 lasan 24. r . ^ t n r a n No. 25,. (instruksi berkenaan dengan pem-J L ih a t m is aln ja L am piran P eratu r i t ang pengawasan pengadjaran asing, pen- b u k tia n k e w a r g a n e g a r a a n ) , No. ¿'t• £ laksana (No. 30) serta instruksi kerdja-

djelasan No. 29, dengan Per^ n » n

ri sama dalam pelaksanaannja l ™ ’ No. 2 ta h un 1958, lih a t Lam piran b) K e m u d ia n te lah ditetapkan sebagai u.

•j. Peraturan No. 18. , u.U. No. 62 tahun 1958, lihat Lampiran

> Kemudian telah ditetapkan sefcag

o\ P e ra tu ra n No. 32. , » n) L ih a t bab IV paragrap 4 dan o.

L ih a t bab IV , paragrap 2.

(12)

ting bagi setiap orang disini. Kelahiran sebagai baji asing atau bukan mempunjai akibat atas hukum jang berlaku bagi dirinja^ sang baji itu. Hukum baginja dalam hubungan hidup se-hari2. suatu kompleks peraturan2 atau norma2 hukum jang lazimnja ter­ kenal sebagai „hukum perdata” (burgerlijk recht, hukum sipil), banjak sedikit dipengaruhi oleh status sianak tersebut. Satu dan lain karena dipakainja suatu azas jang dilapangan hukum perdata internasional dikenal sebagai „nationaliteitsprincipe" (azas kewar-

ganegaraan) . Menurut azas ini maka hukum seseorang warganegara

mengenai „status, hak2 dan kewenangannja” tetap melekat padanja

dimanapun ia berada. D juga apabila ia ini merantau keluar

negeri maka hukum jang berlaku baginja berkenaan dengan hal2 ini tetap ialah hukum nasionalnja. Umumnja jang dipandang termasuk dalam „status, hak2 dan kewenangannja” ialah hukum jang merupakan bagian daripada hukum-kekeluargaan (familie- recht). Misalnja peraturan2 mengenai hubungan anak dan orang tua, mengenai kedudukan anak dibawah umur, mengenai per­ walian, mengenai pengawasan safih (curatele), mengenai kemam­ puan dan idzin untuk menikah, mengenai kedudukan dalam per­ kawinan dan sebagainja. Pendek kata, materie jang terkenal dengan istilah „personeel statuut” tergantung daripada kewar- ganegaraan seseorang. Djadi untuk semua hal2 ini adalah pen­ ting untuk mengetahui status apakah jang dipunjai oleh seseorang diwaktu ia dilahirkan. Untuk mengetahui hukum manakah jang berlaku baginja sedjak lahirnja berkenaan dengan hal2 tersebut perlulah diketahui apakah ia ini dalam negeri kelahirannja dipan­ dang sebagai warganegara atau asing. Djika misalrija seorang anak warganegara Indonesia dilahirkan dinegeri Swiss, maka untuk menentukan apakah ia ini sudah dewasa atau belum ber­ lakulah hukum Indonesia, bukan hukum Swiss, Demikian pula de­ ngan orang2 asing jang berada di Indonesia, maka untuk hal2 jang serupa berlaku pula hukum nasional mereka. Apabila seorang asing jang tinggal di Indonesia hendak menikah, maka perlu diperhatikan pula apakah telah dipenuhi sjarat2 jang'ditentukan baginja menuruf- hukum nasionalnja untuk dapat menikah. Pendek kata dari tjontoh2 sederhana jang diambil dari pergaulan hidup se-hari2 ini kiranja sudah tegas betapa pentingnja untuk mengetahui apakah kewarga- negaraan dari jang bersangkutan. Harus diakui bahwa tidak semua negara2 didunia ini memegang pada prinsip-kewarganegaraan ter­ sebut. Ada negara2 jang memakai a zas - d o m icilie (domiciliebeginsel).

Tetapi bagi Indonesia hingga kini jang masih berlaku ialah azas- kewarganegaraan (pasal 16 Algemene Bepalingen van Wetge- ving) 10). Inilah sekedar tentang pentingnja status kewarganega- raan berkenaan dengan hubungan2 perdata internasional.

10) Lihat un tu k ini, M r. W irjono P ro d jo d ik o ro , Azas-azas h u k u m perdata In ter­ nasional, D jakarta, 1952, h. 22 dst.

(13)

Tetapi bukan sadja dibidang hukum perdata djadi antara „private personen” — kewarganegaraan seseorang merupakan suatu hal jang penting. Kewarganegaraan ini memegang peranan pula dilain lapangan, jaitu dibidang jang umum terasa sebagai „hal2 jang lebih besar Kami maksudkan hal2 dilapangan apa jang di­ namakan „hukum publik”. Dalam hubungan antara Negara dan perseorangan-lah lebih2 njata pentingnja status kewarganegaraan seseorang. Apakah seorang termasuk warganegara atau asing be­ sar sekali konsekwensijija dalam kehidupan publik ini. Lebih2 dari­ pada dalam suasana hubungan antara perseorangan (private personen), maka dalam bidang publik ini terasa betapa pentingnja status kewarganegaraan. Hal ini adalah logis. Masuk diakal, djika diingat bahwa sebenarnja kewarganegaraan itu tidak lain arti- nja daripada „keanggautaan" daripada sesuatu negara. 11) Setjara sederhana dapat kita mengadakan perumpamaan dengan mengam­ bil suatu perkumpulan (vereniging) sebagai tjontoh. Sesuatu per­ kumpulan memerlukan organisasi tertentu. Bahkan perkumpulan ini * sendiri dapat pula dipandang — dan pun dinamakan oleh chalajak

ramai sebagai suatu organisasi. Negara pun merupakan suatu organisasi tertentu. 12) Suatu organisasi tentunja memerlukan pula orang2 jang dapat dipandang merupakan inti daripadanja. Setiap perkumpulan harus mempunjai anggauta2. Demikian pula setiap negara perlu mempunjai „anggauta2”. Mereka inilah, para „ang­ gauta daripada sesuatu negara lazim disebut dengan istilah

Ywar8ane9ara”- Suatu perkumpulan tanpa anggauta adalah suatu

emustahilan. Suatu negara tanpa warga2 djuga adalah suatu hal tak mungkin! Tanpa warga2 sesuatu negara belum komplit. Warga2 ini merupakan suatu anasir jang tak dapat dielakkan bila sesuatu organisasi hendak memperkenalkan diri sebagai suatu n^9ara- Dikalangan para ahli hukum hal ini dikenal sebagai adjaran tentang essentiala daripada suatu negara. Untuk dapat 1Pandang sebagai suatu negara haruslah dipenuhi tiga hal. Setiap negara harus mempunjai: suatu wilajah tertentu (staatsgebied), organisasi tertentu, d^n ’snatu „personengebied” tertentu. L’jika salah satu unsur ini tidak odp. ra?ka belum lagi dapat orang berbitjara tentang suatu negara ;.,n^<j^.iierdeka dan berdaulat.

Negara Republik Indonesia ciiftfikenalkan sebagai suatu ne­ gara jang merdeka dan berdaulat. .pun negara kita ini tak terketjuali daripada apa^ jang ditetop^^.sebagai sjarat mutlak untuk dapat diakui sebagai sedemiki'ah.\\‘;Mgara Republik Indo­ nesia pun harus memp;mjai warga2njal tersendiri. Dan sjarat ini memang sudah dipenuhi-, tyfejaupun sesuatu sekitar ini belum

sem-11) Bdgk. J. G. Starke, A n introduction to International law, 1947, h. 180; H. Lauter- pacht, International law and hum an rights, New Y ork, 1950, h. 7; Prof. Mr. K. D. K ollew ij», N ationaliteit en burgerschap in het K o n in krijk der N ederlanden en in de Nederlands-Indonesische Unie, „Indonesie”, tah un I, 1947, h. 98, Dr. Ko

De meervoudige nationaliteit, disertasi, Leiden, 1957, h. 1 dengan definisinja tentang „juridische nationaliteit” .

(14)

purna. Ketidaksempurnaannja ialah karena negara kita diwaktu se­ karang ini masih belum mempunjai suatu peraturan kewarganega- raan sendiri. Tetapi walaupun peraturan tersendirinja masih be­ lum ada, negara Republik Indonesia sudah mempunjai warga2nja. Bukankah tatkala terdjadi „penjerahan” (lebih baik, pemulihan atau pengakuan) kedaulatan dengan sedemikian banjak perkataan telah diadakan „pembagian warganegara” antara Republik Indone­ sia dan Keradjaan Belanda (stijl baru). (Persetudjuan Perihal' Pembagian Warganegara). 13) Dapat dikatakan bahwa pada waktu pengakuan kedaulatan itu telah diadakan pembagian dari­ pada anggauta2 Keradjaan Belanda dalam bentuk jang lama. Djika dipandang persetudjuan K.M.B. ini sebagai suatu tjara m em bagi­ kan warga, maka tegaslah bahwa sesungguhnja apa jang telah ter- djadi ialah suatu hal jang statis. Dengan lain perkataan: jang telah diatur hanja ialah keadaan tertentu pada waktu itu. Jang di-bagi2- kan hanja orang2 jang pada waktu itu sudah ada. Djadi, orang2 jang belum dilahirkan pada waktu pengakuan kedaulatan, setjara strict juridis belum diatur kewarganegaraannja. Misalnja anak2 jang dilahirkan setelah pengakuan kedaulatan, sekalipun dari anak2 orang2 Indonesia jang lazim digolongkan „asli” belum lagi dapat dipandang sebagai warganegara Indonesia. Misalnja untuk mengambil suatu tjontoh jang seringkali digunakan: Megawati anak Presiden kita pun masih belum dapat dipandang sebagai war­ ganegara Indonesia. Inilah salah satu konsekwensi daripada belum adanja peraturan tersendiri dari negara Republik Indonesia me­ ngenai kewarganegaraan. Maka hal ini sadja sudah menundjuk- kan betapa pentingnja bagi negara kita untuk selekas mungkin memiliki suatu peraturan kewarganegaraan sendiri. Semoga Undang2 ini jang diharapkan1 dalam tempo singkat akan dapat diselesaikan oleh Parlemen kita achir2nja menghilangkan keragu- raguan sekitar kewarganegaraan Indonesia ini. 14)

Apakah jang merupakan hak2 dan kewadjiban daripada se­ orang warganegara dilapangan hukum publik dalam garis2 besar sudah diketahui umum dinegeri kita. Orang asing tidak diper­ bolehkan turut tjampur de.ugan politik dalam negeri. Karenanja pula tak diperkenankanlah neorang asing turut serta dalam pe­ milihan umum baik dengan mempergunakan hak pilih atau de­ ngan mentjaloni diri supaja-terpilih. (Actief en passief kiesrecht).

Orang asing umumnja igtk dapat menduduki djabatan2 penting dalam negara. Orang asing dapat dibatasi pula dalam kekebasan- kebebasannja. Dapat diadakan peraturan2 chusus mengenai pengawasan jang tidak perlu berlaku terhadap warganegara. D an djika perlu dapat djuga seorang asing ini diusir (dienjahkan) atau diserahkan kepada negara asing (uitlevering).

Wargane-13) Lam piran Peraturan No. 5.

14) Setelah buku Ini dizet telah diundangkan U.U. No. 62 ta h u n 1958 te n tan g Kewarganegaraan Indonesia. Lihat L am piran P eraturan No. 32.

(15)

gara tak dapat diusir. Djuga peraturan2 tentang keluar masuk negara berlainan untuk orang asing dan warganegara. Selain daripada itu dapat 'diadakan pula pelbagai peraturan chusus jang ditudjukan kepada pembatasan kebebasan orang2 asing dibidang ekonomi, mengenai perusahaan2 tertentu jang disediakan bagi warganegara, pekerdjaan2 jang hanja dapat dilakukan oleh war- ganegara, dan sebagainja. Siapa jang memperhatikan perkem­ bangan kehidupan se-hari2 dalam masjarakat . kita, tentunja tak buta akan adanja gedjala2 bahwa tindakan2 dan peraturan2 ber­ kenaan dengan apa jang disebut sepintas lalu diatas akan ber­ tambah. Segi ini diharapkan dapat dibahas dalam uraian ber­ ikut. 15).

Siapakah termasuk warganegara atau asing dapat ditentu­ kan oleh masing2 negara bersangkutan sendiri. Dalam hal menen­ tukan siapa2 merupakan warganja setiap negara adalah becdau-

lat. 16). Artinja bahwa setiap negaralah dapat menentukan sen­

diri dengan setjara bebas siapakah jang dikehendakinja sebagai warganegara, siapa tidak. Hal ini dipandang suatu hak jang tak dapat dilepaskan daripada kedaulatan negara2 masing2. Siapakah merupakan warganegara Republik Indonesia, itulah merupakan hak Republik Indonesia untuk menentukan. Negara2 lain tak da­ pat turut tjarnpur. Demikian pula siapakah termasuk warganegara Amerika, itulah hak mutlak Amerika sendiri untuk menentukan.

Dalam menentukan siapa2 merupakan warganja, sesuatu ne­ gara hanja terikat kepada beberapa hal. Adalah umum bahwa

a am kebebasan untuk menentukan siapa2 termasuk warga2nja ini, sesuatu negara tak dapat melanggar apa jang terkenal se- a9ai ,,general principles” dilapangan hukum internasional ber- enaan dengan kewarganegaraan. Harus ada persesuaian dengan aPa. iang diterima dalam konvensP internasional, kebiasaan inter-

nasional dan prinsip2 hukum jang umum setjara internasional di­

terima dibidang kewarganegaraan ini.

S 2. Tiap negara berdaulat untuk menentukan sendiri siapa2 warganja.

Setiap Negara jang berdaulat dgypat menentukan sendiri siapa- siapa adalah warganegaranja. Dalam melakukan penetapan ini dapat dikatakan tak ada pembatasan jang berarti. Kita telah saksi- kan dari paragrap jang lalu bahwa batas2 ini dapat ditjakup dalam kata2 : pertentangan dengan apa jang diterima dalam

konvensi2 internasional, kebiasaan internasional dan prinsip3 hukum jang umum setjara internasional diterima dalam bidang ke-

■Warganegaraan”.

15) L ih a t b a b IV .

16) Bdgk. m isaln ja Konvensi untuk Kodifikasi H uk um internasinal di D en Haag ta h u n 3930; jurisprudensi internasional tetap. U ntuk tjontoh2 lih at Dr. A.M. i ! « v ™ general principles of law, as applied by international tribunals, 1946, n. 99 dst. Lihat djuga Dr. Ko Swan Sik, o.c. h. 15 dst. serta batjaan ja n g disebut disitu.

(16)

Apa jang merupakan kebiasaan internasional dan prinsip2 hukum jang umum diterima ini masih merupakan suatu hal jang agak samar2. Tidak dapat diberikan suatu uraian jang pasti tentang apa jang dimaksudkan dengan kata2 ini. Orang hanja dapat menegaskan lebih djauh apa jang dimaksudkan dengan istilah2 tersebut. Misalnja dapat dikatakan, bahwa sesuatu negara dalam menentukan siapa2 merupakan warganja, tak dapat menarik didalamnja orang2 jang sama sekali tidak ada hubungan sedikitpun dengan negara bersangkutan. Sebagai tjontoh: Republik Indonesia bebas untuk menentukan siapakah jang mendjadi w arganja. Tetapi Indonesia tak dapat menetapkan bahwa misalnja orang2 jang hidup di Kutub2 Utara atau Selatan pun termasuk warganja! Tentunja tjontoh ini tak akan terdjadi dalam praktek. Tetapi dengan tjontoh ekstreem ini kiranja mendjadi lebih tegas apa jang dimaksudkan dengan kata2 „tidak ada hubungan sedikitpun”.

Djuga penetapan kewarganegaraan jang misalnja didasarkan atas keagamaan orang2 bersangkutan, atau atas bahasa jang digunakan se-hari2 atau warna-kulit orang2 bersangkutan belaka, dirasakan sebagai bertentangan dengan prinsip2 umum ini. Misalnja negara X tak dapat diakui djikalau menentukan, bahwa semua orang didunia ini jang beragama Boeddha adalah warganja. Negara Y pun tidak dapat menentukan bahwa semua orang didunia jang berbahasa Inggeris adalah warganja. Negara Z pun tidak dapat menentukan bahwa semua orang jang berkulit kuning adalah warganja, dst. Tjontoh2 ini dapat diperbanjak dengan lain2 tjontoh lagi. Tetapi kiranja djelaslah sudah apakah jang dimaksudkan dengan istilah2 tersebut.

Prinsip bahwa setiap negara adalah berdaulat untuk sendiri menentukan siapakah merupakan warganegaranja merupakan suatu sendi jang penting. Sebagai konsekwensi dari diterimanja azas ini dapatlah djuga kita saksikan, bahwa fidak boleh suatu negara

l a i n menentukan siapakah jang merupakan warga dari sesuatu

negara. Misalnja negara A hanja dapat menentukan siapa2 jang merupakan warga2 dari negara2 A. Tetapi negara A ini tidak dapat menentukan dalam undang2 kewarganegaraannja siapa2 merupakan warga dari negara B, dst. Kedaulatan negara B tak mengidzin- kannja.

Apa jang dikatakan disini nampaknja logis dan mudah dime­ ngerti. Tetapi kepentingan daripada azas ini seringkali dilupakan, setidak2nja tak memperoleh perhatian jang sewadjarnja.

Pembitjaraan2 dalam Parlemen kita mengenai ratifikasi daripada Perdjandjian mengenai Dwikewarganegaraan dengan R.R.T. mem­ perkuat apa jang dikatakan disini. Usaha dari Siauw Giok Tjhan c.s. terutama dikerahkan agar supaja hak untuk menentukan sen­ diri siapa2 warga R.I. ini dipergunakan sepenuhnja. 1) Apalagi

1) Lihat a.l. penegasannja dalam Laporan pada Konperensi Pusat Pleno Baperki, tg. 18-19-20 Okt. 1957 : „Mempertjepat proses integrasi” . Berita B aperki, tah un V, no. 38, Pebr. 1958, h. 2.

(17)

setelah oleh fihak R.R.T. dengan tegas dinjatakan pula hak dari­ pada R.I. untuk melakukan penetapan ini. Menurut pertukaran nota tertanggal 3 Djuni 1955 antara kedua negara, setelah ditan­ datangani perdjandjian tersebut, maka kepada Indonesia diberikan kebebasan sepenuhnja untuk menetapkan siapa2 jang merupakan warganegara Indonesia. 2) Kita mengetahui dari berita2 dalam pers beberapa waktu berselang 3) bahwa pada waktu diterima baik ratifikasi perdjandjian tersebut oleh D.P.R. dari fihak pemerintah- pun telah diperhatikan pula apa jang telah dikemukakan setjara politis oleh wakil2 golongan ketjil. Akan diperhatikan lebih djauh siapa2 jang sudah dapat dipandang hanja merupakan warganegara Indonesia sec, hingga tak memerlukan melakukan lagi pernjataan_ mengenai pemilihan c.q. penolakan kewarganegaraan jang lain. Tentang ini akan kita bitjarakan lebih djauh dibawah.

Bipatridie, apatridie.

Sebagai konsekwensi prinsip kebebasan untuk menentukan sendiri2 siapakah merupakan warganja, kita saksikan tidak adanja unirormitet dilapangan peraturan2 mengenai kewarganegaraan ini. Sebaliknja daripada kesamarataan, jang kita lihat dalam kenjataan ialah anekaragam peraturan dan azas2 mengenai kewarganegaraan. Negara2 bebas untuk memilih azas2 manakah jang hendak dipakai- £Ja dalam menentukan siapa2 merupakan warganja. Terutama arena tidak adanja keseragaman dalam peraturan kewarganega- r^,an kita saksikan timbulnja masalah jang terkenal sebagai

'h'W . war9ane9araan" dan „tanpa kewarganegaraan". Istilah2 tpatridie dan apatridie ini sering kita ketemukan dalam berita pers

lta ^iwaktu belakangan ini. 4)

W alaupun pada umumnja soal dwikewarganegaraan timbul karena perbedaan2 dalam peraturan2 kewarganegaraan pelbagai negeri, kadang2 mungkin pula terdjadi seorang mendjadi bipatride (ber-dwikewarganegaraan) dengan adanja peraturan2 jang sama dalam negara2 bersangkutan. Dalam literatur terkenal suatu peris­ tiwa jang atjapkali disebut sebagai tjontoh dari kemungkinan ini.. Kami maksudkan perkara Carlier. B) Walaupun Undang2 kewar­ ganegaraan Perantjis dan Belgia bunjinja sama, Carlier ini men­ djadi berbarang warganegara Belgia dan Perantjis. Carlier dilahirkan di Belgia dari orang tua Perantjis. Karena azas keturun- an jang dianut oleh Perantjis ia adalah warganegara Perantjis. Akan tetapi disamping itu Carlier djuga mempunjai kewarganegaraan Belgia karena ia telah mempergunakan hak optie jang diberikan oleh undang2 Belgia bagi orang2 serupa ia jang dilahirkan d’ Belgia. Hak jang serupa terdapat pula dalam perundang2an

Pe-2) Bab V , paragrap 3, lih a t Lam piran Peraturan No. 18. 3) S ln Po, 18 Desember 1957.

4) L ebih d ja u h lih a t bab V paragrap 3 dan 4.

(18)

rantjis. Carlier mendjadi warganegara Belgia karena optie itu tetapi kewarganegaraan Perantjis tak hilang. Disinilah suatu tjontoh daripada kemungkinan bipatridie walaupun dengan peraturan2 jang sama.

Dalam menentukan kewarganegaraan terkenal , dua azas jang umumnja digunakan : azas kelahiran (ius soli) atau azas keturunan

(ius sanguinis). Dengan azas ius soli ini dimaksudkan, bahwa ke-

warganegaraan seseorang ditentukan oleh tempat kelahirannja. Orang jang dilahirkan diwilajah negara X adalah warga pula dari negara X. Azas ius sanguinis sebaliknja memandang kepada ke­ turunan daripada orang bersangkutan. Orang jang dilahirkan daripada orangtua warganegara X , merupakan pula warga dari negara X.

Sebagai tjontoh daripada peraturan2 kewarganegaraan jang masing2 menganut azas kelahiran dan azas keturunan ini dapat kita sebut peraturan2 tentang kewarganegaraan dinegeri ini sebelum pengakuan kedaulatan. Seperti diketahui, maka diwaktu itu berlaku disini dua peraturan. Pertama jang mengatur „Nederlanderschap” (W e t op het Nederlanderschap en het ingezetenschap, Ned. Staatsblad 1892 no. 268). Undang2 ini terutama didasarkan atas azas keturunan. Jang dikedepankan ialah bahwa seseorang jang dilahirkan dari seorang jang berstatus Belanda, adalah „Neder- lander” (pasal 1). Lain halnja dengan peraturan jang terutama dimaksudkan untuk Hindia Belanda dahulu, jaitu peraturan me­ ngenai „Nederlands-Onderdaanschap”. (W e t houdende regeling van het Nederlands onderdaanschap van niet-Nederlanders) . Staatsblad 1910 no. 296. 6) Peraturan ini terutama didasarkan atas azas kelahiran. Mereka jang dilahirkan dari orang tua jang ,,me­ netap” (gevestigd) dalam wilajah Hindia Belanda (Suriname dan Curacao) adalah Nederlands Onderdaan (pasal 1 ajat 1 sub le).

-Terutama karena dianutnja azas2 jang berbeda ini dalam per­ aturan kewarganegaraan, timbullah masalah bipatridie atau multipa-

tridie. Orang dapat mempunjai lebih dari satu kewarganegaraan,

dua dan kadang2 lebih dari dua (multipatride). Tetapi untuk me­ mudahkan pembitjaraan kita, tak akan dipersoalkan lebih djauh hal2 berkenaan dengan lebih dari dua kewarganegaraan ini.

Djika satu negara menganut azas kelahiran dan negara lain menganut azas keturunan dapatlah timbul dwikewarganegaraan. Tjontoh jang sudah tjukup diketahui dinegeri kita : masalah dwike- warganegaraan orang2 turunan Tionghoa disini. Menurut undang2 kewarganegaraan Tiongkok dari tahun 1929 maka setiap orang jang dilahirkan dari orang tua Tionghoa, dimanapun mereka berada dan berapa lama pun mereka sudah melawat keluar Tiongkok, tetap tinggal warganegara Tiongkok. 7)

6) U ntuk isi terpenting dari un d a n g i in i, lih a t bab I I dan III. 7) Lihat lebih d jau h bab V paragrap 2, 3 dan 4.

(19)

Menurut peraturan2 kewarganegaraan Hindia Belanda (W e t op het Nederlands Onderdaanschap diatas tadi), peraturan Repu­ blik Indonesia .stijl lama (Undang2 1946 No. 3 tentang W arga . Negara dan Penduduk Negara 8) mereka ini disebabkan kelahiran dari orang tua jang „menetap” disini c.q. „jang lahir dan bertempat . •'

kedudukan dan kediaman selama sedikitnja 5 tahun berturut-turut , jang paling achir dalam daerah Negara Indonesia", adalah pula ^ « warganegara Indonesia. Karena itu orang2 keturunan Tionghoa

bersangkutan (Peranakan) mempunjai kewarganegaraan rangkap. Persetudjuan Perihal Pembagian Kewarganegaraan 9) pun meng­ adakan pembagian daripada Nederlandse Onderdanen antara Republik Indonesia dan Keradjaan Belanda stijl baru. Golongan orang2 turunan Tionghoa bersangkutan jang tidak mempergunakan hak repudiasi mereka dalam tempo 2 tahun tetap dipandang • warganegara Republik Indonesia. Djuga karena inilah orang2 bersangkutan (Peranakan) mempunjai kewarganegaraan rangkap.

Perdjandjian Chou En Lai — Soenario dari tanggal 22-4-1955 jang telah diterima baik ratifikasinja oleh Parlemen pada sidang tanggal 17-12-1957 memberi djalan untuk mengatasi dwikewarga- negaraan ini. 10) Orang2 jang bersangkutan telah diwadjibkan

untuk memilih dengan tegas untuk salah satu kewarganegaraan

tersebut. Setelah ini dilakukan, kewarganegaraan jang lain akan hilang. Dengan demikian akan diharapkan berachirnja kewarga- negaraan rangkap warganegara Indonesia turunan Tionghoa.

Seperti diketahui berdasarkan pertukaran nota antara perdana menteri kedua negara bersangkutan tertanggal 3 Djuni 1955 seba­ gian dari orang2 termaksud akan diketjualikan daripada keharusan untuk memilih ini. Siapa2 mereka jang „kedudukan sosial dan politiknja” sudah menundjukkan dengan tegas bahwa mereka setjara diam~diam sudah melepaskan,- kewarganega^an R.R.T. menurut kabar terachir masih akanvdipashkan kelak, w le h Dr Ko Swan Sik, dalam disertasinja tentairap*j5e^meervouclige nationali- teit (1957) jang dipertahankannja baru^ni^di Leiden dengan hasil cum laude, pertukaran nota ini dilihat dari segi juridis dalam rangka penjelesaian masalah kewarganegaraan rangkap, tak dapat dipudji. 11) Siapa2 jang memperhatikan soal dwikewarganegaraan dinegeri kita sebaiknja memperhatikan seperlunja saran2 dan pen­ dapat2 jang merupakan hasil penjelidikan mendalam pada thesis itu.

Dalam Rantjangan Undang2 Kewarganegaraan jang beberapa waktu berselang telah disampaikan pula kepada Parlemen, ternjata hasrat untuk mentjegah timbulnja kewarganegaraan- rangkap dan terdjadinja kemungkinan tanpa-kewarganegaraan (apatridie) telah

8) Lam piran Peraturan no. 8.

9) L a m p ira n P e ra tu ra n no. 5.

10) U n tu k naskah p e rd ja n d jia n ini, lih at Lam piran Peraturan no. 18. 11) h. 306.

(20)

diutamakan. Kewarganegaraan Indonesia tidak diberikan kepada orang2, jang umumnja „tjakap” untuk itu bila mereka, sudah mem- punjai kewarganegaraan lain. Sebaliknja kewarganegaraan Indonesia diberikain kepada orang2 jang umumnja dipandang „kurang tjakap” untuk itu, semata2 untuk menghindarkan terdjadi- nja tanpa kewarganegaraan.

Ternjata pula bahwa dalam Rantjangan ini, berlainan daripada peraturan2 dibidang tersebut jang pernah diadakan berkenaan dengan kewarganegaraan dinegeri ini, pembuat-undang2 tjondong kepada azas-keturunan (ius sanguinis). Tidak lebih lama diguna­ kan azas-kelahiran dalam wilajah Indonesia sebagai pegangan untuk kewarganegaraan Republik Indonesia. Rupanja faham2 nasionalisme jang sedang bergelora di Negara kita dibidang inipun tak dapat tidak harus memperoleh tempat sewadjarnja ! 12)

§ 3. Azas keturunan atau azas daerah-kelahiran.

Peraturan2 tentang kewarganegaraan tak dapat disangkal adalah pembawaan daripada perkembangan zaman Baru diwaktu belakangan orang dimuka bumi memikirkan hal2 sekitar kewarga­ negaraan. Usia peraturan2. kewarganegaraan dapat dikatakan masih muda. Kira2 baru dimulai sedjak abad jang lalu dan permulaan abad sekarang ini. Hal ini mudah dimengerti bila kita selalu ingati bahwa peraturan2 tentang kewarganegaraan berhu­ bungan erat dengan faham2 tentang nasionalisme. Peraturan2 kewarganegaraan adalah pembawaan daripada tjita2 nasional modern. Baru dengan dibentuknja Negara2 Nasional mulai dirasa kebutuhan akan peraturan2 jang menentukan lebih pasti siapa2 dapat dipandang sebagai para „anggauta” negara bersangkutan.

Diika kita melihat sedjarah perkembangan peraturan kewar­ ganegaraan dinegeri kita sudah djelaslah apa jang dikatakan tadi- Peraturan tentang kewarganegaraan (nationaliteits ■—•, onderdaan- schapsregelingen) dari Hindia Belanda sediakala baru terdapat diwaktu belakangan.

Adalah tidak mengherankan bahwa dizaman Kompenie (V.O.C.) orang belum memikirkan tentang peraturan2 kewargane­ garaan. Pada waktu itu perbedaan bukanlah dilakukan antara warganegara dan orang asing. Orang lebih memperhatikan sifat2

lahiriah (uiterlijke kenmerken) atau lain2 kriteria seperti kepertja-

jaan (keagamaan) jang mudah nampaknja. Demikianlah perbedaan2 dilakukan karena ,,huid en haar”, karena mereka adalah „Compag- niesdienaren, vrije luyden of slaven”, karena orang2 adalah „Christenen” atau „Onchristenen, blinde heidenen”, ,,mixtisen” , „poetisen”, „castisen”, „onegten”, „bastaarden van Europesen” dsb. *•)

Baru pada waktu rakjat Belanda mendjadi insjaf akan dirinja sebagai suatu „Natie” karena berkembangnja perasaan kebangsaan,

12) Tentang RUU Kewarganegaraan in i, lih at lebih d ja u h bab ' V , pa ra g ra p 4.

(21)

baru pada saat itulah timbul kebutuhan untuk menentukan siap.a2- kah jang merupakan \varga2: daripada „Keradjaan Belanda” .

las soli, dan ius sanguinis.

Bahwa peraturan kewarganegaraan merupakan hasil daripada faham2 nasionalisme penting pula untuk dapat mengerti gedjala2 _ sekitar perkembangan kedua azas jang lazim dipakai dalam peraturan2 tersebut : azas keturunan (ius sanguinis) atau azas daerah-kelahiran (ius soli). Menurut jang pertama maka seorang anak jang dilahirkan dari ajah (atau ibu, djika tak ada hubungan hukum dengan ajah) warganegara merupakan warganegara pula. Menurut jang kedua maka seorang jang dilahirkan dalam negara bersangkutan merupakan warga dari negara itu. Kita saksikan ,, dari kenjataan disekitar kita, bahwa azas kelahiran daerah ini telah terdesak oleh azas keturunan. Banjak negara jang tadinja menganut azas ius soli pada, berbalik dan menerima azas ius sanguinis. Per­ kembangan sematjam ini adalah sedjalan dengan tumbuhnja faham2 tentang nasionalisme. Keadaan dibenua Eropah dengan djelas memperlihatkan hal ini. Hampir semua negara, terketjuali Inggris telah menggantikan ius soli dengan ius sanguinis. Perantjis dalam tahun 1804, Austria dalam tahun 1811, Belgia dalam tahun 1831, Rumania dalam tahun 1865, Italia dalam tahun 1865, Turki dalam tahun 1869, Djerman dalam tahun 1870, Spanjol djuga dalam P .Un 1870, Hungaria ditahun 1879, Norwegia ditahun 1888, e anda ditahun 1892, Swiss ditahun 1894, Monaco ditahun 1900. Bulgaria ditahun 1903 dst.

Dalam suasana sematjam ini tak heranlah kita untuk men- engar utjapan2 se-olah2 azas ius soli adalah kolot dan kuno, zas ini dipandang tak surup lagi dengan panggilan zaman, bah­ an ditjap sebagai suatu azas feodaal ! Ius sangu^nislah jang modern, jang sesuai dengan kebutuhan2 suatu negara modern.

Pada waktu dinegeri Belanda diperdebatkan rantjangan ew^ r9anegaraan dari tahun 1892 maka menteri Djustisi Smidt telah mengutip perkataan2 daripada pelbagai sardjana hukum jang rata2 mengemukakan bahwa ius soli sudah harus ditinggal­ kan. Menteri Djustisi Belanda ini telah mensitir kata2 terkenal dari sardjana hukum Inggeris kenamaan Westlake. 3) Dengan sengadja W estlake telah dipilihnja untuk lebih2 menguatkan pendapatnja bahwa sebenarnja ius soli ini adalah suatu prinsip

kolot jang harus ditinggalkan! Negara Inggeris seperti diketahui masih memegang teguh pada azas ius soli ini. Tetapi Westlake tak menjetudjuinja. Dengan terus terang dinamakannja azas ini suatu prinsip feodal. Jang modern ialnil ius sanguinis, demikian antara lain utjapan dari Bluntschli .mahaguru di Heidelberg. 4)

3) D alam Serie W etgeving van der Hoeven, h. 3, disitir pula oleh M r P.H. From berg, Het Nederlandsch Onderdaanschap, Verspreide Geschriften. Leiden, 1926, h. 694.

(22)

Apakah benar ius soli adalah kolot dan ius sanguinis adalah modern? Tentang pertanjaan ini para sardjana hukum tak se~ faham. Djika dikatakan ius soli ini sebagai azas jang kolot, mengapa kenjataan menundjukkan hal2 jang berlainan ? Negara Amerika Serikat terkenal sebagai salah satu negara termodern didunia. Tetapi Amerika Serikat ini masih mengutamakan ius soli!

Jang mana lebih baik: ius soli atau ius sanguinis? Pertanjaan ini tak dapat didjawab begitu sadja. Keadaan negara2 bersang­ kutan masih harus digunakan sebagai latar belakang. Djawaban atas pertanjaan tersebut tak dapat dlepaskan daripada keadaan ini. Djika kita memperhatikan hal2 ini, ternjatalah bahwa negara2 jang memilih ius sanguinis pada umumnja termasuk negara2

emigrasi. Banjak warga2nja melawat keluar negeri. Untuk dapat

mempertahankan se~dapat2nja hubungan pertalian antara negara2 ini dengan anggauta2nja jang berada dalam perantauan dipan­ dang perlu untuk menganut azas ius sanguinis. Tak peduli ke- manapun ia bepergi, ia ini masih warga kam i! Tak peduli di-manapun ia melahirkan anak, anak itu pun harus dipandang sebagai warga kami pula, demikian kira2 pikiran jang didjadikan pegangan oleh negara2 bersangkutan. Sikap sedemikian ini ter­ pengaruh oleh hasrat untuk sebanjak mungkin mentjegah orang2 „terlepas” daripada negara asalnja. Kepentingan bagi negara misalnja terletak dalam kewadjiban untuk membela negeri, untuk dienstplicht dan pembajaran padjak2.

Sebaliknja kepentingan negara2 jang termasuk negeri2

immigrasi adalah berlainan. Negara2 ini djustru berkepentingan

bahwa warga2 asing jang masuk dalam negeri mereka setjepat mungkin diassimilir mendjadi rakjat mereka. Terutama dalam negeri2 jang masih kekurangan warga. Hubungan pertalian dengan negara asal setjepat mungkin harus dilepaskan. Para imigran ini setjepat mungkin harus didjadikan warganegara daripada negara baru jang telah dipilih oleh mereka sebagai tem­ pat mentjari kehidupan. Terlampau banjak orang asing menimbul­ kan persoalan2 orang asing jang sukar untuk diatasi. Terlalu banjak orang asing membawa pengaruh2 jang besar dan turut tjampur tanganja negara2 asal mereka melalui saluran2 diplomatik. ..Perlindungan2 oleh para ambassador dan konsol2 negara2 asing ini akan membawa ketegangan2 jang umumnja tak disuka oleh negara imigrasi bersangkutan. Untuk negeri2 sematjam ini sudah teranglah ius soli adalah jang paling tepat.5) Orang2 jang tadinja asing menetap dalam wilajah negara bersangkutan dan melahirkan anak2 disitu. Anak2 ini haruslah dipandang sebagai warga daripada negara bersangkutan. Dengan dem'kian selekas

5) Bdgk Mr J.P.A. Francois, Handboek van het volkenrecht, tje t. kedua. 1949. h. 457.

(23)

mungkin ditjiptakan suatu hubungan antara anak bersangkutan dan • negara dimana ia dilahirkan dan hidup. Keadaan sedemikian jang dihadapi oleh negara2 dibenua Amerika. Keadaan sematjam ini pulalah jang terdapat dinegeri kita tatkala Hindia Belanda hendak membuat peraturan kewarganegaraan-nja.

Seperti diketahui ,,Wet op het Nederlands Onderdaanschap van niet-Nederlanders" dari tahun 1910 ini mengutamakan ius soli. Djika kita melihat keadaan di Hindia Belanda waktu itu. maka memang azas inilah satu2nja jang setjara praktis dapat di­ pergunakan. Pada waktu itu bagi terbanjak orang disini belum ada sistim pendaftaran kelahiran pada burgerlijke stand. Bagaimana harus dibuktikan hal keturunan ini ? Siapa jang dapat membuktikan bahwa ia benar2 dilahirkan dari seorang ajah jang berstatus kaula- negara pula ? Keberatan2 jang sama masih berlaku sekarang ini dimana menurut Undang-undang Kewarganegaraan jang terbaru azas keturunanlah jang dikedepankan. Hanja dengan adanja suatu sistim Tjatatan Sipil jang berlaku untuk semua golongan- rakjat jang berada dinegeri ini dapatlah diharapkan penglaksana- an undang2 tersebut setjara effektip! Seperti diketahui hanja untuk beberapa golongan rakjat (Eropah, Timur Asing Tionghoa, In­ donesia Nasrani, dan Indonesia golongan ningrat) berlaku

(dapat berlaku) kewadjiban untuk mendaftarkan kelahiran ini pada kantor2 Tjatatan Sipil. Bagi golongan rakjat terbanjak (jang kini lazimnja disebut : „asli” ) tak ada kewadjiban men­ daftarkan pada Kantor2 Tjatatan Sipil ini. Sebanjak2nja dalam praktek kelahiran dalam golongan rakjat ini dilaporkan kepada kepala2 kampong atau lurah2. Siapa jang mengetahui praktek kenjataan sehari-hari dinegeri kita akan merasakan pula bahwa disinilah terdapat suatu bagian lemah daripada pemilihan azas ius sanguinis ini. Daftar2 jang sana sini dibuat oleh para Lurah tak lengkap. Dan dalam prakteknja ternjata terlampau mudah dirobah2 atau ditambah2kan. Apalagi djika diingati bahwa suatu nama- keturunan (geslachtsnaam) pada umumnja tak terdapat diantara golonganrakjat „asli” ini. Djadi dalam prakteknja akan kita saksi­ kan, bahwa untuk menentukan keturunan orang2 bersangkutan, jang terutama akan didjadikan pegangan ialah sifat- lahiriah kembali! Djika seorang warna kulit, roman muka, rambut, mata, hidungnja a la Indonesia-asli dan tekukan suara namanja berbunji asli pula, orang inilah dapat dipandang berketurunan pula dari seorang warga negara Indonesia. Dalam prakteknja kewarganega- raannja tak akan disangsikan. Bahkan pernah kedjadian orang dari golonganrakjat lain pun (misalnja dari golonganrakjat Timur Asing Tionghoa) jang sifat2 lahiriahnja mirip orang Indonesia „asli" — misalnja dari suku Menado — serta bersedia pula untuk membuang nama Tionghoanja dan memakai nama Indonesia „asli” dengan mudah dapat memperoleh keterangan Lurah serta dengan itu memperoleh paspor Indonesia sebagai warganegara dengan nama asli Indonesia ! Padahal orang tersebut semula

(24)

ter-^ a j S p a S ' d a ter-^ p a S S t g

®?»toh9im t w kiranja dilukiskan betapa besamja j u t a a n pemakaian „azas keturunan” bagi sesuatu negara jang mas belum mempunjai sistim pembuktian keturunan jang sempurna bagi • aolonganrakjatnja jang terbesar. Suatu perbaikan kearah mi harus dimulai. Sistim tjatatan sipil sebaiknja diadakan pula bagi semua

golonganrakjat jang berada disini. 1 1 1

D jika azas keturunan hendak dilaksanakan dengan baik maka hal ini tak dapat diabaikan. Pendaftaran daripada para pemilih dalam rangka pemilihan umum jang baru lalu dapat dipandang sebagai suatu langkah baik kearah ini. Kewadjiban pendaftaran bagi perkawinan-perkawinan jang dilangsungkan dihadapan pen- djabat nikah setjara Islam serta pentjatatan talak dan rudjuk, menurut peraturan terachir dari penguasa dapat dilihat pula se­ bagai suatu langkah baik kearah pembuktian setjara tertib dari­ pada status perseorangan golonganrakjat terbesar dinegeri kita.

Ada faktor lain jang membikin pertanjaan azas manakah jang terbaik, ius soli atau ius sanguinis, mendjadi kurang penting. D a­ lam praktek tak demikian penting sistim mana jang dipilih. Bagi kebanjakan orang azas jang dipilih tak berarti banjak oleh karena mereka ini biasanja adalah kelahiran diatas territoir negara dari orang tua jang mendjadi warganegara. Tambahan lagi, umumnja negara2 tidak memilih setjara konsekwen hanja salah satu dari­

pada azas ini. Dalam prakteknja sebenarnja umum dipakai suatu

kombinasi daripada kedua azas. Kedua azas digunakan, hanja jang

satu lebih dikedepankan daripada jang lain. Negara2 jang pertama2 mementingkan azas ius sanguinis toh tak mengabaikan sama sekali azas daerah kelahiran. Demikian misalnja dalam W e t op het Ne- derlanderschap 1892, demikian pula dalam Undang2 Kewarga- ^ g?raf n Jndonesia' Warganegara Belanda adalah orang jang

t * t ? Se%an9 a>ah (ibu^ ^rganegara Belanda (pasal 1)

djadikannja warganegara Belanda (pa£ l T a S t b )

soli aDd l t r s^ “ aN» “ Sp^ dibuat. ,„s dapat dipertanggungjawabkan V j ^ dl9unakan dan

R e p u b l i k Indonesia, berlainan denaan d S aan ah berubah!

hendak menentukan siapa2 jang meruntkT U P^tama kali sia (dengan Undang2 1946 No 3^ 8^ l war9ane9ara Indone-

— — °- ) kmi sudah mempunjai

6) U ntuk persoalan tentane

7) S e landjutnja Uhat bab V Darr.»SSlng” (Peleburan) in i . .

(25)

I1-Lorj; ,,qr atas Persetudjuan Perihal warga2 negara (menurut atau be menunggu terwudjudnja

Pembagian W arg a Negara) U U D S) »).

Undang2 Kewarganegaraan jang pas i ^ ^ ternjata ius Pada waktu pembuatan, nsekarang perkembangan menun- soliJah jang diutamakan. Tetap am nasionalisme sedang ber- djukkan adanja tjita berlainan. J anq sudah tjukup banjak. gelora ! Warganegara Jnd°n“ J h mendjadinja pula dengan setjara Bahkan ada jang dipandang mengeluarkan mereka mi tak tak sungguh2! Maka hasrat rliandiurkan. Dalam suasana disembunjikan : sistim aktip Pe*jn .. bahwa berlainan daripada sematjam ini tak dibuat heran se i P' > ^ ^ ^ini azas wet op het Nederlanderschap dan Undang

(26)

Bab I I : T IN D JA U A N S E D JA R A H K E D U D U K A N H U K U M K E N E G A R A A N G O L O N G A N T IO N G H O A D I IN D O N E S IA .

Dari „asing” sampai „Nederlands Onderdaan”. L Sebelum 1892.

Dapat dikatakan bahwa peraturan tentang kewarganegaraan (Nationaliteits-, onderdaanschapsregelingen) bagi Hindia-Belanda sediakala baru terdapat diwaktu belakangan, meskipun „Onder- danen-begrip” sudah lama ada x). Memang per&turan2 tentang kewarganegaraan adalah pembawaan daripada tjita2 nasional modern. Baru dengan dibentuknja Negara2 Nasional dipertengah- an dan penghabisan abad jang lalu mulai terasa kebutuhan akan peraturan2 jang menentukan lebih pasti siapa2 dapat dianggap se­ bagai „anggauta” 2), sebagai „nationalen” daripada negara ber­ sangkutan, dirasakan sangat kebutuhan akan penentuan hubungan pertalian antara negara dan rakjatnja.

Baru sedjak itulah timbul faham2 jang mengemukakan bahwa disamping suatu wilajah (territoir, grond- atau lebih tepat: ruimte- gebied) dan organisasi politik, adalah suatu sjarat mutlak bagi tiap2 Negara merdeka, untuk djuga mempunjai suatu „personengebied atau ,personensubstraat”. 3)

Maka adalah tidak mengherankan, bahwa dizaman Kompenie (V.O.C.) masih belum terdapat peraturan2 tentang kewarganega­ raan. Pada waktu itu perbedaan bukanlah dilakukan antara warga- negara dan „orang asing”. Orang lebih banjak memperhatikan

sifat2 lahir (uiterlijke kenmerken) atau lain2 kriteria seperti keper-

tjajaan (keagamaan) jang mudah nampaknja. Begitulah perbedaan2 dilakukan karena „huid eA haar”, karena mereka adalah ,,Com- pagniesdienaren”, vrije luyden of slaven 4), karena orang2 adalah „Christenen” atau „Onchristenen, blinde heidenen” c), ,,mixtisen”, „poestisen”, „castisen”, .onegten”, „bastaarden van Europesen” «) dan sebagainja.

1) J. H. Carpentier A lting, Grondslagen der rechtsbedeling, 2e d ru k , 1926 h. l l j . 2) Starke, J G. A n Introduction to In te rn a tio n a l law , 1947, h. 180 b itja r a te n ta n g

„mem bership” ; dem ikian pula H. Lauterpacht, In te rn a tio n a l law a n d h u m a n rights, N.Y. 1950, h. 7; b eg itupun definisi ,ju r id is c h e n a tio n a lite it” d ari K o Swan Sik dalam disertasinja b a ru2 In i, „De M eervoudige n a tio n a lite it” , Leiden, 1957, h. 1 serta R. D. Kollew ijn, N atio naliteit en burgersehap in het K o n in k r ijk der Nederlanden en in de Nederlands-Indonesische Unie. „In do n é sie ” , th n . ke-I

1947, h. 98.

3) Kollewijn, Nationaliteit en burgersehap, h. 104.

4) W.E. van Mastenbroek, De historische o ntw ik keling van de staatsrechtelijke indeeling der bevolking van Ned.-Indië, diss. A ’dam , 1934, h. 36.

5) Bdgk. G. J. Resink, Over ons gem eenschappelijk verleden in h e t recht van vrede, dalam Gedenkboek 25 ja a r rechtsw etenschappelijk H oger O nderw ijs in Indonesië, h. 252.

Kriterium agama in i m alahan lebih dipakai daripada k rite riu m karen a ke­ turunan (ras). Lihat van Mastenbroek, o.c. h. 10 dst., h. 13 .

6) J. Th. Petrus Blum berger, De Indo-Europeesche bew eging in Ned.-Indië 1939, h. 9.

(27)

Meskipun demikian, ada djuga dikenal perkataan ,,burger” 7) tetapi hanja dari kota2. Begitulah terdapat burgers dari Batavia atau dari Ambon, akan tetapi dalam lingkungan „nasional” jang meliputi seluruh wilajah, istilah ini masih belum dipakai.

Hal ini mudah dimengerti. Kompenie bukan datang disini untuk mendirikan suatu Negara atau mempunjai maksud politik lainnja. Mereka hanja datang mengumbara dikepulauan ini untuk berdagang, untuk mentjari keuntungan materiil se-besar2nja. V .O .C . seperti umum mengetahui adalah suatu „handelslichaam”. maka adalah lumrahnja bahwa mereka sama sekali tidak memu­ singkan kepala dengan soal2 politis dan kenegaraan s). Politik mereka adalah politik ..merkantiel”.

Baru pada waktu rakjat Belanda mendjadi insjaf akan dirinja sebagai suatu „Natie”, baru sesudah perasaan kebangsaan dari bangsa Belanda ibarat kembang mulai mekar, baru pada saat itu timbullah kebutuhan jang semakin lama dirasakan semakin keras, suatu kebutuhan akan peraturan kewargaan-negara bagi „Ke- radjaan Belanda”. Baru sesudah saat itu orang mulai mentjari akan suatu formulering juridis daripada keanggautaan n) Negara

t jang b a ru 10).

A. Peranakan Tionghoa sebagai „Nederlander”.

aa. „Staatsrechtelijk en burgerrechtelijk Nederlanderschap’ Sesudah melalui perkembangan2 jang sesuai dengan djalannja arus zaman •— dari „vestiging” dan „inboorlingschap pada zaman Bataafsche Republiek, penggantian dari perkataan boorlingen der Vereenigde Nederlanden” dengan „Nederlanders^ dalam G.'W . 1814 dan 1815, maka istilah „Nederlanderschap sampai pada Burgerlijk Wetboek Belanda dari tahun 1838 n ).

Pasal2 jang mengatur „Nederlanderschap” ini ialah pasal 5-12 B .W . dengan titel „Van Nederlanders en V r e e m d e lin g e n . Pasal jang pertama ialah jang terpenting bagi kita. Sub ke 1 bunji- nja sebagai berikut: „Nederlanders zijn: allen die binnen het Koninkrijk of dezelfs kolonien zijn geboren uit ouders. aldaar

7) Verslaff van de Commissie tot bestudeering van staatsrechtelijke hervorm ingen, s ela n d jutn ja d is in g k a tk a n : Commissie-Visman, Verslag II, h. 99; van Masten- broek o.c. h. 12 dst;

8) U ntuk m e m in dja m perkataan dari de Kat Angelino, sikap Kom penie dapat disebut „opportunistisch” (Staatkundig beleid en bestuurszorg in Ned. Indie, II» h. 18); Supomo-Djokosutono, Sedjarah politik hu kum adat I, h. 27. Sedapat m u n g k in tak tja m p u r dalam usaha2 jang tak perlu guna kepentingan perda­ gangan mereka, itulah sifat terutam a dari politik Kompenie; Bdgk. Mr, Dr. H. W estra, Dualistisch Staatsrecht, pidato pelantikan 1931, U trecht h. 4.

9) Bdgk. H.W .B. Thomas, De wet op het Nederlanderschap en het ingezeten- schap, diss. Leiden 1893, h. 6 dst.

10) Com.-Visman, verslag II, h. 99.

(28)

gevestigd” 12). Djadi, selain daripada orang2 turunan Belanda, djuga orang2 Indonesia, Tionghoa dan Arab jang dilahirkan di Hindia Belanda, adalah orang2 Belanda 13) tetapi hanja dalam artian civielrechtelijk. 14).

„Burgervechtelijk Nederlanderschap” ini tak membawa hak2

dan kewadjiban2 politik-staatkundig seperti jang biasanja melekat pada status warganegara. „Burgerschapsrechten en plichten” ti­ daklah termasuk mendjadi hak serta kewadjiban daripada seorang „civiele Nederlander”. Tetapi tidaklah dapat dikatakan bahwa status ini hanja membawa hak2 sipil (privaatrechten) sadja. Selain daripada itu, status tersebut pula membawa akibat2 dalam perlin­ dungan diplomatik serta hal2 pengusiran (uitzetting) dan penje- rahan (uitlevering) 15). Begitulah orang2 Tionghoa jang lahir di Indonesia atas dasar pasal2 tersebut dalam B.'W. Belanda dapat mengalami rupa2 faedah karena perlindungan2 diplomatik dari Konsol2 Belanda. Istimewa di negeri3 Timur, jang pada waktu itu .masih belum bangun atau baru sadja mendusin dari ,,pules” mereka, perlindungan Konsol2 bagi orang Tionghoa tersebut ber­ arti djuga 16). Begitulah seorang Tionghoa kelahiran Indonesia jang sedang berpergian kenegeri leluhurnja sendiri dan telah me­ lakukan kedjahatan atau mendapat lain2 kesulitan disana, pada waktu itu diadili oleh pengadilan2 Konsolair Belanda serta men­ dapat perlindungan dan pertolongan lainnja dari Konsol2 Belanda. Mereka djuga berdasarkan pasal2 B.W\ Belanda itu tidak dapat diusir atau diserahkan 17) pada negeri2 asing. Dalam hal2 ini

12) Seterusnja pasal 5 tsb. b u n jin ja sbb. :

„2e. Hinderen buiten s’lands u it Nederlanders geboren;

3e. Allen die binnen het K on in krijk zijn geboren, hoezeer u it ouders, aldaar niet gevestigd, m its zij zelve hunne woonplaats aldaar vestigen;

4e. Hinderen, buiten s’lands geboren u it vreemde ouders, w elke b in n e n het koninkrijk of deszelfs kolonie gevestigd, doch voor s’lands dienst afwezig

of anderszins op reis zyn;

5e. A llen welke zijn genaturaliseerd of het regt van in boorlingschap hebben verkregen”.

13) Bdgk. Van Sande Bakhuyzen, Nederlandsch Onderdaanschap, diss. Leiden 1900, h. 72: „Algemeen wordt aangenomen dat to t 1 J u li 1893 de Inlandsche bevol- king daarop haar onderdaaanschap steunen kon” .

14) Menurut J.H. Abendanon, Publiek en privaatrechtelijke verhoudingen tusschen Nederland en Nederlandsche kolonien, 1891 h. 48 dan 51, sebelum ta h u n 1850 Nederlanderschap m enurut B.W. m e m p un jai arti bagi h u k u m sipil m a u p u n bagi hukum-kenegaraan. Baru dengan S. 1850/44 tim b u lla h suatu „d u b b e l Nederlanderschap” .

15) Dasar daripada uitlevering in i adalah pasal 108 R R , jan g sem ula h a n ja ber- bunji: „A llen die zieh op het grondgebied van Ned. In die bevinden hebben aar.spraak op bescherming van persoon en goederen” . D ja d i, b u n jin ja h a m p ir sama dengan pasal 3 G.W. 1848 jang m engatur soal in i u n tu k ne ge ri Belanda. Hanja alinea 2 dari pasal G.W. tersebut ja n g m e n g atur le bih la n d ju t te n ta n g „uitlevering” tidak terdapat dalam 108 RR. B aru karena re n tja n a U ndang2 dari Menteri van Goltstein ps. 108 RR. ditam bahkan dengan p e rkataan2 : 9>D e regelen bij uitlevering van vreemdelingen in acht te nem en w orden vastgesteld bij algemeene Verorderung”. P eraturan jang m elaksanakan U nd a n g2 in i, ia la h K.B. 8 Mei 1883, S. 1883/188. Lebih la n d ju t un tu k soal „u itle v e rin g ” in i lih a t F.G. Panhuys, Uitlevering van vreemde misdadigers m et betre k king to t onze overzeesche bezittingen, diss. Leiden 1891, h. 44, 61 dst.

16) Mannoury, J., Het Nederlandsche Nationaliteitsrecht, 1947, h. 54 dst.

17) Lihat djuga van Sandick, L.H.W ., Chineezen b uiten China, H un n e beteekenis voor de ontwikkeling van Zuid-Oost-Azie, speciaal van Nederlandsch-Indie, h. 449.

(29)

berdasarkan pasal2 B .W . Belanda tersebut mereka dapat diper­ lihatkan terhadap dunia luar sebagai kaula-negara Belanda, „Ne­ derlands Onderdaan” 18).

Terhadap pemerintah2 asing, Konsol2 Belanda dapat menun- djukkan pada pasal2 dalam B .W . tersebut untuk membuktikan bahwa benar2 orang2 jang dilahirkan di Keradjaan Belanda dapat dianggap sebagai „Nederlanders” dan oleh karena itu berhak mendapat perlindungan serta dalam beberapa negara Timur dja- tuh dibawah kekuasaan peradilan Konsolair mereka. Tentu sadja dari fihak pemerintah2 asing diusahakan agar supaja kedudukan jang dieloni ini, dibataskan sedapat mungkin. Hal ini dapat dilihat umpamanja dari kesulitan2 jang terbit dengan pemerintah Turki, sesudahnja Undang2 ,,wet op het Nederlanderschap en Ingezeten- schap” 1892 pasal-pasal B .W . tersebut diatas dihapuskan.

Sementara itu, disamping pasal2 5-12 N.B. W . dengan Undang2 dari 28 Djuli 1850, S. 44 (diubah dengan S. 1851/46) untuk melaksanakan pasal 7 G .W . 1848 19) diatur apa jang di­ namakan „Staatsrechtelijk Nederlanderschap”. Status ini membawa hak2 politik, „het genot van burgerschapsregten” seperti jang biasanja melekat pada status warganegara. Peraturan ini dibatas­ kan pada negeri Belanda ditepi Noordzee, djadi tidak berlaku bagai Hindia Belanda, maka tidak penting bagi kita dan karena- nja tidak akan diperbintjangkan lebih djauh disini.

Tjukup adalah bilamana diterangkan bahwa sistim dua

matjam „Nederlanderschap” ini telah membawa banjak ke­

sulitan2 jang sukar diatasi. Memang sistim ini jang dalam teori sudah tidak bisa dipertanggung-djawabkan, dalam praktek se­ perti kenjataan telah membuktikan tak dapat dipertahankan. Maka pendapat umum para penulis rata2 semua mentjela dua- matjam „Nederlanderschap” itu. Ingatlah umpamanja kepada apa dikatakan oleh Opzoomer jang dikutip oleh M.v.T. W et 1892 ten­ tang sistim sulit tersebut ja’ni suatu „ongereimdheid” 20) .

18) D alam perdjandjian2 internasional istilah Nederlands Onderdaan sudah lam a dipakai d jau h sebelum peraturan 1910. Bandingkan Fromberg, V e r s p r e i d e (be­ schriften, h. 692 dst. Mannoury o.c. 54 dst. van der Pot, o.c. h. 116.

19) pasal 1 b e rb un ji :

„N ederlanders, ten aanzien van het genot van b u rg e rs c h a p s re c h te n , zijn : le . die geboren zijn uit ouders bin n e n het R ijk In E u ro p a ge ve stig d ;

2e. die, binnen het R ijk in Europa u it aldaar niet gevestigde ouders ge­ boren, binnen het jaar nadat zij den vollen ouderdom van 23 jare n heD- ben bereikt, h u n voornamen om daar te blijven wonen aan het bestuur hu n ne n woonplaats hebben verklaard;

Zij echter welke dien ouderdom bij de afkondiging dezer wet reects hebben bereikt, kunnen die verklaring nog gedurende het ja a r na die afkondiging doen.

3e. die genaturaliseerd zijn;

4e. die van de in de voorafgaande nummers genoemde afstamm en ten wäre de geboorte op een ttjdstip mögt hebben plaats gehad, waarop de ouders in een der term en van art. 10 waren vervallen”.

20) A antekeningen op het burgerlijk Wetboek, Amsterdam 1874, 2e herziene druk, dl. I h. 31, 34; bandingkan Buijs, De Grondwet I, A rnhem 1883, h. 30; De wet op het Nederlanderschap en Ingezetenschap, Serie Wetgeving van der Hoeven, h. 2.

Referensi

Dokumen terkait

Aturan tenang pengadaan ini harus difahami oleh semua pihak yang tekait dengan proses pengadaan tersebut, tidak terkecuali pihak penyedia jasa. Penyedia jasa semestinya

Saturrarango espetxe nagusiaren inguruan sakontze aldera, datozen ataletan azalduko da, hala nola, noiztik noiz arte egon zen martxan, non kokatzen zen, espetxea osatu zuten

Kepemimpinan Kepala Sekolah, budaya sekolah dan ikim sekolah berpengaruh secara simultan terhadap kompetens kepribadian sebesar 36,8% sedangkan sisanya sebesar 63,2%

PENERAPAN PEMBELAJARAN IPA BERBASIS SOCIOSCIENTIFIC ISSUES UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN SISWA SMP BERDASARKAN GENDER PADA MATERI PENCEMARAN

Tujuan penelitian ini adalah : mempelajari pengaruh penambahan volume enzim alfa-amilase dan gluko-amilase pada proses hidrolisa terhadap kadar glukosa yang dihasilkan,

a) Mampu memberikan asuhan kehamilan pada Ny. H dari pengkajian, menginterprestasi data, mengidentifikasi diagnosa, merencanakan tindakan, mengevaluasi dan

Hasil penelitian menunjukan bahwa Kecamatan Nagreg memiliki potensi bahan baku untuk keberlanjutan bata merah yang masih baik dilihat dari jenis

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi pemberian ransum yang berbeda terhadap kecernaan bahan kering, serat kasar, protein kasar dan lemak kasar pada