• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengawasan orang asing

Dalam dokumen WARGANEGARA 0JANG A SING. (f / (Halaman 76-114)

Dengan undang2 darurat 1953 No. 9 (L.N. 1953 No. 64, Pen- djelasan T LN No. 463) 2) telah ditetapkan suatu peraturan jang chusus ditudjukan terhadap orang2 asing dinegeri ini. U n d a n g 2 darurat tentang „pengawasan orang asing” ini dapat dipandang sebagai suatu peraturan pokok diatas mana telah disandarkan pel­ bagai peraturan penglaksanaan jang semua bermaksud untuk mengawasi gerak-gerik mereka. Guna dapat melakukan pengawasan ini dipandang perlu untuk mentjiptakan suatu organisasi chusus jang dinamakan „Organisasi Pengawasan Orang A sing” . O r g a ­ nisasi ini dapat diadakan oleh Menteri Kehakiman. Tetapi tugas . dan kekuasaan daripada organisasi ini diatur pula dengan Peraturan Pemerintah (pasal 1, 2).

Peraturan pemerintah jang dimaksudkan dalam undang2 darurat ini ialah „P.P. tentang Pelaksanaan Pengawasan terhadap

orang Asing jang berada di Indonesia” (tahun 1954 no. 45, Pen-

djelasan T LN no. 645). 3) Intisari peraturan ini tjukup dikenal oleh chalajak ramai. Berkenaan dengan tugas melakukan penga­ wasan ini telah diadakan pelbagai tindakan2 jang membataskan

1) L ih a t M r F.R. B ohtlingk, De noodwet vreem delingentoezicht, d a la m M e d e d e lin g e n D ocum entatiebureau Overzees recht, Pebr. 1954, th n . 4 no. 2, h. 10.

2) L am piran peraturan no. 7 ; P endjelasan no. 8. > i 3) L am piran peraturan no. 9 ; P endjelasan no.-10.

pembebasan bergerak daripada orang2 bersangkutan. Terkenal adalah ketentuan2 dengan disertai antjaman hukuman untuk me­ ngadakan pelaporan diri pada kantor polisi tempat tinggalnja atau tempat kediamannja segera setelah orang asing bersangkutan mem­ peroleh kartu idzin masuk di Indonesia (pasal 3 ajat 1). Djuga bilamana ia pindah maka haruslah dilaporkannja hal ini kepada kantor polisi dalam tempo 7 hari (ajat 2). Tambahan lagi, bukan sadja untuk berpindah tempat tinggal, tetapi djuga untuk bepergian kelain tempat lebih dari 30 hari haruslah diadakan laporan (pasal 4). Djuga djika ia menginap ditempat lain, baik dihotel (pasal 5 s/d 7) maupun dirumah lain jang bukan merupakan rumah penginapan (pasal 8) terdapat keharusan untuk mengadakan laporan ini. Dalam prakteknja peraturan ini tjukup terkenal. Pengi­ sian formulir2 djika ingin menginap di-hotel2 berikut pembuktian sekedar mengenai status jang bersangkutan, adalah akibat daripada ketentuan ini. -1)

Selandjutnja dengan peraturan inipun telah ditjiptakan suatu Biro jang membantu Menteri Kehakiman dalam melakukan penga­ wasan terhadap orang asing. „Biro Pengawasan Orang Asing" ini kiranja sudah tjukup terkenal pula dalam praktek se-hari2.

Koordinasi.

Dalam rangka keadaan darurat perang kita saksikan bahwa Penguasa Militer telah mengadakan tindakan chusus untuk me­ ngadakan pengawasan setjara lebih tertib terhadap orang2 asing ini. Agar supaja dapat dilantjarkan dan diintensivir pelaksanaan tentang pengawasan terhadap orang2 asing ini dibuatlah Peraturan Penguasa Militer No. Prt/PM/012/1957 ttg. 3 Djuli 1957 tentang

..Pelaksanaan koordinasi pengawasan orang asing jang berada di Indonesia". (B.N. 1957 no. 60). 5) Setelah berlakunja Undang2

Keadaan Bahaja ternjata peraturan ini telah diperbaharui. Maksud daripada peraturan ini ialah untuk dapat memungkinkan penje- lenggaraan pengawasan „setjara serempak dan tertentu". Guna mentjapai hal ini haruslah terdapat koordinasi jang se-baik2nja. Koordinasi dalam pelaksanaan pengawasan ini harus diatur dari pusat sampai kedaerah2.

Menarik perhatian kita, bahwa dalam usaha untuk mentjapai koordinasi ini dalam pendjelasan daripada Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Pengawasan orang asing tersebut diatas telah disinggung pula hal koordinasi irii. Bahkan tak terdjadinja tindakan? jang simpang-siur dipandang sebagai sjarat mutlak untuk meng­ hindarkan tjemooh dari dunia internasional ! Kata Menteri Ke­ hakiman dalam pendjelasaiinja, bahwa tindakan2 bersimpang siur

4) L ihat tjo n to h pengisian fo rm ulir oleh hotel", lam piran pada Lam piran peraturan no. 10.

ini „sangat merugikan baik moreel maupun materieel bagi orang asing jang bersangkutan, maupun Pemerintah kita dimata dunia

internasional. Dalam rangka ini malah telah dikutib perkataan2 dari

seorang sardjana hukum kenamaan, Prof. van Vollenhoven : „het eene drogargument is d it : het buitenland heeft geen reden tot beklag, als wij aantonen zijn onderdanen en belangen niet slechter te hebben bejegend dan wij het onze eigen onderdanen doen. W il een land of een overzeesch gebied voor eigen onderdanen en belangen beneden zulk een (intemationale) standaard blijven, dat is zijn zaak : maar vreemde onderdanen en belangen hebben daronder niet te lijden” (Staatsrecht Overzee, h. 241). Lebih djauh dirasa perlu untuk menambahkan dalam pendjelasan resmi tersebut : „Tentang kerugian jang diderita oleh orang karena kelalaian kita.

Pemerintah kita dapat dituntut oleh Pemerintah asing jang ber~ sangkutan”’. Kata2 ini kiranja perlu diperhatikan pula oleh pen-

djabat2 jang ditugaskan untuk melaksanakan pengawasan terhadap orang asing ini. Dalam zaman bergeloranja semangat nasional pun masih perlu diingati bahwa memang ada apa jang terkenal sebagai batas2 minimum daripada hukum internasional terhadap orang asing. c)

Menurut peraturan dari Penguasa Militer tentang koordinasi pengawasan terhadap orang asing ini, maka Biro Pengawasan Orang Asing dari Kementerian Kehakiman dimasukkan dalam Badan Koordinasi dan diserahi tugas sekretariat daripada badan tersebut. Lain daripada itu ditundjuk pula pelbagai pendjabat jang memegang peranan penting berkenaan dengan keamanan negara untuk turut serta duduk dalam badan itu.

»>Hafc2 exorbitant'’.

Bagi kita adalah penting untuk mengetahui dalam garis2 besar apakah jang mendjadi kewenangan dan tugas pekerdjaan daripada badan pengawas ini. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa instansi ini dapat mengambil pelbagai tindakan2 terhadap orang2 asing. Kebebasan bergerak daripada orang2 asing dapat dibatasi dengan sangat oleh badan pengawas ini. Pasal 5 menjatakan tindakan2 apakah dapat diambil terhadap orang3 asing ,,jang ber- bahaja untuk ketenteraman, kesusilaan atau kesedjahteraan umum atau tidak mengindahkan peraturan2 jang diadakan bagi orang2 asing jang berada di Indonesia” (ajat 1). Tindakan2 ini meliputi : pertama, keharusan untuk berdiam disuatu tempat tertentu di Indonesia. Inilah jang < terkenal dengan nama „internering”. Lain daripada itu dapat pula orang asing bersangkutan dilarang untuk berada di beberapa tempat tertentu di Indonesia dari mana ia harus pergi. Djadi ia tak diperbolehkan untuk tinggal dibeberapa bagian

6) U ntuk in i lih a t Andreas H. R o th, The m in im u m stan dard o f in te r n a tio n a l la w applied tot aliens, Leiden 1949, h . 185.

wilajah Indonesia. Selandjutnja ia ini dapat dikeluarkan dari Indonesia sekalipun ia penduduk negeri Indonesia ! Jang bela­ kangan ini terkenal pula dengan istilah „externering”. Pengenjahan jang dapat dilakukan djuga terhadap orang asing jang berstatus pènduduk merupakan pengluasan daripada kewenangan jang di­ berikan pada penguasa dalam „Toelatingsbesluit”. Pengusiran terhadap seorang penduduk tak dapat disandarkan atas Toelatings­ besluit ini, karena siapa jang sudah memperoleh status penduduk tidak takluk lagi pada Toelatings-besluit tersebut. Tentang ini sudah diuraikan satu dan lain dalam karangan jang lalu.

Tindakan2 ini perlu kita perhatikan lebih djauh. Apakah ke­ kuasaan jang diberikan kepada Menteri Kehakiman untuk mela­ kukan tindakan2 terhadap orang asing ini merupakan suatu hal baru ? Tidak demikian, karena dalam hukum jang diwarisi dari zaman kolonial pun dikenal tindakan2 jang serupa ini. Dalam Indische Staatsregeling jang dapat dipandang sebagai Undang2 Dasar bagi Hindia Belanda sediakala terdapat pelbagai pasal jang memberikan hak serupa kepada penguasa untuk bertindak terhadap orang2 jang tak disukai. Gubernur Djenderal dengan kata sepakat Raad van Indië dapat mengenjahkan orang2 jang tak dilahirkan disini dan dipandang membahajakan bagi ketertiban umum dan keamanan. Demikian kita batja dalam pasal 35. Pasal3 berikutnja memberikan lain2 kewenangan kepada penguasa : ia dapat meng­ internir orang2 jang dilahirkan disini (pasal 37). Atau ia dapat melarang jang bersangkutan untuk berada dibeberapa tempat ter­ tentu dari Hindia Belanda (pasal 36 dan 37). Pasal2 ini terkenal karena keburukan dalam penglaksanaannja. Penggunaan hak2 exorbitant (exorbitante rechten) ini merupakan lembaran hitam daripada sedjarah pendjadjahan dinegeri ini. Kita telah saksikan bahwa dengan mempergunakan hak2 ini penguasa telah membuang ( Digul ! ) para pendekar kemerdekaan. Interniran ini dilakukan djuga terhadap seksama kaulanegara ! Hak2 exorbitant ini tidak hanja dapat diperlakukan terhadap orang2 asing, tetapi djuga ter­ hadap para warganegara. Disinilah terletak kegandjilannja ! 7)

Tjontoh negara® lain.

Kewenangan2 penguasa untuk bertindak terhadap orang asing sebenarnja tidak merupakan suatu hal jang luar biasa. Terhadap orang asing memang dapat diambil tindakan2 kekuasaan seperti tertera dalam Undang2 darurat Pengawasan Orang Asing. Dilain- lain negara pun dapat kita saksikan adanja kemungkinan untuk bertindak setjara bersamaan. Djuga dinegeri Belanda terdapat peraturan2 jang serupa. Persamaan adalah sedemikian hingga orang jang meneliti undang2 darurat kita dan peraturan2 jang ber­ laku dinegeri Belanda akan tak lepas daripada sangkaan bahwa

sesungguhnja peraturan2 Belanda inilah jang rupanja telah diambil sebagai tjontoh. 8)

Dengan „wet van 13 Augustus (Stbl. no. 39) tot regeling der toelating en uitzetting van vreemdelingen” telah diatur pula ke- wenangan pemerintah Belanda untuk melakukan „externering” terhadap orang2 asing jang dipandang berbahaja untuk ketertiban umum (pasal 12). Terhadap mereka ini pun dapat diambil tindakan internering atau larangan untuk berdiam diberbagai bagian dalam negeri (pasal 13). Djuga dalam W e t van 17 Juni 1918 (Stbl. no. 410) berkenaan dengan peraturan2 lebih djauh tentang penga­ wasan orang asing dalam keadaan luar biasa dan dalam „Vreem- delingen-reglement” (Stbl. 1918 no. 521) kita saksikan ketentuan ketentuan jang bersamaan bunjinja dengan pasal 5 dari undang2 darurat kita. Pemerintah Belanda atau Menteri Kehakiman ber­ wenang untuk melakukan interniran atau melarang kediaman dalam tempat2 tertentu dari orang2 asing jang dipandang „berbahaja untuk ketertiban umum, keamanan, kesehatan atau kesusilaan” atau jang tak patuh terhadap peraturan2 jang berlaku berkenaan dengan pengawasan orang asing.

Djuga kemungkinan bagi orang asing bersangkutan untuk membela diri dihadapan Pengadilan Tinggi setelah mengaku bahwa ia adalah warganegara Indonesia (karena mana peraturan2 ini tak berlaku baginja), seperti ditentukan dalam pasal 6, terdapat dalam peraturan2 Belanda (pasal 20 daripada Stbl. 1849 no. 39 : di­ hadapan Hoge Raad). Rupanja kemungkinan untuk membela diri dihadapan instansi peradilan ini dipandang perlu untuk menghin­ darkan hilangnja kesan bahwa-seperti dengan megahnja tertjantum dalam pasal pertama Undang2 Sementaranja — „Republik In d o ­ nesia jang merdeka dan berdaulat ialah suatu negara-hukum jang demokratis!” 9)

Pengawasan Pengadjaran Asing.

Pembatasan kemerdekaan bergerak orang2 asing dibidang pen­ didikan ternjata dirasa perlu pula untuk diadakan. Demi „kepen­ tingan keamanan dan ketertiban umum” Penguasa Militer dalam suasana S.O.B. telah mengeluarkan „Peraturan tentang Penga­ wasan Pengadjaran Asing” (no. 989/P M T /tahun 1957, tg. 6 Nopember 1957, B.N. 1957 no. 99) 10) jang disusul oleh peraturan pelaksanaan dari Menteri P.P.K. tg. 13 Nopember 1957 no. 113826/S u ) dan Instruksi Menteri Pertahanan untuk mengadakan koordinasi dalam pelaksanaan peraturan tersebut didaerah (no. III/P M /1957). » )

8) M r Soenario dalam brosurnja Masalah-masalah dise kitar soal W a rg a n e g a ra d an orang asing telah m enjebut p u la p e ratu ran 3 B e land a in i, h . 12 dst.

9) T entang istilah „Negara H u k u m ” in i lih a tk a n ra n g k a ia n tje ra m a h ra d io k a m i, P engertian tentang Negara H u k u m , dite rbitk an p u la o leh K e n g P o, 1956.

10) L a m p ira n peraturan no. 28 ; Pendjelasan no. 29.

11) L am pira n peraturan no. 30. 12) Lam piran peraturan no. 31.

§ 5. Pendaftaran dan padjak. Pendaftaran.

Supaja dapat melakukan pengawasan terhadap orang2 asing dengan baik pembuat-undang2 merasa perlu untuk mengadakan berbagai peraturan lain. Peraturan Pemerintah mengenai pendaf­ taran orang asing dapat dipandang 'sebagai salah satu peraturan penglaksanaan daripada undang2 darurat tentang pengawasan orang asing (L.N. 1953 no. 64) x) jang telah kita bahas dalam paragrap jang lalu. Bagaimana dapat dilakukan pengawasan setjara tertib bilamana tak diketahui benar2 tentang segala seluk-beluk daripada orang2 jang harus ditilik ini ? Oleh karena itu dirasakan perlu untuk mengadakan kewadjiban pendaftaran. Inilah djalan satu2nja untuk mengetahui dengan sebenarnja berapa banjak orang asing dinegeri ini, dimanalah mereka ini bertempat tinggal, apakah jang merupakan pekerdjaan mereka dan bagaimana adalah ke­ dudukan mereka dalam masjarakat. Lain daripada itu dapat pula dikumpulkan berbagai keterangan dari orang2 asing ini. Sekalian dapat diketahui pula apakah mereka ini telah datang setjara sjah di Indonesia atau tidak. Terhadap imigran2 jang liar ini dapat di­ adakan tindakan2 selandjutnja. Selain daripada itu dapat pula diadakan pembaharuan daripada „surat2 imigrasi” orang2 asing ini. Oleh karena banjak orang asing tak mempunjai surat2 imigrasi lagi disebabkan hilang berhubung dengan pergolakan2 jang telah kita alami dinegeri ini, maka kepada mereka ini dapat diberikan surat2 imigrasi jang baru. Surat2 imigrasi jang lama pun akan di­ ganti dengan jang baru. Dengan demikian terdapat keseragaman dalam surat2 ini. Demikianlah dapat kita batja dalam Pendjelasan (T LN 1954 no. 569) 2) atas Peraturan Pemerintah tahun 1954 no. 32 tentang Pendaftaran Orang Asing (L.N. 1954 no. 52). 3)

Isi terpenting daripada peraturan ini sudah tjukup terkenal oleh chalajak ramai. Terutama orang2 asing jang dibebankan untuk melakukan pendaftaran dengan sanksi hukuman ini telah merasakan sendiri betapa berat kewadjiban tersebut. Dapat dikatakan bahwa disamping peraturan mengenai kewadjiban melapor djika bepergian, peraturan tentang pendaftaran inilah jang pertama-tama telah „berbitjara” kepada masjarakat orang asing. Mereka ini mengalami perlakuan oleh penguasa jang berbeda daripada para warganegara. Peraturan inilah djuga jang per-tama2 setjara massaal membawa beban kepada masjarakat asing dalam keseluruhannja. Hampir se­ mua orang asing terkena pada kewadjiban untuk melakukan pendaftaran ini. Hanja beberapa gelintir (seperti mereka jang be­

1) L am piran peraturan no. 7. 2) Lam piran peraturan no. 14. 3) Lam piran peraturan no. 13.

rada disini dengan „short visit” untuk tak lebih lama dari 3 bulan, para anak dibawah umur 2 tahun dan para anggota corps diplomatik serta anggota organisasi2 internasional, pasal 3) dibebaskan. Ke­ harusan mendaftarkan ini sudah berlaku bagi mereka jang baru sadja datang di Indonesia (dalam tempo seminggu, pasal 2). Mereka jang sudah berada disini harus melakukannja pula dalam tempo tertentu (6 bulan, kemudian diperpandjang untuk w ilajah2 tertentu, pasal 3 dan 4 jang ditambahkan kemudian).

Berkenaan dengan pendaftaran ini penguasa mengumpulkan pula pelbagai keterangan jang berguna untuk menentukan status orang2 bersangkutan. Segala keterangan mengenai dirinja harus diberikan oleh mereka. Nama, kewarganegaraan, pekerdjaan, kedudukan sipil, nama anggota keluarga, lain2 keterangan dan bantuan jang diperlukan untuk mengenal dirinja, seperti foto dan tjap djari, semua ini dikumpulkan (pasal 5). Perasaan kurang me- njenangkan daripada orang2 jang diambil sidik djarinja dalam rangka pendaftaran ini dapat dimengerti.

Lain daripada itu, maka setelah melakukan pendaftaran itu orang asing berwadjib untuk selekas mungkin (dalam 14 hari) melaporkaH pula segala perobahan2 mengenai kedudukan sipilnja. Dengan demikian daftar2 dapat terpelihara terus.

T jara pelaksanaannja.

Umum diketahui bahwa pelaksanaan daripada segala sesuatu jang bersangkutan dengan pendaftaran ini telah diserahkan oleh Menteri Kehakiman pada Djawatan Imigrasi. H al ini ditetapkan dalam „Peraturan Tjara Pendaftaran Orang A sing" (Penetapan Menteri Kehakiman 1 Djuni 1954 nr. J.M . 2/17/2, T L N 593). }) Kantor2 Imigrasi jang terpentjar diseluruh nusantara mengadakan suatu bagian dengan nama „Bagian Pendaftaran Orang A sing” . Kita ketahui lebih djauh dari praktek pelaksanaannja, bahwa pendaftaran ini telah dilakukan dengan ber-angsur2. 5) Pekerdjaan ini dilakukan dalam pelbagai phase. Pada phase pertama dilakukan pengisian daripada pormulir2 pendaftaran. Tidak diadakan peme­ riksaan terhadap segala seluk beluk mengenai status daripada mereka jang mendaftarkan diri ini. Tak diadakan saringan dalam melakukan pendaftaran tingkat pertama ini. Setiap orang jang menganggap dirinja asing dapat melakukan pendaftaran tersebut. Baru kemudian, setelah diadakan pemeriksaan dan saringan dalam taraf phase kedua, orang2 jang setjara salah telah menganggap dirinja sebagai asing, dapat ditjoret pendaftarannja. D ja d i dalam phase jang kedualah baru dilakukan pemeriksaan terhadap status sebenarnja dari orang2 asing jang telah mendaftarkan diri. Peker­ djaan ini dalam praktek semula dilaksanakan oleh Panitya

4) Lam piran peraturan no. 15.

5) L ihat un tu k in i, Soenardi, M enindjau sedjenak p e n d a fta ra n o ra n g a s in g di Indonesia, W arta Im igrasi, ta h un ke-VIII no. 11, N op., 1957, h. 19.

Pemeriksaan Orang Asing. Dalam Panitya tersebut terdapat anggota2 dari berbagai instansi militer dan sipil jang mempunjai sangkut paut dengan orang2 asing dinegeri ini. Kemudian ternjata bahwa tjara bekerdja daripada Panitya ini kurang memuaskan. Maka pada pertengahan tahun 1957 telah diadakan perubahan. Panitya ini dibubarkan dan segala sesuatu berkenaan dengan pen­ daftaran orang asing diserahkan sama sekali kepada Djawatan Imigrasi.

Kewadjiban mempunjai surat3 imigrasi.

Berkenaan dengan kewadjiban untuk melakukan pendaftaran ini telah kita saksikan diatas bahwa orang2 asing bersangkutan djuga diharuskan untuk mempunjai surat2 imigrasi (pasal 4). Kewadjiban ini njata ditudjukan terhadap semua orang asing jang berada disini (terketjuali golongan ketjil tersebut tadi). Padahal menurut peraturan jang hingga kini berlaku banjak sekali orang asing dinegeri ini jang sama sekali tak pernah mempunjai, apalagi diharuskan untuk mempunjai surat2 imigrasi ini. Mereka diantara orang2 asing jang belum pernah mengimigreer masuk kenegeri ini tentunja tak pernah melewati pelbagai atjara seperti tertera dalam Toelatingsbesluit. Mereka ini bahkan adalah kaulanegara dan sudah terhitung penduduk menurut hukum jang lama, hanja karena ber­ tempat tinggal dan menetap disini. Tetapi surat2 imigrasi seperti „toelatingskaart” (kartu idzin masuk) atau „idzin menetap” (ver- gunning tot vestiging) mereka ini tak mempunjai. Dalam golongan ini misalnja harus kita hitung orang2 Indo Belanda jang tak menggunakan kesempatan untuk memilih kewarganegaraan Indo­ nesia dalam rangka pemulihan kedaulatan. Mereka ini walau asing disini menurut hukum jang lama tak pernah diharuskan untuk memiliki gurat2 imigrasi. Tetapi kini, mereka inipun harus mem­ punjai surat2 tersebut, Kewadjiban untuk mempunjai surat2 imigrasi ini dipandang sebagai kelandjutan daripada pendaftaran dan pengawasan orang asing, demikian kita dapat batja dalam pen- djelasan resminja. Sanksi atas tak mempunjai surat2 imigrasi ini ialah hukuman (pasal 8 : maksimum kurungan 1 tahun atau denda Rp. 100.000,— ).

Berkenaan dengan surat2 imigrasi ini kita ketemukan keten­ tuan lebih djauh dalam penetapan Menteri Kehakiman mengenai tjara pendaftaran tersebut. Dalam phase kedua daripada pendaf­ taran ini dapatlah kepada orang asing diberikan surat imigrasi bila ia „tidak dapat menundjukkan surat imigrasi jang sah atau tidak lagi atau belum lagi mempunjai surat imigrasi jang sah”. Kemungkinan pemberian surat imigrasi ini digantungkan pada sjarat bahwa „menurut pemeriksaan ada kemungkinan kepadanja boleh diberikan surat tanda penduduk atau Kartu Idzin M a s u k ... dengan denda Rp. 500,—”. Alasan untuk mengadakan denda pula terhadap mereka jang dahulu belum pernah dimungkinkan mem­

peroleh surat2 imigrasi tentunja agak mengetjewakan bagi jang bersangkutan. Lagipun, apakah sudah pasti kepada mereka ini „harus” diberikan surat imigrasi termaksud ? Praktek se-hari2 harus membuktikannja ! Tidak mengherankan bilamana ketentuan ini telah mengakibatkan ketjaman2 daripada pelbagai kalangan ahlihukum jang memperhatikan kepentingan orang2 asing bersang­ kutan ini. e)

Padjak bangsa asing.

Ternjata bahwa pengumpulan keterangan2 jang diperoleh dengan melakukan pendaftaran ini telah membawa manfaat lain bagi penguasa. Keuntungan ini sedjalan dengan ketentuan tentang „denda Rp. 500,—•” tadi, djuga terletak dibidang fiskal. Jang kita maksudkan ialah Undang2 Darurat tentang „Padjak bangsa asing” jang sudah tjukup terkenal pokok2nja oleh chalajak ramai (U U D a r. no. 16 tahun 1957, L.N. 1957 no. 63, Pendjelasan T L N No. 1345). 7) Kemungkinan untuk mendjalankan pelaksanaan padjak istimewa terhadap orang asing telah diberikan oleh pendaftaran jang telah dilakukan dalam rangkaian pengawasan chusus ini. Dengan tak adanja daftar lengkap daripada orang asing ini tentunja Djawatan Padjak akan menghadapi kesulitan2 jang sukar untuk diatasi dalam pelaksanaan Undang2 Darurat tersebut. H al ini diakui dengan terus terang dalam pendjelasan resmi atas peraturan tersebut. Tatkala diadakan „taksiran pemasukan padjak” ini dalam pendjelasan tersebut disebut angka2 jang diperoleh dari Kantor Imigrasi Pusat bagian Pendaftaran Orang Asing di Djakarta. Djumlah penduduk bangsa asing pada achir tahun 1956 merupakan pula hasil daripada pendaftaran tersebut: 1.224.682 djiwa. Ternjata bahwa kantor pendaftaran ini mempunjai angka2 jang terlengkap. Kantor Pusat Statistiek sekalipun belum mempunjai angka2, orang2 asing pada saat achir 1956 tersebut. Be*rdasarkan angka2 hasil pendaftaran ini telah diadakan pula perhitungan djumlah padjak istimewa jang akan masuk ini. D jum lahnja lumajan djuga. menurut teorinja memang dapat membantu „keadaan keuangan negara pada waktu ini jang sangat mengchawatirkan” (menurut kata2 resmi, alasan utama diadakan padjak istimewa ini). Lebih djauh diterangkan pula bahwa bahan2 jang diperlukan untuk mengenakan Padjak bangsa Asing ini terutama diperoleh dari sumber kantor2 imigrasi jang melakukan pendaftaran. N am a2 bangsa asing lengkap dengan alamat dapat diperoleh dari Kantor2 tersebut. Njatalah sudah betapa erat hubungannja antara pendaf­ taran dan pemungutan padjak istimewa ini.

Disamping kepentingan finansiil, telah dikemukakan pula bahwa padjak istimewa ini diadakan karena kediaman orang asing

6) L ih a t m isaln ja karangan dalam M ededelingen D o c u m e n ta tie b u re a u O verzees Recht, U niversitas Leiden, ta h u n ke-IV, Sept. 1954 no. 9, h . 70 : D e re g is tra tie van vreemdelingen.

di Indonesia ini merupakan suatu „gunst”. Disini mereka bahkan mendapat suatu hak utama (voorrecht) untuk mentjau nafkah. Mereka ini merupakan suatu saingan jang berat terhadap bangsa Indonesia sendiri. Mengenai hak utama untuk mentjari nafkah ini. tentu segala sesuatu dapat diakui kebenarannja dalam suasana ekonomi kolonial. Tetapi dengan adanja sikap tegas daripada penguasa disegala bidang kehidupan ekonomi waktu belakangan ini, dengan rentetan peraturan2 jang membatasi kebebasan berusaha

Dalam dokumen WARGANEGARA 0JANG A SING. (f / (Halaman 76-114)

Dokumen terkait