sebuah jazirat,
Lalu aku dapatkan jazirat itu di dalamnya ada tiga. orang. Sudah itu lalu aim
4 berjalan. Lama-1ama berjumpalah dengan nama Datuk Pangayunan; bei'jabat tnngan, serta kami
tanyakanlah tuan hamba, javabnya Patuk Pangayunan "Hamba hendaklah masuk
guru kepada tuan h am ba," Javabku akan dia. '"Tiadalah bahva
kami kuasa • . .
mengajar tuan hamba. Jikalau begitu, baiklah tuan hamba dapatkan ke Ulu P a s a i ,
kau tahu betul yang bernama Patuk B a r u l , karena Syaikh k a m i ," He mu d i an
hercerailah keduanya, Lalulah kami ke Keling bertemu de- ngan mayat Kaja keling y&htu
ditaruh di atas kendaraan. Maka ia beranyut ke sana ke mari. Yang lagi di dalamnya
itu kendaraan ada seorang pepatihnya, Maka lalu kami ka ta akan dia "Ya Patih
keling, janganlah engkau membuat yang demikian itu; baik lah englcau masuk Islam."
0 " G \
. / ( Wehr,p,90i following ) r)
41 "Praise be to Allah, the Creator of all things"
E 14 and bade farewell, Then lie^ set out. After travelling for • some time, be came across a sage. This sage greeted him
asking-"Whither are you bound?" He answered "I am taking a rest." The sage said "I will become your follower." He replied "Praise be to Allah, the Creator of all things."
They walked along the shore and presently a peninsula came into view. When they reached it, they found three people there. They walked on. After some time they came
2
across a man named Datuk Pangayunan ; they shook hands, and asked him [a question], Datuk Pangayunan replied "I would
■5
like to have you as my teacher." Shaikh Nuruddin , however, replied "I am not competent to teach you. 'It would be better for you to go to Ulu Pasai to find our Shaikh named Datuk Ba [h]rul." The two of them parted. Shaikh Nuruddin went to
4
Keling to find the corpse of the ruler of Keling, which is kept on a vehicle which was being taken from place to place.
5
And within the vehicle there was a minister , to whom he said "You must not do these things; you had better become a Muslim".
^ Here and subsequently, in order to be consistent, the personal pronouns are harmonised with the context.
2 w
see J.Edel,o,c, p. 252-253: Pangeran Pabgaytpan- ^P.Panjunan-Mau-lana Baghdad = Mau^P.Panjunan-Mau-lana Abdurrahman = P.Palalangon = Dipangayun= Son of the Sultan of Baghdad. See also p.E 39 below
5
MS ,iawabku
^ The coast of Coromandel (South India) See: Klinkert, p.793 5
enyahut Patih Keling Baiklah hamba iaasuk kepada agama1 Islam,” 1-alu kami ajar kalimat syahadat.
S e t e 1ahnya ia patih Keling khidmatlak akan daku. Maka lalu aku berjalan hingga sampai
ke negeri Pakungwati yaitu negeri Cerbon; yang dimaksudkan jiarah kepada
Syaikli Makdum yang d.igelar hanger era Waled urn; ia aslinya. ua~ 2
ri Atas Angin ' yang dahulu
^ %
5 datangnya ke negeri Oerbon beristit'.an di dalam kampung M a k d u m , S cr t a da tang,
lalu ia Bulkia berjabat tangan dengan Pangeran Makdum. Se-~ telah bersemayam, Pangeran Makdum
tanya 5i Ya tuan hamba, a pal ah yang dimaksudkan akan di-kau?" Kata Bulkia " Yang hamba maksudkan
masuk guru kepada tuan hamba'.:: Lalu raengaji kitab nama 4
Samarkand! sampai diajar
■ \ - 5 • • .•
■ kepada Porratnya . Lamar-lama khatamlah mcngaji itu. Lalu .. sembahlah ia Bulkia kepada gurtinya nama Syaikh
10 makdum yaitu Pangeran makdum " Lamb ah il all rasianya yang tebah tuan ajarkan ini." Maka
sabda ia Syaikh Makdum " Tiadalah kami kuasa menambahi dari pada yang telah kami berilcan
kepada k a m u ; Icarena tuan hamba kami pandang sudahlah sele- sai akan hal kepada ilinn Sufi.
Sebabnya janganlah tuan khowatirkan." Maka kata Bulkia " Be till sabda tuan hamba;
tetapi hamba mendengar dari pada orang yang hak, jika- lau sudah tahu akan hal barang
15 sesuatu belum dituntut kepada suatu Syaikh, maka niscaya- lah ilmu itu belum lagi sempurna,"
see p.S 1|> note 3 : & name of a famous book on Islamic catechism, -written by Abu I-f aith Muhammad ibn Abu Nasr b. Ibrahim as Samara an dl (-{- 985 A D ).
on Islamic creed written by Abu 1Abd Allah Muhammad ibn Yusuf as Sanusi al Dasani (+ 895 All ~ 1489/90 Ad) cf.L.W.C, 1
lands "to its w i n d w a r d " ; zir-bad ( W i l k .I ,33)*
settlement; settling down )
A-er sian
4
E 15 The Fatih Keling replied "Good, I will become a Muslim." 1
-Bulkia taught him the Muslim creed. After Patih Keling had paid homage to him, Bulkia set out and eventually reached the city of Pakungwati which was in fact Cheribon. His ob~
2
ject was to go on a pilgrimage to Shaikh Makdum who bore the title of Pangeran Makdum. Shaikh Makdum originated from a land in the west, he had arrived in Cheribon earlier, and settled down in the Makdum quarter of the city. When Bulkia arrived, he shook hands with Pangeran Makdum.
When they were seated, Pangeran Makdum asked "What is your desire?" Bulkia replied "I want you to be my teacher." So he studied the book named Samar Kandi and proceeded to the commentary "Dorrat"'1h In the course of time he completed his studies. Bulkia then aaid to his teacher "Give me further instruction in addition to what you have taught me." Shaikh Makdum however replied. "I am not able to add anything to what I have taught you. I see that you have completed your studies in Sufism, So do not worry about that." Bulkia replied "What you say is true. But I have heard from someone qualified [to give advice] that knowledge of something which has not been reinforced by the teachings of a shaikh, remains
incomplete."
1 MS kami
2
Makdum: A r 0 Makhdum: "Master" as a title given usually to men of religious learning.(Wilk.II,95)
3
a name of a famous book on Islamic catechism, written by Abu 1-Laith Muhammad Ibn Abu Nasr b. Ibrahim as Samarqandi (died 985 AD) cf
L.W.Co van den Berg "Het Mohammedaansche godsdienstonderwijs op Java en Madoera en de daarbij gebruikte Arabische boeken"TBG 31 (l886)p0537. 4
Dorrat= "The Pearl": a short commentary on Islamic creed by Abu ’Abd Allah Muhammad ibn Yusuf as Sanusi al Hasani (died 1489/90 AD). Ibid.,p.538.
M l6 I/alu sabda Syaikh Makdum kepada Bulkia " Baiklah tuan 1 hamba jalan-jalan, disanalah insya Allah ta'ala dapat akan rasia yang di da lam S a markand!." Malta Bul kia memohon diri sex-ta berjabat
tangan, berjalanlah ia Bulkia dengan Batih Keling. S y a h d a n ,
5 adalah so orang laki-laki nama Ki Gedo ing Babadanj ar- tinya yang nama demikian itu
2
kata Melayu B atuk Tukang Tebas, yaitu setengah bimbang hatinya mengelihat
tanamannya bunga cempaka layu, sampai melalaikan makan dan tidur, dari sebab
3
sangat syuuilnya akan tanaman itu. Akhir-akhir ia her- kata " Jikalau ada seoi*ang
4
cakap ia akan menjahterakan sebagai dahulu, maka aku
tiadalah kuasa ‘ , .
3,0 membalas akan dia melainkan anakku dua isteri mana yang d ipilihnya.fl. Alai-alai"5
Bulkia datang kepada rtuaahnya Ki Babadan, lalu .memberi 6
salam dengan musafat.
Maka Hi Babadan menegur kepada Bulkia " Siapalah tuan hamba ini, dan dari mana asal
tuan hamba? Karena barulah pernah mengelihat tuan hamba; di negeri Oerbon
tiadalah sebagai tuan hamba ini.” Segera Bulkia menyahut
7
15 tiadalah ketahwen asal k a m i ." Jbalu Bulkia tanya " Aku kepadanya " Aku ini
7