• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4. Berlangganan Majalah

Tidak berlangganan 160 99,4 Berlangganan 1 0,6 T o t a l 160 100,0

Ada sebanyak 9,3 persen anggota kelompok tani yang memiliki akses yang tinggi terhadap media massa (mengakses media massa lebih tiga kali/hari), sebagian dari mereka, terdapat satu orang yang berlangganan majalah dan empat orang yang berlangganan koran. Jika yang memiliki akses media massa tinggi ini difasilitasi untuk berbagi informasi kepada anggota yang memiliki akses media massa rendah, diharapkan dapat mengurangi kesenjangan informasi di antara keduanya.

Sebagian besar (50,9 persen) gaya komunikasi anggota kelompok tani adalah berbasis linier (linier dan linier-relational), artinya anggota kelompok tani cenderung menunggu perintah dari pemimpin kelompok dan bertanya jika ada hal

yang kurang jelas atau diragukan. Inisiatif tentang perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pemantauan kegiatan konservasi tanah air masih lebih banyak datang dari para pemimpin dibanding dari para anggota kelompok tani. Hal ini disebabkan tingkat pendidikan anggota kelompok tani yang masih rendah sebagaimana telah diuraikan di bagian sebelumnya. Tingkat pendidikan yang rendah juga berimplikasi pada tingkat partisipasi anggota kelompok tani yang cenderung rendah pula (49 persen).

Tabel 18. Sebaran Anggota Kelompok Tani menurut Akses ke Media Massa, Gaya Komunikasi, Tingkat Partisipasi Anggota Kelompok Tani

No Karakteristik/ Kategori Kaliwung Kalimuncar Kali Cimandala Bunga Wortel Ganda Manah Total (n) (%) (n) (%) (n) (%) (n) (%) N (%) 1. Akses ke Media massa Rendah 20 45,5 22 55,0 17 28,3 7 41,2 66 41,0 Sedang 22 50,0 18 45,0 31 51,7 9 52,9 80 49,7 Tinggi 2 4,5 0 0,0 12 20,0 1 5,9 15 9,3 Total 44 100,0 40 100,0 60 100,0 17 100,0 161 100,0 2. Gaya Komunikasi Anggota Linier 10 22,7 14 35,0 2 3,3 2 11,8 28 17,4 Linier-Relational 10 22,7 16 40,0 23 38,3 5 29,4 54 33,5 Relational-Convergence 10 22,7 5 12,5 16 26,7 5 29,4 36 22,4 Convergence 14 31,8 5 12,5 19 31,7 5 29,4 43 26,7 Total 44 100,0 40 100,0 60 100,0 17 100,0 161 100,0 3. Tingkat Partisipasi Rendah 12 27,3 28 70,0 27 45,0 12 70,6 79 49,1 Sedang 28 63,6 8 20,0 26 43,3 4 23,5 66 41,0 Tinggi 4 9,1 4 10,0 7 11,7 1 5,9 16 9,9 Total 44 100,0 40 100,0 60 100,0 17 100,0 161 100,0

Tingkat pendidikan yang rendah juga berimplikasi pada tingkat partisipasi anggota kelompok tani yang cenderung rendah pula. Hal ini diketahui dari Tabel 18, anggota kelompok tani yang tingkat partisipasinya rendah sebanyak 49,1

persen dan tingkat partisipasi sedang sebanyak 41,0 persen serta hanya sedikit (9,9 persen) yang memiliki tingkat partisipasi tinggi dalam kegiatan KTA baik pada tahap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pemantauan.

Tingkat Kedewasaan Anggota Kelompok Tani

Secara umum tingkat kedewasaan anggota kelompok tani yang diteliti termasuk dalam kategori rendah. Pada Tabel 19 tampak bahwa sebagian besar (59,6 persen) anggota kelompok tani memiliki tingkat kedewasaan rendah. Hal ini menunjukkan sebagian besar anggota kelompok tani memiliki tingkat pemahaman, kekompakan, inisiatif dan komitmen anggota kelompok tani dalam menjalankan kegiatan konservasi tanah air (KTA) masih rendah. Tingkat kedewasaan yang rendah ini selaras dengan karakteristik anggota kelompok tani yang secara umum mengindikasikan rendahnya tingkat pendidikan, partisipasi dan tingginya tanggungan keluarganya.

Tabel 19. Sebaran Anggota Kelompok Tani menurut Tingkat Kedewasaannya Tingkat Kedewasaan Kaliwung Kalimuncar Kali Cimandala Bunga

Wortel Gandamanah Total

(n) (%) (n) (%) (n) (%) (n) (%) (n) (%) Rendah 15 34,1 20 50,0 47 78,3 14 82,4 59,6 59,6 Tinggi 29 65,9 20 50,0 13 21,7 3 17,6 40,4 40,4 Total 44 100,0 40 100,0 60 100,0 17 100,0 161 100,0

Tingkat kedewasaan anggota Kelompok Tani Kaliwung Kalimuncar sedikit berbeda dari kelompok tani lainnya sebab 65,9 persen anggotanya memiliki tingkat kedewsaan yang tinggi. Kelompok Tani Kaliwung Kalimuncar adalah kelompok tani yang dipimpin oleh Pak BDR seorang tokoh yang amat peduli terhadap lingkungan dan telah cukup lama memimpin kelompok tersebut.

Berbekal tingginya kepedulian dan pengalaman yang cukup tersebut yang mengantarkan pada tercapainya tingkat kedewasaan anggota kelompok yang tinggi (65,9 persen).

.Gaya Komunikasi Pemimpin Kelompok Tani

Gaya komunikasi pemimpin kelompok tani yang diteliti sebagian besar (67,7 persen) cenderung linier dan linier relational. Jika dikaitkan dengan karakteristik anggota kelompok tani yang telah diuraikan sebelumnya, yang menunjukkan ciri-ciri masyarakat yang paternalistik atau belum dewasa, maka tepat jika sebagian besar para pemimpin kelompok bergaya komunikasi linier. Masyarakat yang paternalistik akan cenderung menerima informasi yang disampaikan oleh pemimpin, sehingga pemimpin akan cenderung berkomunikasi secara searah (linier) kepada para anggota kelompok tani.

Tabel 20. Sebaran Gaya Komunikasi Pemimpin Kelompok Tani

Gaya Komunikasi Pemimpin Kaliwung Kalimuncar Kali Cimandala Bunga Wortel Ganda Manah Total (n) (%) (n) (%) (n) (%) (n) (%) (n) (%) Linier 13 29,5 23 57,5 0 0,0 15 88,2 51 31,7 Linier-Relational 13 29,5 16 40,0 27 45,0 2 11,8 58 36,0 Relational-Convergence 16 36,4 1 2,5 33 55,0 0 0,0 50 31,1 Convergence 2 4,5 0 0,0 0 0,0 0 0,0 2 1,2 Total 44 100,0 40 100,0 60 100,0 17 100,0 161 100,0

Jika diperhatikan penilaian masing-masing anggota kelompok, sebagian besar anggota Kelompok Tani Kaliwung Kalimuncar (59 persen) menilai pemimpinnya menerapkan gaya komunikasi berbasis liner, demikian pula untuk anggota Kelompok Tani Kali Cimandala, mayoritas anggota kelompok (97,5 persen) menilai ketua kelompoknya menerapkan gaya komunikasi yang berbasis linier. Gaya komunikasi pemimpin yang demikian, tepat dilakukan pada anggota

kelompok yang memiliki karakter yang paternalistik dan belum dewasa sebagaimana diuraikan pada subbab sebelumnya (Hersey & Blanchard, 1989).

Keefektifan Kelompok Tani dalam Melaksanakan Kegiatan KTA

Keefektifan kelompok tani diindikasikan dari hasil pengukuran terhadap tingkat pengetahuan anggota tentang berbagai jenis kegiatan KTA, keadaan sikap anggota terhadap kegiatan KTA, tingkat keterampilan anggota dalam kegiatan KTA dan tingkat kepuasan anggota terhadap kelompok dan kegiatan KTA. Hasil pengukuran terhadap sejumlah indikator keefektifan kelompok di atas menunjukkan bahwa semua kelompok menunjukkan keefektifan kelompok yang tinggi (72 persen) kecuali Kelompok Tani Ganda Manah.

Tabel 21. Keefektifan Kelompok Tani yang Diteliti

Keefektifan

Kelompok Kalimuncar Kaliwung Cimandala Kali Bunga Wortel Manah Ganda Total

(n) (%) (n) (%) (n) (n) (%) (n) (%) (n)

Rendah 5 11,4 8 20,0 22 36,7 10 58,8 45 28,0 tinggi 39 88,6 32 80,0 38 63,3 7 41,2 116 72,0 Total 44 100,0 40 100,0 60 100,0 17 100,0 161 100,0

Sebagaimana diuraikan sebelumnya Kelompok Tani Ganda Manah berjalan ketika ada proyek GN-RHL, yang dalam pelaksanaan proyek tersebut lebih banyak melibatkan masyarakat yang pekerjaan sehari-hari sebagai tukang ojek. Motivasi mereka bergabung dalam kelompok pada umumnya hanya untuk mendapatkan upah dari proyek. Kondisi inilah yang menyebabkan keefektifan Kelompok Tani Ganda Manah Rendah.

Uraian lebih lanjut dari masing-masing indikator keefektifan kelompok tani, disajikan pada bagian berikut. Pengetahuan anggota tentang kegiatan KTA

sebagian besar (70,2 persen) diperoleh dari ketua kelompok/sesama petani dan penyuluh sebanyak 24,8 persen, sedangkan dari media massa ternyata hanya 1,9 persen. Sebagaimana telah diuraikan pada bagian akses anggota kelompok terhadap media massa, hal ini sejalan dengan hasil penelitian Ma’mir (2001) yang menjelaskan bahwa petani kurang memanfaatkan media massa sebagai sumber infomasi, namun mereka lebih banyak memanfaatkan saluran informasi interpersonal.

Tabel 22. Sumber Pengetahuan KTA Anggota Kelompok Tani

Sumber Pengetahuan KTA Frekwensi (n) Persen (%)

Ketua kelompok/sesama petani 113 70,2

Penyuluh Pertanian/Kehutanan 40 24,8

Pelatihan 4 2,5

Media massa 3 1,9

Buku 1 0,6

Total 161 100,0

Para anggota kelompok tani pada umumnya bersikap posistif/setuju dengan kegiatan KTA dengan sejumlah alasan antara lain: agar tidak terjadi longsor, banjir, erosi, dapat menghasilkan kayu dan buah-buahan, agar tersedia cukup air, agar alam lestari, tanah bisa subur, daripada tanahnya kosong, takut dimarahi BDR (ketua kelompok tani Kaliwung Kalimuncar, perintis kegiatan KTA di Cisarua), mengikuti perintah ketua, mencegah timbulnya musibah bagi masyarakat, agar pada saat musim kemarau tidak kering, musim bisa tetap menanam sayur, terjadi peresapan air, dapat untuk berteduh, agar tidak gersang, untuk menjamin anak cucu dan agar ada alasan untuk kumpul-kumpul dan pusat informasi. Alasan anggota kelompok tani menyetujui untuk melaksanakan kegiatan konservasi tanah dan air secara rinci disajikan pada Tabel 23.

Tabel 23. Alasan Anggota Kelompok Tani Menyetujui untuk Melaksanakan Kegiatan KTA

Jumlah No Alasan setuju melaksanakan kegiatan KTA

n %

1 Agar tidak longsor 41 25,6

2 Dapat diambil manfaat buah dan kayunya 26 16,1

3 Agar alam tetap lestari 18 11,2

4 Agar tersedia air yang cukup 11 6,8

5 Agar tidak banjir 10 6,2

6 Agar ada alasan kumpul dan pusat informasi 10 6,2

7 Agar tidak erosi 9 5,6

8 Agar tidak gersang 8 4,9

9 Agar tidak kering pada musim kemarau 7 4,4

10 Agar tanah tetap subur 6 3,7

11 Untuk berteduh 3 1,9

12 Daripada tanah kosong 2 1,2

13 Takut dimarahi oleh ketua kelompok 2 1,2

14 Untuk menghindari datangnya musibah 2 1,2 15 Agar bisa tetap menanam sayuran pada musim

kemarau 2 1,2

16 Agar ada resapan air 2 1,2

17 Untuk kebaikan anak cucu 2 1,2

T o t a l 161 100,0

Sebagaimana sumber informasi pengetahuan KTA, yang sebagian besar berasal dari ketua/sesama petani, sumber untuk memperoleh keterampilan persemaian tanaman kayu-kayuan dan buah-buahan ternyata sebagian besar (59,4 persen) juga berasal dari ketua/sesama petani, sedangkan dari penyuluh sekitar 14,8 persen. Berdasarkan data ini dapat diketahui bahwa peran penyuluh sudah mulai digantikan oleh para ketua kelompok atau para petani kader (farmer to farmer extension).

Keefektifan kelompok tani juga dapat dilihat dari keterampilan yang diwujudkan dalam bentuk keragaan kegiatan KTA para anggota kelompok tani yang disajikan pada Tabel 24. Jumlah kayu-kayuan yang ditanam oleh anggota

kelompok tani di lahan yang mereka kuasai rata-rata menanam 285 pohon per orang/ha. Hal ini berarti rata-rata penutupan lahan per pohon sekitar 35 meter persegi. Saat ini memang pohon-pohon tersebut sebagian baru di tanam dan sebagian lagi berumur satu sampai dua tahun. Jika pohon-pohon tersebut tumbuh dengan baik, maka lima sampai sepuluh tahun yang akan datang akan terjadi penutupan lahan yang cukup baik di kawasan kelompok tani yang diteliti.

Tabel 24. Keragaan Kegiatan KTA yang dilaksanakan oleh Kelompok Tani Berdasarkan Jenisnya

Jenis Kegiatan KTA N Minimum Maksimum Rata-rata

Jumlah tanaman kayu-kayuan yang ditanam di lahan anggota kelompok tani (pohon/ha)

161 10,00 2500,00 285,26

Persentase lahan miring di lahan anggota kelompok tani (%)

99 0,00 100,00 63,27

Persentase bibir teras yang ditanami rumput (%)

40 5,00 100,00 45,13 Jumlah drop structure yang

dibangun anggota kelompok di Saluran Pembuangan Air (SPA) pada lahan miring (unit/orang)

94 0,00 10,00 2,12

Jumlah sumur resapan yang dibangun anggota kelompok (unit/orang)

68 0,00 500,00 19,08

Luas lahan yang dikuasi anggota kelompok tani yang dibiarkan gundul (ha/orang)

69 0,00 0,50 0,02

Luas lahan yang dikuasi anggota kelompok tani yang longsor karena tidak dikonservasi (ha/orang)

56 0,00 0,00 0,00

Luas lahan yang dikuasi anggota kelompok tani yang bibir terasnya ditanami ketela pohon (ha/orang)

94 0,00 0,60 0,05

Data kerapatan tegakan di atas tidak dibedakan pada kemiringan berapa persen, namun jika didekati dengan data kemiringan lahan yang disajikan pada Tabel 25 dan jumlah tegakan yang ideal pada Tabel 26. maka kerapatan tegakan pada daerah penelitian ini termasuk dalam kategori jarang. Hal ini disebabkan

sebagian besar lahan di daerah penelitian pada umumnya memiliki kemiringan antara 25-40 persen dan di atas 40 persen (Tabel 25). Dengan demikian jumlah tegakan sebanyak 285 pohon per ha pada lahan tersebut, jika dibandingkan dengan jumlah tegakan yang seharusnya (Tabel 26) maka termasuk kategori jarang. Kategori jenis kerapatan tegakan pada setiap jenis kemiringan lahan disajikan pada Tabel 26, sedangkan gambaran umum kemiringan dan tegakan yang ada pada daerah penelitian disajikan pada Gambar 9.

Tabel 25. Luas Wilayah Penelitian berdasarkan Kelas Lereng

Kelas Lereng No Desa Luas (Ha) 0-3 % 3-8 % 8-15 % 15-25 % 25-40 % >40 % 1. Batu Layang 196,0 0,0 36,0 78,1 67,5 0,0 14,4 2. Tugu Utara 1.220,5 0,0 110,4 99,1 92,8 117,4 800,8 3. Tugu Selatan 1.352,2 0,0 163,9 189,4 13,7 118,5 766,7 4. Citeko 526,6 51,6 102,0 113,6 63,7 77,5 118,1 Sumber: BRLKT Citarum-Ciliwung (2000)

Gambar 9. Kerapatan Tegakan dan Kemiringan Lahan di Daerah Penelitian

Keadaan penutupan lahan yang demikian perlu ditingkatkan terus, mengingat lahan di daerah penelitian kebanyakan memiliki kelas lereng di atas 40 persen. Sesuai dengan kaedah konservasi tanah dan air yang dianjurkan, pada lahan yang memiliki kelas lereng demikian sebaiknya ditanami kayu-kayuan, sedangkan daerah yang kelas lerengnya antara 25 - 40 persen sebaiknya ditanami kombinasi antara buah-buahan dan kayu-kayuan (DPKT, 1996).

Tabel 26 Jumlah Tegakan yang Direkomendasikan berdasarkan Kelas Kemiringan Lahan

Kategori

kerapatan tegakan Kemiringan lahan (%)

Jumlah tegakan

(batang per ha) Keterangan

< 25 100 – 200 25 - 40 200 – 400 Jarang > 40 400 – 800 < 25 200 – 400 25 - 40 400 – 800 Sedang > 40 800 – 1.600 < 25 400 – 500 25 - 40 800 – 1.000 Rapat > 40 1.600 – 2.000 Jarak tanam tanaman tahunan 2 x 2.5m, jika tanaman tahunan (kayu-kayuan) diganti dengan tanaman buah-buahan harus dikoreksi dengan faktor koreksi 0,12

Kelompok tani juga memiliki keefektifan yang tinggi dalam melakukan penanaman rumput di bibir teras, karena lebih dari sepertiga teras (45,13 persen) telah ditanami rumput. Hanya sedikit lahan yang dibiarkan gundul (rata-rata 0,02 ha per orang) dan hampir tidak ada lahan yang dibiarkan longsor.

Keefektifan kelompok tani juga terjadi pada kegiatan konservasi sipil teknis seperti sumur resapan dan drop structure (konstruksi yang dibuat dari batu/bambu/kayu/gebalan rumput, untuk memperlambat kekuatan aliran permukaan). Rata-rata pembangunan sumur resapan adalah 19 buah per orang. Hal ini terjadi karena di kelompok tani yang diteliti ada seorang tokoh yang bernama BDR yang sangat ahli dan rajin mambangun sumur resapan sekalipun di lahan yang bukan ia kuasai. Ia rajin menganjurkan kepada para pendatang yang membuat vila agar membuat sumur resapan, dan BDR tidak keberatan untuk membuatkan sumur resapan di pekarangannya dengan biaya dari pemilik villa tersebut. Adapun untuk drop structure, anggota kelompok tani rata-rata membangun drop structure sebanyak dua buah per anggota kelompok tani.

Hubungan Antar Variabel yang Diteliti

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya komunikasi seorang pemimpin kelompok tani berhubungan dengan tingkat keefektifan kelompok tani. Jika gaya komunikasi diterapkan dengan tepat maka akan meningkatkan tingkat keefektifan kelompok tani. Gaya komunikasi yang diterapkan oleh pemimpin kelompok tani, berkaitan dengan tingkat partisipasi, gaya komunikasi anggota, tingkat pendapatan dan jenis pekerjaan anggota kelompok tani. Pemimpin kelompok tani akan cenderung bergaya komunikasi dua arah (convergence) jika anggota kelompok tani berpartisipasi tinggi, bergaya komunikasi dua arah dan memiliki tingkat pendapatan tinggi serta tingkat keterampilan pekerjaan yang tinggi.

Gaya komunikasi pemimpin kelompok tani juga berhubungan dengan tingkat kedewasaan anggota. Semakin tinggi tingkat pemahaman anggota kelompok tani terhadap tujuan kelompok, kekompakan anggota dalam berkelompok, tingkat inisiatif dan tingkat komitmen anggota kelompok tani dalam menjalankan kegiatan KTA, akan mendorong pemimpin kelompok tani untuk cenderung menggunakan gaya komunikasi dua arah (convergence). Tingkat kedewasaan anggota kelompok tani berhubungan dengan tingkat pendapatan, tingkat partisipasi dan tingkat penguasaan lahan anggota kelompok tani. Semakin tinggi tingkat pendapatan dan partisipasi anggota kelompok tani, menjadikan anggota kelompok tani semakin dewasa. Sebaliknya semakin tinggi tingkat penguasaan lahan anggota kelompok tani justru mengakibatkan kelompok tani kurang dewasa. Hal ini disebabkan, jika anggota kelompok mampu menguasai lahan yang semakin luas, ia merasa kurang perlu berkelompok karena merasa dirinya telah mandiri. Sikap yang demikian justru berimplikasi pada munculnya perilaku yang kurang dewasa dalam berkelompok. Sebab fakta di lapangan tidak akan ada seorangpun yang betul-betul mandiri dalam arti yang sebenarnya Hubungan antar variabel penelitian disajikan pada Gambar 11.

Berdasarkan data yang telah diuraikan sebelumnya, diketahui bahwa karakteristik anggota kelompok tani yang diteliti bercirikan masyarakat yang paternalistik, para pemimpin kelompok tani sebagian besar (67,7 persen) menerapkan gaya komunikasi berbasis linier (linier dan linier-relational) dan tingkat keefektifan kelompok tani cukup tinggi. Data ini setelah dianalisis secara statistik menunjukkan hubungan-hubungan yang nyata satu dengan lainnya, sebagaimana digambarkan pada Gambar 11. Hal ini berarti gaya komunikasi

pemimpin kelompok yang linier tepat diterapkan pada situasi anggota kelompok tani yang paternalistik (non partisipatif), karena dengan gaya seperti tersebut ternyata mampu menghantarkan pada terbentuknya kelompok yang efektif dalam melaksanakan kegiatan KTA. Secara rinci hubungan antar variabel yang diteliti diuraikan pada sub-sub bab berikut.

Hubungan antara Karakteristik dan Tingkat Kedewasaan Anggota Kelompok Tani

Sebagaimana disajikan pada Gambar 11 beberapa variabel karakteristik anggota kelompok tani yang berhubungan dengan tingkat kedewasaan anggota kelompok tani adalah (1) tingkat pendapatan; (2) tingkat penguasaan lahan dan (3) tingkat partisipasi anggota kelompok tani. Semakin tinggi tingkat pendapatan dan partisipasi anggota kelompok tani, semakin tinggi tingkat pemahaman anggota kelompok tani terhadap tujuan kelompok, tingkat kekompakan, tingkat inisiatif dan tingkat komitmen mereka dalam menjalankan kegiatan KTA (tingkat kedewasaan yang tinggi).

Terdapat kecenderungan bahwa jika tingkat penguasaan lahan anggota kelompok tani tinggi, maka semakin rendah tingkat pemahaman anggota kelompok terhadap tujuan kelompok, tingkat kekompakan, tingkat inisiatif dan tingkat komitmen mereka dalam menjalankan kegiatan KTA (tingkat kedewasaan yang rendah). Hal ini disebabkan anggota kelompok yang mampu menguasai lahan yang luas, mereka merasa kurang perlu berkelompok karena merasa dirinya telah mandiri. Sikap yang demikian berimplikasi pada munculnya perilaku yang kurang dewasa dalam berkelompok. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak akan ada seorangpun yang betul-betul mandiri dalam arti yang sebenarnya. Bagaimanapun mereka pasti memerlukan satu dengan yang lainnya, oleh karena itu harusnya mereka bersikap lebih kooperatif.

Hubungan antara Karakteristik Anggota Kelompok Tani dan Gaya Komunikasi Pemimpin Kelompok Tani

Karakteristik anggota kelompok tani yang berhubungan dengan gaya komunikasi pemimpin kelompok tani sebagaimana digambarkan pada Gambar 11

ada empat yaitu: (1) tingkat pendapatan; (2) tingkat partisipasi anggota; (3) gaya komunikasi anggota dan (4) jenis/keterampilan pekerjaan anggota kelompok tani. Semakin tinggi tingkat pendapatan dan partisipasi anggota maka pemimpin cenderung bergaya komunikasi convergence terhadap mereka. Peningkatan pendapatan anggota kelompok tani akan semakin meningkatkan rasa percaya diri anggota untuk mengemukakan pendapat. Hal ini mendorong pemimpin kelompok tani menyesuaikan diri dengan menerapkan gaya komunikasi dua arah (relational atau convergence). Demikian pula jika partisipasi anggota kelompok tani meningkat maka akan memicu pemimpin untuk menerapkan gaya komunikasi dua arah (convergence) juga. Bentuk hubungan yang sama terjadi jika gaya komunikasi anggota semakin convergence, maka pemimpin kelompok tani juga semakin bergaya komunikasi convergence.

Pemimpin juga cenderung bergaya komunikasi convegence ketika para anggota kelompok tani memiliki jumlah pekerjaan lebih dari satu dan pekerjaan tambahan tersebut memerlukan keahlian/keterampilan khusus. Pekerjaan anggota kelompok tani mayoritas sebagai petani dengan tingkat keterampilan yang rendah, sehingga pada umumnya mereka lebih bersifat menunggu perintah ketua kelompok dalam menjalankan kegiatan KTA. Pemimpin kelompok tani menerapkan gaya komunikasi yang linier ketika berhadapan dengan anggota kelompok tani yang demikian ini. Namun pemimpin kelompok tani berubah menerapkan gaya komunikasi convergence jika menghadapi anggota kelompok tani yang memiliki jenis pekerjaan tambahan selain sebagai petani dan pekerjaan tersebut memerlukan keahlian/keterampilan khusus. Anggota kelompok tani yang demikian lebih dewasa dalam bertindak dan pada umumnya lebih memiliki

keberanian untuk mengemukakan pendapat. Kondisi yang demikian memicu pemimpin kelompok tani untuk menerapkan gaya komunikasi yang sesuai yaitu convergence.

Hubungan antara Tingkat Kedewasaan Anggota Kelompok dan Gaya Komunikasi Pemimpin Kelompok Tani

Gambar 11 juga menunjukkan hubungan antara gaya komunikasi yang diterapkan pemimpin kelompok tani dengan tingkat kedewasaan anggota kelompok tani, yang dicerminkan oleh bagaimana tingkat pemahaman anggota kelompok tani terhadap tujuan kelompok, tingkat kekompakan, tingkat inisiatif dan tingkat komitmen anggota kelompok tani dalam menjalankan kegiatan KTA. Apabila tingkat pemahaman terhadap tujuan kelompok, kekompakan, inisiatif dan komitmen anggota kelompok tani dalam menjalankan kegiatan KTA membaik maka pemimpin kelompok tani akan cenderung menggunakan gaya komunikasi dua arah (convergence).

Keadaan sedikit berbeda pada Kelompok Tani Bunga Wortel. Pada tingkat kedewasaan anggota kelompok tani yang rendah pemimpin kelompok tani cenderung menerapkan gaya komunikasi convergence. Namun demikian, kecenderungan ini tidak begitu besar mengingat 45 persen anggota Kelompok Tani Bunga Wortel menilai bahwa pemimpin kelompoknya bergaya komunikasi dengan basis linier. Hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa pemimpin kelompok tani tersebut (RH, 50 tahun) cukup senior sehingga memiliki otoritas yang kuat dalam kelompok tersebut karena ia telah memimpin kelompok tani tersebut sejak tahun 1983.

Hubungan antara Gaya Komunikasi Pemimpin Kelompok Tani dan Keefektifan Kelompok Tani

Hubungan antara keefektifan kelompok tani dalam menjalankan kegiatan KTA dengan gaya komunikasi pemimpin kelompok tani juga terlihat pada Gambar 11. Apabila gaya komunikasi yang diterapkan oleh pemimpin kelompok tani semakin convergence (dua arah) maka kelompok tani akan semakin efektif dalam melaksanakan kegiatan KTA. Pada saat pemimpin kelompok tani menerapkan gaya komunikasi convergence, berarti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan serta evaluasi kegiatan KTA dilakukan secara komunikasi dua arah dengan melibatkan seluruh anggota secara partisipatif. Dengan langkah tersebut, anggota mendapatkan pengetahuan tentang kegiatan KTA yang memadai baik yang diperoleh dari sesama anggota maupun dari pemimpin kelompok tani, lalu tumbuh sikap yang positif terhadap kegiatan KTA, kemudian terdorong untuk menekuni teknik-teknik KTA agar bisa terampil dalam melakukan kegiatan KTA. Keadaan tersebut memuaskan kelompok tani bergabung dalam kelompok tani yang pemimpinnya menerapkan gaya komunikasi convergence, dan hal ini mendorong kelompok tani efektif dalam menjalankan kegiatan KTA.

Namun terjadi perkecualian pada Kelompok Tani Bunga Wortel, semakin convergence gaya komunikasi yang diterapkan oleh pemimpin, kelompok tani justru kurang efektif dalam menjalankan kegiatan KTA. Hal ini disebabkan karena anggota Kelompok Tani Bunga Wortel telah terbiasa dengan gaya komunikasi pemimpin yang linier (searah) sebagai dampak negatif atas kesenioran pemimpin kelompok yaitu RH yang telah memimpin Kelompok Tani Bunga Wortel sejak awal berdinya kelompok pada tahun 1983. Ketika pemimpin

kelompok tani menerapkan gaya komunikasi convergence (dua arah) maka anggota kelompok tani justru tidak siap meresponnya, mengingat mayoritas (72 persen) anggota kelompok tersebut memiliki tingkat kedewasaan yang rendah.

Mencermati kecenderungan (trend) hubungan antar variabel yang telah diuraikan sebelumnya, terlihat bahwa kecenderungan hubungan tersebut menyerupai kecenderungan hubungan gaya kepemimpinan situasional dengan tingkat kedewasaan anggota kelompok tani yang dipimpim. Pada gaya kepemimpinan situasional, gaya yang diterapkan sang pemimpin menyesuaikan dengan tingkat kedewasaan anggota kelompok tani yang dipimpim.

Pada gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas (telling), pemimpin cenderung berkomunikasi secara linier (searah), dan menempatkan para anggota kelompok tani sebagai komunikan dan pemimpin kelompok tani sebagai komunikator. Sedangkan seorang pemimpin kelompok yang bergaya kepemimpinan selling, akan melakukan komunikasi secara kombinasi/berkisar antara linier dan relational. Sedangkan seorang pemimpin kelompok yang bergaya kepemimpinan participating akan melakukan komunikasi secara kombinasi/berkisar antara relational dan convergence. Adapun seorang pemimpin kelompok yang bergaya kepemimpinan delegating akan melakukan komunikasi secara convergence. Gaya kepemimpinan yang berimplikasi pada gaya komunikasi pemimpin di atas, secara diagram tampak seperti Gambar 12.