D. Manfaat Penelitian
2. Bermain Konstruktif Balok
a. Pengertian Bermain Konstruktif Balok
Bermain konstruktif balok merupakan salah satu jenis bermain yang menggunakan benda untuk membangun atau membentuk sesuatu.
Seefeld & Barbour (Suarti, 2014:142) menjelaskan bahwa “bermain konstruktif merupakan bermain yang bersifat membangun, yaitu bermain yang menggunakan bahan atau media untuk membuat suatu bentuk atau bangunan”. Lebih lanjut Suyanto (Susanti, 2014:4) mengatakan, “bermain merupakan kebutuhan bagi anak, karena melalui bermain anak akan memperoleh pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya.
Banyak hal yang dipelajari dan diperoleh anak melalui bermain.
Anak usia dini diharapkan menguasai berbagai konsep warna, ukuran, bentuk, pola, arah, sebagai acuan untuk belajar menulis, bahasa, matematika, dan ilmu pengetahuan lain. Pengetahuan akan konsep-konsep tersebut jauh lebih mudah diperoleh melalui kegiatan bermain. Anak usia dini dalam kegiatan mengenal pola yang berurutan akan lebih memahami dengan jelas apabila dilakukan dengan bermain konstruktif.
Hartini (Susanti, 2014:4) mengatakan bahwa bermain konstruktif adalah bermain yang dilakukan oleh anak meliputi merancang, membentuk, atau mengkonstruksi dengan kemampuan, minat dan kesenangannya sendiri berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya sendiri.
Dockett dan Fleer Sujiono, (2009:144) berpendapat bahwa bermain merupakan kebutuhan bagi anak, karena melalui bermain anak akan memperoleh pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya. Bermain merupakan suatu aktivitas yang menyenangkan dan sangat berbeda dengan aktivitas lain seperti belajar dan bekerja yang selalu dilakukan dalam rangka mencapai suatu hasil akhir.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan arti bermain merupakan bentuk kegiatan yang memberikan kepuasan pada diri anak yang bersifat menyenangkan, non serius, dan dapat meningkatkan kemampuan pengetahuan anak dalam memecahkan masalah secara imajinatif serta lebih ditekankan pada caranya dari pada hasil yang diperoleh dari kegiatan tersebut. Bermain juga mempunyai makna penting bagi perkembangan anak.
Frank (Isjoni, 2009: 88) mengemukakan ada tujuh nilai bermain bagi anak yakni:
1) Bermain membantu pertumbuhan anak
2) Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela 3) Bermain memberi kebebasan anak untuk bertindak
4) Bermain memberikan dunia khayal yang dapat dikuasai. Bermain merupakan unsur berpetualang di dalamnya
5) Bermain meletakkan dasar pengembangan bahasa
6) Bermain mempunyai pengaruh yang unik dalam hubungan antar pribadi 7) Bermain memberi kesempatan untuk menguasai diri secara fisik
b. Jenis-Jenis Bermain Konstruktif
Bermain konstruktif dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain bermain plastisin, membuat konstruksi, meniru konstruksi, proyek dekorasi dan bermain geometri. (Ferlin, 2014: 67):
1) Bermain Plastisin
Bermain plastisin merupakan kegiatan menciptakan bentuk-bentuk tertentu dengan menggunakan plastisin. Kegiatan ini bertujuan untuk merangsang kemampuan anak dalam membuat konstruksi dengan bahan yang elastis. Kegiatan ini merupakan awal pengembangan seni patung, dan dapat dilakukan melaui proyek dan permainan.
2) Membuat Konstruksi
Kegiatan membuat konstruksi merupakan kegiatan bermain konstruksi secara bebas. Kegiatan ini bertujuan merangsang kemampuan untuk membuat konstruksi secara mandiri. Segala imajinasi dan kreativitas anak akan tercurah untuk membuat konstruksi.
3) Meniru konstruksi
Kegiatan meniru konstruksi bertujuan merangsang kemampuan anak membentuk suatu konstruksi berguna tertentu. Peniruan dimaksudkan sebagai model yang selanjutnya akan menstimulasi anak membuat sendiri desain konstruksi. Kegiatan dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, berikan contoh gambar konstruksi sederhana pada anak (permainan konstruksi biasanya disertai dengan contoh gambar konstruksi).
4) Proyek
Dekorasi Proyek dekorasi merupakan kegiatan bermain yang menghasilkan karya, yang perlu dirancang dan dilaksanakan secara bersama-sama. Kegiatan ini dikategorikan sebagai kegiatan konstruksi karena memerlukan kreasi rancang-cipta dalam berbagai tahapnya.
5) Bermain Geometri
Bermain geometri merupakan kegiatan eksploratif terhadap bangun geometri dan penyusunannya. Kegiatan ini bertujuan merangsang kepekaan anak terhadap unsur bangun pokok konstruksi. Dengan kegiatan ini anak-anak dituntut kreatif membuat konstruksi sederhana dengan bangun pokok, yakni bangun geometri.
c. Manfaat Bermain Konstruktif
Menurut Tedjasaputra (Susanti, 2014:5-6) manfaat yang diperoleh dengan bermain konstruktif antara lain anak menguasai berbagai konsep dasar, mengembangkan kemampuan anak untuk berdaya cipta (kreatif), melatih motorik halus, melatih konsentrasi, ketekunan, dan daya tahan. Bermain selain bermanfaat untuk perkembangan fisik, kognitif, sosial emosional dan moral, bermain juga mempunyai manfaat yang besar bagi perkembangan anak secara keseluruhan.
Montolalu, dkk (2011:22) menguraikan satu per satu manfaat bermain bagi anak dengan harapan dapat memunculkan gagasan-gagasan baru bagi guru untuk memanfaatkan kegiatan bermain dalam menyusun program pengembangan yang sesuai di TK:
1) Bermain memicu kreativitas bermain memicu anak untuk menemukan ide-ide sertameggunakandayahayal dan pikirnya.
2) Bermain bermanfaat mencerdaskan otak bermain membantu perkembangan kognitif anak.
3) Bermain bermanfaat menanggulangi konflik pada anak usia dini tingkah laku yang sering muncul adalah tingkah laku menolak, bersaing, agresif, bertengkar, meniru, kerjasama, egois, simpati, marah, ngambek, dan berkeinginan untuk diterima oleh lingkungan sosial mereka.
4) Bermain bermanfaat untuk melatih empati-empati merupakan suatu faktor yang berperan dalam perkembangan sosial anak karena dengan empati, anak akan pandai menempatkan dirinya dan perasaannya pada diri dan perasaan orang lain dan akan mengembangkan tenggang rasa.
5) Bermain bermanfaat mengasah panca indra ketajaman penglihatan dan pendengaran sangat penting dan sangat dibutuhkan anak usia TK sehingga perlu segera dikembangkan karena akan membantu anak lebih mudah belajar mengenal dan mengingat bentuk simbol-simbol tulisan yang akan membantu anak belajar membaca dan menulis di SD
6) Bermain sebagai media terapi (pengobatan) bermain sebagai alat diagnosis mengobati anak yang bermasalah, yang dikenal di kalangan para ahli dengan Terapi Bermain. Namun, tidak semua orang dapat melakukannya karena ini memerlukan keahlian khusus dari mereka yang mendapat pendidikan dan pelatihan khusus untuk itu.
Mulyadi (Vebianti, 2013:25) mengatakanada beberapa manfaat yang diperoleh dari permainan konstruktif, yaitu :
1) Manfaat fisik bermain konstruktif membantu anak mematangkan motorik kasarnya dan melatih keterampilan anggota tubuhnya.
2) Manfaat edukatif melalui permainan dengan alat-alat, anak dapat mempelajari hal-hal baru yang berhubungan dengan bentuk, warna, ukuran, dan tekstur suatu benda.
3) Manfaat kreatif bermain konsruktif memberikan kesempatan pada anak untuk dapat bereksperimen dengan gagasan-gagasan atau penemuan barunya, baik dengan menggunakan alat bermain ataupun tidak.
d. Langkah-Langkah Bermain Konstruktif Balok
Sebelum Bermain konstruktif Balok ada langkah-langkah yang harus dilakukan oleh anak menurut (Yuningsih, 2005:29) yaitu sebagai berikut:
1) Berikan setiap anak waktu yang cukup (minimal 60 menit untuk membangun dan waktu main), lantai yang luas, dan bahan-bahan untuk melengkapi pembangunan mereka.
2) Bebaskan anak untukbermain Bersama temanya.
3) Mencontohkan komunikasi yang tepat melalui percakapan individual mengenai bangunan anak
4) Meningkatkan kesempatan sosialisasi melalui dukungan terhadap hubungan teman sebaya.
5) Mengamati dan mendokumentasikan perkembangan dan kemajuan pembangunan anak
e. Permainan Konstruktif Balok
Bermain konstruktif Balok adalah kegiatan yang menggunakan berbagai benda yang ada untuk menciptakan suatu hasil karya tertentu seperti menggambar menciptakan sesuatu dari lilin mainan, menggunting dan menempel kertas atau kain, menyusun atau plastik menjadi bentuk tertentu. Menurut Johnson (2018: 76)
“anak usia 4 tahun yang berada di TK atau pun TPA menghabiskan lebih dari separu waktunya untuk melakukan kegiatan bermain konstruktif.”
Kegiatan bermain konstruktif balok merangsang kreativitas serta imajinatif anak, anak harus membayangkan bentuk yang akan dibuat, cita rasa seni dibutuhkan sehingga hasilnya enak dilihat keterampilan motorik halus juga akan terasa melalui aktivitas dari kegiatan bermain ini, ketekunan serta konsentrasi diperlukan melalui bermain konstruktif dan saat erat dengan berbagai manfaat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam bermain konstruktif menurut Johnson (2018:88) sebagai berikut:
1) Anak perlu diberikan kesempatan untuk mau melakukannya. Mengingat setiap anak adalah unik maka sangat besar kemungkinannya pada anak yang tidak menyukai bermain konstruktif, maka tugas orang dewasa adalah dengan sabar membujuk dan mengiringi anak agar mau melakukannya.
2) Mengingat perkembangan kognitif anak berada pada tahap pra operasional dengan ciri egosentris maka sangat dimungkinkan hasil karya anak bila ditinjau dari bentuknya akan sangat kurang atau tidak sesuai dengan tema yang ia sebutkan.
3) Ada anak yang unggul dalam kegiatan bermain yang satu tapi kurang unggul dalam kegiatan barmain lainnya. Permainan konstruktif tak dapat dilakukan
oleh seluruh anak. Permainan yang biasa dilakukan seorang anak dalam setiap hari berdasar tingkatan umur.
Pada anak Usia Dini kemampuan bermain Konstruktif balok terdeteksi melalui indikator menurut Johnson, (2018: 37) sebagai berikut:
1) Anak mampu mengenal berbagai bentuk bermain konstruktif 2) Anak memiliki daya imajinasi yang kuat
3) Anak dapat menggunakan fisik motoriknya dengan baik
4) Anak memiliki daya ingat yang kuat sehingga dapat membuat bangunan sesuai dengan pengalaman nyata.
5) Anak mampu berinteraksi dengan teman dan juga guru B. Penelitian Relevan
Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini. Penelitian tersebut terdiri dari beberapa judul yaitu:
1. Ni Komang Ari Citra Dewi, Skripsi tahun 2016 Dengan judul Penerapan permainan konstruktif pada Kubus untuk meningkatkan Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri anak taman kanak-kanak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri melalui penerapan permainan konstruktif pada Kubus pada anak Kelompok B3 TK WidyaSanthi Denpasar Semester II Tahun Pelajaran 2015/2016 sebesar 20,67%. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan rata-rata persentase Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri anak pada siklus I sebesar 67,75% dengan kriteria sedang menjadi sebesar 88,42% pada siklus II yang berada pada kriteria tinggi. Dengan demikian penerapan permainan
konstruktif pada Kubus dapat meningkatkan Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri anak kelompok B3 TK WidyaSanthi Denpasar Semester II Tahun Pelajaran 2015/2016.30.
Persamaan penelitian ini Komang Ari Citra Dewi dengan penelitian ini adalah sama-sama bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri. Sedangkan perbedaan penelitian ini dengan penelitian DwiNovian iadalah penelitian ini lebih menitik beratkan pada permainan konstruktif balok sedangkan dalam penelitian ini Komang Ari Citra Dewi menitik beratkan pada metode melalui permainan konstruktif pada Kubus 2. Parlina, lia. 2017. Meningkatkan Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri
dalam Mengenal Warna melalui Bermain Penjepit Baju Pada Anak Kelompok A Paud Al-Hasanah Jambi: Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Pendikan Anak Usia Dini, FKIP Universitas Jambi. Subjek dalam penelitian ini adalah anak usia 4-5 tahun yang berjumlah 13 anak di Paud Al-hasanah Jambi, Tahun pelajaran 2016/2017. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas.
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk meningkatkan Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri dalam Mengenal Warna melalui Bermain Penjepit Baju. Penelitian ini dilakukan secara kolaboratif antar peneliti dengan guru kelas. Sesuai dengan Hipotesis tindakan pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode bermain penjepit baju pada anakkelompok A Paud Al-Hasanah Jambi kemampuan kognitif anak dalam mengenal warna dapat meningkat. Hasil penelitian menunjukan Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri anak dalam mengenal warna melalui bermain penjepit baju, yakni
sebelum tindakan 26,02 % Siklus I 45,76 %dan siklus II mencapai 90,44%.
Sesuai dengan indikator keberhasilan 80 % maka penelitian tindakan kelas ini di anggap berhasil mengembangkan Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri anak dalam mengenal warna.
Persamaan penelitian Parlina, Iia dengan penelitian ini adalah sama-sama bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri. Sedangkan perbedaan penelitian ini dengan penelitian DwiNovian iadalah penelitian ini lebih menitik beratkan pada permainan konstruktif balok sedangkan dalam penelitian Parlina, Iin menitik beratkan pada metode melalui Bermain Penjepit Baju
Berdasarkan penelitian yang relevan di atas, terlihat jelas dengan menggunakan metode permainan konstruktif balok dapat meningkatkan Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri anak. Maka dari itu peneliti menggunakan metode permainan konstruktif untuk meningkatkan Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri anak usia dini.