PENDIDIKAN SPIRITUAL METODE SAHABAT NABI
F. Bermain Sambil Belajar
Dunia anak adalah dunia bermain. Orang tua harus me mahami bahwa permainan adalah dunianya. Jangan membatasi dirinya untuk tidak bermain dengan alasan apa pun atau bahkan me larangnya sama sekali. Sekedar untuk mengatur porsi ber main dan belajar mungkin masih bisa dimaklumi, namun membatasinya sama sekali dari bermain atau permainan adalah hal yang salah. Karena permainan adalah fitrahnya dan si anak belajar dari dunianya sendiri, yaitu bermain. Jangan sampai orang tua bilang, “kerjaanya main terus” atau “setiap hari banyak main, kapan belajarnya”, lantas kemudian membatasi atau bahkan melarangnya sama sekali.
Orang tua sering berdalih bahwa bermain itu buruk dan bergaul dengan temanteman lingkungan untuk bermain bersama itu juga buruk. Mereka melakukan itu karena lebih memilihkan si anak untuk belajar di rumah atau takut terpengaruh oleh perilaku anakanak lainnya yang buruk. Sehingga kemudian si anak dikurung di dalam rumah dengan disediakan mainan yang banyak dan tontonan televisi yang kurang mendidik. Padahal, justru bila si anak diperlakukan seperti itu, ia akan menjadi anak yang kemampuan sosialnya kurang bisa berkembang.
Membatasi atau melarang anak untuk tidak bermain justru malah buruk bagi perkembangan psikis dan fisiknya. Nabi shalallahu alaihi wasallam sudah memahami hal tersebut ratusan abad yang lalu. Beliau tidak pernah melarang anak anaknya bermain bahkan mempersiapkan permainan khusus yang bisa mengasah kemampuan fisik dan pikirannya. Al Ghazali juga memandang penting permainan sebagai bagian dari tak terpisahkan bagi anak kecil. Bahkan, menurutnya, melarang anak untuk tidak bermain sama saja mematikan hatinya,
mengganggu kecerdasan dan perkembangan pertumbuhannya.
“Bermain bagi seorang anak adalah sesuatu yang sangat penting. Sebab melarangnya dari bermainmain seraya memaksakannya untuk belajar terus menerus dapat mematikan hatinya, mengganggu kecerdasannya dan merusak irama hidupnya,” begitu kata AlGhazali.
Karena dunia anak adalah dunia bermain, maka sebaiknya anak memang disarankan agar mereka bermainmain saja dengan memasukkan unsurunsur pendidikan di dalamnya. Hal ini akan membuat si anak tidak merasa bosan ketika belajar atau mereka tidak sadar sedang belajar, padahal pekerjaannya adalah bermainmain. Oleh sebab itu, sudah sewaktunya para orang tua menjadikan bermain atau mainan sebagai acuan dasar dalam menanamkan nilainilai pendidikan bagi anaknya. Jangan melulu mengajari si anak dengan nilainilai pendidikan secara langsung tanpa memasukkan media penting di dalamnya yaitu bermain/permainan/ alat permainan.
Melalui bermain sesungguhnya anak dapat merangsang perkembangan kepribadian dan potensi diri. Inilah yang oleh nabi dan para sahabat ditekankan untuk dilakukan oleh anakanak. Karenanya, para sahabat nabi menyuguhkan aneka per main an yang bisa membangun kepribadian sekaligus potensi diri si anak sehingga menjadi pribadi yang kuat dan skill mumpuni. Di antara permainan yang dilakukan pada masa nabi adalah seperti me nunggang kuda (menyetir), berenang, dan memanah (me nem bak) sebagaimana yang terdapat di dalam atsar. Per mainan lainnya juga bisa diberikan dengan jenis permainan yang dapat menumbuhkan kemampuan otak seperti kemahiran, keahlian dan menumbuhkan kecerdasan.
Beberapa kisah permainan yang disuguhkan kepada anak dari para sahabat nabi terdapat dalam hadits dan atsar.
Dari Muhammad Ibn Abdullah Ibn Abi Ya’kub, dari Abdullah Ibn Syaddad Ibn alHadi Ibn Abihi: “Nabi shalallahu alaihi
bahunya menggendong Umamah putri alÂsh. Beliau pun shalat. Ketika rukuk anak itu diletakkannya, jika bangkit anak itu diangkatnya.” (HR. Bukhari).
Ibnu Hajar berkata: “Sebahagian mengambil faedah dari hadits ini betapa besarnya kadar kasih beliau kepada anak. Merupakan dilema antara berupaya menjaga kekusyuan dan menjaga kenyamanan anak, tetapi beliau mendahulukan yang kedua. Yang dilakukan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bisa
juga untuk menjelaskan kebolehan.” 165
Abu Qotadah radiallahu’anhu berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengimami kami pada salah satu shalat isya sambil membawa Hasan atau Husain. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam maju mengimami dan meletakkan cucunya. Kemudian bertakbir memulai shalat dan melaksanakannya. Selama berlangsungnya shalat ada sujud yang begitu panjang.
Ubay berkata: ‘Aku mengangkat kepalaku. Ternyata ada anak kecil yang tengah memanjat di punggung Rasulullah yang sedang sujud. Aku pun kebali kepada sujudku. Setelah Ra sulullah shalallahu alaihi wasallam menyelesaikan shalatnya, orangorang berkata:
“Wahai Rasulullah engkau sujud dalam salatmu begitu lama sehingga kami mengira terjadi sesuatu atau tengah turun ayat?”
Nabi berkata:
“Semua itu tidak terjadi. Hanya cucuku yang sedang menaiki punggungku. Aku tidak suka mengusiknya sampai dia selesai dari hajatnya.” (HR. AnNasa’i)
Dalam hadits tersebut, kita mengetahui bahwa dalam urusan ibadah seperti ini Rasulullah sangat sayang kepada mereka sampaisampai membiarkan menyelesaikan permainannya. Bila nabi saja memberikan waktu dan perhatian yang lebih kepada anakanak dalam bermain meski dalam waktu ibadah, lalu bagaimana jika di luar ibadah? Tentu Nabi akan mendukung
penuh anakanak untuk bermain. Meski begitu, hendaknya permainan diarahkan kepada sesuatu yang akan menambah kemaslahatan untuk mengamalkan agama ini. Artinya, akan lebih baik bila dalam bermain, anakanak kita diarahkan pada permainan atau mainan yang bisa menambah ketaatan atau pengetahuannya tentang ajaran Islam.
Selain itu, permainan yang baik selain juga bisa membantu mengenalkan anak pada ajaran Islam, juga bisa mengembangkan kemampuan fisik dan potensi dirinya. Di sinilah pentingnya orang tua memilihkan jenis permainan kepada anakanaknya. Dengan pemilihan permainan yang tepat, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Orang tua juga jangan sampai sedih bila anaknya banyak bergerak untuk aktif bermain.
Banyak gerak dan tidak bisa diamnya anak bukanlah aib, kesalahan atau tingkah tidak terpuji. Sebaliknya, aktifnya anak bergerak justru memiliki banyak manfaat. Di antaranya me nambah kesehatan, kecerdasan dan keahlian anak sejalan dengan pertumbuhannya. Anak yang tidak bergerak, karena kejiwaan atau paksaan orang tua, akan berakibat pada ketidakstabilan anak, minder, takut, rendah diri atau kesehatan yang lemah, sebagai dampak dari perangai tersebut.