• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN SPIRITUAL METODE SAHABAT NABI

E. Menjadi Teladan

Keteladanan merupakan pendidikan yang efektif bagi anak­anak. Mereka belajar dari apa yang dilihat dan diprak tikkan­ nya di depan matanya. Inilah model belajar penting yang harus diperhatikan oleh kedua orang tua dalam mendidik anaknya menjadi karakter yang shalih. Seorang anak adalah orang yang

164Muhammad Ibn Muflih Ibn Muhammad Al­Maqdisî, 1999.

belajar tumbuh menjadi manusia dari apa yang bersentuhan dengannya, baik dilihat mauapun didengarnya. Artinya, tahapan belajar mereka adalah dari apa yang dilihatnya, didengar dan di­ teladankan kepadanya. Karenanya, jadilah teladan yang terbaik baik anak­anaknya.

Anak­anak butuh seorang teladan yang menjadi contoh dan idola dirinya. Karena seperti itulah mereka belajar. Maka kita sering menjumpai anak­anak kecil menirukan gaya dan perilaku dari si tokoh yang disenanginya tersebut. Terlebih tokoh­tokoh kartun yang ada di layar televisi, sebagaimana yang biasa mereka sering lihat. Kartun si A, si B atau si C. Bahayanya ada lah bila tokoh yang dicontohkan tersebut buruk, maka ia akan menirukan dan mengikuti sikap keburukan dari si tokoh tersebut. Masalahnya adalah tidak semua film­film kartun ter­ sebut meng hadirkan cerita dan film dengan tokoh kehidupan yang kita inginkan? Kebanyakan cerita dalam film tersebut buatan luar dan tidak mencerminkan nilai­nilai budaya Islami. Sebaliknya, mereka hidup dalam kehidupan dengan membawa budaya dan tradisi masyarakat di wilayahnya. Bagaimana jika masyarakat dalam wilayah tersebut bukan non Muslim atau tidak memiliki agama, maka nilai­nilai yang tertanam dan ditirukan oleh si anak bisa berbahaya.

Kita sering menjumpai anak­anak kita menirukan tokoh­ tokoh idolanya di film­film kartun. Ketika sering berdialog dengan orang tuanya atau ibunya, si anak sering menirukan gaya berbicara atau bahkan menjawab dengan jawaban yang seperti idolanya. Misalnya, anak ingin seperti idola si A, si B dan si lainnya di dalam film kartun. Jelas ini sangat berbahaya sekaligus menandakan pentingnya pendidikan teladan atau tokoh dalam diri si anak.

Pendidikan model teladan seperti ini sudah disadari oleh nabi shalallahu alaihi wasallami dan diajarkan kepada para sahabatnya. Nabi sendiri adalah teladan yang terbaik bagi umat dan anak­anak yang mengikutinya. Salah satu contoh pen­

ting dalam model pengajaran nabi kepada para sahabatnya adalah bahwa beliau tidak hanya menyuruh kepada kita untuk melakukan suatu hal tanpa beliau sendiri yang terlebih dahulu mempraktikan atau meneladankannya. Beliau tidak pernah memerintahkan kepada para sahabatnya, untuk bersedekah misalnya, tanpa beliau sendiri melakukannya. Bahkan, beliau senang melakukan sedekah. Inilah yang membedakan antara nabi shalallahu alaihi wasallam dengan kita. Setiap perintah dan amalan yang beliau anjurkan kepada umatnya, beliau terlebih dahulu meneladankannya. Bahkan, teladan beliau tidak ada yang bisa menandinginya. Bila beliau memerintahkan kepada umatnya untuk bersedekah, maka sedekah beliau tidak ada yang menandinginya.

Anak­anak kita butuh teladan seperti itu dalam tumbuh kem bang kehidupannya. Teladan yang seperti nabi tersebut langsung terlihat dan dilihat oleh para sahabat dan anak­anak dari para sahabat nabi, sehingga wajar bila mereka menjadi umat terbaik karena menirukan teladan terbaik sepanjang kehidupan. Setiap hari mereka bersama nabi, melihat dan bergaul dengan pemberi teladan terbaik, maka mereka pun menyerap ilmu dan akhlak teladan dari manusia terbaik. Jika kita bergaul dengan tukang pandai besi, maka kita akan terkena percikan api darinya meski kita tidak melakukannya. Namun bila kita bergaul dengan penjual parfum, meski kita tidak memilikinya dan membelinya, maka kita akan ikut harum karenanya.

Seperti itulah perumpamaan pergaulan kita di lingkungan masyarakat. Anak­anak kita pun bergaul di lingkungan keluarga juga belajar dari keteladan dari apa yang ditampilkan oleh anggota keluarganya, terutama orang tuanya. Maka sangat penting bagi kedua orang tua untuk mendidik anak dengan keteladannya. Artinya, jangan sampai kita menyuruh anak untuk melakukan shalat sementara kita sendiri tidak melakukannya. Jangan sampai kita menyuruh anak­anak untuk bersedekah namun kita sendiri enggan untuk melakukan atau mencontohkannya.

Pendidikan terbaik kepada anak adalah memberinya teladan secara langsung. Maka kita sering melihat bagaimana orang tua membawa anaknya yang masih kecil untuk ikut shalat berjamaah di masjid, membawanya ke pengajian, ke majlis ilmu dan al­Qur’an. Semua itu dilakukan agar anak bisa menirukan dan meneladani amalan ibadah yang dipraktikkan oleh orang tuanya. Bahkan, seorang anak yang masih kecil bisa menghafal al­Qur’an lantaran salah satu pengajarannya adalah sering diajak oleh ibunya untuk menghadiri majlis al­Qur’an dan hafalan bersama­sama di majlisnya.

Keteladanan para sahabat nabi ini juga dipraktikkan ketika Ibnu Abbas melihat nabi. Seperti yang dikisahkan oleh Kuraib, mantan budak Ibnu Abbas menceritakan bahwa Ibnu Abbas ­radiallahu’anhuma­ mengabarkannya bahwa dia bermalam di rumah bibinya, Maimunah, istri Nabi ­shalallahu alaihi wasallam:

“Aku berbaring pada bagian lebar tikar, sementara Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- berserta istrinya berbaring memenuhi panjang tikar hingga beliau -shalallahu alaihi wasallam- tertidur. Pada pertengahan malam, sebelum atau setelahnya sedikit beliau -shalallahu alaihi wasallam- bangun, mengusap wajahnya dari bekas tidur lalu membaca sepuluh ayat dari penutup surat Ali Imran. Setelah itu beliau beranjak menuju bejana yang tergantung dan berwudhu darinya dengan sebaik-baik wudhu, lalu melaksanakan shalat.”

Ibnu Abbas melanjutkan:

“Aku pun ikut bangun dan melakukan apa yang dilakukan Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-, kemudian berdiri di sampingnya (turut shalat). Namun kemudian Nabi meletakkan tangan kanannya di kepalaku dan memutarkanku (ke sebelah kanannya) dengan memegang telinga kananku. Kemudian shalat 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat, lalu shalat witir. Setelah itu beliau berbaring hingga datang muazin. Setelah muazin datang beliau shalat 2 rakaat ringan baru kemudian keluar melakukan shalat subuh”.

(HR. Bukhari).

Dalam kisah lain, Aisyah, Umul mukminin ­ra diallahu’an-ha­ berkata: “Aku tidak melihat seorang pun yang lebih mirip

ucapan dan perkataannya dengan Rasulullah ­shalallahu alaihi wasallam­ dari pada Fatimah.”