PENGEMBANGAN PENDIDIKAN SPIRITUAL KEAGAMAAN DAN
5. Pola Pengembangan Pendidikan Spiritual Keagamaan
Pola pengembangan pendidikan spiritual hampir mirip dengan polapola pengembangan biologis. Pola pendidikan spi ritual adalah perpaduan yang kompleks antara polapola ke jiwaan dan keadaankeadaan kesadaran batin yang tertanam secara genetik yang saling berjalin dalam persoalanpersoalan sosial, budaya dan sejarah.65
Dalam suatu lembaga pendidikan, pola pengembangan pendidikan spiritual merupakan wujud nyata dari pemahaman
64 Abdul Gafur, Desain Instruksional: Langkah Sistematis Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Belajar Mengajar (Solo: Tiga Serangkai, 1986), h. 46
65 Dean Hamer melukiskan polapola tersebut melalui metafora yang indah; jalinan pola yang padu antara jiwa dan pengalaman inilah yang membuat spiritualitas menjadi bagian yang begitu tahan lama dari tenunan kehidupan—sebuah permadani yang kaya, di mana alam adalah benang memanjangnya dan pendidikan adalah benang melebarnya. Lihat Dean Hamer, Gen Tuhan: Iman Sudah Tertanam dalam Gen Kita, terj. T. Hermaya (Jakarta: Gramedia, 2006) …h. 78
atas langkahlangkah yang harus ditempuh guna pencapaian tujuan. Sebagai hal yang terprogram, kurikulum berisi peren canaan yang ingin dicapai, tujuan, bahan yang akan diajarkan, pembelajaran, dan alatalat pembelajaran, yang semuanya perlu diintegrasikan dengan baik. Kurikulum dapat dianggap baik untuk suatu masyarakat dan pada masa tertentu apabila di dalamnya mempunyai relevansi isi dengan tujuan pendidikan nasional. Pembaharuan kurikulum mencakup semua aspek kurikulum, seperti mata perlajaran, isi atau konten, proses belajar mengajar, metode, pengelolaan waktu yang lebih baik, dan perolehan hasil belajar siswa.
Pendidikan spiritual yang ingin dibangun berpolakan integrated spiritual learning. Pola integrated spiritual learning adalah sistem pembelajaran spiritual yang terintegrasi dan melibatkan seluruh aspek dalam pendidikan di sekolah. Aspek tersebut meliputi kurikulum, peserta didik, dan tenaga pendidik. Kuri kulum yang diterapkan melalui pendidikan spiritual keagamaan di masingmasing sekolah yang menyentuh hakikat dan kedalaman spiritual, sehingga menghasilkan kesadaran murni dari para peserta didik. Penerapan ini tidak hanya melibatkan proses belajar mengajar di dalam ruangan, tetapi meliputi berbagai macam aktivitas fisik dan emosional baik di dalam maupun di luar kelas. Sebagai contoh, para peserta didik tidak hanya diajarkan pentingnya menolong atau berempati pada orang lain, tetapi para peserta didik juga diajak langsung melakukan aktivitas ini di lapangan. Mereka diajak untuk memberikan bantuan dan solusi bagi krisis spiritual. Dari aktivitas fisik ini akan timbul sebuah pengalaman emosional dan spiritual yang akan semakin terasah jika semakin sering dilakukan.
Selain pengimplementasian dalam bentuk aktivitas fisik, pendidikan spiritual sangat membutuhkan pola pengembangan perilaku yang konsisten dari seluruh pihak di dalam lingkungan sekolah. Guru, sebagai tenaga pendidik wajib menunjukkan teladan dalam setiap aktivitas, proses belajar mengajar dalam
hubungannya dengan peserta didik. Begitu pula dengan peserta didik. Kondisi lingkungan sekolah diciptakan sedemikian rupa yang membiasakan para peserta didik untuk konsisten dalam prilaku mereka. Misalnya dengan menyiapkan sanksi moral mau pun hukum bagi penyimpangan yang dilakukan siswa. Sanksi ini tidak hanya bersifat tertulis, namun tersosialisasikan dengan baik ke seluruh peserta didik melalui pemberian pe ma haman dan makna mengapa sanksi itu diberlakukan dan dampaknya. Jadi, para peserta didik tidak sebatas mengetahui sanksi itu ada secara tertulis, namun mereka tidak memahami maknanya.
Melalui pola pengembangan berbasis integrated spiritual learning, diharapkan dapat dihasilkan generasi anakanak Indo nesia yang tidak hanya cerdas ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga cerdas secara emosional dan spiritual yang mampu menyongsong kehidupan global saat ini. Pembelajaran spiritual adalah model yang menggambarkan kedudukan serta peran guru dan pelajar dalam proses pembelajaran. Pada awalnya, pola pem belajaran didominasi oleh guru sebagai satusatunya sumber belajar, penentu metode belajar, bahkan termasuk penilai ke majuan belajar pelajar. Kondisi tersebut tampak pada pola pembelajaran sebagai disebutkan Muhaimin dan kawan
kawan dalam bukunya Paradigma Pendidikan Islam berkut ini:66
Perkembangan pembelajaran (learning) telah mem penga ruhi pola pembelajaran. Guru yang semula sebagai satusatunya sumber belajar, peranannya mulai dibantu media pembelajaran sehingga proses pembelajaran tampak berubah lebih efisien. Pembelajaran terus mengalami perkembangan sejalan dengan ke majuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, kurang lah memadai kalau sumber belajar hanya berasal dari guru atau berupa media buku teks atau audio visual. Kondisi ini mulai di rasakan perlu ada cara baru dalam mengkomunikasikan pesan
66 Muhaimin, et.al, Paradigma Pendidikan Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), h. 156158
verbal maupun nonverbal. Kecenderungan pembelajaran dewasa ini adalah sistem belajar mandiri dalam program ter struk tur. Untuk itu perlu dipersiapkan sumber belajar secara khusus yang memungkinkan dapat dipergunakan pelajar secara langsung. Sumber belajar jenis ini lazimnya berupa media yang dipersiapkan oleh kelompok guru dengan tenaga ahli media sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Guru dan ahli media berinteraksi dengan pelajar berdasarkan satu tanggung jawab bersama.
Dalam pola pembelajaran spiritual, harus ada kerjasama guru dengan guru ahli (mentor), karena akan sangat membantu kegiatan belajar siswa. Di sisi yang lain, peran guru dalam pem belajaran spiritual juga terbantu oleh keberadaan mentor atau pelatih, yang secara khusus memberikan materi pelatihan.
Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan kualitas tenaga guru yang profesional, salah satu jalan yang dapat di tem puh adalah dengan membekali para guru agar mampu mengem bang kan berbagai media pembelajaran. Guru dapat mem per siapkan bahan pembelajaran yang sistematis dan terprogram seperti buku ajar, modul atau media lain yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, pelajar akan lebih mandiri dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
Keempat pola dasar pembelajaran tersebut masih mungkin dikombinasikan supaya proses pembelajaran spiritual sebagai suatu sistem dapat berjalan secara lebih efektif dan efisien. Pola pembelajaran spiritual dapat dijalani melalui interaksi antara guru, guru media (media berfungsi guru), dan guru dengan media dengan pelajar. Sumber belajar bagi pelajar bisa berupa guru, media yang dirancang oleh guru, dan guru dengan media yang merupakan suatu sistem dalam proses pembelajaran.
Dalam praktiknya tidak ada pola pembelajaran yang baku dan dapat digunakan dalam berbagai kondisi pembelajaran, termasuk pola pembelajaran pendidikan spiritual. Berbagai pola tersebut saling berbaur dan melengkapi satu dengan yang
lainnya. Secara operasional, penerapan pola pembelajaran ter sebut mempunyai ciri pokok, antara lain :
1. Fasilitas fisik sebagai perantara penyajian informasi.
2. Sistem pembelajaran dan pemanfaatan fasilitas yang merupa kan komponen terpadu.
3. Adanya pilihan yang memungkinkan terjadinya: (1)
perubahan fisik tempat belajar, (2) hubungan guru dan pelajar yang dibantu media, (3) aktivitas peserta didik yang lebih mandiri, (4) perlunya kerjasama lintas disiplin ilmu seperti ahli instruksional, ahli media pembelajaran, (5) perubahan peranan dan kecakapan mengajar, dan (6) keluwesan waktu dan tempat belajar.
Dari model seperti itu, selain ditunjang dengan adanya media ataupun sumber belajar lain, di sini keberadaan guru juga harus bisa menyeimbangkan antarmateri yang akan disampaikan dengan keahlian yang dimiliki, karena hal ini sangat membantu dalam proses pembelajaran secara spiritual. Materi memegang peranan kunci dalam proses belajarmengajar, namun tanpa di topang oleh keberadaan guru yang akan megajarkan materi ter sebut maka sulit akan berkembang.
B. Strategi Pengembangan Pendidikan Spiritual