• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 KARAKTERISTIK KEWIRAUSAHAAN

D. Berorientasi Masa Depan

Sebagai bagian dari upaya untuk mencapai harapan di masa depan ataupun visinya, seorang wirausaha yang sukses harus dapat merumuskan apa yang menjadi tujuannya secara jelas, menantang namun realistis. Seorang wirausaha itu melakukan perencanaan dan berpikir jauh ke depannya. Baik untuk tujuan jangka pendek maupun untuk tujuan jangka panjang.

Mereka selalu berusaha mencari dan mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Keuntungan usaha yang tidak pasti dapat mendorong wirausaha untuk melihat adanya peluang, menghargai waktu yang ada dan berorientasi kemasa depan.

Wirausaha memiliki kecenderungan untuk melihat apa yang bisa dilakukan untuk sekarang maupun besok, tetapi tidak

terlalu fokus dan mempersoalkan apa yang terjadi di hari sebelumnya. Wirausaha yang dikatakan unggul adalah yang selalu berusaha memprediksikan, memantau dan mencari tahu perubahan yang akan terjadi dimasa depan untuk meningkatkan kinerja dari usahanya.

Seorang wirausaha juga mampu untuk senantiasa melakukan evaluasi dan penyesuaian – penyesuaian pada tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Penyesuaian yang dilakukan berguna untuk memastikan bahwa tujuan tersebut konsisten dengan visinya pribadi dan juga usahanya yang sedang berkembang. Seorang wirausaha yang dianggap sukses tidaklah yang hanya puas dengan pencapaian tujuan, tetapi lebih dari itu seorang wirausaha senantiasa membuat tujuan – tujuan baru yang lebih menantang dan juga dapat membangun usahanya ke arah yang lebih baik lagi.

Para wirausahawan memiliki naluri yang kuat untuk mencari serta menemukan peluang-peluang yang ada disekitar mereka. Dengan melihat jauh ke depan wirausaha dapat melihat adanya potensi – potensi di mana tidak seorang pun yang dapat melihat potensi itu dan hanya melihat masalah yang besar dari suatu hal. Para manajer tradisional biasanya sangat mementingkan upaya mengatur sumber –sumber daya yang tersedia, sedangkan seorang wirausaha lebih kepada penemuan dan pemanfaatan peluang-peluang yang ada. Adakalanya peluang itu muncul pada saat orang lain tidak menyadarinya.

Sebagai ilustrasi, seorang yang membuka usaha ayam goreng yang berorientasi pada masa depan. Awalnya ia hanya ingin agar kebutuhan pokok keluarganya dapat terpenuhi, sehingga satu buah warung dengan keuntungan Rp 1.500.000 perbulan sudah dirasa sangat cukup. Bagi orang – orang yang tidak mempunyai jiwa seorang enterpreneur merasa jika hal itu telah tercapai, mereka akan merasa puas dan menganggap tidak perlu untuk mengembangkan usahanya lebih berkembang lagi.

Sehingga walaupun dalam waktu yang lama menjalani warungnya, keadaan mereka hanya tetap seperti itu saja tanpa ada

perubahan. Berbeda dengan seorang wirausaha. Bagi wirausaha yang sukses setelah mereka mencapai tujuan awal mereka, mereka akan dengan segera menentukan tujuan lainnya dan kemudian berusaha untuk mencapai tujuan itu. Setelah tercapai mereka akan membuat tujuan – tujuan lainnya dan berusaha untuk meraihnya lagi, dan begitu seterusnya. Sehingga yang pada awalnya ia hanya memiliki satu warung ayam goreng kecil saja, setelah dikembangkan dengan baik berubah menjadi beberapa buah di kota yang sama. Ketika warungnya berhasil di kota yang sama ia akan merambah ke kota lainnya dengan membuka cabang – cabang yang baru, hingga akhirnya warung ayam gorengnya itu bisa dikenal oleh masyarakat luas. Selain untuk pengembangan usahanya sendiri si wirausaha itu juga bisa memperkejakan banyak orang karena untuk warung yang sudah tersebar seperti itu akan membutuhkan banyak tenaga kerja.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan seorang wirausahan bisa saja lebih dari satu. Setelah satu tujuan tercapai maka akan muncul tujuan yang lainnya yang bisa memperbaiki usahanya. Seorang wirausaha akan berpikir bagaimana sebaiknya memperbaiki usahanya menjadi lebih baik lagi, bukan berhenti di satu tempat apabila salah satu tujuan telah tercapai. Jika satu dapat diraih, maka yang kedua pun harus dapat dicapai dan seterusnya. Dengan berorientasi pada masa depan usaha yang dia jalankan dapat berubah menuju usaha yang lebih sukses.

2. Contoh Kasus

Pixar – Technopreneur Company

Membuat program – program animasi komputer yang dapat membuat setiap helai bulu bisa bergerak secara alami tampaknya merupakan pencapaian yang luar biasa seperti pencapaian pada setiap semut dengan wajah yang berbeda – beda dalam film ―A Bugs Life‖ pada tahun 1998. Rancangan tersulit adalah adegan bawah air, terutama deburan air dalam film laris

tahun 2003, yaitu ―Finding Nemo‖. Sungguh tidak mudah menganimasikan air, terutama deburan air.

Pixar merupakan pemimpin dunia dalam animasi komputer, sebuah posisi yang mereka raih sejak film debut mereka yaitu, Toy Story pada tahun 1995. Pixar dalam banyak hal merupakan perusahaan berbasis teknologi dengan efek – efek canggih. Namun teknologi saja tidak menjamin sebuah bisnis bisa langgeng. Banyak periset, fisikawan, dan matematikawan, yang bergelar doktor dan orang pandai yang telah menemukan suatu terobosan dan solusi kreatif. Tetapi itu saja tidak cukup kuat untuk dibisniskan karena nilai faktor jualnya yang rendah, dibuat dan diproduksi dengan skala yang industri dan tidak marketable dalam arti tidak ada link yang kuat dengan kekuatan serta kebutuhan pasar. Inilah faktor – faktor penting mengapa para peneliti di Indonesia tidak bisa kaya dan membuat hasil temuannya bisa dibisniskan seperti Pixar.

Pencapaian terbesar studio Pixar menurut Ed Catmull, Presiden Pixar adalah ―perubahan berbasis teknologi yang bisa memvisualisasikan animasi seperti bulu yang jatuh sama persisnya dengan yang aslinya, ― menuturkan kisah yang hebat dan mengesankan dengan efek – efek animasi berteknologi canggih didukung dengan karakter – karakter yang melekat kuat dari cerita yang disajikan. Kemampuan Pixar memproduksi film animasi yang sangat hebat dengan menggabungkan elemen – elemen tradisional dan teknologi yang mampu memberikan citra, ciri khas, dan tren baru di industri film.

Pada tahun 1979, Ed Camull, seorang doktor dalam bidang ilmu komputer sebagai wakil presiden di Lucas Film milik George Lucas, merekrut mantan animator top disney yaitu John Lassester. Tahun 1985, George Lucas menjual divisi tersebut ke Steve Jobs dari Apple karena anggapannya yang kurang prospekitf dengan harga 10 juta US$ yang kemudian dinamakan PIXAR sebagai perusahaan baru. Jobs bersepakat dengan Disney untuk mendanai, memasarkan dan mendistribusikan produk – produk Pixar. Disney menerima dana yang cukup besar dengan

imbalan yang cukup besar pula. Film pertamanya adalah ―Toy Story‖ yang diliris pada tahun 1995 dan menjadi film yang berpendapatan besar pada tahun itu. Kemudian Steve Jobs melakukan Go Public dengan meraup 140 juta US$, menyusul lima film sukses lainnya.

E. Komitmen Dalam Berusaha

Dokumen terkait