• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berpendirian Kuat

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 33-39)

Berpendirian kuat memiliki arti tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain. Berpendirian kuat berbeda dengan keras kepala. Berpendirian kuat lebih mengarah kepada memegang teguh apa yang dianggapnya benar dan baik untuknya dengan tidak menomorsatukan keegoisannya. Berikut contoh watak Fahri yang berpendirin kuat:

"Saya tidak mau memberi mereka sesuatu yang menurut saya dilarang oleh Allah. Kalau mereka mau membeli itu dengan uang mereka terserah mereka. Saya akan beri mereka bonus dan hadiah atas prestasi dan dedikasi mereka. Tapi sesuatu yang baik menurut mereka dan baik menurut Allah. Insya Allah." (AAC2, 166).

Dari penggalan di atas Fahri tahu bahwa menjual alkohol kepada orang lain yang membolehkan meminumnya itu tidak benar. Fahri berpendirian kuat bahwa ia tidak boleh menerima hadiah dari tetangganya yang mengandung alkohol. Fahri memberikan pernyataan sebagai berikut:

commit to user

"Tidak bisa Bah. Kau lupa. Fiqhnya tidak membolehkan. Ah kau lupa ya, padahal kau belajar ekonomi Islam. Kalau kita buka kitab Al Muhadzdzab misalnya, dan kitab-kitab fiqh lainnya. Jual beli khamr itu dilarang oleh Rasulullah Saw. Para pakar fiqh kemudian menjelaskan bahwa jual beli semua benda yang najis itu haram. Kalau kita terima hadiah Brenda terus kita menjualnya. Berarti kita menjual sesuatu yang dilarang Rasulullah saw." (AAC2, 166).

Dari awal Fahri sudah berjanji untuk tetap mencintai Aisha dan hanyalah Aisha yang dapat membuat hatinya selalu bergetar. Namun ketika Fahri bergetar hatinya saat mendengarkan gesekan suara biola Hulya dan mengingatkan dirinya kepada istri tercintanya yaitu Aisha. Karena Fahri berpendirian kuat maka ia langsung membuang jauh-jauh perasaan tersebut, berikut kutipannya:

“Fahri berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia sama sekali tidak boleh memiliki rasa tertarik kepada siapapun selain Aisha. Ia harus setia kepada Aisha. Fahri berusaha meyakinkan dirinya bahwa Hulya bukan Aisha. Ia bahkan seperti menghardik dirinya, "Jangan kurang ajar kamu, itu bukan Aisha! Hulya bukan Aisha!” (AAC2, 314).

Hal tersebut diperkuat lagi dengan pernyataan Fahri yang tidak akan bisa menggantikan Aisha dengan siapapun. Dia tetap berpendirian kuat bahwa Aisha adalah satu-satunya wanita yang ada dihatinya dan sangat Fahri cintai.

Berikut penjelasannya:

“Pikiranmu ngawur itu Paman. Saya tidak akan menggantikan Aisha dengan siapapun. Sudah jangan berpikir yang macam-macam.” (AAC2, 316).

24) Ramah

Ramah merupakan suatu perilaku yang terpuji dalam artian hatinya baik, tutur katanya halus sopan dan santun dan bersifat empati terhadap siapapun bahkan kepada orang yang tidak ia kenal. Watak tersebut juga dimiliki oleh Fahri ketika ia berpapasan dengan tetangganya yaitu Jason. Fahri berpapasan di jalan dan langsung menyapa Jason dengan ramah, berikut kutipannya:

commit to user

“Hei Jason!” Sapa Fahri ketika anak itu berada tepat di samping mobilnya.

Jason menghentikan langkahnya dan melihat ke arah orang yang menyapa (AAC2, 173).

Keramahan Fahri juga diperlihatkan dari pengakuan tokoh lain yaitu dari nyonya Suzan ketika marah dengan perilaku Keira saat makan di Bay of Begal. Nyonya Suzan menyayangkan sikap Keira yang tidak bisa ramah, padahal sikap ramah tersebut telah diperlihatkan oleh Fahri. Berikut lebih jelasnya penuturan dari tokoh lain yang membuktikan bahwa Fahri memang ramah:

“Saya tidak suka dengan sikap kamu itu Keira? Kenapa kamu tidak bisa senyum dan ramah? Ada apa denganmu?” Cecar Nyonya Suzan pada Keira. “Lihat, Tuan Fahri begitu ramah, Heba juga ramah, Hulya begitu bersababat, Madam Varenka juga ramah dan begitu tampak bergembira karena pertunjukan itu sukses besar. Hanya kamu yang aneh sendiri. Kamu seperti tidak mau bersahabat dengan orang lain. Ada apa denganmu?”

(AAC2, 308).

Selain pengakuan dari tokoh lain yaitu Nyonya Suzan, pengakuan bahwa Fahri adalah orang yang ramah muncul dari tokoh Keira. Keira yang dari awal sangat membenci Fahri karena menganggap Fahri adalah penjahat karena beragama Islam sudah mulai berubah. Perubahan sikap Keira kepada Fahri itu tidak lepas dari watak Fahri yang selalu ramah kepadanya. Keira lama-kelamaan menyadari bahwa perilakunya terhadap Fahri selama ini salah dan tidak pada tempatnya. Berikut penuturan dari Keira yang mengakui bahwa Fahri adalah orang dan tetangganya yang ramah:

Fahri tampak terdidik dan ramah. Ia dosen di The University of Edinburgh (AAC2, 311).

Ketika Keira dan adiknya Jason datang tiba-tiba kerumah Fahri dengan ramah Fahri menyambutnya dan memperlakukan mereka berdua dengan sangat baik dan sebagaimana yang diajarkan dalam Agama Islam bahwa tamu adalah raja dan harus diperlakukan dengan sebaik mungkin, berikut kutipannya:

“Tidak. Ada yang bisa kami bantu nona Keira?” Kata Fahri ramah (AAC2, 329).

commit to user 25) Bertanggung Jawab

Tanggung jawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Fahri menunjukkan sikap tanggung jawab ketika ia menolong Sabina gadis berwajah buruk. Sebelumnya ia telah berjanji kepada Tuan Taher untuk membantu memecahkan masalah dari perempuan pengemis tersebut supaya tidak menjadi bahan ejekan orang lain dan menganggap Islam adalah agama yang membolehkan untuk mengemis.

Ketika melihat Sabina Fahri langsung menolongnya dan membawa kerumah sakit. Berikut penggalan yang menunjukkan bahwa Fahri memiliki sikap tanggung jawab terhadap orang lain:

Pihak klinik menanyakan asuransi dan lain sebagainya, Fahri menjawab bahwa dirinya akan membayar semua biaya yang diperlukan. Dengan sigap pihak klinik melakukan penanganan medis. Setelah melihat perempuan berjilbab itu ditangani dengan baik, Fahri meminta Paman Hulusi tetap di klinik itu. Ia minta kunci mobil pada Paman Hulusi lalu naik taksi menuju stasiun Waverly. Fahri mengambil mobilnya yang diparkir di kawasan Waverly. Siang itu Fahri batal menjumpai Nyonya Suzan Brent yang bertanggung jawab mengelola AFO Boutique. Fahri justru membawa mobilnya ke kampus The University of Edinburgh. Ia ada janji menerima Ju Se, mahasiswi asal China yang dibimbingnya itu (AAC2, 197).

Dalam kutipan di atas juga menunjukkan sikap tanggung jawab Fahri kepada mahasiswinya yang bernama Ju Se yang telah membuat janji untuk menyetujuinya sebagai pembimbing tesis Ju Se. Ketika Fahri mengadakan acara amal untuk penggalangan dana dengan membuat pertunjukan biola dan Paman Halusi tidak tinggal diam ia ingin ikut andil sehingga mengambil biola dan memainkannya. Namun yang terjadi adalah Paman Halusi panik dan membuat suara biola menjadi sumbang. Misbah dan Sabina melihat kejadian itu dengan seksama, namun mereka berdua diam di tempat mereka berdiri.

Pada saat yang kritis bagi Paman Hulusi itu, Fahri datang dan langsung naik ke panggung. Berikut perkataan Fahri yang menyelamatkan Paman Halusi dari rasa paniknya:

commit to user

“Maaf, ini biola saya, biar saya memainkannya.” Lirih Fahri (AAC2, 297).

Fahri selalu menepati janji dan bertanggung jawab atas ucapannya, misalnya saja Fahri telah berjanji untuk membuat status Sabina menjadi legal, maka ia bertanggung jawab untuk melegalkan Sabina dengan berbagai usaha yang harus ditempuhnya. Walaupun hal tersebut dirasa Fahri sulit namun ia tetap akan mencobanya. Ia tidak akan menyerah bahkan berhenti sebelum Sabina mendapatkan status legalnya karena ia merasa bertanggung jawab atas Sabina, berikut penggalannya:

“Perkembangan urusan legal formal Sabina bagaimana, Brother Mosa?”

(AAC2, 323).

Ketika Fahri menerima tamu dirumahnya Fahri juga menunjukkan sikapnya sebagai tuan rumah yang baik serta bertanggung jawab atas tamunya tersebut sehingga ketika ia selesai salat bersama Paman Halusi di masjid. Fahri mengingat bahwa membiarkan tamu kelaparan tidaklah baik, berikut cuplikannya:

"Iya. Tapi lewat resto dan minimarket Agnina Minimarket. Saya mau bicara dengan Brother Mosa sebentar sekalian pesan makan siang untuk tamu-tamu kita." (AAC2, 323).

Pagi itu Fahri harus ke Manchester untuk mengisi pengajian KIBAR Manchester. Ia sudah terlanjur menyanggupinya. Sebenarnya jika boleh memilih, ia lebih suka di rumah merampungkan semua pekerjaannya.

Tetapi janji harus ditepati. Misbah tidak bisa menemani sebab mendadak ia diminta pembimbingnya menghadap (AAC2, 517).

Di dalam kutipan terakhir menunjukkan bahwa Fahri bertanggung jawab atas apa yang telah ia katakan. Segala janji yang telah ia ucapkan dan segala permintaan yang orang lain minta dan telah Fahri sanggupi tidak akan ia lupakan. Hal tersebut tercermin ketika Fahri memiliki pekerjaan yang menumpuk tapi tetap menepati janjinya sesuai penggalan narasi di atas.

26) Tegas

Bersikap tegas adalah memberitahu orang lain tentang sesuatu yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan dengan cara yang jujur, lugas,

commit to user

elegan, dan penuh percaya diri. Kemudian, ia siap bertanggung jawab atas apa yang telah ia katakan. Ketegasan Fahri dapat dilihat ketika Ju Se belum membaca minimal dua jurnal dari ketujuh jurnal yang telah Fahri berikan.

Karena demi kemajuan Tesis Ju Se sendiri namun Ju Se terkesan menyepelekannya sehingga Fahri bersikap tegas kepadanya, berikut kutipannya:

“Kalau begitu mohon maaf, saya tidak bisa membimbing Anda. Silakan Anda temui Professor Stevens agar dicarikan pembimbing yang lain.

Mohon maaf saya tidak bisa membimbing mahasiswa pemalas.” (AAC2, 198).

Ketegasan Fahri diperjelas lagi dengan menggambaran suasana berikut ini:

Muka Ju Se memerah mendengar kata-kata Fahri yang pelan namun tegas itu (AAC2, 198).

Setelah Ju Se meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan tersebut maka Fahri pun memberikan kesempatan kedua kepadanya.

Karena Fahri beranggapan setiap orang perlu diberikan kesempatan kedua sebagai rasa penyesalannya atas kesalahan dan menyia-nyiakan kesempatan pertamanya. Namun dengan tegas Fahri juga mengajukan syarat jika Ju Se mengulangi kesalahan yang sama maka Fahri tidak akan mau menjadi pembimbingnya lagi dan menyuruh Ju Se untuk menghadap Prof Stevens untuk mengganti pembimbingnya. Berikut lebih jelasnya yang Fahri ucapkan kepada Ju Se:

“Baik. Saya beri kesempatan. Pertemuan kita sampai di sini saja. Kita jumpa pekan yang akan datang. Jika pekan yang akan datang kau belum selesai membaca enam buku yang belum kau baca itu, tidak usah menemui saya. Langsung saja temui Prof Stevens untuk minta pembimbing pengganti. Mengerti?” (AAC2, 199).

Watak tegas Fahri juga ditunjukkan kepada Sabina yang saat itu melakukan kesalahan dengan tidak terlebih dahulu bertanya apakah ia boleh memegang dan meminjam biola kesangan istrinya Aisha itu. Pertama kali yang melihat Sabina memegang biola tersebut tanpa izin adalah Paman Halusi dan Paman Halusi langsung memarahi Sabina karena dianggap tidak sopan. Fahri

commit to user

mendengar kemarahan suara dari Paman Halusi dan menghampirinya di depan Sabina dan Paman Halusi Fahri berkata dengan tegas bahwa yang dilakukan Sabina itu kurang sopan, berikut penggalan perkataan tegas Fahri kepada Sabina:

Fahri mendesah. “Ya sudah. Jangan diulangi lagi. Ini barang kesayangan istri saya. Tidak boleh sembarangan dipakai orang. Sudah pergi sana, jangan menangis.” (AAC2, 320).

Ketegasan Fahri juga terlihat ketika Sabina menyela perkataannya dan ingin menjelaskan kenapa Sabina bisa tinggal dirumah Fahri. Namun Fahri dengan tegas menghentikannya dan menyuruh Paman Halusi saja yang menjelasnkan karena yang tahu alasannya kenapa Sabina bisa tinggal dirumahnya adalah Paman Halusi, berikut kutipannya:

“Jangan Sabina, biar Paman Hulusi yang menjelaskan. Kau bisa menceritakan tapi tidak akan bisa menjelaskan kenapa kau aku bawa kemari.” (AAC2, 326).

3. Deskripsi Konflik Batin Tokoh Utama dalam Novel Ayat-Ayat Cinta 2 karya

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 33-39)