• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

53 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang dijadikan sebagai tempat wawancara terhadap narasumber yaitu guru Bahasa Indonesia dan peserta didik adalah di SMK Negeri 9 Surakarta dan SMA Negeri 3 Surakarta. Kedua sekolah tersebut memiliki kualitas guru yang tidak diragukan lagi sehingga menghasilkan peserta didik yang berkualitas pula. Sekolah di SMK dan SMK tidaklah sama, ada mata pelajaran tertentu yang diajarkan di SMK tidak diberikan di SMA dan sebaliknya. Namun pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran pokok baik di SMA maupun di SMK.

SMK Negeri 9 Surakarta terletak di Jalan Tarumanegara, Banjarsari, Surakarta merupakan salah satu sekolah milik pemerintah yang lahir dan berkembang sesuai dengan perkembangan waktu. Berikut ini uraian sejarah berdirinya SMK Negeri 9 Surakarta yang melalui beberapa periode. Pada tahun 1993 Pemerintah Indonesia membuat program untuk mengurangi pengangguran terutama di kalangan remaja. Tiap tahun diperkirakan 95% golongan remaja tersebut siap memasuki dunia kerja, namun hanya 12% saja yang dapat terserap.

Kendala yang dihadapi antara lain minimnya lapangan pekerjaan dan kurangnya ketrampilan yang dimiliki oleh calon tenaga kerja. Hal ini perlu dicari jalan keluar agar lulusan SLTA atau sederajat tidak hanya mengandalkan sebagai pegawai saja, tetapi dapat bekerja sendiri, mandiri bahkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

Dekdikbud merencanakan pendirian sekolah kejuruan sebagai wadah pendidikan ketrampilan yang dapat mengisi dunia kerja atau bekerja secara mandiri. Namun program ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, diambil kebijaksanaan dengan menambah program kejuruan baru bagi

(2)

commit to user

sekolah–sekolah kejuruan yang sudah ada. Salah satu program tersebut dapat direalisasikan pada tahun pelajaran 1986 s/d 1987 di SMKI (SMKN 8) Surakarta, dengan dibukanya Seni Kriya untuk melengkapi 3 jurusan yang sudah ada yaitu Seni Tari, Seni Karawitan, dan Seni Pedalangan. Jurusan Seni Kriya ini yang selanjutnya menjadi cikal bakal berdirinya SMSR (SMKN 9 Surakarta). Pada tanggal 11 Juni 1990 Pemerintah mengeluarkan SK No-D3 8910/1990 tentang pendirian SMSR Surakarta untuk mewadahi jurusan Seni Kriya yang ada di SMKI Surakarta.

Pada bulan Juni 1993 SMSR Surakarta menempati gedung baru yang berada di Jalan Tarumanegara, Banyuanyar, Banjarsari, Surakarta dengan fasilitas belajar yang masih sangat minim, namun tahun demi tahun SMSR Surakarta melengkapi berbagai peralatan sesuai dengan standar Jurusan Kriya. Tanggal 18 Juni 1994 SMSR Surakarta diresmikan oleh Prof. Ing Wardiman Djojonegoro dengan membuka tiga Jurusan yaitu: Seni Rupa, Kerajinan Kayu, dan Kerajinan Tekstil.

Pada tahun ajaran 2001 s/d 2002 bertambah satu jurusan lagi yaitu Jurusan Kerajinan Logam. Karena tuntutan perkembangan Teknologi Informasi maka pada tahun 2005 bertambah lagi dua jurusan yaitu Multimedia dan Animasi.

Jurusan Multimedia ini merupakan yang pertama kali berdiri di kota Surakarta dan menjadi jurusan favorit di Kota Surakarta sampai sekarang.

Tahun 2005 waktu itu yang menjabat kepala sekolah adalah Drs.Sudarto, MM nama SMSR Surakarta diganti menjadi SMK Negeri 9 Surakarta. Selang 3 tahun SMK Negeri 9 Surakarta membuka dua jurusan yaitu Tata Busana dan DKV (Desain Komunikasi Visual). Kemudian pada tahun 2009 SMK Negeri 9 Surakarta kembali membuka jurusan baru lagi yaitu TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan) sehingga sekarang SMKN 9 Surakarta memiliki 9 jurusan. Berbagai program yang dilakukan antara lain penambahan ruang KBM, pembuatan perpustakaan digital, penambahan area hotspot sekolah, perbaikan masjid, perbaikan sarana olahraga, dan pembuatan taman sekolah guna mendukung program sekolah menjadi sekolah adiwiyata.

(3)

commit to user

Selain SMK Negeri 9 Surakarta pengambilan narasumber wawancara juga dilakukan di SMA Negeri 3 Surakarta. Sejarah berdiri Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Surakarta yang dahulu bernama Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA) Negeri 3 Surakarta diawali dengan Sekolah Menengah Tinggi (SMT) yang berlokasi di Manahan.

Pada zaman pendudukan Jepang, tepatnya tanggal 3 November 1943 diresmikan Sekolah Lanjutan Atas dengan nama Sekolah Tinggi Negeri yang disingkat SMT Negeri Surakarta. Sekolah ini berlokasi di Manahan, Surakarta.

Satu tahun kemudian, tepatnya November 1944, sekolah ditutup karena siswa- siswinya ikut berjuang. Sekolah dibuka kembali pada tahun 1946 dan dipimpin oleh Bapak Rurpandji Artowirogo, satu tahun kemudian, Juni 1946 diadakan ujian I yang dipimpin oleh Bapak Soepandon.

Juli 1947 terjadi Agresi Militer Belanda I, sehingga untuk kedua kalinya sekolah ditutup karena siswa-siswinya ikut berjuang. Sekolah dibuka kembali 1 September 1947 menggunakan gedung SMP 2 yang berlokasi di Mangkunegaran, Surakarta, karena gedung Manahan digunakan oleh Angkatan Laut RI. Ujian ke III dilaksanakan pada bulan Juni 1948 dipimpin oleh bapak Soepandon akan tetapi sekolah ditutup kembali karena adanya Agresi Militer Belanda II pada tanggal 21 Desember 1948.

Kepala Sekolah Menengah Atas A/B adalah Bapak Soepandon. Ujian penghabisan I diadaan pada bulan Juli 1950 di Margoyudan yang diketuai oleh Bapak R.Soepandon. Tanggal 17 Agustus 1951 dibuka SMA N A/B bagian malam, dengan nama SMA N A/B I bagian malam, jadi ada tiga nama SMA N 3 Surakarta A/B. SMA Negeri IIIB ini sekarang dikenal dengan nama SMA Negeri 3 Surakarta, oleh karena itu tanggal 1 Agustus 1958 diesmikan sebagai tanggal lahir SMA Negeri 3 Surakarta. Pada tanggal 1 Agustus diadakan serah terima pimpinan SMA Negeri 3 Surakarta dari bapak Roespandji Atmowirogo kepada bapak B.G.R.M. Soemitro.

Pada tanggal 30 Januari 1967 SMA Negeri 3 Surakarta pindah dari Margoyudan 56 Solo ke Jl. Warung Miri 90 (sekarang R.E. Martadinata 143) menempati bekas SD Sintjing. Kemudian pada tahun 1975 menempati di Jl. Prof.

(4)

commit to user

W.Z.Yohanes 58 (Kerkop) Surakarta. Tanggal 7 Maret 1997 berubah nama menjadi SMU Negeri 3 Surakarta. Berdasarkan keputusan Mendikbud RI No.

035/0/1997tanggal 7 Maret 1997 tentang perubahan Nomenklatur SMA menjadi SMU serta organisasi dan tata kerja SMU.

Ketika mengaitkan relevansi novel Ayat-Ayat Cinta 2 ini maka dengan mengambil narasumber baik di SMA dan SMK maka lebih melengkapi untuk menjadikan novel tersebut sebagai materi ajar. Jika pengambilan narasumber wawancara hanya di SMA saja atau SMK saja maka belum tentu novel tersebut dapat dijadikan materi ajar di kedua sekolah yang berbeda itu. Di dalam penelitian ini mengambil lokasi di SMK maupun di SMK.

2. Deskripsi Perwatakan Tokoh Utama Novel Ayat-Ayat Cinta 2 karya Habiburrahman El Shirzy

Penggambaran perwatakan tokoh dalam karya sastra (novel) meliputi keadaan fisik (dimensi fisiologis), keadaan psikis (dimensi psikologis), dan keadaan sosial (dimensi sosiologis). Keadaan fisik tokoh meliputi umur, jenis kelamin, ciri-ciri tubuh, cacat jasmaniah, ciri khas yang menonjol, suku, bangsa, raut muka, kesukaan, tinggi/pendek, kurus/gemuk, suka senyum/cemberut, dan sebagainya. Keadaan psikis meliputi watak, kegemaran, mentalitas, standar moral, temperamen, ambisi, kompleks psikologis yang dialami, keadaan emosinya, dan sebagainya. Keadaan sosiologis meliputi jabatan, pekerjaan, kelas sosial, ras, agama, ideologi, dan sebagainya (Waluyo, 2002: 17 18).

Watak atau bisa disebut penokohan merujuk pada individu-individu atau tokoh yang diceritakan pengarang dalam cerita. Tokoh sebagai salah satu unsur sentral dalam cerita karena pengarang menyampaikan cerita dan pesan menggunakan tokoh. Watak tokoh berkembang seiring berjalannya alur. Di dalam novel Ayat-Ayat Cinta 2 menggunakan Fahri sebagai tokoh utama. Berikut ini adalah watak tokoh utama Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta 2 karya Habiburrahman El Shirzy:

(5)

commit to user 1) Jujur

Watak jujur Fahri terlihat ketika mahasiswa bimbingannya Ju Se berkonsultasi perihal tesisnya. Fahri kurang suka melihat penampilan Ju Se yang kurang sopan dimata Fahri walaupun untuk ukuran gaya berpakaian di luar negeri itu sudah sopan. Demi kenyamanan bersama Fahri menegur Ju Se dengan sopan dan tidak menyinggung perasaannya. Hal tersebut terlihat dalam uraian berikut:

"Tolong kau tonton lagi... Coba kamu lihat cara Aunt Yi itu berpakaian.

Maaf, saya lebih suka jika kamu berpakaian lebih tertutup seperti Aunt Yi itu. Saya akan merasa lebih nyaman. Tapi, terserah kamu. Ini sifatnya saran. Bukan paksaan." (AAC2, 150).

Kejujuran Fahri juga diperlihatkan ketika ia diminta oleh Tuan Taher untuk membaca secepatnya berita di website. Karena Fahri memiliki waktu yang padat dan ia tidak bisa menyegerakan membaca berita di website. Fahri dengan sopan mengatakan akan membaca berita itu jika dia telah menyelesaikan urusannya terlebih dahulu yaitu setelah salat asar. Jika Fahri tidak jujur untuk membuat Tuan Taher senang Fahri tentunya akan langsung menjawab saya akan membacanya sekarang walaupun sebenarnya yang terjadi Fahri akan membacanya setelah salat asar. Kejadian yang sama juga terlihat ketika Fahri diminta untuk menikahi cucu perempuan dari gurunya yaitu Syaikh Utsman. Fahri sangat membanggakan gurunya dan sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri. Namun sekali lagi Fahri tidak membohongi dirinya sendiri atau bahkan guru kesayangannya itu hanya untuk menyenangkan hatinya, namun ia berbicara jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi bahwa Fahri belum bisa melupakan istrinya yang telah menghilang yaitu Aisha. Berikut kutipan kejujuran Fahri:

“Boleh. Tapi mohon maaf Tuan Taher, saya ada waktu setelah shalat Ashar," (AAC2, 171).

"Tapi Syaikh, aku masih sangat mencintai Aisha dan tidak bisa melupakan Aisha." (AAC2, 270).

(6)

commit to user

Ketika kebanyakan orang menyalahartikan kejujuran Fahri dengan sifat merendah, ia tidak mengiyakannya dan memberi penjelasan bahwa ia bukan merendah tapi memang jujur apa adanya. Jika dia tidak mampu ataupun tidak bisa melakukan suatu hal maka ia akan jujur mengatakan tidak mampu dan sebaliknya. Hal tersebut dapat terlihat ketika Fahri diminta untuk tampil bermain biola di panggung dan acara yang lebih bergensi. Fahri menolak karena ia jujur hanya bisa memainkan satu atau dua lagu itupun belum bisa dikatakan sempurna juga karena Fahri tidak pernah sekolah atau ikut les biola.

Ia bisa memainkan lagu tersebut karena diajarkan oleh istrinya Aisha, berikut kutipannya:

"Saya tidak merendah. Saya bicara jujur. Jadi selanjutnya saya ikut kalian berdua saja," Lirih Fahri (AAC2, 301).

"Jujur kalau saya kelasnya beraninya ya di jalanan. Saya tidak mungkin berani tampil di gedung pertunjukan serius. Lebih tepat yang jawab Madam Varenka dan Keira. Juga Hulya kalau masih akan lama di sini.

Mereka bertiga yang layak tampil di pertunjukan bergengsi itu," Jawab Fahri (AAC2, 306).

2) Amanah

Fahri menjaga amanah atau dapat dipercaya karena telah menjalankan perintah atau pesan dari Profesor Charlotte untuk mengeluarkan siapa saja mahasiswa yang belum menuntaskan membaca kedua buku yang telah disepakati, hal tersebut dapat terlihat dari perkataan Fahri kepada Juu Sun berikut ini:

“Jadi Juu Sun, saya diminta Profesor Charlotte untuk mengeluarkan siapa saja yang ikut mata kuliah ini dan belum menuntaskan membaca dua buku itu. Saya harus menjaga amanat. Juu Sun, silahkan Anda keluar dari ruangan ini.” (AAC2, 5).

Narasi berikut juga memperlihatkan bahwa Fahri memiliki watak amanah. Setelah menyelesaikan semua tugas yang telah diberikan oleh Profesor Charlotte untuk menggantikan mengajar kelasnya ia menemui Profesor tersebut dan menyampaikan bahwa amanahnya telah ia laksanakan, dan inilah narasinya:

(7)

commit to user

Prof. Charlotte merasa sangat surprised dikunjungi Fahri. Apalagi Fahri mengabarkan bahwa tulisan ilmiahnya untuk postdoc sudah selesai. Fahri juga mengabarkan semua amanah Prof. Charlotte sudah ia tunaikan termasuk mengajar kelas philology (AAC2, 131).

Fahri adalah orang yang amanah hal tersebut diperlihatkan ketika Fahri diminta oleh gurunya untuk membantunya mengajar. Gurunya juga menasihati Fahri bahwa ilmu yang Fahri pelajari dari para ulama itu tidak boleh berhenti dalam diri Fahri saja. Ingat air jika berhenti mengalir maka air itu akan rusak.

Air itu sehat jika ia mengalir. Kau harus alirkan ilmumu. Itu wasiatku, wasiat guru yang sangat mengasihi Fahri. Kemudian Fahri menjawabnya sesuai dengan kutipan berikut:

"Insya Allah, Syaikh. Saya akan laksanakan semampu saya." (AAC2, 350).

Setelah Fahri berkata akan melaksanakan wasiat tersebut semampunya dikemudian harinya Fahri langsung sibuk membantu gurunya tersebut mengajar serta menjadi imam masjid. Ia melaksanakan amanah dari gurunya dan dapat dipercaya tentunya. Hal tersebut dapat terlihat dari kesibukan yang Fahri jalani demi melaksanakan wasiat gurunya Syaikh Ustman berikut ini:

Hari itu Fahri sibuk membantu Syaikh Ustman mengajar Al Qur'an di tiga tempat, di East London Mosque, Suleymaniye Mosque, dan London Muslim Centre. Hari berikutnya Fahri turut mengantar Syaikh Utsman ke Heathrow Airport (AAC2, 352).

Sejak dipaksa oleh Syaikh Utsman menjadi imam shalat Isya' di Central Mosque London dan diperkenalkan sebagai salah satu murid terbaiknya, kesibukan Fahri bertambah. Beberapa Imam masjid di Inggris Raya meminta waktu untuk belajar serius qira'ah sab'ah dan mengambil sanad darinya. Dan Fahri tidak bisa menolak, sebab ia terikat oleh wasiat Syaikh Utsman yang tidak boleh menyembunyikan ilmu (AAC2, 375).

3) Suka Menolong Orang Lain

Saling tolong menolong merupakan sikap yang terpuji bagi manusia menurut kodratnya sebagai makhluk sosial. Watak suka menolong Fahri terlihat ketika Fahri melihat Keira sedang berteduh karena hujan langsung saja

(8)

commit to user

Fahri menyuruh Paman Halusi untuk menawarkan tumpangan karena Keira merupakan tetangga mereka dan tentunya searah menuju rumah.

"Tak tahu, tolong menepi dan tawari dia tumpangan kalau dia memang mau pulang, Paman." (AAC, 14).

Fahri dalam menolong orang lain tidaklah pandang bulu walaupun terkadang sifat tersebut disalah artikan oleh orang lain. Yang menganggap Fahri pamrih atau mengharapkan imbalan ketika menolong orang lain.

Walaupun begitu Fahri tidaklah patah semangat dan berhenti menolong orang lain termasuk tetangga-tetangganya. Ia terus menolong mereka hingga akhirnya pandangan negatif tersebut hilang dan tetangga-tetangga Fahri sadar bahwa anggapan mereka selama ini salah. Karena Fahri memanglah tetangga yang baik dan suka menolong orang lain. Hal tersebut terbukti di dalam kutipan berikut ini:

"Ayo, paman, bantu angkat dia. Kita letakkan di teras rumahnya supaya kalau hujan tidak kehujanan." (AAC2, 29).

Kutipan tersebut menjelaskan bahwa Fahri selalu menolong orang- orang yang memerlukan bantuan. Ketika Fahri melihat tetangganya yaitu Brenda terkapar diluar rumah tidak sadarkan diri karena mabuk. Fahri langsung membangunkan Paman Halusi untuk diajaknya membantu menolong Brenda.

Selain Brenda Fahri juga memiliki tetangga yaitu Nenek Catarina, Fahri sangatlah menyayangi nenek tersebut karena Nenek Catarina di usianya yang sudah tua justru hidup sendiri tanpa ditemani anak-anaknya yang memilih pergi dan tidak mau mengurusi Nenek Catarina. Fahri selalu menolong Nenek Catarina dalam hal apapun. Berikut salah satu kutipan Fahri yang menolong Nenek Catarina:

Nenek Catarina kesakitan. Ia hendak berdiri tapi kesusahan. Fahri menolong dan membantunya berdiri. Nenek itu bisa berdiri (AAC2, 101).

(9)

commit to user 4) Sopan dan Santun

Perilaku Fahri sangat sopan dan santun. Hal tersebut dapat terscermin dari tutur kata dan perbuatannya. Misalnya saja kepada tetangganya yaitu Nenek Catarina. Nenek Catarina adalah salah satu tetangga Fahri. Ia adalah orang Yahudi dan menganggap Fahri adalah kaum Amalek yang jahat dan merupakan musuk orang Yahudi sehingga Nenek Catarina tidak suka dengan Fahri bahkan perilakunya kepada Fahri boleh dikatakan ketus. Namun Fahri tidaklah membalas perilaku Nenek Catarina yang kurang menyenangkan tersebut. Bahkan Fahri selalu bersikap dan berbuat baik kepada Nenek Catarina. Fahri sangatlah sopan kepada Nenek Catarina karena Nenek Catarina adalah orang tua yang harus selalu Fahri hormati. Di dalam kebiasaan orang Indonesia kita harus berperilaku sopan dan santun kepada siapa saja terutama orang yang lebih tua daripada kita. Dan itu yang dilakukan Fahri walaupun ia tahu bahwa Nenek Catarina membalas perilaku Fahri dengan ketus. Perilaku sopan dan santun Fahri tersebut tercermin dari kutipan berikut ini:

"Apa tidak sebaiknya ke dokter dulu, nek? Atau kaki nenek mau saya pijat dulu?" (AAC2, 103).

"Maaf, nek, apakah nanti perlu saya jemput untuk pulang?" tanya Fahri pada Nenek Catarina (AAC2, 105).

Pada kutipan pertama dengan sopan dan santunnya Fahri menawarkan memijat kaki Nenek Catarina yang sakit ketika ia terjatuh. Kutipan kedua menjelaskan bahwa tutur kata Fahri begitu sopan dan santun kepada orang yang lebih tua yaitu kepada Nenek Catarina. Tidak hanya kepada orang-orang yang dekat dan Fahri kenal saja ia bersikap sopan dan santun. Fahri juga melakukannya kepada orang yang tidak ia kenal juga bahkan baru pertama kali bertemu. Hal tersebut dapat terlihat dari kutipan berikut ini:

“Iya, saya Fahri.” Ia menjabat tangan lelaki itu (AAC2, 562).

(10)

commit to user 5) Bijaksana

Bijaksaana merupakan perilaku yang memandang segala sesuatu bukan dari ego atau menurut pandangannya saja. Namun lebih kepada memandang suatu secara realistis tanpa mencampurkan unsur keegoisan dalam diri. Yang salah dikatakan salah yang benar juga dikatakan benar sesuai dengan bukti nyata bukan dari argumen semata. Fahri memerlihatkannya dalam kutipan berikut ini:

"Kita jangan masuk rumah orang tanpa izin. Ini batas yang bisa kita lakukan. Bisa saja kita cari kunci rumahnya di sakunya atau di dompetnya, tapi saya tidak mau lakukan itu. Cukup bahwa tetangga kita ini tidak terlalu kedinginan dan tidak kehujanan ketika hujan turun. Sehingga ia tidak jauh sakit." (AAC2, 30).

Dalam kutipan tersebut menceritakan bahwa Fahri menasihati dengan bijaksana Paman Halusi yang ingin membawa masuk tetangganya ke dalam rumahnya. Namun dengan bijak Fahri mengatakan bahwa cukup memastikan tetangganya tersebut aman dan tidak kedinginan di depan rumahnya daripada mereka harus masuk ke dalam rumah orang tanpa izin pemilik rumahnya karena itu merupakan tindakan yang kurang tepat.

Di dalam ajaran Islam memang mengemis bukanlah pekerjaan yang baik bahkan tidak diperbolehkan selama orang tersebut sehat dan memiliki tenaga untuk mencari pekerjaan selain menjadi pengemis karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Namun jika larangan Islam tidak boleh mengemis membuat seseorang menjadi bahan ejekan dan hinaan itu lebih tidak diperbolehkan lagi. Alangkah baiknya jika kita membantu pengemis tersebut mendapatkan pekerjaan yang layak daripada menghinanya sebagai pengemis rendahan. Hal tersebut yang dilakukan Fahri yaitu menasihati bahwa mengemis memang tidak boleh tapi menghina seorang pengemis jauh lebih buruk. Fahri berkata seperti ini:

"Brother, Anda jangan salah paham. Saya sepakat dengan Anda bahwa umat Islam tidak boleh mengemis. Itu yang diajarkan Baginda Nabi. Saya hanya tidak setuju dengan ucapan kasar Anda kepada sister kita ini. Anda

(11)

commit to user

tidak boleh mencela fisiknya, tidak boleh menghina wajahnya! Sama sekali tidak boleh!" (AAC2, 85).

Watak bijak Fahri juga terlihat ketika sahabatnya yaitu Misbah menyampaikan argumennya yang mengagumi ketertiban, kebersihan dari negara Inggris tapi untuk sifat orang-orangnya tidak. Seperti kutipan di bawah ini:

"Ada banyak hal di Inggris Raya ini yang membuat aku kagum, mas.

Terasa sangat Islami. Disiplinnya. Bersihnya. Keteraturannya.

Penghargaan pada sejarahnya. Penghargaan pada ilmu pengetahuan.

Budaya baca yang luar biasa. Jaminan sosialnya, kalau sakit gratis berobat, dan lain sebagainya. Sangat-sangat baguslah pokoknya. Namun terkadang juga menemui sesuatu yang membuatku terkaget-kaget karena jauh dari nilai Islami. Misalnya kalau pas party. Innalillah, minuman keras pasti ada, sering juga berlanjut zina." (AAC2, 130).

Maka Fahri menjawab dengan bijak bahwa ketika kita tinggal di negara lain tentunya ada baik dan buruknya jika dibandingkan dengan negara kita yaitu Indonesia. Kita harus bisa menyaringnya dan mencotoh yang baik serta menjauh dari perbuatan yang tidak baik. Karena tentunya berbeda jika di negara Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya Islam namun jika di Inggris Agama Islam merupakan agama yang minoritas. Hal tersebut tercermin dari jawaban Fahri seperti ini:

"Ya intinya, ambil yang baik, buang yang tidak baik! Ambil yang sesuai ajaran Islam yang hanif, buang yang tidak sesuai ajaran Islam!" (AAC2, 130).

Setiap Fahri menasihati seseorang sifat bijaknya selalu muncul, hal tersebut juga dilakukan Fahri ketika menasihati Paman Halusi yang memiliki sifat mudah terpancing amarahnya. Ketika Fahri menasihati Paman Halusi sifat amarahnya menjadi reda karena perkataan majikannya yaitu Fahri memang benar. Hal tersebut dapat diamati dan dibuktikan dari penggalan nasihat-nasihat Fahri kepada Paman Halusi berikut ini:

"Paman, lembut dan keras itu sifat yang harus dimiliki oleh umat manusia secara proporsional. Kita tidak bisa keras terus, juga tidak bisa lembut terus. Ada saatnya sebuah kondisi menuntut kita bersikap lemah lembut.

(12)

commit to user

Ketika itu, kita jangan bersikap keras. Ada saatnya sebuah kondisi mengharuskan kita bersikap keras, kita tidak tepat jika bersikap lemah lembut. Di hadapan musuh yang jelas mau membunuh kita, tak bisa kita lemah lembut. Kita akan mati konyol! Di hadapan bara api yang membakar kita jangan nyalakan sumbu dinamit. Hancur semua akibatnya.

Di hadapan bara api kita gunakan air dingin." (AAC2, 133).

"Kita beramal tidak usah pakai tapi-tapian Paman. Kita berusaba ikhlas, namun demikian hanya Allah saja yang berhak menilai. Jika itu semua diterima Allah sebagai amal shaleh selain mengharap ridha-Nya di akhirat, aku berharap pahalanya sampai kepada Aisha, jika Aisha benar-benar telah mati. Jika masih hidup, aku berharap itu membuat Aisha selalu dirahmati oleh Allah dan dalam kondisi apapun juga aku masih diberi kesempatan oleh Allah berjumpa dengannya Paman." (AAC2, 226).

6) Pintar/Pandai

Fahri orang yang pandai dari latar belakang pendidikannya, dari ilmu- ilmu yang selalu dia bagikan dan dari argumen-argumen yang ia berikan tidak diragukan lagi bahwa Fahri adalah orang yang pandai. Berikut kutipan argumennya:

"Iya. Banyak yang kesepian. Itu fenomena hampir di semua negara yang dianggap maju, yang tidak ada sentuhan ajaran Islam. Kalau di tempat kita yang mayoritasnya Muslim, berbakti kepada orang tua sangat penting. Di Indonesia, di desa-desa, nenek-nenek dan kakek-kakek hidup tenteram bersama anak-anak dan cucu-cucunya yang penuh perhatian. Kalau sakit, satu kampung menjenguk semua karena masih saudara. Itu fenomena yang tidak kita temukan secara umum di Eropa, Amerika, Australia, Selandia Baru, Jepang, Taiwan dan Hong Kong." (AAC2, 129).

Selain dari argumen-argumen yang Fahri berikan dengan pengetahuan dan kenyataannya. Fahri juga memperlihatkan kepandaiannya lewat nasihatnya. Misalnya saja ketika Paman Halusi tidak suka dan terus mengomel tentang sifat Nenek Catarina yang suka mengatur. Fahri menasihati Paman Halusi dengan pengetahuannya bahwa ketika seseorang menjadi tua maka orang tersebut terkadang akan menjadi seperti anak kecil, berikut kutipannya:

"Hei, jangan berkata begitu Paman. Itu bukan karena Yahudinya. Orang kalau sudah tua, sudah nenek-nenek memang suka begitu. Orang itu kalau sudah tua dan semakin tua terkadang kembali seperti anak kecil lagi.

(13)

commit to user

Sering manja, sering merajuk, sering mengatur seenaknya. Ya kayak anak kecil. Jangan dimasukkan dalam hati." (AAC2, 255).

Jika seseorang yang tidak pandai tentu akan mustahil menjadi seorang dosen bahkan di luar negeri dan di Universitas terkemuka. Fahri merupakan salah satu dosen yang sangat disegani karena kepintarannya. Serta karya-karya Fahri yang sangat produktif. Fahri aktif membuat jurnal, buku serta tulisan- tulisan lainnya. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut:

Fahri tampak terdidik dan ramah. Ia dosen di The University of Edinburgh (AAC, 311).

Pengakuan di atas merupakan pengakuan dari Keira yaitu tetangga Fahri yang selalu melihat Fahri dengan sinis bahkan menerornya. Keira yang membenci Fahri saja mengakui bahwa Fahri adalah orang yang terdidik. Selain itu Profesor Charlotte juga mencurahkan rasa bangganya kepada Fahri yang aktif membuat jurnal, berikut kutipannya:

"Setelah karyamu di muat di jurnal-nya SOAS, kemudian karyamu yang lain dimuat di Leiden, dan baru-baru ini dimuat sebuah jurnal di Istanbul.

Aku sangat mengapresiasi dan bangga padamu." (AAC2, 382).

Ketika Fahri mengikuti perdebatan diskusi mengenai Amalek Fahri memperlihatkan kepandainnya mengutarakan argumen-argumen yang dapat dipercayai karena rasional serta ilmiah dan membuka mata para penonton menjadi terbuka. Hal tersebut tercermin dari narasi berikut ini:

Rabi Benyamin, Baruch dan Prof. Thomas tentu saja membela pendapatnya dengan tambahan argumentasi, namun Fahri mampu menghadirkan argumentasi lanjutan yang tidak kalah rasional dan ilmiah.

Diskusi itu terpaksa disudahi oleh Profesor Charlotte ketika waktu sudah habis. Kubu Rabi Benyamin dan Baruch tampak belum puas dengan hasil diskusi itu. Sementara Fahri, yang boleh dikatakan menjadi bintang pada acara itu, langsung diserbu banyak orang untuk meminta alamat, bahkan sebagian hendak mengundangnya untuk diskusi lanjutan. Fahri menanggapi satu persatu permintaan orang-orang itu dengan sabar (AAC2, 448).

(14)

commit to user 7) Peduli dengan Sesama/Sekitar

Sebagai makhluk sosial kita haruslah peduli dengan sesama dan sekitar.

Kita tidak boleh menutup mata, telinga dan membiarkan orang lain disekitar kita susah. Walaupun kita tidak mampu menolong menyelesaikan masalahnya setidaknya kita dapat meringankan bebannya dengan menunjukkan sikap peduli terhadapnya. Hal tersebut yang dilakukan oleh Fahri, ia sangat peduli dengan tetangganya hal tersebut dapat dilihat dari penggalan berikut ini:

Fahri khawatir yang melakukan tindakan tidak bertanggung jawab itu ternyata adalah salah satu tetangganya yang akan membuat tetangganya itu semakin jauh darinya jika ia melibatkan organisasi formal atau lembaga hukum formal. Sedikit hal yang membuatnya lega adalah bahwa coretan itu tidak menggunakan tinta atau cat permanen, kelihatannya menggunakan spidol white board yang sangat mudah dibapus. Fahri menghapus tulisan itu dengan tangannya (AAC2, 31).

Fahri peduli dengan temannya Misbah ketika waktu salat subuh datang dia tidak meninggalkannya saja namun membangunkannya. Karena Fahri tahu membiarkan orang lain melewatkan waktu salat tidak baik. Fahri tidak ingin Misbah temannya itu melewatkan waktu salatnya hanya untuk tidur saja, berikut penggalannya:

"Biar saya bangunkan, paman. Kita tidak boleh meninggalkan saudara kita ketinggalan keutamaan sebuah ibadah. Itulah makna iyyaka na'budu, paman!" (AAC2, 81).

Kepedulian Fahri tidak hanya kepada orang terdekatnya saja misalnya tetangga, keluarga dan temannya. Namun kepada siapa saja bahkan kepada orang yang tidak ia kenal. Disaat orang lain membiarkan seorang gadis pingsan dan saling melemparkan tanggung jawab. Fahri peduli dengannya sehingga membantu gadis tersebut, berikut cuplikannya:

Dua perempuan bule itu bangkit dan bergegas pergi. Fahri minta Paman Hulusi mencari taksi. Beberapa orang yang lewat ada yang hanya melihat, dan ada juga yang menanyakan apa yang terjadi. Seorang ibu-ibu paruh baya dengan penuh perhatian menanyakan apa yang bisa dia bantu. Fahri tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Paman Hulusi datang bersama supir taksi yang berhenti di depan halte trem. Dengan dibantu sopir taksi.

(15)

commit to user

Paman Hulusi dan Fahri menggotong tubuh perempuan itu dan memasukkan ke dalam taksi. Fahri duduk di depan di samping sopir taksi sementara Paman Hulusi duduk di belakang bersama perempuan yang didudukkan dalam posisi masih belum sadar itu (AAC2, 197).

8) Dermawan

Jika perihal tentang uang Fahri sangatlah dermawan dan tidak pelit. Dia sering menyedekahkan uangnya dan memberikan uangnya kepada orang yang membutuhkan dan tidak seberuntung dirinya. Misalya saja kejadian ketika ia memberi uang kepada pengemis yanng mengetuk kaca mobilnya tiba-tiba, berikut penggalannya:

Fahri mengambil dompetnya dan mengeluarkan seratus pounds dan memberikannya kepada perempuan itu. Menerima uang sebanyak itu, perempuan berwajah agak buruk itu berkaca-kaca kedua matanya (AAC2, 48).

Ketika Fahri dengan tidak sengaja bertemu Misbah dan mendengarkan permasalahan yang sedang Misbah hadapi. Fahri tidak serta merta membiarkannya. Fahri memberi bantuan untuk menyelesaikan permasalahan administrasi kuliah Misbah karena beasiswa yang Misbah dapatkan tidak bisa berlanjut, berikut kutipannya:

"Aku yang tanggung beasiswa kamu. Aku tanggung SPP kamu dan biaya hidup kamu sampai kamu menyelesaikan Ph.D-mu." (AAC2, 76).

Ketika Fahri membantu menyekolahkan Keira supaya bisa menjuarai kompetisi biola tingkat dunia Fahri tidaklah setengah-setengah. Ia selalu mengucurkan dana berapapun biayanya demi tergapainya mimpi Keira.

Walaupun Fahri tahu Keira tidak tahu yang selama ini menolong dan membiayai sekolahnya adalah Fahri. Karena jika Keira tahu yang menolongnya adalah dirinya Keira akan gengsi dan tidak mau menerima bantuan Fahri. Keira sangatlah membenci Fahri karena ia menganggap Fahri adalah umat Islam yang menyebabkan ayahnya meninggal. Keira membenci siapa saja yang beragama Islam tidak terkecuali Fahri. Sifat dermawan Fahri dapat tercermin sebagai berikut:

(16)

commit to user

"Tidak masalah. Saya setuju. Besok saya transfer."

"Anda serius Tuan Fahri. Tiga puluh lima ribu poundsterling itu tidak sedikit." (AAC2, 245).

"Saya serius. Yang penting ada semacam jaminan hasil. Bahwa dia bisa juara dunia atau sejenisnya." (AAC2, 245).

Selain itu ketika uang Misbah habis dan ia ingin meminjam uang kepada Fahri untuk membayar taksi. Fahri mengatakan tidak perlu meminjam karena biar dia yang membayarnya. Seperti kutipan di bawah ini:

"Nggak usah pinjam Bah, biar aku bayar." (AAC2, 251).

Tidak hanya dari perilaku Fahri saja yang mencerminkan sifat dermawannya, namun juga diakui oleh tokoh lain yang mengatakan bahwa selama ini yang menolongnya adalah orang yang kaya dan dermawan karena mau membiayai sekolahnya dan segala fasilitas lomba hingga ia bisa masuk tiga besar kompetisi dunia itu. Keira juga mendapatkan hadiah yang sangat mahal dan akan mengikuti kompetisi biola kelas dunia yang lain di London serta akan diberikan biola yang bagus serta mahal oleh orang yang selama ini menolongnya tersebut. Walaupun Keira tidak tahu bahwa orang dibalik kesuksesannya sampai saat ini adalah Fahri tetangga yang ia sangat benci, berikut pengggalannya:

“Dia pasti kaya-raya dan yang pasti dia sangat dermawan. Bayangkan pergi ke Italia berempat. Semua biaya dan semua keperluan dia yang tanggung.” (AAC2, 456).

9) Sabar

Ketika mobil Fahri dicoret-coret dengan kata-kata yang merendahkannya serta agamanya. Fahri tidak langsung emosi dan jengkel seperti Paman Halusi. Fahri sabar menghadapi kondisi seperti itu. Karena ia tidak akan gegabah mengambil keputusan yang belum tentu kebenarannya dan dapat merugikan orang lain jika tuduhan tersebut salah orang. Fahri memilih sabar dan menunggu serta mengumpulkan bukti siapa sebenarnya pelaku dari teror yang ia dapatkan selama ini. Hal tersebut terlihat dari cuplikan berikut ini:

(17)

commit to user

Dalam satu bulan ini, itu adalah kali ketiga kaca depan Fahri di coret-coret dengan kata yang merendahkan Islam dan muslim. Dan selama ini Fahri bersabar saja, ia tidak mengadukan peristiwa itu kepada organisasi- organisasi yang menangani kasus-kasus terkait Islamofobia atau anti- Muslim seperti The Islamic Human Rights Commission, atau Tell Mama yang dijalankan oleh Faith Matters (AAC2, 31).

Kesabaran Fahri juga diperlihatkan ketika ia sedang dibicarakan oleh orang-orang dengan nada menghina. Fahri hanya bisa bersabar dan mendoakan mereka supaya cepat sadar dan selalu diampuni dosa-dosanya. Walaupun Paman Halusi tidak bisa sesabar Fahri ia menasihati Paman Halusi untuk tetap tenang dan bersabar seperti kutipan berikut ini:

"Tahan emosimu Paman. Jika Paman meledakkan kemarahan, maka Paman masuk ke perangkap mereka. Memang itu yang mereka inginkan.

Dan itu berarti Paman benar-benar bodoh seperti keledai, persis seperti yang mereka sindirkan itu. Sudah kita pura-pura tidak tahu saja, meskipun kita tahu." (AAC2, 261).

10) Penyayang

Fahri adalah orang yang penyayang, kepada Jason misalnya. Jason adalah adik Keira, Jason juga membenci Fahri padahal Fahri selalu berbuat baik kepadanya serta menyayanginya. Hal tersebut diperlihatkan Fahri ketika Paman Halusi meminta Fahri untuk melaporkan Jason yang telah mencuri cokelat di minimarket Fahri serta dilakukann Jason secara terus menerus.

Berikut penggalan perkataan Fahri yang mencerminkan watak penyayang Fahri:

"Paman tenang saja. Urusan mendidik anak itu biar jadi urusan saya. Dia masih sangat muda. Kita barus memperlakukannya dengan kasih sayang, paman." (AAC2, 132).

Menurut pemaparan tokoh lain yaitu Sabina. Sabina adalah orang yang ditolong oleh Fahri dan tinggal dirumah Fahri bersama Paman Halusi dan Misbah. Ia adalah bekas pengemis yang selalu dihina dan direndahkan sehingga demi kebaikan bersama maka Fahri memutuskan untuk membawa Sabina pulang kerumahnya. Sabina paham betul sifat dan perilaku Fahri, sebagaimana yang dikatakannya dalam kutipan berikut ini:

(18)

commit to user

“Sebaiknya Hoca Fahri ditemukan jodohnya dengan keluarga Bibi Melike saja. Selama saya ikut Hoca Fahri, saya lihat dia orangnya baik, pekerja keras, rendah hati, tanggung jawab, dan penyanyang. Apalagi dalam menangani masalah Nenek Catarina yang sudah saya ceritakan. Saya merasa, sungguh sayang kalau menikah dengan orang lain. Mohon maaf kalau saya lancang, kenapa tidak dijodohkan dengan Hulya saja?” (AAC2, 537).

11) Optimis

Watak optimis sangat diperlukan oleh seseorang untuk mematik semangat dan yakin atas kemampuan yang dia miliki serta tidak merendah diri.

Menghalangi kesuksesan dan keberhasilan dari seseorang tersebut. Fahri sebagai tokoh utama dalam novel Ayat-Ayat Cinta 2 ini sangatlah optimis dalam melakukan segala sesuatu. Misalnya saja ketika dia ingin menyelesaikan riset untuk postdot yang biasanya selesai dua tahun dia optimis ingin menyelesaikannya kurang dari dua tahun, berikut cuplikannya:

"Paman, inilah yang sedang saya lakukan. Sudah saya lakukan sejak saya mengambil doktor di Jerman. Jika orang Jerman melakukan penelitian empat jam sehari, maka saya harus delapan jam. Di sini, jika riset untuk postdoc biasanya selesai dalam waktu dua tahun, maka saya harus bisa lebih cepat dari orang-orang pada umumnya, dengan kualitas yang lebih baik atau minimal sama. Masih ada waktu setengah tahun Iagi bagi saya menyelesaikan riset, paman. Tetapi saya ingin malam ini selesai dan besok sudah saya print dan saya serahkan kepada pihak kampus." (AAC, 25).

Dalam kutipan di atas jelas bahwa Fahri optimis dapat menyelesaikan risetnya lebih cepat dari orang lain. Dan dengan watak optimisnya terbukti Fahri sukses dalam menyelesaikan risetnya lebih cepat. Ketika seseorang ingin maju dan menjadi sukses sangat diperlukan sifat optimis tersebut. Watak optimis Fahri juga diperlihatkan ketika ia diminta sebagai pembicara dalam debat ilmiah tentang Amalek. Debat tersebut akan diadakan di kampus dalam waktu dekat. Selain debat tersebut Fahri juga ditunjuk untuk debat di Oxford.

dan ketika ia ditanya perihal kesiapannya menghadapi kedua ajang debat tersebut dan beginilah jawaban dari Fahri:

"Siap Prof." (AAC2, 382).

(19)

commit to user

"Insya Allah Profesor." (AAC2, 449).

Dengan jawaban tersebut sudah dapat membuktikan Fahri optimis dalam menghadapi debat yang akan diadakan di kampus serta Oxford. Selain itu sifat optimis Fahri juga diungkapkan oleh tokoh lain. Lewat pemaparannya sebagai berikut:

"Hoca Fahri sesungguhnya orang yang sangat optimis, humbel, dan sangat profesional. Dia hanya sedih kalau memang ada yang sesuatu yang membawanya mengingat Aisha. Dia sangat mencintainya, dan sangat menyesal kenapa tidak menemaninya pergi ke Palestina." (AAC2, 121).

12) Penghangat Suasana/Penggembira

Fahri selalu dapat membuat suasana yang semula menegangkan menjadi menyenangkan, karena Fahri tidak suka dengan suasana tegang ataupun terlalu kaku. Hal tersebut ditunjukkan Fahri ketika bertemu dengan Profesor Stevens yang masih belum terlalu akrab dengan Fahri sehingga suasana menjadi canggung. Namun Fahri dapat mengubahnya menjadi suasana yang lebih cair, berikut kutipannya:

Lagi-Iagi Fahri menjawab dengan aksen Skotlandia tapi dibuat lucu.

Profesor Stevens menunjukkan tangannya ke Fahri dan tertawa (AAC2, 40).

Jawab Profesor Stevens sambil tertawa. Suasana telah menjadi cair (AAC2, 40).

Ketika Fahri sedang olahraga lari pagi mengelilingi kompleks Stoneyhill ia berpapasan dengan Jason yang sedang olahraga juga. Ia menghangatkan suasana yang semula tegang menjadi cair dengan menyapa dan menanyakan beberapa hal kepada Jason. Suasana menjadi tidak canggung dan lebih menyenangkan . Dengan perbincangan ringan yang mereka berdua lakukan di pagi hari itu, berikut kutipannya:

"Bagaimana perkembangan sekolah bolamu, Jason?" Tanya Fahri sambil memperlambat larinya lalu berjalan biasa. Jason mengikuti langkah Fahri (AAC2, 317).

(20)

commit to user

Ketika Paman Halusi menyampaikan keinginannya untuk menikahi Sabina di hadapan Fahri dan Misbah. Fahri mendengarkannya dengan seksama dan memberikan dukungan untuk menyegerakan menyampaikan lamaran Paman Halusi kepada Sabina. Lalu Paman Halusi merasa tegang dan takut sehingga ia menanyakan apa yang harus dilakukannya selanjutnya kepada Fahri. Dengan nada bercanda namun serius Fahri pun menjawab seperti berikut dan seketika suasana menjadi tidak menegangkan lagi, berikut jawaban Fahri atas pertanyaan Paman Halusi:

"Ah masak Paman tidak tahu? Langkah selanjutnya ya Paman sampaikan keinginan Paman itu kepada Sabina. Atau melamar Sabina. Jika diterima baru dilanjutkan proses akad nikah." Kata Fahri sambil tersenyum (AAC2, 377).

13) Berpikir Positif

Pemikiran positif Fahri terlihat ketika dia bertemu dengan tetangganya yang bernama Jason yang sangat sinis ketika melihat Fahri namun Fahri membalasnya dengan senyuman. Walaupun Paman Halusi yakin bahwa yang mencoret-coret mobil Fahri adalah Jason namun Fahri tetap berpikiran positif.

Kalau belum ada buktinya ia tidak bisa menuduh dan menyalahkan siapapun, berikut kutipannya:

"Sudahlah paman, kebencian jangan kita balas dengan kebencian. Ayo masuk, siapkan teh panas dan sarapan, sementara saya ngeprint kerjaan saya." (AAC2, 34).

Ketika Jason melihat Janet mamanya satu mobil dengan Fahri dia langsung menanyakan mengapa bisa satu mobil dengan penjahat yaitu Fahri.

Fahri dan Paman Halusi mendengar perkataan Jason tersebut. Fahri dengan sabar membiarkan perkataan Jason yang salah kaprah tersebut namun tidak dengan Paman Halusi yang langsung naik pitam ketika mendengarnya, Fahri pun meredakan amarah Paman Halusi dan mengatakan perkataan berikut ini:

"Sudah, biarkan saja, Paman. Ayo masuk dan shalat Maghrib. Ini sudah Maghrib. Kita doakan saja tetangga kita terbuka hatinya dan bisa bersikap lebih baik." (AAC2, 154).

(21)

commit to user

Teror yang dialami oleh Fahri secara terus menerus membuat Paman Halusi geram namun tidak dengan Fahri. Ketika Paman Halusi yakin yang melakukan teror dengan menghina Islam dan menuliskannya di mobil Fahri adalah Jason. Perilaku Jason yang selalu sinis dan menganggap Fahri adalah penjahat sudah cukup membuktikan bahwa dialah yang telah melakukan teror selama ini. Namun Fahri tidak mau menduga tanpa memiliki bukti yang kuat.

Ia tetap berpikiran positif bahwa Jason adalah anak yang baik dan tidak mungkin melakukan perbuatan tersebut, berikut kutipannya:

"Ya, makanya kita perlu bukti basahnya agar bisa mendidik anak itu, kalau anak itu pelakunya." (AAC2, 132).

14) Pemaaf

Sifat pemaaf yang dimiliki oleh Fahri patut dicontoh karena ia memaafkan orang-orang yang telah berbuat buruk kepadanya tanpa syarat dan diminta terlebih dahulu. Fahri menyadari perlakuan kurang baik yang orang- orang berikan kepada Fahri tersebut karena mereka tidak tahu yang sebenarnya. Fahri lebih memilih memaafkan mereka daripada menyimpan dendam. Jika Allah saja bisa memaafkan perbuatan umatnya kenapa tidak dengan Fahri yang hanya makhluk ciptaan-Nya yang masih memiliki banyak kekurangan. Sifat pemaaf Fahri ditunjukkan di dalam penggalan berikut ini ketika Jason tertangkap basah telah mencuri cokelat di minimarket Fahri:

"Saya tidak menghitung sudah berapa kali. Itu tidak penting sebab sudah saya maafkan. Sekarang pulanglah!" (AAC2, 179).

Hal serupa juga terjadi ketika Keira tetangga yang sangat membenci Fahri meminta maaf atas kejadian di restoran Bay of Begal yang kurang mengenakkan. Keira sangat menyesalinya ia menyadari bahwa sifatnya yang terlalu tinggi hati membuat semua orang menjadi tidak nyaman. Keira pun meminta maaf kepada Fahri, dan berikut jawaban yang dilontarkan Fahri kepada Keira setelah ia meminta maaf:

"Ah itu hal yang tidak perlu dipermasalahkan. Saya malah tidak merasa ada yang janggal, saya merasa biasa saja." sahut Fahri (AAC2, 239).

(22)

commit to user

Ketika Sabina meminta maaf kepada Fahri karena selalu merepotkannya Fahri pun memaafkannya. Bahkan Fahri merasa tidak ada yang perlu dimaafkan karena Sabina tidak merepotkannya sama sekali. Fahri menolongnya murni ikhlas, jangankan dengan sesama umat Islam. Nenek Catarina yang seorang Yahudi saja dia tolong, berikut penggalannya:

Sabina :"Maafkan saya yang tidak hati-hati, Tuan."

Fahri : "Kau tidak salah, tidak ada yang perlu di maafkan." (AAC2, 356).

Watak pemaaf Fahri juga diperlihatkan ketika Nenek Catarina sakit dan dia merasa kematian sudah menghampirinya, dia meminta maaf kepada Fahri karena dulunya Nenek Catarina menganggap bahwa Fahri adalah Amalek yang rendah. Dan berikut yang Fahri ucapkan kepada Nenek Catarina:

“Aku tahu itu, Nek, dan aku sudah memaafkan sebelum nenek minta maaf.” (AAC2, 478).

15) Perhatian

Watak perhatian Fahri dapat terlihat ketika ia melihat Nenek Catarina yang sedang menunggu bus di halte. Fahri keluar mobil dan menghampirinya.

Dengan nenek tua tetangganya tersebut Fahri sangatlah perhatian. Hal tersebut tercermin dari kutipan berikut ini:

"Nenek kenapa di sini? Mau pulang, atau nenek sedang menunggu bus mau pergi?" sapa Fahri halus (AAC2, 128).

"Kami antar pulang ke rumah ya, nek. Dari halte ini ke rumah jauh."

(AAC2, 128).

Nenek Catarina berdiri dari duduknya. Fahri memapah Nenek Catarina.

Misbah dan Paman Hulusi mau turun membantu dilarang oleh Fahri, sebab hujan masih turun meskipun tidak terlalu deras. Akhirnya Nenek Catarina masuk ke dalam mobil. Paman Hulusi mengarahkan mobil itu kembali ke Stoneyhill Grove. Fahri mengantar Nenek Catarina sampai membukakan pintu rumahnya dan mendudukkan Nenek Catarina di sofa ruang tamunya (AAC2, 128).

"Paman, saya punya ibu yang juga sudah tua meskipun tidak setua Nenek Catarina. Dan meskipun ibu saya tinggal bersama adik perempuan saya, melihat Nenek Catarina itu saya kasihan. Kakinya kan sedang sakit. Dia

(23)

commit to user

sudah makan siang belum ya? Sudah makan malam belum. Dia kan hidup sendirian." (AAC2, 134).

"Nek, teman saya yang agak tua itu bisa memijat urat kaki yang salah.

Kalau nenek mau, besok kaki nenek biar di pijat sama dia. Bagaimana, nek?" (AAC2, 136).

Dari beberapa kutipan di atas terlihat bahwa Fahri sangatlah perhatian kepada Nenek Catarina. Ia selalu mencurahkan perhatiannya kepada tetangganya tersebut misalnya saja ketika nenek Catarina tidak ada yang mengantar pulang Fahri menawarkan tumpangan. Kemudian ketika Nenek Catarina susah untuk berjalan Fahri memapahnya masuk ke dalam mobil padahal saat itu hujan masih deras. Setelah sesampainya di rumah Fahri juga memapah dan mendudukannya di sofa ruang tamunya. Tidak berhenti di situ perhatian Fahri kepada Nenek Catarina memuncak ketika kaki nenek tersebut sakit karena terjatuh sehingga Fahri menyadari bahwa Nenek Catarina susah untuk berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan dan lain sebagainya. Fahri pun menawarkan untuk memijat kaki Nenek Catarina supaya lebih cepat sembuh. Dan ketika Nenek Catarina menangis dan dilihat oleh Fahri, ia langsung menghampiri nenek tersebut dengan perhatian ia menjadi teman bicara Nenek Catarina yang di usia senjanya tidak memiliki siapa-siapa dan hidup sebatang kara dirumahnya. Berikut penggalan perhatian Fahri kepada Nenek Catarina:

"Ada apa Nek? Apa yang bisa Fahri bantu? Kenapa nenek terlihat sangat sedih?" (AAC2, 191).

Selain kepada Nenek Catarina Fahri juga perhatian kepada Sabina, walaupun Sabina bisa dibilang orang yang Fahri belum kenal namun tidak menghalangi watak perhatian Fahri tersebut. Di bawah ini adalah kutipan perhatian Fahri kepada Sabina yang meminta Paman Halusi untuk membawanya ke supermarket barangkali ada yang ingin dibeli Sabina untuk keperluannya:

"Oh ya Paman, sebelum sampai rumah, ajak dia ke supermarket agar dia belanja semua keperluan pribadi dia. Mungkin dia perlu pakaian ganti,

(24)

commit to user

perlu sabun mandi yang cocok dengan dia dan lain sebagainya." (AAC2, 217).

16) Saleh (Beriman dan Bertakwa)

Fahri tidak pernah meninggalkan salat lima waktunya, seberapa sibuknya dia tetap disiplin melakukan salat lima waktu ketika waktunya sudah tiba. Hal tersebut mencerminkan bahwa Fahri adalah orang yang saleh karena beriman dan bertakwa, berikut kutipannya:

"Maaf, bagi saya ini sudah tiba waktunya untuk ibadah. Apakah kalian terganggu jika saya shalat di sini? Jika kalian terganggu, saya akan shalat di office saya, lalu balik ke sini. Atau kalian merasa cukup maka akan saya sudahi kelas ini." (AAC2, 6).

Fahri mengambil dua sajadah yang ia letakkan dalam laci paling bawah meja kerjanya. Mereka berdua lalu tenggelam dalam kekhusyukan munajat kepada Allah saat hujan mengguyur Edinburgh, dan lonceng dari St Giles Cathedral berdentang-dentang (AAC2, 12).

Fahri lalu bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Waktu sepuluh menit ia gunakan untuk membaca Al-Qur'an. Ketika waktu Zhuhur sudah masuk, ia shalat dua rakaat lalu turun ke bawah. Dan shalat berjamaah bersama Paman Hulusi dan Misbah (AAC2, 125).

Dari beberapa penggalan di atas terlihat bahwa Fahri selalu tidak lupa untuk menegakkan salat. Dalam Agama Islam salat lima waktu wajib hukumnya dilakukan. Karena salat merupakan tiang agama. Tidak cukup dengan berbuat baik saja maka seseorang tersebut dapat masuk surga. Karena jika seseorang tersebut meninggalkan salat yang dijadikan sebagai tiang agama maka orang tersebut dalam keadaan menyiakan kehidupannya di dunia. Karena kehidupan di dunia bukanlah yang kekal dan abadi. Hidup di dunia ini hanyalah sementara segala sesuatu yang kita peroleh di dunia tidak akan bisa dibawa mati kecuali amal ibadahnya selama hidup di dunia yang akan dijadikan bekal nantinya di akhirat. Fahri paham betul dengan hal ini sehingga ia tidak pernah meninggalkan salat.

Ketika Paman Halusi mengatakan bahwa sudah ada bukti dari rekaman CCTV yang dipasang di depan rumah dan ia penasaran dengan siapa pelaku

(25)

commit to user

yang terekam dan selama ini telah meneror Fahri. Fahri tidak langsung melihatnya karena waktu salat telah tiba. Daripada meributkan urusan yang tidak ada manfaatnya lebih baik ia bergegas pergi ke masjid untuk dapat salat berjamaah bersama-sama, berikut penggalannya:

"Tidak usah nanti saja. Ayo kita ke masjid. Jangan sampai kita ketinggalan jama'ah karena meributkan hal kecil seperti itu." (AAC2, 157).

Orang yang beriman dan bertakwa tentunya paham betul kepada siapa ia harus meminta pertolongan dan berdoa. Fahri selalu memanjatkan doa untuk kesehatan dan kebahagian orang-orang terdekatnya. Selain itu dia juga sering menangis dalam sujudnya berdoa supaya ia diberi kekuatan dan perlindungan untuk selalu berada di jalan yang benar. Ketika ia merindukan istrinya yaitu Aisha Fahri mencurahkannya dengan mendoakan Aisha. Selain itu Fahri juga tidak lupa untuk membaca Alquran walaupun dia telah hafal. Walaupun dalam kondisi capek dan kurang tidur Fahri tidak melupakan kewajiban dan sunah- sunah yang harus ia amalkan, berikut penggalannya:

Dalam sujud panjangnya Fahri mengadu kepada Tuhannya tentang kerinduannya kepada Aisha. Ia meminta kepada Tuhan agar mengampuni dirinya jika dalam kerinduannya itu terdapat kezaliman pada dirinya sendiri. Ia meminta kepada Tuhan agar dirinya jangan diserahkan kepada hawa nafsunya sedetikpun. Ya Hayyu ya Qayyum birahmatika astaghitsu ashlih li nafsi wa la takilni ila nafsi tharfata 'ain. Amin (AAC2, 238).

Malam itu Fahri melawan lelah untuk ibadah. Wirid bacaan Al Qur'annya hari itu masih kurang satu juz. Betapa berat untuk istiqamah. Murid Syaikh Utsman itu berdiri tegap memuraja'ah hafalan Al-Qur'annya dalam shalat malam (AAC2, 341).

17) Cengeng

Fahri adalah orang yang mudah terbawa suasana lalu meneteskan air mata. Air mata Fahri tidak bisa tertahankan ketika Fahri teringat dengan istrinya yaitu Aisha. Aisha yang telah menghilang dan tidak ada kabarnya selama bertahun-tahun dan ia telah mencarinya kemana-mana namun tidak ada hasil. Fahri sangatlah mencintai istrinya itu bahkan tidak bisa melupakannya dan itulah salah satu alasan kenapa sampai sekarang ia tidak menikah lagi

(26)

commit to user

walaupun banyak wanita yang baik budi serta akhlaknya namun Fahri merasa belum ada yang bisa menggantikan posisi Aisha di dalam hatinya. Jika Fahri disinggung perihal Aisha ia akan bersedih dan tak kuasa menahan air matanyanya, berikut kutipan-kutipannya:

Ozan dan istrinya tidak tabu bahwa Fahri keluar dari hotel itu dengan kedua mata berkaca-kaca. Sepanjang jalan dari tengah Kota Edinburgh menuju Musselburgh air mata Fahri mengalir begitu saja membasahi pipinya (AAC2, 62).

Fahri menunduk dan memejamkan mata. Air matanya meleleh di pipi (AAC2, 63).

"Ya Allah, bagaimana mungkin aku bisa melupakannya. Ampuni hamba- Mu kalau sampai cintaku padanya menutupi cintaku kepada-Mu, ya Allah!" lirih Fahri sambil menyeka air matanya (AAC2, 64).

Fahri menyeka air matanya dan diam. Pandangannya menerawang menerobos jendela. Ia melihat bunga Sakura merah muda yang bermekaran di depan rumah Brenda. Bunga Sakura itu bergoyang-goyang diterpa hembusan angin. Beberapa kelopak bunganya lepas dan melayang dibawa angin, lalu jatuh ke tanah (AAC2, 226).

Tangisan Fahri pecah tidak hanya dikarenakan teringat kenangan- kenangannya bersama Aisha saja namun juga kepada Maria. Maria adalah sahabatnya yang menjadi istri keduanya setelah Aisha. Aisha meminta Fahri untuk menikahi Maria yang sedang sakit. Namun tidak lama kemudian Maria meninggal karena sakitnya tersebut. Ketika teringat akan Maria Fahri juga merasa sedih dan menangis hal tersebut dapat terlihat dari penggalan- penggalan penggambaran suasana hati Fahri berikut ini:

Setiap kali membaca Surat Maryam ayat 27 sampai 31, Fahri selalu menangis. Ada dua hal yang membuatnya menangis. Pertama adalah isi ayat itu. Kedua, hal itu selalu mengingatkannya pada Maria saat membacanya dalam keadaan tidak sadar menjelang ajalnya datang. Seolah suara Maria masih ia dengar melantunkan ayat-ayat itu. Wajah Maria yang tirus jelita dengan mata terpejam dan air mata meleleh di pipi saat membacanya, terbayang di pelupuk matanya. Ia merasa, malaikat pun akan luluh jiwanya, bergetar hatinya, dan meneteskan air mata mendengar ayat itu dibaca oleh Maria (AAC2, 16).

Dan setiap kali merampungkan Surat Maryam, lalu membaca basmalah dan memulai Surat Thaha, pasti tangisnya pecah tak tertahan (AAC2, 17).

(27)

commit to user

Fahri lalu mengirim doa untuk Maria. Kemudian tertsak-isak mengingat Aisha. Apakah Aisha telah menyusul Maria? (AAC2, 17).

Air mata Fahri terus meleleh. Bibir dan hatinya menggetarkan tasbih Nabi Yunus ketika berada di perut ikan paus (AAC2, 20).

18) Demokratif

Dalam menjalankan bisnisnya Fahri sangatlah demokratif ia meminta pendapat dari para pegawainya perihal kebijakan-kebijakan apa saja yang perlu ia ambil untuk terus memajukan bisnisnya tersebut. Fahri selalu rutin mengadakan rapat dengan para pegawainya. Selain untuk menjalin silaturahmi ia juga akan mendengarkan berbagai usulan dan masukan dari para pegaiwanya sehingga akan terjadi mufakat bersama. Karena watak demokratif Fahri tersebutlah ia menjadi lebih dekat dengan para pegawainya dan terjalin hubungan kekeluargaan diantara mereka. Fahri sadar betul suara para pegawainya perlu didengar. Mereka yang menghadapi dan berada selalu di dalam usahanya sehingga lebih paham apa yang harus diperbaiki dan dilakukan dalam bisnisnya, berikut penggalannya:

"Apakah di antara kalian ada yang punya usul untuk meningkatkan laba minimarket dan resto?" tanya Fahri (AAC2, 65).

19) Menghargai Pendapat Orang Lain

Di dalam sebuah diskusi yang harus dilakukan adalah menghargai pendapat orang lain, kita tidak boleh bersikeras dengan egois tetap dalam pendirian kita dan dengan usul kita. Kita harus dapat berpikiran terbuka jika pendapat orang lain lebih baik daripada kita, maka kita harus mengakuinya dan jika tidak kita harus tetap menghargai pendapat orang lain. Seperti yang dilakukan Fahri dengan usul Brother Mosa yang sangat baik dan cemerlang untuk menaikkan laba minimarketnya Fahri langsung berkata seperti ini:

"Usul yang bagus sekali. Brother Mosa, tolong dieksekusi dengan baik." (AAC2, 66).

"Wah cemerlang sekali idenya. Brother Mosa, tolong dicatat baik-baik.

Panggil ahli desain interior untuk mewujudkan usul Nona Ruth." (AAC2, 67).

(28)

commit to user

Ketika Fahri bertemu dan berdiskusi dengan Madam Varenka perihal sekolah biola Keira ia menjadi pendengar yang baik dan menghargai pendapatnya Madam Varenka. Berikut pendapat Madam Varenka:

"Tepat sekali. Setiap bangsa pasti punya pahlawan. Hanya mereka yang bisa menjiwai mental para pahlawannya yang akan meraih prestasi- prestasi gemilang." Lanjut Madam Varenka. Fahri mengangguk. "Kembali ke alasan kedua. Saya ingin Keira rileks dan tidak tegang menjelang berangkat ke Italia. Maka dia perlu penyegaran. Bahkan nanti malam sudah kita siapkan panggung pertunjukan untuk Keira dan Hulya di tengah kota Stirling ini. Satu spot cantik di pinggir sungai Fort. Mereka akan memainkan biola untuk santai dan bersenang-senang. Saya ingin mereka ke Cremona dengan hati senang, optimis, dan bermental pahlawan." (AAC2, 361).

Dan berikut jawaban Fahri:

"Baiklah, saya sangat setuju. Dan jujur saya malah juga banyak belajar dari Anda, Madam Varenka. Semoga nanti hasilnya seperti yang kita inginkan." (AAC2, 361).

20) Setia Terhadap Pasangan

Kesetiaan Fahri terhadap istrinya yaitu Aisha tidak perlu diragukan lagi.

Aisha adalah istri yang sangat Fahri cintai bahkan ketika Aisha menghilang bertahun-tahun Fahri tetap berpendirian kuat untuk tidak menikah lagi dan berharap Aisha suatu saat nanti dapat ditemukan dan kembali kepadanya lagi.

Salah satu kebiasaan Fahri yang mencerminkan kesetiannya terhadap Aisha adalah menulis surat. Fahri menulis surat kepada Aisha dan berharap Aisha membacanya dan tahu isi hatinya yang sangat merindukan istrinya tersebut dan tidak akan pernah bisa melupakannya. Hal tersebut terlihat dari kutipan di bawah ini:

Selalu ada kepuasaan yang tidak bisa diungkapkan setiap kali ia selesai menulis surat kepada Aisha. Ia membayangkan Aisha membacanya, di sebuah tempat di sebuah rumah di Palestina, bersama keluarga Palestina yang baik. Mungkin di Gaza. Aisha harus tinggal di sana, karena harus menolong mereka. Dan Aisha membacanya dengan wajah berbinar-binar.

Hanya saja Aisha bisa membaca emailnya tapi tidak bisa membalasnya, entah karena apa. Ia puas namun air matanya meleleh (AAC2, 124).

(29)

commit to user

Ketika Misbah menasihati Fahri tentang Heba anak Tuan Taher yang baik hati dan cocok dijadikan istri. Fahri menolaknya karena di dalam hati Fahri cukup dan hanya ada Aisha seorang, berikut penjelasannya:

"Bah, jangan ngomong seperti itu lagi dan tema seperti itu lagi! Bagiku cukup Aisha, nggak ada yang lain!" Nada Fahri agak marah, mukanya memerah. Misbah tahu seniornya itu sangat tidak berkenan dengan kata- kata (AAC2, 176).

Watak setia pada pasangan juga Fahri perlihatkan ketika ia ditanya oleh Heba perihal hilangnya Aisha. Dan jika seandainya Aisha sudah meninggal apakah Fahri akan menikah lagi atau tidak. Fahri menjawab kalau istrinya Aisha ternyata sudah meninggal kemungkinan besar ia tidak akan menikah lagi karena tidak akan ada yang bisa menggantikan Aisha. Dan hanyalah Aisha saja yang ia cintai. Berikut jelasnya jawaban Fahri kepada Heba:

"Tidak apa. Baiklah saya jawab. Sementara ini, saya jawab ya. Sementara ini saya belum terpikirkan untuk mencari pengganti Aisha. Seandainya Aisha memang sudah wafat, kemungkinan besar saya tidak akan menikah lagi. Ada banyak hal yang bisa dilakukan selain memikirkan pengganti Aisha." (AAC2, 183).

Kesetian Fahri terhadap Aisha juga diakui oleh tokoh lain. Ketika Fahri dihadapkan dengan permintaan untuk menikahi Yasmin. Dan inilah pengakuan dari tokoh lain yang tidak meragukan lagi kesetiaan Fahri terhadap istrinya yaitu Aisha:

"Coba kau ingat-ingat lagi, kata-kata Syaikh Utsman, '... Justru karena itu aku memilihmu. Karena kau setia pada istrimu. Dulu, Rasulullah Saw.

juga begitu tidak bisa melupakan Khadijah. Bahkan ketika sudah menikah dengan Aishah pun beliau tetap memuji-muji kebaikan Khadijah sehingga Aishah cemburu. Namun begitu Rasulullah saw. tetap bisa membangun rumah tangga dengan sangat harmonis bersama Aishah dan istri-istrinya yang lain. Aku sangat yakin, meskipun kau sangat mencintai Aisha dan tidak bisa melupakannya, nanti kau akan bisa mencintai Yasmin.' ... Kau menikah lagi itu tidak berarti kau mengkhianati Aisha, atau menistakan Aisha. Tidak sama sekali tidak. Apakah ketika Baginda Nabi menikah lagi setelah wafatnya Khadijah berarti beliau mengkhianati Khadijah? Sama sekali tidak! Babkan Allahlah yang memerintahkan Baginda Nabi menikahi Aisyah binti Abu Bakr (AAC2, 275).

(30)

commit to user

"Penasaran dengan cara hidupnya. Kata kakak saya katanya tidak mau hidup mewah. Luar biasa setianya pada Aisha. Sangat disiplin. Sangat berempati. Dan lain sebagainya dan sebagainya." (AAC2, 325).

Dalam kutipan terakhir yang disampaikan oleh Heba yaitu sepupu Aisha yang menyatakan rasa penasarannya terhadap Fahri. Heba selama ini hanya mendengar cerita-cerita Fahri dari kakaknya saja yang mengatakan bahwa Fahri sangatlah setia terhadap Aisha. Hal tersebut sudah menjelaskan ketidakraguan tokoh lainnya terhadap watak Fahri yang sangat setia terhadap pasangannya yaitu Aisha. Selain penegasan dari tokoh-tokoh lain. Fahri juga mengakuinya sendiri bahwa dia tidak bisa melupakan Aisha dan akan selalu setia, berikut kutipannya:

"Saya tidak pernah melupakan Aisha, Paman." Desah Fahri (AAC2, 316).

21) Pekerja Keras

Kita dituntut untuk selalu berusaha dan pantang menyerah dalam pekerjaan kita. Kerja keras adalah perilaku yang menunjukkan upaya sungguh- sungguh dalam melakukan pekerjaan apapun, serta menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya. Hal tersebut yang dilakukan oleh Fahri, berikut kutipannya:

Setelah rapat jadwalnya adalah meluncur ke Queen Street untuk melihat perkembangan AFO Boutique, lalu melihat resto dan minimarket Agnina di Musselburgh. Ia memang harus bekerja keras. Ia ingin buktikan bahwa sukses karir akademik bisa berbarengan dengan sukses bisnis. Lebih dari itu, semuanya adalah untuk ibadah di jalan Aliah SWT (AAC2, 151).

Tidak lama Fahri berada di kafe itu. Begitu urusan Ozan dengan koleganya, ia pun meninggalkan tempat itu. Ozan mengajak dirinya dan Paman Eqbal meninjau butik AFO di London. Ozan juga mengajak Fahri mengunjungi London Bisnis School dan berjumpa dengan teman-teman Ozan yang sedang mengambil program MBA di salah satu sekolah bisnis terkemuka dunia itu (AAC2, 354).

Hari berikutnya Ozan mengajak Fahri main golf di sebuah padang golf yang indah di pinggiran London. Untung, waktu di Jerman, Fahri pernah sedikit belajar main golf bersama Aisha. Sambil bermain golf Ozan melakukan komunikasi bisnis dengan beberapa konglomerat Inggris yang tergabung dalam klub golf itu. Jadi bermain golf itu bukan sekadar

(31)

commit to user

permainan untuk menunjukkan status sosial, tapi bagian dari cara komunikasi bisnis (AAC2, 354).

Dari penggalan-penggalan di atas sudah dapat terlihat bagaimana kerja keras Fahri dalam menangani bisnisnya sehingga menjadi berhasil dan sukses serta mendapatkan laba yang selalu meningkat. Dengan tidak kenal lelah dan kegigihannya akhirnya Fahri dapat mengembangkan bisnisnya. Tidak hanya bisnis butik AFO saja yang berkembang pesat namun dengan bisnis minimarketnya Fahri juga bekerja keras. Walaupun Fahri disibukkan dengan pekerjaannya sebagai dosen namun Fahri tidak melupakan perkembangan bisnis resto dan minimarketnya. Ia selalu meluangkan waktu untuk memantaunya, berikut cuplikannya:

Itu adalah hari yang sibuk bagi Fahri. Sampai di Edinburgh ia langsung ke kampus. Ia harus rapat dengan seluruh pengurus CASAW, The Centre for the Advanced Study of the Arab World. Setelah itu menerima Ju Se Zhang dan memintanya melakukan perbaikan terakhir sebelum tesisnya dicetak dan diserahkan kepada tim penguji. Dari kampus ia langsung ke Musselburgh untuk melihat perkembangan resto dan minimarket Agnina.

Paman Hulusi mengingatkan tentang Spicy Lamb Calzone, seketika itu ia minta Brother Mosa Abdulkerim agar survey ke Umars Tandoori di Striling (AAC2, 371).

Ketika Fahri berada di London ia langsung memantau AFO Boutique.

Walaupun dari pagi hingga sore ia disibukkan dengan mengajar dan memberikan kuliah. Fahri tetap meluangkan waktunya untuk mengurus bisnis butiknya. Tidak diragukan lagi kerja keras yang Fahri curahkan dalam mengurus bisnisnya, berikut kutipannya:

Keberadaan Fahri di London benar-benar sibuk dan padat. Setelah mengajar qira’ah sab’aah, ia diminta untuk memberikan kuliah di SOS London. Dan sore hari usai shalat Ashar, Fahri disibukkan dengan rapat bersama Ozan dan beberapa orang penting dalam managemen AFO Boutique. Fahri menyetujui pendirian AFO Boutique di Los Angeles (AAC2, 468).

22) Baik Hati

Kebaikan hati Fahri ditunjukkan kepada siapa saja. Ia selalu berbuat baik dimana saja kapanpun dan terhadap siapa saja. Misalnya saja kebaikan hati

(32)

commit to user

yang ditunjukkan kepada tetangganya yaitu Nyonya Janet. Nyonya Janet adalah mama dari Keira dan Jason. Ketika Fahri sedang melihat Nyonya Janet sedang menunggu bus ia menawarkan tumpangan, berikut kutipannya:

"Kita tawari bareng saja Paman. Kalau tidak mau ya nggak apa-apa."

(AAC2, 153).

Kebaikan hati Fahri juga digambarkan dari pemaparan Paman Halusi.

Kebaikan hati Fahri kepada tetangganya dan seorang perempuan berwajah buruk yaitu Sabina. Berikut penggalan perkataan Paman Halusi:

"Ya misalnya saja, pertama, menolong perempuan bermuka buruk itu.

Mengobatkan dia di klinik sampai sembuh. Bahkan mengajaknya untuk tinggal di rumah ini, meskipun di letakkan di basemen paling bawah.

Kenapa tidak Hoca serahkan saja pada pemerintah kota sini biar diurusi mereka? Atau sewakan rumah saja. Kedua, begitu baik sama Jason.

Bahkan Hoca membiayai keinginannya untuk sekolah bola. Ketiga, repot- repot menolong Keira. Terus repot-repot mau menolong Nenek Catarina yang rumahnya mau dijual anak tirinya. Di sini sudah biasa nenek tua itu hidup di panti jompo. Terlalu jauh Hoca mengurusi nenek-nenek itu menurut saya.” (AAC2, 226).

Kebaikan hati Fahri juga diperlihatkan ketika ia melihat Nenek Catarina keluar dari kamar Misbah, ia membuka pintu pelan-pelan dan melangkah dengan tertatih. Fahri langsung menghambur memegangi dan membantu Nenek Catarina. Fahri memperlakukan Nenek Catarina dengan sangat baik, berikut buktinya:

“Nenek jangan banyak gerak dulu. Pesan dokter Nenek harus hati-hati berjalan, jangan sampai jatuh. Jika jatuh dengan posisi yang salah itu retak tulang bisa jadi patah. Kalau ada apa-apa nenek panggil kami saja.”

(AAC2, 252).

Selain dengan tetangganya kebaikan Fahri juga diperlihatkan kepada perilakunya terhadap Sabina. Fahri tidak tega membiarkan dia menjadi gelandangan dan mengemis lagi. Fahri menolak keinginan Sabina untuk meninggalkan rumahnya dan hidup seperti dulu lagi, hidup di jalan berkawan dengan semua makhluk Allah. Dan berikut jawaban Fahri:

(33)

commit to user

“Di Stoneyhill Grove kau juga bisa berkawan dengan semua makhluk Allah, tidak ada yang membatasimu. Kami hanya ingin menjaga kehormatanmu sebagai seorang muslimah, tidak lebih." Sahut Fahri.” (AAC2, 374).

Tidak hanya dari perilaku nyata yang Fahri perlihatkan kepada orang- orang terdekatnya. Fahri juga sering mendoakan orang-orang tersebut. Di dalam sujudnya Fahri berdoa supaya mereka mendapatkan hidayah dan kebaikan serta dijauhkan dari hal-hal yang buruk. Hal tersebut mencerminkan bagaimana kebaikan hati Fahri, berikut kutipan ketika Fahri mendoakan orang- orang sekitarnya:

Malam mengelus Musselburgh. Semilir angin sejuk berhemhus mengibarkan tirai jendela kamar Fahri yang sengaja dibuka. Sementara Fahri sedang menangis dalam sujudnya. Malam itu Fahri mendoakan semua orang yang ia kenal baik yang bukan muslim agar mendapatkan hidayah dan kebaikan. Ia sebut nama mereka satu persatu. Yang pertama ia sebut adalah Profesor Charlote, lalu Nyonya Suzan, Nenek Catarina.

Brenda, Keira dan keluarganya Prof Ted Stevens, Ju Se, dan lain sebagainya (AAC2, 393).

23) Berpendirian Kuat

Berpendirian kuat memiliki arti tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain. Berpendirian kuat berbeda dengan keras kepala. Berpendirian kuat lebih mengarah kepada memegang teguh apa yang dianggapnya benar dan baik untuknya dengan tidak menomorsatukan keegoisannya. Berikut contoh watak Fahri yang berpendirin kuat:

"Saya tidak mau memberi mereka sesuatu yang menurut saya dilarang oleh Allah. Kalau mereka mau membeli itu dengan uang mereka terserah mereka. Saya akan beri mereka bonus dan hadiah atas prestasi dan dedikasi mereka. Tapi sesuatu yang baik menurut mereka dan baik menurut Allah. Insya Allah." (AAC2, 166).

Dari penggalan di atas Fahri tahu bahwa menjual alkohol kepada orang lain yang membolehkan meminumnya itu tidak benar. Fahri berpendirian kuat bahwa ia tidak boleh menerima hadiah dari tetangganya yang mengandung alkohol. Fahri memberikan pernyataan sebagai berikut:

Referensi

Dokumen terkait

mengartikan pembelajaran model jigsaw sebagai sebuah tipe pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, dimana dalam kelompok tersebut terdiri dari beberapa siswa yang

Hipotesa dari penelitian ini adalah kawasan perairan laut di lokasi penelitian akan dikelompokkan karakteristiknya berdasarkan lokasi kedekatannya terhadap daratan dan

Sejarah masa lalu menunjukkan hubungan yang baik antara umat Islam dan Kristen di Aceh Singkil, karena masyarakat Aceh yang mayoritas dari etnis batak memiliki kearifan

Perjanjian sewa-menyewa diatur di dalam bab VII Buku III KUH Perdata yang berjudul ‚Tentang Sewa – Menyewa‛ yang meliputi pasal 1548 sampai pasal 1600 KUH

untuk menurunkan Ph dari 7 menjadi 4.8, ditambahkan asam sulfat 95% iselulosa) dimana Ph yang dikehendaki reaktor adalah 4.8.. rror dan coba

Tidak semua pasien PPOK akan mengalami pulmonary heart disease, karena banyak usaha pengobatan yang dilakukan untuk mempertahankan kadar oksigen darah arteri mendekati normal

2 Petreski, Marjan (2006) Menjelaskan dampak adopsi IFRS pada laporan keuangan perusahaan danpada manajemen perusahaan Wawancara; Studi kasus Pengungkapan laporan

KAPASITAS 1 TON / JAM 295 NUSA TENGGARA