• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan Alkitab: 2 Korintus 4: 15 –

D. Bersyukur sebagai Tindakan Aktif

Ada cerita menarik tentang kumpulan burung mencari tempat yang cukup nyaman untuk ditinggali. Namun, pada saat udara mulai dingin dan salju mulai turun di sekitar Kutub Utara, kumpulan burung ini akan pindah ke arah Kutub Selatan. Di kutub Selatan justru sedang terjadi musim panas. Demikian pula sebaliknya, ketika di Kutub Selatan udara mulai dingin, kumpulan burung ini akan kembali ke arah Kutub Utara yang sedang mengalami musim panas. Pada suatu perjalanan menuju ke arah Kutub Selatan, kumpulan burung ini mengalami kelelahan sehingga pimpinan dari kumpulan burung memutuskan agar mereka beristirahat sejenak di area yang memiliki danau dengan ikan-ikan yang segar. Setelah beberapa hari, pimpinan mengajak kumpulannya untuk melanjutkan perjalanan ke kutub Selatan. Salah satu burung, karena merasa nyaman dengan suasana yang ada, memutuskan untuk menunda keberangkatan. “Biarlah kita istirahat dulu sampai betul-betul kelelahan kita hilang, baru kita lanjutkan perjalanan panjang ini.” Usul ini diterima, dan kumpulan burung itu bertahan selama beberapa hari. Ketika pimpinan mengajak kumpulan untuk melanjutkan perjalanan karena udara semakin terasa dingin, kembali si burung mengusulkan agar bertahan dulu beberapa hari. Tetapi, pimpinan tetap menyatakan melanjutkan perjalanan karena dari pengalamannya ia tahu, bahwa beberapa hari lagi udara dingin akan disertai salju yang membuat perjalanan menjadi semakin sulit ditempuh. Namun, si burung tetap memilih bertahan tinggal di sekitar danau dengan alasan, ingin memulihkan kelelahannya. Akhirnya mereka berpisah, kumpulan burung melanjutkan perjalanan meninggalkan si burung. Si burung sangat menikmati berada di tempat yang nyaman dimana ikan sangat mudah diperoleh. Tanpa ia sadari, tubuhnya semakin gemuk karena sudah berminggu-minggu ia tidak terbang sedangkan ia makan begitu banyak ikan. Apa yang kemudian terjadi? Udara semakin dingin dan air di danau pun semakin terasa dingin. Ikan-ikan menyelam jauh ke

dasar danau menghindari air di permukaan yang dingin. Si burung kini sulit mendapatkan ikan dan ia pun merasakan dinginnya udara. Kini ia memutuskan untuk terbang menuju ke arah kutub Selatan. Tetapi apa daya, ketika ia mencoba terbang, ternyata ia tidak sanggup untuk terbang tinggi. Tubuhnya yang menjadi gemuk sulit diajak kompromi untuk terbang tinggi. Ia mencoba lagi, tapi tetap tidak berhasil. Setelah beberapa hari, tubuhnya mulai kurus karena tidak ada makanan yang bisa ia santap. Walaupun begitu, ia tetap tidak bisa terbang karena ternyata kini ia menjadi lemah. Akhirnya bisa burung tersebut ia mati. Cerita ini mengajarkan bahwa kehidupan nyaman belum tentu memberikan akhir yang membahagiakan.

Kadang kala kita mengucapkan syukur secara otomatis, artinya, apa pun situasi yang sedang dihadapi, secara spontan kita langsung mengatakan “Syukur, Tuhan. ” Di satu sisi, memang inilah yang diinginkan, namun di sisi lain, ternyata dengan bersikap spontan seperti itu, kita tidak lagi memaknai ucapan syukur yang kita naikkan. Apakah kita bersyukur karena itu diwajibkan? Apakah sungguh-sungguh kita bersyukur bila berada dalam situasi yang sangat sulit? Selain itu, cukup banyak orang yang salah kaprah dalam mengartikan makna bersyukur. Apa kesalahan mereka? Kesalahan mereka adalah karena menganggap bahwa bersyukur dilakukan dengan pasrah, tanpa dimaknai dengan sungguh-sungguh. Apa bedanya? Sikap pasrah atau disamakan juga dengan sikap fatalistik, adalah sikap menerima apa adanya. Bahaya dari sikap ini adalah tanpa melakukan apa-apa, karena merasa tidak punya kekuatan, kita tetap berharap pertolongan akan tiba dengan sendirinya. Tuhan tidak ingin kita bersikap pasif seperti ini. Tuhan ingin supaya dalam keadaan sesulit apa pun, kita tetap memiliki harapan terhadap pembebasan yang datang dari Tuhan.

Pada pelajaran sebelumnya, kita tahu bahwa apa yang perlukan, kita sampaikan saja kepada Allah yang Mahatahu. Allah tidak menulikan telinga dan membutakan mata melihat kesusahan yang kita alami. Allah menyiapkan pertolongan tepat pada waktunya, namun, Allah menunggu apakah kita sungguh-sungguh meminta pertolongan-Nya, dan bersandar pada kuasa- Nya.

Pada saat kita tetap menunjukkan sikap bergantung kita pada Allah dalam situasi sulit, orang-orang di sekitar kita akan melihat bahwa sumber kekuatan kita adalah dari Tuhan sendiri. Rasa syukur yang kita naikkan pada situasi sulit ini bukanlah karena kita bertindak emosional, melainkan karena

menyadari bahwa Allah tetap bekerja dalam situasi sesulit apa pun, karena bagi Allah, tidak ada yang mustahil (Lukas 1: 37).

E. Kegiatan Pembelajaran

1. Menyanyikan Kidung Jemaat Nomor 457 “Ya Tuhan, Tiap Jam”

Kegiatan diawali dengan menyanyikan “Ya Tuhan, Tiap Jam.” Nyanyian ini menyatakan bahwa kita sungguh-sungguh sangat bergantung pada Tuhan. Tidak ada sesaat pun dimana kita tidak memerlukan Tuhan. Mintalah siswa memberikan alasan mereka secara pribadi, mengapa lagu ini cocok untuk mereka.

Ya Tuhan tiap jam ‘ku memerlukanMu Engkaulah yang memb’ri sejahtera penuh. Ref: Setiap jam ya Tuhan Dikau kuperlukan;

‘Ku datang, Jurus’lamat, berkatilah!

Ya Tuhan, tiap jam dampingi hambaMu;

jikalau Kamu dekat, enyah penggodaku. (ke Ref)

Ya Tuhan, tiap jam, di suka-dukaku,

jikalau Tuhan jauh, percuma hidupku. (ke Ref)

Ya Tuhan, tiap jam ajarkan maksudMu;

b’ri janjiMu genap di dalam hidupku. (ke Ref)

Ya Tuhan, tiap jam kupuji namaMu;

Tuhanku yang kudus, kekal ‘ku milikMu! (ke Ref)

2. Belajar dari Pengalaman Orang tua

Kegiatan ini meminta siswa untuk bertanya kepada orang tua (atau wali untuk mereka yang tidak memiliki orang tua) agar menceritakan pengalaman mereka yang menunjukkan bahwa Allah adalah Maha Pengasih. Setelah itu siswa diminta membuat kesimpulan dan menceritakannya di depan kelas. Tujuan dari kegiatan ini adalah supaya keluarga memiliki kesaksian tentang pengalaman hidup bergantung kepada Tuhan.

3. Belajar dari Pengalaman Teman

Kegiatan ini memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya kepada tiga orang teman dari luar lingkungan sekolah, tentang alasan

mereka untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhan dan apa saja kesulitan mereka untuk mempraktikkan rasa syukur dalam hidup sehari-hari. Hasil dari percakapan ini dituliskan agar dapat diketahui oleh orang lain. Sejalan dengan kegiatan di Pelajaran sebelumnya, kegiatan ini memberikan pengetahuan dan pengalaman, bukan hanya kepada siswa, tetapi juga kepada guru, tentang alasan untuk bersyukur dan kesulitan untuk memelihara sikap bersyukur.

4. Memberikan Makna Bersyukur Bagi Diri Sendiri

Siswa diminta mengisi dua tabel di bawah ini. Tabel pertama meminta mereka mengisi dengan lima hal yang dapat mereka syukuri di kolom . Selain itu, mereka juga diminta menuliskan lima hal yang sulit untuk disyukuri dalam kolom . Jadi, tabel ini berisi rangkuman dari apa yang mereka sudah pelajari tentang hidup bersyukur.

Tabel kedua meminta mereka mengisinya dengan menuliskan empat ciri sikap bersyukur sebagai tindakan aktif pertama di kolom ( ) dan empat ciri sikap bersyukur sebagai sikap pasrah di kolom ( ) :

Bersyukur sebagai tindakan aktif

Kegiatan ini menolong siswa mencermati tindakan bersyukur yang dilakukannya, apakah dengan sungguh-sungguh atau hanya sebagai kebiasaan yang tidak dimaknai lagi, atau sebagai suatu keterpaksaan.