BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Interpretasi Hasil Analisis Data
5 Bertanya pada saat proses pembelajaran
Melalui pertanyaan, siswa dapat menyatakan keingitahuannya terhadap sesuatu hal. Tingkat atau jenjang pertanyaan yang diutarakan melambangkan tingkat kedewasaan siswa.
6. Melanjutkan Cerita
Dua, tiga, empat siswa bersama-sama menyusun cerita secara spontan kadang-kadang guru juga terlihat dalam kegiatan misalnya guru mengawali cerita dan cerita itu dilanjutkan siswa kedua, ketiga dan diakhiri oleh siswa berikutnya.
7. Menceritakan kembali
Guru mempersiapkan bahan bacaan, siswa memperhatikan bahan itu dengan seksama, kemudian guru meminta siswa menceritakan kembali isi cerita dengan kata-kata.
8. Percakapan
Percakapan adalah pertukaran pikiran atau pendapat mengenai suatu topik antara dua atau lebih pembicaraan
9. Diskusi
Adalah proses perlibatan dua atau individu yang terinteraksi secara verbal dan tatap muka, mengenai tujuan yang sudah dicapai melalui tukar pendapat diskusi merupakan sarana yang ampuh bagi pengembangan
keterampilan berbicara, berlatih diskusi berlatih berbicara.18
2. Kemampuan anak dalam bercerita a. Hakikat cerita Anak
Sebagian besar karya sastra mesti menampilkan cerita. Dan cerita tentang misteri kehidupan tersebut dapat dipandang sebagai aspek isi. Artinya, sesuatu yang menjadi isi ungkapan dan yang ingin disampaikan kepada pihak lain (pembaca).19 Isi cerita tersebut dijalin dalam sebuah rangkaian alur yang menampilkan berbagai peristiwa dan tokoh yang menjalin secara serasi yang dikemas dalam bahasa narasi dan dialog.
b. Cara kemampuan berbicara anak dalam bercerita
Menurut Nadeak mengemukakan keterkaitannya dalam bercerita yaitu:
1. Memilih cerita yang tepat 2. Mengetahui cerita 3. Merasakan cerita
4. Menguasai kerangka cerita 5. Menyelaraskan cerita 6. Pemilihan cerita yang tepat 7. Menyederhanakan cerita
8. Mengenali tujuan dan klimaks, kejadian 9. Menetapkan sudut pandang
10. Menciptakan suasana dan gerak 11. Merangkai adegan.20
18
Novi Resmini, Dadan Juanda, Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Dikelas Tinggi, (Bandung: Setiabudi, 2007) h. 61-63
19 Nugiyanto Burhan, Sastra Anak, (Yogyakarta: Gajah Mada Universty Press,2005) h. 217-218 20
3. Pengertian Media
Kata media berasal dari bahasa latin dan secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan, yang menguntip pendapat Gagne menyebut media “Berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar.21
Sedangkan menurut Gerlach mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang menbangun kondisi yang membuat siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap.22 Senada dari situ guru juga harus menghidupkan suasana pembelajaran dengan memilih dan menggunakan media yang menarik perhatian sehingga bisa membuat siswa lebih giat belajarnya. Suasana kelas yang menyenangkan akan secara otomatis meningkatkan prestasi pada siswa.
Pendapat-pendapat di atas memiliki kesamaan yaitu media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa. Diharapkan hasil siswa belajar dapat ditingkatkan setelah menggunakan media.
a. Fungsi-fungsi media pembelajaran
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, fungsi media dapat dikhususkan pada empat keterampilan bahasa, yaitu:
1. Fungsi Media dalam pembelajaran meyimak 2. Fungsi media dalam pembelajaran berbicara a) Memotivasi siswa untuk berani berbicara b) Mengembangkan dalam wacananya
c) Memberi informasi dalam wacana yang menyangkut objek, tindakan, peristiwa dan keterkaitannya
3. Fungsi media dalam pembelajaran membaca 4. Fungsi media dalam pembelajaran menulis
21 Sadiman, Arief S, Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan Dan Pemanfaataannya, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010) h.6
b. Jenis-jenis Media
Media yang dapat digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada tingkat sekolah dasar meliputi berbagai macam bentuk. Adapun jenis-jenis dari media sebagai berikut:
1. Media visual, adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan, yang termasuk jenis ini antara lain meliputi gambar, foto, serta benda nyata yang tidak bersuara.
2. Media Audio visual, adalah media yang mempunyai unsur dan unsur gambar. Beberapa contoh media visual meliputi televisi, video, film atau demontrasi langsung.
3. Media proyeksi diam adalah rangsangan-rangsangan visual, beberapa contohnya film bingkai, micro film.23
c. Media Boneka
Boneka adalah tiruan dari bentuk manusia dan bahkan sekarang termasuk tiruan dari bentuk binatang Jadi sebenarnya boneka merupakan salah satu model perbandingan juga. Sekalipun demikian, karena boneka dalam penampilannya memiliki karakteristik khusus, maka dalam bahasan ini dibicarakan tersendiri. Dalam penggunaan boneka dimanfaatkan sebagai media pembelajaran dengan cara dimainkan dalam sandiwara boneka. Untuk keperluan sekolah dapat dibuat boneka yang disesuaikan dengan cerita-cerita zaman sekarang. Untuk tiap daerah pembuatan boneka ini disesuaikan dengan keadaan daerah masing-masing.
1. Macam –macam boneka untuk media pembelajaran, yaitu : a. Boneka tongkat,
b. Boneka tangan, c. Boneka tali,
d. Boneka bayang-bayang.
23 Arief S. Sadiman, Op.cit, H .29
4. Boneka Tangan
a. Pengertian Boneka tangan
Menurut Raemiza media boneka dapat membantu anak dalam memahami cerita dan lebih menarik perhatian mereka. Media boneka termasuk dalam jenis media visual tiga dimensi. Media ini dapat membantu siswa mengenal segala aspek yang berkaitan dengan benda dan memberikan pengalaman yang lengkap tentang benda tersebut. Benda-benda dan situasi yang diajarkan kepada anak akan lebih cepat dipahami bila obyek tersebut ada di hadapan mereka.
Penggunaan media boneka tangan menolong anak untuk bernalar dan membentuk konsep tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan obyek, baik ukuran, bentuk, berat, maupun manfaatnya. Sesuai dengan namanya “boneka tangan”, cara memainkannya dengan memasukkan tangan ke dalamnya. Bentuknya pun menyerupai sarung tangan, namun tentu saja boneka ini lebih menarik. Menurut Ahira disebut boneka tangan, karena cara memainkannya pun satu tangan kita hanya dapat memainkan satu boneka, dan boneka ini hanya terdiri dari kepala dan dua tangan saja, sedangkan bagian badan dan kakinya hanya merupakan baju yang menutup lengan orang yang memainkannya.
Selain itu, penggunaan benda-benda nyata atau makhluk hidup dalam pengajaran sering kali dianggap paling baik. Ada berbagai karakter boneka tangan yang ada di pasaran, misalnya binatang, buah-buahan, orang dan tokoh kartun yang populer dikalangan anak-anak.24 b. Fungsi Boneka Tangan
Menurut Ahira boneka tangan sangat sesuai untuk digunakan sebagai alat permainan edukatif. Dibandingkan dengan jenis boneka lain, boneka tangan lebih mudah digerak-gerakkan sesuai dengan jalan cerita. Selain itu, menurut Ahira media ini mempunyai beberapa fungsi, yaitu (1) memberikan pengalaman yang konkret, (2) memungkinkan
24
Menurut Raemiza, Teny Wulan Sudaniti, Meningkatkan keterampilan bercerita dengan
siswa menganalisis siswa menganalisis secara mendalam, (3) membangkitkan motivasi dan rasa ingin tahu, (4) informasi yang diperoleh akan lebih jelas, (5) memperjelas suatu masalah atau proses kerja dari alat, dan (6) mendorong timbulnya kreativitas siswa.
c. Manfaat Boneka Tangan
1. Tidak memakan tempat dalam pelaksanaanya 2. Dapat mengembangkan imajinasi anak
3. Mempertinggi keaktifan anak dan suasana gembira 4. Mengembangkan aspek bahasa yang baik
d. Penggunaan boneka tangan antara lain:
1. Guru mempersiapkan naskah berupa teks cerita untuk dibaca siswa dan media boneka tangan yang akan digunakan
2. Siswa maju bercerita dengan menggunakan boneka tangan dengan ketentuan jarak boneka dengan mulut pencerita tidak boleh terlalu dekat.
3. Sambil memainkan boneka, lafal dan intonasi harus jelas ketika siswa bercerita
4. Boneka dimainkan sesuai dengan teks cerita
5. Dalam memainkan boneka, tangan harus terlihat lentur atau tidak kaku dan gerakan harus sinkron dengan suara.
e. Boneka tangan sebagai media pembelajaran
Kaitannya dengan permasalahan pembelajaran bahasa yang telah diungkapkan pada latar belakang masalah, Tarigan menuturkan bahwa proses-proses untuk mengembangkan kemampuan berbicara menunjukkan perlunya pengaturan bahan bagi penampilan lisan. Menurut Raemiza media boneka tangan merupakan media yang efektif untuk pengajaran dalam mengembangkan perbendaharaan kata, melatih diri untuk mendengarkan dan berbicara. Selain itu, anak lebih perhatian terhadap isi cerita.
Dengan penggunaan media boneka tangan, pesan akan menarik perhatian siswa. Dengan demikian, boneka tangan merupakan bagian
dari media pembelajaran bahasa yang salah satunya bermanfaat sebagai sarana atau alat bantu peningkatan keterampilan bercerita.
B. Hasil Penelitian yang relevan
Ria Angraini dalam skripsinya yang berjudul “peningkatan kemampuan berbicara cerita anak dengan media boneka tangan pada proses peserta didik kelas VI SD Negeri Mojokerto 2, Kedawung Sragen”. Penelitian ini menggunakan pembelajaran boneka tangan. Perbedaannya pada kajian tentang menyimak cerita
Sedangkan dalam jurnal edukasi milik Klara delimasa Gustriningsih yang berjudul “ Peningkatan keterampilan bercerita dengan menggunakan media boneka tangan pada kelas II SDN Gumilir 02 Cilacap”. Persamaan penilitian dalam jurnal di atas terletak pada penggunaan media boneka tangan.
Sedangkan dalam jurnal edukasi milik putri kumala dewi yang berjudul “Peningkatan Kemampuan Berbicara melalui Teknik Diskusi Jigsaw Siswa Kelas III SD Negeri 4 Malang”. Persamaan penilitian dalam jurnal di atas terletak pada Kemampuan berbicara. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pembelajaran boneka tangan dapat meningkatkan kemampuan berbicara anak dalam bercerita.
Mengkaji beberapa temuan penelitian terdahulu, tampaknya model pembelajaran boneka tangan menunjukkan efektifitas yang sangat tinggi bagi perolehan hasil belajar siswa, baik dilihat dari pengaruhnya terhadap penguasaan materi pelajaran maupun dari pengembangan dan pelatihan sikap serta keterampilan sosial yang sangat bermanfaat bagi siswa dalam kehidupannya di masyarakat.
C. Kerangka Berpikir
Kemampuan berbicara anak dalam cerita kelas III MI PINK 03 masih rendah, hal ini disebabkan proses pembelajaran yang dilakukan guru masih bersifat konversional yang hanya berceramah dan menggunakan media penugasan sehingga siswa kurang tertarik dalam mengikuti pelajaran. Hal ini
juga mengakibatkan siswa kurang tertarik makna dan tujuan dari pembelajaran sehingga Bahasa Indonesia selalu dianggap sebagi mata pelajaran yang sulit, rumit dan kurang menarik serta membosankan.
Secara praktik kemampuan berbicara dalam pembelajaran cerita membutuhkan latihan dan pengarahan pembelajaran yang intensif. Namun demikian, pembelajaran bercerita disekolah pada kenyataanya mendapat porsi yang sangat minim. Selain keterbatasan waktu, lemahnya kemampuan bercerita dipengaruhi media pembelajaran yang kurang efektif.
Fenomena pembelajaran umumnya masih menggunakan metode tradisional. Penyampaian materi dilakukan dengan metode ceramah dan interaksi hanya terjadi satu arah. Untuk mengatasi hal tersebut, guru hendaknya menggunakan alternatif dengan menggunakan media pembelajaran. Media yang dirasa tepat untuk mengatasi masalah diatas adalah media boneka tangan.
Boneka tangan memudahkan siswa memahami konsep tentang benda-benda secara utuh, misalnya ukuran, sifat dan bentuk. Boneka tangan juga dapat merangsang siswa untuk berbahasa secara lisan, misalnya sebagai model untuk mengungkapkan emosinya. Anak-anak sering terlihat melakukan percakapan dengan bonek atangan karena mereka menganggap bahwa benda tersebut sama seperti dirinya. Oleh karena itu, Penggunaan media boneka tangan dapat mempermudah siswa dalam bercerita.
Gambar 2.1
Skema Kerangka Berfikir
Awal
Pembelajaran yang dilakukan guru bersifat konvensional yaitu hanya menggunakan metode ceramah dan
penugasan Kemampuan Berbicara penjelasan cerita siswa rendah Dilakukan
tindakan Menggunakan media pembelajaran
Boneka Tangan dalam pembelajaran bercerita
Siklus I
Siklus II
Kondisi Akhir
Siswa menjadi lebih semangat dalam pembelajaran sehingga
kemampuan berbicara dalam bercerita siswa meingkat
D. Hipotesis Tindakan
Dari kerangka pemikiran diatas, maka penulis menyampaikan Hipotesis tindakan sebagai berikut:
“Bila media boneka tangan dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa, maka keterampilan berbicara akan meningkat”
27
A. Tempat dan Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MI PINK 03, yang terletak di Kp. Rukem Rt 004/013, Kelurahan Mangunjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Penelitian dilaksanakan pada semester I Tahun pelajaran 2015/2016, dibulan Juli sampai dengan bulan November 2015.
Alasan pemilihan tempat adalah karena sekolah ini sebagai tempat mengajar peneliti dengan pertimbangan bahwa data-data yang diperlukan mudah didapatkan dan guru juga memerlukan inovasi pembelajaran.
B. Metode Penelitian dan Rancangan Siklus penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research).” Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru ke kelas atau disekolahan tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktis pembelajaran.” Menurut Arikunto mengemukakan bahwa penelitian pencermatan dalam bentuk tindakan terhadap kegiatan belajar yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan.1
Sedangkan Metode penelitian, secara umum dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk memperoleh data dengan tujuan dan kegunaan tertentu, dan penelitian dapat diartikan juga sebagai kegiatan yang dilakukan secara sistematis untuk mengumpulkan, mengolah dan menyimpulkan data dengan menggunakan metode tertentu dalam rangka mencari jawaban atas permasalahan yang dihadapi.2
Jadi, penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.
1
Suyadi, Panduan Penelitian Tindakan Kelas, (Jogjakarta: Diva press, 2010), h. 18
Secara umum terdapat empat langkah dalam PTK yaitu tahap perencanaan (Planning), Pelaksanaan tindakan (Acting), Obsevasi (Observing), dan refleksi (Reflecting).
1. Perencanaan (Planing)
Langkah pertama adalah melakukan perencanaan secara matang dan teliti.
Dalam perencanaan PTK, terdapat tiga kegiatan dasar yaitu: a. Identitas masalah
b. Merumuskan masalah dan c. Pemecahan masalah 2. Pelaksanaan tindakan (Acting)
Langkah kedua adalah pelaksanaan menerapkan apa yang telah direncanakan tahap satu, yaitu bertindak dikelas.
3. Observation (Pengamatan)
Langkah ketiga adalah pengamatan (Observing) alat untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran. Pada langkah ini, peneliti harus menguraikan jenis data yang dikumpulkan, cara mengumpulkan dan alat atau instrumen pengumpuan data (angket/wawancara/ observasi).
4. Refleksi (Reflecting)
Langkah keempat adalah refleksi yaitu kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang telah dilakukan. Kegiatan penelitian telah melalui proses akhir maka hasil dari pengamatan dan penelitian tersebut dikumpulkan hingga menjadi suatu dokumen yang akan dianalisis. Langkah ini merupakan sarana melakukan pengkajian dan telah dicatat dalam observasi. Hasil dari analisis tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah kegiatan penelitian yang dilaksanakan sudah sesuai dengan yang diharapkan atau masih memerlukan perbaikan. Kegiatan tersebut merupakan tahapan dari penelitian, inilah yang disebut refleksi.
Siklus 1
1. Perencanaan
Penelitian ini disusun bersama antara peneliti dengan guru Bahasa Indonesia sebagai kolaborator. Adapun rencana yang akan dilaksanakan sebagi berikut:
a) Peneliti bersama kolaborator menyamakan persepsi dan berdiskusi untuk mengidentifikasi permasalahan yang muncul berkaitan dengan pembelajaran bahasa khususnya bercerita. b) Peneliti mengajukan alternatif pemecahan masalah dengan
menerapkan strategi pembelajaran dengan menggunakan media boneka tangan dalam pembelajaran bercerita.
c) Menyiapkan bahan dan instrumen peneliti yang berupa lembar pengamatan, lembar penilaian keterampilan bercerita, catatan lapangan, pedoman wawancara dan alat dokumentasi. 2. Pelaksanaan Tindakan
Tahap pelaksanaan tindakan merupakan realisasi dari rencana yang sudah dirancang sebelumnya. Tindakan yang dilakukan pada siklus I adalah sebagai berikut.
a) Guru mengkondisikan siswa
b) Siswa memperhatikan kompetensi dasar, indikator, dan tujuan pembelajaran keterampilan bercerita yang disampaikan oleh guru.
c) Guru melakukan apersepsi untuk mengajak siswa masuk kemateri dengan menyesuaikan keadaan siswa pada pembelajaran yang akan disampaikan.
d) Siswa mendengarkan penjelasan dari guru mengenai materi bercerita dan cara bercerita yang baik.
e) Siswa mendengarkan penjelasan dari guru mengenai maksud pembelajaran yang akan dilakukan dengan menggunakan media boneka tangan.
f) Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok oleh guru. g) Siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
h) Siswa mempersiapkan cerita sesuai dengan tema yang diberikan oleh guru.
i) Secara berkelompok, siswa secara bergantian bercerita di depan kelas
j) Guru memberikan penjelasan singkat dan memberikan kesimpulan.
k) Selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti melakukan pengamatan terhadap siswa.
3. Pengamatan
Observasi merupakan kegiatan merekam segala peristiwa dan kegaiatan yang terjadi selama tindakan itu berlangsung. Hasil yang diperoleh dalam pengamatan tersebut merupakan pengaruh dari tindakan yang sudah dilakukan. Hasil yang diperoleh dalam pengamatan adalah dampak tindakan terhadap proses pembelajaran (keberhasilan produk). Keberhasilan proses dapat dilihat dari perubahan sikap siswa terhadap pembelajaran keterampilan bercerita. setelah mendapatkan tindakan melalui media boneka tangan, keberhasilan produk dapat dilihat dari hasil tes bercerita siswa.
4. Refleksi
Peneliti bersama guru berdiskusi dan menganalisis hasil pengamatan pada siklus I, antara lain mengambil kesimpulan tentang kemampuan siswa. Setelah dikenai tindakan, menilai keterampilan masing-masing siswa dalam praktik bercerita dengan menggunakan media boneka tangan. Kegiatan refleksi ini digunakan untuk merencanakan kegiatan siklus II. Kegiatan pada perencanaan, pelaksanaan atau tindakan, pengamatan dan refleksi.
Berdasarkan riset aksi model Suyadi, maka didapati bagan rancangan siklus penelitian sebagai berikut:
Gambar 3.1
Model Tahapan-tahapan pelaksanaan PTK3
C. Subjek Penelitian
Adapun kelas yang dijadikan penelitian adalah kelas III dengan jumlah siswa 35 orang yang terdiri dari 17 perempuan dan 18 siswa laki-laki. Penentuan kelas didasarkan pada tingkat permasalahan yang dimiliki sesuai dengan hasil wawancara dengan guru yang dilakukan sebelum penelitian, yaitu masih rendahnya pembelajaran keterampilan bercerita. Siswa kurang berminat dalam pembelajaran keterampilan bercerita, siswa merasa malu, grogi dan tidak adanya ide untuk bercerita.
3 Suyadi, panduan Penelitian Tindakan kelas, Op.cit. h. 50
Perencanaan Refleksi Pengamatan Perencanaan REFLECTIVE OBSERVATION Pelaksanaan Pelaksanaan
SIKLUS I
SIKLUS II
?D. Peran dan posisi Peneliti dalam penelitian
Dalam hal ini peneliti sebagai pelaksana penelitian dengan tugas merencanakan tindakan penelitian, melaksanakan penelitian, menganalisis hasil penelitian bersama kolaboran dan ahli, serta menyusun laporan hasil penelitian.
E. Tahapan Intervensi Tindakan
Dalam peneliti tindakan kelas, peneliti terlebih dahulu menyususn tahapan-tahapan dalam melakukan intervensi tindakan sebagai berikut:
Tahap I : Peneliti berkolaborasi dengan guru lain menyiapkan rancangan pembelajaran, menetapkan materi pokok, menyusun alat evaluasi, dan menentukan media yang digunakan sebagai penunjang proses pembelajaran. Tahap II : Peneliti berkolaborasi dengan guru lain dalam
melaksanakan pembelajaran yang telah direncanakan sekaligus mengamati aktivitas siswa dan aktifitas guru pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Tahap III : Peneliti bersama guru lain mencatat semua kejadian yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung untuk digunakan sebagai sumber dan pengolahan data.
Tahap IV : Peneliti bersama guru lain menggunakan data yang telah terkumpul untuk mendapatkan gambaran tentang hasil tindakan yang telah dilakukan. Kemudian data tersebut dipadukan dan dianalisis. Disetiap akhir siklus dilakukan penilaian akhir siklus, selanjutnya peneliti dan guru lain melakukan diskusi untuk mengevaluasi proses pembelajaran yang telah dilakukan serta untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan pada setiap pembelajaran. Jika hasil evaluasi yang diperoleh masih memerlukan penyempurnaan, maka akan dilanjutkan kembali pada
tindakan selanjutnya sampai memperoleh peningkatan hasil belajar yang telah diterapkan.
F. Hasil Intervensi Tindakan yang diharapkan
Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui ketuntasan penilitian dalam suatu siklus. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berbicara dalam menceritakan tentang pengalaman dengan mengunakan media boneka tangan. Indikator keberhasilan yang ingin dicapai adalah 80% di atas nilai KKM yang telah ditetapkan sekolah yakni 70.
Suatu siklus penelitian dikatakan tuntas apabila indikator keberhasilan yang telah ditetapkan di atas telah tercapai. Namun jika hanya salah satu indikator yang tercapai maka dapat disimpulkan siklus penelitian tersebut tidak tuntas dan harus dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
( Hasil Observasi tidak muncu)
G. Data dan sumber Data 1. Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa: a. Data hasil siswa, berupa rublik disetiap akhir siklus
b. Data obervasi aktivitas belajar siswa dan aktivitas mengajar guru yang merupakan hasil pengamatan pada saat dilaksanakan tindakan, diambil dengan menggunakan lembar observasi pada setiap proses pembelajaran berlangsung. c. Data hasil catatan pengamatan, yang mencatat seluruh
perubahan dalam proses pembelajaran yang terjadi didalam kelas yang berkaitan dengan penggunaan media boneka tangan.
d. Foto-foto aktivitas belajar siswa pada setiap siklus. 2. Sumber data
Sumber data adalah asal informasi yang diperoleh dalam penyusunan penelitian tindakan ini. Beberapa sumber data diperoleh melalui subjek maupun objek penelitian diantaranya guru lain satu sekolah (Observer), peneliti, dan siswa, termasuk didalamnya catatan dokumentasi (nilai-nilai siswa) sebagai data pendukung. ”Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dan dokumen-dokumen dimana diperoleh”. Hal ini diungkapkan oleh Suharsimi Arikunto.
H. Pengembangan Instrumen-Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam peneliti ini sebagai berikut.
1. Lembar Tes
Penelitian merupakan instrumen peneliti yang disusun untuk mengukur kemampuan siswa dalam berbicara pada materi menceritakan tentang pengalaman dengan menggunakan media boneka tangan.
a. Lembar pengamatan
Lembar pengamatan digunakan mengamati tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran. Di dalam lembar pengamatan terdapat empat aspek yang diamati, yaitu keaktifan siswa, perhatian dan konsentrasi. Siswa pada pembelajaran, minat siswa selama pembelajaran, keberanian siswa dalam bercerita dipdepan kelas dan kerjasama kelompok. Adapun rincian tiap-tiap aspek pada pengamatan proses pembelajaran kemampuan bercerita terhadap pada tabel berikut.
Tabel 3.1
Instrumen Pengamatan Proses Pembelajaran Berbicara
NO Indikator/ Aspek yang dinilai Skor
1 2 3 4 5
1 Menanggapi pertanyaan yang diajukan guru
2 Menggunakan media boneka tangan
3 Berinteraksi dengan teman saat proses pembelajaran
4 Antusias mengikuti proses pembelajaran
5 Bertanya pada saat proses pembelajaran