• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Interpretasi Hasil Analisis Data

10 Memperhatikan penjelasan guru

2 Menggunakan media boneka tangan

3 Berinteraksi dengan teman saat proses pembelajaran

4 Antusias mengikuti proses pembelajaran

5 Bertanya pada saat proses pembelajaran

6 Menanggapi pertanyaan atau saran dari siswa lain

7 Berani mengemukakan pendapat

8 Mempresentasikan hasil kerja didepan kelas

9 Menanggapi hasil presentasi siswa lain

10 Memperhatikan penjelasan guru

11 Keaktifan Siswa

12 Mengerjakan tugas/latihan yang diberikan guru

13 Keberanian siswa bercerita didepan kelas

14 Kerjasama kelompok jumlah skor

Jumlah

Keterangan:

1. Aspek Keaktifan

a. Skala skor 5 untuk siswa yang sangat aktif bertanya, sangat akatif menjawab pertanyaan, akatif mengerjakan tugas.

b. Skala skor 4 untuk siswa yang siswa aktif bertanya, aktif menjawab pertanyaan, aktif mengerjakan tugas. c. Skala skor 3 untuk siswa cukup aktif bertanya, cukup

aktif menjawab pertanyaan, aktif mengerjakan tugas. d. Skala Skor 2 Untuk siswa yang kurang aktif bertanya,

kurang aktif menjawab pertanyaan, kurang aktif mengerjakan tugas.

e. Skala skor 1 untuk siswa yang tidak aktif dalam bertanya, tidak aktif menjawab pertanyaan, dan tidak mengerjakan tugas.

b. Lembar penelitian

Lembar penelitian kemampuan bercerita siswa oleh penelitian digunakan sebagai instrumen penskoran untuk menentukan tingkat keberhasilan kemampuan bercerita siswa kelas III MI PINK 03, Tambun Selatan, Bekasi. Penilaian bercerita masing-masing siswa ini menggunakan teknik penelitian yang dikembangkan oleh Jakobovitas dan Gordon dalam Nurgiyantoro yang telah dimodifikasi. Adapun rincian tiap-tiap aspek pada penilaian dalam kemampuan bercerita terdapat pada tabel berikut.

Tabel 3.2

Pedoman Penilaian Kemampuan Berbicara

No Aspek yang dinilai Skala Skor

1 2 3 4 5 1 Volume Suara 2 Pelafalan 3 Keterampilan mengembangkan Ide 4 Sikap penghayatan cerita 5 Kelancaran

6 Ketepatan Ucapan 7 Pilihan Kata

Jumlah Skor

Keterangan : 1) Volume suara

a. Skala skor 5, sangat baik, volume sudah terdengar oleh seluruh pendengar secara jelas dan lantang. b. Skala skor 4, baik, volume sudah terdengar oleh

seluruh pendengar.

c. Skala skor 3, cukup, volume terdengar tapi belum terdengar oleh seluruh pendengar.

d. Skala skor 2, kurang, volume tidak terlalu terdengar dan tidak jelas.

e. Skala skor 1, sangat kurang, volume sama sekali tidak terdengar.

2) Pelafalan

a. Skala skor 5, sangat baik, pelafalan fonem sangat jelas, tidak terpengaruh dialek, intonasi sangat jelas. b. Skala skor 4, baik, pelafalan fonem jelas, tidak

terpengaruh dialek, intonasi jelas.

c. Skala skor 3, cukup, pelafalan fonem cukup jelas, sedikit terpengaruh dialek, intonasi cukup jelas. d. Skala skor 2, kurang, pelafalan fonem kurang jelas,

terpengaruh dialek, intonasi kurang jelas.

e. Skala skor 1, sangat kurang, pelafalan fonem tidak jelas, sangat terpengaruh dialek, intonasi tidak jelas. 3) Keterampilan mengembangkan ide

a. Skala skor 5, sangat baik, cerita dikembangkan secara kreatif tanpa keluar dari tema. Alur, tokoh, dan setting terkonsep dengan jelas dan menarik. Amanat cerita sesuai dengan tema.

b. Skala skor 4, baik, cerita dikembangkan secara kreatif tidak keluar dari tema. Alur, tokoh, dan setting terkonsep dengan jelas namun kurang menarik. Amanat cerita sesuai dengan tema.

c. Skala skor 3, cukup, cerita dikembangkan dengan cukup kreatif, tidak keluar dari tema. Setting dan tokoh terkonsep jelas, namun alur kurang terkonsep dengan jelas. Amanat cerita cukup sesuai dengan tema.

d. Skala skor 2, kurang, cerita dikembangkan dengan kurang kreatif dan tidak keluar dari tema. Alur, setting, tokoh tidak terkonsep dengan jelas. Amanat cerita kurang sesuai dengan tema.

e. Skala skor 1, sangat kurang, cerita tidak dikembangkan dengan baik. Alur, setting, dan tokoh tidak terkonsep dengan jelas. Amanat cerita tidak sesuai dengan tema.

4) Sikap penghayatan cerita

a. Skala skor 5, sangat baik, mimik, gerak, dan suara sesuai dengan karakter tokoh yang diperankan, ada improvisasi terhadap mimik, gerak dan suara, dan improvisasi yang dilakukan sangat tepat dan tidak berlebihan.

b. Skala skor 4, baik, mimik, gerak dan suara sesuai dengan karakter tokoh yang diperankan, ada improvisasi trhadap mimik, gerak, dan suara.

c. Skala skor 3, cukup, mimik, gerak dan suara cukup sesuai dengan karakter tokoh, tidak ada improvisasi terhadap mimik, gerak dan suara.

d. Skala skor 2, kurang, mimik, gerak dan suara tidak sesuai dengan karakter tokoh dan tidak punya improvisasi.Skala skor 1, sangat kurang, mimik,

gerak-gerik dan suara tidak sesuai dengan karakter tokoh dalam cerita.

5) Kelancaran

a. Skala skor 5, sangat baik, berbicara lancar, tidak tersendat-sendat, penempatan jeda sesuai.

b. Skala skor 4, baik, berbicara lancar, tidak tersendat-sendat, penempatan jeda kurang sesuai.

c. Skala skor 3, cukup, berbicara lancar, tidak tersendat-sendat, tidak ada jeda.

d. Skala skor 2, kurang, berbicara kurang lancar, tersendat-sendat, tidak ada jeda.Skala skor 1, sangat kurang, berbicara tidak lancar, tersendat-sendat, tidak ada jeda.

6) Ketepatan ucapan

a. Skala skor 5, sangat baik, pengucapan bunyi-bunyi bahasa tepat sekali sehingga kata yang diucapkan terdengar jelas sekali.

b. Skala skor 4, baik, pengucapan bunyi-bunyi bahasa sudah tepat.

c. Skala skor 3, cukup, pengucapan bunyi-bunyi bahasa sudah cukup tepat.

d. Skala skor 2, kurang, pengucapan bunyi-bunyi bahasa kurang tepat.

e. Skala skor 1, sangat kurang, pengucapan bunyi-bunyi bahasa tidak tepat.

7) Pilihan kata

a. Skala skor 5, sangat baik, penggunaan kata-kata, istilah sesuai dengan tema dan karakter tokoh, terdapat variasi dalam pemilihan kata.

b. Skala skor 4, baik, penggunaan kata-kata, istilah sesuai dengan tema dan karakter tokoh, kurang terdapat variasi dalam pemilihan kata.

c. Skala skor 3, cukup, penggunaan kata-kata, istilah sesuai dengan tema dan karakter tokoh, tidak ada variasi dalam pemilihan kata.

d. Skala skor 2, kurang, penggunaan kata-kata, istilah kurang sesuai dengan tema dan karakter tokoh, tidak ada variasi dalam pemilihan kata.

e. Skala skor 1, sangat kurang, penggunaan kata-kata, istilah tidak sesuai dengan tema dan karakter tokoh, tidak ada variasi dalam pemilihan kata.

2. Observasi

Pengamatan adalah kegiatan pengamatan atau pengambilan data untuk melihat seberapa jauh efek tindakan yang telah dicapai. Pengamatan ini akan dilakukan oleh peneliti. Peneliti mencatat hal-hal yang terjadi saat tindakan dan mendeskripsikan penampilan siswa saat proses berlangsung. Dari hasil pengamatan tersebut, maka peneliti akan memperoleh data yang berupa gambaran proses praktik bercerita siswa, sikap siswa selama kegiatan belajar mengajar, serta kegiatan guru dari awal sampai akhir pembelajaran.

3. Pedoman Wawancara

Wawancara ini dilakukan terhadap guru dan siswa untuk menggali informasi guna memperoleh data yang berkenaan dengan aspek-aspek pembelajaran, penentuan tindakan, dan respon yang timbul akibat dari tindakan yang dilakukan. Dalam melakukan wawancara dengan siswa, peneliti tidak mewawancarai seluruh siswa, melainkan hanya perwakilan kelas, yaitu hanya siswa yang terlihat peningkatannya, selain itu wawancara juga dilakukan oleh peneliti dengan guru.

Catatan lapangan digunakan untuk mencatat segala aktivitas selama selama pembelajaran diskusi berlangsung. 5. Dokumentasi

Dokumentasi digunakan untuk mengambil data yang berupa keadaan sekolah, guru, siswa dan kegiatan belajar mengajar. Dokumen bisa berupa benda-benda misalnya berupa data-data yang ada keterkaitannya dengan masalah penelitian, silabus, RPP, dan gambar-gambar selama melakukan penelitian.

I. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan mengamati setiap aktivitas siswa pada saat pembelajaran dengan menggunakan media boneka tangan disetiap siklus dan mencatat setiap kejadian pada saat pembelajaran berlangsung. Di setiap siklus, peneliti memberikan soal tes, dan lembar observasi mengenai kegiatan guru dan siswa selama aktivitas kegiatan belajar mengajar berlangsung serta dokumentasi aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran dilakukan pada setiap siklus.

J. Teknik Pemeriksaan Kepercayaan

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik ini digunakan dalam rangka mendeskripsikan kemampuan berbicara siswa sebelum dan sesudah mendapat tindakan. Teknik ini dibagi dua, yaitu analisis proses dan analisis produk. Analisis data secara proses diambil pada waktu pembelajaran keterampilan bercerita menggunakan media boneka tangan. Analisis produk diambil dari hasil penilaian praktik bercerita siswa.

K. Analisis Data dan Interprestasi Hasil Analisis

Analisis data dilakukan setelah semua data yang diperlukan terkumpul dan dilakukan setiap kali setelah pemberian suatu tindakan atau satu siklus berakhir.

1. Analisis Data Hasil Observasi

Data hasil observasi aktivitas belajar siswa dan aktivitas mengajar guru dengan menggunakan media papan perpustakaan keliling dianalisis untuk memberikan gambaran pelaksanaan pembelajaran analisis data observasi adalah sebagai berikut:

a. Untuk setiap aspek yang diamati diberi skor sesuai dengan pedoman penskoran pada kisi-kisi lembar observasi yang telah dibuat.

b. Menghitung skor total yang telah diperoleh setelah pelaksanaan pembelajaran. Skor total yang telah diperoleh tersebut dihitung persentasenya dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

P = f /N x 100% Keterangan:

P = Angka persentase

f = frekuensi yang sedang dicari persentasenya

N = Numer of Cases (jumlah frekuensi/banyaknya individu)

Tabel 3.3

Pedoman Konversi Prosentase Rata-rata Hasil Observasi Aktivitas Siswa dan Guru

Persentasi Rata-rata Kategori

76% - 100% Sangat Baik

51% - 75% Baik

26% - 50% Cukup

<25% Kurang

2. Analisis Hasil Tes Belajar

Data hasil tes akhir siklus dianalisis untuk mengetahui gambaran hasil belajar siswa dengan menggunakan media papan perpustakaan keliling yang dilihat dari tingkat pencapaian ketuntasan

belajar mengacu pada KKM sebesar 70. Pemberian tindakan pada penelitian ini dikatakan berhasil apabila tingkat ketuntasan siswa mencapai 80% dari keseluruhan siswa. Rumus yang digunakan yaitu:

P = ∑ siswa tuntas : jumlah siswa x 100

Interpretasi berarti mengartikan hasil penelitian berdasarkan pemahaman yang dimiliki peneliti. Ini dilakukan dengan acuan teori, dibandingkan dengan pengalaman, praktik, atau penilaian dan pendapat guru.

L. Pengembangan perencanaan Tindakan

Apabila pada tindakan siklus I selesai dilakukan dan hasil yang diharapkan belum mencapai kriteria keberhasilan, maka akan ditindak lanjuti dengan melakukan tindakan selanjutnya sebagai rencana perbaikan pembelajaran dengan perencanaan pembelajaran yang telah disepakati sebelumnya.

Penelitian akan berakhir apabila penelitian ini telah menunjukkan keberhasilan proses pembelajaran dengan menggunakan media boneka tangan untuk meningkatkan kemampuan berbicara. Adapun kriteria keberhasilan penelitian ini apabila kemampuan berbicara siswa mencapai 80% mencapai nilai KKM.

44 A. Deskripsi Dan Hasil Intervensi Tindakan

Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan di MI PINK 03 pada kelas III. Proses penelitian tindakan media boneka tangan ini dilakukan sebanyak dua siklus, dimana setiap siklus terdiri dari empat kali pertemuan yang didalamnya memuat pemberian tindakan dan tes akhir siklus. Pada setiap siklus terdiri dari empat tahapan penelitian, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi atau pengamatan, dan refleksi.

1. Siklus I

a. Tahap perencanaan

Kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan ini adalah menyusun skenario pembelajaran, skenario yang dibuat antara lain yaitu menyusun RPP, menyusun instrumen (tes, lembar observasi aktivitas belajar) menentukan metode pembelajaran, mengenal media boneka tangan. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan salah seorang guru lain. Penelitian berperan sebagai guru kelas dan praktisi sedangkan guru lain berperan sebagai observer. Pada kegiatan ini peneliti menjelaskan tugas-tugas guru lain yang berperan sebagai observer pada saat penelitian, dengan tujuan agar peneliti dan guru lain dapat bekerja sama dalam mengamati proses pembelajaran.

Media boneka tangan yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk seperti menyerupai manusia sehingga anak bisa bermain boneka dimana saja karena boneka adalah kehidupan yang disukai anak-anak kecil dan juga boneka sebagai perantara alat komunikasi, menangkap daya pikir anak, dan mengembangkan daya visual serta anak dapat berimajinasi dengan senangnya dia belajar,Adapun contoh media boneka tangan ini dapat dilihat pada gambar.

Gambar 4.1

Contoh Media Boneka Tangan

b. Tahap Pelaksanaan

Pada Siklus I pelaksanaan kegiatan pembelajaran dilakukan sebanyak dua kali pertemuan yang didalamnya memuat pemberian tindakan dan tes akhir siklus.

Adapun uraian kegiatan setiap siklus adalah sebagai berikut: 1. Pertemuan pertama

Pertemuan pertama yang dilakukan pada hari jum’at, tanggal 23 oktober 2015 dimulai pukul 13.00 sampai 14.30 WIB. Sebelum pembelajaran dimulai guru mengkondisikan murid terlebih dahulu. Selanjutnya guru mempersilahkan kepada ketua kelas untuk memimpin do’a sebelum belajar, kemudian penelitian mengecek kesiapan fisik dan psikis siswa (mengabsen kehadiran siswa), peneliti memberitahukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan menanyakan pelajaran yang telah dipelajarai kemarin.

Langkah berikutnya guru menanyakan pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh siswa dengan terkait materi yang akan di sampaikan oleh guru. Selanjutnya guru menanyakan pengalaman cerita yang menarik yang pernah dialami oleh siswa. Peneliti menceritakan tentang yang berjudul “petualangan” dan siswa mendengarkan apa yang disampaikan oleh peneliti, selanjutnya peneliti meminta siswa tersebut untuk mengerjakan

soal evalusi yang telah di berikan dengan terkait oleh cerita yang disampaikan oleh peneliti, Hasil pekerjaan siswa dikumpulkan, kemudian peneliti mengecek hasil pekerjaan siswa dan menyimpulkan bersama-sama dengan siswa.

Gambar 4.2

Aktivitas siswa pada saat belajar 2. Pertemuan kedua

Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 24 Oktober 2015 Pukul 13.00 sampai dengan pukul 14.30 WIB. Seperti pertemuan sebelumnya peneliti mengkondisikan kelas terlebih dahulu sebelum memulai kegiatan pembelajaran, kemudian ketua kelas memimpin do’a sebelum belajar dan peneliti mengabsen kehadiran siswa. Kemudian peneliti melakukan apersepsi dengan menggali ingatan siswa terkait materi pada pertemuan sebelumnya dan menjelaskan tujuan pembelajaran.

Kegiatan selanjutnya, Guru membagi 8 kelompok dalam satu kelompok terdiri dari 4 siswa atau 5 siswa. Dan setiap perwakilan siswa mengambil undian urutan maju ke depan kelas dan setiap kelompok menceritakan pengalamanya dengan menggunakan boneka tangan. Selanjutnya guru mengamati dan memberikan nilai kepada setiap kelompok yang bercerita didepan kelas. Setelah itu guru bertanya jawab tentang hal yang belum diketahui. Guru dan siswa memberikan apesiasi terhadap pekerjaan siswa kemudian

Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan materi yang telah disampaikan. Adapun gambar ketika siswa cerita didepan kelas

Gambar 4.3

Siswa bercerita didepan dengan menggunakan boneka tangan

c. Tahap Observasi

Tahap observasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Guru lain bertindak sebagai observer mengamati seluruh aktifitas yang terjadi dikelas dan memberian penilaian pada lembar observasi kegiatan belajar siswa dan lembar observasi kegiatan mengajar guru. Adapun hasil observasi yang dilakukan guru lain atau observer dapat dilihat pada tabel ini:

Tabel 4.1

Hasil Observasi Siklus 1

NO Indikator /Aspek yang dinilai Skor Jml

Pert 1 Pert 2

1 Menanggapi pertanyaan yang diajukan guru 2 3 5

2 Menggunakan media boneka tangan 3 3 6

4 Antusias mengikuti proses pembelajaran 2 3 5

5 Bertanya pada saat proses pembelajaran 1 2 3

6 Menanggapi pertanyaan atau saran dari siswa lain 1 1 2

7 Berani mengemukakan pendapat 2 2 4

8 Mempresentasikan hasil kerja didepan kelas 2 2 4

9 Menanggapi hasil presentasi siswa lain 2 2 4

10 Memperhatikan penjelasan guru 3 4 7

11 Keaktifan Siswa 2 2 4

12 Mengerjakan tugas/latihan yang diberikan guru 3 3 6

13 Keberanian siswa bercerita didepan kelas 3 3 6

14 Kerjasama kelompok jumlah skor 3 3 6

Jumlah 31 36 67

Rata-rata (%) 44.3 % 51.4 %

Presentase ketuntasan (%) 47,9 %

Tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran tersebut belum optimal. Hal ini terlihat dari hasil presentase yang masih mencapai 47,9%. Beberapa indikator aktivitas siswa yang masih dibawah KKM terlihat dengan kurangnya siswa yang bertanya pada saat proses pembelajaran dan menanggapi pertanyaan atau saran dari siswa lain. Selain itu juga siswa kurang berani dalam menggemukakan pendapat serta kurangnya interaksi sesama teman dalam proses pembelajaran.

Tabel 4.2

Hasil Observasi pada kegiatan guru Pada Siklus 1

NO Indikator/ Aspek yang dinilai Skor Jml

Pert 1 Pert 2

1 Melakukan Appersepsi 2 2 4

2 Menjelaskan tujuan pembelajaran 2 2 4

3 Mengarahkan siswa untuk mengerjakan

tugas yang diberikan 2 2 4

4 Memfasilitasi siswa untuk mengerjakan

tugas yang berikan 2 3 5

5 Melaksanakan pembelajaran yang

mengaktifkan siswa 2 3 5

6 Memfasilitasi adanya interaksi antara siswa

dengan siswa 2 2

4

8 Memotivasi siswa untuk betanya 2 3 5

9 Menggunakan media boneka tangan 2 3 5

10 Memotivasi siswa untuk menggunakan

media pembelajaran 2 4 6

11 Melakukan Refleksi kegiatan pembelajaran

bersama siswa 3 3 6

12 Guru membuat kesimpulan bersama siswa 3 3 6

13 Melakukan penilaian sesuai dengan tujuan

yang hendak dicapai 3 3 6

Jumlah

27 33 60

Rata-rata (%) 41.5% 50.7%

Presentase ketuntasan (%) 46.1 %

Berdasarkan hasil Tabel 4.2dapat diketahui bahwa aktivitas mengajar guru juga terlihat belum optimal dengan prosentase 46.1% yaitu pada aktivitas guru dalam memfasilitasi adanya interaksi antar siswa dengan guru. Selain itu nilai presentase keseluruhan juga belum mencapai indikator keberhasilan yang sudah ditetapkan dalam penelitian ini.

Gambar 4.4

Aktivitas pembelajaran di kelas

Namun dalam proses pembelajaran guru sudah mampu memotivasi siswa untuk belajar dengan menggunakan boneka tangan. Akan tetapi agar proses pembelajaran bisa sesuai dengan indikator keberhasilan, untuk itu alangkah baiknya guru masih tetap melakukan perubahan menuju perbaikan proses pembelajaran.

Tabel 4.3

Evaluasi Kemampuan berbicara siswa pada siklus 1 Pertemuan ke 1

NO NAMA NILAI KET

1 A 50 Tidak Tuntas 2 B 50 Tidak Tuntas 3 C 50 Tidak Tuntas 4 D 60 Tidak Tuntas 5 E 80 Tuntas 6 F 60 Tidak Tuntas 7 G 60 Tidak Tuntas 8 H 50 Tidak Tuntas

9 I 60 Tidak Tuntas 10 J 60 Tidak Tuntas 11 K 60 Tidak Tuntas 12 L 60 Tidak Tuntas 13 M 60 Tidak Tuntas 14 N 60 Tidak Tuntas 15 O 60 Tidak Tuntas 16 P 90 Tuntas 17 Q 50 Tidak Tuntas 18 R 70 Tuntas 19 S 70 Tuntas 20 T 40 Tidak Tuntas 21 U 60 Tidak Tuntas 22 V 80 Tuntas 23 W 80 Tuntas 24 X 50 Tidak Tuntas 25 Y 50 Tidak Tuntas 26 Y 60 Tidak Tuntas 27 AA 90 Tuntas 28 AB 40 Tidak Tuntas 29 AC 50 Tidak Tuntas 30 AD 80 Tuntas 31 AE 60 Tidak Tuntas 32 AF 70 Tuntas 33 AG 50 Tidak Tuntas 34 AH 60 Tidak Tuntas Jumlah 2100 Rata-Rata 61 Presentase ketuntasan (%) 26,5%

Berdasarkan hasil tes tulis pada pertemuan ini masih banyak siswa yang belum mencapai nilai kriteria ketuntasan minimum (KKM), hal ini dapat dilihat dari jumlah siswa yang mencapai ketuntasan yaitu sebanyak 9siswa dengan prosentase 26,5 % dari jumlah keseluruhan siswa dan 23 siswa belum tuntas dengan prosentase yang lebih tinggi yakni 73.5%.

Tabel 4.4

Evaluasi Kemampuan berbicara siswa pada siklus 1 Pertemuan ke 2

No Nama

Aspek penilaian Nilai

Rata- rata Ket. 1 2 3 4 5 6 7 1 A 60 50 60 63 72 64 50 68 TT 2 B 50 60 50 72 73 60 60 69 TT 3 C 65 50 70 73 40 65 65 70 TT 4 D 70 65 75 70 74 75 60 80 T 5 E 65 50 50 50 50 72 50 63 TT 6 F 50 60 70 50 60 50 52 64 TT 7 G 55 50 50 55 67 50 60 63 TT 8 H 50 60 52 67 68 52 50 65 TT 9 I 52 55 50 68 63 50 50 63 TT 10 J 50 52 60 63 74 60 60 68 TT 11 K 52 61 60 74 62 70 55 71 T 12 L 50 63 65 70 70 72 50 72 T 13 M 68 75 65 72 72 69 69 80 T 14 N 65 50 50 50 50 60 65 64 TT 15 O 50 54 52 50 50 75 70 65 TT 16 P 75 76 70 80 75 80 72 86 T 17 Q 75 60 65 69 75 76 78 81 T 18 R 52 60 62 60 50 50 50 63 TT 19 S 75 70 75 70 70 70 66 81 T 20 T 52 65 50 65 50 52 50 63 TT

21 U 50 65 55 50 52 50 60 62 TT 22 V 62 52 60 75 50 60 60 68 TT 23 W 75 70 70 75 80 60 70 82 T 24 X 50 65 65 52 60 65 65 70 T 25 Y 55 60 50 50 65 65 62 66 TT 26 Y 50 62 52 52 65 50 65 65 TT 27 AA 52 59 50 50 50 52 50 59 TT 28 AB 50 50 55 72 52 70 55 66 TT 29 AC 52 55 70 73 70 63 65 73 T 30 AD 70 60 75 69 70 75 74 80 T 31 AE 50 61 62 50 74 65 50 67 TT 32 AF 50 61 65 70 65 65 50 70 T 33 AG 50 63 70 62 70 70 60 72 T 34 AH 75 74 70 70 75 70 67 82 T Jumlah 1972 2043 2070 2161 2163 2152 2035 2094 Rata-rata 58.0 60.1 60.9 63.6 63.6 63.3 59.9 61.6 Presentase ketuntasan (%) 44.1 %

Keterangan : 1. Volume Suara 2. Pelafalan

3. Keterampilan Mengembangkan Ide 4. Sikap Pengayatan dalam Cerita 5. Kelancaran

6. Ketepatan Ucapan 7. Percaya Diri

50-59 Sangat Tidak Lancar ( Jika ketidaklancaran sebanyak 10 kali) 60-69 Tidak tepat ( Jika ketidaklancaran sebanyak 9 sampai 10) 70-79 Kurang lancar (Jika ketidaklancaran sebanyak 6-8 kali) 80 -89 Lancar (jika ketidaklancaran sebanyak 3-5 kali)

90-99 Sangat Lancar (Jika ketidaklancaran sebanyak 2 kali)

Berdasarkan siklus evaluasi diatas dapat diketahui bahwa nilai rata-rata kemampuan berbicara siswa pada siklus 1 jika dilihat dari segi indikator volume suara adalah 58,0%, sedangkan persentase pelafalan berbicara sebesar 60,1%. Indikator keterampilan mengembangkan ide mencapai 60,9%, sedangkan pada indikator sikap penghayatan dalam cerita mencapai 63,6%. Indikator ketepatan ucapan mencapai 63,3%, dan indikator percaya diri 59,9%.

Prosentaseketuntasan tersebut masih jauh dari batas kriteria ketuntasan minimal secara klasikal yang ditetapkan yaitu sebesar 70% secara individual siswa yang tuntas belajar (mendapat nilai minimal 70). Siswa yang tuntas sebanyak 15 dengan prosentase 44,1% sedangkan 19 siswa lainnya masih dinyatakan belum tuntas (nilai di bawah siswa masih kurang dari 70).

Berdasarkan Hasil Siklus I pada pertemuan pertama prosentase ketuntasan 26,5 % dan pada pertemuan ke dua 44,1%. Setelah diterapkannya media boneka tangan dapat dikatakan mampu meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas III mengalami peningkatan sebanyak 66,4%.

d. Tahap Refleksi

1) Refleksi Siklus I Pertemuan Pertama

Kegiatan refleksi dilakukan setelah berlangsungnya proses pembelajaran yang berlangsung pada siklus I. pada pertemuan pertama ini peneliti dapat menyimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran berlangsung dengan baik. Meskipun pada pertemuan pertama peneliti banyak menemukan dan mengalami beberapa kendala diantaranya:

a) Siswa kurang percaya diri ketika berbicara didepan kelas.

c) Suasana yang ramai membuat terganggu pada saat pembelajaran berlangsung, sehingga berkurangnya waktu untuk mengkondisikan kelas. d) Siswa dalam mengerjakan tugas menjawab pertanyaan masih ada yang

merasa kesulitan dan membutuhkan waktu yang lama karena peneliti memberikan perintah untuk mendengarkan cerita dan menjawab pertanyaan

2) Refleksi Siklus I Pertemuan kedua

Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil ketrampilan berbicara pada siswa kelas III peneliti melakukan refleksi sebagai berikut:

a) Siswa kurang percaya diri atau masih merasa malu-malu ketika harus bercerita atau berbicara didepan teman-teman yang lainnya.

b) Siswa belum menggunakan lafal dan intonasi dengan tepat.

c) Kurang mampu menguasai cerita sehingga sulit mengungkapkan dan mengembangkan sesuai dengan bahasanya sendiri.

d) Ketika bercerita siswa lebih berpacu pada teks cerita bukan menggunakan bahasanya sendiri

Setelah diterapkan metode cerita melalui media boneka tangan, siswa menunjukkan perubahan. Dari nilai dan juga cara berbicara siswa dalam bercerita. keterampilan berbicara mulai ada peningkatan dibandingkan dengan pertemuan awal.

Bertolak dari hasil pengamatan dan refleksi siklus I, peneliti mencari cara untuk mengatasi kekurangan yang ada pada siklus I. peneliti dan guru yang bersangkutan mengadakan diskusi untuk mengatasi kekurangan pada siklus I. dari hasil diskusi tersebut akan diterapkan siklus II. Kegiatan diskusi ini dilaksanakan langsung setelah peneliti melaksanakan pembelajaran siklus I. Guru memberikan penilaian kepada peneliti, bahwa peneliti masih kurang mampu dalam menguasai kelas dan mengkondisikan kelas dengan baik.

2. Siklus II

a. Tahap perencanaan

Pada Siklus ke II, peneliti melakukan satu kali pertemuan 2 x 35 Menit. Pada hari Sabtu 30 Oktober 2015, dimulai pukul 13.00 sampai 14.30 WIB.Kegiatan pembelajaran dirancang untuk menindak lanjuti kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I, yaitu untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas III dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Pada siklus II ini peneliti masih tetap menerapkan media boneka tangan pada materi bercerita. Sebelum melakukan tindakan siklus II peneliti juga mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) seperti halnya pada siklus I. Peneliti menerapkan proses pembelajaran yang jauh berbeda dari siklus I, pada siklus I anak telah diberi teks cerita sedangkan pada siklus kedua anak membuat cerita sesuai dengan pengalaman dan menggunakan bahasanya sendiri.

Pembelajaran yang direncanakan adalah pembelajaran Bahasa

Dokumen terkait