• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Siklus I

a. Tahap perencanaan

Kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan ini adalah menyusun skenario pembelajaran, skenario yang dibuat antara lain yaitu menyusun RPP, menyusun instrumen (tes, lembar observasi aktivitas belajar) menentukan metode pembelajaran, mengenal media boneka tangan. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan salah seorang guru lain. Penelitian berperan sebagai guru kelas dan praktisi sedangkan guru lain berperan sebagai observer. Pada kegiatan ini peneliti menjelaskan tugas-tugas guru lain yang berperan sebagai observer pada saat penelitian, dengan tujuan agar peneliti dan guru lain dapat bekerja sama dalam mengamati proses pembelajaran.

Media boneka tangan yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk seperti menyerupai manusia sehingga anak bisa bermain boneka dimana saja karena boneka adalah kehidupan yang disukai anak-anak kecil dan juga boneka sebagai perantara alat komunikasi, menangkap daya pikir anak, dan mengembangkan daya visual serta anak dapat berimajinasi dengan senangnya dia belajar,Adapun contoh media boneka tangan ini dapat dilihat pada gambar.

Gambar 4.1

Contoh Media Boneka Tangan

b. Tahap Pelaksanaan

Pada Siklus I pelaksanaan kegiatan pembelajaran dilakukan sebanyak dua kali pertemuan yang didalamnya memuat pemberian tindakan dan tes akhir siklus.

Adapun uraian kegiatan setiap siklus adalah sebagai berikut: 1. Pertemuan pertama

Pertemuan pertama yang dilakukan pada hari jum’at, tanggal 23 oktober 2015 dimulai pukul 13.00 sampai 14.30 WIB. Sebelum pembelajaran dimulai guru mengkondisikan murid terlebih dahulu. Selanjutnya guru mempersilahkan kepada ketua kelas untuk memimpin do’a sebelum belajar, kemudian penelitian mengecek kesiapan fisik dan psikis siswa (mengabsen kehadiran siswa), peneliti memberitahukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan menanyakan pelajaran yang telah dipelajarai kemarin.

Langkah berikutnya guru menanyakan pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh siswa dengan terkait materi yang akan di sampaikan oleh guru. Selanjutnya guru menanyakan pengalaman cerita yang menarik yang pernah dialami oleh siswa. Peneliti menceritakan tentang yang berjudul “petualangan” dan siswa mendengarkan apa yang disampaikan oleh peneliti, selanjutnya peneliti meminta siswa tersebut untuk mengerjakan

soal evalusi yang telah di berikan dengan terkait oleh cerita yang disampaikan oleh peneliti, Hasil pekerjaan siswa dikumpulkan, kemudian peneliti mengecek hasil pekerjaan siswa dan menyimpulkan bersama-sama dengan siswa.

Gambar 4.2

Aktivitas siswa pada saat belajar 2. Pertemuan kedua

Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 24 Oktober 2015 Pukul 13.00 sampai dengan pukul 14.30 WIB. Seperti pertemuan sebelumnya peneliti mengkondisikan kelas terlebih dahulu sebelum memulai kegiatan pembelajaran, kemudian ketua kelas memimpin do’a sebelum belajar dan peneliti mengabsen kehadiran siswa. Kemudian peneliti melakukan apersepsi dengan menggali ingatan siswa terkait materi pada pertemuan sebelumnya dan menjelaskan tujuan pembelajaran.

Kegiatan selanjutnya, Guru membagi 8 kelompok dalam satu kelompok terdiri dari 4 siswa atau 5 siswa. Dan setiap perwakilan siswa mengambil undian urutan maju ke depan kelas dan setiap kelompok menceritakan pengalamanya dengan menggunakan boneka tangan. Selanjutnya guru mengamati dan memberikan nilai kepada setiap kelompok yang bercerita didepan kelas. Setelah itu guru bertanya jawab tentang hal yang belum diketahui. Guru dan siswa memberikan apesiasi terhadap pekerjaan siswa kemudian

Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan materi yang telah disampaikan. Adapun gambar ketika siswa cerita didepan kelas

Gambar 4.3

Siswa bercerita didepan dengan menggunakan boneka tangan

c. Tahap Observasi

Tahap observasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Guru lain bertindak sebagai observer mengamati seluruh aktifitas yang terjadi dikelas dan memberian penilaian pada lembar observasi kegiatan belajar siswa dan lembar observasi kegiatan mengajar guru. Adapun hasil observasi yang dilakukan guru lain atau observer dapat dilihat pada tabel ini:

Tabel 4.1

Hasil Observasi Siklus 1

NO Indikator /Aspek yang dinilai Skor Jml

Pert 1 Pert 2

1 Menanggapi pertanyaan yang diajukan guru 2 3 5

2 Menggunakan media boneka tangan 3 3 6

4 Antusias mengikuti proses pembelajaran 2 3 5

5 Bertanya pada saat proses pembelajaran 1 2 3

6 Menanggapi pertanyaan atau saran dari siswa lain 1 1 2

7 Berani mengemukakan pendapat 2 2 4

8 Mempresentasikan hasil kerja didepan kelas 2 2 4

9 Menanggapi hasil presentasi siswa lain 2 2 4

10 Memperhatikan penjelasan guru 3 4 7

11 Keaktifan Siswa 2 2 4

12 Mengerjakan tugas/latihan yang diberikan guru 3 3 6

13 Keberanian siswa bercerita didepan kelas 3 3 6

14 Kerjasama kelompok jumlah skor 3 3 6

Jumlah 31 36 67

Rata-rata (%) 44.3 % 51.4 %

Presentase ketuntasan (%) 47,9 %

Tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran tersebut belum optimal. Hal ini terlihat dari hasil presentase yang masih mencapai 47,9%. Beberapa indikator aktivitas siswa yang masih dibawah KKM terlihat dengan kurangnya siswa yang bertanya pada saat proses pembelajaran dan menanggapi pertanyaan atau saran dari siswa lain. Selain itu juga siswa kurang berani dalam menggemukakan pendapat serta kurangnya interaksi sesama teman dalam proses pembelajaran.

Tabel 4.2

Hasil Observasi pada kegiatan guru Pada Siklus 1

NO Indikator/ Aspek yang dinilai Skor Jml

Pert 1 Pert 2

1 Melakukan Appersepsi 2 2 4

2 Menjelaskan tujuan pembelajaran 2 2 4

3 Mengarahkan siswa untuk mengerjakan

tugas yang diberikan 2 2 4

4 Memfasilitasi siswa untuk mengerjakan

tugas yang berikan 2 3 5

5 Melaksanakan pembelajaran yang

mengaktifkan siswa 2 3 5

6 Memfasilitasi adanya interaksi antara siswa

dengan siswa 2 2

4

8 Memotivasi siswa untuk betanya 2 3 5

9 Menggunakan media boneka tangan 2 3 5

10 Memotivasi siswa untuk menggunakan

media pembelajaran 2 4 6

11 Melakukan Refleksi kegiatan pembelajaran

bersama siswa 3 3 6

12 Guru membuat kesimpulan bersama siswa 3 3 6

13 Melakukan penilaian sesuai dengan tujuan

yang hendak dicapai 3 3 6

Jumlah

27 33 60

Rata-rata (%) 41.5% 50.7%

Presentase ketuntasan (%) 46.1 %

Berdasarkan hasil Tabel 4.2dapat diketahui bahwa aktivitas mengajar guru juga terlihat belum optimal dengan prosentase 46.1% yaitu pada aktivitas guru dalam memfasilitasi adanya interaksi antar siswa dengan guru. Selain itu nilai presentase keseluruhan juga belum mencapai indikator keberhasilan yang sudah ditetapkan dalam penelitian ini.

Gambar 4.4

Aktivitas pembelajaran di kelas

Namun dalam proses pembelajaran guru sudah mampu memotivasi siswa untuk belajar dengan menggunakan boneka tangan. Akan tetapi agar proses pembelajaran bisa sesuai dengan indikator keberhasilan, untuk itu alangkah baiknya guru masih tetap melakukan perubahan menuju perbaikan proses pembelajaran.

Tabel 4.3

Evaluasi Kemampuan berbicara siswa pada siklus 1 Pertemuan ke 1

NO NAMA NILAI KET

1 A 50 Tidak Tuntas 2 B 50 Tidak Tuntas 3 C 50 Tidak Tuntas 4 D 60 Tidak Tuntas 5 E 80 Tuntas 6 F 60 Tidak Tuntas 7 G 60 Tidak Tuntas 8 H 50 Tidak Tuntas

9 I 60 Tidak Tuntas 10 J 60 Tidak Tuntas 11 K 60 Tidak Tuntas 12 L 60 Tidak Tuntas 13 M 60 Tidak Tuntas 14 N 60 Tidak Tuntas 15 O 60 Tidak Tuntas 16 P 90 Tuntas 17 Q 50 Tidak Tuntas 18 R 70 Tuntas 19 S 70 Tuntas 20 T 40 Tidak Tuntas 21 U 60 Tidak Tuntas 22 V 80 Tuntas 23 W 80 Tuntas 24 X 50 Tidak Tuntas 25 Y 50 Tidak Tuntas 26 Y 60 Tidak Tuntas 27 AA 90 Tuntas 28 AB 40 Tidak Tuntas 29 AC 50 Tidak Tuntas 30 AD 80 Tuntas 31 AE 60 Tidak Tuntas 32 AF 70 Tuntas 33 AG 50 Tidak Tuntas 34 AH 60 Tidak Tuntas Jumlah 2100 Rata-Rata 61 Presentase ketuntasan (%) 26,5%

Berdasarkan hasil tes tulis pada pertemuan ini masih banyak siswa yang belum mencapai nilai kriteria ketuntasan minimum (KKM), hal ini dapat dilihat dari jumlah siswa yang mencapai ketuntasan yaitu sebanyak 9siswa dengan prosentase 26,5 % dari jumlah keseluruhan siswa dan 23 siswa belum tuntas dengan prosentase yang lebih tinggi yakni 73.5%.

Tabel 4.4

Evaluasi Kemampuan berbicara siswa pada siklus 1 Pertemuan ke 2

No Nama

Aspek penilaian Nilai

Rata- rata Ket. 1 2 3 4 5 6 7 1 A 60 50 60 63 72 64 50 68 TT 2 B 50 60 50 72 73 60 60 69 TT 3 C 65 50 70 73 40 65 65 70 TT 4 D 70 65 75 70 74 75 60 80 T 5 E 65 50 50 50 50 72 50 63 TT 6 F 50 60 70 50 60 50 52 64 TT 7 G 55 50 50 55 67 50 60 63 TT 8 H 50 60 52 67 68 52 50 65 TT 9 I 52 55 50 68 63 50 50 63 TT 10 J 50 52 60 63 74 60 60 68 TT 11 K 52 61 60 74 62 70 55 71 T 12 L 50 63 65 70 70 72 50 72 T 13 M 68 75 65 72 72 69 69 80 T 14 N 65 50 50 50 50 60 65 64 TT 15 O 50 54 52 50 50 75 70 65 TT 16 P 75 76 70 80 75 80 72 86 T 17 Q 75 60 65 69 75 76 78 81 T 18 R 52 60 62 60 50 50 50 63 TT 19 S 75 70 75 70 70 70 66 81 T 20 T 52 65 50 65 50 52 50 63 TT

21 U 50 65 55 50 52 50 60 62 TT 22 V 62 52 60 75 50 60 60 68 TT 23 W 75 70 70 75 80 60 70 82 T 24 X 50 65 65 52 60 65 65 70 T 25 Y 55 60 50 50 65 65 62 66 TT 26 Y 50 62 52 52 65 50 65 65 TT 27 AA 52 59 50 50 50 52 50 59 TT 28 AB 50 50 55 72 52 70 55 66 TT 29 AC 52 55 70 73 70 63 65 73 T 30 AD 70 60 75 69 70 75 74 80 T 31 AE 50 61 62 50 74 65 50 67 TT 32 AF 50 61 65 70 65 65 50 70 T 33 AG 50 63 70 62 70 70 60 72 T 34 AH 75 74 70 70 75 70 67 82 T Jumlah 1972 2043 2070 2161 2163 2152 2035 2094 Rata-rata 58.0 60.1 60.9 63.6 63.6 63.3 59.9 61.6 Presentase ketuntasan (%) 44.1 %

Keterangan : 1. Volume Suara 2. Pelafalan

3. Keterampilan Mengembangkan Ide 4. Sikap Pengayatan dalam Cerita 5. Kelancaran

6. Ketepatan Ucapan 7. Percaya Diri

50-59 Sangat Tidak Lancar ( Jika ketidaklancaran sebanyak 10 kali) 60-69 Tidak tepat ( Jika ketidaklancaran sebanyak 9 sampai 10) 70-79 Kurang lancar (Jika ketidaklancaran sebanyak 6-8 kali) 80 -89 Lancar (jika ketidaklancaran sebanyak 3-5 kali)

90-99 Sangat Lancar (Jika ketidaklancaran sebanyak 2 kali)

Berdasarkan siklus evaluasi diatas dapat diketahui bahwa nilai rata-rata kemampuan berbicara siswa pada siklus 1 jika dilihat dari segi indikator volume suara adalah 58,0%, sedangkan persentase pelafalan berbicara sebesar 60,1%. Indikator keterampilan mengembangkan ide mencapai 60,9%, sedangkan pada indikator sikap penghayatan dalam cerita mencapai 63,6%. Indikator ketepatan ucapan mencapai 63,3%, dan indikator percaya diri 59,9%.

Prosentaseketuntasan tersebut masih jauh dari batas kriteria ketuntasan minimal secara klasikal yang ditetapkan yaitu sebesar 70% secara individual siswa yang tuntas belajar (mendapat nilai minimal 70). Siswa yang tuntas sebanyak 15 dengan prosentase 44,1% sedangkan 19 siswa lainnya masih dinyatakan belum tuntas (nilai di bawah siswa masih kurang dari 70).

Berdasarkan Hasil Siklus I pada pertemuan pertama prosentase ketuntasan 26,5 % dan pada pertemuan ke dua 44,1%. Setelah diterapkannya media boneka tangan dapat dikatakan mampu meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas III mengalami peningkatan sebanyak 66,4%.

d. Tahap Refleksi

1) Refleksi Siklus I Pertemuan Pertama

Kegiatan refleksi dilakukan setelah berlangsungnya proses pembelajaran yang berlangsung pada siklus I. pada pertemuan pertama ini peneliti dapat menyimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran berlangsung dengan baik. Meskipun pada pertemuan pertama peneliti banyak menemukan dan mengalami beberapa kendala diantaranya:

a) Siswa kurang percaya diri ketika berbicara didepan kelas.

c) Suasana yang ramai membuat terganggu pada saat pembelajaran berlangsung, sehingga berkurangnya waktu untuk mengkondisikan kelas. d) Siswa dalam mengerjakan tugas menjawab pertanyaan masih ada yang

merasa kesulitan dan membutuhkan waktu yang lama karena peneliti memberikan perintah untuk mendengarkan cerita dan menjawab pertanyaan

2) Refleksi Siklus I Pertemuan kedua

Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil ketrampilan berbicara pada siswa kelas III peneliti melakukan refleksi sebagai berikut:

a) Siswa kurang percaya diri atau masih merasa malu-malu ketika harus bercerita atau berbicara didepan teman-teman yang lainnya.

b) Siswa belum menggunakan lafal dan intonasi dengan tepat.

c) Kurang mampu menguasai cerita sehingga sulit mengungkapkan dan mengembangkan sesuai dengan bahasanya sendiri.

d) Ketika bercerita siswa lebih berpacu pada teks cerita bukan menggunakan bahasanya sendiri

Setelah diterapkan metode cerita melalui media boneka tangan, siswa menunjukkan perubahan. Dari nilai dan juga cara berbicara siswa dalam bercerita. keterampilan berbicara mulai ada peningkatan dibandingkan dengan pertemuan awal.

Bertolak dari hasil pengamatan dan refleksi siklus I, peneliti mencari cara untuk mengatasi kekurangan yang ada pada siklus I. peneliti dan guru yang bersangkutan mengadakan diskusi untuk mengatasi kekurangan pada siklus I. dari hasil diskusi tersebut akan diterapkan siklus II. Kegiatan diskusi ini dilaksanakan langsung setelah peneliti melaksanakan pembelajaran siklus I. Guru memberikan penilaian kepada peneliti, bahwa peneliti masih kurang mampu dalam menguasai kelas dan mengkondisikan kelas dengan baik.

Dokumen terkait