4.3 Populasi dan Sampel Penelitian
4.3.3 Besar Sampel
Penelitian eksperimental murni dengan rancangan acak kelompok, berdasarkan jumlah minimal yang ditetapkan rumus Federer (1955), secara sedrehana dirumuskan sebagai berikut :
( t-1 ) ( r-1 ) ≥ 15 t = banyaknya kelompok perlakuan
( 4-1 ) ( r-1 ) ≥ 15 r = jumlah sampel
3 (r-1) ≥ 15
(r-1) ≥ 5+1
r ≥ 6
r = 6
Dari perhitungan di atas, diperoleh besar sampel untuk tiap kelompok 6 sampel dengan jumlah keseluruhan gigi 24 dibagi ke dalam 4 kelompok perlakuan yaitu:
Kelompok A : Sampel ditanam dalam balok gips, preparasi kavitas bentuk outline form
kls II MOD pada gigi premolar dengan lebar dinding bukal 2,5 mm, lebar dinding lingual 1,5 mm, kedalaman 4 mm, dan pengurangan cusp bukal 2 mm dan lingual 1,5 mm pengukuran dengan kalliper (Garlapati et al, 2017). Preparasi dengan endo akses bur hingga orifice, irigasi dengan NaOCl 2,5%, negosiasi saluran akar dengan k-file #10 dilanjutkan canal patency dengan k-file
#10 ukur panjang kerja dan irigasi dengan NaOCl 2,5%. Cleaning shaping menggunakan protaper next hingga X2 sambil diirigasi dengan NaOCl 2,5%. Keringkan dengan paper point dan obturasi dengan gutta percha dan sealer AH plus dengan menggunakan warm vertical compaction teknik.
Hasil obturasi dikonfirmasi lewat rontgen foto, dasar kamar pulpa diisi dengan SDR 2 mm.
Restorasi sampel klas II MOD cusp coverage setelah perawatan endodontik dengan resin komposit konvensional secara incremental, finishing dan polishing. Proses thermocycling seluruh sampel dimasukkan kedalam beaker glass 250 ml yang berisi air es selama 30 detik dengan temperatur 5°C lalu pindahkan ke waterbath dengan temperatur 55°C dan diamkan selama 30 detik lakukan berulang sebanyak 200 kali (Kemagloglu et al, 2015). Sampel ditanam pada silinder akrilik self curing hingga batas 1 mm dibawah CEJ untuk menyerupai kedudukan gigi pada tulang alveolar lalu di uji menggunakan UTM dengan pemberian load untuk melihat ketahanan fraktur.
Kelompok B : Sampel ditanam dalam balok gips, preparasi kavitas bentuk outline form
kls II MOD pada gigi premolar dengan lebar dinding bukal 2,5 mm, lebar dinding lingual 1,5 mm, kedalaman 4 mm, dan pengurangan cusp bukal 2 mm dan lingual 1,5 mm pengukuran dengan kalliper (Garlapati et al, 2017). Preparasi dengan endo akses bur hingga orifice, irigasi dengan NaOCl 2,5%, negosiasi saluran akar dengan k-file 10 dilanjutkan canal patency dengan k-file 10
ukur panjang kerja dan irigasi dengan NaOCl 2,5%. Cleaning shaping menggunakan protaper next hingga X2 sambil diirigasi dengan NaOCl 2,5%. Keringkan dengan paper point dan obturasi dengan gutta percha dan sealer AH plus dengan menggunakan warm vertical compaction teknik.
Hasil obturasi dikonfirmasi lewat rontgen foto, dasar kamar pulpa diisi dengan SDR 2 mm.
Restorasi sampel klas II MOD cusp coverage setelah perawatan endodontik dengan resin komposit bulk fill EverX posterior (GC) short fiber reinforced. finishing dan polishing. Proses thermocycling seluruh sampel dimasukkan kedalam beaker glass 250 ml yang berisi air es selama 30 detik dengan temperatur 5°C lalu pindahkan ke waterbath dengan temperatur 55°C dan diamkan selama 30 detik lakukan berulang sebanyak 200 kali (Kemagloglu et al, 2015). Sampel ditanam pada silinder akrilik self curing hingga batas 1 mm dibawah CEJ untuk menyerupai kedudukan gigi pada tulang alveolar lalu di uji menggunakan UTM dengan pemberian load untuk melihat ketahanan fraktur.
Kelompok C : Sampel ditanam dalam balok gips, preparasi kavitas bentuk outline form
kls II MOD pada gigi premolar dengan lebar dinding bukal 2,5 mm, lebar dinding lingual 1,5 mm, kedalaman 4 mm, dan pengurangan cusp bukal 2 mm dan lingual 1,5 mm pengukuran dengan kalliper (Garlapati et al, 2017). Preparasi dengan endo akses bur hingga orifice, irigasi dengan NaOCl 2,5%, negosiasi saluran akar dengan k-file 10 dilanjutkan canal patency dengan k-file 10 ukur panjang kerja dan irigasi dengan NaOCl 2,5%. Cleaning shaping menggunakan protaper next hingga X2 sambil diirigasi dengan NaOCl 2,5%. Keringkan dengan paper point dan obturasi dengan gutta percha dan sealer AH plus dengan menggunakan warm vertical compaction teknik.
Hasil obturasi dikonfirmasi lewat rontgen foto, dasar kamar pulpa diisi dengan SDR 2 mm.
Restorasi sampel klas II MOD cusp coverage setelah perawatan endodontik dengan Ribbond (polyethylene fiber reinforced). finishing dan polishing. Proses thermocycling seluruh sampel
dimasukkan kedalam beaker glass 250 ml yang berisi air es selama 30 detik dengan temperatur 5°C lalu pindahkan ke waterbath dengan temperatur 55°C dan diamkan selama 30 detik lakukan berulang sebanyak 200 kali (Kemagloglu et al, 2015). Sampel ditanam pada silinder akrilik self curing hingga batas 1 mm dibawah CEJ untuk menyerupai kedudukan gigi pada tulang alveolar lalu di uji menggunakan UTM dengan pemberian load untuk melihat ketahanan fraktur.
Kelompok D : Sampel ditanam dalam balok gips, preparasi kavitas bentuk outline form kls II MOD pada gigi premolar dengan lebar dinding bukal 2,5 mm, lebar dinding lingual 1,5 mm, kedalaman 4 mm, dan pengurangan cusp bukal 2 mm dan lingual 1,5 mm pengukuran dengan kalliper (Garlapati et al, 2017). ). Preparasi dengan endo akses bur hingga orifice, irigasi dengan NaOCl 2,5%, negosiasi saluran akar dengan k-file 10 dilanjutkan canal patency dengan k-file 10 ukur panjang kerja dan irigasi dengan NaOCl 2,5%. Cleaning shaping menggunakan protaper next hingga X2 sambil diirigasi dengan NaOCl 2,5%. Keringkan dengan paper point dan obturasi dengan gutta percha dan sealer AH plus dengan menggunakan warm vertical compaction teknik.
Hasil obturasi dikonfirmasi lewat rontgen foto, dasar kamar pulpa diisi dengan GIC. Restorasi sampel klas II MOD cusp coverage setelah perawatan endodontik resin komposit konvensional lalu finishing dan polishing. Restorasi sampel klas II MOD cusp coverage dengan resin komposit konvensional secara bulk, finishing dan polishing. Proses thermocycling seluruh sampel dimasukkan kedalam beaker glass 250 ml yang berisi air es selama 30 detik dengan temperatur 5°C lalu pindahkan ke waterbath dengan temperatur 55°C dan diamkan selama 30 detik lakukan berulang sebanyak 200 kali (Kemagloglu et al, 2015). Sampel ditanam pada silinder akrilik self curing hingga batas 1 mm dibawah CEJ untuk menyerupai kedudukan gigi pada tulang alveolar lalu di uji menggunakan UTM dengan pemberian load untuk melihat ketahanan fraktur.
Sampel yang digunakan sebanyak 24 buah gigi premolar mandibular yang telah diekstraksi untuk keperluan ortodonti direndam dalam larutan saline. Kemudian sampel dikelompokkan menjadi empat kelompok perlakuan secara acak, masing – masing berjumlah 6 sampel dan ditanam dalam balok gips untuk memudahkan preparasi restorasi sampel.
4.4 Variabel dan Defenisi Operasional
4.4.1 Variabel Penelitian 4.4.1.1 Variabel Bebas
• SDR + Resin komposit konvensional yang diberi tekanan 225 N
• SDR + short fiber reinforced (Ever X) yang diberi tekanan 225 N
• SDR + polyethylene fiber reinforced (Ribbon) yang diberi tekanan 225 N
• GIC + Resin komposit konvensional yang diberi tekanan 225 N 4.4.1.2 Variabel Terikat
• Absorbsi Residu pada bahan restorasi SDR dan EverX posterior berdasarkan waktu inkubasi (24 jam, 48 jam, 72 jam)
• Kekerasan (Vickers) pada bahan restorasi SDR, Ribbon dan EverX posterior
• DSC (Differential Scanning Calorymetri) pada restorasi gigi pasca endodontik
• Ketahanan fraktur pada restorasi gigi pasca endodontik melalui uji universal testing machine.
4.4.1.3 Variabel Terkendali
a. Gigi premolar mandibular dengan kriteria inklusi
b. Desain dan ukuran preparasi kavitas kls II MOD dengan penurunan cusp ( tebal dinding bukal 2,5 mm; tebal dinding lingual 1,5 mm; kedalaman 4 mm;
pengurangan cusp bukal 2 mm; lingual 1,5 mm).
c. Sistem adhesif ( total etch two step )
d. Teknik insersi ( incremental dan bulk sistem ) e. Jenis dan bentuk mata bur : bur endo access f. K-file
g. Teknik preparasi saluran akar crown down hingga 25/06 (X2) h. Teknik obturasi warm vertical compaction
i. Bahan irigasi larutan NaOCl 2,5%
j. Paper point
k. Ketebalan ribbon 2 mm l. Ketebalan Ever X 2 mm
m. Waktu penyinaran light cure (20 detik)
n. Jarak penyinaran dengan bahan restorasi ( 0-1 mm )
o. Suhu dan proses thermocycling ( 200 putaran pada suhu 5° dan 55°)
4.4.1.4 Variabel Tidak Terkendali
a. Masa / jangka waktu pencabutan gigi premolar mandibular sampai diberikan perlakuan.
b. Keberadaan smear layer
c. Keberadaan micro crack
d. Pengerutan resin komposit saat polimerisasi e. Usia pasien saat gigi di ekstraksi
4.4.2 Identifikasi variabel Penelitian
Variabel Bebas :
a. SDR + Resin komposit
konvensional yang diberi tekanan 225 N
b. SDR + short fiber reinforced (Ever X) yang diberi tekanan 225 N
c. SDR + polyethylene fiber reinforced (Ribbon) yang diberi posterior berdasarkan waktu inkubasi (24 jam, 48 jam, 72 Calorymetri) pada restorasi gigi pasca endodontik
- Ketahanan fraktur pada restorasi gigi pasca endodontik melalui uji universal testing machine.
4.4.3. Definisi Operasional Variabel Bebas
Tabel 2.5. Definisi operasional, cara mengukur, alat ukur dan skala dari variable bebas.
No VARIABEL
a. Gigi premolar mandibular dengan kriteria inklusi
b. Desain dan ukuran preparasi kavitas kls II MOD dengan penurunan cusp ( tebal dinding bukal 2,5 mm; tebal dinding lingual 1,5 mm; kedalaman 4 mm;
pengurangan cusp bukal 2 mm; lingual 1,5 mm).
c. Sistem adhesif ( total etch two step ) d. Teknik insersi ( incremental dan bulk
sistem )
e. Jenis dan bentuk mata bur : bur open access
f. K-file
g. Teknik preparasi saluran akar crown down hingga 25/06 (X2)
h. Teknik obturasi warm vertical compaction
i. Bahan irigasi larutan NaOCl 2,5%
j. Paper point
k. Ketebalan ribbon 2 mm l. Ketebalan EverX 2 mm
m. Waktu penyinaran light cure (20 detik) n. Jarak penyinaran dengan bahan
restorasi (0-1 mm)
- Keberadaan smear layer - Keberadaan micro crack - Pengerutan resin
komposit saat polimerisasi
bulk dasar kavitas 2
cusp coverage
Tabel 2.6. Defenisi Operasional, cara mengukur, alat ukur dan skala dari Variabel Terikat No VARIABEL
3
15 menit lalu
4.5 Alat dan Bahan Penelitian
4.5.1 Alat Penelitian
• Masker dan handscoon
• Mikromotor
• Bur endo accsess
• K-file #10 dan #15
• Rotary file ukuran 17/04, 25/06, 30/07 ( protaper next ), pabrik
• Spuit 5ml irigasi
• Irrigation needle
• Paper point
• Ball applicator
• Probe
• Caliper digital
• Matrix band
• LED
• Finishing dan polishing bur
• Thermometer (Fisher, Germany)
• Beaker Glass (Pyreex, Germany)
• Cawan petri
• Waterbath (Memmert, Germany)
• Stopwatch (Diamond, Germany)
• Pot acrilic
• Alat uji ketahanan fraktur Universal Testing Machine
4.5.2 Bahan penelitian
• Gigi premolar mandibular yang telah diekstraksi
• Saline untuk penyimpanan sampel penelitian
• Gips untuk menanam gigi
• Guttaperca (Densplay)
• Root canal sealer AH plus (Densplay)
• Bahan bonding Total etch two step, etch dan bonding ( 3M ESPE)
• NaOCl 2,5%
• SDR
• Resin komposit konvensional
• Flowable komposit
• Resin komposit EverX
• Ribbon (Polyethylene fiber reinforced)
• Self cure akrilik
Gambar 16.a. kaliper, b. diamond bur, c. high speed, d. gun SDR, e. bonding aplicator, f.
matrix, g. LED lightcure, h. pot acrylic, i. waterbath
4.6 Prosedur Penelitian 4.6.1 Persiapan sampel
Sampel yang digunakan sebanyak 24 buah gigi premolar mandibular yang telah diekstraksi untuk keperluan ortodonti. Sampel dikelompokkan menjadi empat kelompok perlakuan secara acak, masing – masing berjumlah 6 sampel dan ditanam didalam balok gips untuk memudahkan dalam preparasi.
4.6.2 Pemodelan perawatan saluran akar
Preparasi akses kavitas dengan dekoronasi dilanjutkan dengan penentuan panjang kerja dengan bantuan k-file no.10 atau 15. Selanjutnya dilakukan preparasi saluran akar dengan instrument rotary protaper next dari ukuran file 17/04 sampai dengan 25/06, irigasi dengan NaOCl 2,5% setiap pergantian file.Gigi yang telah dipreparasi diisi dengan guttaperca menggunakan teknik warm vertical compaction.
4.6.3 Preparasi Akses
Bentuk outline form dengan bur diamond desain kavitas klas II MOD cusp coverage pada gigi premolar madibula dengan lebar bukal 2,5 mm; lebar lingual 1,5 mm; kedalaman 4 mm;
pengurangan cusp bukal 2 mm; lingual 1,5 mm (Garlapati et al, 2017).
Gambar 17. a. pengukuran luas preparasi mesial, b.pengukuran luas preparasi distal, c. proses preparasi, d.
pengukuran kedalaman preparasi
4.6.4 Restorasi sampel
Gigi yang sudah diobturasi kemudian langsung direstorasi sesuai pembagian sampel kelompok sesuai dengan ketentuan ukuran hasil preparasi kavitas dan dengan pengaplikasian etsa, bonding dan waktu penyinaran dengan perlakuan yang sama. Etsa 15 detik, bonding 20 detik, polimerisasi 20 detik. Setelah itu gigi di finishing dan polishing dengan fine bur , bur silicon. EverX flow diaplikasikan diatas SDR dengan ketebalan 2 mm dan diikuti komposit konvensional 2 mm
a
cusp. Peletakkan Ribbon diatas SDR dengan bahan bulk fill dan peletakkan ribbon pada setiap dinding kavitas.
4.6.5 Thermocycling
Seluruh sampel yang telah direstorasi dimasukkan kedalam beaker glass yang berisi air es selama 30 detik dengan temperatur 5°C lalu dipindah dengan jedah 5 detik ke waterbath dengan temperatur 55°C diamkan selama 30 detik lakukan berulang sebanyak 200 kali simulasi kondisi rongga mulut (Kemaloglu et al, 2015). Thermocycling menyebabkan terjadinya hidrasi dari suatu bahan sehingga bahan tersebut mengabsorpsi air.
Gambar 18. Proses waterbath dan thermocycling
4.6.6 Tanam sampel dalam cetakan akrilik
Sampel ditanam 90° pada silinder akrilik self curing hingga batal 1 mm dibawah CEJ agar menyerupai kedudukan pada tulang alveolar.
Gambar 19. Hasil penanaman sampel dalam self curing acrylic
4.6.7 Proses Uji Ketahanan Fraktur
Proses uji dilakukan di laboratorium Mekanika Dasar Fakultas Teknik Mesin UNSYIAH untuk mengetahui kekuatan load-bearing-capacity dari sampel. Sampel diletakkan pada alat uji dengan posisi penekanan pada permulakaan oklusal dengan kontak terhadap tonjol gigi sejajar aksis panjang gigi. Sampel ditekan dengan kecepatan 0,5 mm/menit hingga fraktur dengan load mastikasi 225 N dengan Universal Testing Machine.
Gambar 20. (a,b) Proses uji ketahanan fraktur
4.6.8 Proses Uji Daya Absorbsi Material
Konsep ini menurut Pareara (2018) konsep ini dapat dipertimbangkan untuk mempelajari daya konversi, kekerasan mikro atau tegangan susut polimerisasi komposit, selain itu dapat diprediksi tingkat stres polimerisasi untuk mempertahankan sifat fisik komposit gigi. Sampel berupa komposit everX posterior dan SDR.
Gambar 21. (a) SDR+etanol, EverX posterior+etanol, (b) sampel divibrasi A
4.6.9 Proses Uji Kekerasan Material (Vickers)
Sampel bahan SDR, EverX posterior dan Ribbon pada kelompok penelitian dilakukan polimerisasi setelah mengeras diuji kekerasan dengan alat micro Vickers hardness setiap sampel bahan dengan tujuan melihat tingkat kekerasan bahan restorasi.
Gambar 22. Alat uji kekerasan Vickers (a), bahan uji SDR, EverX posterior dan Ribbon (b)
4.6.10 Proses Uji Differential Scanning Calorimetry (DSC) Material
Sampel pada masing – masing kelompok sebelumnya dilakukan perendaman didalam waterbath selama 15 menit lalu divibrasi selama 15 menit dan semua perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Setelah semua sampel mendapat perlakuan dilanjutkan uji pelepasan kalori dengan alat DSC untuk melihat restorasi mana yang melepaskan kalor terbanyak.
Gambar 23. Proses uji pelepasan kalor (a) sampel gigi dimasukkan kedalam mesin, (b) hasil yang dibaca computer
4.7 Pengelolaan dan Analisa Data
Data diperoleh dianalisis secara statistik dengan menggunakan : 1. Uji Keuskal-Wallis secara non parametrik untuk melihat pengaruh.
2. Uji Least Significant Differences (LSD) dengan tingkat kemaknaan (α = 0,05) untuk melihat perbedaan pengaruh.
BAB 5
HASIL PENELITIAN
Penelitian dilakukan setelah mendapatkan Etical Clearance dengan nomor : 716/TGL/KEPK FK USU-RSUP HAM/2019 yang telah disetujui oleh Komisi Etik Penelitian (KEPK) Fakultas Kedokteran USU Medan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental laboratorium dengan desain penelitian post test only control group design.
Sampel yang digunakan adalah gigi premolar mandubula, gigi ini memiliki insidensi klinis fraktur yang tinggi. Lokasi gigi premolar terletak pada posisi yang menerima gaya tekan dan gaya geser yang tinggi pada lengkung rahang (Garlapati et al, 2017). Bentuk anatomi, ukuran mahkota serta rasio mahkota dan akar dari gigi premolar juga mendukung terhadap terjadinya fraktur.
Inklinasi tonjol gigi membuat gigi premolar lebih mudah mengalami fraktur dibawah tekanan oklusal. Pada sampel penelitian ini ditetapkan beberapa kriteria yaitu mahkota gigi masih utuh, gigi tidak ada karies, belum pernah dilakukan restorasi dan tidak ada fraktur mahkota dan akar.
Jumlah gigi yang digunakan sejumlah 24 buah gigi yang dibagi secara random kedalam empat kelompok perlakuan yaitu kelompok pertama pengaplikasian SDR dengan ketebalan 2 mm sebagai intermediate layer pada daerah orifice dan diikuti dengan penambalan resin komposit konvensional (packeable), kelompok kedua pengaplikasian SDR dengan ketebalan 2 mm sebagai intermediate layer pada daerah orifice dan diikuti dengan bahan tambal everX posterior, keompok ketiga pengaplikasian SDR dengan ketebalan 2 mm sebagai intermediate layer pada daerah orifice dan diikuti penambahan ribbon pada setiap dinding kavitas dengan flow able komposit, dan
kelompok terakhir dengan pengaplikasian GIC pada orifice diikuti dengan penambalan resin komposit konvensional. Setiap sampel dilakukan preparasi kavitas bentuk outline form kls II MOD pada gigi premolar dengan lebar dinding bukal 2,5 mm, lebar dinding lingual 1,5 mm, kedalaman 4 mm, dan pengurangan cusp bukal 2 mm dan lingual 1,5 mm pengukuran dengan kalliper.
5.1 Uji Absorbsi Residu Material
Sampel bahan SDR dan EverX posterior pada kelompok penelitian dimasukkan kedalam tabung reaksi 14 ml. EverX posterior 0,25g/5 ml dan SDR 0,25g/5ml yang dilarutkan dengan etanol 96% kemudian divibrasi selama 15 menit. Hasil larutan di letakkan di cawan petri dengan masing – masing label material lalu diinkubasi selama 24, 48 dan 72 jam. Perlakuan dilaksanakan di laboratorium MIPA, Unsyiah Banda Aceh.
Gambar 24. (a) Proses inkubasi melihat daya absorbsi SDR dan EverX posterior, (b) hasil setelah 72 jam
Gambar 25. Level absorbsi material uji (SDR: Stress Decreasing Resin; EverX posterior). Material SDR memiliki daya absorbsi yang lebih baik dibandingkan dengan EverX-posterior berdasarkan waktu inkubasi (24 jam, 48 jam,
a
72 jam). Kedua bahan tersebut terjadi kenaikan daya absorbsi berdasarkan waktu inkubasi, namun EverX posterior lebih stabil kenaikannya dibandingkan SDR.
Tabel 2.7. Analisis Kruskal-Wallis analisis daya absorbsi SDR dan EverX posterior
Variabel
Tabel 2.7. Menunjukkan bahwa daya absorbsi SDR dan EverX posterior cenderung meningkat bardasarkan waktu inkubasi (p<0,05) dengan hubungan yang kuat (r=0,69). Sedangkan kenaikan daya absorbsi diantara material uji tidak ada perbedaan yang bermakna (p>0,05) dan memiliki hubungan yang rendah keduanya (r=-0,46) seperti yang
diperlihatkan pada Tabel 2.7.
5.2 Uji Kekerasan Material (Vickers)
Sampel bahan SDR, EverX posterior dan Ribbon pada kelompok penelitian dilakukan polimerisasi setelah mengeras diuji kekerasan dengan alat micro Vickers hardness setiap sampel bahan. Perlakuan dilaksanakan di laboratorium MIPA, Unsyiah Banda Aceh.
Gambar 26. Alat uji kekerasan Vickers (a), proses pengujian bahan restorasi SDR, EverX posterior dan Ribbon (b)
Gambar 27. Uji Vickers (kekerasan) material uji SDR, Ribbon, dan EverX posterior. EverX posterior memiliki nilai kekerasan yang lebih baik dibandingkan dengan material uji lainnya.
Pada Gambar 27. menunjukkan material uji EverX posterior memiliki daya tahan beban yang lebih keras mencapai 59,6 Hv (47%) dibandingkan Ribbon 34,6 Hv (27%) dan SDR 32,8 Hv (26%) setelah dilakukan uji vickers dengan beban tekan 6 kg.
5.3 Uji DSC (Differential Scanning Calorymetri) Material
Sampel pada masing – masing kelompok sebelumnya dilakukan perendaman didalam waterbath selama 15 menit lalu divibrasi selama 15 menit dan semua perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Setelah semua sampel mendapat perlakuan dilanjutkan uji pelepasan kalori dengan alat DSC.
Gambar 28. Hasil Differential Scanning Calorymetri (a) SDR+ Resin komposit packable, (b) SDR+Ribbon, (c) SDR+Ever X Posterior dab (d) GIC+Resin Komposit packable
Gambar 29. Differential scanning calorimetry material kedokteran gigi. SDR - EverX posterior paling banyak melepaskan panas dibandingkan dengan material uji lainnya. Bar (pelepasan panas); Bar error (standar deviasi).
a b
c d
Pada Gambar 29. digambarkan bahwa tingggi rendahnya pelepasan panas dari keempat material uji tersebut sangat tergantung dengan unsur penyusun material itu sendiri. Pelepasan kalor tertinggi pada sampel SDR-EverX posterior diikuti SDR-Ribbon diikuti SDR-komposit resin packable diikuti GIC- komposit resin packable.
5.4 Uji Kekuatan fraktur gigi
Sampel pada masing – masing kelompok sebelumnya dilakukan perendaman didalam waterbath selama 15 menit lalu divibrasi selama 15 menit dan semua perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Setelah semua sampel mendapat perlakuan dilanjutkan uji pelepasan kalori dari sampel tersebut lalu sampel diberi tekanan untuk uji kekuatan frakturnya.
Gambar 30. Pola fraktur gigi setelah pengujian (a) SDR-resin komposit packable, (b) SDR-EverX posterior, (c) SDR-Ribbon, (d) GIC-resin komposit packable
Gambar 31. Kekuatan Gigi. SDR-EverX posterior memiliki kekuatan yang relatif lebih kuat dibandingkan dengan material lainnya. Bar (kekuatan material); Bar Error (standar deviasi)
Pada Gambar 31. SDR-EverX posterior memiliki kekuatan yang lebih kuat (stabil) dibandingkan dengan material lainnya.
Berdasarkan hasil yang diperoleh setelah dilakukan proses uji tekan pada keempat kelompok sampel, secara deskriptif didapat nilai rerata kelompok dengan aplikasi bahan SDR 2 mm dan diikuti pemberian everX posterior memiliki ketahanan fraktur yang lebih baik dibandingkan beberapa modifikasi komposit resin lainnya (GIC-RK packable, SDR-Ribbon, dan SDR-RK packable) dengan restorasi direk klas II MOD cups coverage pada gigi pasca endodontik.
BAB 6
PEMBAHASAN
Konsep dari penelitian ini adalah menguji pengaruh dari restorasi direk klas II MOD cups coverage dari sejumlah komposit seperti SDR-Resin komposit packable, SDR-EverX posterior, SDR-Ribbon, dan GIC-Komposit resin packable, untuk diamati pengaruhnya terhadap ketahanan fraktur gigi pasca perawatan endodontik. Sejumlah metode yang diuji dalam penelitian ini memiliki keterkaitan satu dengan lainnya untuk menjelaskan terhadap ketahanan fraktur gigi pasca perawatan endodontik. Uji yang dimaksud adalah pemeriksaan daya absorbsi, kekerasan (beban) material, kajian terhadap pelepasan panas, dan kekuatan gigi.
Terdapat banyak penelitian yang mengatakan bahwa perawatan endodontik merupakan faktor etiologi utama terjadinya fraktur gigi sehingga gigi pasca perawatan endodontik perlu direstorasi kembali ke bentuk, fungsi dan estetika yang semula. Kualitas restorasi koronal secara langsung akan berdampak pada kelangsungan dan keberhasilan perawatan endodontik. Pemberian restorasi dengan seal koronal yang baik diperlukan untuk mengurangi resiko kebocoran mikro bakteri ke dalam sistem saluran akar yang telah dirawat endodontik ( Mannocci and Cowie 2014 ). Restorasi gigi pasca endodontik sering menimbulkan masalah sehingga menjadi tantangan bagi klinisi, selain dari kehilangan jaringan substansial yang bias dianggap sebagai salah satu kendala utama. Gigi pasca endodontik diasumsikan lebih rentan fraktur karena kekeringan atau hilangnya kelembaban yang diberikan pulpa vital ( Mannocci and Cowie 2014 ).
Preparasi akses kavitas selama perawatan endodontik memiliki dampak pada integritas struktur gigi dan membuat gigi menjadi rentan fraktur. Menurut Randow dan Glatz, ketika pulpa dikeluarkan selama perawatan endodontik adanya kehilangan mekanisme feed back positif yang berkontribusi terhadap fraktur gigi. Perawatan endodontik dapat mengurangi kekakuan gigi 5%
dimana struktur gigi terganggu pada saat preparasi kavitas MOD bias mengurangi kekakuan hingga 69% (Garlapati et al, 2017). Idealnya restorasi pasca endodontik harus mampu mentransmisikan dan mendistribusikan tekanan fungsional sambil mempertahankan penutupan koronalnya.
6.1 Uji Absorbsi Residu Material SDR dan EverX posterior
Pengujian absorbsi residu dilakukan untuk mempelajari daya konversi, kekerasan mikro atau tegangan susut polimerisasi komposit, selain itu dapat memprediksi tingkat stres polimerisasi untuk mempertahankan sifat fisik komposit gigi menurut Pareara (2018).
Hasil uji absorbs residu pada gambar 1 dan tabel 1 diperlihatkan bahwa daya absorbsi SDR dan EverX posterior cenderung meningkat bardasarkan waktu inkubasi ( 24, 48 dan 72 jam) (p<0,05) dengan hubungan yang kuat (r=0,69). Artinya setiap material uji (SDR dan everX posterior) keduanya sama-sama memiliki daya absorbsi pada medium adesi. Waktu inkubasi dapat
Hasil uji absorbs residu pada gambar 1 dan tabel 1 diperlihatkan bahwa daya absorbsi SDR dan EverX posterior cenderung meningkat bardasarkan waktu inkubasi ( 24, 48 dan 72 jam) (p<0,05) dengan hubungan yang kuat (r=0,69). Artinya setiap material uji (SDR dan everX posterior) keduanya sama-sama memiliki daya absorbsi pada medium adesi. Waktu inkubasi dapat