• Tidak ada hasil yang ditemukan

Degree of conversion

Dalam dokumen TESIS. Oleh. DWI PUSPARANI, drg (Halaman 57-0)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.6 Sifat Fisik Resin Komposit yang Mempengaruhi

2.6.4 Degree of conversion

Degree of conversion yaitu suatu alat ukur persentase pada karbon berantai ganda yang telah dikonversi menjadi rantai tunggal untuk membentuk polimer resin. Tidak seluruh monomer diubah menjadi polimer namun terdapat sisa monomer yang tidak bereaksi. Konversi monomer menjadi polimer dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti komposisi resin, konsentrasi dari sensitizer, inisiator maupun inhibitor dan trasmisi cahaya saat menembus bahan. Transmisi cahaya saat menembus bahan dipengaruhi oleh intensitas cahaya, kemampuan bahan mengabsorbsi cahaya, dan opasitas bahan. Total degree of conversion tidak dipengaruhi oleh tipe aktivasi baik dengan kimia maupun cahaya selama aktivasi dengan cahaya dilakukan secara adekuat. Namun,

harus diperhatikan bahwa semakin tinggi degree of conversion maka semakin baik kekuatan dan ketahanan pakai bahan tersebut (McCabe, Walls, 2008).

2.7 Ketahanan Fraktur ( Fracture Resistance)

Ketahanan fraktur gigi berbeda antara enamel dengan dentin akibat adanya perbedaan komposisi yang terkandung dalam kedua jaringan keras tersebut. Komposisi enamel terbesar tersusun atas zat anorganik dan sebagian lainnya tersusun atas zat organik dan air sedangkan dentin tersusun atas 70% zat anorganik, 18% zat organik dan 12% air. Zat organik enamel terdiri atas bahan yang dapat larut (mukopolisakarida) dan zat yang tidak dapat larut (keratin) dimana keratin ini mudah mengambil air sehingga menyebabkan enamel bersifat semipermeabel (dapat ditembus oleh air). Sifat semipermeabel ini yang menyebabkan enamel memiliki kemampuan melakukan pertukaran ion antara enamel dengan lingkungan rongga mulut (saliva, lapisan biofilm) yang terjadi pada daerah antar kristal apatit. Zat organik dentin sebagian besar adalah kolagen tipe I yang terikat antara kristal apatit dan berperan dalam menyimpan serta mendistribusikan tekanan yang diberikan sehingga dentin dikatakan struktur yang lentur dan kuat (Kemaloglu et al, 2015).

2.7.1 Sifat mekanik dan fisik gigi

Struktur dan komposisi enamel berperan dalam membantu enamel menahan gaya mastikasi yang besar serta membantu dalam kecenderungan gigi untuk bertahan saat berkontak dengan asam secara terus menerus baik asam dari minuman/ makanan maupun asam hasil fermentasi bakteri.

Komposisi kimia dari minuman asam secara jelas menjadi faktor yang penting dalam mempengaruhi sifat mekanik dari enamel. Komposisi mineral enamel yang tinggi dibandingkan jaringan gigi lainnya membuat enamel menjadi jaringan yang keras dan kaku (Kemaloglu et al, 2015). Adanya celah antar susunan kristal yang berperan sebagai jalan difusi (microporous)

menyebabkan enamel dikatakan sebagai material padat yang microporous (Kemaloglu et al, 2015).

Celah antar kristal apatit yang berisi matriks organik dan air terjadi akibat struktur dari kristal hidroksiapatit yang heksagonal sehingga sulit untuk mendapatkan ikatan yang sempurna (Kemaloglu et al, 2015). Hal ini mengakibatkan enamel tidak dapat menahan tekanan mastikasi tanpa fraktur jika gigi tidak didukung oleh jaringan yang lebih lentur dibawah enamel. Jaringan yang lentur ini adalah dentin dimana dentin dapat mendukung enamel dan mengkompensasi terhadap kerapuhan enamel (Kemaloglu et al, 2015). Fraktur terjadi akibat konsentrasi dari tekanan yang diterima spesimen telah mencapai tingkat kritis (critical level) sehingga spesimen tidak mampu menahan tekanan yang diberikan (Kemaloglu et al, 2015).

Pada dasarnya gigi mempunyai beberapa karakteristik mekanik maupun fisik yaitu kekasaran permukaan (surface roughness), modulus elastisitas, warna (colour), ketebalan (thickness), kekerasan (hardness) dan ketahanan fraktur (fracture toughness) yang dapat diukur dengan uji tarik ( tensile strength), uji gesek ( shear strength), dan uji kompresi (compressive strength) (Kemaloglu et al, 2015). Tensile strength, shear strength dan compressive strength merupakan gaya yang terjadi pada saat mastikasi tetapi compressive strength merupakan gaya yang paling banyak terjadi akibat beberapa gaya mastikasi adalah gaya kompresi (Kemaloglu et al, 2015).

2.7.2 Desain Kavitas

1. Retensi Mikromekanis Komposit Resin dalam Kamar Pulpa

Ruang pulpa dibagi menjadi dua bagian, yaitu : kamar pulpa, yang biasanya digambarkan sebagai bagian pulpa yang berada di dalam mahkota; dan saluran akar yang terletak dalam dinding-dinding akar. Kamar pulpa adalah sebuah rongga tunggal, dengan dimensi yang bervariasi sesuai

dengan garis luar mahkota dan struktur akar. Jadi jika mahkota memiliki cusps yang berkembang dengan baik, maka kamar pulpa memiliki tanduk pulpa yang berkembang dengan baik (Gulabivala, 2014).

Pada gigi premolar dan molar, struktur dentin di atap kamar pulpa lebih sedikit dari pada di lantai kamar pulpa. Dapat terjadi penurunan ketinggian dinding kamar pulpa ini, dan juga penurunan lebar mesiodistal dari kamar pulpa (Gulabivala, 2014). Lantai kamar pulpa terletak sejajar dengan atap pulpa dan terdiri dari dentin yang mengikat kamar pulpa didekat area servikal gigi, khususnya dentin membentuk daerah furkasi. Sedikit sekali penelitian yang membahas mengenai ukuran kamar pulpa, yang penting untuk diperhatikan saat melakukan preparasi kamar pulpa pada gigi dengan enamel yang masif dan struktur dentin yang lemah. (Boteva et al, 2012).

Preparasi saluran akar dengan pengangkatan dentin merupakan langkah paling penting dalam perawatan endodontik. Ketebalan sisa dentin menunjukkan batas mekanis instrumentasi yang dilakukan saat preparasi yang memperbesar diameter saluran akar. Perlu berhati-hati saat preparasi agar tidak semakin melemahkan dinding dentin. Ada hubungan langsung antara ketebalan dentin yang tersisa dengan kekuatan fraktur, sehingga mempertahankan struktur dentin yang baik sangat penting. (Tomer et al, 2016).

Gambar 12. Preparasi Cuspal Coverage (Geovani, Ivo, 2013).

Gambar 13. Gambaran modifikasi peletakkan resin komposit (Garlapati et al, 2017).

Gambar 14. Pertimbangan geometris dan struktural (Marco, 2017).

2.8 Kekuatan Gigitan

Kekuatan gigitan maksimum dan faktor yang mempengaruhinya telah dipelajari dengan cermat dalam berbagai percobaan laboratorium. Diteliti secara bervariasi menurut beberapa faktor termasuk jenis kelamin dan usia, jenis makanan, gangguan rahang, kualitas gigi, kekuatan otot, dan faktor lainnya. Pengukuran gaya telah dilakukan untuk menilai kekuatan yang dibutuhkan untuk pengunyahan dan kekuatan gigitan maksimum. Sebagian besar kekuatan pengunyahan diproduksi oleh masseter, yang dapat mengangkat dan mendorong mandibula. Clenching adalah gerakan vertikal rahang yang melibatkan pemotongan makanan pada gigi insisivus dan kompresi makanan pada gigi molar. Grinding adalah kombinasi aplikasi kompresi dan gaya geser pada gigi molar (Mc. Garry, 2013). Secara klinis, kekuatan menggigit normal adalah 222 N – 445 N (rata-rata 322.5N) untuk area premolar rahang atas. Saat menggigit, kekuatan oklusal diamati sekitar 520 N – 800 N (rata-rata 660N) (L.Gulec et al. 2016). Hagberg (1987) melaporkan rata-rata memiliki kekuatan gigitan maksimum 600 N - 750 N pada gigi molar populasi barat. Tortopidis et al. (1998) mencatat kekuatan menggigit maksimum 580 N pada gigi molar secara bilateral. Dengan demikian, 600 N dianggap mewakili kekuatan gigitan maksimum rata-rata di daerah molar.

Imanishi et al. (2003) menganggap beban 225 N dapat mensimulasikan kekuatan gigitan pengunyahan dalam penelitian mereka. Hal ini berdasarkan laporan oleh Lungren dan Laurell yang

menyatakan bahwa gaya pengunyahan biasa sekitar 37% dari kekuatan gigitan maksimum 600 N (D’souza et al, 2016).

2.9 Uji Ketahanan Fraktur

Dalam proses mastikasi dalam mulut terjadi berbagai gaya yang bekerja secara bersamaan.

Gaya yang terjadi ini akan diterima oleh gigi geligi maupun bahan restorasi yang akan mempengaruhi sifat mekanis dari gigi dan bahan restorasi pada gigi tersebut. Load yang diberikan sesuai dengan fungsi mastikasi sebesar 25kgf. Sifat mekanik yang sangat penting diantaranya yaitu modulus elastisitas, shear modulus, tensile strength dan compressive strength (Kemaloglu et al, 2015). Compressive strength dapat diukur dengan cara memberikan tekanan (compression) terhadap suatu objek. Compression dihasilkan dari dua gaya dengan arah menuju satu sama lainnya pada sebuah garis lurus. Sifat mekanis tersebut dapat diukur dengan menggunakan alat Universal Testing Machine (UTM) (Kemaloglu et al, 2015).

Ketahanan fraktur bergantung kepada ketahanan terhadap terbentuknya crack. Crack ini dapat menyebabkan fraktur mikroskopis pada resin komposit maupun struktur gigi. Nilai ketahanan fraktur merupakan nilai tekanan dimana suatu bahan mengalami fraktur. Tekanan yang lebih besar pada uji ketahanan fraktur merupakan kriteria yang baik dari kekuatan dan durabilitas dari suatu tambalan. Bahan lining maupun bahan fiber komposit yang baik memiliki kemampuan untuk menahan gaya kompresif selama proses restorasi maupun pada saat penguyahan.

Universal Testing Machine (UTM) merupakan mesin atau alat pengujian yang berfungsi untuk menguji tegangan tarik dan kekuatan tekan ( ketahanan fraktur ) suatu bahan atau material.

Besar beban 225 N kekuatan gigitan pengunyahan yang diberikan. Uji kekuatan tekan dilakukan

untuk mengetahui ketahanan suatu benda dalam menerima beban tekanan. Kekuatan tekan adalah kemampuan suatu bahan untuk menahan beban sampai yang diterima sampai bahan tersebut terjadi fraktur atau hancur. (Moezzyzade, 2012).

Gambar 15.Universal Testing Machine (UTM) (Moezzyzade, 2012).

2.10 Kerangka Teori

Restorasi akhir gigi pasca perawatan saluran akar

Gigi setelah perawatan saluran akar

Cara meminimalisasi polimerisasi shrinkage

Restorasi direk

Teknik peletakkan Fiber Reinforced

Glass

BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep

Gambar 3.1. Kerangka konsep pengaruh modifikasi bahan restorasi resin komposit fiber reinforced terhadap ketahanan fraktur dengan pemberian load 225 N (pengunyahan) diukur dengan UTM

Penelitian ini akan menganalisis ketahanan fraktur terhadap penggunaan short fiber reinforced komposit resin pada restorasi direk klas II MOD cusp coverage gigi premolar pasca endodontik

SDR (2 mm)+ Resin

dengan pemberian tekanan pengunyahan (mastikasi) load 225 N terhadap aksial gigi melalui uji universal testing mechine.

3.2 Hipotesis Penelitian

Dari uraian di atas dapat dibuat hipotesis yaitu :

1. Ada pengaruh short fiber reinforced pada restorasi direk resin komposit klas II MOD cusp coverage terhadap ketahanan fraktur pasca endodontik.

2. Ada perbedaan pengaruh polyethylene fiber reinforced dengan glass fiber reinforced pada restorasi direk resin komposit klas II MOD cusp coverage terhadap ketahanan fraktur setelah perawatan endodontik.

3. Perluasan retensi ke kamar pulpa tidak akan meningkatkan resiko fraktur pada gigi pasca endodontik dengan SDR.

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis dan Desain Penelitian

4.1.1 Jenis Penelitian

Eksperimental Laboratorium Murni 4.1.2 Desain Penelitian

Postest Only Control Group Design

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1 Lokasi Penelitian :

1. Departemen Konservasi Fakultas Kedokteran Gigi USU Medan 2. Laboratorium Fraktur Mekanik Teknik Mesin UNSYIAH Aceh 3. Laboratorium MIPA UNSYIAH Aceh

4.2.2 Waktu Penelitian :

Agustus 2019 – November 2019 4.3 Populasi dan Sampel Penelitian

4.3.1 Populasi Penelitian

Gigi premolar mandibular yang telah diekstraksi untuk keperluan ortodonti.

4.3.2 Sampel Penelitian

Gigi premolar mandibular yang telah diekstraksi untuk keperluan ortodonti dan diperoleh dari praktik dokter gigi dengan kriteria inklusi sebagai berikut :

a. Gigi premolar mandibular

b. Tidak ada fraktur mahkota dan belum pernah direstorasi c. Mahkota masih utuh dan tidak ada karies

d. Apeks telah tertutup sempurna Kriteria ekslusi sebagai berikut :

a. Gigi dengan kurvatura saluran akar yang terlalu bengkok

b. Gigi yang sebelumnya sudah pernah dilakukan perawatan endodontik c. Gigi dengan saluran akar ganda

4.3.3 Besar Sampel

Penelitian eksperimental murni dengan rancangan acak kelompok, berdasarkan jumlah minimal yang ditetapkan rumus Federer (1955), secara sedrehana dirumuskan sebagai berikut :

( t-1 ) ( r-1 ) ≥ 15 t = banyaknya kelompok perlakuan

( 4-1 ) ( r-1 ) ≥ 15 r = jumlah sampel

3 (r-1) ≥ 15

(r-1) ≥ 5+1

r ≥ 6

r = 6

Dari perhitungan di atas, diperoleh besar sampel untuk tiap kelompok 6 sampel dengan jumlah keseluruhan gigi 24 dibagi ke dalam 4 kelompok perlakuan yaitu:

Kelompok A : Sampel ditanam dalam balok gips, preparasi kavitas bentuk outline form

kls II MOD pada gigi premolar dengan lebar dinding bukal 2,5 mm, lebar dinding lingual 1,5 mm, kedalaman 4 mm, dan pengurangan cusp bukal 2 mm dan lingual 1,5 mm pengukuran dengan kalliper (Garlapati et al, 2017). Preparasi dengan endo akses bur hingga orifice, irigasi dengan NaOCl 2,5%, negosiasi saluran akar dengan k-file #10 dilanjutkan canal patency dengan k-file

#10 ukur panjang kerja dan irigasi dengan NaOCl 2,5%. Cleaning shaping menggunakan protaper next hingga X2 sambil diirigasi dengan NaOCl 2,5%. Keringkan dengan paper point dan obturasi dengan gutta percha dan sealer AH plus dengan menggunakan warm vertical compaction teknik.

Hasil obturasi dikonfirmasi lewat rontgen foto, dasar kamar pulpa diisi dengan SDR 2 mm.

Restorasi sampel klas II MOD cusp coverage setelah perawatan endodontik dengan resin komposit konvensional secara incremental, finishing dan polishing. Proses thermocycling seluruh sampel dimasukkan kedalam beaker glass 250 ml yang berisi air es selama 30 detik dengan temperatur 5°C lalu pindahkan ke waterbath dengan temperatur 55°C dan diamkan selama 30 detik lakukan berulang sebanyak 200 kali (Kemagloglu et al, 2015). Sampel ditanam pada silinder akrilik self curing hingga batas 1 mm dibawah CEJ untuk menyerupai kedudukan gigi pada tulang alveolar lalu di uji menggunakan UTM dengan pemberian load untuk melihat ketahanan fraktur.

Kelompok B : Sampel ditanam dalam balok gips, preparasi kavitas bentuk outline form

kls II MOD pada gigi premolar dengan lebar dinding bukal 2,5 mm, lebar dinding lingual 1,5 mm, kedalaman 4 mm, dan pengurangan cusp bukal 2 mm dan lingual 1,5 mm pengukuran dengan kalliper (Garlapati et al, 2017). Preparasi dengan endo akses bur hingga orifice, irigasi dengan NaOCl 2,5%, negosiasi saluran akar dengan k-file 10 dilanjutkan canal patency dengan k-file 10

ukur panjang kerja dan irigasi dengan NaOCl 2,5%. Cleaning shaping menggunakan protaper next hingga X2 sambil diirigasi dengan NaOCl 2,5%. Keringkan dengan paper point dan obturasi dengan gutta percha dan sealer AH plus dengan menggunakan warm vertical compaction teknik.

Hasil obturasi dikonfirmasi lewat rontgen foto, dasar kamar pulpa diisi dengan SDR 2 mm.

Restorasi sampel klas II MOD cusp coverage setelah perawatan endodontik dengan resin komposit bulk fill EverX posterior (GC) short fiber reinforced. finishing dan polishing. Proses thermocycling seluruh sampel dimasukkan kedalam beaker glass 250 ml yang berisi air es selama 30 detik dengan temperatur 5°C lalu pindahkan ke waterbath dengan temperatur 55°C dan diamkan selama 30 detik lakukan berulang sebanyak 200 kali (Kemagloglu et al, 2015). Sampel ditanam pada silinder akrilik self curing hingga batas 1 mm dibawah CEJ untuk menyerupai kedudukan gigi pada tulang alveolar lalu di uji menggunakan UTM dengan pemberian load untuk melihat ketahanan fraktur.

Kelompok C : Sampel ditanam dalam balok gips, preparasi kavitas bentuk outline form

kls II MOD pada gigi premolar dengan lebar dinding bukal 2,5 mm, lebar dinding lingual 1,5 mm, kedalaman 4 mm, dan pengurangan cusp bukal 2 mm dan lingual 1,5 mm pengukuran dengan kalliper (Garlapati et al, 2017). Preparasi dengan endo akses bur hingga orifice, irigasi dengan NaOCl 2,5%, negosiasi saluran akar dengan k-file 10 dilanjutkan canal patency dengan k-file 10 ukur panjang kerja dan irigasi dengan NaOCl 2,5%. Cleaning shaping menggunakan protaper next hingga X2 sambil diirigasi dengan NaOCl 2,5%. Keringkan dengan paper point dan obturasi dengan gutta percha dan sealer AH plus dengan menggunakan warm vertical compaction teknik.

Hasil obturasi dikonfirmasi lewat rontgen foto, dasar kamar pulpa diisi dengan SDR 2 mm.

Restorasi sampel klas II MOD cusp coverage setelah perawatan endodontik dengan Ribbond (polyethylene fiber reinforced). finishing dan polishing. Proses thermocycling seluruh sampel

dimasukkan kedalam beaker glass 250 ml yang berisi air es selama 30 detik dengan temperatur 5°C lalu pindahkan ke waterbath dengan temperatur 55°C dan diamkan selama 30 detik lakukan berulang sebanyak 200 kali (Kemagloglu et al, 2015). Sampel ditanam pada silinder akrilik self curing hingga batas 1 mm dibawah CEJ untuk menyerupai kedudukan gigi pada tulang alveolar lalu di uji menggunakan UTM dengan pemberian load untuk melihat ketahanan fraktur.

Kelompok D : Sampel ditanam dalam balok gips, preparasi kavitas bentuk outline form kls II MOD pada gigi premolar dengan lebar dinding bukal 2,5 mm, lebar dinding lingual 1,5 mm, kedalaman 4 mm, dan pengurangan cusp bukal 2 mm dan lingual 1,5 mm pengukuran dengan kalliper (Garlapati et al, 2017). ). Preparasi dengan endo akses bur hingga orifice, irigasi dengan NaOCl 2,5%, negosiasi saluran akar dengan k-file 10 dilanjutkan canal patency dengan k-file 10 ukur panjang kerja dan irigasi dengan NaOCl 2,5%. Cleaning shaping menggunakan protaper next hingga X2 sambil diirigasi dengan NaOCl 2,5%. Keringkan dengan paper point dan obturasi dengan gutta percha dan sealer AH plus dengan menggunakan warm vertical compaction teknik.

Hasil obturasi dikonfirmasi lewat rontgen foto, dasar kamar pulpa diisi dengan GIC. Restorasi sampel klas II MOD cusp coverage setelah perawatan endodontik resin komposit konvensional lalu finishing dan polishing. Restorasi sampel klas II MOD cusp coverage dengan resin komposit konvensional secara bulk, finishing dan polishing. Proses thermocycling seluruh sampel dimasukkan kedalam beaker glass 250 ml yang berisi air es selama 30 detik dengan temperatur 5°C lalu pindahkan ke waterbath dengan temperatur 55°C dan diamkan selama 30 detik lakukan berulang sebanyak 200 kali (Kemagloglu et al, 2015). Sampel ditanam pada silinder akrilik self curing hingga batas 1 mm dibawah CEJ untuk menyerupai kedudukan gigi pada tulang alveolar lalu di uji menggunakan UTM dengan pemberian load untuk melihat ketahanan fraktur.

Sampel yang digunakan sebanyak 24 buah gigi premolar mandibular yang telah diekstraksi untuk keperluan ortodonti direndam dalam larutan saline. Kemudian sampel dikelompokkan menjadi empat kelompok perlakuan secara acak, masing – masing berjumlah 6 sampel dan ditanam dalam balok gips untuk memudahkan preparasi restorasi sampel.

4.4 Variabel dan Defenisi Operasional

4.4.1 Variabel Penelitian 4.4.1.1 Variabel Bebas

• SDR + Resin komposit konvensional yang diberi tekanan 225 N

• SDR + short fiber reinforced (Ever X) yang diberi tekanan 225 N

• SDR + polyethylene fiber reinforced (Ribbon) yang diberi tekanan 225 N

• GIC + Resin komposit konvensional yang diberi tekanan 225 N 4.4.1.2 Variabel Terikat

• Absorbsi Residu pada bahan restorasi SDR dan EverX posterior berdasarkan waktu inkubasi (24 jam, 48 jam, 72 jam)

• Kekerasan (Vickers) pada bahan restorasi SDR, Ribbon dan EverX posterior

• DSC (Differential Scanning Calorymetri) pada restorasi gigi pasca endodontik

• Ketahanan fraktur pada restorasi gigi pasca endodontik melalui uji universal testing machine.

4.4.1.3 Variabel Terkendali

a. Gigi premolar mandibular dengan kriteria inklusi

b. Desain dan ukuran preparasi kavitas kls II MOD dengan penurunan cusp ( tebal dinding bukal 2,5 mm; tebal dinding lingual 1,5 mm; kedalaman 4 mm;

pengurangan cusp bukal 2 mm; lingual 1,5 mm).

c. Sistem adhesif ( total etch two step )

d. Teknik insersi ( incremental dan bulk sistem ) e. Jenis dan bentuk mata bur : bur endo access f. K-file

g. Teknik preparasi saluran akar crown down hingga 25/06 (X2) h. Teknik obturasi warm vertical compaction

i. Bahan irigasi larutan NaOCl 2,5%

j. Paper point

k. Ketebalan ribbon 2 mm l. Ketebalan Ever X 2 mm

m. Waktu penyinaran light cure (20 detik)

n. Jarak penyinaran dengan bahan restorasi ( 0-1 mm )

o. Suhu dan proses thermocycling ( 200 putaran pada suhu 5° dan 55°)

4.4.1.4 Variabel Tidak Terkendali

a. Masa / jangka waktu pencabutan gigi premolar mandibular sampai diberikan perlakuan.

b. Keberadaan smear layer

c. Keberadaan micro crack

d. Pengerutan resin komposit saat polimerisasi e. Usia pasien saat gigi di ekstraksi

4.4.2 Identifikasi variabel Penelitian

Variabel Bebas :

a. SDR + Resin komposit

konvensional yang diberi tekanan 225 N

b. SDR + short fiber reinforced (Ever X) yang diberi tekanan 225 N

c. SDR + polyethylene fiber reinforced (Ribbon) yang diberi posterior berdasarkan waktu inkubasi (24 jam, 48 jam, 72 Calorymetri) pada restorasi gigi pasca endodontik

- Ketahanan fraktur pada restorasi gigi pasca endodontik melalui uji universal testing machine.

4.4.3. Definisi Operasional Variabel Bebas

Tabel 2.5. Definisi operasional, cara mengukur, alat ukur dan skala dari variable bebas.

No VARIABEL

a. Gigi premolar mandibular dengan kriteria inklusi

b. Desain dan ukuran preparasi kavitas kls II MOD dengan penurunan cusp ( tebal dinding bukal 2,5 mm; tebal dinding lingual 1,5 mm; kedalaman 4 mm;

pengurangan cusp bukal 2 mm; lingual 1,5 mm).

c. Sistem adhesif ( total etch two step ) d. Teknik insersi ( incremental dan bulk

sistem )

e. Jenis dan bentuk mata bur : bur open access

f. K-file

g. Teknik preparasi saluran akar crown down hingga 25/06 (X2)

h. Teknik obturasi warm vertical compaction

i. Bahan irigasi larutan NaOCl 2,5%

j. Paper point

k. Ketebalan ribbon 2 mm l. Ketebalan EverX 2 mm

m. Waktu penyinaran light cure (20 detik) n. Jarak penyinaran dengan bahan

restorasi (0-1 mm)

- Keberadaan smear layer - Keberadaan micro crack - Pengerutan resin

komposit saat polimerisasi

bulk dasar kavitas 2

cusp coverage

Tabel 2.6. Defenisi Operasional, cara mengukur, alat ukur dan skala dari Variabel Terikat No VARIABEL

3

15 menit lalu

4.5 Alat dan Bahan Penelitian

4.5.1 Alat Penelitian

• Masker dan handscoon

• Mikromotor

• Bur endo accsess

• K-file #10 dan #15

• Rotary file ukuran 17/04, 25/06, 30/07 ( protaper next ), pabrik

• Spuit 5ml irigasi

• Irrigation needle

• Paper point

• Ball applicator

• Probe

• Caliper digital

• Matrix band

• LED

• Finishing dan polishing bur

• Thermometer (Fisher, Germany)

• Beaker Glass (Pyreex, Germany)

• Cawan petri

• Waterbath (Memmert, Germany)

• Stopwatch (Diamond, Germany)

• Pot acrilic

• Alat uji ketahanan fraktur Universal Testing Machine

4.5.2 Bahan penelitian

• Gigi premolar mandibular yang telah diekstraksi

• Saline untuk penyimpanan sampel penelitian

• Gips untuk menanam gigi

• Guttaperca (Densplay)

• Root canal sealer AH plus (Densplay)

• Bahan bonding Total etch two step, etch dan bonding ( 3M ESPE)

• NaOCl 2,5%

• SDR

• Resin komposit konvensional

• Flowable komposit

• Resin komposit EverX

• Ribbon (Polyethylene fiber reinforced)

• Self cure akrilik

Gambar 16.a. kaliper, b. diamond bur, c. high speed, d. gun SDR, e. bonding aplicator, f.

matrix, g. LED lightcure, h. pot acrylic, i. waterbath

4.6 Prosedur Penelitian 4.6.1 Persiapan sampel

Sampel yang digunakan sebanyak 24 buah gigi premolar mandibular yang telah diekstraksi untuk keperluan ortodonti. Sampel dikelompokkan menjadi empat kelompok perlakuan secara acak, masing – masing berjumlah 6 sampel dan ditanam didalam balok gips untuk memudahkan dalam preparasi.

4.6.2 Pemodelan perawatan saluran akar

Preparasi akses kavitas dengan dekoronasi dilanjutkan dengan penentuan panjang kerja dengan bantuan k-file no.10 atau 15. Selanjutnya dilakukan preparasi saluran akar dengan instrument rotary protaper next dari ukuran file 17/04 sampai dengan 25/06, irigasi dengan NaOCl 2,5% setiap pergantian file.Gigi yang telah dipreparasi diisi dengan guttaperca menggunakan teknik warm vertical compaction.

4.6.3 Preparasi Akses

Bentuk outline form dengan bur diamond desain kavitas klas II MOD cusp coverage pada gigi premolar madibula dengan lebar bukal 2,5 mm; lebar lingual 1,5 mm; kedalaman 4 mm;

pengurangan cusp bukal 2 mm; lingual 1,5 mm (Garlapati et al, 2017).

Gambar 17. a. pengukuran luas preparasi mesial, b.pengukuran luas preparasi distal, c. proses preparasi, d.

pengukuran kedalaman preparasi

4.6.4 Restorasi sampel

Gigi yang sudah diobturasi kemudian langsung direstorasi sesuai pembagian sampel kelompok sesuai dengan ketentuan ukuran hasil preparasi kavitas dan dengan pengaplikasian etsa, bonding dan waktu penyinaran dengan perlakuan yang sama. Etsa 15 detik, bonding 20 detik, polimerisasi 20 detik. Setelah itu gigi di finishing dan polishing dengan fine bur , bur silicon. EverX flow diaplikasikan diatas SDR dengan ketebalan 2 mm dan diikuti komposit konvensional 2 mm

a

cusp. Peletakkan Ribbon diatas SDR dengan bahan bulk fill dan peletakkan ribbon pada setiap dinding kavitas.

4.6.5 Thermocycling

Seluruh sampel yang telah direstorasi dimasukkan kedalam beaker glass yang berisi air es

Seluruh sampel yang telah direstorasi dimasukkan kedalam beaker glass yang berisi air es

Dalam dokumen TESIS. Oleh. DWI PUSPARANI, drg (Halaman 57-0)

Dokumen terkait