• Tidak ada hasil yang ditemukan

Best Practices Pengaturan B2 di Beberapa Negara 1 Amerika Serikat

Dalam dokumen PUSAT KEBIJAKAN PERDAGANGAN DALAM NEGERI (Halaman 29-36)

Beberapa negara juga menerapkan aturan ketat terkait dengan pengadaan, produksi, dan pendistribusian B2. Salah satu negara yang menjadi rujukan pengawasan B2 adalah Amerika Serikat, mengingat Amerika Serikat merupakan negara yang menerapkan kebijakan yang komprehensif terkait B2. Cahya et al (2012) menjelaskan bahwa dalam pengaturannya, Pemerintah Amerika mengelompokkan pengawasan di sisi produksi, distribusi, dan petuntukannya. Produksi

Dalam pengaturan B2 seperti pewarna, FDA (Food and Drug Administration atau Badan Pengawas Makanan dan Obat di Amerika Serikat) merupakan pihak yang berwenang dalam mengatur penggunaan bahan pewarna dalam makanan dan suplemen makanan, obat-obatan, kosmetik, dan alat-alat

Analisis Pengawasan Distribusi Bahan Berbahaya 17

medis. Bahan pewarna hanya boleh digunakan sesuai dengan jenis penggunaan yang telah disetujui, termasuk spesifikasinya serta batasan penggunaannya. FDA (Food and Drug Administration atau Badan Pengawas Makanan dan Obat di Amerika Serikat) membedakan bahan pewarna ke dalam dua golongan, yaitu golongan bahan pewarna yang memerlukan sertifikasi dan golongan bahan pewarna yang dikecualikan dari sertifikasi (tidak memerlukan sertifikasi/dibebaskan dari sertifikasi).

Dalam proses sertifikasi, FDA mengevaluasi data keamanan pemakaian untuk memastikan bahwa bahan pewarna yang digunakan telah sesuai dengan persetujuan yang dikeluarkan. Bahan pewarna tambahan yang dapat membahayakan hewan, manusia, dan lingkungan tidak dapat digunakan dalam produk yang dijual di pasar umum. Dalam menjamin keamanan bahan pewarna yang digunakan dalam makanan, obat, kosmetik, dan alat medis yang dijual di pasaran, FDA mewajibkan mewajibkan batch sertifikasi untuk semua bahan pewarna yang tercantum dalam 21 CFR bagian 74 dan 21 CFR bagian 82. Sementara pengecualian kewajiban batch sertifikasi diberlakukan bagi bahan pewarna yang tercantum dalam 21 CFR 73.

Berkaitan dengan hal tersebut, bahan pewarna yang memerlukan sertifikasi adalah pewarna sintetik yang diproduksi melalui reaksi kimia. Bahan pewarna golongan ini harus diuji kemurniannya melalui sertifikasi setiap batch-nya, sebelum mendapat izin untuk dijual ke pasar. Dalam implementasinya, produsen bahan pewarna mengirimkan contoh dari batch yang akan disertifikasi oleh FDA untuk dianalisis komposisi dan kemurniannya. Jika memenuhi persyaratan, maka FDA akan megeluarkan sertifikat dengan kode nomornya dan diberikan nama baru sesuai dengan penggunaannya. Berdasarkan Federal Food, Drug & Cosmetic (FD & C) Act of 1938, FDA menetapkan tiga kategori sertifikasi bahan pewarna, yaitu:

a. FD & C untuk makanan, obat dan kosmetika

b. D & C untuk obat-obatan dan kosmetika

c. External D & C untuk obat-obatan dan Kosmetika untuk pemakaian luar. Menurut Nutrition Labeling & Education Act tahun 1990, bahan pewarna bersertifikat tersebut harus dicantumkan dalam penandaan atau label dengan menggunakan nama yang umum digunakan. itu, menurut Cahya et al (2012), bahan tambahan pewarna dapat dikecualikan dari sertifikasi jika diperoleh dari tanaman atau bahan mineral, seperti:

Analisis Pengawasan Distribusi Bahan Berbahaya 18

a. Bahan pewarna alami (natural color). Dalam implementasinya, FDA menyerahkan sepenuhnya kepada produsen untuk menjelaskan bahwa bahan pewarna produksinya adalah bahan pewarna alami.

b. Bahan pewarna identik alami (natural identical color) yaitu bahan pewarna yang diproduksi melalui sintesis kimia, namun tidak diwajibkan sertifikasi oleh FDA karena dianggap tidak dapat dibedakan dengan bahan pewarna asli yang diperoleh dari alam, baik perbedaan secara kimia maupun perbedaan fungsi pemakaiannya. Beberapa contoh bahan pewarna tersebut antara lain: Beta-carotene yang dibuat secara sintetik dari acetone tidak dapat dibedakan dengan bahan pewarna Beta-carotene yang diperoleh dari alam seperti wortel.

Distribusi B2

Pengaturan distribusi B2 tidak terpisah dari pengaturan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang meliputi limbah B3 dan produk B3. Namun terlihat bahwa pengaturan limbah B3 terkesan lebih ketat dibandingkan pengaturan B3, karena pengaturan B3 sudah dilaksanakan sejak lama, dan menjadi standar baku secara universal, khususnya dalam menangani bahan kimia dan bahan bakar. Damanhuri (2009) menjelaskan bahwa transportasi B2 di Amerika Serikat diatur dalam Hazardous Materials Transportation Act yang menjadi wewenang Kementerian Transportasi (US Department of Transportation). Dalam ketentuan tersebut diatur bahwadistribusiB2 harus dilengkapi dengan dokumen resmi yang merupakan legalitas kegiatan pengelolaan, sehingga dokumen ini akan merupakan sarana atau alat pengawasan dalam konsep cradle-to-grave. Dalam istilah umum, dokumen tersebut dikenal sebagai shipping papers yang antara lain terdiri dari:

a. Bagian yang harus diisi oleh penghasil atau pengumpul limbah B3, antara lain berisi:

 Nama dan alamat penghasil atau pengumpul limbah B3 yang menyerahkan limbah B3 Nomor identifikasi (identification number) UN/NA  Kelompok kemasan (packing group),

 Kuantitas (berat, volume dan sebagainya)  Kelas „bahaya‟ dari bahan itu (hazard class),  Tanggal penyerahan limbah

Analisis Pengawasan Distribusi Bahan Berbahaya 19

 Tanda tangan pejabat penghasil atau pengumpul, dilengkapi tanggal, untuk menyatakan bahwa limbahnya telah sesuai dengan keterangan yang ditulis serta telah dikemas sesuai peraturan yang berlaku.

 Bila pengisi dokumen adalah pengumpul yang berbeda dengan penghasil, maka dokumen tersebut dilengkapi dengan salinan penyerahan limbah tersebut dari penghasil limbah.

b. Bagian yang harus diisi oleh pengangkut limbah B3, antara lain berisi:  Nama dan alamat pengangkut limbah B3

 Tanggal pengangkutan limbah

 Tanda tangan pejabat pengangkut limbah

c. Bagian yang harus diisi oleh pengolah, pengumpul atau pemanfaat limbah B3, antara lain berisi:

 Nama dan alamat pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3  Tanda tangan pejabat pengolah, pengumpul atau pemanfaaat, dilengkapi

tanggal, untuk menyatakan bahwa limbah yang diterima sesuai dengan keterangan dari penghasil dan akan diproses sesuai peraturan yang berlaku

 Jenis limbah dan jumlahnya  Alasan penolakan

 Tanda tangan pejabat pengolah atau pemanfaat dan tanggal pengembalian

d. Apabila limbah yang diterima ternyata tidak sesuai dan tidak memenuhi syarat, maka limbah tersebut dikembalikan kepada penghasil, disertai keterangan bahwa surat-surat dokumentasi pengangkutan tersebut ditempatkan di kendaraan angkut sedemikian rupa sehingga mudah didapat dan tidak tercampur dengan surat-surat lain. Penghasil limbah B3 akan menerima kembali dokumen limbah B3 tersebut dari pengumpul atau pengolah paling lambat dalam 120 hari sejak limbah tersebut diangkut untuk dibawa ke pengumpul atau pengolah.

1.5.2 Thailand

Pengawasan peredaran B2 di Thailand diatur dalam undang-undang Kerajaan Thailand tahun 2535 BE (1991 M) yang ditetapkan oleh Raja Bhumibiiol Adulyadej Rex tanggal 29 Maret 2535 BE (1991 M). Dalam UU tersebut dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan bahan berbahaya (B2) mencakup

Analisis Pengawasan Distribusi Bahan Berbahaya 20

berbagai bahan, yaitu: (1) bahan eksplosif, (2) bahan mudah terbakar (flammable), (3) peroksida dan agen oksidising (oxidizing agent), (4) bahan toksik, (5) bahan penyebab penyakit, (6) bahan radioaktif, (7) bahan penyebab mutant, (8) bahan korosif, (9) bahan iritatif, dan (10) bahan lainnya baik kimia ataupun lainnya yang menyebabkan bahaya bagi manusia, hewan, tanaman, property, atau lingkungan.

Dalam UU tersebut pasal 6, dibentuk sebuah komite yang disebut Committee on Hazardous Subtance yang terdiri dari: sekretaris tetap dari Kementerian Industri sebagai Ketua Komite, Direktorat Jenderal pada Departemen Perdagangan dalam Negeri, Direktorat Jenderal pada Departemen Pelayanan Kesehatan, Direktorat Jenderal pada Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal pada Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal pada Departemen Penyuluhan Pertanian, Sekretaris Jenderal dari Badan Lingkungan Nasional, Sekretaris Jenderal dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan, Sekretaris Jenderal dari Kantor Tenaga Atom untuk Perdamaian, Sekretaris Jenderal dari Kantor Lembaga Standardisasi Industri dan perwakilan dari Kementerian Pertahanan, serta tidak lebih dari tujuh orang tenaga ahli (pakar) yang ditugaskan oleh Kabinet. Ketujuh tenaga ahli yang ditunjuk oleh Kabinet harus memiliki ekpertise, bekerja, dan memiliki pengalaman dalam bidang cabang ilmu kimia, sains, rekayasa, ilmu pertanian, atau hukum, dan paling tidak dua di antaranya yanag ditunjuk bekerja pada lembaga yang memiliki kepentingan dalam perlindungan kesehatan atau lingkungan. Sekretariat dari Komisi Bahan Berbahaya ini bekerja di bawah kontrol, dukungan, dan pengawasan dari menteri-menteri terkait, yaitu Menteri Pertanahan, Menteri Pertanian dan Koperasi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Kesehatan Publik, Menteri Sains, Teknologi, dan Lingkungan, serta Menteri Perindustrian.

Secara umum, kewenangan dan tugas dari Komisi Bahan Berbahaya ini adalah untuk memberikan pendapat, nasehat dan pertimbangan kepada kementerian perindustrian dan/atau instansi lainnya terkait produksi, impor, ekspor dan kepemilikan jenis-jenis B2, penyediaan informasi, pendaftaran dan penerbitan ijin, pengawasan, dan hal-hal lain terkait dengan B2 yang sesuai dengan tugas dan kewenangan sesuai dengan undang-undang. Keberadaan komisi ini tentunya lebih bersifat pemberian nasehat dan pertimbangan kepada kementerian atau lembaga terkait sebagai pelaksana di lapang. Sebagai contoh, Kementerian Perindustrian dengan pertimbangan dari Komisi B2 harus

Analisis Pengawasan Distribusi Bahan Berbahaya 21

menerbitkan dalam lembaran negara secara jelas daftar B2 yang dalam proses produksinya dan sifatnya dapat menyebabkan kecelakaan yang membahayakan.

Bahan berbahaya dikelompokkan dalam 4 (empat) jenis, yaitu (1) B2 yang produksi, impor, ekspor atau kepemilikannya harus memenuhi criteria dan prosedur spesifik; (2) B2 yang produksi, impor, ekspor atau kepemilikkannya harus sebelumnya diberitahukan kepada instansi berwenang dan harus memenuhi criteria dan prosedur spesifik; (3) B2 yang produksi, impor, ekspor, atau kepemilikannya harus mendapatkan ijin; dan (4) B2 yang produksi, impor, ekspor, atau kepemilikannya dilarang. Kementerian Perindustrian dengan pertimbangan dari Komisi Bahan Berbahaya memiliki kewenangan untuk mempublikasikan dalam lembaran negara mengenai nama-nama atau kualifikasi dan jenis bahan berbahaya, cara mendapatkan ijin dan lembaga yang bertanggungjawab dalam pengawasannya.

Analisis Pengawasan Distribusi Bahan Berbahaya 22

BAB III METODOLOGI 3.1 Kerangka Pemikiran

Pengadaan, peredaran dan penggunaan B2 dewasa ini semakin meningkat baik jenis maupun jumlahnya serta mudah diperoleh di pasaran. Kondisi tersebut menyebabkan terjadi penyalahgunaan yang dapat menimbulkan gangguan terhadap kesehatan, keamanan dan keselamatan manusia, hewan, tumbuhan-tumbuhan serta lingkungan hidup. Sebagai upaya untuk meningkatkan pencegahan penyalahgunaan B2, diperlukan kebijakan yang berkaitan dengan aspek pengadaan, pengedaran, penjualan dan pengawasan bahan berbahaya yang berasal dari dalam negeri dan impor.

Berdasarkan pertimbangan tersebut pemerintah menetapkan Peraturan Permendag Nomor 44/M-Dag/Per/9/2009 tentang pengadaan, distribusi dan pengawasan bahan berbahaya dan dirubahn dengan Pemendag Nomor 23/M-Dag/Per/9/2011 tentang perubahan Permendag Nomor 44/M-Dag/Per/9/2009. Berdasarkan kedua Permendag ini dan ketentuan peraturan turunannya, dilakukan pengaturan pengadaan, distribusi dan pengawasan bahan berbahaya. Namun demikian, ada indikasi bahwa pelaksanaan ketentuan peraturan ini belum bisa menjamin sepenuhnya pengurangan penyalahgunaan bahan berbahaya, khususnya Formalin, Boraks, dan Rhodamin-B untuk pangan.

Penyalahgunaan B2 untuk keperluan pangan berkaitan dengan aspek ketersediaan dan aspek permintaan. Kemudahan untuk mendapatkan B2 yang murah untuk keperluan industri pangan, khususnya industri mikro dan kecil, ada kaitannya dengan sistem pengadaan dan distribusi yang masih memiliki kelemahan. Pengawasan terkait dengan pengadaan dan distribusi B2 masih belum bisa dilaksanakan secara efektif, karena sistem pengadaan dan distribusi yang masih kurang baik, serta tingkat kepatuhan pelaku usaha dalam melaporkan jumlah pengadaan dan penjualannya yang masih relatif rendah.

Sementara itu, industri pangan terdorong untuk menggunakan B2 secara ilegal karena harga yang relatif terjangkau dan ketidakpedulian akan dampak buruk penggunaan dan konsumsi bahan pangan yang mengandung B2. Pengguna akhir lebih mementingkan keuntungan dan kurang mengindahkan dampak kesehatan dan keselamatan konsumennya.

Berkembangannya perdagangan B2 dewasa ini mendorong diperlukannya revisi peraturan yang ada dalam rangka meningkatkan efektivitas dalam

Analisis Pengawasan Distribusi Bahan Berbahaya 23

pengadaan, distribusi dan pengawasan B2, serta memperkecil kemungkinan penggunaan B2 untuk keperluan yang tidak semestinya. Dengan menggunakan Regulatory Impact Anaysis (RIA) yang menganalisis dampak Sosial Ekonomi dan Kelembagaan dan dampak Kesehatan, Keamanan, dan Lingkungan serta melihat manfaat dan Biaya Langsung diharapkan menghasilkann rekomendasi kebijakan B2 yang lebih komprehensif (Gambar 3.1).

Gambar 3.1. Kerangka Pemikiran

Dalam dokumen PUSAT KEBIJAKAN PERDAGANGAN DALAM NEGERI (Halaman 29-36)