4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Ekonomi Pembangunan Kapal
4.3.2 Biaya material
4.3.2 Biaya material
(a) Material utama
Kayu merupakan bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan suatu kapal kayu, sehingga keberadaan dan harga kayu sangat mempengaruhi usaha galangan kapal kayu tradisional di Gebang. Pada Tabel 10 disajikan jumlah volume dan harga kayu yang digunakan dalam pembangunan kapal.
Berdasarkan Tabel 10 dapat diketahui bahwa semakin banyak kayu yang digunakan dalam pembangunan kapal (khususnya kayu jati sebagai material utama) maka harga/kubik kayu tersebut semakin murah. Hal ini terlihat pada Kapal 1, 2, 3 dan 4 dengan perbandingan harga/kubik kayu terkecil adalah Kapal 1 yaitu sebesar 2.466.666,67 dan semakin menurun seiring besarnya jumlah kubik kayu yang digunakan oleh Kapal 2, 3 dan 4. Tetapi hal ini tidak berlaku pada Galangan 3 yang membuat Kapal 5 dengan menggunakan 3 kubik kayu dengan harga yang cukup mahal yaitu Rp. 8.600.000,00 dibandingkan dengan Kapal 1 dengan jumlah kayu yang digunakan sama namun dengan harga hanya sebesar Rp. 7.400.000,00. Sehingga nilai harga/kubik kayu Kapal 5 menjadi paling besar di antara kapal-kapal lainnya. Hal ini diduga terjadi karena Galangan 3 tidak membeli kayu jati tersebut langsung dari petani jati tetapi membelinya di toko kayu di sekitar daerah Gebang. Padahal dengan membeli kayu langsung dari petani jati, harganya jauh lebih murah. Ongkos transport/angkut kayu kelima kapal sudah termasuk dalam harga pembelian kayu.
Sementara itu, mengenai penggunaan kayu pada Galangan 1, antara Kapal 1 yang berukuran 16,31 m3 (CUNO) menggunakan 3 kubik kayu, sedangkan Kapal 2 yang berukuran jauh lebih besar yaitu 20,40 m3 hanya berbeda sedikit saja penggunaan kayunya yaitu 3,25 kubik.. Adapun pada Galangan 2, Kapal 3 yang berukuran hanya 16,80 m3 menggunakan kayu dalam jumlah yang cukup besar yaitu 4,25 kubik. Kapal 4 yang memang berukuran paling besar di antara keempat kapal contoh lainnya, menggunakan 5 kubik kayu. Sedangkan Kapal 5 pada Galangan 3 yang berukuran terkecil yaitu 12,56 m3 menggunakan kayu dalam jumlah yang sama dengan Kapal 1 pada Galangan 1 yang berukuran lebih besar dari Kapal 5.
Besar biaya material utama (kayu) per ukuran CUNO kapal menunjukkan besar biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku kayu yang dibutuhkan dalam pembangunan kapal dengan ukuran CUNO seperti tersaji pada Tabel 10. Perbandingan terbesar biaya kayu berdasarkan ukuran CUNO kapal adalah pada Kapal 5 yaitu sebesar Rp.692.675,16/m3. Sedangkan perbandingan biaya kayu berdasarkan ukuran CUNO kapal terendah adalah pada Kapal 2 yaitu sebesar Rp.395.833,33/m3.
Adapun mengenai kayu johar dilakukan perbandingan harga/kubik kayu karena pembeliannya tidak dalam kubik tetapi per balok dan dalam bentuk sudah siap pasang. Selain itu, biaya yang dikeluarkan kelima kapal untuk membeli kayu johar tersebut sama yaitu sebesar Rp. 100.000,00 dan dapat dibeli di toko-toko kayu di sekitar Gebang.
(b) Material pendukung
Material pendukung yang juga memiliki peranan yang sangat penting dalam pembuatan suatu kapal di galangan-galangan kapal di Gebang terdiri dari paku pung, paku besi, paku tak, paku ulir, baut bermacam ukuran, lem FOX, semen putih dan gelam. Bahan-bahan ini dapat dibeli di toko-toko material terdekat di Gebang, kecuali paku pung (pasak) yang dibuat sendiri
oleh pembuat kapal dari kayu jati dengan ukuran sesuai dengan yang dibutuhkan.
Penggunaan material-material pembantu yang optimal (tidak berlebihan atau pun terlalu irit) akan berpengaruh sangat baik bagi kualitas kapal (kekuatan dan ketahanan kapal menjadi tinggi) dan pengeluaran biaya tidak terlalu besar. Dampaknya bagi pihak galangan adalah kepercayaan konsumen dalam hal ini juragan kapal/nelayan terjaga dengan baik. Jumlah dan harga material-material pendukung dalam pembangunan kapal-kapal contoh dapat dilihat pada Tabel 11.
Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa penggunaan material-material pendukung pada kelima kapal contoh hampir sama. Tetapi, terdapat hal menarik pada kapal-kapal yang dibangun di Galangan 1. Meskipun Kapal 1 dan 2 memiliki ukuran CUNO yang berbeda, penggunaan material pendukungnya sama banyak. Hal ini diduga terjadi karena pembuat kapal tidak memisahkan pembelian kebutuhan material pendukung untuk kedua kapal tersebut. Pemisahan jumlah material pendukung yang akan dipakai oleh kapal-kapal yang dibuat di galangan yang sama sulit dilakukan karena material-material pendukung tersebut berjumlah banyak maka dalam penggunaannya dapat bersisa dan digunakan untuk pembangunan kapal lain. Hal ini berbeda dengan Kapal 3 dan 4 pada Galangan 2, kedua kapal tersebut berbeda ukuran dan banyaknya penggunaan material pendukung pun sesuai dengan ukuran kapal. Kapal 4 lebih besar daripada Kapal 3, banyaknya material pendukung juga lebih besar daripada Kapal 3. Galangan 2 tidak menggunakan lem FOX dan semen putih. Pihak Galangan 2 mengatakan bahwa mereka akan menggunakan lem FOX dan semen putih tersebut jika setelah diuji, kapal tersebut bocor dan biayanya dikeluarkan oleh juragan pemesan kapal karena menurutnya bahan tersebut hanya digunakan sedikit saja. Adapun Galangan 3 yang memproduksi Kapal 5 menggunakan material pendukung paling sedikit di antara kapal-kapal contoh lainnya. Hal ini sesuai dengan ukurannya yang juga paling kecil di antara kapal lainnya. Galangan 3
tidak menggunakan baut dan mur tetapi fungsi baut dan mur ini digantikan oleh paku pung dengan ukuran yang disesuaikan dengan kebutuhan karena menurutnya paku pung lebih kuat. Hal ini dilakukan juga agar biaya pembelian material pendukung lebih irit.
Biaya material pendukung terendah adalah Kapal 5 yaitu sebesar Rp. 570.000,00. Hal ini diduga terjadi karena Galangan 3 tidak menggunakan baut dan mur dalam pembuatan kapalnya, sehingga dapat memperkecil pengeluaran material pendukung. Sedangkan biaya material pendukung tertinggi adalah Kapal 1 dan 2 pada Galangan 1. Hal ini disebabkan jumlah material pendukung yang digunakan kedua kapal tersebut memang lebih banyak dibandingkan ketiga kapal contoh lainnya. Kapal 1 dan 2 memiliki ukuran yang jauh berbeda, tetapi kedua kapal tersebut menghabiskan biaya material pendukung yang sama yaitu sebesar Rp. 1.263.600,00. Hal ini diduga pembuat kapal sedikit kesulitan memilah berapa bagian yang digunakan oleh kapal yang satu dengan lainnya dalam galangan tersebut karena material-material tersebut tidak mungkin terpakai semua untuk pembangunan satu kapal, maka sisanya dapat digunaka n lagi untuk pembangunan kapal lainnya. Sementara itu untuk Kapal 3 dan 4 yang memiliki ukuran kapal lebih besar dibandingkan ketiga kapal lainnya menghabiskan biaya material pendukung masing-masing sebesar Rp. 956.600,00 dan Rp. 1.019.600,00. Besar biaya material pendukung berdasarkan ukuran CUNO kapal terbesar adalah Kapal 1 yaitu sebesar Rp.77.473,94/m3. Sedangkan besar biaya material pendukung berdasarkan ukuran CUNO kapal terendah adalah Kapal 5 yaitu sebesar Rp.45.382,17/m3. Persentase total biaya material utama (kayu) dan total biaya material pendukung terhadap total biaya material pembangunan kapal dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Persentase total biaya material utama dan pendukung terhadap total biaya material
No Keterangan
Galangan 1 Galangan 2 Galangan 3
Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 Kapal 4 Kapal 5
1 Dimensi kapal :
CUNO (Cubic Number) 16,31 m³ 20,40 m³ 16,80 m³ 22,05 m³ 12,56 m³ GT (Gross Tonnage) 2,24 GT 2,81 GT 2,31 GT 3,03 GT 1,73 GT
2 Total biaya material utama 7.500.000,00 8.075.000,00 8.850.000,00 10.100.000,00 8.700.000,00
(TBMU)
3
Total biaya material
pendukung 1.263.600,00 1.263.600,00 956.600,00 1.019.600,00 570.000,00
(TBMP)
4 Total biaya material 8.763.600,00 9.338.600,00 9.806.600,00 11.119.600,00 9.270.000,00
(TBM) 5 % TBMU terhadap TBM 85,58 86,47 90,25 90,83 93,85 6 % TBMP terhadap TBM 14,42 13,53 9,75 9,17 6,15 7 % Rata-rata TBMU terhadap TBM 89,40 8 % Rata-rata TBMP terhadap TBM 10,60
Berdasarkan Tabel 12 dapat diketahui bahwa kapal yang menghabiskan biaya material paling murah adalah Kapal 1 yaitu sebesar Rp.8.763.600,00. Pada Tabel 12 juga dapat dilihat bahwa ukuran kapal yang semakin besar tidak selalu berarti biaya material yang dikeluarkan pun akan semakin besar. Ukuran CUNO kapal terkecil adalah Kapal 5 yaitu 12,56 m³ tetapi biaya material yang dikeluarkan cukup besar yaitu Rp. 9.270.000,00. Bahkan biaya yang dikeluarkan untuk membayar Kapal 5 di Galangan 3 lebih besar dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk membangun Kapal 1 dan 2 di Galangan 1 yang memiliki ukuran CUNO masing-masing 16,31 m³ dan 20,40 m³. Besar rata -rata persentase TBMU (Total Biaya Material Utama) terhadap TBM (Total Biaya Material) kelima kapal adalah sebesar 89,40 %. Sedangkan rata-rata persentase TBMP (Total Biaya Material Pendukung) terhadap TBM (Total Biaya Material) kelima kapal adalah sebesar 10,60 %.