• Tidak ada hasil yang ditemukan

Biaya Overhead Pabrik

Dalam dokumen BAB I KONSEP DASAR AKUNTANSI BIAYA (Halaman 48-53)

METODE HARGA POKOK PROSES A. Pengertian Metode Harga Pokok Proses

C. Ciri-ciri Perusahaan Industri yang Menerapkan Metode Harga Pokok Proses

3. Biaya Overhead Pabrik

Semua biaya produksi selain biaya bahan dan biaya tenaga kerja disebut Biaya Overhead Pabrik ( BOP ). Jika perusahaan hanya memproduksi satu jenis produk, maka BOP yang dibebankan kepada produk berdasarkan jumlah pengeluaran BOP yang sesungguhnya.

Jurnal untuk mencatat Biaya Overhead Pabrik

BOP sesungguhnya Rp.xxx

Berbagai rekening di Kredit Rp.xxx ( Jika jenis BOP tidak disebutkan satu per satu )

Tetapi jika jenis BOP diketahui misalnya biaya perlengkan pabrik , biaya listrik, biaya penyusutan mesin pabrik dan sebagainya, maka harus dicatat setiap biaya yang terjadi.

Jurnal untuk mencatat BOP pada berbagai macam biaya tidak langsung

Biaya Perlengkapan Pabrik Rp.xxx

Biaya listrik Rp.xxx

Biaya penyusutan mesin Rp.xxx Rekening BOP lainnya Rp.xxx

Jurnal untuk mencatat BOP yang dibebankan kepada produk

BDP – Biaya Overhead Pabrik Rp.xxx BOP sesungguhnya Rp.xxx

Bila produk selesai pada suatu periode tertentu, maka produk selesai harus dipindahkan ke rekening Persediaan Barang Jadi sejumlah harga pokoknya.

Jurnal untuk mencatat pemindahan rekening produk selesai ke rekekning produk jadi.

Persediaan Produk Jadi Rp.xxx

BDP – Biaya Bahan Baku Rp.xxx BDP – Biaya Bahan Penolong Rp.xxx BDP – Biaya Tenaga Kerja Rp.xxx BDP – Biaya Overhead Pabrik Rp.xxx

Tetapi jika akhir periode tertentu ternyata masih ada produk yang belum selesai dikerjakan, maka produk tersebut akan menjadi persediaan akhir Barang dalam Proses.

Jurnal untuk mencatat persediaan akhir Barang dalam Proses

Persediaan Barang Dalam Proses Rp.xxx

BDP – Biaya Bahan Baku Rp.xxx BDP – Biaya Bahan Penolong Rp.xxx BDP – Biaya Tenaga Kerja Rp.xxx BDP – Biaya Overhead Pabrik Rp.xxx

Laporan Harga Pokok Produksi dengan contoh Perhitungan Harga Pokok Proses, produk yang diolah melalui satu departemen tanpa Barang Dalam Proses Awal.

Pada umumnya Perusahaan yang memproduksi barang pada akhir periode tertentu sebagian produknya ada yang sudah selesai menjadi produk jadi dan ada yang masih belum selesai yang merupakan Barang Dalam Dalam Proses. Persediaan Barang Dalam Proses akhir dicatata pada biaya yang sesungguhnya melekat pada produk tersebut. Baik produk jadi maupun produk dalam proses pada akhir periode harus diketahui harga pokoknya. Untuk keperluan ini harus dibuat laporan harga pokok produk dengan urutan sebagai berikut :

1. Data Produksi

Untuk memahamidata produksi konsep input = output artinya jumlah produk yang akan diolah harus sama dengan jumlah produk yang dihasilkan. Pada umumnya input berupa :

Persediaan BDP (awal) ……. Unit Produk masuk proses ……. Unit Sedangkan output terdiri atas :

Produk selesai ditransfer ke departemen berikutnya ……… Unit

Persediaan BDP akhir ……… unit

Untuk jelasnya bagan data produksi akan terlihat se[erti berikut : Persediaan Barang Dalam Proses awal ……… unit

Produk masuk dalam proses ……… unit +

Jumlah produk dalam proses ……… unit

Produk selesai ……… unit

Persediaan produk dalam proses akhir ……… unit +

Jumlah produk ……… unit

2. Data Biaya per Unit

Dalam menentukan biaya per satuan produk perlu diperhartikan unit ekuivalensi produk karena untuk menentukan harga pokok per satuan atau per unit dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Total Biaya setiap unsur Harga Pokok Harga Pokok per Unit =

Produk ekuivalen setiap unsur Harga Pokok

Atau

Total Biaya Bahan Baku Harga Pokok per Unit =

Produk ekuivalen Bahan Baku

Kemudian biaya per unit setiap unsur dijumlahkan.

Rumus tersebut berlaku pula untuk harga pokok lainnya ( BTK dan BOP ). Untuk jelasnya perhatikan bagan sebagai berikut :

1 2 3 2 : 3 Bahan Baku

Bahan Penolong Biaya Tenaga Kerja Biaya Overhead Pabrik

Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx ……….. unit ……….. unit ……….. unit ……….. unit Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Jumlah Rp.xxx Rp.xxx

Dalam laporan harga pokok produksi untuk data biaya, dapat dilaporkan dengan bagan sebagai berikut :

Jenis Biaya Total Biaya Biaya per unit Bahan Baku

Bahan Penolong Biaya Tenaga Kerja Biaya Overhead Pabrik

Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Jumlah Rp.xxx Rp.xxx

Dengan demikian, lajur 3 ( produk ekuivalen ) tidak perlu ditampilkan dalam laporan harga pokok produksi.

Dari konsep perhitungan harga pokok per satuan tersebut kiranya perlu diperhatikan tentang Perhitungan unit ekuivalen masing-masing unsur harga pokok.

Pada dasarnya dalam perhgitungan unit ekuivalen produk dapat dikelompokkan sebagai berikut : 1. Bila tidak terdapat BDP awal

Apabila tidak terdapat BDP awal, unit ekuivalenb dihitung dengan Rumus : Produk Jadi + Tingkat Penyelesaian BDP ( akhir )

3. Bila Terdapat BDP awalApabila terdapat persediaan BDP awal perlu diperhatikan metode yang dipakai yaitu metode FIFO dan metode Rata-rata. Jika yang digunakan metode FIFO.

4. Perhitungan unit ekuivalen dapat dilakukan dengan dua rumus ;

Produk Jadi+Tingkat Penyelesaian BDP akhir – Timgkat Penyelesaian BDP awal Atau

Prod.Jadi Periode Berjalan + Tingkat Penyelesaian BDP akhir + BDP awal dengan tingkat penyelesaian yang belum selesai.

Catatan :

Produk jadi pada periode berjalan berasal produk jadi keseluruhan dikurangi produk awal proses.

Bila digunakan metode rata-rata, unit ekuivalen dapat dihitung dengan rumus ; Produk Jadi + tingkat Penyelesaian Produk dalam Proses akhir 3. Perhitungan Biaya

Setelah biaya per satuan dihitung dan harga pokok produk jadi dtransfer ke gudang, maka produk dalam proses akhir dihitung sebagai berikut :

Harga pokok produk jadi ….. unit x Jumlah biaya per unit Rp. xxx Harga Pokok Barang Dalam Proses ;

Biaya Bahan Baku + …. Unit x ….% x Rp.xxx (per unit) Rp.xxx Bahan Penolong + …unit x …% x Rp.xxx (per unit) Rp.xxx Biaya Tenaga Kerja + …unit x …..% x Rp.xxx (per unit) Rp.xxx Biaya Overhead Pabrik + …unit x …% x Rp.xxx (per unit) Rp.xxx +

Rp.xxx +

Jumlah Biaya Produksi Rp.xxx

Contoh :

PT BINUANGEN mengolah produknya secara masal dan dalam menghitung harga pokok produknya dengan mengunakan metode harga pokok proses.

Data biaya produksi selama bulan juni 2005 sebagai berikut : Biaya bahan baku

Rp.1.000.000,-Biaya bahan penolong Rp. 500.000,-Biaya tenaga kerja Rp.2.250.000,-Biaya overhead pabrik Rp. 3.300.000,- +

Rp.7.050.000,-Jumlah produk masuk dalam proses 2.500 unit

Jumlah produk jadi ditransfer ke gudang 2000 unit. Jumlah produk dalam proses akhir dengan tingkat penyelesaian Bahan baku dan Bahan penolong sebesar 100%. Biaya tenga kerja 50% dan BOP 40% sebanyak 500 unit.

Diminta :

1. Membuat perhitungan biaya produksi per unit untuk bulan Juni 2005 2. Membuat laporan harga pokok produksi bulan Juni 2005

Jawab :

1. Perhitungan biaya produksi per satuan selama bulan Juni 2005 (Rp)

Jenis Biaya Jml. Biaya Unit Ekuivalen Unit Cost Bahan Baku Bahan Penolong Tenaga Kerja Overhead Pabrik 1.000.000,- 500.000,- 2.250.000,- 3.300.000,-2000+100%x500 = 2.500 2000+100%x500 = 2.500 2000+50%x500 = 2.250 2000+40%x500 = 2.200 400,- 200,- 1000,-

1.500,-Jumlah 7.050.000,- Total Unit Cost

3.100,-Perhitungan harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang dan Harga pokok produk dalam proses akhir periode :

Harga pokok produk Jadi = 2000 x Rp.3.100,- Rp. 6.200.000,-Harga pokok produk dalam proses akhir periode

Biaya bahan baku = 100% x 500 x Rp.400 = Rp.200.000,-Biaya bahan penolong = 100% x 500 x Rp.200 = Rp.100.000,-Biaya tenaga kerja = 50% x 500 x Rp.1.000 =

Rp.250.000,-Biaya Overhead Pabrik = 40% x 500 x Rp.1.500 = Rp.300.000,- + Rp

850.000,-Jumlah Biaya Produksi Rp.7.050.000

2. Laporan Harga Pokok Produksi bulan Juni 2005

PT BINUANGEN

LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI

Dalam dokumen BAB I KONSEP DASAR AKUNTANSI BIAYA (Halaman 48-53)

Dokumen terkait