• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

1) Biaya Tunai Usahatan

Biaya Tunai merupakan ukuran biaya yang harus dikeluarkan setiap tahun yang besarnya tidak berpengaruh langsung terhadap jumlah output yang dihasilkan. Biaya yang harus dikeluarkan dalam biaya tunai terdiri dari dari biaya pakan (konsentrat dan hijauan), biaya air, biaya upah tenaga kerja, biaya medis ternak (IB, obat dan vitamin), biaya iuran koperasi, biaya listrik dan biaya transportasi. Rata-rata biaya tunai yang dikeluarkan oleh peternak responden adalah sebesar Rp 3.075.231 bulan Juni Tahun 2011, dengan total pengeluaran biaya tunai peternak responden di Desa Cibeureum mencapai Rp 110.708.302 bulan Juni Tahun 2011. Rincian dari biaya tunai dapat dilihat pada Tabel 23 berikut ini.

Tabel 23. Rata – Rata Biaya Tunai Peternak Desa Cibeureum Bulan Juni Tahun 2011

No Jenis Biaya Tunai Nilai Rata – Rata Biaya Tunai (Rp) Persentase Nilai Biaya Tunai (%) 1 Pakan Konsentrat 930.833 30,26 2 Pakan Hijauan 170.000 5,52 3 Air 12.000 0,39

4 Upah Tenaga Kerja 1.779.167 57,85

5 Medis Ternak 98.333 3,19

6 Iuran Koperasi (iuran susu) 50.000 1,62

7 Listrik 25.472 0,82

8 Transportasi 9.425 0,30

Rata – Rata 3.075.231 100

Pada Tabel 23 diperlihatkan mengenai nilai dari rata-rata biaya tunai dan total biaya yang dikeluarkan oleh peternak responden Desa Cibeureum bulan Juni Tahun 2011 beserta dengan tingkat persentase yang diperoleh. Gambaran umun yang terlihat dari Tabel 23 yaitu nilai persentase dari biaya tunai yang dianalisis bahwa biaya upah tenaga kerja memiliki tingkat persentase cukup tinggi sebesar 57,85 yang artinya adalah peternak perlu mewaspadai struktur biaya tunai

khususnya upah tenaga kerja karena apabila tenaga kerja yang dimiliki lebih banyak dari kemampuan membayar upah maka akan berdampak kepada pendapatan sekaligus kemampuan produksi peternak, selain itu angka persentase tersebut menggambarkan bahwa peternak harus selalu memiliki modal untuk membayar upah tenaga kerja untuk menjamin produksi tetap berjalan. Selain upah tenaga kerja yang memiliki persentase besar pada struktur biaya tunai, pembelian pakan konsentrat juga mempunyai angka persentase cukup besar yaitu 30,26 persen, artinya peternak harus selalu siaga dan berhati-hati di dalam pengelolaan keuangan serta pemberian pakan yang berkaitan dengan konsentrat, karena bila pembelian konsentrat dilakukan secara berlebihan (tidak sesuai kebutuhan sapi laktasi) akan mengakibatkan kerugian bagi peternak dari segi biaya dan tentu saja berdampak terhadap produksi. Berikut ini adalah penjelasan dari Tabel 23.

a) Biaya untuk pembelian pakan (konsentrat dan hijauan)

Biaya yang dikeluarkan merupakan biaya untuk pakan konsentrat dan pakan hijauan. Ketersediaan pakan konsentrat disediakan oleh koperasi Giri Tani dengan harga Rp 2000 per kilogram, dan jumlah pembelian disesuaikan dengan kebutuhan per peternak. Sedangkan pakan rumput di dapat peternak dari daerah cisarua, citeko, ciawi maupun sukabumi. Keempat daerah ini merupakan daerah penghasil rumput, klobot jagung maupun silase untuk pakan sapi, namun tidak jarang peternak ngarit (mengambil rumput) sendiri di daerah sekitar Desa Cibeureum, dengan alasan penghematan biaya produksi (walau tidak terlalu sering). Selain keempat tempat tersebut yang selalu menyediakan rumput untuk pakan sapi, koperasi Giri Tani juga menyediakan pakan rumput untuk dapat dibeli oleh peternak, dan koperasi akan langsung mengantarkan kepada peternak secara langsung setelah pemesanan. Namun untuk pakan hijauan persediaan koperasi tidak terlalu stabil, bahkan ketika masuk ke musim penghujan, persediaan silase maupun hijauan hampir dipastikan tidak ada. Harga yang di patok untuk membeli hijauan adalah sebesar Rp 100 per kilogram, dan rata-rata peternak responden mengeluarkan biaya hampir sebesar Rp 170.000 pada bulan Juni Tahun 2011, dengan tingkat persentase biaya tunai untuk pakan hijauan sebesar 5,52 persen. Sedangkan rata-rata biaya pengeluaran untuk pakan konsentrat mencapai Rp 930,833 pada bulan Juni Tahun 2011, dan memiliki tingkat persentase biaya tunai

untuk pakan konsentrat sebesar 30,26 persen, artinya adalah biaya konsentrat merupakan struktur biaya dengan angka persentase kedua terbesar setelah biaya upah tenaga kerja dan hal tersebut perlu untuk diwaspadai oleh tiap peternak, karena apabila peternak tidak mempunyai kekuatan dan kemampuan modal untuk biaya input konsentrat akan berdampak kerugian dan gagalnya usahaternak tersebut di dalam memenuhi pasokan konsentrat bagi sapi laktasi, karena pengaruh dari biaya konsentrat ini cukup besar. Maka dari penjelasan mengenai biaya tunai untuk pakan konsentrat dan hijauan dapat dikaitkan dari kedua tunai biaya tersebut, bahwa biaya rata-rata yang harus dikeluarkan oleh para peternak responden hanya untuk pakan saja sebesar Rp. 550.417 pada bulan Juni Tahun 2011, dan dengan tingkat persentase sebesar 35,78 persen.

b) Biaya untuk pemakaian air

Air merupakan faktor penting di dalam proses produksi, terutama sebagai input usahaternak untuk memperoleh hasil susu sebagai output produksinya, dan pemakaian air oleh para peternak responden berasal dari air gunung di daerah Cisarua, pemakaian air ini bersifat bebas (ad libitum). Awalnya instalasi air di daerah Desa Cibeureum tidak teratur, terutama untuk aliran menuju peternakan – peternakan di wilayah tersebut, sehingga masyarakat dan sejumlah pihak terkait berupaya melakukan tindakan swadaya dan mendapat hibah dari pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Peternakan dan Perikanan serta pihak swasta untuk membangun instalasi air yang mengalir menuju bak-bak air untuk hewan ternak agar menjadi lebih baik dan tertata secara modern (menggunakan pipa paralon tebal) dan efisien di dalam penggunaan air. Biaya penggunaan air tidak dihitung secara per liter, namun peternak dibebankan biaya sebesar Rp 12.000 per peternak setiap bulan untuk perawatan dan upah penjaga rumah air (instalasi air), dan dibayarkan melalui kelompok ternak masing-masing. Namun dikarenakan pembangunan instalasi air ini merupakan bentuk swadaya masyarakat, maka pemeliharaan serta penangganan apabila terjadi kerusakan tidak hanya menjadi tugas dari penjaga rumah air yang sudah diberi upah namun masyarakat pengguna air serta para peternak turut serta dalam pemeliharaan maupun perbaikan secara bergotong royong. Rata-rata pengeluaran untuk pemakaian air peternak responden mencapai Rp 12.000 bulan Juni Tahun 2011, dengan tingkat persentase nilai biaya

tunai untuk pemakaian air sebesar 0,39 persen. Sedangkan total biaya secara keseluruhan peternak responden untuk pemakaian air sebesar Rp 432.000 pada bulan Juni Tahun 2011.

c) Biaya untuk upah tenaga kerja

Tenaga kerja merupakan salah satu faktor penting di dalam usahaternak sapi perah penghasil susu ini, karena tenaga kerja merupakan tools yang berperan di dalam keberhasilan produksi susu. Rata – rata upah yang dikeluarkan pada bulan Juni Tahun 2011 oleh peternak responden di Desa Cibeureum adalah sebesar Rp. 1.779.167, dengan tingkat persentase nilai biaya tunai untuk upah tenaga kerja sebesar 57,85 persen. Besarnya angka persentase upah tenaga kerja pada struktur biaya tunai (nilai persentase biaya tunai paling besar di antara biaya tunai lainnya) mengindikasikan bahwa biaya tunai untuk upah tenaga kerja harus dicermati dan diantisipasi secara baik, maksudnya adalah setiap peternak harus mempunyai modal yang cukup untuk membayar upah tenaga kerja, karena apabila modal tersebut kurang atau peternak tidak mampu membayar maka berakibat kepada matinya usahaternak karena ketidakmampuan peternak untuk membiayai modal usahanya. Range upah di wilayah penelitian sangat bervariasi yaitu berkisar antara Rp 400.000 hingga Rp 1.200.000 per bulan, dan terkadang ditambah dengan tambahan bonus lain seperti beras dan sayuran, namun hal tersebut tergantung dari kebijakan pemilik ternak masing-masing.

d) Biaya untuk medis ternak (IB, obat dan vitamin)

Pelayanan medis ternak oleh tim atau petugas medis ternak dilakukan oleh koperasi sebagai bagian dari pelayanan koperasi kepada anggota koperasi, yaitu para peternak. Pelayanan yang dilakukan mencakup Inseminasi Buatan, Suntik Vitamin, Pemberian obat-obatan, perawatan ternak sakit dan kelahiran ternak. Biaya medis yang dibebankan kepada peternak sangat beragam tergantung dari jumlah obat, vitamin atau pelayanan jasa yang diberikan. Pelayanan medis dilakukan sebanyak 2 kali dalam satu minggu dan total waktu pelayanan medis per tahun adalah sebanyak 6 bulan adalah dengan rincian biaya yaitu Rp 20.000 untuk jasa dan Rp 10.000 untuk suntik vitamin dan obat per ekor sapi laktasi yang ditangani. Pembayaran biaya untuk medis ternak diambil dari penjualan susu yang diperoleh peternak. Namun apabila terdapat penyakit yang membutuhkan

penanganan serius, maka biaya jasa dan obat akan lebih dari harga awal pelayanan. Rata-rata biaya yang dikeluarkan oleh peternak responden untuk medis ternak sebesar Rp 98.333, dengan tingkat persentase nilai biaya tunai sebesar 3,19 persen, dan total biaya tunai secara keseluruhan pada peternak responden sebesar Rp 3.540.000.

e) Biaya iuran koperasi

Membayar iuran koperasi merupakan suatu keharusan dari anggota koperasi sekaligus tanggung jawab yang harus dipenuhi, karena anggota koperasi secara langsung memperoleh kebutuhan input dari koperasi seperti konsentrat, pelayanan medis, hijauan, peralatan dan lain sebagainya. Dan iuran yang dimaksudkan diatas adalah iuran susu koperasi yang termasuk ke dalam iuran wajib, dan iuran yang dibebankan kepada peternak responden yaitu sebesar Rp 50.000 per bulan, dan rata-rata peternak mengeluarkan biaya iuran ini sebesar Rp 50.000 pada bulan Juni Tahun 2011 dengan total keseluruhan biaya tunai untuk iuran koperasi adalah sebesar Rp 1.800.000, dengan tingkat persentase nilai biaya tunai untuk iuran koperasi mencapai kisaran angka 1,62 persen. Pembayaran iuran ini biasanya dipotong dari hasil penjualan susu di koperasi setelah akhir bulan. f) Biaya listrik

Listrik merupakan biaya tetap yang dikeluarkan oleh peternak responden, dan biaya listrik yang dihitung merupakan biaya listrik yang berasal hanya dari kandang sapi laktasi, dan kebutuhan akan listrik mutlak dibutuhkan oleh peternak sebagai salah satu dari upaya peternak di dalam usahaternak sapi perah yang menghasilkan susu. Rata-rata pengeluaran untuk listrik para peternak responden mencapai angka sebesar Rp 25.472 pada bulan Juni Tahun 2011, dan total biaya tunai secara keseluruhan peternak responden sebesar Rp 917.002, dengan tingkat persentase nilai biaya tunai untuk biaya listrik peternak responden di Desa Cibeureum adalah sebesar 0,82 persen. Pembayaran listrik yang dilakukan oleh peternak responden menggunakan jasa pembayaran listrik yang dilakukan oleh koperasi Giri Tani yang berafiliasi dengan loket pembayaran listrik PLN Cisarua di dekat kantor Kepala Desa Cibeureum.

g) Biaya Transportasi

Biaya transportasi yang dimaksud adalah beban yang dikeluarkan peternak responden untuk menitipkan hasil susu kepada loper susu di tempat penampungan susu (pangkalan susu) milik masing-masing kelompok ternak sebelum diserahkan kepada koperasi. Biaya pengangkutan susu menuju koperasi ini dihitung berdasarkan liter susu yang dititipkan, setelah ditimbang dan dihitung oleh loper susu, yaitu sebesar Rp 5 per liter. Biaya ini merupakan biaya tunai karena dikeluarkan setiap bulannya. Rata-rata biaya yang dibebankan untuk biaya transportasi ini sebesar Rp 9.425 pada bulan Juni Tahun 2011, dan biaya total keseluruhan biaya transportasi pada peternak responden sebesar Rp 339.300 dan dengan tingkat persentase nilai biaya tunai untuk biaya transportasi mencapai 0,30 persen.

Dokumen terkait