• Tidak ada hasil yang ditemukan

UCAPAN TERIMA KASIH

DAFTAR LAMPIRAN

1.1 Latar Belakang

Agribisnis merupakan salah satu sektor dalam kegiatan perekonomian berbasis kekayaan alam yang dimanfaatkan dalam melakukan kegiatan usaha berorientasi profit atau keuntungan. Tiap sektor ekonomi memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain dalam hal kegiatan usaha dan komoditi usaha. Agribisnis memiliki kontribusi yang memiliki peran penting dalam pembangunan nasional. Kontribusi tersebut antara lain produk pangan yang dihasilkan dari kegiatan usaha di sektor agribisnis, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Salah satu sektor agribisnis yang memberikan andil positif bagi perekonomian Indonesia adalah sektor peternakan. Sumbangan sektor peternakan dalam Produk Domestik Bruto sebesar Rp. 82.835,4 milyar atau 1,6 persen pada tahun 2008 dan masih akan menyumbang 1,6 persen pada tahun 2009.

Sumbangan Nilai Produk Domestik Bruto dari sektor peternakan tersebut membuktikan bahwa sektor peternakan merupakan salah satu sektor yang memiliki peranan penting di dalam pembangunan nasional. Selain itu sektor peternakan merupakan sektor yang terus mengalami peningkatan dengan ditandai oleh nilai ekspor sektor peternakan yang mencapai total nilai ekspor komoditi peternakan sebesar US$ 19,28 juta pada Juli 2009 dan nilai impor komoditi peternakan mencapai US$ 132,84 juta yang terdiri dari Komoditi Ternak mencapai US$ 42,40 juta dan komoditi Hasil Ternak Pangan mencapai US$ 90,44 juta.

Peran subsektor peternakan sebagai salah satu tonggak perekonomian Indonesia tercermin di dalam peningkatan nilai Produk Domestik Bruto yang terus bertambah tiap tahunnya. Pemerintah berupaya untuk terus meningkatkan nilai Produk Domestik Bruto tiap tahunnya, dengan harapan pertumbuhan ekonomi di Indonesia terus meningkat pula. Cerminan tersebut dapat dilihat pada Tabel 1, tentang Produk Domestik Bruto Tahun 2004 - 2008 (atas dasar harga berlaku) berikut ini.

Tabel 1. Produk Domestik Bruto di Indonesia Tahun 2004 - 2008 (atas dasar harga berlaku)

No Jenis lahan Tahun (Rp. Miliar)

2003 2005 2006 2007*) 2008**) 1 Bahan Makanan 165.558,2 181.331,6 214.346,3 265.090,9 347.841,7 2 Perkebunan 51.590,6 56.433,7 63.401,4 81.595,5 106.186,4 3 Peternakan 40.634,7 44.202,9 51.074,7 61.325,2 82.835,4 4 Kehutanan 19.678,3 22.561,8 30.065,7 35.883,7 39.992,1 5 Perikanan 54.091,2 59.639,3 74.335,3 97.697,3 136.435,8 6 Jumlah Lahan Pertanian Lain 331.553,0 364.169,3 433.223,4 541.592,6 713.291,4 7 PDB Nasional 2.273.141,5 2.774.281,1 3.339.216,8 3.949.321,4 4.954.028,9

Keterangan : *) Angka Sementara. **) Angka Sangat Sementara

Sumber : BPS Pusat (2011)

Pada Tabel 1 menjelaskan bahwa sektor peternakan tidak langsung memperlihatkan pertambahan Produk Domestik Bruto yang signifikan tiap tahunnya. Namun sektor peternakan selalu menunjukkan tren positif setiap tahunnya, seperti ketika pada 2006 menunjukkan PDB sebesar 51,074.7 Milyar dan tahun berikutnya terjadi peningkatan sebesar 61,325.2 Milyar. Hal ini menunjukkan bahwa sektor peternakan akan selalu mengalami peningkatan positif dan perkembangan yang baik.

Sektor peternakan merupakan salah satu roda penggerak ekonomi nasional, bahkan Campbell dan Lasley dalam Daryanto (2009) menyatakan bahwa negara yang kaya ternak, tidak pernah miskin dan negara yang miskin ternak tidak pernah kaya. Pernyataan tersebut tergambar jelas pada kondisi negara Indonesia yang memiliki kemampuan dan sumber daya alam yang melimpah untuk dapat mengembangkan komoditi ternak khususnya sapi perah yang akan menghasilkan susu menjadi komoditi unggulan. Susu segar merupakan satu dari sekian banyak komoditi pangan yang dihasilkan oleh industri peternakan, susu segar berasal dari ternak sapi perah yang memiliki kandungan dan gizi yang baik baik kesehatan dan memiliki sistem industri yang kokoh dan lengkap.

Keberadaan komoditi susu segar di masyarakat sangat dibutuhkan sebagai salah satu sumber energi dan protein potensial yang berasal dari hewani. Oleh karena itu masyarakat di negara maju sekarang lebih memilih susu segar. Susu disebut sebagai makanan yang hampir sempurna karena mengandung protein, karbohidrat, lemak, mineral, enzim-enzim, serta vitamin. Hal ini yang menjadi pemikiran dasar bahwa masyarakat berhak mengkonsumsi susu segar sebagai asupan yang bergizi dan sehat. Menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2006), susu adalah hasil pemerahan sapi atau hewan menyusui lainnya yang dapat dimakan atau dapat digunakan sebagai bahan makanan yang aman dan sehat serta tidak dikurangi komponen-komponennya atau ditambah bahan-bahan lain. Seekor sapi perah dewasa setelah melahirkan anak akan mampu memproduksi air susu melalui kelenjar susu, yang secara anatomis disebut ambing. Produksi air susu dimanfaatkan oleh manusia sebagai sumber bahan pangan dengan kadar protein yang tinggi.

Kebutuhan energi dan nutrisi yang cukup dalam susu sapi memberikan pengaruh yang positif terhadap pertumbuhan fisik dan otak pada manusia. Nilai energi dan nutrisi dari susu sapi segar dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Informasi Nilai Energi dan Nutrisi yang Terkandung dalam Tiap 100 gram Susu Sapi.

Kandungan (isi) Satuan Nilai/gram

Energi Kcal 66 KJ 275 Air Gram 87.8 Karbohidrat Gram 4.8 Protein Gram 3.2 Lemak Gram 3.9

Sumber : Ensiklopedia Britannica (2002) dalam Erika, dkk (2007)

Pada Tabel 2 menunjukkan nilai informasi dan nutrisi yang terkandung dalam setiap 100 gram susu sapi mengandung unsur-unsur yang positif dan sangat baik bagi manusia serta untuk pertumbuhan anak, baik secara fisik maupun perkembangannya.

Daryanto (2009) menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keunggulan (comparative advantage) yang tinggi di bidang peternakan sebagaimana tercermin dari potensi sumber daya ternak dan industri peternakan kita yang berbasis sumber daya lokal atau dikenal dengan istilah resources based industries. Dengan penjelasan Daryanto (2009) tersebut harus dilihat lebih jelas dari perspektif ekspor impor peternakan khususnya komoditi susu segar, bahwa terdapat suatu industri yang besar dan mampu menopang keberadaan kegiatan perekonomian yang potensial dan siap untuk selalu dikembangkan. Perspektif dari penjelasan tersebut tercermin pada bulan Juli tahun 2009 yang menyatakan bahwa total nilai ekspor komoditi peternakan mencapai US$ 19,28 juta, dan komoditi susu segar memiliki nilai ekspor sebesar US$ 5,26 juta dari US$ 4,54 juta atau naik 15,80% dari tahun sebelumnya. Dengan nilai ekspor tersebut, dapat dikatakan bahwa potensi ekspor komoditi susu segar Indonesia memiliki prospek yang cerah dan menjanjikan. Cerminan dari nilai ekspor impor tersebut memberikan pengaruh positif kepada industri peternakan untuk terus berkembang dan memanfaatkan celah dan peluang yang masih terbuka lebar untuk terus diupayakan semaksimal mungkin. Daryanto (2009) memberikan penjelasan secara lugas mengenai besarnya potensi yang dapat dihasilkan oleh industri peternakan melalui mekanisme ekspor impor dan perputaran bisnis yang dilakukan bagi pertumbuhan ekonomi.

Namun demikian, nilai ekspor dan impor yang merupakan wujud dari cerminan sektor peternakan kita tidak dapat serta – merta menjadi suatu acuan yang mendalam. Unsur populasi menjadi bagian vital dari perkembangan industri susu di Indonesia karena untuk dapat menghasilkan susu segar yang baik dan sehat, diperlukan ternak berupa sapi perah yang baik pula serta pemeliharaan dan penanganan yang baik. Karena penanganan yang baik serta pemeliharaan yang optimal dapat meningkatkan kualitas susu segar yang dihasilkan serta tingkat produksi yang diinginkan. Oleh karena itu sapi perah menjadi suatu tools di dalam proses mendapatkan susu segar berkualitas, maka keberadaan sapi perah harus selalu dijaga baik secara populasi maupun tingkat produksi. Keberadaan populasi ternak di Indonesia, khususnya sapi perah dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3. Populasi Ternak Ruminansia di Indonesia Tahun 2005 – 2009.

No Jenis Tahun (ribu ekor)

2005 2006 2007 2008 2009*) 1 Sapi Potong/Beef

Cattle 10,569 10,875 11,515 12,257 12,603 2 Sapi Perah/Dairy Cattle 361 369 374 458 487 3 Kerbau/Buffalo 2,128 2,167 2,086 1,931 2,046 4 Kambing/Goat 13,409 13,790 14,470 15,147 15,656 5 Domba/Sheep 8,327 8,980 9,514 9,605 10,472

Keterangan : *) Angka Sementara Sumber : Ditjennak (2011)

Dijelaskan pada Tabel 3 bahwa populasi sapi perah di Indonesia terakhir berjumlah 487.000 ribu ekor pada tahun 2009, hanya mengalami kenaikan sedikit dari tahun sebelumnya yang berjumlah 458.000 ribu ekor. Peningkatan sebesar 6,33 persen ini sebenarnya tidak mampu untuk memenuhi jumlah kebutuhan susu segar sesuai dengan kebutuhan dalam negeri, adapaun tingkat produksi susu segar yang berasal dari sapi perah di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Produksi Susu Segar dan Tingkat Konsumsi Susu Segar di Indonesia Tahun 2003 – 2009.

No Tahun Produksi Susu Konsumsi Susu

(ton produksi) persentase (Ton konsumsi) persentase

1 2003 553.000 - 1.021.802 - 2 2004 549.000 -0,63 1.237.986 21,15 3 2005 535.962 -2,54 1.291.294 4,30 4 2006 616.549 15,03 1.354.235 4,87 5 2007 567.683 3,29 1.758.243 29,83 6 2008 646.953 1,58 2.156.510 22,65 7 2009*) 679.331 - - -

Keterangan : *) Angka Sementara Sumber : Ditjennak (2011)

Tabel 4 menjelaskan bahwa terjadi volatilitas produksi dan peningkatan konsumsi nasional. Pada tingkat produksi tahun 2004 terjadi penurunan tingkat produksi dari total produksi sebesar 549.000 ton, kemudian turun kembali sebesar 535.962 ton pada tahun 2005. Penurunan tingkat produksi kembali terjadi pada tahun 2007 sebesar 567.683 ton dari total tahun sebelumnya sebesar 616.549 ton. Banyak hal yang menyebabkan fluktuasi produksi ini terjadi, namun pada umumnya Indonesia memiliki prospek pengembangan usaha sapi perah yang relatif besar, karena melihat dari semakin meningkatnya tingkat konsumsi nasional.

Provinsi Jawa Barat dikenal sebagai salah satu sentra produksi susu sapi perah penghasil terbaik dan terbanyak kedua di Indonesia setelah Provinsi Jawa Timur (Lampiran 1). Bahkan pada tahun 2008 produksi susu segar di Jawa barat mencapai 225.212 ton, berbeda dengan produksi susu segar Provinsi Jawa Timur yang berada di peringkat pertama penghasil susu segar terbanyak di Indonesia yang pada tahun 2008 mencapai angka produksi sebesar 312.270 ton. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang memiliki karakteristik yang cocok untuk usaha sapi perah. salah satu karakteristik yang menjadi dukungan pengembangan usahaternak sapi perah adalah sumber bahan baku yang melimpah yang berasal dari limbah pertanian, ketersediaan air, dan iklim yang cocok untuk sapi perah dalam berproduksi. Keberadaan industri susu di Jawa Barat memang sudah sejak dahulu menjadi komoditi primadona, bukan hanya karena letak geografis yang memungkinkan usahaternak sapi perah penghasil susu segar tersebut dapat dilaksanakan, namun selain itu budaya masyarakat sunda yang gemar untuk beternak dan memanfaatkan hasil ternak untuk dikonsumsi maupun dijual menjadikan komoditi susu segar terus berkembang di masyarakat baik sebagai usaha rakyat maupun sebagai usaha komersial dengan tingkat pendapatan yang relatif besar sesuai dengan skala usaha yang dijalankan.

Menurut Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat (2011), Kabupaten Bogor merupakan wilayah penghasil susu segar kelima terbesar setelah Bandung, Garut, Kuningan, dan Sumedang (Lampiran 2). Kabupaten Bogor memiliki potensi usahaternak sapi perah penghasil susu segar yang cukup baik, hal ini dapat terlihat dari tingkat populasi yang terus berkembang. Rata-rata perkembangan populasi

sapi perah di Kabupaten Bogor mengalami pertumbuhan sebesar 2,94 persen untuk setiap tahunnya. Tidak hanya dari segi populasi ternak sapi perah saja perkembangan Kabupaten Bogor dapat dilihat, namun juga dari segi produksi susu segar yang dihasilkan. Pada Tabel 5 diungkapkan bahwa ternyata populasi sapi perah dan produksi susu segar di Kabupaten Bogor tidak selamanya mengalami peningkatan, bahkan terlihat jelas pada tahun 2006 populasi sapi perah Kabupaten Bogor mengalami defisit sebesar -5,74 persen, sedangkan dari segi produksi susu segar pada tahun yang sama pula jumlah produksi susu segar mengalami penurunan sebesar 9.038 ton, berbeda jauh dari produksi tahun sebelumnya sebesar 11.446 ton. Namun setelah penurunan angka populasi dan produksi tersebut, Kabupaten Bogor terus mengalami peningkatan, bahkan pada tahun 2008 populasi sapi perah mencapai angka 5.907 ekor dengan peningkatan produksi sebesar 10.442 ton, dan memiliki rata- rata produksi antara tahun 2004 hingga tahun 2008 mencapai 2,67 persen, namun kembali turun menjadi 2,21 persen tahun 2010. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa usahaternak sapi perah penghasil susu segar di Kabupaten Bogor berpotensi dikembangkan, sehingga diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan peningkatan pendapatan penduduk khususnya Kabupaten Bogor.

Tabel 5. Perkembangan Populasi Sapi Perah dan Produksi Susu Segar di Kabupaten Bogor Tahun 2004 – 2010.

Tahun Populasi Sapi Perah (ekor) Perkembangan (%) Produksi Susu Segar (ton) Rata – rata Produksi tahun 2004 – 2010 (%) Produktivitas (%) 2004 5.356 4,00 11.279 2,67 2,1 2005 5.435 1,47 11.446 2,1 2006 5.123 (5,74) 9.038 1,78 2007 5.268 2,83 9.294 1,76 2008 5.907 12,13 10.422 1,76 2009 7.131 20,72 10.767 3,31 1,5 2010 7.288 2,20 11.005 2,21 1,5

Salah satu penghasil susu segar yang berasal dari sapi perah di Kabupaten Bogor adalah daerah yang berada di wilayah Kecamatan Cisarua. Apabila melihat dari letak geografis Cisarua, daerah ini memiliki iklim yang cocok untuk usahaternak sapi perah dan sangat bagus untuk mendapatkan susu segar yang sehat dan berkualitas, terlihat dari letak wilayah dan dekat dengan wilayah pakan hijauan di sekitar daerah tersebut, yang merupakan salah satu bahan makanan pokok dari sapi perah. Kecamatan Cisarua merupakan daerah peternakan sapi perah terbesar dan merupakan daerah yang cocok untuk mengembangkan peternakan sapi perah, karena terdapat delapan desa yang berada pada ketinggian 500 – 700 meter di atas permukaan laut dan dua desa yang berada pada ketinggian > 700 meter d.p.l., selain itu Kecamatan Cisarua merupakan daerah berbukit dengan ketinggian 500 – 1750 meter d.p.l, dengan kisaran suhu antara 180 - 220 C, dengan kondisi wilayah tersebut dan ketinggian tanah yang bagus maka Cisarua memiliki banyak pilihan untuk dijadikan tempat peternakan sapi perah.

Selain terkenal dengan daerah wisata alamnya, Cisarua merupakan sentra peternakan sapi perah terbesar di seluruh Kabupaten Bogor. Dilihat dari sisi populasi, Cisarua merupakan wilayah terbesar kedua setelah Cijeruk dengan total populasi 1.461 ekor, kemudian jumlah peternak yang mencapai 205 peternak yang tergabung ke dalam lima kelompok peternak. Jumlah terbesar peternak berada di wilayah Desa Cibeureum yang memiliki 90 peternak. Data terakhir yang diperoleh dari Koperasi Giri Tani periode Mei-Juni 2011 mencapai total produksi susu segar yang dihasilkan Kecamatan Cisarua mencapai 12.917 liter.

Tujuan dari usahaternak yang dilakukan oleh peternak di Desa Cibeureum adalah untuk memperoleh pendapatan. Menurut Soekartawi (2002) Pendapatan didapatkan dari selisih penerimaan dan semua biaya. Maka berdasarkan teori Soekartawi tersebut, para peternak di Desa Cibeureum berupaya mengejar penerimaan sebaik mungkin dan meminimalisir seluruh biaya, sedangkan untuk mengukur tingkat pendapatan peternak diperlukan suatu analisis terkait hal tersebut. Maka analisis pendapatan usahatani bisa digunakan untuk mengkaji lebih dalam tentang pendapatan peternak.

Pada dasarnya tiap pendapatan petani terkait dengan tiap biaya yang dikeluarkan. Biaya yang dikeluarkan oleh peternak selalu bergantung kepada tiap

faktor input produksi yang digunakan, dan tiap peternak menggunakan jumlah input produksi yang berbeda – beda karena disesuaikan dengan kebutuhan peternak dan tingkat populasi yang dimiliki. Sehingga analisis yang terkait biaya dan pendapatan para peternak menjadi sangat penting untuk dikaji.

Dokumen terkait