• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bidang Agama

Dalam dokumen PENGANTAR EDITOR (Halaman 144-154)

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM BERBAGAI BIDANG

F. Bidang Agama

manfaat dari proses pembangunan. Dalam perspektif instrumental, hubungan antara masyarakat sebagai sasaran program dan pengambil kebijakan atau lembaga pemberi bantuan, relatif tidak terjadi. Dengan kata lain, tidak ada interaksi antara kedua pihak, sehingga desain program dan kebijakan pembangunan yang dibuat lebih banyak atau bahkan sepenuhnya berada di tangan para elite (community leader). Sementara masyarakat penerima manfaat hanyalah terlibat seputar implementasi program, bahkan hanya sebagai tukang. Sebaliknya, pendekatan tujuan memandang hubungan kekuasaan dalam sebuah proses yang partisipatif mengarah pada upaya-upaya perubahan dan pemberdayaan dari masyarakat itu sendiri, sehingga harus ada kesamaan hubungan kekuasaan dalam perencanaan maupun pelaksanaan program/kebijakan pembangunan. Masyarakat sasaran harus memiliki kesempatan untuk berpartisipasi secara langsung, sehingga mereka tahu apa yang diputuskan dan manfaat yang akan diambil pada saat program diimplementasikan dan selesai dijalankan

Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 128

menghindari degradasi nilai pada generasi muda. Beberapa contohnya adalah seperti mencegah masuknya narkoba, pornografi, hingga gerakan radikal yang mengatasnamakan agama yang jelas, akan merugikan masyarakat. Dengan memperkuat bidang agama, juga akan membekali masyarakat untuk lebih meningkatkan keamanan dan rasa mencintai lingkungan yang berdampak pada terjadinya alam sekitar.

Pembangunan agama sebagai bagian integral dari pembangunan nasional merupakan pengamalan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan demikian, agama menjadi landasan moral dan etika dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pemahaman dan pengamalan agama secara benar diharapkan dapat mendukung terwujudnya manusia Indonesia yang religius, demokratis, mandiri, berkualitas sehat jasmani rohani, serta tercukupi kebutuhan material spiritual.

Pembangunan agama diarahkan untuk: (1) memantapkan fungsi, peran, dan kedudukan agama sebagai landasan moral, spiritual, dan etika dalam penyelenggaraan negara serta mengupayakan agar segala perundang-undangan tidak bertentangan dengan moral agama-agama; (2) meningkatkan kualitas pendidikan agama melalui penyempurnaan sistem pendidikan agama, sehingga terpadu dan integral dengan sistem pendidikan nasional dengan didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai; (3) meningkatkan dan memantapkan kerukunan hidup antar umat beragama, sehingga tercipta suasana kehidupan yang harmonis dan

saling menghormati dalam semangat kemajemukan melalui dialog antar umat beragama dan pelaksanaan pendidikan agama secara deskriptif yang tidak dogmatis untuk tingkat perguruan tinggi; (4) meningkatkan kemudahan umat beragama dalam menjalankan ibadahnya, termasuk penyempurnaan kualitas pelaksanaan ibadah haji dan pengelolaan zakat, dengan memberikan kesempatan yang luas kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraannya; dan (5) meningkatkan peran dan fungsi lembaga-lembaga keagamaan dalam ikut mengatasi dampak perubahan yang terjadi dalam semua aspek kehidupan untuk memperkukuh jati diri dan kepribadian bangsa, serta memperkuat kerukunan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pembangunan agama telah memberikan kontribusi dalam berbagai aspek pembangunan. Pembangunan bidang agama melalui pembinaan kerukunan hidup umat beragama telah berhasil ikut serta meredakan konflik sosial yang terjadi di beberapa wilayah tanah air dalam beberapa tahun terakhir. Di samping itu, dalam aspek pelayanan terus dilakukan melalui upaya pembangunan dan rehabilitasi tempat ibadah, asrama haji, gedung balai nikah/kantor urusan agama (KUA) dan pengadaan kitab suci. Untuk meningkatkan pemahaman ajaran agama, telah dilakukan pula bimbingan dan penyuluhan dan penerangan agama serta pengadaan paket dakwah dan pembinaan keluarga harmonis (sakinah/sukinah/hita sukaya/

bahagia).

Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 130

Kegiatan pembangunan dalam rangka meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama bagi siswa dan mahasiswa untuk memantapkan keimanan dan ketaqwaan serta pembinaan akhlak mulia dan budi pekerti luhur, dilaksanakan melalui program peningkatan kualitas pendidikan agama. Bentuk kegiatan yang telah dilaksanakan, antara lain bantuan sarana ibadah, penataran dan pelatihan bagi guru agama, penyempurnaan bahan ajar, pengadaan buku pelajaran, penyetaraan D-II dan D-III bagi guru agama, penyelenggaraan pesantren kilat, serta penambahan jumlah literatur baik buku teks maupun buku bacaan.

Untuk memberdayakan dan meningkatkan kapasitas serta kualitas lembaga sosial keagamaan dan lembaga tradisional keagamaan bagi masyarakat, khususnya di pedesaan yang miskin telah dilakukan berbagai kegiatan pembinaan lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan tradisional keagamaan. Upaya-upaya yang dilakukan meliputi: pertama, peningkatan sumber daya manusia melalui pelatihan tenaga pembina pondok pesantren, madrasah diniyah, sekolah minggu, seminari, biara trappist, pasraman, novisiat, sekolah yayasan pendidikan Hindu dan sekolah yayasan pendidikan Buddha, pustakawan, pengelola ma’had ‘aly, tenaga hisab rukyat, khatib, dan calon dai; dan kedua, penguatan kelembagaan melalui bantuan rehabilitasi gedung pondok pesantren, madrasah diniyah, sekolah minggu, seminari, biara trappist, pasraman, novisiat, sekolah yayasan pendidikan Hindu dan sekolah yayasan pendidikan Buddha, pengadaan

buku pelajaran, dan perpustakaan yang dilengkapi dengan bantuan peralatan.

Berbagai upaya pembangunan agama dilanjutkan sejak tahun 2003 terus dilakukan secara garis besar, meliputi: (a) peningkatan dan bimbingan dan penyuluhan agama; (b) menciptakan kerukunan antar dan intern umat beragama yang lebih dinamis dalam rangka memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, serta meningkatkan amal untuk bersama-sama membangun masyarakat; (c) peningkatan peran serta umat beragama dan lembaga sosial keagamaan;

(d) peningkatan kualitas dan pelaksanaan pendidikan agama;

dan (e) peningkatan pelayanan keagamaan dan ibadah haji.

Namun, permasalahan utama yang dihadapi dalam pembangunan agama, meliputi kerukunan antar dan intern umat beragama yang masih memprihatinkan, belum terwujudnya perlindungan secara optimal bagi umat beragama dalam menjalankan kewajiban agamanya, serta belum sempurnanya sarana dan prasarana pelayanan dalam menjalankan ibadah. Di samping itu, permasalahan lainnya adalah belum dihayati dan diamalkannya ajaran agama untuk siswa dan mahasiswa, serta belum sepenuhnya lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan tradisional keagamaan mampu menjawab tantangan yang berkembang di masyarakat.

Konflik yang bernuansa SARA di beberapa wilayah di Indonesia sampai saat ini belum dapat diselesaikan secara baik. Konflik-konflik yang bermula dari permasalahan sosial,

Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 132

ekonomi, dan politik dapat berkembang menjadi konflik agama karena munculnya solidaritas antarkelompok yang berbeda pandangan keagamaan. Agama yang diharapkan menjadi pemersatu dalam masyarakat dikhawatirkan dapat menjadi pemicu perpecahan antarkelompok masyarakat. Hal ini antara lain juga disebabkan kurangnya pemahaman tentang esensi ajaran agama. Pemerintah bersama-sama masyarakat secara terus-menerus berupaya untuk meningkatkan kemudahan umat beragama dalam menjalankan ibadahnya.

Pembangunan fasilitas peribadatan terus dilakukan, baik yang mendapat bantuan dari pemerintah maupun yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Namun demikian, terdapat beberapa fasilitas yang dirasakan masih belum memadai, seperti Kantor Urusan Agama (KUA) ditinjau dari jumlah, kualitas, dan efektivitas pelaksanaan fungsi dan peranannya. KUA sesuai dengan peranannya melaksanakan sebagian tugas Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota di bidang Urusan Agama Islam dalam wilayah kecamatan.

KUA berfungsi pula melaksanakan pencatatan nikah dan rujuk, mengurus dan membina masjid, zakat, wakaf, baitul mal dan ibadah sosial, dan pengembangan keluarga harmonis (sakinah/sukinah/hita sukaya/bahagia).

Sampai saat ini, belum seluruh kecamatan memiliki KUA, sehingga masyarakat khususnya yang tinggal di daerah terpencil belum dapat terlayani secara baik (Nugraha, 2009).

Kondisi tersebut diperburuk dengan belum tercukupinya tenaga, baik jumlah maupun kualitasnya, sehingga pelayanan

pada KUA yang sudah ada juga belum optimal. Selain itu, terjadinya kerusuhan dan bencana alam telah menyebabkan terjadinya kerusakan rumah-rumah ibadah dan kantor-kantor urusan agama. Berkenaan dengan hal tersebut, pemberdayaan masyarakat dalam bidang agama dapat dilakukan melalui beberapa program utama, seperti kegiatan pokok program ini meliputi: (1) memberikan bantuan untuk rehabilitasi tempat ibadah dan pengembangan perpustakaan tempat peribadatan;

(2) meningkatkan pelayanan nikah melalui pembangunan dan rehabilitasi balai nikah dan penasehatan perkawinan/

KUA; (3) meningkatkan kemampuan dan jangkauan petugas pencatat nikah/perkawinan; (4) meningkatkan pelayanan pengelolaan dan pengembangan zakat dan wakaf, serta pembinaan ibadah sosial; (5) memberikan bantuan sertifikasi tanah wakaf, tanah gereja, pelaba pura, dan wihara serta hibah; (6) menyusun naskah RUU tentang wakaf; (7) meningkatkan sosialisasi jaminan produk halal dan pelatihan bagi pelaku usaha, auditor, serta sektor terkait di bidang produk halal; (8) melakukan pengkajian ulang sertifikat halal yang dikeluarkan/diterbitkan lembaga sertifikasi halal luar negeri; (9) meningkatkan mutu pelayanan, efisiensi, peran serta dunia usaha, masyarakat dan transparansi pengelolaan dan pembinaan haji; (10) melanjutkan upaya peningkatan pelayanan untuk membina keluarga harmonis (sakinah/sukinah/hita sukaya/bahagia) melalui peningkatan pendidikan agama dalam keluarga, pembinaan keluarga muda, penyediaan bahan bacaan, dan panduan mengasuh anak bagi

Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 134

orang tua; (11) optimalisasi fungsi dan peran tempat ibadah sebagai pusat pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat melalui bantuan bahan bacaan, pemberantasan buta aksara Al-Qur’an, pembinaan remaja, dan pendidikan agama pada masyarakat; (12) memberikan bantuan kitab suci dan lektur keagamaan; (13) meningkatkan sarana dan tenaga teknis hisab rukyat; (14) melanjutkan pengembangan sistem informasi keagamaan; serta (15) melakukan kajian dan pengembangan dalam rangka peningkatan mutu pelayanan kehidupan beragama (Risdiana, 2014).

Jika merujuk pada satu agama yang mayoritas di Indonesia, dapat terlihat bahwa pengembangan masyarakat Islam menjelaskan adanya lima dalam memberdayakan umat (Matthoriq, 2014), antara lain: (1) upaya-upaya pemberdayaan masyarakat dapat dilihat sebagai peletakan sebuah tatanan sosial di mana manusia secara adil dan terbuka dapat melakukan usahanya sebagai perwujudan atas kemampuan dan potensi yang dimilikinya, sehingga kebutuhannya (material dan spiritual) dapat terpenuhi; (2) pemberdayaan masyarakat tidak dilihat sebagai suatu proses pemberian dari pihak yang memiliki sesuatu kepada pihak yang tidak memiliki; (3) pemberdayaan masyarakat mesti dilihat sebagai sebuah proses pembelajaran kepada masyarakat, agar mereka dapat secara mandiri melakukan upaya-upaya perbaikan kualitas kehidupannya; (4) pemberdayaan masyarakat tidak mungkin dilaksanakan tanpa keterlibatan secara penuh oleh masyarakat itu sendiri; partisipasi bukan sekadar diartikan

sebagai kehadiran, tetapi kontribusi tahapan yang mesti dilalui oleh suatu dalam program kerja pemberdayaan masyarakat; dan 5) pemberdayaan masyarakat merupakan suatu upaya keterlibatan masyarakat dalam suatu program pembangunan, tatkala masyarakat itu sendiri tidak memiliki daya ataupun bekal yang cukup. Kelima prinsip turunan tersebut, sebenarnya cerminan aktualisasi nilai Islam dalam memberikan pandangan hidup, sehingga menuju tatanan kehidupan yang berdaya dan sejahtera. Kunci keberhasilan tersebut, yakni penyatuan antara dimensi material dan spiritual dalam kehidupan sosial.

Dalam konteks keberdayaan masyarakat muslim, memang ada sisi akhlak yang mesti diberikan penguatan, di mana Qardawi (2003) yang memberikan pandangan, bahwa selain keistimewaan Islam dalam bidang akidah, ibadah dan pola pikir masyarakat Islam juga memiliki keunggulan dalam masalah akhlak dan perilaku. Eksistensi masyarakat Islam terletak pada persamaan dan keadilan, kebajikan dan kasih sayang, kejujuran dan kepercayaan, sabar dan kesetiaan, rasa malu dan harga diri, kewibawaan dan kerendahhatian, kedermawanan dan keberanian, perjuangan dan pengorbanan, kebersihan dan keindahan, kesederhanaan dan keseimbangan, kepemaafan dan kepenyantunan, serta saling menasehati dan bekerja sama. Secara konsep dasar, akhlak tergambar dalam Al-Qur’an (Qs. Ar-Ra’d Ayat 19–22) yang mengumpulkan antara akhlak rabbaniyah (misalnya, takut pada Allah dan hari pembalasan) dan akhlak insaniyah (misalnya, menepati

Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 136

janji, silaturahmi, dan berinfak), di mana bila direnungkan bermuara pada sifat rabbaniyah.

Dengan demikian, maka rangkaian proses pemberdayaan pada masyarakat di bidang agama dapat dikaji dalam tiga level pokok di antaranya: (a) lingkup individu, mempunyai arah pada peningkatan kecerdasan rohaniah, intelektualitas, dan peningkatan kualitas individu; (b) lingkup keluarga, membentuk keluarga sakinah dan harmonis melalui terwujudnya keserasian antaranggota dan kemauan untuk berprestasi meraih rahmat Allah Swt.; dan (c) lingkup masyarakat, mengaktualisasikan ilmu dan amal. Ilmu sebagai proses kesadaran menuju penguatan keimanan, sedang amal sebagai pedoman hidup kemasyarakatan melalui dakwah.

Tanggung jawab utama dalam program pembangunan adalah masyarakat berdaya atau memiliki daya, serta kekuatan atau kemampuan. Kekuatan yang dimaksud dapat dilihat dari aspek fisik dan material, ekonomi, kelembagaan, kerja sama, kekuatan intelektual dan komitmen bersama dalam menerapkan prinsip-prinsip pemberdayaan. Kemampuan berdaya mempunyai arti yang sama dengan kemandirian masyarakat. Terkait dengan program pembangunan, bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak, dan mengendalikan apa yang mereka lakukan. Kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan kemampuan memikirkan, memutuskan, serta melakukan sesuatu yang dipandang tepat

6

Dalam dokumen PENGANTAR EDITOR (Halaman 144-154)