RAJAWALI PERS Divisi Buku Perguruan Tinggi
PT RajaGrafindo Persada D E P O K
Perpustakaan Nasional: Katalog dalam terbitan (KDT) Agussani.
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern/Agussani.
—Ed. 1, Cet. 1.—Depok: Rajawali Pers, 2021.
xvi, 172 hlm., 21 cm.
Bibliografi: hlm. 143 ISBN 978-623-372-061-8
1. xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx I. Judul
XXX. XX
Hak cipta 2021, pada penulis
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apa pun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotokopi, tanpa izin sah dari penerbit 2021.3215 RAJ
Prof. Dr. Agussani, M.A.P.
DESAIN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MODERN Cetakan ke-1, Oktober 2021
Hak penerbitan pada PT RajaGrafindo Persada, Depok Editor : Dr. Emilda Sulasmi, M.Pd.
Copy Editor : Dhea Aprilyani Setter : Raziv Gandhi Desain Cover : Tim Kreatif RGP Dicetak di Rajawali Printing PT RAJAGRAFINDO PERSADA Anggota IKAPI
Kantor Pusat:
Jl. Raya Leuwinanggung, No.112, Kel. Leuwinanggung, Kec. Tapos, Kota Depok 16456 Telepon : (021) 84311162
E-mail : [email protected] http://www.rajagrafindo.co.id
Perwakilan:
Jakarta-16456 Jl. Raya Leuwinanggung No. 112, Kel. Leuwinanggung, Kec. Tapos, Depok, Telp. (021) 84311162.
Bandung-40243, Jl. H. Kurdi Timur No. 8 Komplek Kurdi, Telp. 022-5206202. Yogyakarta-Perum. Pondok Soragan Indah Blok A1, Jl. Soragan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Telp. 0274-625093. Surabaya-60118, Jl. Rungkut Harapan Blok A No. 09, Telp. 031-8700819. Palembang-30137, Jl. Macan Kumbang III No. 10/4459 RT 78 Kel. Demang Lebar Daun, Telp. 0711-445062. Pekanbaru-28294, Perum De' Diandra Land Blok C 1 No. 1, Jl. Kartama Marpoyan Damai, Telp. 0761-65807. Medan-20144, Jl. Eka Rasmi Gg. Eka Rossa No. 3A Blok A Komplek Johor Residence Kec.
Medan Johor, Telp. 061-7871546. Makassar-90221, Jl. Sultan Alauddin Komp. Bumi Permata Hijau Bumi 14 Blok A14 No. 3, Telp. 0411-861618. Banjarmasin-70114, Jl. Bali No. 31 Rt 05, Telp. 0511-3352060. Bali, Jl. Imam Bonjol Gg 100/V No. 2, Denpasar Telp. (0361) 8607995. Bandar Lampung-35115, Perum. Bilabong Jaya Block B8 No. 3 Susunan Baru, Langkapura, Hp. 081299047094.
Alhamdulillah, penulis haturkan kepada Allah Swt., akhirnya penulisan buku ini dapat diselesaikan dan momentum terbitnya bertepatan dengan pengukuhan penulis sebagai guru besar dalam bidang ilmu sosial pada Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Naskah ini sesungguhnya merupakan hasil pengembangan dari beberapa materi kuliah yang penulis ampu, yang kemudian disusun secara sistematis dengan judul Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern dengan fokus kajian pada aspek wacana. Meskipun demikian, beberapa penjelasan pada buku ini juga penulis turut sertakan aspek-aspek praktis dari pemberdayaan masyarakat yang terjadi di Indonesia.
Diketahui bersama, bahwa pemberdayaan masyarakat (empowerment) adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat masyarakat yang masih terperangkap
PENGANTAR PENULIS
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern vi
pada kemiskinan dan keterbelakangan. Pemberdayaan masyarakat (community empowerment) sering kali sulit dibedakan dengan pembangunan masyarakat (community development) karena mengacu pada pengertian yang tumpang tindih dalam penggunaannya di masyarakat. Dalam kajian ini, pemberdayaan masyarakat (community empowerment) dan pembangunan masyarakat (community development) dimaksudkan sebagai pemberdayaan masyarakat yang sengaja dilakukan oleh pemerintah dan mitra kerja pemerintah untuk memfasilitasi masyarakat lokal dalam merencanakan, memutuskan, dan mengelola sumber daya yang dimiliki, sehingga pada akhirnya mereka memiliki kemampuan dan kemandirian secara ekonomi, pendidikan, ekologi, dan sosial secara berkelanjutan.
Penulisan buku ini tentu tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan berbagai pihak, sehingga patut kiranya penulis haturkan terima kasih kepada segenap Pimpinan Pusat Muhammadiyah, segenap civitas akademika Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, istri, dan anak-anak penulis.
Penulis menyadari sesungguhnya masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan buku ini, kritik dan saran yang bersifat konstruktif, tentu sangat penulis harapkan demi kesempurnaan buku ini di masa yang akan datang.
Kehadiran buku ini diharapkan dapat mengisi ruang kosong dari khazanah pemikiran dan konsep pemberdayaan masyarakat yang tentu saja bertujuan agar dapat menjadi kajian lanjutan dalam rangka pemberdayaan masyarakat di era
modern saat ini. Selain itu, diharapkan juga dapat menambah referensi bagi segenap pihak yang terlibat dalam proses pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, terutama pemerintah, dan juga terkhusus bagi mahasiswa S1, S2, dan S3 dengan disiplin Ilmu Kesejahteraan Sosial, dan juga bagi masyarakat secara umum.
Medan, Oktober 2021 Prof. Dr. Agussani, M.A.P.
[Halaman ini sengaja dikosongkan]
Evolusi model pembangunan nasional menuju demokratisasi dan desentralisasi telah menciptakan kesadaran luas dari proses pembangunan secara keseluruhan dan perlunya partisipasi masyarakat dalam agenda pembangunan. Pemberdayaan telah menjadi istilah yang banyak digunakan untuk pertumbuhan.
Namun, pentingnya pemberdayaan masyarakat belum sepenuhnya dipahami dan dilaksanakan oleh para pelaku pembangunan, seperti pemerintah, swasta, LSM, dan masyarakat. Bahkan, masyarakat sendiri enggan untuk ikut serta dalam pelaksanaan setiap tahapan pembangunan di lingkungannya.
Hampir semua program pemerintah, sebaliknya, membutuhkan pemberdayaan masyarakat dalam proses pelaksanaannya, di mana masyarakat ditempatkan secara strategis untuk menentukan keberhasilan program
PENGANTAR EDITOR
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern x
pembangunan. Namun dalam praktiknya, pemberdayaan masyarakat sering kali disalahgunakan, baik disengaja maupun tidak disengaja. Pemberdayaan masyarakat dapat dicapai oleh banyak faktor, antara lain pemerintah, perguruan tinggi, LSM, pers, partai politik, lembaga pendanaan, aktor sosial sipil, atau organisasi masyarakat lokal itu sendiri.
Birokrasi pemerintah tentunya sangat strategis karena memiliki banyak keunggulan dan kekuatan yang luar biasa dibanding faktor lainnya. Ia memiliki dana, banyak peralatan, kekuatan untuk menciptakan kerangka hukum, kebijakan pemberian layanan publik, dan lain-lain. Proses pemberdayaan menjadi lebih kuat, lebih inklusif dan berkelanjutan karena unsur-unsur yang berbeda ini menciptakan kemitraan dan jaringan berdasarkan prinsip kepercayaan dan saling menghormati.
Pemberdayaan ini memiliki tujuan ganda untuk membebaskan mata rantai kemiskinan dan keterbelakangan, sekaligus memperkuat posisi kelas–masyarakat dalam struktur kekuasaan. Pemberdayaan adalah proses dan tujuan. Ditinjau dari prosesnya, pemberdayaan merupakan rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk memberdayakan atau memberdayakan kelompok masyarakat yang kurang beruntung, termasuk mereka yang menghadapi masalah kemiskinan. Secara objektif, pemberdayaan mengacu pada kondisi atau hasil yang dicapai sebagai akibat dari perubahan sosial. Dengan kata lain, memiliki kekuasaan, wewenang, pengetahuan, dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan material, ekonomi, dan sosial seperti
kepercayaan diri, mengungkapkan aspirasi, mencari nafkah, berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan melakukan pekerjaan dalam hidup yang dapat dilakukan secara mandiri.
Buku yang hadir di tangan pembaca ini, mencoba menawarkan gagasan ide dan konsep dalam proses pemberdayaan, hal itu dapat dibaca pada konsep pemberdayaan, manajemen pemberdayaan, dan dinamika pemberdayaan. Selain itu, untuk mempertegas aspek-aspek pemberdayaan dalam berbagai bidang, pada bagian akhir buku ini juga menjelaskan beberapa realitas pemberdayaan masyarakat dalam bidang ekonomi, pendidikan, pertanian, kesehatan, dan juga agama.
Kehadiran buku ini diharapkan dapat menambah khazanah literasi dan wawasan pembaca, terutama bagi praktisi pekerja sosial, pemerintah, akademi, dan bagi mereka yang konsen pada pemberdayaan masyarakat dalam rangka mempercepat pembangunan.
Akhirnya, kami ucapkan selamat kepada penulis atas terbitnya buku ini, sekaligus sebagai penegasan akan komitmen penulis pada dunia akademik, di mana penulis merupakan salah satu guru besar dalam bidang ilmu sosial pada Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
Editor, Dr. Emilda Sulasmi, M.Pd.
[Halaman ini sengaja dikosongkan]
PENGANTAR PENULIS v
PENGANTAR EDITOR ix
DAFTAR ISI xiii
BAB 1 PENDAHULUAN 1
BAB 2 KONSEP PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 7 A. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat 7 B. Paradigma Masyarakat Modern 12 C. Tujuan, Prinsip, dan Ruang Lingkup Program
Pemberdayaan Masyarakat Modern 21
DAFTAR ISI
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern xiv
BAB 3 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
DI INDONESIA 31 A. Sekilas Sejarah Pemberdayaan Masyarakat
di Indonesia 31
B. Dinamika Pemberdayaan Masyarakat di
Indonesia 36
C. Peran Pemerintah dalam Pemberdayaan
Masyarakat 40
BAB 4 MANAJEMEN PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT 45
A. Pendekatan dalam Pemberdayaan
Masyarakat 47
B. Perencanaan dalam Program
Pemberdayaan Masyarakat 56
C. Strategi Pelaksanaan Pemberdayaan
Masyarakat 63
D. Monitoring dan Evaluasi dalam
Pemberdayaan Masyarakat 69
BAB 5 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM
BERBAGAI BIDANG 79
A. Bidang Ekonomi 79
B. Bidang Pendidikan 90
C. Bidang Pertanian 98
D. Bidang Kesehatan 108
E. Bidang Politik 118
F. Bidang Agama 127
BAB 6 PENUTUP 137
DAFTAR PUSTAKA 143
GLOSARIUM 155
BIODATA PENULIS 165
BIODATA EDITOR 169
[Halaman ini sengaja dikosongkan]
Negara-negara dunia yang tergabung dalam organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berusaha semaksimal mungkin menyelaraskan visi pembangunan negara mereka dengan rancangan pembangunan SDGs. Nampaknya, ada keyakinan dalam diri mereka, bahwa era pembangunan SDGs yang dewasa ini tengah bergulir adalah momentum tepat untuk menguatkan laju pertumbuhan dan pembangunan negara mereka. Jika menengok aktivitas pembangunan era sebelumnya, yakni era milenium, Millennium Development Goals (MDGs), ada kekhawatiran cukup mendalam perihal nasib pembangunan dunia ke depan (Sulistyo dkk, 2010:16).
Kekhawatiran tersebut muncul ketika orientasi pem- bangunan MDGs. Di satu sisi sekadar mengejar kepentingan ekonomis, dan di sisi lain cenderung mengabaikan nilai-nilai emansipatif, universalitas, dan ekosistem lingkungan. Sebagai
1
PENDAHULUAN
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 2
akibatnya, kita menyaksikan pembangunan pada era MDGs berjalan tidak sehat, sehingga menyisakan banyak krisis sosial (Sulistyastuti, 2007:41), mulai dari eksploitasi alam, kemiskinan, dan ketimpangan sosial yang cukup melebar.
Di Indonesia sendiri, problem sosial pembangunan era milenium, sempat mengundang kerisauan banyak kalangan.
Pasalnya, tiga dari delapan program sasaran pembangunan milenium, sebagaimana telah dirumuskan oleh negara- negara dunia, terancam mengalami kegagalan. Kemungkinan kegagalan tersebut ditunjukkan oleh indikator angka kematian ibu yang masih tinggi, pencegahan HIV/AIDS, dan indikator tutupan lahan pada sektor kehutanan yang belum optimal (Sulistyo dkk, 2010:16).
Kini, pasca diresmikannya pembangunan SDGs sebagai kelanjutan dari pembangunan MDGs, problem pembangunan Indonesia masih berkutat pada sektor permasalahan yang sama. Bahkan, berdasarkan data World Bank, Indonesia saat ini tengah mengalami persoalan besar menyangkut disparitas dan distribusi kekuasaan yang tidak merata. Instrumen pembangunan kita sejauh ini lebih keberpihakan pada kepentingan kelas sosial atas, atau kaum pemodal.
Sebaliknya, masyarakat dengan status kelas sosial ekonomi menengah ke bawah tidak cukup mampu untuk menjangkaunya. Bahwa, 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 45,5% kekayaan nasional dan 10% orang terkaya menguasai 75% kekayaan nasional (Republika/03/18). Jika problem pembangunan skala nasional tersebut kita turunkan
pada level yang lebih rendah, katakanlah level daerah, baik itu daerah provinsi, kota, atau kabupaten, maka di sini kita juga akan menemukan permasalahan yang relatif seragam.
Bahwa tidak sedikit daerah yang proses pembangunannya mengalami masalah (Surtikanti, 2013:20), karena dalam banyak hal agenda pembangunan mereka harus berbenturan dengan politik kebijakan yang tidak mengusung semangat universal. Dalam arti yang lain, tidak bersesuaian dengan kebutuhan mereka sebagai bagian teritorial yang seharusnya otonom. Dalam kerangka pemikiran inilah, berbagai sisi persoalan yang selama ini mengganjal di berbagai sektor pembangunan, untuk itulah diperlukan pemberdayaan masyarakat di berbagai sektor tersebut guna mempercepat proses pembangunan dan dapat meningkatkan kemandirian masyarakat.
Secara konseptual, pemberdayaan (empowerment) berkaitan dengan konsep ‘power’ (kekuasaan) yang menjadi kata dasarnya. Kekuasaan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain agar mau melakukan sesuatu seperti yang kita inginkan. Hal ini menunjukkan secara konseptual, dalam pemberdayaan terkandung adanya upaya pemberian kekuasaan agar dia memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang dikehendakinya. Beberapa ahli mengemukakan definisi pemberdayaan dilihat dari tujuan, proses, dan cara- cara pemberdayaan (dalam Suharto, 1997). Pemberdayaan bertujuan untuk meningkatkan kekuasaan orang-orang yang lemah atau tidak beruntung (Ife, 1995).
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 4
Pemberdayaan adalah sebuah proses dengan mana orang menjadi cukup kuat untuk berpartisipasi dalam berbagai pengendalian atas dan mempengaruhi terhadap kejadian- kejadian serta lembaga-lembaga yang mempengaruhi kehidupannya. Pemberdayaan menekankan bahwa orang memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya (Parson, et.al., 1994).
Pemberdayaan menunjukkan pada usaha pengalokasian kembali kekuasaan melalui pengubahan struktur sosial (Swift dan Levin, 1987). Pemberdayaan adalah suatu cara dengan mana rakyat, organisasi, dan komunitas diarahkan agar mampu menguasai (atau berkuasa atas) kehidupannya (Rapaport, 1984).
Jika ditinjau dalam perspektif proses, pemberdayaan merupakan serangkaian kegiatan guna memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami masalah kemiskinan. Sebagai tujuan, pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial, yaitu masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan, dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomi, maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya. Lebih jauh
lagi, terlihat bahwa pengertian pemberdayaan sebagai tujuan sering kali digunakan sebagai indikator keberhasilan dari pemberdayaan sebagai sebuah proses.
Mengenai keberhasilan pemberdayaan masyarakat, sesungguhnya dapat dilihat dari keberdayaan mereka yang menyangkut kemampuan ekonomi, kemampuan mengakses manfaat kesejahteraan, dan kemampuan kultural dan politis yang dikaitkan dengan empat dimensi kekuasaan, yaitu
‘kekuasaan dalam’ (power within), ‘kekuasaan untuk’ (power to), ‘kekuasaan atas’ (power over), dan ‘kekuasaan dengan’
(power with).
Substansi dari buku ini adalah menjelaskan apa yang dimaksud dengan pemberdayaan masyarakat, bagaimana dinamika sejarah dan pelaksanaan pemberdayaan masyarakat di Indonesia, lalu bagaimana teori manajemen pemberdayaan masyarakat, serta dalam bidang apa saja pemberdayaan masyarakat itu dilakukan.
Penulisan buku ini bertujuan untuk dapat menjelaskan berbagai wacana dan praksis dari pemberdayaan masyarakat di era modern saat ini, penjelasan tersebut meliputi pengertian pemberdayaan masyarakat, paradigma masyarakat modern, tujuan, ciri, prinsip, dan ruang lingkup pemberdayaan masyarakat.
Selanjutnya, akan dijelaskan juga mengenai pemberdayaan masyarakat Indonesia, meliputi sejarah, dinamika, dan peran pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat. Pada
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 6
bagian berikutnya, akan diuraikan mengenai manajemen pemberdayaan masyarakat yang terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring serta evaluasi. Kemudian, pembaca akan diarahkan untuk memahami bidang-bidang apa saja yang dapat dilakukan pemberdayaan masyarakat.
Pada buku ini, penulis batasi pada beberapa bidang penting, seperti bidang ekonomi, bidang pendidikan, bidang pertanian, kesehatan, dan agama.
Secara akademik, buku ini bermanfaat untuk menghasilkan kajian dan wacana mengenai ilmu sosial, khususnya pada aspek pemberdayaan masyarakat atau juga strategi pengambilan kebijakan bagi pemerintah, dan Lembaga Sosial Masyarakat sebagai fasilitator tentu akan menambah khazanah mereka guna melakukan pendampingan bagi masyarakat.
Berbagai data yang dijadikan sumber pada buku ini, merupakan salah satu teknik kajian yang kerap kali disebut sebagai kajian pustaka (review of literature). Data yang telah diperoleh, kemudian penulis lakukan rekonstruksi sehingga dapat diklasifikasikan berdasarkan pokok bahasan pada setiap kajian, sehingga dapat diambil suatu kesimpulan.
A. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan secara umum dapat dipahami sebagai sebuah upaya untuk menggerakkan dan mengorganisir suatu kelompok agar dapat memiliki kemampuan untuk mandiri dan menguasai kehidupannya. Perspektif ini dapat dipahami melalui ragam pendapat yang dikemukakan oleh banyak pakar.
Ife (1995) misalnya, menyatakan bahwa:
Empowerment is a process of helping disadvantaged groups and individuals to compete more effectively with other interests, by helping them to learn and use in lobbying, using the media, engaging in political action, understanding how to ‘work the system', and so on (Ife, 1995).
Definisi di atas mengartikan konsep pemberdayaan (empowerment) sebagai upaya memberikan otonomi, wewenang,
2
KONSEP PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 8
dan kepercayaan kepada setiap individu dalam suatu organisasi, serta mendorong mereka untuk kreatif agar dapat menyelesaikan tugasnya sebaik mungkin. Di sisi lain, Paul (1987) (dalam Prijono dan Pranarka, 1996) mengatakan bahwa pemberdayaan berarti pembagian kekuasaan yang adil, sehingga meningkatkan kesadaran politis dan kekuasaan pada kelompok yang lemah serta memperbesar pengaruh mereka terhadap
“proses dan hasil-hasil pembangunan”.
Pemberdayaan berasal dari kata dasar daya yang mengandung arti “kekuatan”, dan merupakan terjemahan dari istilah dalam bahasa Inggris “empowerment”, sehingga dapat dijabarkan bahwa pemberdayaan mengandung arti memberikan daya atau kekuatan kepada kelompok yang lemah yang belum mempunyai daya/kekuatan untuk hidup mandiri, terutama dalam memenuhi kebutuhan pokok/
kebutuhan dasar hidupnya sehari-hari, seperti makan, pakaian/sandang, rumah/papan, pendidikan, dan kesehatan (Prasiasa, 2017). Memberikan kekuatan (power) kepada orang yang kurang mampu atau miskin (powerless) memang merupakan tanggung jawab pemerintah, namun seharusnya mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, terutama masyarakat itu sendiri yang menjadi kelompok sasaran, yaitu dengan ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan setiap program/
kegiatan pemberdayaan.
Sementara itu, konsep pemberdayaan menurut Friedman (1992), dalam hal ini pembangunan alternatif, menekankan keutamaan politik melalui otonomi pengambilan keputusan
untuk melindungi kepentingan rakyat yang berlandaskan pada sumber daya pribadi, langsung melalui partisipasi, demokrasi, dan pembelajaran sosial melalui pengamatan langsung (Nugraha, 2009).
Istilah pemberdayaan maupun pemberdayaan masyarakat telah cukup lama kita kenal, seiring dengan semakin meningkatnya angka kemiskinan di Indonesia, yang tidak hanya menimpa masyarakat di pedesaan tapi juga masyarakat perkotaan. Telah cukup banyak program pemberdayaan masyarakat yang diluncurkan pemerintah maupun oleh organisasi sosial/kemasyarakatan dan organisasi profesi, sebagai upaya untuk mengentaskan kemiskinan, namun belum semuanya bisa berhasil dengan baik (Suharto, 2014).
Pemberdayaan dapat dilakukan dengan adanya sebuah modal sosial yang terdapat dalam masyarakat. Modal sosial itu merupakan hubungan-hubungan antara manusia, yaitu orang-orang yang melakukan aksi kepada sesamanya karena adanya kewajiban sosial dan timbal balik, solidaritas sosial, dan komunitas. Modal sosial ini merupakan perekat yang menyatukan masyarakat. Oleh karena itu, suatu pemberdayaan akan berhasil jika memperkuat masyarakat madani atau masyarakat sipil, yaitu struktur-struktur formal maupun semiformal yang dibentuk masyarakat secara sukarela dengan inisiatif mereka sendiri, bukan sebagai konsekuensi dari program maupun arahan tertentu dari masyarakat (Ife dan Tesoriero, 2008).
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 10
Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui beberapa kegiatan, antara lain peningkatan prakarsa dan swadaya masyarakat, pengembangan usaha ekonomi, serta kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menaikkan hasil produksinya.
Pemberdayaan masyarakat adalah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai masyarakat untuk membangun paradigma baru dalam pembangunan yang bersifat people centered, participatory, empowerment, dan sustainable (Margolang, 2018).
Pemberdayaan merupakan proses pematahan atau breakdown dari hubungan atau relasi antara subjek dengan objek. Proses ini mementingkan adanya “pengakuan” subjek akan “kemampuan” atau “daya” (power) yang dimiliki objek. Secara garis besar, proses ini melihat pentingnya mengalir daya (flow of power) dari subjek ke objek dengan memberi kesempatan untuk meningkatkan hidupnya dengan memakai sumber yang ada (Hadiyanti, 2008). Pada akhirnya,
“pengakuan” oleh subjek terhadap kemampuan individu miskin untuk dapat mewujudkan harapannya merupakan bukti bahwa individu tersebut mempunyai daya. Mengalirnya daya ini, dapat berwujud suatu upaya dari objek untuk meningkatkan hidupnya dengan memakai daya yang ada padanya, serta dibantu juga dengan daya yang dimiliki subjek.
Pemberdayaan masyarakat sama pentingnya dengan peningkatan pengetahuan, perluasan wawasan, dan
peningkatan aparatur (birokrat) bagi pelaksanaan program yang sesuai dengan fungsi dan profesi masing-masing.
Dengan adanya pemberdayaan tersebut, mampu memberi kesempatan kepada masyarakatnya untuk menunjukkan ciri sebagai masyarakat yang membangun (Krisnawati dan Farid Ma’ruf, 2016).
Pemberdayaan masyarakat sebagai strategi alternatif dalam pembangunan telah berkembang dalam berbagai literatur dan pemikiran, walaupun dalam kenyataannya belum secara maksimal dalam implementasinya. Pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, merupakan hal yang banyak dibicarakan masyarakat karena terkait dengan kemajuan dan perubahan bangsa ini ke depan. Apalagi dikaitkan dengan skill masyarakat yang masih kurang, akan sangat menghambat pertumbuhan ekonomi itu sendiri.
Pada hakikatnya, pemberdayaan masyarakat tidak hanya ditujukan pada individual, tetapi juga secara berkelompok, sebagai bagian dari aktualisasi eksistensi manusia. Untuk itu, manusia/masyarakat dapat dijadikan sebagai tolok ukur secara normatif, yang menempatkan konsep pemberdayaan masyarakat sebagai suatu bagian dari upaya untuk membangun eksistensi masyarakat secara pribadi, keluarga, dan bahkan bangsa sebagai aktualisasi kemanusiaan yang adil dan beradab (Syahid, 2015). Untuk itu, dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, dibutuhkan adanya pengenalan terhadap hakikat manusia yang akan memberikan sumbangan untuk
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 12
menambah wawasan dalam menerapkan berbagai konsep atau program pemberdayaan kepada masyarakat.
B. Paradigma Masyarakat Modern
Masyarakat modern dewasa ini yang ditandai dengan munculnya pasca industri (post industrial society) seperti dikatakan Daniel Bell, atau masyarakat informasi (information society) sebagai tahapan ketiga dari perkembangan peradaban seperti dikatakan oleh Alvin Toffler, tak pelak lagi telah menjadikan kehidupan manusia secara teknologis memperoleh banyak kemudahan. Tetapi masyarakat modern juga menjumpai banyak paradoks dalam kehidupannya. Dalam bidang revolusi informasi, sebagaimana dikemukakan Donald Michael, juga terjadi ironi besar.
Semakin banyak informasi dan pengetahuan, mestinya semakin besar kemampuan melakukan pengendalian umum. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, semakin banyak informasi telah menyebabkan segala sesuatunya tidak terkendali. Karena itu, dengan ekstrem Ziauddin Sardar (1988), menyatakan bahwa abad informasi ternyata sama sekali bukan rahmat. Di masyarakat Barat, ia telah menimbulkan sejumlah besar persoalan yang tidak ada pemecahannya, kecuali cara pemecahan yang tumpul. Di lingkungan masyarakat kita sendiri misalnya, telah terjadi swastanisasi televisi, masyarakat mulai merasakan ekses negatifnya.
Sebelum jauh menjelaskan mengenai hal ini, perlu dipahami apa yang dimaksud dengan masyarakat, bagaimana dinamika perkembangan masyarakat, serta apa saja prasyarat dari terbentuknya suatu masyarakat sehingga perlu dilakukan pemberdayaan.
Masyarakat dalam istilah bahasa Inggris adalah society yang berasal dari kata Latin socius, yang berarti (kawan).
Istilah masyarakat berasal dari bahasa Arab syaraka yang berarti (ikut serta dan berpartisipasi). Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul, dalam istilah ilmiah adalah saling berinteraksi. Suatu kesatuan manusia dapat mempunyai prasarana melalui warga-warganya dapat saling berinteraksi.
Definisi lain dari masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Kontinuitas merupakan kesatuan masyarakat yang memiliki empat ciri yaitu: (1) interaksi antar warga-warganya; (2) adat istiadat; (3) kontinuitas waktu; dan (4) rasa identitas kuat yang mengikat semua warga.
Secara etimologis, masyarakat diambil dari bahasa Arab, yaitu musyarak yang memiliki arti hubungan atau interaksi.
Sehingga, bisa dikatakan bahwa masyarakat adalah kelompok manusia atau individu yang hidup secara bersama-sama pada suatu tempat dan saling berhubungan. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, masyarakat merupakan sejumlah
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 14
manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama. Awal dari masyarakat berasal dari hubungan antar individu, kemudian kelompok yang lebih besar menjadi suatu kelompok besar orang yang disebut masyarakat.
Adapun secara umum, pengertian masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup atau semi terbuka. Dengan kata lain, masyarakat merupakan interaksi individu yang berada dalam kelompok tersebut. Selain itu, masyarakat juga bisa disebut sebagai satu kesatuan atau kelompok yang memiliki hubungan serta beberapa kesamaan, seperti sikap, perasaan, tradisi, dan budaya. Di mana kelompok tersebut membentuk suatu keteraturan.
Masyarakat merupakan kelompok manusia atau individu yang secara bersama-sama tinggal di suatu tempat dan saling berhubungan. Biasanya, hubungan atau interaksi ini dilakukan secara teratur atau terstruktur (Mukaffi, et al., 2019). Dengan adanya kelompok sosial ini, setiap individu dapat saling berinteraksi dan membantu satu sama lain. Setiap kelompok masyarakat sudah pasti memiliki sebuah struktur sosial. Nantinya, struktur sosial tersebut akan mempermudah integrasi sosial. Sehingga, hal ini akan menghasilkan pola masyarakat yang memiliki keserasian fungsi.
Soetomo dalam bukunya Pembangunan Masyarakat:
Merangkai Sebuah Kerangka (2009), menjelaskan bahwa
masyarakat adalah suatu kesatuan yang selalu berubah yang hidup karena proses masyarakat. Masyarakat terbentuk melalui hasil interaksi yang terus-menerus antar individu.
Dalam kehidupan bermasyarakat, selalu ditemui kehidupan individu dengan masyarakat yang saling mempengaruhi.
Lebih lanjut, berikut pengertian masyarakat menurut para ahli (Prasiasa, 2017), di antaranya sebagai berikut.
1. Paul B. Horton
Masyarakat adalah kumpulan manusia yang memiliki kemandirian dengan bersama-sama untuk jangka waktu yang lama dan juga mendiami suatu daerah atau wilayah tertentu.
Di mana dalam wilayah tersebut memiliki kebudayaan yang tidak berbeda di dalam kelompok tersebut.
2. Linton
Masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang sudah lama hidup dan bekerja sama, sehingga akan terbentuk suatu organisasi. Hal yang mana, organisasi tersebut dapat mengatur setiap orang di dalam masyarakat dan bisa mengatur dirinya sendiri sebagai sebuah satu kesatuan sosial yang memiliki batas-batas tertentu.
3. Phil Astrid S. Susanto
Masyarakat atau society merupakan manusia sebagai satu kesatuan sosial dan suatu keteraturan yang ditemukan secara berulang-ulang.
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 16
4. Dannerius Sinaga
Masyarakat adalah orang yang menempati suatu wilayah, baik langsung maupun tidak langsung yang saling berhubungan sebagai usaha pemenuhan kebutuhan.
Adapun yang menjadi unsur dari masyarakat menurut Soerjono Soekanto, yang dikutip di dalam buku Pengantar Antropologi: Sebuah Ikhtisar Mengenal Antropologi (2019:52), sejumlah unsur masyarakat adalah sebagaimana kriteria berikut.
a. Beranggotakan paling sedikit dua orang atau lebih.
b. Seluruh anggota sadar sebagai satu kesatuan.
c. Berhubungan dalam waktu yang cukup lama, menghasilkan individu baru yang saling berkomunikasi, dan membuat aturan-aturan hubungan antaranggota masyarakat.
d. Menjadi sistem hidup bersama yang memunculkan kebudayaan dan keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat.
Berbagai pola tingkah laku yang khas menjadi pengikat satu kesatuan manusia yang kemudian disebut masyarakat.
Pola-pola tersebut harus bersifat tetap dan berkelanjutan agar menjadi kebudayaan. Kebudayaan dilahirkan dari proses berpikir manusia, yang kemudian diyakini sebagai nilai-nilai hidup. Dengan demikian, masyarakat dan kebudayaan tidak akan mungkin terpisahkan karena masyarakat adalah wadah kebudayaan itu sendiri (Sulaiman, et al., 2017). Menjadi
sistem hidup bersama yang memunculkan kebudayaan dan keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat.
Berbagai pola tingkah laku yang khas menjadi pengikat satu kesatuan manusia yang kemudian disebut masyarakat. Pola- pola tersebut harus bersifat tetap dan berkelanjutan agar menjadi kebudayaan. Kebudayaan dilahirkan dari proses berpikir manusia, yang kemudian diyakini sebagai nilai-nilai hidup. Dengan demikian, masyarakat dan kebudayaan tidak akan mungkin terpisahkan karena masyarakat adalah wadah kebudayaan itu sendiri.
Berkaitan dengan dinamika perkembangan masyarakat yang disebabkan oleh berbagai ikatan. Interaksi dan tingkah laku tersebut, terjadi klasifikasi jenis masyarakat yang terdiri dari masyarakat modern dan masyarakat tradisional (Sofia, 2021). Pengertian masyarakat modern adalah masyarakat yang sudah tidak terikat dengan adat istiadat.
Dalam masyarakat modern, adat istiadat dianggap dapat menghambat kemajuan. Oleh karena itu, masyarakat modern lebih memilih mengadopsi nilai-nilai baru yang lebih rasional dalam membawa kemajuan.
Sementara pengertian masyarakat tradisional merupakan masyarakat yang masih terikat dengan kebiasaan atau adat istiadat yang telah turun-temurun. Dengan kata lain, kehidupan masyarakat tradisional belum dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang berasal dari luar lingkungan sosialnya. Salah satu yang membedakan masyarakat
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 18
tradisional dengan masyarakat modern adalah ketergantungan masyarakat tradisional terhadap alam, ditandai dengan proses penyesuaian terhadap lingkungan alam.
Menurut kajian di atas, dapat dipahami bahwa masyarakat modern merupakan golongan masyarakat yang orientasi hidup dan nilai budayanya lebih terarah di masa kini. Kelompok ini juga dapat diartikan sebagai bentuk transformasi dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat yang lebih maju dalam bidang teknologi, ilmu pengetahuan, serta cara berpikirnya (Hatu, 2010). Dilihat dari perbedaan cara berpikirnya, masyarakat modern identik dengan negara maju, karena lebih berpikir rasional. Sedangkan, masyarakat tradisional sering dikaitkan dengan negara miskin, karena cara berpikirnya masih sering irasional.
Mengenai ciri dari masyarakat modern, dapat dilihat dari perspektif Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), yang menyebutkan bahwa salah satu ciri masyarakat modern ialah memberi apresiasi atas peran individu atau kelompok dalam kehidupan bermasyarakat.
Contohnya, memberi penghargaan ketika berhasil melakukan sesuatu dan lain sebagainya. Namun, hal ini bukan menjadi patokan yang pasti tentang ciri masyarakat modern. Karena dalam masyarakat tradisional pun, apresiasi juga sering diberikan kepada mereka yang berjasa.
Adapun yang menjadi ciri khas dari masyarakat modern menurut Study Lecture Notes, adalah sebagai berikut.
a. Sektor industri dan teknologi berkembang sangat pesat.
Ciri masyarakat modern yang paling utama dan mudah ditemui ialah perkembangan dalam sektor industri dan teknologi. Masyarakat modern sering mengembangkan atau memunculkan berbagai inovasi untuk mempermudah kehidupannya. Contohnya, penggunaan robot untuk meningkatkan efektivitas kerja, penggunaan mesin canggih untuk produksi barang, dan lain-lain.
b. Adanya urbanisasi. Urbanisasi merupakan perpindahan penduduk dari desa ke kota. Dalam masyarakat modern, banyak orang yang melakukan urbanisasi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi atau pendidikannya.
Contohnya, melakukan urbanisasi untuk bersekolah, bekerja di ibu kota, dan lain-lain. Urbanisasi hampir selalu terjadi dalam kehidupan masyarakat saat ini.
c. Pekerjaannya tidak bergantung pada alam dan bersifat heterogen. Mata pencaharian masyarakat modern tidak hanya berasal dari satu sektor saja, melainkan juga dari banyak sektor lainnya. Selain itu, masyarakat modern sudah tidak lagi bergantung langsung pada alam, yang mana hal ini masih dijalani oleh masyarakat tradisional.
Contohnya, masyarakat tradisional bercocok tanam untuk kebutuhan konsumsinya dan masyarakat modern mengolah bahan pangan (seperti beras, daging, dan susu) untuk kebutuhan konsumsinya. Contoh lainnya, masyarakat modern banyak yang bekerja di perkantoran, industri, bidang pendidikan, transportasi, dan lain-lain.
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 20
d. Peluang atau kesempatan kerjanya lebih tinggi.
Masyarakat modern sangat mengutamakan hasil yang maksimal dan serba cepat. Tentunya dengan tenaga kerja yang banyak, hasilnya akan lebih cepat dan maksimal.
Sehingga peluang kerjanya dapat terbuka lebih lebar dan juga mempengaruhi adanya urbanisasi. Contohnya, dalam bidang industri pangan, banyak tenaga manusia dibutuhkan untuk mengelola mesin, mengemas produk, dan lain sebagainya.
e. Adanya stratifikasi sosial. Dalam masyarakat modern, stratifikasi sosial atau pembagian kelas sosial berdasarkan ekonomi terlihat dengan jelas. Pembagian kelas sosial ini memperlihatkan dengan jelas adanya kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin. Contohnya, dari segi permukiman, penghasilan, gaya berpakaian, penggunaan alat komunikasi, dan lain-lain.
f. Tersedianya fasilitas perkotaan yang memadai. Masyarakat modern identik dengan negara maju. Salah satu indikatornya dapat dilihat dari fasilitas perkotaan yang memadai. Semakin canggih fasilitasnya, maka bisa dikatakan jika masyarakatnya semakin maju.
Contohnya, tersedianya halte bus, jaringan internet, sistem pembuangan limbah, pelabuhan udara, bandara, jalan raya, rumah sakit, sarana prasarana pendidikan yang memadai, dan lain-lain.
g. Bersikap individualistik. Sikap individualistik sangat melekat pada masyarakat modern. Sebaliknya, sikap kolektif masih melekat erat pada masyarakat tradisional.
Alasannya karena masyarakat modern lebih banyak mementingkan kepentingannya sendiri dibanding kepentingan umum. Contohnya, kurang menjalin komunikasi dengan orang sekitarnya, tidak peduli terhadap orang lain, serta menganggap jika pendapatnya harus selalu didengar dan dituruti.
h. Gerak mobilitas yang tinggi. Tingkat pendidikan yang lebih baik, adanya industrialisasi serta terbukanya peluang kerja yang luas membuat gerak mobilitas pada masyarakat modern lebih tinggi. Artinya masyarakat suka atau sering berganti pekerjaan, berpindah tempat tinggal ataupun daerah. Contohnya pengangguran mendapat pekerjaan, pindah ke pekerjaan yang dirasa lebih baik, berpindah tempat tinggal ke lokasi yang dianggap lebih aman atau nyaman, dan lain-lain.
C. Tujuan, Prinsip, dan Ruang Lingkup Program Pemberdayaan Masyarakat Modern
Adapun yang menjadi tujuan utama pemberdayaan adalah memperkuat kekuasaan masyarakat khususnya kelompok lemah yang memiliki ketidakberdayaan, baik karena kondisi internal (misalnya persepsi mereka sendiri), maupun karena kondisi eksternal (misalnya ditindas oleh struktur sosial yang
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 22
tidak adil). Ada beberapa kelompok yang dapat dikategorikan sebagai kelompok lemah atau tidak berdaya meliputi sebagai berikut.
a. Kelompok lemah secara struktural, naik lemah secara kelas, gender, maupun etnis.
b. Kelompok lemah khusus, seperti manula, anak-anak dan remaja, penyandang cacat, gay dan lesbian, serta masyarakat terasing.
c. Kelompok lemah secara personal, yakni mereka yang mengalami masalah pribadi atau keluarga.
Menurut Agus Syafi’i, tujuan pemberdayaan masyarakat adalah mendirikan masyarakat atau membangun kemampuan untuk memajukan diri ke arah kehidupan yang lebih baik secara seimbang. Karena pemberdayaan masyarakat adalah upaya memperluas horizon pilihan bagi masyarakat. Ini berarti, masyarakat diberdayakan untuk melihat dan memilih sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya.
Merujuk pada pendapat Najiyati, dkk (2014), terdapat empat prinsip yang sering digunakan dalam program pemberdayaan, yakni prinsip kesetaraan, partisipasi, keswadayaan/kemandirian, dan keberlanjutan.
Pertama, kesetaraan. Diksi ini berasal dari kata “setara"
atau sederajat yang berarti sama tingkatan, kedudukan, atau pangkatnya. Kesetaraan atau kesederajatan menunjukkan adanya tingkatan yang sama, kedudukan yang sama, tidak
lebih tinggi, atau tidak lebih rendah antara satu sama lain.
Kesetaraan inilah salah satu prinsip dasar dalam pemberdayaan masyarakat, yang harus dipahami secara bersama. Dalam konteks ini, kesetaraan atau kesejajaran kedudukan antara masyarakat dengan lembaga yang melakukan program- program pemberdayaan masyarakat maupun antara pihak- pihak yang terlibat dalam sebuah program pembangunan.
Tidak ada dominasi kedudukan atau subordinasi kedudukan di antara pihak-pihak yang terlibat. Semua dibangun dan dilakukan atas dasar kesamaan derajat dan kedudukan.
Dinamika yang dibangun adalah hubungan kesetaraan dengan mengembangkan mekanisme berbagi pengetahuan, pengalaman, serta keahlian satu sama lain. Masing-masing saling mengakui kelebihan dan kekurangan, sehingga terjadi proses saling belajar. Tidak ada arahan atau petunjuk, tidak ada atasan atau bawahan, tidak ada guru atau murid, tidak ada pembina atau yang dibina, serta tidak ada penguasa atau yang dikuasai. Kesalahan yang sering terjadi dalam proses pemberdayaan adalah pendamping atau pelaksana kegiatan memposisikan dirinya sebagai guru yang serba tahu.
Di sisi lain, masyarakat diposisikan sebagai murid yang harus diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan dengan cara mendengarkan yang disampaikan dan melaksanakan apa yang diperintahkan. Ini sering terjadi karena pendamping ingin mentransfer pengetahuan yang dimilikinya secara cepat, mengacu pada kemampuan dirinya tanpa memahami kemampuan dan kebutuhan masyarakat. Dalam banyak hal,
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 24
masyarakat justru memiliki pengetahuan yang cukup banyak tentang daerahnya, karena merekalah yang selama ini hidup, mengenali, dan merasakan permasalahan yang terjadi di desanya. Ini biasa disebut sebagai kearifan lokal (indigenous wisdom). Kesetaraan dalam hal ini juga berlaku untuk laki-laki dan perempuan, untuk golongan tua maupun golongan muda.
Semua individu dalam masyarakat mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat, sehingga mempunyai hak, kewajiban, dan tanggung jawab yang sama dalam melaksanakan suatu kebijakan atau program pembangunan dalam masyarakat.
Kedua, partisipatif. Esensi dari pemberdayaan masyarakat adalah partisipasi. Namun demikian, partisipasi masyarakat belum dapat disebut sebagai pemberdayaan apabila belum ada unsur memberikan kewenangan atau sebagian kewenangan dan memberikan dorongan untuk lebih berdaya. Selama ini, praktik-praktik pemberdayaan masyarakat yang dilakukan belum sepenuhnya memberikan kesempatan dan kebebasan kepada masyarakat untuk menentukan nasib dirinya sendiri melalui program-program pembangunan yang dibutuhkannya.
Kebanyakan program-program pembangunan yang telah ditetapkan, merupakan program yang sudah dirancang dan ditentukan oleh para pengambil kebijakan, baik pemerintah maupun lembaga yang mendanainya. Keterlibatan masyarakat masih sebatas pada mobilisasi, belum pada tahapan partisipasi.
Ketiga, keswadayaan. Banyak program pembangunan di masyarakat yang bersifat karitas, atau membagikan bantuan secara cuma-cuma. Agenda ini dalam praktiknya jauh lebih
dominan dari pada bantuan yang bersifat penguatan kapasitas dalam rangka menumbuhkan kemandirian dan keberdayaan.
Hal ini bisa dipahami, bahwa bantuan yang bersifat karitas, langsung dapat dinikmati oleh anggota masyarakat yang mendapatkan bantuan. Sementara itu, bantuan yang bersifat penguatan kapasitas, cenderung berproses secara lambat dan tidak langsung kelihatan hasilnya. Dalam proses pemberdayaan, bantuan atau dukungan untuk pengembangan kapasitas dan kemandirian, meskipun hasilnya baru dapat dinikmati dalam jangka panjang lebih diprioritaskan daripada bantuan yang bersifat karitas. Dukungan dan bantuan tersebut hanya bersifat stimulant, sedangkan sumber daya utama untuk pengembangan kapasitas dan kemandirian, sebagian besar berasal dari masyarakat sendiri. Upaya menumbuhkembangkan kapasitas dan kemandirian yang berasal dari sumber daya masyarakat sendiri inilah, yang disebut keswadayaan. Oleh karena itu, salah satu prinsip penting dalam pemberdayaan masyarakat adalah keswadayaan.
Keempat, berkelanjutan. Proses pemberdayaan masyarakat bukanlah proses yang instan, impulsif atau hanya sekadar menjalankan suatu program pembangunan belaka. Pemberdayaan masyarakat adalah proses yang terus-menerus, berkesinambungan dan berkelanjutan.
Hal ini penting untuk diperhatikan, mengingat banyak kegiatan pemberdayaan masyarakat yang hanya berorientasi pada program pembangunan yang dibatasi waktu dan pendanaannya. Apabila program tersebut sudah selesai,
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 26
pelaksana program dan masyarakat tidak memikirkan bagaimana kelanjutannya.
Hal di atas menunjukkan bahwa agenda pemberdayaan masyarakat masih bersifat project based, dan belum dapat dikatakan sebagai pemberdayaan masyarakat yang sesungguhnya. Salah satu yang menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah agenda pemberdayaan yang sebenarnya adalah prinsip keberlanjutan.
Keempat prinsip tersebut harus diterapkan secara simultan agar proses pemberdayaan dapat benar-benar menguatkan dan memandirikan masyarakat secara berkelanjutan. Prinsip memberikan power kepada yang powerless dalam proses pemberdayaan benar-benar dapat diwujudkan.
Indikator keberhasilan penerapan prinsip-prinsip pemberdayaan sebagaimana di atas, antara lain: (1) masyarakat benar-benar berperan sebagai aktor dalam pembangunan; (2) program pembangunan yang dilakukan benar-benar berbasis partisipasi masyarakat, di mana masyarakat sudah terlibat sejak penetapan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, hingga pada pengelolaan hasil-hasil pembangunan; (3) masyarakat berkontribusi sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki, baik berupa sumber daya alam, sumber daya manusia, ataupun sumber daya finansial; dan (4) program pembangunan yang dilakukan bukan sekadar berbasis proyek semata, tetapi dapat dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan.
Secara umum, ruang lingkup pemberdayaan didasarkan pada bidang-bidang yang sering menjadi objek dalam pemberdayaan masyarakat. Ndraha (2003) dan Supriyatna (tt), menentukan bahwa lingkup pemberdayaan masyarakat terdiri dari empat bidang yaitu bidang: (1) politik; (2) ekonomi; (3) sosial budaya; dan (4) lingkungan. Bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang, tidak secara spesifik disebutkan sebagai salah satu lingkup pemberdayaan. Hal ini dapat dipahami, mengingat bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang, berada pada keempat lingkup dan pembidangan tersebut.
Meskipun demikian, pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan dapat ditambahkan sebagai salah satu lingkup pemberdayaan masyarakat berdasarkan pada bidang- bidang pemberdayaan. Pemberdayaan pada lingkup politik diorientasikan agar masyarakat mempunyai bargaining position (daya tawar) yang tinggi apabila berhadapan dengan pihak- pihak terkait, baik pemerintah, kalangan LSM, maupun kalangan swasta yang mempunyai agenda atau proyek di wilayah masyarakat.
Daya tawar ini sangat dibutuhkan agar posisi masyarakat tidak menjadi subordinat dihadapan stakeholder yang lain.
Pemberdayaan pada lingkup ekonomi biasanya berhubungan dengan kemandirian dalam penghidupan masyarakat. Dalam hal ini, upaya-upaya produktif yang dapat menjadi sumber pendapatan atau menjadi gantungan hidup, menjadi fokus dalam lingkup pemberdayaan bidang ekonomi. Pemberdayaan
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 28
pada lingkup sosial budaya berhubungan dengan peningkatan kapasitas masyarakat, baik yang bersifat individual maupun kolektif.
Orientasi pemberdayaan pada lingkup sosial budaya ini berkisar pada penguatan soliditas masyarakat, pengurangan kerentanan terhadap konflik, serta penguatan solidaritas sosial. Dalam lingkup ini, termasuk juga kesadaran masyarakat terhadap kondisi masyarakat yang plural, baik secara etnik, kepercayaan/agama, maupun status sosialnya.
Pemberdayaan pada lingkup lingkungan berfokus pada upaya- upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan agar terjaga kelestariannya.
Upaya-upaya ini hanya bisa dilakukan apabila masyarakat memahami dan peduli terhadap kondisi lingkungan dan keberlanjutannya. Pemahaman dan kepedulian masyarakat ini hanya dapat tumbuh dan berkembang melalui upaya- upaya pemberdayaan. Pemberdayaan pada lingkup agraria, pertanahan, dan tata ruang sebetulnya bukanlah lingkup yang umum, namun disisipkan untuk menunjukkan bahwa lingkup pemberdayaan masyarakat perlu dikontekskan dengan tugas pokok dan fungsi kelembagaan yang mengatur tentang agraria, tata ruang, dan pertanahan.
Apabila lingkup ini dipersempit, lingkup pemberdayaan bidang pertanahan menjadi hal yang urgent. Dalam konteks ini, pemberdayaan pada lingkup pertanahan diorientasikan agar masyarakat menjadi berdaya ketika berhadapan dengan
persoalan-persoalan pertanahan. Keberdayaan ini menjadikan masyarakat terbebas dari dominasi aparatur pemerintah di bidang pertanahan yang berujung pada pelayanan pertanahan yang egaliter, adil, dan bebas pungli.
Apabila lingkup pemberdayaan masyarakat didasarkan pada proses, dapat dikategorikan ke dalam tiga hal, yakni: (1) pra pemberdayaan, yang berupa menciptakan ruang interaksi yang kondusif agar masyarakat merasa percaya diri dan mampu untuk menjadi pelaku pembangunan; (2) pelaksanaan pemberdayaan, yang menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan yang setara dengan pemangku kepentingan lainnya; dan (3) pasca pemberdayaan, dimaksudkan bahwa lingkup ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk terus berproses dalam pemberdayaan, meskipun keterlibatan pemangku kepentingan lain sudah berakhir karena keterbatasan waktu, penganggaran, dan kegiatan.
Dalam konteks ini, pemangku kepentingan di luar masyarakat secara institusional tetap terlibat dalam mendukung dan memfasilitasi dalam proses-proses pemberdayaan masyarakat yang terus-menerus berlangsung.
[Halaman ini sengaja dikosongkan]
A. Sekilas Sejarah Pemberdayaan Masyarakat di Indonesia
Empowerment atau pemberdayaan adalah sebuah konsep yang lahir sebagai bagian dari perkembangan alam pikiran dan kebudayaan masyarakat Barat, terutama Eropa. Konsep ini muncul sejak dekade 70-an dan kemudian terus berkembang sampai saat ini (Hutomo, 2000). Kemunculannya hampir bersamaan dengan aliran-aliran, seperti eksistensialisme, fenomenologi, personalisme, dan kemudian lebih dekat dengan gelombang neo-marxisme, freudianism, strukturalisme, dan sosiologi kritik Frankfurt School.
Bersamaan itu juga, muncul konsep-konsep elit, kekuasaan, anti establishment, gerakan populis, anti struktur, legitimasi, ideologi pembebasan, dan civil society. Konsep pemberdayaan juga dapat dipandang sebagai bagian dari
3
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
DI INDONESIA
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 32
aliran-aliran paruh abad ke-20, atau yang dikenal dengan aliran post-modernisme, dengan penekanan sikap dan pendapat yang orientasinya adalah anti sistem, anti struktur, dan anti determinisme, yang diaplikasikan pada dunia kekuasaan.
Perjalanan tentang pemberdayaan masyarakat di Indonesia tak lepas dari catatan sejarah sejak pra kemerdekaan bangsa Indonesia pada tahun 1945. Pada masa pra kemerdekaan 1945, pemberdayaan masyarakat di Indonesia dikenal dengan istilah “Pembangunan Masyarakat”. Berdasarkan pengertian pemberdayaan masyarakat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations seperti yang diadopsi dari buku yang ditulis oleh L. Nancy dan L. Roger, mencatat pembangunan masyarakat adalah, “as the process by which the efforts of the people themselves are united with those of governmental authorities to improve the economic, social, and cultural conditions of communities, to integrate these communities into the life of the nations, and to enable them to contribute fully to national progress” (2008:131).
Hal tersebut dimaknai bahwa, pembangunan masyarakat merupakan suatu proses di mana usaha-usaha dan potensi- potensi yang dimiliki masyarakat diintegrasikan dengan kemampuan pemerintah untuk meningkatkan kemajuan ekonomi, sosial, dan budaya suatu komunitas atau masyarakat agar mereka mampu berkontribusi penuh dalam kemajuan negaranya.
Sejarah mencatat, fokus pembangunan masyarakat pada masa itu di antaranya adalah pergerakan perjuangan
dalam bidang politik yang ditujukan untuk mengalahkan kependudukan kolonial Belanda dan bangsa Jepang dalam rangka merebut kemerdekaan bangsa lewat pertumbuhan partai-partai politik, gerakan pemupukan semangat kebangsaan dan pemupukan patriotisme, serta tumbuhnya gerakan-gerakan para pembelajar pribumi dalam bidang pendidikan dan ekonomi (Adnin, 2015).
Bentuk-bentuk pemberdayaan yang dilakukan tak lepas dari peran pendidikan non formal yang telah berkembang sejak dulu dalam bentuk magang dan belajar secara individual maupun berkelompok. Misalnya, dalam bidang pendidikan agama, pendidikan membaca Al-Qur’an atau pelajaran lain tentang agama Islam yang dikembangkan lewat pendidikan di madrasah atau langgar oleh guru mengaji atau tutor. Selain di langgar, pendidikan agama juga dilakukan di pesantren- pesantren oleh Kyai atau Ustadz yang pengajarannya didasarkan pada kemampuan santri-santrinya (Muchsin, et al., 2009).
Selain itu, pemberdayaan masyarakat dikembangkan pula oleh pemimpin pergerakan kemerdekaan dalam bentuk kursus kewanitaan, kursus pengetahuan umum dan politik, kepanduan atau kepramukaan, pendidikan olahraga bagi pemuda, dan memperbanyak taman bacaan dengan memajukan perpustakaan, serta penerbitan surat kabar dan majalah (Widayanti, 2012).
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 34
Pemberdayaan masyarakat dalam perjuangan politik pasca kemerdekaan menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan, bentuk-bentuk pemberdayaan lewat pendidikan nonformal pada masa ini meliputi: kursus pemberantasan buta aksara, kursus pengetahuan umum, pengadaan taman bacaan, penyuluhan, dan penerangan. Fokus pemerintah mulai berkembang pada pendidikan untuk masyarakat yang secara khusus dikelola oleh jawatan pendidikan masyarakat (Penmas) di bawah Kementrian Pendidikan, Pengkajian, dan Kebudayaan (PPK) yang didirikan pada 1 Agustus 1949 yang bertugas untuk membangun, menyadarkan, menginsafkan, dan mengisi masyarakat di luar dunia sekolah, agar tiap warga negara menjadi anggota masyarakat yang sadar untuk hidup berguna dan berharga bagi negara, nusa, bangsa, dan dunia (Hatu, 2010).
Bidang cakupan jawatan penmas dijelaskan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1950, di antaranya, yaitu menentukan corak, macam, serta isi pendidikan dan pengajaran kepada warga negara, baik di dalam maupun di luar sekolah, kecuali mengenai hal-hal agama. Pembangunan masyarakat desa menjadi perhatian pemerintah pada pasca kemerdekaan, karena sebagian besar masyarakat Indonesia tinggal di wilayah pedesaan. Pembangunan ditekankan pada upaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa. Implikasi titik pusat pembangunan pedesaan adalah manusia (masyarakat) (Tumanggor, 2007). Oleh karena itu, masyarakat merupakan
objek sekaligus subjek pembangunan. Masyarakat sebagai objek pembangunan, berarti pembangunan dilakukan terhadap masyarakat dan untuk masyarakat. Sedangkan, masyarakat sebagai subjek pembangunan, berarti pembangunan dilakukan oleh masyarakat.
Kini sasaran pemberdayaan masyarakat tidak sekadar berhubungan dengan masyarakat marginal dengan latar belakang kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan.
Namun, pemberdayaan bergerak dan melaju seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, budaya masyarakat, serta kebutuhan dan kondisi masyarakat itu sendiri. Perubahan dan pengembangan cakupan pemberdayaan masyarakat memberikan nuansa baru dalam menyediakan layanan pemberdayaan bagi masyarakat (Kamil, 2009:50).
Termasuk di dalamnya, kini mulai melayani segenap warga belajar agar tumbuh dan berkembang sedini mungkin dan sepanjang hayatnya, guna meningkatkan martabat dan mutu kehidupannya, membina warga belajar agar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah atau melanjutkan kembali ke tingkat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat terpenuhi dalam jalur pendidikan sekolah formal.
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 36
B. Dinamika Pemberdayaan Masyarakat di Indonesia
Membicarakan dinamika pemberdayaan masyarakat di Indonesia, mesti berangkat dari konsep dinamika sosial.
Dinamika sosial terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara manusia dan antarkelompok, sehingga antara mereka terjadi proses saling mempengaruhi yang menyebabkan terjadinya dinamika. Dinamika sosial yang terjadi pada masyarakat dapat berupa perubahan-perubahan nilai-nilai sosial, norma-norma yang berlaku di masyarakat, pola-pola perilaku individu, dan organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan- lapisan maupun kelas-kelas dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang. Dengan kata lain, perubahan sosial meliputi perubahan-perubahan organisasi sosial, status, lembaga, dan struktur sosial masyarakat (Sztompka, Alimandan, 2004:3).
Tiga hal yang menjadi prinsip dasar dalam program pemberdayaan (Reason dan Bradbury, 2002), yaitu pengetahuan, tindakan, dan kesadaran. Pengetahuan dianggap sebagai kekuatan yang dapat memberikan akses kuasa kepada subjek yang diberdayakan. Karena dengan memiliki pengetahuan, maka akan dapat meretas batas jaringan sosial dalam masyarakat. Namun, pengetahuan dan kuasa tersebut dianggap tidak mampu memberikan perubahan yang baik pada subjek yang diberdayakan, jika tidak dibarengi dengan tindakan yang melibatkan kuasa antara dua atau lebih pelaku yang diposisikan dalam mekanisme kekuasaan tersebut untuk
membentuk tindakan lainnya yang lebih besar (Hayward, 1998:15).
Selain itu, faktor kesadaran juga sangat mempengaruhi berhasil tidaknya suatu aktivitas pemberdayaan karena dengan mengetahui tingkat kesadaran dari subjek yang diberdayakan tersebut, maka akan bisa menentukan konsep pemberdayaan yang cocok untuk menjawab kesenjangan dan kemiskinan yang terjadi pada subjek. Paulo Freire sudah memberikan stratifikasi kesadaran, yaitu: (1) kesadaran magis (magical consciousness), yaitu kesadaran yang lebih menekankan pada penyebab masalah dan ketidakberdayaan masyarakat dari faktor luar dirinya, baik secara natural maupun supernatural;
(2) kesadaran naif (naival consciousness), yaitu kesadaran yang melihat aspek manusia sebagai akar penyebab masalah dalam masyarakat; dan (3) kesadaran kritis (critical consciousness), yaitu paradigma yang lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai masalah.
Dalam buku Empowerment the Politics of Alternative Development (John Friedmann, 1992), menegaskan dengan istilah “social power” sebagai cara mengentaskan kemiskinan, yang menganggap bahwa ada delapan dasar “social power” yang harus dimiliki rumah tangga agar mereka bisa berdaya, yaitu defensible life space, surplus time, knowledge and skills, appropriate information, social organization, social network, instrument of work and livelihood, dan financial resources.
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 38
Namun, kedelapan syarat dasar di atas juga harus didukung dengan relative acces rumah tangga yang diberdayakan terhadap masyarakat luas, karena konsep dasar ini lebih menekankan pada aspek rumah tangga sebagai unit terkecil dari masyarakat. Selain itu, Tjondronegoro (1984) juga mengungkapkan bahwa seyogyanya pembangunan untuk kesejahteraan rakyat berorientasi pada kelompok-kelompok yang berlandaskan wilayah (territorial communities) dan yang masih dapat memenuhi kebutuhan penduduknya yang membentuk masyarakat kecil secara demokratis.
Konsep ini dikenal dengan istilah sodality yang berkaitan dengan penguatan solidaritas kalangan warga desa (sodality), sehingga mereka bisa survive dan mampu bertahan, serta bangkit dari berbagai terpaan kondisi sosial ekonomi yang terjadi dalam masyarakat.
Pasca keruntuhan rezim Soeharto. Pemberdayaan menjadi pendekatan yang populis bagi seluruh pemangku kepentingan di Indonesia dalam hal ini pemerintah, swasta, dan CSO, meskipun pada kenyataannya pendekatan tersebut hanya sekadar di atas kertas semata. Program PNPM-MP dianggap berhasil dalam menerapkan pendekatan pemberdayaan dan strategi peningkatan inisiatif pembangunan oleh masyarakat itu sendiri, yang pada gilirannya dapat memberikan efek rembesan kepada non-pemanfaat.
Namun ternyata, belum memberikan pengaruh yang signifikan dalam hal memunculkan inisiatif masyarakat
dalam pembangunan, terutama yang berkaitan dengan efek rembesan dalam aspek ekonomi rumah tangga menjadi salah satu penekanan utama dalam konsep “social power” dari Friedmann (1992), yang menekankan bahwa rumah tangga adalah kekuatan utama dari pemberdayaan (Kolopaking, 2012).
Selain itu, PNPM-MP juga tidak memberikan pengaruh yang signifikan dalam menguatkan kelembagaan sosial pada masyarakat karena tidak berdasarkan prinsip lokal yang ada dalam masyarakat tersebut, sebagaimana konsep sodality Tjondronegoro (1984) yang menekankan menguatkan solidaritas masyarakat desa dalam upaya peningkatan ekonomi rumah tangga agar anggotanya berdaya. Proses seleksi desa yang menjadi target program, juga sangat kompetitif dan menimbulkan persaingan tidak sehat di antara desa.
Meskipun program ini cukup memberikan manfaat dari segi penguatan keorganisasian perangkat desa. Uraian di atas menunjukkan bahwa PNPM-MP masih perlu mengembangkan pendekatan yang secara langsung melibatkan masyarakat dan memperhatikan konteks ekososiologi, pengetahuan lokal, kelembagaan lokal, dan menguatkan kelembagaan sosial dalam pemberdayaan agar programnya tidak hanya terfokus pada aparat desa saja. Program CSR dirumuskan oleh Internal Standard Organization (ISO), Health, Environmental and Safety (HES), International Labour Organization (ILO), dan korporasi menjadi mitra pemerintah yang berkelanjutan dalam mengawal pembangunan.
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 40
Hanya saja, dari 258 standar CSR, secara proporsional 67% dibuat oleh perusahaan sendiri, 11% dibuat oleh kumpulan perusahaan, 8% dibuat melalui proses multi pihak, 7% dibuat oleh organisasi nonpemerintah, 3,5% dibuat oleh asosiasi kerja, dan 0,4% dibuat oleh pemerintah. Oleh karena itu, menurut penulis, CSR sebenarnya adalah pintu masuk terjadinya globalisasi di Indonesia yang menawarkan berbagai macam program bantuan yang sebenarnya tidak memberikan keuntungan langsung kepada masyarakat (Maghfiroh, 2015).
Berikut, beberapa agenda besar yang dimainkan oleh CSR dalam memprovokasi dan menyusupi kegiatan pembangunan di Indonesia, yakni melalui pengelolaan dampak lingkungan, mengembangkan modal manusia, penguatan ekonomi lokal, CSR di wilayah yang tidak stabil, dan mendorong tata pemerintahan yang baik. Hal tersebut yang menjadi cikal bakal adanya ketergantungan negara terhadap dana asing dalam pengelolaan pembangunan ekonomi.
C. Peran Pemerintah dalam Pemberdayaan Masyarakat
Pemikiran dasar sebuah kebijakan pemerintah (public policy) selalu diawali dari pemikiran tentang penyusunan atau perumusan, implementasi atau pelaksanaan, evaluasi, hingga akhirnya adalah penilaian. Semuanya itu memerlukan berbagai pemikiran yang rasional dan objektif, sehingga menciptakan keadilan dan martabat, tentunya akan memberikan manfaat
yang besar terhadap kehidupan bagi masyarakat umumnya dan lebih khusus bagi masyarakat itu sendiri (Saptawan, et al., 2020).
Kebijakan dapat disesuaikan dengan apa yang ingin dilakukan, sangat beragam, terkait dengan bidang keahlian dan tergantung pada konteks apa yang hendak digunakan.
Menurut Drucker (1978:44), efektivitas atau kebijakan adalah sesuatu tingkatan yang sesuai antara keluaran secara empiris dalam suatu sistem dan keluaran yang diharapkan. Sementara itu, menurut Bernard (dalam Gibson 1997:56), kebijakan adalah pencapaian sasaran dari upaya bersama di mana derajat pencapaian menunjukkan derajat pemberdayaan.
Kebijakan dapat digunakan sebagai suatu alat evaluasi efektif atau tindakannya. Menurut Zulkardi (dalam Wahyuningsih 2005:22), yang dapat dilihat dari kemampuan memecahkan masalah, keefektifan, dan tindakan, dapat diukur dari kemampuannya dalam memecahkan persoalan atau permasalahan yang dihadapi sebelum dan sesudah tindakan itu dilaksanakan, serta seberapa besar mengatasi persoalan (Krisnawati dan Farid Ma’ruf, 2016).
Menurut Drabkin (dalam Wahyuningsih 2005:22), kebijakan merupakan suatu hasil analisis yang mendalam terhadap berbagai alternatif yang bermuara kepada keputusan tentang alternatif terbaik. Menurut William N. Dunn (1994:34), kebijakan publik adalah sesuatu langkah pilihan- pilihan saling berhubungan yang dibuat oleh lembaga atau
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 42
pejabat pemerintah atau bidang-bidang yang menyangkut tugas pemerintahan.
Kebijakan publik adalah jalan mencapai tujuan bersama yang dicita-citakan bangsa Indonesia, untuk mencapai keadilan dan kemakmuran rakyat berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945 Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Konsep pembangunan yang selama ini dijalankan pemerintah nampaknya belum mampu menjawab tuntutan masyarakat yang menyangkut keadilan, pemerataan, dan keberpihakan kepada masyarakat, sehingga belum mengangkat sebagian penduduk yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Upaya pemerintah untuk meningkatkan keberpihakan pembangunan kepada kepentingan masyarakat, nampaknya tidak akan lepas dari pemberdayaan masyarakat (empowerment) sebagai model pembangunan yang berdimensi rakyat (Hidayat dan Warsono, 2020). Fungsi pemerintah dalam kaitannya dengan pemberdayaan, yakni mengarahkan masyarakatnya pada kemandirian dan pembangunan demi terciptanya kemakmuran di dalam kehidupan masyarakat.
Dalam hal ini, pemberdayaan masyarakat berarti tidak bisa dilepaskan dan diserahkan begitu saja kepada masyarakat yang bersangkutan. Pemberdayaan masyarakat yang optimal agar mampu memberdayakan diri menjadi lebih baik harus dengan terlibatnya pemerintah secara optimal dan mendalam.
Secara regulatif, pemberdayaan masyarakat banyak ditemukan pada pelbagai instrumen peraturan perundang-
undangan, baik yang tersurat secara langsung disebutkan pemberdayaan masyarakat, maupun yang tersirat berkenaan dengan pemberdayaan masyarakat.
Dengan berbagai interpretasi yang bervariasi, saat ini hampir semua departemen maupun Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) memiliki program pemberdayaan masyarakat sebagaimana terefleksi dalam renstranya masing- masing. Demikian juga di daerah, hampir semua dinas/
instansi juga memiliki program yang serupa. Beberapa daerah bahkan membentuk unit kerja otonom untuk mengawal proses koordinasi yang lebih baik dan menjamin terlaksananya pemberdayaan masyarakat yang lebih efektif di bawah gubernur/bupati/wali kota, yakni Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM). Berbagai model pemberdayaan masyarakat dalam dinamika pengembangannya, tidak luput dari peran pemerintah dalam memberdayakan masyarakat.
Banyak program pemberdayaan masyarakat yang digulirkan pemerintah melalui departemen maupun Lembaga Pemerintah Non Departemen, seperti PNPM Mandiri (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat), PEMP (Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir), PDMDKE (Pemberdayaan Daerah dalam Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi), KUBE (Kelompok Usaha Bersama), dan lain sebagainya. Program-program tersebut diyakini sebagai salah satu peran pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan menuju kemandirian masyarakat.
Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 44
Dari sekian banyak program yang digulirkan, sebagian besar mengarah pada aspek kemandirian ekonomi. Hal ini sejalan dengan arah pemberdayaan masyarakat guna melepaskan masyarakat dari belenggu kemiskinan dan keterbelakangan. Pemberdayaan dalam dimensi ekonomi seperti ini dimaknai sebagai akses masyarakat atas sumber pendapatan untuk hidup layak. Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang mandiri dan berdaya guna, yakni melalui pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM). Pemerintah tentunya memiliki peranan penting sebagai pemegang kebijakan (regulator), penggerak (dinamisator), dan fasilitator dalam upaya pemberdayaan masyarakat melalui UKM.
Beberapa literatur menyebutkan bahwa konsep pemberdayaan sudah lahir sejak revolusi industri, atau ada juga yang menyebut sejak lahirnya Eropa modern pada abad 18 atau zaman renaissance, yaitu ketika orang mulai mempertanyakan determinisme keagamaan. Kalau pemberdayaan dipahami sebagai upaya untuk keluar atau melawan determinisme gereja serta monarki, maka pendapat bahwa gerakan pemberdayaan mulai muncul pada abad pertengahan barangkali benar.
Konsep pemberdayaan mulai menjadi diskursus pembangunan, ketika orang mulai mempertanyakan makna pembangunan. Di Eropa, wacana pemberdayaan muncul ketika industrialisasi menciptakan masyarakat penguasa faktor produksi dan masyarakat pekerja yang dikuasai.