• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan dalam Program Pemberdayaan Masyarakat

Dalam dokumen PENGANTAR EDITOR (Halaman 73-80)

MANAJEMEN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

B. Perencanaan dalam Program Pemberdayaan Masyarakat

Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 56

manusia. Memang benar dan kita harus mengakui apabila pendekatan yang digunakan sepatutnya memiliki cakupan yang lebih luas dengan memperhitungkan berbagai sudut pandang masyarakat, sehingga dengan demikian tantangan yang sedemikian rumit dan berat apa pun bisa diatasi, yang di dalamnya mencakup perlunya antisipasi kemungkinan munculnya sikap penolakan dari masyarakat

B. Perencanaan dalam Program Pemberdayaan

Para agen/fasilitator pemberdayaan masyarakat, sangat perlu memahami betapa pentingnya tujuan dan manfaat tahapan perencanaan pada suatu program/kegiatan pembangunan kemasyarakatan, sehingga acuan utama suatu perencanaan benar-benar disusun berdasarkan aspirasi masyarakat sebagai calon penerima manfaat. Hal yang tidak kalah pentingnya dalam tahapan penyusunan perencanaan pembangunan kemasyarakatan adalah pelaksanaan identifikasi masalah.

Proses ini sangat penting karena merupakan media bagi para praktisi untuk mengetahui segala permasalahan yang terjadi pada suatu wilayah, potensi-potensi/sumber daya yang dimiliki (SDA, SDM, dan sumber daya buatan), baik yang telah dikelola maupun yang belum, kondisi sosial budaya masyarakat, kebutuhan utama masyarakat, dan lain sebagainya.

Namun hal yang harus diingat, bahwa kedudukan para praktisi adalah sebagai fasilitator, yang bertugas hanya mendampingi dan mengarahkan masyarakat untuk melakukan diskusi yang terbuka bersama-sama pihak lain yang terkait, dalam suasana persaudaraan dan kebersamaan, untuk mewujudkan tujuan bersama. Identifikasi masalah menurut Suharto (2010), sangat erat kaitannya dengan asesmen kebutuhan (need assessment). Suatu kebutuhan dapat didefinisikan sebagai kekurangan yang mendorong masyarakat untuk memenuhinya. Asesmen kebutuhan dapat diartikan

Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 58

sebagai penentuan besarnya atau luasnya suatu kondisi dalam suatu populasi yang ingin diperbaiki, atau penentuan kekurangan dalam kondisi yang ingin direalisasikan.

Berkaitan dengan asesmen kebutuhan tersebut, maka setidaknya ada lima kebutuhan dalam masyarakat, yaitu kebutuhan absolut, kebutuhan normatif, kebutuhan yang dirasakan, kebutuhan yang dinyatakan, dan kebutuhan komparatif.

Kebutuhan absolut (absolute need) adalah kebutuhan minimal/kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh manusia agar dapat mempertahankan hidupnya. Misalnya, manusia Indonesia membutuhkan makanan tiga kali sehari yang biasanya ditentukan dengan nilai kecukupan kalori. Nilai kalori ini oleh ahli disetarakan dengan nilai uang agar mudah dijadikan standar pengukurannya. Garis kemiskinan (poverty line) yang dirumuskan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) adalah contoh garis kemiskinan yang berpijak pada konsep kebutuhan absolut.

Selanjutnya, kebutuhan normatif (normative need) adalah kebutuhan yang didefinisikan para ahli/tenaga profesional.

Kebutuhan ini biasanya didasarkan pada standar tertentu.

Misalnya, penentuan kebutuhan gizi masyarakat tidak bisa dilakukan sembarangan oleh orang awam. Untuk menentukan kebutuhan masyarakat akan gizi, maka para ahli menentukan jumlah dan asupan makanan yang seharusnya dikonsumsi oleh manusia sesuai dengan golongan usianya.

Sementera kebutuhan yang dirasakan (felt need) adalah sesuatu yang dianggap atau dirasakan orang sebagai kebutuhannya. Kebutuhan ini merupakan petunjuk tentang kebutuhan yang nyata (real need). Akan tetapi, kebutuhan ini berbeda antara orang yang satu dengan orang lainnya, karena sangat tergantung pada persepsi orang yang bersangkutan tentang sesuatu yang diinginkannya pada suatu waktu tertentu.

Kemudian, kebutuhan yang dinyatakan (stated need) adalah kebutuhan yang dirasakan, yang diubah menjadi kebutuhan berdasarkan banyaknya permintaan. Besarnya kebutuhan ini tergantung pada seberapa besar orang yang membutuhkan pelayanan sosial.

Terakhir, kebutuhan komparatif (comparative need) adalah kesenjangan (gap) antara tingkat pelayanan yang ada di wilayah-wilayah yang berbeda untuk kelompok masyarakat yang memiliki karakteristik sama.

Aristiono Nugroho dan kawan-kawan (2014) menjelaskan, bahwa ada dua hal penting dalam memaknai pemberdayaan masyarakat. Pertama, to give power or authority, yaitu suatu ikhtiar untuk memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan, atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain (yang diberdayakan).

Kedua, to give ability to or enable, yaitu suatu ikhtiar untuk memberi kemampuan atau keberdayaan.

Berdasarkan hal ini, maka kegiatan pemberdayaan masyarakat merupakan kegiatan yang dirancang khusus

Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 60

untuk memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan, atau mendelegasikan sebagian otoritas kepada masyarakat. Selain itu, kegiatan pemberdayaan masyarakat merupakan kegiatan yang dirancang khusus untuk memberi kemampuan atau pemberdayaan kepada masyarakat.

Pada akhirnya, kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dirancang oleh stakeholders akan menimbulkan siklus, yang menurut Maritta Torronen dan kawan-kawan (2013) sebagai berikut: (1) menciptakan social relationship; (2) dilanjutkan dengan reciprocity; (3) sehingga menghasilkan trust; dan (4) kemudian semakin memperkuat social relationship.

Perencanaan pemberdayaan masyarakat memegang peranan penting dalam proses perwujudan masyarakat berdaya. Setiap program yang akan dilakukan akan dirancang dan disesuaikan dengan perkembangan masyarakat yang ada (Hidayat dan Warsono, 2020). Ada beberapa aspek yang menjadi latar belakang untuk perencanaan suatu program antara lain:

1. untuk memperoleh suatu pedoman yang jelas tentang tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai;

2. untuk memperoleh suatu pedoman yang mengandung daftar apa saja hal-hal yang sebaiknya dilakukan dan cara yang tepat untuk melakukannya;

3. untuk memperoleh satu pedoman yang bersifat tertulis dan dapat digunakan oleh masyarakat;

4. untuk memperoleh suatu pedoman dalam pemilihan keputusan yang akan diambil saat adanya suatu saran atau usulan yang baru;

5. suatu pedoman untuk memberikan peringatan yang jelas terhadap adanya kepentingan yang bersifat masalah insidental, serta adanya suatu pemantapan dari suatu perubahan-perubahan yang terjadi.

6. adanya suatu pencegahan dalam menanggapi terjadinya suatu kesalahpahaman pada tujuan akhir, serta upaya untuk meningkatkan suatu perkembangan terhadap kebutuhan yang diperlukan suatu program;

7. setiap anggota atau komponen yang tergabung akan terlibat dalam suatu proses pelaksanaan secara langsung dan mengikuti arus evaluasi hingga suatu program yang diharapkan tercapai;

8. setiap anggota atau komponen yang tergabung akan terdidik untuk meningkatkan suatu kemampuan dalam memimpin dan mengatur suatu program;

9. adanya suatu manajemen yang dapat mengurangi sumber daya yang dimiliki, baik berupa biaya, waktu, ataupun tenaga dan meningkatkan suatu efisiensi dalam program;

dan

10. adanya suatu jaminan untuk meningkatkan suatu kualitas program yang akan dilakukan.

Desain Pemberdayaan Masyarakat Modern 62

Perencanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat merupakan sesuatu hal yang penting bagi masyarakat, karena realisasi kegiatan ini dapat memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan, mendelegasikan sebagian otoritas, dan membangun suatu kemampuan atau keberdayaan masyarakat (Zaili, et al., 2020). Tetapi beberapa hal penting ini dapat dirancang dan ditempuh secara berbeda berdasarkan pendekatan dalam pelaksanaan pemberdayaan masyarakat yang dipilih oleh stakeholders.

Sebagai contoh. Pertama, ada pendekatan neo-liberal, yang berpandangan bahwa dalam rangka pemberdayaan masyarakat, maka kekuatan pasar perlu diperluas sebesar-besarnya, dan pertumbuhan ekonomi dipacu setinggi-tingginya. Kedua, ada pendekatan sosial demokrat, yang berpandangan bahwa dalam rangka pemberdayaan masyarakat, maka kebutuhan masyarakat harus dipenuhi, dan ketidaksetaraan serta eksploitasi di bidang ekonomi dan relasi sosial dieliminasi.

Ketiga, ada pendekatan yang ditawarkan oleh H.S. Dillon, yang menyatakan bahwa pemberdayaan masyarakat harus didahului dengan pemahaman bahwa kebijakan atau program anti kemiskinan akan dapat berhasil, apabila kaum miskin menjadi aktor utama dalam perang melawan kemiskinan.

Oleh karena itu, untuk memberdayakan masyarakat miskin, dibutuhkan kepedulian, komitmen, kebijakan, dan program yang tepat (Margolang, 2018).

Sementara itu, secara umum perencanaan program pemberdayaan masyarakat memiliki manfaat sebagai

berikut. Pertama, meyakinkan adanya upaya untuk memberi authority (wewenang) kepada masyarakat, dalam melakukan perubahan tertentu, sebagai respons atas situasi dan kondisi yang dihadapinya. Kedua, meyakinkan adanya upaya untuk menumbuhkan confidence (rasa percaya diri) dan competence (kesanggupan) masyarakat, untuk melakukan berbagai perubahan. Ketiga, meyakinkan adanya upaya untuk menanamkan truth (keyakinan) pada masyarakat, bahwa potensi yang mereka miliki dapat dimanfaatkan dan dikembangkan sesuai dengan kepentingan masyarakat yang bersangkutan. Keempat, meyakinkan adanya upaya untuk memberi opportunity (kesempatan) pada masyarakat, agar mampu dan bersedia untuk mengembangkan diri melalui berbagai perubahan tertentu yang akan dijalankan. Kelima, meyakinkan adanya upaya yang membangkitkan responsibility (rasa tanggung jawab) masyarakat, agar bersedia melakukan perubahan tertentu bagi pemenuhan kepentingannya. Keenam, meyakinkan adanya upaya untuk memberi support (dukungan) pada masyarakat, sehingga perubahan dapat dilakukan, dan kepentingannya dapat dipenuhi (Nugroho, 2013).

Dalam dokumen PENGANTAR EDITOR (Halaman 73-80)