• Tidak ada hasil yang ditemukan

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

Dalam dokumen BIDANG ARSIP DAN MUSEUM (Halaman 21-35)

24

-harga minyak bumi yang drastis selama tabun 1986/1987. Sementara itu penerimaan dalam negeri di luar minyak bumi dan gas alam sebesar Rp ·9. 803,0 milyar terse but adalab Rp 1. 708,7 milyar (21, 1 persen) Iebib tinggi dari anggaran induknya sebesar Rp 8. 094,3 milyar. Bila dibandingkan dengan realisasi APBN tabun 1985/1986, maka jumlab terse but menunjukkan kenaikan sebesar Rp 1. 694,6 milyar (20, 9 persen). Lebih tingginya perkiraan penerimaan dalam negeri di luar minyak bumi dan gas alam tersebut adalab berkat usaha yang sung-guh-sungguh dalam meningkatkan penerimaan dalam negeri di luar minyak bumi dan gas alam, kbususnya penerimaan pajak. Hal ini tercermin dari lebib besarnya perkiraan realisasi penerimaan pajak pertambahan nilai, bea masuk, cukai, serta pajak lainnya, masing-masing sebesar Rp 756,8 milyar (35,3 persen), Rp 380,1 milyar (65,5 persen), Rp 1,0 milyar (0,1 persen), dan Rp 71,4 milyar (60,0 persen) dari rene ana semula. Dalam pada itu peningkatan efisiensi di bidang pengolaban minyak di dalam negeri serta penurunan harga minyak dalam tahun 1986/1987, telah memberikan dampak positif yaitu lebib rendahnya biaya produksi ciibandingkan basil penerimaan penju-alannya, sehingga dalam tahun 1986/1987 diperoleb penerimaan dari penjualan BBM yang diperkirakan sebesar Rp 1. 0 10,0 milyar. Di lain pibak realisasi penerimaan pajak penghasilan dan pajak atas bumi dan bangunan dip~rkirakan lebih rendah, masing-masing Rp· 610,0 milyar (21,2 persen) dan Rp 94,0 milyar (33,1 persen), dari sasaran yang dianggarkan. Sedangkan pajak at as ekspor menunjukkan jumlah yang mendekati rencananya dalam A PB N 1986/1987.

Realisasi penerimaan pajak pertambaban nilai dalam tahun anggaran 1986/1987 diperkirakan mencapai jumlah sebesar Rp 2 .. 900, 1

Mily•

r. . .•.

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

25

-milyar. Jumlab tersebut berarti Rp 756,8 milyar (35,3 persen) lebib tinggi dari rencana semula, dan berarti juga Rp 573,4 milyar (24,6 persen) lebib · tinggi bila dibandingkan dengan realisasi penerimaan pajak pertambaban nilai dalam tabun anggaran 1985 I 1986 sebesar Rp 2. 326,7 milyar. Berkembangnya penerimaan pajak pertambaban nilai tersebut terutama didukung oleb pelaksanaanw·'Undang-undang Nomor 8 tabun 1983, didalam rangka menggali sumber-sumber penerimaan negara di luar migas. Sifat pajak pertambaban nilai yang sederbana, tarifnya yang tunggal, serta tidak menimbulkan pajak berganda, telab memberikan sumbangan yang besar bagi keberbasilan dalam penerimaan dari jenis pajak ini.

Sementara itu realisasi penerimaan bea masuk diperkirakan mencapai Rp 960, l milyar, a tau 65,5 per sen lebi b tinggi dari sasaran semula dalam APBN 1986/1987. Lebib tingginya realisasi ini berkaitan dengan masih cukup besarnya nilai barang-barang impor yang kena bea masuk walaupun terjadi perubaban kurs yang cukup besar dengan adanya devaluasi tanggal 12 September 1986 yang lalu. Sedangkan peningkatan yang terjadi dalam penerimaan cukai dicapai melalui penyelesaian tunggakan-tunggakan cukai yang tersisa, kecermatan dalam verifikasi fisik, dan administrasi terbadap obyek cukai, di samping berbagai langkah penyesuaian pita cukai dan harga dasar dalam penetapan cukainya. Adapun penerimaan dalam pajak ekspor dapat mencapai sasaran seperti yang dianggarkan dalam anggaran induknya, yakni sebesar Rp 78,8 milyar. Perkembangan penerimaan pajak ini terkait erat dengan upaya Pemerintab mendorong ekspor non migas. Mengenai penerimaan bukan pajak yang dalam tabun anggaran 1986/1987 diperkirakan sebesar Rp 1.147, 3 milyar, realisasinya adalab

Rp.

193,4 ; ••••

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

26

-Rp 193,4! milyar lebib tinggi dari sasaran semula dalam APBN 1986/

1987. Penerimaan bukan pajak tersebut sebagian besar berasal dari bagian Pemerintah atas laba perusahaan negara dan bank negara, serta berbagai jenis penerimaan lainnya. Meningkatnya penerimaan bukan pajak bersumber dari · peningkatan dalam penerimaan di vi den dari badan usaha milik negara, khususnya bank negara, serta usaha intensifikasi dan ekstensifikasi penerimaan bukan pajak di berbagai departemen/lembaga non departemen. Dalam pada itu realisasi peneri-maan pajak lainnya, yang terdiri dari peneripeneri-maan bea lelang dan bea meterai, dalam tahun 1986 I 1987 diperkirakan mencapai Rp 190,4 mil-yar, atau berarti Rp 71,4 milyar (60,0 persen) lebih tinggi dari rencananya. Lebih tingginya realisasi penerimaan pajak lainnya ini antara lain disebabkan oleh semakin meningkatnya pemakaian meterai oleb masyarakat sesuai dengan kemudaban dan kesederhanaan yang terdapat dalam pelaksanaan JUndang-undang Bea Meterai yang baru, serta penyempurnaan dalam pelaksanaan lelang.

Mengenai jenis-jenis penerimaan dalam negeri di luar minyak bumi dan gas a lam yang diperkirakan lebi b renda h dari rencana semula dalam A PB N 1986 I 1987, kiranya dapat dijelaskan sebagai beri-kut. Perkiraan realisasi penerimaan ·pajak penghasilan dalam tahun anggaran 1986/1987 adalah sebesar Rp 2.270,5 milyar, atau Rp 610,0 milyar lebib rendah dari sasaran semula. Lebih rendahnya perkiraan realisasi dari sasaran semula tersebut tidak terlepas dari perkem-bangan perekonomian dunia yang mempengarubi perekonomian Indone-sia, sehingga mempengarubi pula pengbasilan perseorangan maupun laba badan usaba, yang merupakan obyek pajak penghasilan. Di samping itu penerimaan pajak penghasilan dari sektor badan usaha

jug~ ••••

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

27

-juga dipengaruhi oleh kebijaksanaan Pemerintah yang mengijinkan badan usaha untuk melakukan penilaian kembali kekayaannya dengan adanya perubahan nilai tukar rupiah. Penerimaan pajak bumi dan bangunan dalam tahun 1986/1987 realisasinya diperkirakan sebesar Rp 190,0 milyar, atau Rp 94,0 milyar lebih rendah dari yang direnca-nakan dalam A PB N yang besarnya Rp 284,0 milyar. Tidak tercapainya sasaran penerimaan tersebut terutama adalah karena pelaksanaan dari pada _:Undang-undang Pajak Bumi dan Bangunan yang baru saja di-mulai, sehingga masih diperlukan waktu untuk mencapai basil seperti yang diharapkan. :'Untuk itu terus dijalin kerjasama dengan Pemerintah Daerah, dalam pembinaan administrasinya, penetapan dan penagihan-nya, serta peningkatan penyuluhan pajak bumi dan bangunan.

Saudara Ketua dan Para Anggota Dewan Yang Terhormat,

Beralih kepada masalah pengeluaran negara yang terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan, yang realisasinya dalam tahun 1986/1987 diperkirakan masing-masing sebesar Rp 13.55 9, 3 milyar dan Rp 8. 332, 1 milyar, dapat dijelaskan sebagai berikut.

Realisasi pengeluaran rutin adalah Rp 433,7 milyar (3, 3 per-sen) lebih besar dari sasaran semula dalam APBN 1986/1987. Bertitik tolak dari keadaan penerimaan negara, maka pengeluaran rutin senan-tiasa diusahakan dikendalikan melalui penghemQtan-penghematan, tanpa mengorbankan kelancaran jt.1lannya roda pemerintahan. Dari lima komponen pengeluaran rutin, dua komponen realisasinya diperkirakan lebih rendah dari sasaran semula, yaitu pembiayaan cadangan pangan serta pengeluaran rutin lainnya, masin g-masing 93,0 per sen dan 45,5

persen ••••

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

28

-persen lebih kecil dari sa saran semula dalam A PBN 1986/1987. Pembia-yaan cadangan pangan yang semula dianggarkan sebesar Rp 417,4 milyar, realisasinya diperkirakan sebesar Rp 29,4 ~ milyar, sedangkan pengeluaran rutin lainnya yang sa saran semula sebesar . Rp 266,2 milyar, realisasinya d.iperkirakan sebesar Rp 145,0 milyar. Menurun-nya pengeluaran rutin lainMenurun-nya adalah karena tidak lagi diperlukan subsidi untuk bahan bakar minyak. Sedangkan komponen pengeluaran rutin dalam tahun anggaran 1986 I 1987 yang diperkirakan lebih besar dari yang dianggarkan meliputi pengeluaran rutin untuk belanja pegawai, pembayaran bungalcicilan hutang, dan subsidi daerah oto-nom. Semen tara itu pengeluaran rutin untuk belanja barang realisasi-:-nya kurang lebih sama dengan anggaran indukrealisasi-:-nya, yakni sebesar Rp 1. 366,5 milyar.

Realisasi pengeluaran belanja pegawai dalam tahun 198611987 diperkirakan mencapai jumlah sebesar Rp 4. 310,6 milyar, a tau Rp 98,0 milyar (2,3 persen) lebih besar dari rencananya dalam APBN 19861 1987. Lebih besarnya realisasi tersebut terutama disebabkan oleh adanya penambahan formasi pegawai dan tambahan pengeluaran untuk belanja pegawai luar negeri sebagai akibat penyesuaian kurs rupiah.

Pembayaran bunga dan cicilan hutang dalam tahun 198611987 diperkirakan mencapai jumah Rp 5. 058, t milyar, yang berarti Rp 834,9 milyar at au 19,8 persen lebih tinggi dari rencananya dalam A PB N. Penyesuaian nilai tukar rupiah dalam bulan September 1986 merupakan sebab utama daripada meningkatnya pembayaran hutang luar negeri.

Realist1si peng~luaran untuk subsidi daerah otonom dalam tahun 1986 I 1987 diperkirakan menunjukkan sedikit peningkatan dari

rencana-ny~ · d~l~"$ •••••

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

29

-nya dalam APBN 198611987 sebesar Rp 2.639., 7 milyar. Lebih tinggi-nya realisasi su·bsidi daerah otonom ini terutama disebabkan oleh adanya penambahan g":lru sekolah dasar Inpres, tenaga perawat dan tenaga medis Puskesmas, yang lebih besar dari yang~ direncanakan dalam anggaran induknya.

Saudara Pimpinan dan Sidang Yang terhormat,

..:Upaya memelihara laju pembangunan pada tingkat yang mema-dai, ditengah-tengah situasi perekonomian dunia yang tidak mengun-tungkan dewasa ini serta kemerosotan harga minyak yang sangat drastis, telah menjadi semakin sulit. Hal terse but tercermin an tara lain pada perkembangan perekonomian Indonesia serta langkah penye-suaian sebagai akibat dari perkembangan terse but di bidang APBN.

Volume APBN 198611987 yang dianggarkan lebih rendah dari volume A PB N 1985 I 1986, dalam pelaksanaannyapun juga tidak terlepas dari kendala dan kesulitan dalam mencapai sa saran penerimaan, semen tara tingkat pengeluaran tidak mungkin untuk bisa ditekan lagi. Sebagai akibatnya maka tabungan Pemerintah yang diperlukan untuk membiayai anggaran pembangunan menjadi lebih rendah daripada yang direncana-kan. Realisasi tabungan Pemerintah. dalam tahun 1986 I I .987 adalah sebesar Rp 2. 581,3 milyar yang berartl 45,2 persen lebi h rendah daripada yang direncanakan semula. Situasi yang sulit ini telah me-maksa Pemerintah untuk mengadakan pinjaman komersial untuk meme-nuhi kebutuhan pembiayaan pengeluaran pembangunan. Namun demiki-an pinjamdemiki-an ini hdemiki-anyalah dilakukdemiki-an karena keadademiki-an terpaksa ddemiki-an bersifat sementar&, semata-mata berdasarkan pertimbangan beratnya situasi keuangan negara pada dewasa ini serta sifat pinjaman itu

sendiri ••• ·•

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

30

-sendiri. JUntuk itu maka dalam tahun 1986/1987 Pemerintah telah melakukan pinjaman komersial yang dapat dirupiahkan sebesar Rp 1.876,1 milyar. Ditambah dengan realisasi bantuan program murni, yang dalam tahun 1986 I 1987 sebesar Rp 81,4 milyar, maka bantu an program secara keseluruhan dalam tahun 1986 I 1987 diperkirakan

·meneapai jumlah sebesar Rp 1. 957,5 milyar. Semen tara itu realisasi penerimaan bantuan proyek dalam tahun 198611987 realisasinya diper-kirakan mencapai jumlah sebesar Rp 3. 794,7 milyar, yang berarti Rp 287 milyar atau 8,2 persen lebih besar dari rencananya. Dalam jumlah bantuan proyek tersebut sudab termasuk bantuan proyek yang merupakan bantuan pembiayaan lokal (cofinancing) dari Bank Exim Jepang sebesar Rp 604,5 milyar, yang digunakan sebagai dana pen-damping sejumlah proyek yang memperoleh pembiayaan dari Bank Dunia.

Keseluruhan pengeluaran pembangunan dalam tahun 1986/1987

d~ngan demikian realisasinya diperkirakan berjumlah Rp 8. 332, 1 milyar, yang berarti Rp 36, 1 milyar at au 0, 4 persen lebih besar dari rencananya. Pengeluaran pembangunan tersebut terdiri dari pembiaya-an rupiah sebesar Rp 4.537,3 milyar dan pengeluaran pembangunan dalam bentuk bantuan proyek sebesar Rp 3. 794,8 milyar. Realisasi pembiayaan pembangunan rupiah adalab Rp 251 milyar atau 52,0 persen lebih rendah pari sasaran semula, sedangkan realisasi bantuan proyek adalab Rp 3. 794,8 milyar at au 8, 2 persen lebih tinggi dari semula. Realisasi pembiayaan rupiah tersebut terdiri atas perkiraan realisasi pembiayaan sektoral, bantuan pembangunan daerah, dan pembiayaan pembangunan lainnya, masing-masing sebesar Rp 2. 003,5 milyar, Rp 1.466,5 milyar, dan Rp 1.067,3 rriilyar. Keseluruhan jenis

p~ng~lu:;sran

••••

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

31

-pengeluaran pembiayaan rupiah tersebut, realisasinya diperkirakari lebih rendah dari rencana semula. Lebih rendahnya perkiraan realisasi pembiayaan rupiah tersebut terutama disebabkan oleh lebih rendahnya pengeluaran rupiah bantu an pembangunan daerah, dengan penurunan yang cukup besar terjadi pada pengeluaran pembangunan prasarana jalan.

Saudara Ketua dan Para Anggota Dewan Yang Terhormat,

Selanjutnya perkenankanlah Pemerintah memberikan penjelasan mengenai Perhitungan Anggaran Negara Tahun Anggaran 198311984 serta Perhitungan Anggaran Negara Tahun Anggaran 1984 I 1985. Sejak disampaikannya Perhitungan Anggaran Negara Tahun 1967, maka perhitungan anggaran negara yang diajukan ini merupakan yang ke delapan belas dan kesembilan belas. Realisasi dari Anggaran Penda-patan dan Belanja Negara Tahun 1983 I 1984 dan 1984 I 1985 tersebut dapat dijelaskan sebagai beri.kut.

Pendapatan Rutin

Dalam tahun anggaran 198311984, real:lsasi pendapatan mencapai jumlah sebesar Rp 16.366,7 milyar, yang terdiri dari pajak langsung sebesar Rp 13.476,5 milyar, pajak tidak langsung sebesar Rp 2.377,9 milyar, dan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 512,3 milyar. Reali-sasi pendapatan rutin sebesar Rp 16.366, 7 milyar terse but apabila dibandingkan dengan anggarannya menunjukkan Rp l. 934,0 milyar atau 13,4 persen lebih tinggi dari pada anggarannya. Sementara itu dalam tahun anggaran 1984 I 1985, realisasi pendapatan rutin mencapai jumlah sebesar Rp 15.931,3 milyar, yang terdiri dari penerimaan

miny~k ••••

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

32

-minyak bumi dan gas alam sebesar Rp 10.429,9 milyar, penerimaan di luar min yak bumi dan gas alam sebesar Rp 4. 7 93,7 milyar, dan pene-rimaan bukan pajak sebesar Rp 707,7 milyar. Realisasi pendapatan rutin sebesar Rp 15. 931 , 3 milyar terse but apabila dibandingkan . de-ngan anggarannya menunjukkan Rp 25,8 milyar atau 0, 16 persen lebih tinggi dari pada anggarannya.

Belanja Rutin

Realisasi belanja rutin selama tabun 1983/1984 tercatat sebesar Rp 10.215,2 milyar, yang berarti Rp 1. 803,8 milyar a tau 21 , 4 persen lebih tinggi bila dibandingkan dengan jumlah yang dianggarkan.

Belanja rutin ini dipergunakan untuk membiayai belanja pegawai, belanja barang, subsidi daerah otonom, pembayaran bunga dan cicilan hutang, serta lain-lain pengeluaran rutin. Lebih besarnya realisasi belanja rutin ini terutama disebabkan lebih besarnya realisasi lain-lain pengeluaran rutin. Dalam pada itu realisasi belanja rutin selama tahun 1984/1985 tercatat sebesar Rp 9.405,9 milyar, yang berarti Rp 23,1 milyar atau 0, 24 persen lebih rendah bila dibandingkan dengan jumlah yang dianggarkan. Adapun lebih renda-hnya realisasi belanja rutin dari pada rencananya dalam tahun anggaran 1984/1985 ini disebabkan lebih kecilnya realisasi belanja barang, subsidi daerab otonom, penge-luaran untuk bunga dan cicilan hutang, serta lain-lain pengepenge-luaran rutin.

Tabungan Pemerintah

Realisasi tabungan Pemerintah dal-am tahun anggaran 1983/1984 mencapai jumlah· sebesar Rp 6.151,5 milyar. Bila dibandingkan dengan

inggaranny~ •••••

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

33

-anggarannya sebesar Rp 6. 020,9 milyar, maka terlibat babwa realisasi tabungan Pemerintab tersebut menunjukkan Rp 130,6 milyar atau 2,2 persen di atas anggarannya. Dalam tabun anggaran 1984/1985 realisasi tabungan Pemerintab mencapai jumlab sebesar Rp 6. 525,4 milyar. Bila dibandingkan dengan anggarannya sebesar Rp 6. 476,5 milyar, maka terlihat bahwa realisasi tabungan Pemerintah ini menunjukkan Rp 48,9 milyar atau 0, 75 persen diatas anggarannya.

Pendapatan Pembangunan

Pendapatan pembangunan terdiri dari nilai lawan bantuan program dan bantuan proyek. Realisasi pendapatan pembangunan dalam tahun anggaran 1983/1984 adalab sebesar Rp 2. 543, I milyar, yang berarti Rp 1.339,3 milyar atau 34,5 persen di bawab anggaran-nya. Sementara itu realisasi pendapatan pembangunan dalam tahun anggaran 1984/1985 adalab sebesar Rp 1. 780,7 milyar, yang berarti Rp 1.697,3 milyar atau 48,8 persen di bawab anggarannya.

Belanja Pembangunan

Realisasi seluruh belanja pembangunan dalam tahun anggaran 1983/1984 tercatat sebesar Rp 8.557,0 milyar, yang berarti Rp 1.342,2 milyar at~u 13,6 persen lebih rendab bila dibandingkan dengan jumlab yang dianggarkan. Hal ini disebabkan karena lebih kecilnya realisasi pembiayaan rupiah dan pembiayaan pembangunan melalui bantuan pro-yek. Adapun realisasi belanja pembangunan rupiah dalam tahun 1983/

1984 adalah berjumlah sebesar Rp 8.028,8 -milyar, atau 2,9 milyar lebi h rendab dari jumlab yang dianggarkan. Dalam tabun anggaran 1984/1985 realisasi seluru b belanja pembangunan tercatat sebesar

Rp

8.37tl-,8 •••••

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

34

-Rp 8. 37 4, 8 milyar, yang berarti -Rp 1. 577, 1 milyar a tau 15,8 persen lebib rendab bila dibandingkan dengan jumlab yang dianggarkan. Hal ini disebabkan karena lebib kecilnya realisasi pembiayaan

pembangun-an melalui bpembangun-antupembangun-an proyek. Sedpembangun-angkpembangun-an realisasi b_elpembangun-anja pembpembangun-angunpembangun-an rupiah dalam tabun 1984/1985 berjumlab sebesar Rp 663,4 milyar, atau Rp 120,2 milyar (22, 1 persen) lebib tinggi dari jumlab yang dianggar-kan.

Saldo-anggaran -lebib /kurang

Berdasarkan realisasi penerimaan dan pengeluaran seperti diuraikan di at as, dalam tahun anggaran 1983/1984 terdapat saldo-anggaran-lebib sebesar Rp 137.602.813.040,51 dengan perbitungan sebagai berikut

Penerimaan Rutin Rp 16.366.712.955.317,06 Penerimaan Pembangunan Rp 2.543.128.352.094,87

Jumlab Penerimaan Rp 18.909.833.307.413,93 Pengeluaran rutin Rp 10.215.207.214.840,71

Pengeluaran Pembangunan Rp 8.557.023.209.532,71

Jumlab Pengeluaran Rp 18.772.230.414.373,42 _Sementara itu dalam tabun anggaran 1984/1985

1 terdapat saldo-anggaran-kurang sebesar Rp 68.638.498.561,41 dengan perbitungan sebagai berikut :

Penerimaan Rutin Rp 15.931.303.177.708,75 Penerimaan Pembangunan Rp 1.780.733.561.456,72

Jumlab Penerimaan Rp 17.712.036.739.165,47 Pengeluaran rutin Rp 9.405.885.598.498,41

Pengeluaran Pembangunan Rp 8.374. 789.639.228,47

Jumlab Pengeluaran Rp 17.780.675.237.726,88 n ., .

u~n~lKlan ••••

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

35

-Demikianlab pokok-pokok realisasi Perbitungan Anggaran Negara Tabun Anggaran 1983/1984 dan Perhitungan Anggaran Negara Tabun Anggaran 1984/1985.

Saudara Ketua dan Para Anggota Dewan Yang Terbormat,

Perkenankanlab Pemerintab untuk sekali lagi mengucapkan terima kasib kepada Pimpinan dan Para Anggota Dewan Yang Terbor-mat, atas kesempatan yang diberikan untuk menyampaikan penjelasan Pemerintah tentang Rancangan Tambaban dan Perubaban Atas Anggar-an PendapatAnggar-an dAnggar-an BelAnggar-anja Negara tahun 1986/1987 serta Perhitungan Anggaran Negara tahun 1983/1984. dan Perbitungan Anggaran Negara 1984/1985. Pemerintab berbarap, agar saling pengertian dan kerjasama yang baik selama ini dapat terus dibina-tingkatkan, sehingga tugas bersama Dewan dan Pemerintab akan dapat diselesaikan dengan se~

baik-baiknya •

. Semoga Tuban Yang Maba Esa memberkabi usaba kita bersama, bagi kesejabteraan rakyat, ban gsa dan negara Republik Indonesia.

Sekian dan terima kasib.

K~TUA

••••

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

36 -KETUA :

Terima kasih kami uc~pkan k~pada

yang

terhermat Saud~ra

IfJenteri Keu~ng;ln s~laku VJ;;akil

Pemerint•h

y•ng telah m~ny;:;wmpai

kan P~njel~s~n Pernerintah

tentang

R~ncangan UndRng-Und~na Ta~ ._) ·~· ... .,..,

-b~han d;;n Perub-=thFln .'.PBN

1986-1987

ddn R~nc~n.g.9n Und:angun

-dang

tent.ang P~rhitung~n Neg8ra

1983-198lt-

d~n

t;thun

1981.~-1985.

Sid-¢ng Y~ing k~mi h~rm.81ti, ka~i ingin m~nging::3tkan b2hwa sesuai deng~n

pasal 145

~an

146

Peratur&n

Tata-tertib

Dewan

dan

juga

tadi

t~l~h diumumk~n di dala• Pid~t~

Pembukaan

KetuR bahwa pembah~san d:s1n p~nyelesaian ke-du;~ rancang;gn

undang-u!.!

dang tersebut dilaksanakQn dengan

presedur singkat.

P~r~bi.c;,r~3n tingk8t III

akan

dilakukan m~nurut j.~dw;;:al tanggta.l

23

sampai dengan

25

~uni

1987,

t~pi ada usul dQri Seudara Men

t~ri I\~ua.ngan, karena

belia.u

harus T:"·:?ngh~d

iri

Sidang OPEC FUNDS

di luar

n~geri,

beliau rncngusulk;a,n buntut

dari

25

dipa.kai

yai-tu tangga.l

25,

26, 27 dus h~rinya teta.p tigA hari. fJ~!T'un kar~-·

na

t~ng7al

26 dan

27 itu

adalah hari Fraksi,

mak~ Pi~pinan d~n B~dan Musyav.rarah a.k~n menempuh k~bij.'9ks~nl;j~n, sehingga

kese'.mU!,_

ny¢1 d~.p•t dik~rjak.an d~ngan seb8.ik-b3iknya

dan

insy~ Allah akan

diberit~'T?,:'akan l~bih lan,jut

kepada

s~udara M~nt~r1

KeuanP;;an ten

t~ng perubah~n jadwal ters~but.

~2p~t P~ripurna h:ari ini kArni :ak.;1n menschors di tf'!'~pat untuk

m~~ungkinkan S8udar8 Ment~ri Keuangan b~sert~ St~f Depart~~en K~uangan, mungkin ada acar? yan~ lain

untuk

menin~g8lk~n

Si-d~ng

dan

b~rikutnya ka~i rnenung~u

kehaiiran

S~ud~ra

Menteri

N~

Penjelasan ••••

BIDANG ARSIP DAN MUSEUM

37

-Penjel~s~n t~ntang

Rancangan Unrl2ng-undang

tent~ng K~dudukan

Protokoler Pej3bat N~gara dan Pejab8t Pemerintah.

Dalam dokumen BIDANG ARSIP DAN MUSEUM (Halaman 21-35)

Dokumen terkait