• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM DKI JAKARTA

PERMASALAHAN HUKUM

B. Bidang Hukum Perdata

1. Perceraian.

Kasus perceraian di DKI Jakarta menduduki urutan pertama di lima pengadilan negeri yang ada di Jakarta, yaitu

No. Pengadilan Jumlah Perkara

1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 34

2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 304

3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 47

4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 82

5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 880

Jumlah 1.347

Sebenarnya perceraian ini pada prinsipnya Undang-undang Nomor 1 tahun l974 tentang Perkawinan mempersulit perceraian. Tetapi dalam kenyataannya banyak perkawinan yang tidak bisa dipertahankan. Perceraian di Pengadilan Negeri ini umumnya didorong karena perkawinan dilakukan pada usia muda, mendapat kesulitan hidup, pertengkaran dalam rumah tinggal, dan suami kurang bertanggung jawab.

2. Wanprestasi

Wanprestasi menempati urutan kedua di lima pengadilan negeri yang ada di Jakarta, yaitu

No. Pengadilan Jumlah Perkara

1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 35

2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 0

3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 0

4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 30

5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 193

Wanprestasi banyak disebabkan karena adanya ingkar janji. Menurut Pasal 1243 KUHPERDATA wanprestasi dapat dibagi dalam tiga jenis wanprestasi:

- Tidak melaksanakan Prestasi sama sekali - Melaksanakan Prestasi sebagian

- Melaksanakan Prestasi tidak seperti yang telah diperjanjikan.

3. Perbuatan Melawan Hukum.

Perbuatan melawan Hukum (PMH) menempati urutan ketiga di Pengadilan Negeri yang ada di Jakarta, yaitu :

No. Pengadilan Jumlah Perkara

1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 25

2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 13

3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 0

4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 55

5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 47

Jumlah 140

Perbuatan Melawan Hukum ini disebabkan oleh adanya tindakan atau perbuatan

yang karena kelalaian ataupun kesengajaannya menyebabkan kerugian pada orang lain Sengketa pertanahan ini umumnya terjadi karena penyerobotan , karena tanah-tanah yang dikuasai oleh warga masyarakat tidak jelas batas-batasnya.

4. Bantahan.

Bantahan menduduki urutan ke empat di Pengadilan Negeri sewilayah DKI Jakarta, yaitu :

No. Pengadilan Jumlah Perkara

1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 7

2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 0

3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 0

4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 0

5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 53

Jumlah 60

5. Hutang Piutang

Hutang Piutang di Pengadilan Negeri sewilayah DKI Jakarta menempati urutan ketiga di Pengadilan Negeri yang ada di Jakarta, yaitu :

No. Pengadilan Jumlah Perkara

1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 0

2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 14

3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 4

4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 1

5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 14

Sebab-sebab terjadinya perkara hutang piutang adalah tidak terjadi pemenuhan perjanjian hutang piutang sesuai dengan hal-hal yang telah disepakati bersama antara pihak yang berhutang maupun pihak yang berpiutang sebelumnya, sehingga ada salah satu pihak merasa dirugikan.

6. Warisan.

Warisan menempati urutan keenam di Pengadilan Negeri yang ada di Jakarta, yaitu :

No. Pengadilan Jumlah Perkara

1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 3

2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 1

3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 5

4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 0

5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 10

Jumlah 19

Sebab-sebab terjadinya perkara warisan ini karena dalam pembagian warisan ada salah satu pihak ahli waris merasa tidak diperlakukan adil di dalam pembagiannya sehingga menuntut apa yang menjadi haknya.

7. Harta Perkawinan

Harta perkawianan menempati urutan ketujuh di Pengadilan Negeri yang ada di Jakarta, yaitu :

No. Pengadilan Jumlah Perkara

1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 2

2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 6

3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 0

4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 2

5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 1

Jumlah 11

Perkara harta perkawinan terjadi disebabkan karena di dalam pembagian harta perkawinan setelah terjadinya perceraian dianggap kurang adil bagi para pihak yang bersengketa baik bekas suami maupun bekas istri.

8. Hak Asasi Manusia

Hak Asasi Manusia menempati urutan kedelapan di Pengadilan Negeri yang ada di Jakarta, yaitu :

No. Pengadilan Jumlah Perkara

1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 2

2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 0

3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 0

4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 0

5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 0

Jumlah 2

9. Ganti Rugi

Ganti rugi menempati urutan kesembilan di Pengadilan Negeri yang ada di Jakarta, yaitu :

No. Pengadilan Jumlah Perkara

1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 0

2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 0

3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 0

4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 0

5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 0

Jumlah 0

Perkara ganti rugi di Pengadilan Negeri sewilayah DKI Jakarta menempati urutan keenam dari perkara perdata yang disidangkan, Perkara ganti rugi ini terjadi disebabkan karena proses pemberian ganti rugi dianggap tidak adil bagi para pihak yang berhak menerimanya.

10. Lain-lain

Lain-lain / Sengaketa Tanah menempati urutan kesepuluh di Pengadilan Negeri yang ada di Jakarta, yaitu :

No. Pengadilan Jumlah Perkara

1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 14

2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 323

3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 1294

4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 9

5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 170

C. Bidang Hukum Tata Usaha Negara.

Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) DKI Jakarta.

1. Tanah.

Gugatan perkara tanah yang masuk ke PTUN DKI Jakarta selama tahun 2007 sebanyak 25 kasus yang meliputi kasus pembatalan sertifikat, penolakan penerbitan sertifikat, penolakan perpanjangan sertifikat dan pemblokiran. Pihak yang digugat dalam perkara ini adalah Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Instansi yang ada di bawahnya.

2. Kepegawaian.

Perkara kepegawaian yang masuk dan diperiksa di PTUN DKI Jakarta sebanyak 18 kasus. Masalah yang dipersoalkan adalah pemberhentian pegawai dengan tidak hormat, mutasi, dll. Instansi yang digugat adalah Departemen, Instansi Pemerintah lainnya, dan BUMN

3. Perizinan.

Gugatan perkara perizinan yang masuk dan diperiksa di PTUN DKI Jakarta sebanyak 17 perkara. Gugatan tersebut meliputi masalah Izin Mendirikan Bangunan dan SPB. Instansi yang digugat adalan Dinas P2B, dan instansi lainnya. 4. Lain-lain

Gugatan mengenai kasus ini yang masuk dan diperiksa di PTUN DKI Jakarta sebanyak kasus 27 Perkara

5. Perumahan.

Gugatan mengenai perumahan yang masuk dan diperiksa di PTUN DKI Jakarta sebanyak kasus 15 Perkara tersebut meliputi masalah penghunian tanpa hak. Pejabat yang digugat adalah Kepala Dinas Perumahan Propinsi DKI Jakarta.

Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT.TUN)

1. Pertanahan.

Gugatan perkara tanah yang masuk ke PT.TUN DKI Jakarta selama tahun 2007 sebanyak 55 kasus yang meliputi kasus pembatalan sertifikat, penolakan penerbitan sertifikat, penolakan perpanjangan sertifikat dan pemblokiran. Pihak yang digugat dalam perkara ini adalah Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Instansi yang ada di bawahnya.

2. Perumahan.

Gugatan mengenai perumahan yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak 1 kasus Perkara tersebut meliputi masalah penghunian tanpa hak. Pejabat yang digugat adalah Kepala Dinas Perumahan Propinsi DKI Jakarta.

3. Perizinan.

Gugatan perkara perizinan yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak 38 perkara. Gugatan tersebut meliputi masalah Izin Mendirikan Bangunan dan SPB. Instansi yang digugat adalan Dinas P2B, dan instansi lainnya. 4. Kepegawaian.

Perkara kepegawaian yang masuk dan diperiksa di PT. TUN DKI Jakarta sebanyak 1 kasus. Masalah yang dipersoalkan adalah pemberhentian pegawai dengan tidak hormat, mutasi, dll. Instansi yang digugat adalah Departemen, Instansi Pemerintah lainnya, dan BUMN.

5. Pajak

Gugatan perkara ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak 0 perkara.

6. Lelang/Tender

Gugatan perkara ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak 7 perkara.

7. Kewarganegaraan

Gugatan perkara ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak 1 perkara.

8. Piutang

Gugatan perkara ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak 9 perkara.

9. Akta

Gugatan perkara ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak 1perkara.

10. Pendidikan

Gugatan perkara ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak 0 perkara.

11. Pilkada

Gugatan perkara ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak 1 perkara.

12. Kades

Gugatan mengenai kasus ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak kasus 2 Perkara

13. Anti Damping

Gugatan mengenai kasus ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak kasus 1 Perkara

14. Yayasan

Gugatan mengenai kasus ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak kasus 1 Perkara

15. Tambang

Gugatan mengenai kasus ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak kasus 3 Perkara

16. Perdagangan

Gugatan mengenai kasus ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak kasus 1 Perkara

17. Lain-lain

Gugatan mengenai kasus ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak kasus 2 Perkara

D. Bidang Hukum Agama.

1. Cerai Gugat.

Perkara cerai gugat merupakan kasus yang paling menonjol Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta. Perkara Gugat Cerai menempati urutan pertama di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta, yaitu dengan jumlah sebanyak 1217 perkara.

2. Cerai Talak.

Perkara cerai talak yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta menempati urutan kedua yaitu sebanyak 665 perkara.

Faktor-faktor penyebab terjadinya perceraian pada Pengadilan Agama se-wilayah kerja Pengadilan Tinggi DKI Jakarta (termasuk kasus yang berlokasi di luar DKI Jakarta) selama tahun 2007 adalah :

- Moral yaitu krisis akhlak, cemburu, Poligami Tidak sehat.

- Meninggalkan kewajiban terdiri dari faktor ekonomi , faktor tidak ada tanggung jawab, kawin paksa .

- Penganiayaan.

- Terus menerus berselisih, yang terdiri dari gangguan pihak ketiga dan tidak ada keharmonisan.

3. Istitbat Nikah.

Perkara Istibat Nikah yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta sebanyak 34 perkara.

4. Kewarisan

Istitbat Nikah yang masuk dan diperiksa di pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta sebanyak 32 perkara.

5. Perwalian.

Perkara yang menyangkut Perwalian yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta sebanyak 10 perkara.

6. Izin Poligami.

Perkara yang menyangkut Izin Poligami. yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta sebanyak 6 perkara.

7. Harta Bersama.

Perkara yang menyangkut Harta Bersama yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta sebanyak 5 perkara.

8. Penguasaan Anak.

Perkara yang menyangkut Pengusaan Anak yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta sebanyak 4 perkara.

9. Wali Adhal.

Perkara yang menyangkut Wali Adhal yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta sebanyak 3 perkara.

10. Pembatalan Perkawinan.

Perkara yang menyangkut Pembatalan Perkawinan yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta sebanyak 3 perkara.

BAB V

P E N U T U P

C. Kesimpulan.

Berdasarkan uraian yang dimuat dalam bab sebelumnya, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :

1. Perkara Pidana yang menonjol di DKI Jakarta berdasarkan urutan (rangking) yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Negeri adalah sebagai berikut :

a. Narkotika sebanyak 2.630 perkara; b. Pencurian sebanyak 1.222 perkara; c. Pennggelapan sebanyak 326 perkara; d. Perjudian sebanyak 222 perkara e. Penipuan sebanyak 173 perkara;

f. Penodongan/pemerasan/Penganiayaan 167 perkara; g. Pemalsuan 66 perkara;

h. Perkosaan 49 perkara i. Pembunuhan 15 perkara; j. Lain-lain 165 perkara.

2. Perkara Perdata yang menonjol di DKI Jakarta berdasarkan urutan (rangking) guagatan yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Negeri adalah sebagai berikut : a. Penceraian sebanyak 1.347 perkara

b. Wanprestasi sebanyak 258 perkara; c. Hutang sebanyak 33 perkara; d. Bantahan sebanyak 60 perkara

f. Perbuatan Melawan Hukum sebanyak 140 perkara; f. Ganti rugi sebanyak 0 perkara;

g. Hak Asasi Manusia sebanyak 2 perkara i. Harta Kawin sebanayak 11 perkara; i. Waris sebanyak 19 perkara;

3. Perkara Hukum Islam yang menonjol di DKI Jakarta berdasarkan urutan (rangking) guagatan yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Agama adalah sebagai berikut : a. Cerai Gugat sebanyak 1217 perkara;

b. Cerai Talak sebanyak 665 perkara; c. Istitbat Nikah sebanyak 34 perkara; d. Kewarisan sebanyak 32 perkara e. Perwalian sebanyak 10 perkara; f. Izin Poligami sebanyak 6 perkara; g. Harta bersama sebanyak 5 perkara; h. Penguasaan Anak 4 perkara;

i. Wali Adhal sebanyak 3 perkara; j. Pembatalan perkawinan 3 perkara;

4. Perkara Tata Usaha Negara yang menonjol di DKI Jakarta berdasarkan urutan (rangking) gugatan yang masuk dan diperiksa di PTUN DKI Jakarta adalah sebagai berikut :

a. Masalah Pertanahan sebanyak 25 perkara; b. Masalah Kepegawaian sebanyak 18 perkara; c. Masalah Perijinan sebanyak 12 perkara d. Masalah Lain-lain sebanyak 15 perkara e. Masalah Perumahan sebanyak 4 perkara;

Bahwa terjadinya pelanggaran terhadap undang Perkawinan, Undang-undang Narkotika, KUHP, KUHAP, Undang-Undang-undang Pertanahan, dan lain-lain menunjukkan masih rendahnya tingkat kesadaran hukum masyarakat dan rendahnya tingkat kesejahteraan (ekonomi) masyarakat.

5. Perkara Tata Usaha Negara yang menonjol di DKI Jakarta berdasarkan urutan (rangking) gugatan yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta adalah sebagai berikut :

a. Pertanahan sebanyak 55 Perkara b. Perumahan sebanyak 1 Perkara c. Perijinan sebanyak 18 Perkara d. Kepaegawaian sebanyak 16 Perkara e. Pajak sebanyak 0 Perkara

f. Lelang/Tender sebanyak 7 Perkara g. Kewarganegaraan sebanyak 1 Perkara h. Piutang sebanyak 9 Perkara

k. Pilkada sebanyak 1 Perkara l. Kades sebanyak 2 Perkara

m. Anti Damping sebanayak 1 Perkara n. Yayasan sebanyak 1 Perkara o. Tambang sebanyak 3 Perkara p. Perdagangan sebanyak 1 Perakara q. Lain-lain sebanyak 2 Perkara

D. Saran.

1. Bahwa dalam penyusunan Program Penyuluhan Hukum, perlu memperhatikan Peta Permasalahan Hukum yang ada, sehingga penetapan materi hukum yang disampaikan dan metode yang dipergunakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat yang sebenarnya.

Undang-undang yang diprioritaskan untuk disuluhkan pada tahun mendatang adalah Undang-undang Narkotika, Undang-undang Perkawinan, KUHP/KUHAP, Undang-undang Agraria, dan Undang-undang Hak Asasi Manusia.

2. Bahwa melihat faktor ekonomi merupakan salah satu penyebab terjadinya pelanggaran hukum, maka perlu dilakukan upaya-upaya yang menjurus kepada penambahan Lapangan Kerja bagi masyarakat.

3. Bahwa untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat di DKI Jakarta, perlu pelaksanaan kegiatan penyuluhan hukum ditingkatkan prekuensinya, sehingga materi hukum dapat disebarluaskan kepada masyarakat secara merata.

Dokumen terkait