L A P O R A N
PETA PERMASALAHAN HUKUM DAN HAM
DKI JAKARTA
( JANUARI – JUNI )
TAHUN ANGGARAN 2007
BIDANG HUKUM
KANTOR WILAYAH
DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM
DKI JAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Dalam program pembangunan hukum nasional tahun 2004 sampai dengan 2009 telah digariskan bahwa tujuan pembentukan hukum adalah untuk mendukung upaya-upaya dalam rangka mewujudkan supremasi hukum, terutama penyempurnaan terhadap peraturan-perundang-undangan warisan kolonial dan hukum nasional yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat. Sedangkan sasarannya adalah terciptanya harmonisasi peraturan perundang-undangan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat dan tuntutan kebutuhan masyarakat.
Dalam rangka pembuatan peraturan perundang-undangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, diperlukan peta permasalahan hukum yang ada di tengah-tengah masyarakat. Peta permasalahan hukum adalah teknik penyajian untuk menggambarkan suatu data yang menyeluruh dan selengkap mungkin, sehingga menggambarkan struktur permasalahan hukum yang berlaku di DKI Jakarta. Peta ini akan memberikan data yang objektif tentang berbagai masalah hukum yang terjadi. Untuk mengetahui data permasalahan hukum dimaksud perlu dilakukan penelitian, pengkajian dan pembahasan, sehingga pemecahan dan penanganan masalah-masalah tersebut dapat dilakukan secara bertahap dan terencana.
Sebagai pelaksana tugas pokok dan fungsi Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia di daerah, Kantor Wilayah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia DKI Jakarta telah melakukan penelitian, pengkajian dan pembahasan terhadap permasalahan hukum di DKI Jakarta. Peta permasalahan hukum di DKI Jakarta ini disusun berdasarkan data perkara yang masuk dan diperiksa di 5 (lima) Pengadilan Negeri, Pengadilan Tata Usaha Negara, Pengadilan Tingi Tata Usaha Negara dan Pengadilan Tinggi Agama yang ada di DKI Jakarta selama tahun 2007.
B. Maksud dan Tujuan.
1. Mengembangkan kerjasama penyusunan peta permasalahan hukum di tingkat daerah, sehingga dapat mendorong perencanaan hukum pada umumnya secara nasional.
2. Menciptakan kondisi yang kondusif kearah keterpaduan dalam penanganan permasalahan hukum antar instansi pemerintah di pusat dan daerah.
3. Memantapkan posisi Kantor Wilayah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi Departemen Hukum dan
Hak Asasi Manusia di wilayah, terutama yang berkaitan dengan pembangunan hukum nasional.
C. Sasaran.
1. Pendataan permasalahan hukum.
2. Mengkoordinasikan instansi pemerintah, khususnya di Pengadilan yang ada di Jakarta dalam pendataan permasalahan hukum melalui Kantor Wilayah dengan instansi pemerintah,
3. Mendayagunakan informasi permasalahan hukum yang tersebar di berbagai Pengadilan di Jakarta
4. Memperoleh gambaran mengenai perkembangan kesadaran hukum masyarakat.
D. Ruang Lingkup.
1. Permasalahan hukum yang dikumpulkan meliputi :
a. Permasalahan hukum yang timbul dan dihadapi dalam pelaksanaan tugas pokok Kantor Wilayah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia DKI Jakarta.
b. Permasalahn hukum di DKI Jakarta yang dapat didata dan diikuti perkembangannya melalui koordinasi antar instansi dan masyarakat di daerah. 2. Data permasalahan hukum yang dibuat meliputi :
a. Bidang permasalahan hukum, misalnya Hukum Pidana, Hukum Perdata, Hukum Tata Usaha Negara, Hukum Islam, dll.
b. Perincian bidang permasalahan hukum, misalnya :
(Pidana): Pencurian, Narkoba/Psikotropika, Penipuan, Penggelapan, Pemalsuan, Penganiayaan, Pembunuhan, Perjudian, Kesusilaana, Korupsi, Hak Asasi Manusia, Kelalaian yang menyebabkan mati, Pemerasan/Pengancaman, Lain-Lain.
(Perdata): Perbuatan melawan Hukum, Perceraian, Wanprestasi, Bantahan, Ganti rugi, Hutang piutang, Warisan, Harta perkawinan, Sengketa tanah, dll. (Hukum Islam) : Cerai gugat, Cerai talak, Istibat nikah, Kewarisan, Perwalian,
Izin poligami, Harta bersama , wali adhal, Pembatalan perkawinan/Bersama. (Tata Usaha Negara) : Pertanahan, Kepegawaian, Paerumahan, Perizinan. c. Lokasi/wilayah terjadinya permasalahan hukum adalah di 5 (lima) wilayah
Kotamadya yang ada di Propinsi DKI Jakarta Instansi yang terkait dengan peta permasalahan hukum.
E. Sumber data :
1. Permasalahan hukum yang diperoleh pada saat pelaksanaan kegiatan penyuluhan hukum, dan konsultasi hukum.
2. Permasalahan hukum yang diperoleh melalui laporan perkara pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi Agama dan Pengadilan Tingi Tata Usaha Negara.
BAB II
KONDISI GEOGRAFIS DAN
POTENSI PEMBANGUNAN DKI JAKARTA
1. Kondisi Geografis
Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) merupakan propinsi yang menjadi ibukota negara Republik Indonesia, sekaligus pusat pemerintahan di Indonesia. Selain itu, DKI Jakarta juga merupakan pusat perdagangan, keuangan dan industri. Wilayah DKI Jakarta terletak pada 50 10 „ Lintang Selatan dan 1060 49‟ Bujur Timur dan berbatasan dengan laut Jawa di bagian utara, dengan Kabupaten Bekasi di bagian timur, dengan Kabupaten Bogor di bagian selatan, dan dengan Kabupaten Tangerang di bagian barat.
Wilayah DKI Jakarta mencakup areal seluas 660,90 Km2 dengan tata guna tanah sebagai berikut: areal pemukiman seluas 315 Km2 atau
47,4%,
areal sarana sosial ekonomi dan budaya seluas 101 Km2 atau 15,2%; areal sarana transportasi seluas 50 Km2 atau 7,6%; areal industri seluas 39 Km2 atau 5,9%; areal pariwisata seluas 4 Km2 atau 0,6%; areal hutan seluas 8 Km2 atau 1,2%; areal ladang seluas 21 Km2 atau 3,2%; areal sawah seluas 87 Km2 atau 13,1%; areal rawa, tambak, kolam dan tanaman sayuran seluas 39 Km2 atau 5,8% dari seluruh luas wilayah.DKI Jakarta terdiri atas wilayah datar dan pulau-pulau yang tergabung dalam kepulauan dalam Kepulauan Seribu. Daerah ini berada pada ketinggian antara 0 hingga 10 meter di atas permukaan laut. Di Jakarta terdapat 13 sungai, baik sungai alam maupun buatan. Iklim di DKI Jakarta termasuk tropis lembab yang dipengaruhi oleh angin muson timur dengan curah hujan cukup tinggi, rata-rata 2.000 milimeter setiap tahun. Suhu udaranya beragam antara 270 Celcius hingga 34,90 Celcius. Wilayah DKI Jakarta termasuk daerah yang rawan banjir.
DKI Jakarta mempunyai banyak keunggulan dibandingkan dengan propinsi lain, terutama dalam hal penyediaan sarana dan prasarana sosial. Sarana transportasi relatif lengkap dibanding wilayah-wilayah lain di Indonesia, sehingga memudahkan untuk melakukan perjalanan ke berbagai negara atau kota-kota lain di Indonesia. Begitu pula dengan sarana komunikasinya, boleh dibilang paling lengkap dibandingkan propinsi lain di Indonesia.
Fasilitas seperti pendidikan, kesehatan, perdagangan, ekonomi, kemasyarakatan, keberadaaan lembaga pemerintah pusat, Lembaga Tinggi dan Tertinggi Negara, termasuk kedutaan besar negara-negara sahabat, dan keberadaan berbagai usaha industri dan jasa
mengakibatkan DKI Jakarta menjadi daya tarik bagi warga masyarakat pencari kerja untuk bekerja dan berdomisili di Jakarta.
Untuk propinsi DKI Jakarta, otonomi daerah diatur lebih lanjut dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Negara Republik Indonesia Jakarta. Otonomi daerah di propinsi DKI Jakarta diletakkan pada lingkup propinsi. Karena DKI Jakarta tidak terbagi dalam daerah otonom yang lebih kecil dalam bentuk Kabupaten/kota yang bersifat otonom. Lima wilayah kota dan satu kabupaten yang ada selama ini hanya bersifat administrasi saja, sehingga tidak meimliki DPRD Kabupaten /Kota sebagai salah satu cirri otonom daerah.
Apabila DKI Jakarta dibagi ke dalam wilayah Kota/Kabupaten otonom, dikhawatirkan tidak terwujud harmonisasi antar Kabupaten/Kota, karena masing-masing daerah dapat mengeluarkan kebijakan yang berbeda. Akibatnya akan menimbulkan permasalahan yang lebih rumit oleh karena itu, otonomi propinsi DKI Jakarta diletakkan dalam lingkup propinsi. Sebagai konsekwensi bentuk otonomi yang diterapkan di propinsi DKI Jakarta, maka lima wilayah Kota dan satu Kabupaten hanya bersifat administrasi. Sehingga dapat diwujudkan kesatuan perencanaan, pelaksanaan, pengendaliannya. Pelayanan bagi warga DKI Jakarta dapat dilakukan secara lebih merata, lebih cepat, adil dan optimal. Perangkat propinsi DKI Jakarta terdiri atas sekretariat Propinsi, Dinas Propinsi, Kotamadya dan Kabupaten Administrasi dan Lembaga Teknis. Kedudukan wilayah Kota dan Kabupaten adalah sebagai perangkat daerah. Hal ini lebih mempertegas kedudukan otonomi propinsi DKI Jakarta sebagai otonomi tunggal. Penyelenggaraan pemerintahan bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah, tetapi tanggung jawab semua komponen pemerintahan dalam bidang eksekutif, legislative maupun yudikatif sebagai suatu sistem
2. Kondisi Demografis
Pada tahun 2007 jumlah penduduk DKI Jakarta (tidak termasuk Bogor, Tangerang dan Bekasi ) adalah 7.546.568 juta jiwa yang tersebar di 5 (lima) wilayah Kotamadya, 1 (satu) wilayah kabupaten, 44 (empat puluh empat) kecamatan dan 267 (dua ratus enam puluh tujuh) kelurahan.
Jumlah Penduduk Jakarta tercatat Per 2 Agustus 2007 adalah sebagai berikut : 1. Jakarta Pusat : 876.421 2. Jakarta Utara : 1.182.613 3. Jakarta Barat : 1.573.877 4. Jakarta Selatan : 1.738.320 5. Jakarta Timur : 2.155.474 6. Kepualauan Seribu : 19.863 Jumlah : 7.546.568
DKI Jakarta memiliki potensi–potensi yang dapat ditingkatkan untuk menunjang pembangunan daerah. DKI Jakarta memang bukan merupakan daerah pertanian, tetapi berdasarkan data statistik yang ada, daerah ini pada tahun 1998 telah menghasilkan beras sebanyak 23.892 ton dan ketela pohon (ubi kayu) sebanyak 1.014 ton. Jakarta memiliki lahan pertanian (tanaman pangan) seluas 17% dari seluruh wilayah DKI. Luas tanag sawah pada tahun 1998 sekitar 2.502,50 hektar dan luas tanah darat sekitar 8.712,70 hektar. Komoditas ekspor tanaman unggulan yang berasal dari DKI Jakarta adalah bunga anggrek. Komoditas ekspor anggrek yang berasal dari DKI Jakarta mencapai lebih dari 10,4 juta tangkai dari sekitar 3,4 juta pohon. Jenis anggrek yang peringkatmya tertinggi adalah Dendrobium 3,5 juta tangkai, Aranthera 1,2 juta tangkai, Vanda/ Douglas 1,1 juta tangkai, dan anggrek lainnya 1,23 juta tangkai. Ekspor bunga anggrek ini menghasilkan tambahan pendapatan asli daerah hingga ratusan juta rupiah.
Hasil pertanian DKI Tahun 1998 adalah sebagai berikut: luas panen padi 3.637 ha dengan hasil 23.892 ton. Hasil tanaman buah-buahan antara lain rambutan 2.261 kwintal, pisang 4.201 kwintal, pepaya 2.310 kwintal, mangga 3.955 kwintal, sawo 1.936 kwintal, belimbing 3.226 kwintal, dan buah lainnya 1.500 kwintal (Sumber Biro Pusat Statistik, 1998).
Hasil populasi peternakan utama di DKI Jakarta tahun 1998 adalah kuda 296 ekor, sapi perah 4.293 ekor, kambing 8.394 ekor, ayam buras 127.430 ekor, ayam ras 87.200 ekor. Itik 61.550 ekor.
Produksi perikanan tahun 1998 adalah ikan darat 58.671,06 ton dan ikan laut 47.48,63 ton. Pada tahun 1998 hasilnya meningkat menjadi ikan darat 58.671,06 ton dan ikan laut 47.48,63 ton. Nilai ekspor hasil perikanan di DKI tahun 1998 adalah produksi ikan segar US $ 59.965.587,05; produksi beku tiga komoditi US $ 38.137.050.70; produksi ikan kering US $ 3.026.223,96; dan produksi ikan beku US $ 23.161.293. jenis ikan laut yang potensial untuk diekspor ke negara lain adalah bawal, kembung, selar, cumi-cumi, tongkol, tenggiri, kodok, udang, lobster, rajungan, dan sebagainya.
Kemajuan industri di DKI yang didukung oleh teknologi tinggi, tersedianya kawasan industri di Jakarta maupun daerah sekitarnya seperti Bogor, Tangerang dan Bekasi, dan tersedianya transportasi darat, laut dan udara merupakan potensi untuk mengembangkan industri yang berorientasi ekspor. Begitu pula jumlah penduduk yang besar, terdidik dan terampil merupakan potensi untuk mendorong tumbuhnya kemajuan ekonomi, baik skala besar, menengah, maupun kecil.
BAB III
PERMASALAHAN HUKUM
Data yang menjadi bahan penyusunan peta permasalahan hukum tahun anggaran 2007 adalah laporan penyelesaian perkara yang masuk ke Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara, dan Pengadilan Tinggi Agama yang ada di DKI Jakarta. Data yang diperoleh diperkuat lagi dengan permasalahan yang diperoleh melalui kegiatan penyuluhan hukum, konsultasi dan media harian surat kabar.
Jenis data permasalahan yang dikumpulkan adalah meliputi data perkara pidana dan perdata (Pengadilan Negeri), data perkara tata usaha negara (PT.TUN), dan data perkara cerai gugat, cerai talak,Istibat nikah, kewarisan, perwalian, izin poligami, Harta bersama, Wali adhal, Pembatalan Perkawinan, Penguasaan anak, dll (Pengadilan Agama). Data ini di petakan ke dalam 5 (lima) wilayah Kotamadya yang ada di DKI Jakarta, sehingga dapat diketahui perkara yang menonjol di setiap wilayah Kotamadaya dan Propinsi DKI Jakarta.
A. Pengadilan Negeri.
Perkara yang diperiksa di Pengadilan Negeri adalah perkara Bidang Pidana dan Perdata. Dalam pembuatan peta permasalahan hukum ini diambil 10 jenis perkara yang menonjol, baik perkara pidana maupun perdata, Hukum Islam, Tata Usaha Negara.
1. Perkara Pidana.
Beberapa jenis perkara yang menonjol di Pengadilan Negeri yang ada di DKI Jakarta selama enam bulan (Januari-Juni) tahun 2007 adalah sebagai berikut :
a. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Pencurian 22 2. Narkotika / Psikotropika 178 3. Senjata Tajam 15 4. Penggelapan 83 5. Pemalsuan/Penipuan 28 6. Penghinaan 4 7. Pembunuhan 22 8. Perjudian 90 9. Kesusilaan 13 10. Korupsi 8 11. Penadah 8 12. Pemerasan 30 13. Lain-lain - Jumlah 501
b. Pengadilan Negeri Jakarta Utara :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Pencurian 369 2. Narkotika / Psikotropika 455 3. Penipuan 57 4. Penggelapan 65 5. Pemalsuan 51 6. Penganiayaan 35 7. Pembunuhan 10 8. Perjudian 23 9. Kesusilaan 21 10. Korupsi 2
11. Hak Asasi Manusia 0
12. Kelalaian Menyebabkan Mati 12
13. Lain-lain 1
Jumlah 1101
c. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Pencurian 217 2. Narkotika / Psikotropika 614 3. Penipuan 59 4. Penggelapan 71 5. Pemalsuan 23 6. Penganiayaan 50 7. Pembunuhan 4 8. Perjudian 30 9. Kesusilaan 12 10. Korupsi 6
11. Hak Asasi Manusia 8
12. Kelalaian Menyebabkan Mati 0
13. Pemerasan / Pengancaman 64
14. Tindak Pidana Denda 36189
15. Lain-lain 3
Jumlah 37350
d. Pengadilan Negeri Jakarta Barat :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Pencurian 677 2. Narkotika / Psikotropika 626 3. Penipuan 43 4. Penggelapan 57 5. Pemalsuan 3 6. Penganiayaan 55 7. Pembunuhan 2 8. Perjudian 95 9. Kesusilaan 7 10. Korupsi 0
11. Hak Asasi Manusia 0
12. Kelalaian Menyebabkan Mati 2
13. Lain-lain 2
e. Pengadilan Negeri Jakarta Timur :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Pencurian 194 2. Narkotika / Psikotropika 448 3. Penipuan 20 4. Penggelapan 48 5. Pemalsuan 7 6. Penganiayaan 22 7. Pembunuhan 0 8. Perjudian 41 9. Kesusilaan 12 10. Korupsi 1
11. Hak Asasi Manusia 0
12. Kelalaian Menyebabkan Mati 13
13. Lain-lain 88
Jumlah 894
2. Perkara Perdata.
Beberapa jenis perkara yang menonjol di Pengadilan Negeri yang ada di DKI Jakarta selama enam bulan (Januari-Juni) tahun 2007 adalah sebagai berikut :
a. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat:
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Perbuatan Melawan Hukum 4
2. Perceraian 39 3. Wanprestasi 35 4. Bantahan - 5. Ganti Rugi 45 6. Hutang Piutang - 7. Warisan 1
8. Harta Perkawinan / Harta Bersama 2
9. Haka Asasi Manusia 4
10. Lain-lain 7
Jumlah 137
b. Pengadilan Negeri Jakarta Utara :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Perbuatan Melawan Hukum 8
2. Perceraian 389 3. Wanprestasi 0 4. Bantahan 0 5. Ganti Rugi 0 6. Hutang Piutang 5 7. Warisan 0
8. Harta Perkawinan / Harta Bersama 12
9. Hak Asasi Manusia 33
10. Lain-lain 232
c. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Perbuatan Melawan Hukum 0
2. Perceraian 67 3. Wanprestasi 1 4. Bantahan 0 5. Ganti Rugi 0 6. Hutang Piutang 50 7. Warisan 10
8. Harta Perkawinan / Harta Bersama 12
9. Hak Asasi Manusia 0
10. Tanah 19
11. Jual-Beli 2
12. Lain-lain 835
Jumlah 996
d. Pengadilan Negeri Jakarta Barat :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Perbuatan Melawan Hukum 5
2. Perceraian 1047 3. Wanprestasi 198 4. Bantahan 68 5. Ganti Rugi 0 6. Hutang Piutang 17 7. Warisan 5
8. Harta Perkawinan / Harta Bersama 4
9. Hak Asasi Manusia 0
10. Jual-Beli 11
11. Lain-lain 281
Jumlah 1636
e. Pengadilan Negeri Jakarta Timur :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Perbuatan Melawan Hukum 43
2. Perceraian 83 3. Wanprestasi 25 4. Bantahan 4 5. Ganti Rugi 1 6. Hutang Piutang 3 7. Warisan 0
8. Harta Perkawinan / Harta Bersama 1
9. Sengketa Tanah 0
10. Lain-lain 14
B. Pengadilan Tinggi Agama.
Perkara yang diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama adalah perkara yang berkaitan dengan Hukum Agama Islam. Dalam pembuatan peta permasalahan hukum ini diambil sepuluh perkara yang menonjol selama enam bulan (Januari-Juni) tahun 2007 adalah sebagai berikut, yaitu :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Cerai Gugat 1734 2. Cerai Talak 852 3. Istibat Nikah 32 4. Kewarisan 41 5. Perwalian 18 6. Izin Poligami 7 7. Harta Bersama 20 8. Wali Adhal 14 9. Pembatalan Perkawinan 2 10. Penguasaan Anak 5 Jumlah 2725
C. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN) dan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) DKI Jakarta.
a. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN) :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Pertan ahan 37 2. Perumahan 3 3. Perijinan 9 4. Balon 4 5. Kepegawaaian 9 6. Pajak 1 7. Lelang 12 8. Pendidikan 1 9. IMB 2 10. Kewarganegaraan 1 11. Lain-lain 6 Jumlah 85
b. Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Pertan ahan 23 2. Kepegawaian 18 3. Perijinan 13 4. Perumahan 3 5. Lain-lain 12 Jumlah 69
BAB IV A N A L I S I S
Berdasarkan data yang diuraikan dalam Bab sebelumnya, akan diklasifikasikan jenis permasalahan hukum yang terjadi di lima wilayah Kotamadya yang ada di DKI Jakarta. Kemudian diuraikan peraturan yang dilanggar dan latar belakang sampai terjadi pelanggaran. Artinya sedapat mungkin akan diuraikan factor-faktor yang menyebabkan terjadinya pelanggaran hukum. Dengan mengetahui peta permasalahan dan latar belakangnya peraturan dilanggara diharapkan akan menjadi informasi dalam penyusunan program penyuluhan hukum di DKI Jakarta. Sehingga pelaksanaan penyuluhan hukum dapat mengenai sasaran yang diharapkan.
A. Bidang Hukum Pidana.
1. Narkotika/Psikotropika
Perkara narkotika menempati urutan pertama dibandingkan dengan perkara-perkara lainnya dengan perincian sebagai berikut :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 178
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 455
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 614
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 448
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 626
Jumlah 2.321
Apabila digunakan secara benar Narkotika sangat besar manfaatnya bagi kesehatan dan ilmu pengetahuan. Tetapi kalau disalahgunakan atau salah menggunakan akan menimbulkan bencana dan kesengsaraan. Penyalahgunaan artinya menggunakan narkotika bukan untuk tujuan kesehatan dan ilmu pengetahuan.
Pelaku tindak pidana narkotika terdiri dari pengedar, pembawa, penjual, pemakai, dan lain-lain. Pemakai narkotika jumlahnya semakin meningkat setiap tahun dan umumnya dari kalangan remaja. Pelaku tindak pidana narkotika, khususnya pengedar, melakukan kegiatannya karena terdorong oleh faktor ekonomi, mereka ingin mendapatkan uang, tanpa memeras keringat.
Bisnis narkotika ini menjanjikan keuntungan yang besar, karena para pecandu akan berusaha membelinya sekalipun harganya mahal.
Bagi para pemakai, mereka menyalahgunakan narkotika karena berbagai sebab, antara lain, rumah tangga atau hubungan orangtua kurang harmonis, ingin tahu, lalu coba-coba, pengaruh lingkungan, dipengaruhi teman-teman, menderita penyakit yang tidak sembuh-sembuh.
2. Pencurian.
Kasus pencurian menempati urutan kedua dari dibandingkan dengan perkara-perkara lainnya, diwilayah Pengadilan Negeri lainnya dengan perincian sebagai berikut :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 22
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 369
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 217
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 194
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 677
Jumlah 1.479
Faktor yang melatarbelakangi terjadinya tindak pidana pencurian ini umumnya karena faktor ekonomi, karena umumnya pelakunya adalah pengangguran. Para pelaku sulit mendapatkan pekerjaan karena di samping kurang keahlian dan keterampilan, juga karena memang lapangan kerja yang tersedia sangat sempit. Pencurian bisa terjadi pada malam hari dan bisa juga pada malam hari. Pada siang hari biasanya terjadi di permukiman penduduk, di pasar, di tempat parkir, halte bis, perempatan dan di pinggir jalan raya. Dalam melakukan aksinya tidak jarang pelaku menggunakan senjata tajam, senjata api dengan maksud untuk melancarkan aksi pelaku. Pencurian tidak jarang juga dilakukan secara berkelompok. Sedangkan pada malam hari biasanya pelaku memasuki rumah penduduk dengan merusak pintu atau jendela rumah dengan menggunakan alat.
3. Penggelapan
Tindak pidana pengelapan menjadi urutan ketiga diantara perkara-perkara yang lain di wilayah Pengadilan Negeri lainya dengan perincian sebagai berikut :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 83
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 65
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 71
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 48
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 57
Jumlah 324
Tindak pidana penggelapan melanggar pasal 372 KUHP yang menyatakan bahwa barang siapa dengan sengaja menguasai secara melawan hukum, suatu benda yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, yang berada padanya bukan karena kejahatan, karena salah telah melakukan penggelapan, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun atau denda setinggi-tingginya sembilan ratus rupiah.
Tindak pidana ini dilakukan umumnya disamping karena adanya peluang atau kesempatan juga karena faktor ekonomi. Cara melakukan
penggelapan adalah menguasai barang orang lain lalu digunakan untuk kepentingan diri sendiri tanpa ijin dari orang yang berhak atas barang itu.
4. Perjudian.
Kasus Perjudian menempati urutan keempat diantara perkara-perkara lainya di wilayah Pengadilan Negeri dengan perincian sebagai berikut :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 90
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 23
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 30
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 142
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 95
Jumlah 339
5. Penipuan.
Tindak pidana penipuan menempati urutan kelima diantara perkara-perkara lainnya di wilayah Pengadilan Negeri dengan perincian sebagai berikut :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 28
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 57
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 59
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 43
Jumlah 239
Tindak Pidana penipuan melanggar pasal 378 dan 379 KUHP. Penipuan termasuk perbuatan curang, karena dalam melaksanakan aksinya, ia menggunakan cara-cara seperti pemakaian nama palsu, bujuk rayu, tipu muslihat ataupun menjanjikan sesuatu agar orang lain mau menyerahkan sesuatu barang.
Pelaku berpendidikan SLTA ke atas, karena untuk melakukan kejahatan ini memerlukan keterampilan khusus, yaitu mampu merayu atau membujuk orang lain dengan berbagai cara untuk menyerahkan sesatu kepadanya. Sedangkan alasan melakukan penipuan ini adalah umumnya kesulitan ekonomi dan tidak memiliki pekerjaan tetap.
6. Penganiayaan
Tindak pidana Penganiayaan menempati urutan keenam diantara perkara-perkara lainnya di wilayah Pengadilan Negeri dengan perincian sebagai berikut :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat -
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 35
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 50
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 33
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 55
Jumlah 173
Tindak Pidana Penganiayaan diatur dalam Pasal 351 (ayat 1-5) KUHP yang berbunyi :
“ayat (1) : Penganiayaan di ancam dengan pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan/denda paling banyakj 3 ratus rupiah.”
“ayat (2) : Jika perbuatan mengakibatkan luka – luka berat yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama 5 tahun.”
“ayat (3) : Jika mengakibatkan mati, dikenakan pidana penjara paling lama 7 tahun. “
“ayat (4) dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan ayat (5) percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana ( hal 50 KUHP) “
7. Pemalsuan Surat.
Tindak pidana pemalsuan surat menempati urutan ketujuh diantara perkara-perkara lainya di wilayah Pengadilan Negeri dengan perincian sebagai berikut :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 28
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 51
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 23
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 8
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 3
Jumlah 113
Tindak pidana pemalsuan ini melanggar pasal 263 KUHP yang menyatakan bahwa barang siapa membuat secara palsu atau memalsukan sepucuk surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, sesuatu perikatan atau pembebasan hutang, atau diperuntukkan untuk membuktikan sesuatu hal, dengan maksud untuk mempergunakannya atau menyuruh mempergunakannya oleh orang lain, seolah-olah surat itu surat yang asli dan tidak dipalsukan dan apabila dpemakaiannya dapat menimbulkan sesuatu kerugian, maka karena telah salah melakukan pemalsuan surat dihukum dengan hukuman pebnjara selama-lamanya enam tahun. Alasan melakukan tindak pidana ini umumnya karena alasan ekonomi.
8. Penodongan/Pemerasan
Kasus Penodongan/Pemerasan menempati urutan kedelapan diantara Perkara-perkara lainya di wilayah Pengadilan Negeri dengan perincian sebagai berikut :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 30
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 0
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 64
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 0
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 0
Jumlah 94
9. Perkosaan.
Kasus Perkosaan menempati urutan kesembilan diantara Perkara-perkara lainya di wilayah Pengadilan Negeri dengan perincian sebagai berikut :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 13
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 21
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 12
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 16
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 7
Jumlah 69
Tindak Pidana Perkosaan ini melanggar ketentuan KUHP Bab XIV Tentang Kejahatan Kesusilaan, Pasal 285 – 289 Tindak Pidana ini banyak disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan masyarakat ( Khusus pendidikan Agama ), Faktor lingkungan ( Keluarga/sekitar rumah ), Media masa ( Surat kabar maupun TV ) yang mempertontonkan Aurat, Maraknya perdagangan VCD porno ( menyajikan hal-hal pornografi.
10. Pembunuhan.
Kasus Pembunuhan menempati urutan kesepuluh diantara perkara-perkara lainya di wilayah Pengadilan Negeri dengan perincian sebagai berikut :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 22
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 10
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 4
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 4
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 2
Jumlah 42
Tindak pidana ini melanggar ketentuan KUHP Bab XIX Tentang Kejahatan Terhadap Nyawa, Pasal 338 – 340. Tindak Pidana ini banyak disebabkan oleh
dendam, minuman keras (mabuk) dan perampokan yang diikuti dengan penghilangan nyawa.
Ketidak mampuan mengendalikan emosi serta kesulitan ekonomi yang menhimpit yang kemudian menyebabkan mudahnya orang menjadi emosional juga merupakan penyebeb tindak pidana ini.
B. Bidang Hukum Perdata.
1. Perceraian.
Kasus perceraian di DKI Jakarta menduduki urutan pertama di lima pengadilan negeri yang ada di Jakarta, yaitu
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 39
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 389
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 67
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 83
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 1047
Jumlah 1.625
Sebenarnya perceraian ini pada prinsipnya Undang-undang Nomor 1 tahun l974 tentang Perkawinan mempersulit perceraian. Tetapi dalam kenyataannya banyak perkawinan yang tidak bisa dipertahankan. Perceraian di Pengadilan Negeri ini umumnya didorong karena perkawinan dilakukan pada usia muda, mendapat kesulitan hidup, pertengkaran dalam rumah tinggal, dan suami kurang bertanggung jawab.
2. Wanprestasi
Wanprestasi menempati urutan kedua di lima pengadilan negeri yang ada di Jakarta, yaitu
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 35
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 0
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 1
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 25
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 198
Wanprestasi banyak disebabkan karena adanya ingkar janji. Menurut Pasal 1243 KUHPERDATA wanprestasi dapat dibagi dalam tiga jenis wanprestasi:
- Tidak melaksanakan Prestasi sama sekali - Melaksanakan Prestasi sebagian
- Melaksanakan Prestasi tidak seperti yang telah diperjanjikan.
3. Hutang Piutang
Hutang Piutang di Pengadilan Negeri sewilayah DKI Jakarta menempati urutan ketiga di Pengadilan Negeri yang ada di Jakarta, yaitu :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 0
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 5
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 50
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 3
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 17
Jumlah 75
Sebab-sebab terjadinya perkara hutang piutang adalah tidak terjadi pemenuhan perjanjian hutang piutang sesuai dengan hal-hal yang telah disepakati bersama antara pihak yang berhutang maupun pihak yang berpiutang sebelumnya, sehingga ada salah satu pihak merasa dirugikan.
4. Bantahan.
Bantahan menduduki urutan ke empat di Pengadilan Negeri sewilayah DKI Jakarta, yaitu :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 0
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 0
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 0
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 4
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 68
Jumlah 68
5. Perbuatan Melawan Hukum.
Perbuatan melawan Hukum (PMH) menempati urutan kelima di Pengadilan Negeri yang ada di Jakarta, yaitu :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 4
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 8
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 0
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 43
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 5
Perbuatan Melawan Hukum ini disebabkan oleh adanya tindakan atau perbuatan yang karena kelalaian ataupun kesengajaannya menyebabkan kerugian pada orang lain Sengketa pertanahan ini umumnya terjadi karena penyerobotan , karena tanah-tanah yang dikuasai oleh warga masyarakat tidak jelas batas-batasnya.
6. Ganti Rugi
Ganti rugi menempati urutan keenam di Pengadilan Negeri yang ada di Jakarta, yaitu :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 45
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 0
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 0
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 1
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 0
Jumlah 46
Perkara ganti rugi di Pengadilan Negeri sewilayah DKI Jakarta menempati urutan keenam dari perkara perdata yang disidangkan, Perkara ganti rugi ini terjadi disebabkan karena proses pemberian ganti rugi dianggap tidak adil bagi para pihak yang berhak menerimanya.
7. Hak Asasi Manusia
Hak Asasi Manusia menempati urutan ketujuh di Pengadilan Negeri yang ada di Jakarta, yaitu :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 4
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 33
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 0
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 0
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 0
Jumlah 37
8. Harta Perkawinan
Harta perkawianan menempati urutan kedelapan di Pengadilan Negeri yang ada di Jakarta, yaitu :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 2
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 12
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 12
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 1
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 4
Perkara harta perkawinan terjadi disebabkan karena di dalam pembagian harta perkawinan setelah terjadinya perceraian dianggap kurang adil bagi para pihak yang bersengketa baik bekas suami maupun bekas istri.
9. Sengketa Tanah.
Sengaketa Tanah menempati urutan kesembilan di Pengadilan Negeri yang ada di Jakarta, yaitu :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 0
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 0
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 19
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 0
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat -
Jumlah 19
Sebab-sebab terjadinya sengketa tanah banyak disebabkan adanya masyarakat atau individu-individu yang menempati tanah atau lahan yang bukan miliknya. Hal lain yang sering terjadi adalah adanya surat bukti kepemilikan tanah aspal (asli tapi palsu) baik berupa sertifikat tanah atau girik yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
10. Warisan.
Warisan menempati urutan kesepuluh di Pengadilan Negeri yang ada di Jakarta, yaitu :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 1
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 0
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 10
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 0
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 5
Jumlah 16
Sebab-sebab terjadinya perkara warisan ini karena dalam pembagian warisan ada salah satu pihak ahli waris merasa tidak diperlakukan adil di dalam pembagiannya sehingga menuntut apa yang menjadi haknya.
C. Bidang Hukum Tata Usaha Negara.
Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) DKI Jakarta.
1. Tanah.
Gugatan perkara tanah yang masuk ke PTUN DKI Jakarta selama tahun 2007 sebanyak 23 kasus yang meliputi kasus pembatalan sertifikat, penolakan penerbitan sertifikat, penolakan perpanjangan sertifikat dan pemblokiran. Pihak yang digugat dalam perkara ini adalah Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Instansi yang ada di bawahnya.
2. Kepegawaian.
Perkara kepegawaian yang masuk dan diperiksa di PTUN DKI Jakarta sebanyak 18 kasus. Masalah yang dipersoalkan adalah pemberhentian pegawai dengan tidak hormat, mutasi, dll. Instansi yang digugat adalah Departemen, Instansi Pemerintah lainnya, dan BUMN
3. Perizinan.
Gugatan perkara perizinan yang masuk dan diperiksa di PTUN DKI Jakarta sebanyak 13 perkara. Gugatan tersebut meliputi masalah Izin Mendirikan Bangunan dan SPB. Instansi yang digugat adalan Dinas P2B, dan instansi lainnya. 4. Lain-lain
Gugatan mengenai kasus ini yang masuk dan diperiksa di PTUN DKI Jakarta sebanyak kasus 12 Perkara
5. Perumahan.
Gugatan mengenai perumahan yang masuk dan diperiksa di PTUN DKI Jakarta sebanyak kasus 3 Perkara tersebut meliputi masalah penghunian tanpa hak. Pejabat yang digugat adalah Kepala Dinas Perumahan Propinsi DKI Jakarta.
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT.TUN)
1. Pertanahan.
Gugatan perkara tanah yang masuk ke PT.TUN DKI Jakarta selama tahun 2007 sebanyak 37 kasus yang meliputi kasus pembatalan sertifikat, penolakan penerbitan sertifikat, penolakan perpanjangan sertifikat dan pemblokiran. Pihak yang digugat dalam perkara ini adalah Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Instansi yang ada di bawahnya.
5. Perumahan.
Gugatan mengenai perumahan yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak kasus 3 Perkara tersebut meliputi masalah penghunian tanpa hak. Pejabat yang digugat adalah Kepala Dinas Perumahan Propinsi DKI Jakarta. 4. Perizinan.
Gugatan perkara perizinan yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak 9 perkara. Gugatan tersebut meliputi masalah Izin Mendirikan Bangunan dan SPB. Instansi yang digugat adalan Dinas P2B, dan instansi lainnya. 5. Balon
Gugatan perkara ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak 4 perkara.
6. Kepegawaian.
Perkara kepegawaian yang masuk dan diperiksa di PT. TUN DKI Jakarta sebanyak 9 kasus. Masalah yang dipersoalkan adalah pemberhentian pegawai dengan tidak hormat, mutasi, dll. Instansi yang digugat adalah Departemen, Instansi Pemerintah lainnya, dan BUMN.
7. Pajak
Gugatan perkara ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak 1 perkara.
8. Lelang
Gugatan perkara ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak 12 perkara.
9. Pendidikan
Gugatan perkara ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak 1 perkara.
10. IMB
Gugatan perkara ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak 1 perkara.
11. Kewarganegaraan
Gugatan perkara ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak 1 perkara.
12. Lain-lain
Gugatan mengenai kasus ini yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta sebanyak kasus 6 Perkara
D. Bidang Hukum Agama.
1. Cerai Gugat.
Perkara cerai gugat merupakan kasus yang paling menonjol Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta. Perkara Gugat Cerai menempati urutan pertama di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta, yaitu dengan jumlah sebanyak 1734 perkara.
Perkara cerai talak yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta menempati urutan kedua yaitu sebanyak 852 perkara.
Faktor-faktor penyebab terjadinya perceraian pada Pengadilan Agama se-wilayah kerja Pengadilan Tinggi DKI Jakarta (termasuk kasus yang berlokasi di luar DKI Jakarta) selama tahun 2007 adalah :
- Moral yaitu krisis akhlak, cemburu, Poligami Tidak sehat.
- Meninggalkan kewajiban terdiri dari faktor ekonomi , faktor tidak ada tanggung jawab, kawin paksa .
- Penganiayaan.
- Terus menerus berselisih, yang terdiri dari gangguan pihak ketiga dan tidak ada keharmonisan.
3. Kewarisan
Perkara kewarisan yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta sebanyak 41 perkara.
4. Istitbat Nikah.
Istitbat Nikah yang masuk dan diperiksa di pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta sebanyak 32 perkara.
5. Harta Bersama.
Perkara yang menyangkut Harta Bersama yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta sebanyak 20 perkara.
6. Perwalian.
Perkara yang menyangkut perwalian yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta sebanyak 18 perkara
7. Wali Adhal.
Perkara yang menyangkut Wali Adhal yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta sebanyak 14 perkara.
8. Izin Poligami.
Perkara yang menyangkut Izin Poligami yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta sebanyak 7 perkara.
9. Penguasaan Anak.
Perkara yang menyangkut Pengusaan Anak yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta sebanyak 5 perkara.
10. Pembatalan Perkawinan.
Perkara yang menyangkut Pembatalan Perkawinan yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta sebanyak 2 perkara.
BAB V
P E N U T U P
A. Kesimpulan.
Berdasarkan uraian yang dimuat dalam bab sebelumnya, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :
1. Perkara Pidana yang menonjol di DKI Jakarta berdasarkan urutan (rangking) yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Negeri adalah sebagai berikut :
a. Narkotika sebanyak 2.353 perkara; b. Pencurian sebanyak 1.545 perkara; c. Pennggelapan sebanyak 354 perkara; d. Perjudian sebanyak 339 perkara e. Penipuan sebanyak 239 perkara; f. Penganiayaan 173 perkara g. Penodongan/pemerasan 94 perkara; h. Pemalsuan 113 perkara; i. Perkosaan 69 perkara j. Pembunuhan 42 perkara; k. Lain-lain 164 perkara.
2. Perkara Perdata yang menonjol di DKI Jakarta berdasarkan urutan (rangking) guagatan yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Negeri adalah sebagai berikut : a. Penceraian sebanyak 1.625 perkara
b. Wanprestasi sebanyak 259 perkara; c. Hutang sebanyak 75 perkara; d. Bantahan sebanyak 72 perkara
e. Perbuatan Melawan Hukum sebanyak 60 perkara; f. Ganti rugi sebanyak 46 perkara;
g. Hak Asasi Manusia sebanyak 37 perkara h. Harta Kawin 31 perkara;
i. Sengketa tanah sebanyak 19 perkara; j. Waris sebanyak 16 perkara;
3. Perkara Hukum Islam yang menonjol di DKI Jakarta berdasarkan urutan (rangking) guagatan yang masuk dan diperiksa di Pengadilan Agama adalah sebagai berikut : a. Cerai Gugat sebanyak 1734 perkara;
b. Cerai Talak sebanyak 852 perkara; c. Kewarisan sebanyak 41perkara d. Istitbat Nikah sebanyak 32 perkara; e. Harta bersama sebanyak 20 perkara; f. Perwalian sebanyak 18 perkara; g. Wali Adhal sebanyak 14 perkara; h. Izin Poligami sebanyak 7 perkara; i. Penguasaan Anak 5 perkara; j. Pembatalan perkawinan 2 perkara;
4. Perkara Tata Usaha Negara yang menonjol di DKI Jakarta berdasarkan urutan (rangking) gugatan yang masuk dan diperiksa di PTUN DKI Jakarta adalah sebagai berikut :
a. Masalah Pertanahan sebanyak 23 perkara; b. Masalah Kepegawaian sebanyak 18 perkara; c. Masalah Perijinan sebanyak 13 perkara d. Masalah Lain-lain sebanyak 12 perkara e. Masalah Perumahan sebanyak 3 perkara;
f. Bahwa terjadinya pelanggaran terhadap undang Perkawinan, Undang-undang Narkotika, KUHP, KUHAP, Undang-Undang-undang Pertanahan, dan lain-lain menunjukkan masih rendahnya tingkat kesadaran hukum masyarakat dan rendahnya tingkat kesejahteraan (ekonomi) masyarakat.
Perkara Tata Usaha Negara yang menonjol di DKI Jakarta berdasarkan urutan (rangking) gugatan yang masuk dan diperiksa di PT.TUN DKI Jakarta adalah sebagai berikut :
a. Pertanahan sebanyak 37 Perkara b. Lelang sebanyak 12 Perkara c. Perijinan sebanyak 9 Perkara d. Kepegawaian sebanyak 9 Perkara e. Balon sebanyak 4 Perkara
f. Perumahan sebanyak 3 Perkara g. IMB sebanyak 2 Perkara h. Pajak sebanyak 1 Perkara
j. Pendidikan sebanyak 21 Perkara k. Lain-lain sebanyak 6 Perkara.
B. Saran.
1. Bahwa dalam penyusunan Program Penyuluhan Hukum, perlu memperhatikan Peta Permasalahan Hukum yang ada, sehingga penetapan materi hukum yang disampaikan dan metode yang dipergunakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat yang sebenarnya.
Undang-undang yang diprioritaskan untuk disuluhkan pada tahun mendatang adalah Undang-undang Narkotika, Undang-undang Perkawinan, KUHP/KUHAP, Undang-undang Agraria, dan Undang-undang Hak Asasi Manusia.
2. Bahwa melihat faktor ekonomi merupakan salah satu penyebab terjadinya pelanggaran hukum, maka perlu dilakukan upaya-upaya yang menjurus kepada penambahan Lapangan Kerja bagi masyarakat.
3. Bahwa untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat di DKI Jakarta, perlu pelaksanaan kegiatan penyuluhan hukum ditingkatkan prekuensinya, sehingga materi hukum dapat disebarluaskan kepada masyarakat secara merata.
L A P O R A N
PETA PERMASALAHAN HUKUM DAN HAM
DKI JAKARTA
( JULI – DESEMBER )
TAHUN ANGGARAN 2007
BIDANG HUKUM
KANTOR WILAYAH
DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM
DKI JAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Dalam program pembangunan hukum nasional tahun 2004 sampai dengan 2009 telah digariskan bahwa tujuan pembentukan hukum adalah untuk mendukung upaya-upaya dalam rangka mewujudkan supremasi hukum, terutama penyempurnaan terhadap peraturan-perundang-undangan warisan kolonial dan hukum nasional yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat. Sedangkan sasarannya adalah terciptanya harmonisasi peraturan perundang-undangan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat dan tuntutan kebutuhan masyarakat.
Dalam rangka pembuatan peraturan perundang-undangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, diperlukan peta permasalahan hukum yang ada di tengah-tengah masyarakat. Peta permasalahan hukum adalah teknik penyajian untuk menggambarkan suatu data yang menyeluruh dan selengkap mungkin, sehingga menggambarkan struktur permasalahan hukum yang berlaku di DKI Jakarta. Peta ini akan memberikan data yang objektif tentang berbagai masalah hukum yang terjadi. Untuk mengetahui data permasalahan hukum dimaksud perlu dilakukan penelitian, pengkajian dan pembahasan, sehingga pemecahan dan penanganan masalah-masalah tersebut dapat dilakukan secara bertahap dan terencana.
Sebagai pelaksana tugas pokok dan fungsi Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia di daerah, Kantor Wilayah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia DKI Jakarta telah melakukan penelitian, pengkajian dan pembahasan terhadap permasalahan hukum di DKI Jakarta. Peta permasalahan hukum di DKI Jakarta ini disusun berdasarkan data perkara yang masuk dan diperiksa di 5 (lima) Pengadilan Negeri, Pengadilan Tata Usaha Negara, Pengadilan Tingi Tata Usaha Negara dan Pengadilan Tinggi Agama yang ada di DKI Jakarta selama tahun 2007.
B. Maksud dan Tujuan.
1. Mengembangkan kerjasama penyusunan peta permasalahan hukum di tingkat daerah, sehingga dapat mendorong perencanaan hukum pada umumnya secara nasional.
2. Menciptakan kondisi yang kondusif kearah keterpaduan dalam penanganan permasalahan hukum antar instansi pemerintah di pusat dan daerah.
3. Memantapkan posisi Kantor Wilayah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi Departemen Hukum dan
Hak Asasi Manusia di wilayah, terutama yang berkaitan dengan pembangunan hukum nasional.
C. Sasaran.
1. Pendataan permasalahan hukum.
2. Mengkoordinasikan instansi pemerintah, khususnya di Pengadilan yang ada di Jakarta dalam pendataan permasalahan hukum melalui Kantor Wilayah dengan instansi pemerintah,
3. Mendayagunakan informasi permasalahan hukum yang tersebar di berbagai Pengadilan di Jakarta
4. Memperoleh gambaran mengenai perkembangan kesadaran hukum masyarakat.
D. Ruang Lingkup.
1. Permasalahan hukum yang dikumpulkan meliputi :
a. Permasalahan hukum yang timbul dan dihadapi dalam pelaksanaan tugas pokok Kantor Wilayah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia DKI Jakarta.
b. Permasalahn hukum di DKI Jakarta yang dapat didata dan diikuti perkembangannya melalui koordinasi antar instansi dan masyarakat di daerah. 2. Data permasalahan hukum yang dibuat meliputi :
a. Bidang permasalahan hukum, misalnya Hukum Pidana, Hukum Perdata, Hukum Tata Usaha Negara, Hukum Islam, dll.
b. Perincian bidang permasalahan hukum, misalnya :
(Pidana): Pencurian, Narkoba/Psikotropika, Penipuan, Penggelapan, Pemalsuan, Penganiayaan, Pembunuhan, Perjudian, Kesusilaana, Korupsi, Hak Asasi Manusia, Kelalaian yang menyebabkan mati, Pemerasan/Pengancaman, Lain-Lain.
(Perdata): Perbuatan melawan Hukum, Perceraian, Wanprestasi, Bantahan, Ganti rugi, Hutang piutang, Warisan, Harta perkawinan, Sengketa tanah, dll.
(Hukum Islam) : Cerai gugat, Cerai talak, Istibat nikah, Kewarisan,
Perwalian, Izin poligami, Harta bersama , wali adhal, Pembatalan perkawinan/Bersama.
(Tata Usaha Negara) : Pertanahan, Kepegawaian, Paerumahan, Perizinan.
c. Lokasi/wilayah terjadinya permasalahan hukum adalah di 5 (lima) wilayah Kotamadya yang ada di Propinsi DKI Jakarta Instansi yang terkait dengan peta permasalahan hukum.
E. Sumber data :
a. Permasalahan hukum yang diperoleh pada saat pelaksanaan kegiatan penyuluhan hukum, dan konsultasi hukum.
b. Permasalahan hukum yang diperoleh melalui laporan perkara pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi Agama dan Pengadilan Tingi Tata Usaha Negara.
BAB II
KONDISI GEOGRAFIS DAN
POTENSI PEMBANGUNAN DKI JAKARTA
1. Kondisi Geografis
Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) merupakan propinsi yang menjadi ibukota negara Republik Indonesia, sekaligus pusat pemerintahan di Indonesia. Selain itu, DKI Jakarta juga merupakan pusat perdagangan, keuangan dan industri. Wilayah DKI Jakarta terletak pada 50 10 „ Lintang Selatan dan 1060 49‟ Bujur Timur dan berbatasan dengan laut Jawa di bagian utara, dengan Kabupaten Bekasi di bagian timur, dengan Kabupaten Bogor di bagian selatan, dan dengan Kabupaten Tangerang di bagian barat.
Wilayah DKI Jakarta mencakup areal seluas 660,90 Km2 dengan tata guna tanah sebagai berikut: areal pemukiman seluas 315 Km2 atau
47,4%,
areal sarana sosial ekonomi dan budaya seluas 101 Km2 atau 15,2%; areal sarana transportasi seluas 50 Km2 atau 7,6%; areal industri seluas 39 Km2 atau 5,9%; areal pariwisata seluas 4 Km2 atau 0,6%; areal hutan seluas 8 Km2 atau 1,2%; areal ladang seluas 21 Km2 atau 3,2%; areal sawah seluas 87 Km2 atau 13,1%; areal rawa, tambak, kolam dan tanaman sayuran seluas 39 Km2 atau 5,8% dari seluruh luas wilayah.DKI Jakarta terdiri atas wilayah datar dan pulau-pulau yang tergabung dalam kepulauan dalam Kepulauan Seribu. Daerah ini berada pada ketinggian antara 0 hingga 10 meter di atas permukaan laut. Di Jakarta terdapat 13 sungai, baik sungai alam maupun buatan. Iklim di DKI Jakarta termasuk tropis lembab yang dipengaruhi oleh angin muson timur dengan curah hujan cukup tinggi, rata-rata 2.000 milimeter setiap tahun. Suhu udaranya beragam antara 270 Celcius hingga 34,90 Celcius. Wilayah DKI Jakarta termasuk daerah yang rawan banjir.
DKI Jakarta mempunyai banyak keunggulan dibandingkan dengan propinsi lain, terutama dalam hal penyediaan sarana dan prasarana sosial. Sarana transportasi relatif lengkap dibanding wilayah-wilayah lain di Indonesia, sehingga memudahkan untuk melakukan perjalanan ke berbagai negara atau kota-kota lain di Indonesia. Begitu pula dengan sarana komunikasinya, boleh dibilang paling lengkap dibandingkan propinsi lain di Indonesia.
Fasilitas seperti pendidikan, kesehatan, perdagangan, ekonomi, kemasyarakatan, keberadaaan lembaga pemerintah pusat, Lembaga Tinggi dan Tertinggi Negara, termasuk kedutaan besar negara-negara sahabat, dan keberadaan berbagai usaha industri dan jasa
mengakibatkan DKI Jakarta menjadi daya tarik bagi warga masyarakat pencari kerja untuk bekerja dan berdomisili di Jakarta.
Untuk propinsi DKI Jakarta, otonomi daerah diatur lebih lanjut dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Negara Republik Indonesia Jakarta. Otonomi daerah di propinsi DKI Jakarta diletakkan pada lingkup propinsi. Karena DKI Jakarta tidak terbagi dalam daerah otonom yang lebih kecil dalam bentuk Kabupaten/kota yang bersifat otonom. Lima wilayah kota dan satu kabupaten yang ada selama ini hanya bersifat administrasi saja, sehingga tidak meimliki DPRD Kabupaten /Kota sebagai salah satu cirri otonom daerah.
Apabila DKI Jakarta dibagi ke dalam wilayah Kota/Kabupaten otonom, dikhawatirkan tidak terwujud harmonisasi antar Kabupaten/Kota, karena masing-masing daerah dapat mengeluarkan kebijakan yang berbeda. Akibatnya akan menimbulkan permasalahan yang lebih rumit oleh karena itu, otonomi propinsi DKI Jakarta diletakkan dalam lingkup propinsi. Sebagai konsekwensi bentuk otonomi yang diterapkan di propinsi DKI Jakarta, maka lima wilayah Kota dan satu Kabupaten hanya bersifat administrasi. Sehingga dapat diwujudkan kesatuan perencanaan, pelaksanaan, pengendaliannya. Pelayanan bagi warga DKI Jakarta dapat dilakukan secara lebih merata, lebih cepat, adil dan optimal. Perangkat propinsi DKI Jakarta terdiri atas sekretariat Propinsi, Dinas Propinsi, Kotamadya dan Kabupaten Administrasi dan Lembaga Teknis. Kedudukan wilayah Kota dan Kabupaten adalah sebagai perangkat daerah. Hal ini lebih mempertegas kedudukan otonomi propinsi DKI Jakarta sebagai otonomi tunggal. Penyelenggaraan pemerintahan bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah, tetapi tanggung jawab semua komponen pemerintahan dalam bidang eksekutif, legislative maupun yudikatif sebagai suatu sistem
2. Kondisi Demografis
Pada tahun 2007 jumlah penduduk DKI Jakarta (tidak termasuk Bogor, Tangerang dan Bekasi ) adalah 7.546.568 juta jiwa yang tersebar di 5 (lima) wilayah Kotamadya, 1 (satu) wilayah kabupaten, 44 (empat puluh empat) kecamatan dan 267 (dua ratus enam puluh tujuh) kelurahan.
Jumlah Penduduk Jakarta tercatat Per 2 Agustus 2007 adalah sebagai berikut : 1. Jakarta Pusat : 876.421 2. Jakarta Utara : 1.182.613 3. Jakarta Barat : 1.573.877 4. Jakarta Selatan : 1.738.320 5. Jakarta Timur : 2.155.474 6. Kepualauan Seribu : 19.863 Jumlah : 7.546.568
DKI Jakarta memiliki potensi–potensi yang dapat ditingkatkan untuk menunjang pembangunan daerah. DKI Jakarta memang bukan merupakan daerah pertanian, tetapi berdasarkan data statistik yang ada, daerah ini pada tahun 1998 telah menghasilkan beras sebanyak 23.892 ton dan ketela pohon (ubi kayu) sebanyak 1.014 ton. Jakarta memiliki lahan pertanian (tanaman pangan) seluas 17% dari seluruh wilayah DKI. Luas tanag sawah pada tahun 1998 sekitar 2.502,50 hektar dan luas tanah darat sekitar 8.712,70 hektar. Komoditas ekspor tanaman unggulan yang berasal dari DKI Jakarta adalah bunga anggrek. Komoditas ekspor anggrek yang berasal dari DKI Jakarta mencapai lebih dari 10,4 juta tangkai dari sekitar 3,4 juta pohon. Jenis anggrek yang peringkatmya tertinggi adalah Dendrobium 3,5 juta tangkai, Aranthera 1,2 juta tangkai, Vanda/ Douglas 1,1 juta tangkai, dan anggrek lainnya 1,23 juta tangkai. Ekspor bunga anggrek ini menghasilkan tambahan pendapatan asli daerah hingga ratusan juta rupiah.
Hasil pertanian DKI Tahun 1998 adalah sebagai berikut: luas panen padi 3.637 ha dengan hasil 23.892 ton. Hasil tanaman buah-buahan antara lain rambutan 2.261 kwintal, pisang 4.201 kwintal, pepaya 2.310 kwintal, mangga 3.955 kwintal, sawo 1.936 kwintal, belimbing 3.226 kwintal, dan buah lainnya 1.500 kwintal (Sumber Biro Pusat Statistik, 1998).
Hasil populasi peternakan utama di DKI Jakarta tahun 1998 adalah kuda 296 ekor, sapi perah 4.293 ekor, kambing 8.394 ekor, ayam buras 127.430 ekor, ayam ras 87.200 ekor. Itik 61.550 ekor.
Produksi perikanan tahun 1998 adalah ikan darat 58.671,06 ton dan ikan laut 47.48,63 ton. Pada tahun 1998 hasilnya meningkat menjadi ikan darat 58.671,06 ton dan ikan laut 47.48,63 ton. Nilai ekspor hasil perikanan di DKI tahun 1998 adalah produksi ikan segar US $ 59.965.587,05; produksi beku tiga komoditi US $ 38.137.050.70; produksi ikan kering US $ 3.026.223,96; dan produksi ikan beku US $ 23.161.293. jenis ikan laut yang potensial untuk diekspor ke negara lain adalah bawal, kembung, selar, cumi-cumi, tongkol, tenggiri, kodok, udang, lobster, rajungan, dan sebagainya.
Kemajuan industri di DKI yang didukung oleh teknologi tinggi, tersedianya kawasan industri di Jakarta maupun daerah sekitarnya seperti Bogor, Tangerang dan Bekasi, dan tersedianya transportasi darat, laut dan udara merupakan potensi untuk mengembangkan industri yang berorientasi ekspor. Begitu pula jumlah penduduk yang besar, terdidik dan terampil merupakan potensi untuk mendorong tumbuhnya kemajuan ekonomi, baik skala besar, menengah, maupun kecil.
BAB III
PERMASALAHAN HUKUM
Data yang menjadi bahan penyusunan peta permasalahan hukum tahun anggaran 2007 adalah laporan penyelesaian perkara yang masuk ke Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara, dan Pengadilan Tinggi Agama yang ada di DKI Jakarta. Data yang diperoleh diperkuat lagi dengan permasalahan yang diperoleh melalui kegiatan penyuluhan hukum, konsultasi dan media harian surat kabar.
Jenis data permasalahan yang dikumpulkan adalah meliputi data perkara pidana dan perdata (Pengadilan Negeri), data perkara tata usaha negara (PT.TUN), dan data perkara cerai gugat, cerai talak,Istibat nikah, kewarisan, perwalian, izin poligami, Harta bersama, Wali adhal, Pembatalan Perkawinan, Penguasaan anak, dll (Pengadilan Agama). Data ini di petakan ke dalam 5 (lima) wilayah Kotamadya yang ada di DKI Jakarta, sehingga dapat diketahui perkara yang menonjol di setiap wilayah Kotamadaya dan Propinsi DKI Jakarta.
A. Pengadilan Negeri.
Perkara yang diperiksa di Pengadilan Negeri adalah perkara Bidang Pidana dan Perdata. Dalam pembuatan peta permasalahan hukum ini diambil 10 jenis perkara yang menonjol, baik perkara pidana maupun perdata, Hukum Islam, Tata Usaha Negara.
3. Perkara Pidana.
Beberapa jenis perkara yang menonjol di Pengadilan Negeri yang ada di DKI Jakarta selama enam bulan (Juli - Desember) tahun 2007 adalah sebagai berikut :
a. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Pencurian 210 2. Narkotika / Psikotropika 600 3. Penipuan 27 4. Penggelapan 81 5. Pemalsuan 13 6. Penganiayaan 33 7. Pembunuhan 5 8. Perjudian 32 9. Kesusilaan 8 10. Korupsi 12
11. Hak Asasi Manusia 2
12. Kelalaian Menyebabkan Mati 10
13. Lain-lain 14
b. Pengadilan Negeri Jakarta Utara :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Pencurian 274 2. Narkotika / Psikotropika 379 3. Penipuan 42 4. Penggelapan 65 5. Pemalsuan 19 6. Penganiayaan 42 7. Pembunuhan 5 8. Perjudian 22 9. Kesusilaan 7 10. Korupsi 1
11. Hak Asasi Manusia 0
12. Kelalaian Menyebabkan Mati 20
13. Lain-lain 21
Jumlah 897
c. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Pencurian 263 2. Narkotika / Psikotropika 415 3. Penipuan 24 4. Penggelapan 68 5. Pemalsuan 16 6. Penganiayaan 50 7. Pembunuhan 5 8. Perjudian 8 9. Kesusilaan 11 10. Korupsi 7
11. Hak Asasi Manusia 6
12. Kelalaian Menyebabkan Mati 0
13. Lain-lain 243
Jumlah 1.122
d. Pengadilan Negeri Jakarta Barat :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Pencurian 281 2. Narkotika / Psikotropika 788 3. Penipuan 60 4. Penggelapan 59 5. Pemalsuan 11 6. Penganiayaan 20 7. Pembunuhan 0 8. Perjudian 119 9. Kesusilaan 11 10. Korupsi 0
11. Hak Asasi Manusia 0
12. Kelalaian Menyebabkan Mati 0
13. Lain-lain 7
e. Pengadilan Negeri Jakarta Timur :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Pencurian 194 2. Narkotika / Psikotropika 448 3. Penipuan 20 4. Penggelapan 48 5. Pemalsuan 7 6. Penganiayaan 22 7. Pembunuhan 0 8. Perjudian 41 9. Kesusilaan 12 10. Korupsi 1
11. Hak Asasi Manusia 0
12. Kelalaian Menyebabkan Mati 13
13. Lain-lain 88
Jumlah 894
4. Perkara Perdata.
Beberapa jenis perkara yang menonjol di Pengadilan Negeri yang ada di DKI Jakarta selama enam bulan (Juli - Desember) tahun 2007 adalah sebagai berikut :
a. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat:
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Perbuatan Melawan Hukum 25
2. Perceraian 34 3. Wanprestasi 35 4. Bantahan 35 5. Ganti Rugi 0 6. Hutang Piutang 0 7. Warisan 3
8. Harta Perkawinan / Harta Bersama 2
9. Hak Asasi Manusia 2
10. Lain-lain 14
Jumlah 150
b. Pengadilan Negeri Jakarta Utara :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Perbuatan Melawan Hukum 13
2. Perceraian 304 3. Wanprestasi 0 4. Bantahan 0 5. Ganti Rugi 0 6. Hutang Piutang 14 7. Warisan 1
8. Harta Perkawinan / Harta Bersama 6
9. Hak Asasi Manusia 0
10. Lain-lain 323
c. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Perbuatan Melawan Hukum 0
2. Perceraian 47 3. Wanprestasi 0 4. Bantahan 0 5. Ganti Rugi 0 6. Hutang Piutang 4 7. Warisan 5
8. Harta Perkawinan / Harta Bersama 0
9. Hak Asasi Manusia 0
10. Lain-lain 1294
Jumlah 1.350
d. Pengadilan Negeri Jakarta Barat :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Perbuatan Melawan Hukum 47
2. Perceraian 880 3. Wanprestasi 193 4. Bantahan 53 5. Ganti Rugi - 6. Hutang Piutang 14 7. Warisan 10
8. Harta Perkawinan / Harta Bersama 1
9. Hak Asasi Manusia -
10. Lain-lain 170
Jumlah 1.368
f. Pengadilan Negeri Jakarta Timur :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Perbuatan Melawan Hukum 55
2. Perceraian 82 3. Wanprestasi 30 4. Bantahan 0 5. Ganti Rugi 0 6. Hutang Piutang 1 7. Warisan 0
8. Harta Perkawinan / Harta Bersama 2
9. Hak Asasi Manusia 0
10. Lain-lain 9
B. Pengadilan Tinggi Agama.
Perkara yang diperiksa di Pengadilan Tinggi Agama adalah perkara yang berkaitan dengan Hukum Agama Islam. Dalam pembuatan peta permasalahan hukum ini diambil sepuluh perkara yang menonjol selama enam bulan (Juli - Desember) tahun 2007 adalah sebagai berikut, yaitu :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Cerai Gugat 1217 2. Cerai Talak 665 3. Istibat Nikah 34 4. Kewarisan 32 5. Perwalian 10 6. Izin Poligami 6 7. Harta Bersama 5 8. Wali Adhal 3 9. Pembatalan Perkawinan 3 10. Penguasaan Anak 4 Jumlah 1.979
C. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN) dan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) DKI Jakarta.
- Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN) :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Pertan ahan 55 2. Perumahan 1 3. Perijinan 38 5. Kepegawaaian 16 6. Pajak 0 7. Kewarganegaraan 1 8. Piutang 9 9. Akta 1 10. Tender 7 11. Pilkada 1 12. Kades 2 13. Anti Damping 1 14. Yayasan 1 15. Tambang 3 16. Perdagangan 1 17. Lain-lain 2 Jumlah 139
- Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) :
No. Jenis Perkara Jumlah Perkara
1. Pertan ahan 25 2. Kepegawaian 18 3. Perijinan 4 4. Perumahan 12 5. Lain-lain 15 Jumlah 74
BAB IV A N A L I S I S
Berdasarkan data yang diuraikan dalam Bab sebelumnya, akan diklasifikasikan jenis permasalahan hukum yang terjadi di lima wilayah Kotamadya yang ada di DKI Jakarta. Kemudian diuraikan peraturan yang dilanggar dan latar belakang sampai terjadi pelanggaran. Artinya sedapat mungkin akan diuraikan factor-faktor yang menyebabkan terjadinya pelanggaran hukum. Dengan mengetahui peta permasalahan dan latar belakangnya peraturan dilanggara diharapkan akan menjadi informasi dalam penyusunan program penyuluhan hukum di DKI Jakarta. Sehingga pelaksanaan penyuluhan hukum dapat mengenai sasaran yang diharapkan.
A. Bidang Hukum Pidana.
1. Narkotika/Psikotropika
Perkara narkotika menempati urutan pertama dibandingkan dengan perkara-perkara lainnya dengan perincian sebagai berikut :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 600
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 379
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 415
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 448
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 788
Jumlah 2.630
Apabila digunakan secara benar Narkotika sangat besar manfaatnya bagi kesehatan dan ilmu pengetahuan. Tetapi kalau disalahgunakan atau salah menggunakan akan menimbulkan bencana dan kesengsaraan. Penyalahgunaan artinya menggunakan narkotika bukan untuk tujuan kesehatan dan ilmu pengetahuan.
Pelaku tindak pidana narkotika terdiri dari pengedar, pembawa, penjual, pemakai, dan lain-lain. Pemakai narkotika jumlahnya semakin meningkat setiap tahun dan umumnya dari kalangan remaja. Pelaku tindak pidana narkotika, khususnya pengedar, melakukan kegiatannya karena terdorong oleh faktor ekonomi, mereka ingin mendapatkan uang, tanpa memeras keringat.
Bisnis narkotika ini menjanjikan keuntungan yang besar, karena para pecandu akan berusaha membelinya sekalipun harganya mahal.
Bagi para pemakai, mereka menyalahgunakan narkotika karena berbagai sebab, antara lain, rumah tangga atau hubungan orangtua kurang harmonis, ingin tahu,
lalu coba-coba, pengaruh lingkungan, dipengaruhi teman-teman, menderita penyakit yang tidak sembuh-sembuh.
2. Pencurian.
Kasus pencurian menempati urutan kedua dari dibandingkan dengan perkara-perkara lainnya, diwilayah Pengadilan Negeri lainnya dengan perincian sebagai berikut :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 210
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 274
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 263
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 194
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 281
Jumlah 1.222
Faktor yang melatarbelakangi terjadinya tindak pidana pencurian ini umumnya karena faktor ekonomi, karena umumnya pelakunya adalah pengangguran. Para pelaku sulit mendapatkan pekerjaan karena di samping kurang keahlian dan keterampilan, juga karena memang lapangan kerja yang tersedia sangat sempit. Pencurian bisa terjadi pada malam hari dan bisa juga pada malam hari. Pada siang hari biasanya terjadi di permukiman penduduk, di pasar, di tempat parkir, halte bis, perempatan dan di pinggir jalan raya. Dalam melakukan aksinya tidak jarang pelaku menggunakan senjata tajam, senjata api dengan maksud untuk melancarkan aksi pelaku. Pencurian tidak jarang juga dilakukan secara berkelompok. Sedangkan pada malam hari biasanya pelaku memasuki rumah penduduk dengan merusak pintu atau jendela rumah dengan menggunakan alat.
3. Penggelapan
Tindak pidana pengelapan menjadi urutan ketiga diantara perkara-perkara yang lain di wilayah Pengadilan Negeri lainya dengan perincian sebagai berikut :
No. Pengadilan Jumlah Perkara
1. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 81
2. Pengadilan Negeri Jakarta Utara 65
3. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 71
4. Pengadilan Negeri Jakarta Timur 48
5. Pengadilan Negeri Jakarta Barat 57
Jumlah 326
Tindak pidana penggelapan melanggar pasal 372 KUHP yang menyatakan bahwa barang siapa dengan sengaja menguasai secara melawan hukum, suatu benda yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, yang berada padanya bukan karena kejahatan, karena salah telah melakukan penggelapan, dihukum