• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.3. Bidang Pelayanan Masyarakat

Sebagai media informasi terkait angka kematian ibu dan penyebab kematian pada lima tahun terakhir sebagai bahan evaluasi untuk untuk melakukan pencegahan terhadap faktor-faktor penyebab kasus yang terjadi di masyarakat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI KEMATIAN IBU / KEMATIAN MATERNAL

Penggunaan definisi standar yang seragam dianjurkan oleh WHO untuk memungkinkan pembandingan data dan juga untuk penyeragaman definisi antar negara. Berdasarkan hal tersebut, National Center for Health Statistics (NCHS) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan definisi kematian maternal yang beberapa diantaranya (Cunningham.F.G et al., 2014) :

1. Kematian maternal langsung

Kematian ibu yang terjadi akibat komplikasi obstetris pada saat kehamilan, persalinan, atau masa nifas dan karena intervensi, kelalaian, penatalaksanaan yang salah, atau rangkaian kejadian yang disebabkan oleh faktor-faktor tersebut. Contohnya adalah kematian ibu karena perdarahan akibat ruptur uteri.

2. Kematian maternal tidak langsung

Kematian ibu yang tidak secara langsung diakibatkan oleh penyebab obstetris. Kematian disebabkan oleh penyakit yang sudah ada sebelumnya atau penyakit yang berkembang selama kehamilan, persalinan, atau masa nifas yang diperberat oleh adaptasi fisiologis ibu terhadap kehamilan.

Contohnya adalah kematian ibu karena komplikasi stenosis katup mitral.

3. Kematian nonmaternal

Kematian ibu yang terjadi karena kecelakaan atau penyebab incidental yang tidak berhubungan dengan kehamilan. Contohnya adalah kematian karena kecelakaan saat berkendara.

4. Rasio kematian maternal

Jumlah kematian ibu yang terjadi karena proses reproduksi per 100.000 kelahiran hidup. istilah mortalitas maternal atau angka kematian maternal (AKI) lebih sering digunakan.

7

Selain itu, WHO juga mengemukakan definisi kematian maternal yaitu merupakan kematian selama kehamilan atau dalam kurun periode 42 hari (6 minggu) pasca berakhirnya kehamilan yang mencakup semua sebab yang terkait dengan atau diperberat oleh kehamilan ataupun penanganannya namun bukan disebabkan oleh cedera ataupun kecelakaan.(Alkema et al., 2015)

2.2 EPIDEMIOLOGI DAN ETIOLOGI ANGKA KEMATIAN IBU

Ukuran keberhasilan pelayanan masyarakat modern ini tercermin dalam Angka Kematian Ibu (AKI) / Angka Kematian Maternal (Maternal Mortality Rate) yang sudah mengalami penurunan di banyak negara. Bila dibandingkan dengan negara maju, angka kematian maternal di Indonesia masih tergolong tinggi.(Mochtar, 1998)Angka kematian tersebut masih tinggi dengan tiga penyebab utama dunia yaitu (27,1%), hipertensi dalam kehamilan (14%), infeksi (10,7%) dan kematian ibu lainnya dapat juga disebabkan oleh aborsi (7,9%), emboli (3,2%) dan penyebab langsung lainnya (9,6%).(Say et al., 2014) Sedangkan, penyebab kematian ibu di indonesia yaitu masih tetap sama seperti perdarahan, hipertensi, infeksi dan diikuti dengan abortus, partus lama dan penyebab tidak langsung lainnya.(Say et al., 2014),(Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2014; Mochtar, 1998)

Di sumatera utara, angka kematian ibu sudah sedikit menurun dari tahun sebelumnya. Pemerintah sumatera utara mendapatkan hasil yaitu pada tahun 2014, kematian ibu mencapai 152 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut cenderung menurun dibandingkan tahun 2013 yang mendapatkan hasil 249 per 100.000 kelahiran hidup dan pada tahun 2012 dengan kematian ibu yaitu 274 per 100.000 kelahiran hidup. (Humas Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, 2014)

2.3 FAKTOR RESIKO KEMATIAN IBU HAMIL/KEMATIAN MATERNAL 2.3.1 PERDARAHAN PADA KEHAMILAN

Perdarahan pada akhir kehamilan sering terjadi pada masyarakat. Hal ini memerlukan 5- 10% evaluasi medis pada kehamilan. Keseriusan penanganan

8

pada kasus perdarahan obstetrik sangat diperlukan, karena perdarahan merupakan salah satu dari 3 penyebab utama kematian ibu hamil di dunia.(Decherney and Nathan, 2003; Say et al., 2014)

Perdarahan yang paling sering dan lebih dari dua pertiga kematian ibu terjadi akibat perdarahan pascapersalinan.(Say et al., 2014) Perdarahan ini menjadi kontributor yang signifikan terhadap mortalitas dan morbiditas kematian ibu di seluruh dunia terutama indonesia.(THM et al., 2011)

2.3.1.1 DEFINISI PERDARAHAN POSTPARTUM

Perdarahan pascapersalinan atau perdarahan postpartum merupakan perdarahan lebih dari 500 ml yang terjadi setelah bayi lahir atau lebih dari 1000 ml setelah persalinan abdominal.(Cunningham.F.G et al., 2014),(Prawirohardjo, 2014) Umumnya perdarahan postpartum terkait dengan kehilangan darah yang banyak termasuk syok dan disfungsi organ.(Department of Reproductive Health and Research, 2012) Hal ini menjadi tanda peringatan bagi para dokter agar lebih berhati-hati bila kehilangan darah melebihi 500 ml pada pasien.(Cunningham.F.G et al., 2014) Bila terjadi perdarahan melebihi normal dengan menyebabkan perubahan tanda vital seperti kesadaran menurun, pucat, limmbung, berkeringat dingin, sesak napas, tekanan darah sistolik <90 mmHg, dan denyut nadi > 100 x/menit, maka penanganan harus segera dilakukan.(Prawirohardjo, 2014)

Pembagian perdarahan postpartum dapat dibagi berdasarkan waktu yaitu (Prawirohardjo, 2014; Satriyandari and Hariyati, 2017) :

1. Perdarahan postpartum primer

Perdarahan primer adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama yang biasanya disebabkan oleh atonia uteri, robekan jalan lahir, sisa sebagian plasenta dan gangguan koagulasi.

2. Perdarahan postpartum sekunder

Perdarahan sekunder adalah perdarahan terjadi setelah 24 jam persalinan dan umumnya disebabkan oleh sisa plasenta.

9

Perdarahan terhadap ibu hamil dapat terjadi kapanpun selama kehamilan, persalinan maupun masa nifas. Kurangnya layanan obstetrik dan juga anastesi yang adekuat hanya akan memperbesar kemungkinan kematian ibu.(Cunningham.F.G et al., 2014)

2.3.1.2 ETIOLOGI PERDARAHAN POSTPARTUM

Banyak kondisi klinis yang menyebabkan peningkatan resiko perdarahan.

Selama kehamilan ataupun persalinan, perdarahan dapat terjadi kapan saja.

Pelayanan kesehatan, fasilitas obstetri maupun anastesi yang memadai terhadap ibu hamil yang mengalami perdarahan, sangat diperlukan untuk menurunkan AKI.(Cunningham.F.G et al., 2014) Ada beberapa penyebab terjadinya perdarahan postpartum, yang diklasifikasikan menjadi 4 grup utama, yaitu (Oyelese and Ananth, 2010; Edhi et al., 2013; Abdul-Kadir et al., 2014;

Cunningham.F.G et al., 2014) : 1. Atonia uteri

Atonia uteri adalah kegagalan uterus untuk berkontraksi secara adekuat setelah kelahiran. Atonia uteri merupakan faktor resiko terbesar untuk terjadinya perdarahan postpartum dengan persentase mencapai 80%.

2. Permasalahan pada plasenta

Ada 2 permasalahan, yaitu plasenta yang tertahan (mencegah kontraksi uterus yang adekuat sehingga dapat terjadi atonia uteri dan juga perdarahan postpartum) dan juga implantasi plasenta yang abnormal ( dapat terjadi karena plasenta previa ataupun plasenta akreta).

3. Trauma saat bersalin

Trauma saat bersalin dapat disebabkan oleh laserasi perineum atau serviks, episiotomi, ataupun ruptur uterus. Persalinan secara sesar juga dapat meningkatkan kemungkinan kehilangan banyak darah pada saat persalinan.

Persalinan yang menggunakan alat seperti vakum atau forsep juga dapat menimbulkan trauma yang meningkatkan resiko perdarahan.

10

4. Gangguan sistemik

Penyebaran koagulopati pada intravaskular yang juga dapat berhubungan dengan abrupsi plasenta, kematian janin intrauterin dengan retensi janin yang telah turun, banyaknya kehilangan darah atau transfusi masif, emboli pada cairan amnion, dan sepsis dapat menyebabkan perdarahan postpartum.

Banyak penyebab yang tidak tampak pada wanita mengenai perdarahan postpartum, sehingga para wanita harus mengetahui bahwa setiap wanita beresiko terjadi perdarahan postpartum. Pemeriksaan antenatal sangat dianjurkan untuk mengetahui wanita dengan resiko perdarahan postpartum yang tinggi.(Oyelese and Ananth, 2010)

2.3.1.3 PATOFISIOLOGI PERDARAHAN POSTPARTUM

Kehilangan darah pada saat melahirkan merupakan reaksi fisiologis pada ibu. Hal ini merupakan mekanisme normal yang terjadi untuk mengembalikan parameter darah ibu ke tingkat normal pada saat tidak hamil.(Mousa et al., 2014) Pada saat akan mendekati aterm, aliran darah pada ibu hamil dibawa oleh arteri spiralis dan vena penyertanya. Diperkirakan setidaknya ada 600 ml/menit darah mengalir pada ruang intervilus. Dengan terlepasnya plasenta, pembuluh-pembuluh ini akan terputus. Hemostasis yang pertama kali tercapai di lokasi implantasi plasenta, dicapai dengan kontraksi miometrium yang menekan sejumlah pembuluh darah yang relatif besar dengan jumlah yang banyak. Keadaan ini juga diikuti dengan obliterasi lumen pembuluh dan koagulasi pada darah. (Cunningham.F.G et al., 2014)

Perdarahan postpartum dapat terjadi bila implantasi plasenta dan juga kontraksi uterus berada dalam keadaan abnormal dan juga bila sistem pembekuan darah tidak bekerja secara normal. Perdarahan pascapartum yang fatal dapat terjadi akibat atonia uteri meskipun sistem peredaran darah normal.

Dan jika miometrium di dalam dan disebelah area implantasi yang telah terbuka berkontraksi kuat, kecil kemungkinan terjadi perdarahan fatal dari lokasi implantasi plasenta, bahkan dalam kondisi terganggunya sistem

11

koagulasi pada pasien.(Cunningham.F.G et al., 2014) Peningkatan fisiologis faktor pembekuan darah selama persalinan membantu mengendalikan kehilangan darah setelah pemisahan plasenta.(Mousa et al., 2014)

2.3.1.4 FAKTOR RESIKO PERDARAHAN POSTPARTUM

Meskipun perdarahan postpartum dapat terjadi dalam keadaan dan wilayah manapun di dunia, kejadian perdarahan postpartum paling banyak terjadi di wilayah negara berkembang.Perbedaan ini dapat terlihat dari kualitas pelayanan asuhan, termasuk ketersediaan tenaga terlatih untuk menghadiri persalinan, akses terhadap ketersediaan obat uterotonik yang berkualitas, maupun kecepatan tanggapan yang dibutuhkan untuk mengintervensi ketika kedaruratan obstetri terjadi.(Sheldon et al., 2014)

Pada paritas, ibu yang menjalani paritas 1 dan paritas lebih dari 3 mempunyai angka perdarahan postpartum yang lebih tinggi dibandingkan paritas yang lain.

Pada paritas 1, ketidaksiapan ibu menghadapi persalinan menjadi salah satu faktor penyebab ketidaksiapan ibu hamil menghadapi komplikasi yang terjadi selama kehamilan, persalinan dan nifas. Sedangkan pada paritas ke 3 atau lebih, penurunan fungsi reproduksi menjadi salah satu faktor terjadinya perdarahan postpartum yang lebih besar dari sebelumnya.(Satriyandari and Hariyati, 2017) Penelitian yang ada menunjukkan bahwa banyak wanita yang mengalami perdarahan postpartum tidak memiliki faktor resiko yang khas. Hal ini menyebabkan setiap wanita dapat menganggap bahwa dirinya mempunyai resiko yang sama untuk mengalami perdarahan postpartum.(Abdul-Kadir et al., 2014)

Kondisi klinis dapat menyebabkan peningkatan resiko perdarahan pada pasien.

Perdarahan dapat terjadi kapan saja di sepanjang kehamilan dan nifas. Pada penelitian terbaru, istilah perdarahan trimester ke tiga sudah tidak dapat digunakan dan penggunannya tidak dianjurkan.(Cunningham.F.G et al., 2014) Pemeriksaan antenatal pada ibu hamil diperlukan untuk menurunkan resiko perdarahan postpartum. Pemeriksaan ini juga dapat mengetahui apakah wanita tersebut memiliki resiko yang tinggi untuk mengalami perdarahan postpartum. Faktor

12

resiko terhadap perdarahan postpartum dapat dilihat dalam rangkuman pada tabel 2.1.(Abdul-Kadir et al., 2014)

Pada tabel kita dapat melihat salah satu penyebab tertinggi untuk perdarahan postpartum adalah partus lama (prolonged labor). Partus lama merupakan persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primi atau 18 jam pada multi.

Partus lama dapat menyebabkan kelelahan pada otot uterus sehingga rahim berkontraksi lemah pada saat bayi lahir.(Satriyandari and Hariyati, 2017)

Tabel 2.1. : Faktor Resiko Perdarahan Postpartum. (Abdul-Kadir et al., 2014)

13

2.3.1.5 MANIFESTASI KLINIS PERDARAHAN POSTPARTUM

Perdarahan postpartum dapat terjadi sebelum ataupun sesudah terlepasnya plasenta. Biasanya, perdarahan postpartum bukan terjadi secara masif, namun dapat terjadi secara konstan. Bila terjadi atoni pada uterus secara terus menerus, dapat menyebabkan kondisi hipovolemi yang serius pada pasien darah yang terus menerus merembes dapat menyebabkan banyaknya kehilangan darah pada pasien secara cepat.(Cunningham.F.G et al., 2014) Di tabel 2.2, akan menunjukkan manifestasi klinis perdarahan postpartum berdasarkan kehilangan darah pada pasien.(Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Himpunan Kedokteran Feto Maternal, 2016b)

Pada pasien yang mengalami perdarahan postpartum, didapati beberapa kondisi fisik seperti(Cunningham.F.G et al., 2014; Landon et al., 2014) :

1. Uterus yang membesar - biasanya diatas umbilikus 2. Keluarnya banyak darah (>500 ml)

3. Darah berwarna merah terang (berasal dari arteri) 4. Takikardi

5. Pusing 6. Berkeringat 7. Gelisah

8. Perasaan berdebar 9. Hipotensi

10. Pucat 11. Mual 12. Oliguria 13. Kelelahan

14

Tabel 2.2. Manifestasi klinis perdarahan postpartum.(Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Himpunan Kedokteran Feto Maternal, 2016)

2.3.1.6 DIAGNOSIS PERDARAHAN POSTPARTUM

Diagnosis emergensi perdarahan postpartum diberikan kepada pasien yang kehilangan banyak darah sebanyak >500 ml untuk persalinan pervaginam atau

>1000 ml untuk persalinan secara abdominal.(Cunningham.F.G et al., 2014;

Landon et al., 2014; Prawirohardjo, 2014) Hal ini dapat berupa setiap perdarahan yang dapat mengganggu stabilitas hemodinamik pada ibu.

Komplikasi perdarahan postpartum diperkirakan terjadi sebanyak 4% pada persalinan pervaginam dan 6-7% pada persalinan abdominal. Penilaian takipnu dan takikardi harus dilakukan kepada pasien karena ini merupakan tanda-tanda awal terjadinya penyempitan tekanan nadi dan dapat menyebabkan hipotensi.

(Landon et al., 2014)

Menurut California Maternal Quality Care Collaborative (CMQCC), ada beberapa tingkatan pada perdarahan postpartum, yaitu (Landon et al., 2014) : 1. Tingkat 1 :

15

Kehilangan darah lebih dari 500 ml secara pervaginam atau lebih dari 1000 ml secara abdominal atau perubahan tanda vital (>15% atau denyut jantung ≥110, tekanan darah ≤85/45, saturasi oksigen <95%)

2. Tingkat 2 :

Perdarahan berlanjut namun dibawah 1500 ml.

3. Tingkat 3 :

Total kehilangan darah mencapai lebih dari 1500 ml, >2 unit Packed Red Blood Cells(PRBC) diberikan atau tanda vital tidak stabil atau dicurigai DIC.

Untuk mendiagnosis perdarahan akibat atonia uterus dan perdarahan dari laserasi traktus genitalis, secara tentatif ditentukan oleh faktor resiko atau predisposisi dan kondisi uterus. Meskipun uterus teraba keras dan berkontraksi baik, bila perdarahan berlanjut maka kemungkinan besar adalah laserasi. Darah yang berwarna merah terang juga mendukung dugaan darah berasal dari arteri akibat laserasi. Inspeksi secara cermat terhadap vagina-serviks setelah setiap kelahiran penting dilakukan untuk mengidentifikasi laserasi sebagai penyebab perdarahan. (Cunningham.F.G et al., 2014)

2.3.2 HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

Hipertensi dalam kehamilan merupakan komplikasi dari persalinan yang mempersulit 10% kehamilan di seluruh dunia. Hipertensi juga menjadi salah satu penyebab paling berpengaruh terhadap morbiditas dan mortalitas ibu bersalin bersama-sama dengan perdarahan dan juga infeksi. Kematian ibu di indonesia akibat hipertensi dalam kehamilan juga tergolong cukup tinggi.(Roberts et al., 2013; Cunningham.F.G et al., 2014; Prawirohardjo, 2014)

Pada dasarnya, hipertensi merupakan tekanan darah sistolik dan diastolik

≥140/90 mmHg. Pada kasus hipertensi dalam kehamilan, preeklamsia sampai sekarang masih menjadi penyebab utama kematian ibu baik preeklamsia sendiri maupun preeklamsia yang dibarengi dengan hipertensi kronis. Diperkirakan 50.000-60.000 ibu meninggal akibat preeklamsia per tahun di seluruh dunia.

Preeklamsia dapat menjadi faktor resiko terjadinya penyakit kardiovaskular

16

danmetabolisme pada wanita. Banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui etiologi preeklamsia, namun sampai sekarang belum diketahui apakah etiologinya tersebut.(Roberts et al., 2013)

2.3.2.1 KLASIFIKASI HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

Hipertensi pada kehamilan menurut American Society of Hypertension guideline dapat diklasifikasikan dalam 4 kategori, yaitu (Roberts et al., 2013;

Cunningham.F.G et al., 2014; Prawirohardjo, 2014):

1. Hipertensi gestasional

Hipertensi ini disebut juga dengan transient hypertension. Hipertensi menghilang setelah 3 bulan pasca persalinan atau kehamilan dengam tanda-tanda preeklamsia namun tanpa proteinuria. TD sistolik ≥140 mmHg atau TD diastolik ≥90 mmHg ditemukan pertama kali sewaktu hamil dan memiliki gejala atau tanda lain preeklamsia seperti dispepsia atau trombositopenia.

2. Sindrom preeklamsia dan eklamsia

Preeklamsia merupakan hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai proteinuria, sedangkan eklamsia merupakan preeklamsia yang disertai dengan kejang-kejang dan/atau koma.

TD sistolik ≥140 mmHg atau TD diastolik ≥90 mmHg dengan proteinuria

≥300 mg/24 jam.

3. Hipertensi kronik dengan superimposed preeklamsia

Preeklamsia yang terjadi pada ibu hamil yang telah menderita hipertensi sebelum hamil.

4. Hipertensi kronik

Hipertensi (tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg) yang telah didiagnosis sebelum kehamilan terjadi atau hipertensi yang timbul sebelum mencapai usia kehamilan 20 minggu.

17

2.3.2.2 DEFENISI PREEKLAMSIA

Preeklamsia sebelumnya selalu didefinisikan dengan adanya hipertensi dan proteinuria yang terjadi pada kehamilan. Meskipun definisi ini masih digunakan, beberapa wanita lain ada juga yang menunjukkan hipertensi disertai dengan gangguan multisistem untuk menunjukkan adanya kondisi berat dari preeklamsia meskipun wanita tersebut tidak mengalami proteinuri.

Edema sendiri sekarang ini sudah tidak lagi digunakan sebagai kriteria diagnostik karena terlalu umum ditemukan pada wanita dengan kehamilan normal.(Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Himpunan Kedokteran Feto Maternal, 2016a)

2.3.2.3 PATOFISIOLOGI PREEKLAMSIA

Pada preeklamsia yang ringan maupun berat, dapat terjadi perubahan patologis yang buruk pada sejumlah organ dan sistem tubuh yang kemungkinan diakibatkan oleh vasospasme, disfungsi endotel dan iskemia. Wanita dengan hipertensi pada kehamilan dapat mengalami peningkatan respon terhadap berbagai substansi endogen yang dapat menyebabkan vasospasme dan agregasi platelet. sistem saraf pusat dapat dipengaruhi oleh penumpukan trombus dan perdarahan yang ditandai dengan sakit kepala dan defisit saraf lokal dan kejang.

Nekrosis ginjal dapat menyebabkan penurunan laju filtrasi glomerulus dan proteinuria. Kerusakan hepar dari nekrosis hepatoseluler menyebabkan nyeri epigastrium dan peningkatan tes fungsi hati. Peningkatan hemolisis microangiopati menyebabkan anemia dan trombositopenia. Infark plasenta dan obstruksi plasenta menyebabkan pertumbuhan janin terhambat bahkan kematian janin dalam rahim. (Cunningham.F.G et al., 2014)

Berikut ini adalah perubahan pada organ-organ(Cunningham.F.G et al., 2014) :

1. Sistem kardiovaskular

Pada Preeklamsia maupun eklamsia, gangguan berat pada fungsi kardiovaskular sering terjadi. Gangguan ini berhubungan dengan

18

peningkatan afterload jantung akibat hipertensi, preload jantung yang dipengaruhi ada tidaknya hipervolemia pada kehamilan ataupun aktivasi endotel disertai ekstravasasi cairan intravaskular ke dalam ruang ekstrasel.

2. Darah dan koagulasi

Keadaan hematologis yang lazim ditemukan pada beberapa pasien preeklamsia adalah trombositopenia yang dapat menyebabkan kematian ibu. Selain itu, berkurangnya beberapa faktor pembekuan darah pada plasma, eritrosit dengan bentuk yang aneh serta mengalami hemolisis cepat menjadi salah satu gangguan pada preeklamsia yang dapat membahayakan ibu hamil.

3. Hemostasis dan volume

Pada ibu hamil yang mengalami preeklamsia, volume cairan ekstrasel biasanya jauh lebih besar dibandingkan pada ibu dengan kehamilan normal dan keadaan ini biasanya disebut dengan edema. Cedera endotel diperkirakan menjadi mekanisme yang berperan dalam retensi patologis cairan ini. Penurunan ini menyebabkan ketidakseimbangan filtrasi dan semakin mendorong cairan intravaskular ke dalam intersisium sekelilingnya.

4. Ginjal

Pada kehamilan normal, aliran darah dan laju filtrasi glomerulus meningkat secara bermakna. Pada kebanyakan wanita yang mengalami preeklamsia, kadar natrium urin dan kadar asam urat dapat meningkat.

Pada saat yang sama, berkurangnya ekskresi kalsium dalam urin dapat terjadi dengan kemungkinan peningkatan reabsorbsi kalsium dalam tubulus.

5. Hepar

Keterlibatan hepar pada preeklamsia dapat disebabkan oleh beberapa kondisi klinis seperti keterlibatan simptomatik yang mengakibatkan nyeri dan nyeri tekan derajat sedang hingga berat pada kuadran kanan atau pertengahan epigastrium, peningkatan asimtomatik kadar transaminase

19

yang menjadi penanda preeklamsia berat, perdarahan pada hepar di daerah yang mengalami infark sehingga membentuk hematoma hepatis, atau perlekatan hati akut yang sering menjadi salah duga sebagai preeklamsia

6. Otak

Nyeri kepala dan gejala penglihatan sering terjadi pada preeklamsia berat dan terjadinya kejang disertai kedua gejala tersebut menandakan eklamsia.

7. Uterus

Gangguan uterus pada preeklamsia dapat dibuktikan dengan terganggunya sirkulasi uteroplasental. Penelitian pada kasus preeklamsi wanita trimester ketiga mendapatkan hasil bahwa hanya sepertiga wanita dengan penyakit berat yang memiliki velosimetri arteria uterina yang abnormal.

2.3.2.4 FAKTOR RESIKO PREEKLAMSIA

Upaya untuk memprediksi preeklamsia pada awal kehamilan dengan menggunakan faktor resiko menunjukkan hasil deteksi 37% kepada paseien dengan onset preeklamsia dini dan 29% kepada pasien dengan preeklamsia onset lama.(Roberts et al., 2013)Berikut adalah beberapa faktor resiko untuk preeklamsia, yaitu(Dutton et al., 2012) :

1. Hipertensi kronis 2. Mola hidatidosa

3. Kehamilan sebelumnya atau Kehamilan kembar 4. Nuliparitas

5. Usia ibu sudah lanjut 6. Obesitas

7. Diabetes atau diabetes gestasional 8. Penyakit ginjal

9. Penyakit autoimun (mis : lupus)

20

2.3.2.5 MANIFESTASI KLINIS PREEKLAMSIA

Preeklamsia merupakan penyulit kehamilan akut yang dapat terjadi antepartum, intrapartum, dan postpartum. Dari gejala klinis yang ada, dapat ditentukan preeklamsia ringan maupun preeklamsia berat. Namun, adanya pembagian tersebut bukan berarti adanya dua penyakit yang berbeda. Secara teoritis, menurut Sarwono, gejala yang timbul pada preeklamsia adalah edema, hipertensi dan proteinuria, bila pasien mengeluh adanya gangguan nyeri kepala, gangguan penglihatan ataupun nyeri epigasterium, maka penyakit ini sudah cukup lanjut.(Prawirohardjo, 2014)

Preeklamsia juga merupakan suatu kondisi pada kehamilan yang ditandai dengan disfungsi plasenta dan respon maternal terhadap adanya inflamasi sistemik dengan aktivasi endotel dan koagulasi.(Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Himpunan Kedokteran Feto Maternal, 2016a)

Untuk mengetahui ringan ataupun berat preeklamsia yang diderita pasien, penanda keparahan dapat dilihat pada tabel 2.3 berikut (Cunningham.F.G et al., 2014) :

Tabel 2.3. Penanda Keparahan Penyakit Hipertensi Dalam Kehamilan.

(Cunningham.F.G et al., 2014)

21

2.3.2.6 DIAGNOSIS PREEKLAMSIA

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, preeklamsia dibagi menjadi preeklamsia ringan dan preeklamsia berat. Untuk menegakkan diagnosis, perlu diketahui kondisi yang memberatkan masing-masing kategori. Untuk menegakkan diagnosis preeklamsia ringan, dapat dilihat dari beberapa gangguan seperti (Prawirohardjo, 2014; Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Himpunan Kedokteran Feto Maternal, 2016) :

1. Tekanan darah sistolik dan diastolik ≥140/90 mmHg 2. Proteinuria : ≥300 mg/24 jam atau ≥1 + dipstik.

3. Trombositopenia : trombosit <100.000/µl

4. Gangguan ginjal : kreatinin serum >1,1 mg/dl atau didapatkan peningkatan kadar kreatinin serum pada kondisi dimana tidak ada kelainan ginjal lainnya.

5. Gangguan liver : peningkatan konsentrasi transaminase 2 kali normal atau adanya nyeri epigastrik / regio kanan atas abdomen.

6. Edema paru.

7. Didapatkan gejala neurologis : stroke, nyeri kepala, gangguan visus.

8. Gangguan pertumbuhan janin yang menjadi tanda gangguan sirkulasi uteroplasenta : Oligohidramnion, Fetal Growth Restriction (FGR) atau didapatkan adanya Absent or Reversed end Diastolic Velocity (ARDV).

Untuk menegakkan diagnosis preeklamsia berat, dapat ditemukan kondisi yang memperberat preeklamsia seperti (Prawirohardjo, 2014; Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Himpunan Kedokteran Feto Maternal, 2016a) :

1. Tekanan darah sekurang-kurangnya 160 mmHg sistolik atau 110 mmHg diastolik pada dua kali pemeriksaan berjarak 15 menit menggunakan lengan yang sama. Tekanan darah Tidak menurun walaupun sudah dirawat di rumah sakit.

2. Oliguria : Produksi urin <500 cc/24 jam.

22

3. Trombositopenia : Trombosit <100.000/µl atau penurunan trombosit secara cepat.

4. Gangguan ginjal : kreatinin serum >1,1 mg/dl atau didapatkan peningkatan kadar kreatinin serum pada kondisi dimana tidak ada kelainan ginjal lainnya.

5. Gangguan liver : peningkatan konsentrasi transaminase 2 kali normal atau adanya nyeri epigastrik / regio kanan atas abdomen.

6. Edema paru dan sianosis.

7. Didapatkan gejala neurologis : stroke, nyeri kepala, gangguan visus.

8. Gangguan pertumbuhan janin.

9. Hemolisis mikroangiopatik.

10. Sindrom HELLP(hemolysis, elevated liver enzimes, low platelet count).

Setiap preeklamsia merupakan kondisi yang berbahaya dan dapat mengakibatkan peningkatan morbiditas dan mortalitas secara signifikan dalam waktu singkat. Pada penelitian terbaru, kondisi proteinuria masif (lebih dari 5 g) telah dihapus dari kondisi yang preeklamsia berat. Hal ini dikarenakan rendahnya hubungan antara kuantitas protein urin terhadap preeklamsia.(Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Himpunan Kedokteran Feto Maternal, 2016a)

2.3.3 INFEKSI PADA KEHAMILAN

Ibu hamil sangat peka terhadap terjadinya infeksi dari berbagai mikroorganisme. Secara fisiologik sistem imun pada ibu hamil menurun, kemungkinan sebagai akibat dari toleransi sistem imun ibu terhadap bayi yang

Ibu hamil sangat peka terhadap terjadinya infeksi dari berbagai mikroorganisme. Secara fisiologik sistem imun pada ibu hamil menurun, kemungkinan sebagai akibat dari toleransi sistem imun ibu terhadap bayi yang

Dokumen terkait