PENGARUH MISI KATOLIK DI KOTA MEDAN
4.1 Bidang Pendidikan
Dalam upaya penyebaran agama Katolik, pendidikan merupakan bagian dari karya pelayanan untuk menarik perhatian masyarakat. Karya pendidikan merupakan upaya para misionaris Katolik untuk mencerdaskan penduduk agar mengerti memahami bagaimana ajaran Katolik, dan memperjuangkan perbakan sosial kehidupan umat Katolik.
Misi penyebaran agama Katolik di Medan pun beriringan dengan pendidikan bagi penduduk setempat. Upaya untuk mengadakan pendidikan bagi penduduk
setempat pun dilaksanakan dengan berbagai cara. Diantaranya dengan menghubungi kongregasi suster-suster di Dongen Belanda agar datang ke Medan dan memberikan pengajaran bagi anak-anak setempat.
4.1.1. Berdirinya Sekolah Katolik Yayasan Seri Amal.
Sejarah berdirinya Yayasan Seri Amal (YSA) berawal dari sejarah Kongregasi Suster-Suster Santo Yosef (KSSY) yang lahir di Amersfoort-Belanda pada tahun 1840, dan memulai karyanya di Indonesia (Medan) pada tanggal 28 Januari 1931.
Kongregasi Suster-Suster Santo Yosef (KSSY) bertujuan untuk menepati Injil Suci Tuhan Yesus Kristus yakni menjadi kabar gembira bagi semua orang.
Kedatangan suster-suster KSSY dari Amersfoort Belanda pada awalnya membantu Pastor Ferdinandus Van Loon sebagai pastor yang ditugaskan untuk melayani orang Tamil di Medan. Pastor Ferdinandus juga membuka tempat pengajaran untuk pendidikan orang-orang Tamil. Tempat itu didirikan pada tanggal 1 Maret 1915 di daerah Gereja Katolik Hayam Wuruk saat ini. Saat itu belum dapat dikatakan sekolah karena hanya pastor Van Loon saja yang mengajar sebagai sarana mempelajari Agama Katolik bagi orang Tamil.
Pada awalnya suster-suster bekerja di tengah-tengah umat Suku Tamil India.
Anak-anak Tamil yang orang tuanya bekerja sebagai karyawan perkebunan diasuh di salam asrama yang telah mereka kelola di Daendels Strat Petisah (di Jl. Hayam Wuruk sekarang). Mereka bersekolah di Hollands Indische School. Diajar oleh suster ini dalam bahasa Belanda yang sudah barang tentu cukup sulit dilaksanakan. Para
suster ini juga mengelola dua asrama yang lain yang berada di Wilhelmina Strat (Jl.
Sutomo sekarang). Satu untuk anak-anak Belanda dan satu untuk anak Tionghoa.
Perkembangan sekolah bagi anak-anak suku tamil yang di inisiasi oleh Pastor Ferdinandus dengan bantuan suster-suster dari KSSY semakin bertumbuh dengan adanya pertambahan tenaga pengajar yang didatangkan dari Belanda. Mereka ditugaskan untuk menjadi pengajar di sekolah dan mengurus asrama di Jalan Sutomo Medan. Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, pastor Ferdinandus Van Loon mengusulkan untuk didirikan sekolah berjenjang mulai dari tingkat dasar sampai menengah. Pada tahun 1950, didirikanlah sekolah berejenjang pertama.
Pengajaran dan kurikulum sekolah tersebut diserahkan kepada Kongregasi suster Santo Yosef untuk mengurus.
Akibat adanya himbauan dari pemerintah agar sekolah-sekolah mempunyai yayasan sendiri, pada tanggal 1 Agustus 1957 didirikan Yayasan Seri Amal dan secara resmi akte diterbitkan 7 Oktober 1958 oleh Suster Kongregasi Suster St.
Yosef. Sekolah-sekolah yang termasuk di dalam yayasan Seri Amal di Medan antara lain adalah TK Fajar, SD. St. Antonius, SMP Putri Cahaya, dan SMA Cahaya.
Yayasan Seri Amal juga mengelola sekolah-sekolah mulai dari tingkat TK sampai dengan SMA berada di empat daerah 2 Provinsi dan 4 kabupaten.
4.1.2 Berdirinya Sekolah Katolik Yayasan Setia Medan
Berbicara tentang Yayasan ini dan karya-karyanya tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kongregasi Suster Fransiskus Dina (SFD). Beberapa Suster misionaris dari
Dongen tiba di Medan 17 April 1923 untuk berkarya di bidang pendidikan. Mereka mendirikan beberapa sekolah dan tempat-tempat kursus keterampilan wanita bagi orang-orang Eropa maupun pribumi di Jalan Palang Merah 15 Medan dan Asrama (internat) juga didirikan untuk siswi-siswi yang berasal dari luar kota Medan. Di samping itu mereka ikut serta dalam aneka karya pastoral lainnya seperti karya kesehatan dan panti asuhan. Singkatnya, karya mereka tersebar di berbagai tempat di wilayah Medan maupun di luar Medan.
Beberapa sekolah yang didirikan oleh para suster misionaris mengalami proses jatuh-bangun dan timbul-tenggelam seiring dengan situasi penjajahan dan kurangnya tenaga. Namun, dengan gigih mereka berjuang mengatasi berbagai persoalan untuk tetap eksis di dunia pendidikan sekalipun mendapat ancaman dari tentara Jepang saat itu. Beberapa sekolah dibuka kembali sesudah penjajahan Jepang dan ditata dengan baik dengan bantuan dari Dongen. Seiring dengan perjalanan waktu, beberapa sekolah yang dididirikan oleh para suster misionaris diserahkan kepada keuskupan dan yang lainnya tetap ditangani langsung oleh kongregasi
Waktu berjalan terus. Kaluarlah peraturan pemerintah bahwa setiap instansi resmi harus memiliki Yayasan. Dengan berbagai aturan yang dirumuskan saat itu. Menanggapi peraturan itu Suster-suster SFD Mulai mendirikan Yayasan dengan nama Yayasan Setia. dengan Akta Notaris nomor 54 tanggal 21 Juni 1963 yang diperbarui tanggal 10 Maret 2006.
Yayasan ini milik kongregasi suster – suster Fransiskus Dina dan dikelola oleh Suster–Suster Fransiskus Dina (SFD). Berada di wilayah Keuskupan Agung
Medan ini. Kantor semula berada di Jl.Palang Merah 15 Medan. Sekarang di Jl.Bunga Terompet 30 Padang Bulan Medan. Sekolah-sekolah Katolik yang berada dalam yayasan ini antara lain TK St. Fransiskus Medan, TK St. Yosef Medan, SMP St.
Maria Medan, dan SMA St. Maria Medan.
4.2.3. Berdirinya Sekolah Katolik Yayasan Don Bosco Medan
Yayasan Katolik Don Bosco Medan merupakan yayasan yang membawahi beberapa sekolah antara lain SMA St. Thomas 1, SMA St.Thomas , TK St. Thomas di Jl. Mataram, SMP St. Thomas, dan beberapa sekolah Katolik lainnya di Medan.
Pada awalnya sekolah Santo Thomas didirikan atas inisiasi Pastor Marcellinus Simons. Pastor Marcellinus merupakan Pastor yang ditugaskan untuk melayani umat katolik Cina di Medan di jalan Hakka (sekaranga Jalan M.T. Haryono). Rumah Katolik School merupakan sekolah yang didirikan untuk anak-anak orang Cina) oleh Pastor Marcellinus pada tahun 1924. Guru-gurunya didatangkan dari Malaya.
Kemudian dibangun pula Holland-Chinnese School, pada tahun 1931 sekolah itu mempunyai 150 orang murid.
Perkembangan sekolah tidak lepas atas bantuan Suster dari Dongen Belanda, yaitu Suster dari Kongregasi Suster-suster Fransiskan Dina.75 Kedatangan mereka untuk membantu tugas Pastor Marcellinus Simons yang melayani orang-orang
75 Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina Indonesia lahir dari situasi dan perkembangan Kongregasi Suster-suster Fransiskanes Dongen, Belanda. Kedatangan mereka tidak lepas dari undangan Mgr. Brans selaku pimpinan Vikariat Apostolik Sumatera yang berkedudukan di Medan saat itu. Untuk membantu melayani umat Katolik di Medan terutama pelayanan bagi orang-orang Katolik Cina di Medan.
Katolik Cina di Medan. Selain itu untuk memberikan pengajaran bagi para anak-anak perempuan di Sekolah Eropa-Cina yang didirikan Pastor Marcellinus bagi anak-anak Cina di Medan.
Setelah kemerdekaan Indonesia, di tahun 1955 Vikariat Apostolik Medan (Keuskupan Agung Medan) mengambil alih sekolah tersebut dengan mendirikan SMA Katolik Medan di Jl. Let. Jend. S. Parman 109 Medan. Seiring waktu, nama SMA Katolik tersebut berubah menjadi SMA Katolik St. Thomas 1 Medan.
Sekolah-sekolah Katolik di Jalan M.T. Haryono pada awalnya adalah milik Keuskupan Agung Medan dengan wewenang mengelola sekolah diserahkan mula-mula kepada seksi Pendidikan dan Pengajaran Keuskupan Agung Medan sampai dengan tanggal 27 Nopember 1982. Sejak tanggal 27 Nopember 1982 tersebut hingga sekarang, sekolah diserahkan kepada Yayasan Perguruan Katolik Don Bosco Keuskupan Agung Medan yang beralamat di Jl. Imam Bonjol 39 Medan.
4.2.4. Berdirinya Sekolah Katolik Yayasan Budi Murni
Yayasan Perguruan Katolik Budi Murni didirikan oleh Keuskupan Agung Medan. Yayasan ini berdiri tahun 1953, awalnya hanya terdiri dari satu unit yaitu SD Budi Murni yang berada di Jl. Merapi. Namun sekarang yayasan ini berpusat di Jalan Timor No.34 Medan, kelurahan Gaharu kecamatan Medan Timur. Yayasan ini melaksanakan pengolahan berdasarkan program kerja yang ditetapkan dalam rapat kerja tahunan atau musyawarah dengan melibatkan semua komponen. Logo Yayasan Budi Murni: Di mana dengan motto “carilah yang lebih murni” atau dengan bahasa
latin “Altiora Quaerite”, yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kristiani yaitu kejujuran, kebenaran, keadilan dan kerendahan hati pada insan pendidikan di Perguruan Katolik Budi Murni. Yayasan ini menyelenggarakan 28 unit perguruan mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA, yang tersebar di berbagai penjuru kota Medan.
Yayasan Perguruan Katolik (YPK) Budi Murni) berdiri sejak 1 Desember 1957 (pasal 2 Anggaran dasar YPK Budi Murni) dan Anggaran Dasar Pendirian dibuat oleh Notaris Hasangelar Soetan Pane Paroehoem berkedudukan di Medan dengan Akta NO.22 tanggal 4 Februari 1958. Sebelum adanya YPK Budi Murni, telah didirikan sekolah-sekolah yang diselenggarakan Vikariat Apostolik Medan di Lokasi tanah gereja, yaitu Jl. Merapi, Jl. Nusantara dan Jl. Sutomo.76