UPAYA PENYEBARAN AGAMA KATOLIK DI MEDAN TAHUN 1911-1961
SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN
O L E H
NAMA : MARTUA PARDAMUAN SITUNGKIR NIM : 120706031
PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
LEMBAR PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI
UPAYA PENYEBARAN AGAMA KATOLIK DI MEDAN 1911-1961 Yang diajukanoleh:
NAMA : MARTUA PARDAMUAN SITUNGKIR NIM : 120706031
Telah disetujui untuk diajukan dalam ujian skripsi oleh : Pembimbing
Dra. Nurhabsyah, M.Si. Tanggal:………
NIP. 195912311985032005
KetuaProgram Studi Ilmu Sejarah
Drs. Edi Sumarno, M.Hum. Tanggal:………...
NIP. 19640922989031001
PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2017
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI
UPAYA PENYEBARAN AGAMA KATOLIK DI MEDAN 1911-1961 SKRIPSI SARJANA
DIKERJAKAN OLEH
NAMA : MARTUA PARDAMUAN SITUNGKIR NIM : 120706031
Pembimbing
Dra. Nurhabsyah, M.Si NIP. 195912311985032005
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra Fakultas Ilmu Budaya dalam bidang Ilmu Sejarah.
PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
LEMBAR PERSETUJUAN KETUA JURUSAN
DISETUJUI OLEH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH Ketua Program Studi
Drs. Edi Sumarno, M.Hum NIP. 19640922989031001
Medan, Juli 2017
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI OLEH DEKAN DAN PANITIA UJIAN
Diterima oleh
Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra dalam bidang Ilmu Sejarah pada Fakultas llmu Budaya USU Medan.
Pada
Hari :
Tanggal :
Fakultas Ilmu Budaya USU Dekan,
Dr. Budi Agustono, M. S.
NIP. 196008051987031001 PanitiaUjian.
No. Nama TandaTangan
1. Drs. Edi Sumarno, M.Hum (……….)
2. Dra. Nina Karina, M. SP (……….)
3. Dra. Nurhabsyah, M.Si (……….)
4. Drs. Wara Sinuhaji, M.Hum (……….) 5. Dra. Junita Setiana Ginting, M.Si (……….)
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kasih dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Penulisan skripsi ini dibuat untuk memenuhi syarat kelulusan sarjana pada Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Sumatera Utara.
Adapun judul dari skripsi ini adalah “UPAYA PENYEBARAN AGAMA KATOLIK DI MEDAN TAHUN 1911-1961”. Tulisan ini menguraikan perjalanan sejarah upaya misi Katolik di Medan mulai dari awal kedatangan misionaris Katolik di Medan, kemudian dinamika dan tantangan misi tersebut, sampai dengan pendirian Keuskupan Agung Medan sebagai wilayah provinsi organisasi Katolik dunia.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan perbaikan dalam tulisan ini.
Untuk itu, penulis mengharapkan kritik yang kritis-kontruktif dari pembaca demi perbaikan tulisan sederhana ini. Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca.
Medan, Juli 2017 Penulis,
Martua Pardamuan Situngkir NIM. 120706031
UCAPAN TERIMA KASIH
Rasa puji dan syukur mendalam penulis sampaikan pada Tuhan Yesus Kristus akan karunia kesehatan, kesempatan, kekuatan, dan kasih sayang sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Selain itu peran dari orang-orang disekitar penulis rasa sangat berharga sehingga semakin memantapkan kepercayaan diri dalam menyelesaikan tulisan ini.
Untuk itu, penulis mengucapkan terimahkasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Wakil Dekan I, Wakil Dekan II dan Wakil Dekan III beserta seluruh staf administrasi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
2. Kepada Bapak Drs. Edi Sumarno, M.Hum sebagai Ketua Progam Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya yang banyak memberi saran dan nasehat kepada penulis. Juga kepada Ibu Dra. Nina Karina, M.SP selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Sejarah yang telah memberi ilmu dan nasehat selama ini.
3. Ibu Dra. Nurhabsyah, M.Si selaku Dosen Pembimbing Skripsi penulis, terima kasih atas bimbingan, dorongan, saran, dan motifasi yang penulis dapatkan, dan dengan sabar membimbing penulis agar segera menyelesaikan skripsi ini.
4. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Sejarah yang telah banyak memberikan ilmu dan pengetahuan baru kepada penulis selama mengikuti
studi di kampus USU. Kemudian terima kasih kepada Bang Ampera selaku Tata Usaha Program Studi Ilmu sejarah atas bantuannya dalam segala urusan di kampus.
5. Kepada ibunda tercinta, Lista Maria br Simarmata, yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidik penulis dengan penuh cinta dan kasih sayang, terimakasih atas segala nasehat, dorongan dan motifasi yang akan selalu tertanam abadi begitu pula senyummu selalu menjadi cambuk dalam pematangan diri menuju sukses. Kepada mendiang ayahanda tersayang Alm.
J. Situngkir atas kenangan indah dan doa yang tulus yang diberikan kepada penulis. Kepada Kakak tersayang Anna Situngkir, A.Md. AK, dan adikku James Situngkir, terima kasih atas kasih sayang dalam kesederhanaan yang kita rasakan, terimakasih atas dukungannya dan terus semangat untuk membahagiakan orangtua.
6. Kepada Pastor Leo Joosten OFM Cap, yang telah banyak memberi bantuan berupa buku dan tulisan-tulisan yang sangat membantu dalam penulisan skripsi ini. Kemudian Pastor Selestinus Manalu, OFM Cap, selaku Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Medan dan Pastor Alex selaku ketua komisi kepemudaan yang banyak memberikan bantuan dan arahan dalam mencari data skripsi ini. Pihak Keuskupan Agung Medan yang telah membantu penulis dalam memberikan data dalam penyelesainan skripsi ini.
7. Kepada keluarga besar stambuk 2012 Sejarah USU, saudara di bangku kuliah Daniel JTS, Jefri Simbolon, Iqram Fauzan, Arief Ilhadi, dan M. Sofi Anwar,
terimakasih atas persaudaraan erat sejak awal masuk kuliah hingga saat ini.
Terima kasih pula untuk kawan-kawan Roy Harianto, Gernhard, Rugeri, Kak Junita, Harapan, Ardi, Renaldi dan semua teman-teman seangkatan sejarah 2012, yang memberikan banyak cerita senang juga cerita sedih dan guyonan- guyonan khas Rumah Cabe yang membuat penulis tegar dan terhibur dalam masa perkuliahan. Serta abangda, kakanda dan adinda di Himpunan Mahasiswa Sejarah (HIMIS) FIB USU yang memberikan warna sendiri dalam perkuliahan selama ini.
8. Saudara-saudaraku di KMK St.Gregorius Agung FIB USU, keluarga dalam pertumbuhan iman katolik, terimakasih atas arti Keluarga yang telah penulis rasakan selama ini. Terkhusus kepada ito Eka Silalahi yang banyak memberikan semangat dan dorongan untuk segera lekas menyelesaikan skripsi ini.
9. Kepada PMKRI Cab. Medan Santo Bonaventura yang telah menjadi kampus kedua dalam belajar, diskusi, dan mencari ilmu, terkhusus kepada kakanda Alexander Siahaan S.S teman belajar, diskusi dan berorganisasi. Kepada kakanda Chanra Simatupang S.Ip, adinda Dwi Ivana, Leo Tampubolon, Kristina Indah Manalu, Maria manik, Patricia, Yoseva, Irma dan semua rekan- rekan juang yang tak bisa disebutkan satu-persatu. Juga kepada adinda Surya Lestari Tampubolon dan adinda Corry Simanjuntak dari PMKRI Cab. Tanah Karo yang terus mengingatkan penulis agar cepat wisuda. Untuk semuanya, tetap semangat suarakan pekik juang kita, Pro Ecclesia Et Patria!!
10. Kepada Organisasi Pelopor Muda yang menjadi organisasi di akhir masa perkuliahan, dimana penulis bisa mendapat ilmu terutama belajar menanamkan nilai-nilai anti korupsi. Terimakasih pula atas kesan yang baik rekan-rekan anggota yang selama ini belajar bersama menjadi generasi- generasi muda anti korupsi
11. Untuk Gereja dan Tanah Air yang selalu menjadi motifasi dalam perbuatan, pergerakan, perjuangan dan motto hidup, juga kepada Santo Thomas Aquinas, filsuf dan pujangga gereja yang selalu jadi tokoh inspirator bagi penulis.
12. Pihak yang belum disebutkan yang telah memberikan perhatian dan dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Penulis tidak dapat membalas secara langsung budi baik yang telah diberikan kepada penulis. Kiranya Tuhan memberikan yang terbaik untuk semuanya. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca.
Medan, Juli 2017
Penulis,
Martua Pardamuan Situngkir
NIM. 120706031
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
UCAPAN TERIMA KASIH... ii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
ABSTRAK ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 7
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8
1.4 Tinjauan Pustaka ... 9
1.5 Metode Penelitian ... 10
BAB II KONDISI MASYARAKAT MEDAN SEBELUM MASUKNYA AGAMA KATOLIK DI MEDAN 2.1 Kondisi Geografis ... 13
2.2 Sistem pemerintahan ... 14
2.3 Penduduk ... 19
2.4 Sistem Kepercayaan ... 22
BAB III UPAYA PENYEBARAN AGAMA KATOLIK DI MEDAN TAHUN 1911-1961 3.1 Kedatangan Misi Katolik Di Indonesia ... 25
3.2 Kedatangan Misi Katolik ke Sumatera ... 28
3.3 Kedatangan Misi Katolik Di Medan ... 34
3.3.1 Pelayanan Misi Kepada Orang Eropa ... 37
3.3.2 Upaya Misi Kepada Masyarakat Tamil ... 39
3.3.3 Upaya Misi Kepada Masyarakat Cina ... 44
3.3.4 Upaya Misi Kepada Masyarakat Pribumi ... 47
BAB IV PENGARUH MISI KATOLIK DI KOTA MEDAN 4.1 Bidang Pendidikan... 50
4.1.1 Berdirinya Sekolah Katolik Yayasan Putri Amal ... 51
4.1.2 Berdirinya Sekolah Katolik Yayasan Setia Medan ... 52
4.1.3 Berdirinya Sekolah Katolik Yayasan Don Bosco Medan ... 54
4.1.4 Berdirinya Sekolah Katolik Yayasan Budi Murni ... 55
4.2 Bidang Kesehatan ... 56
4.3 Bidang Sosial ... 60
4.3.1 Berdirinya Panti Asuhan Yayasan Karya Murni ... 60
4.3.2 Berdirinya Panti Asuhan Yayasan Setia Medan ... 61
4.4 Bidang Rohani ... 62
BAB V KESIMPULAN 5.1 Simpulan ... 68
5.2 Saran ... 71
DAFTAR PUSTAKA ... 73
LAMPIRAN ... 76
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 : Jumlah Penduduk Gemeente Medan dari Tahun 1905-1930
ABSTRAK
Skripsi yang berjudul “Upaya Penyebaran Agama Katolik Di Medan 1911- 1961” ini merupakan kajian sejarah daerah yang dikaitkan dengan kehidupan sosial dan religi baik bagi masyarakat Medan, pihak perkebunan di Medan-Deli, dan Pemerintahan Hidia Belanda di Keresidenan Sumatera Timur, tepatnya di daerah Gemeente Medan. Dalam pelaksanaan penelitian skripsi ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, verifikasi (kritik), interpretasi dan historiografi.
Penulis tertarik melakukan penelitian ini karena rasa ingin tahu tentang cara yang dilakukan misionaris Katolik dalam menyebarkan Injil serta pendekatan yang dilakukan terhadap masyarakat untuk menarik simpatik masyarakat sehingga memeluk Agama Katolik.
Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa, masuknya agama Katolik tidak terlepas dari datangnya tentara-tentara Belanda yang beragama Katolik untuk meredam pergejolakan masyarakat Sumatera Timur. Kedatangan tentara Belanda juga diikuti oleh pastor Katolik untuk melayani kebutuhan rohani mereka. Penyebaran Katolik semakin berkembang terutama setelah terbentuknya Prefektur Apostolik Sumatera yang berkedudukan di Padang pada 30 Juni 1911. Dalam perkembangannya tidak hanya melakukan pelayanan rohani ke orang Belanda saja, tetapi mulai melakukan misi ke lingkungan orang Tamil, orang Cina, dan orang pribumi Karo dan Toba. Penyebaran agama Katolik memfokuskan pada bidang pendidikan, kesehatan dan sosial untuk menarik perhatian masyarakat Medan.
Misi penyebaran agama Katolik di Medan ini memiliki pengaruh pada pembangunan beberapa infrasturuktur modern saat itu, antara lain pembangunan rumah sakit dan sekolah. Disamping itu, Medan merupakan salah satu fokus penyebaran agama Katolik di Sumatera, dan sebagai pintu masuk untuk melakukan misi ke daerah-daerah yang lebih dalam terutama daerah keresidenan Tapanuli.
Kata Kunci : Misi Katolik, Ordo Kapusin, Vikariat Apostolik Sumatera
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk yang memiliki kebutuhan jasmani dan rohani.
Dalam hal jasmani menyangkut kebutuhan sandang, pangan dan papan. Akan tetapi ada juga kebutuhan rohani yang tidak kalah pentingnya. Hal ini termasuk kehidupan religi, termasuk kehidupan beragama. Agama menjadi penting karena menyangkut kehidupan spiritual.
Pada saat individu mempercayai suatu agama, tentu didukung dengan penghayatan pribadi secara mendalam mengenai prinsip-prinsip ajaran agama. Pada dasarnya manusia memiliki dorongan beragama yang tumbuh dalam diri manusia.
Adapun agama yang diakui di Indonesia yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Katolik merupakan agama ketiga yang paling banyak dianut oleh penduduk Indonesia, yaitu sekitar 3,5%1 dari penduduk Indonesia.
Medan sebagai wilayah perkotaan yang berkembang sangat pesat mempunyai penduduk yang heterogen. Perkembangan Medan sebenarnya berawal dari ekspansi ekonomi perkebunan tembakau di wilayah Sumatera Timur. Kegiatan ekonomi perkebunan terutama komoditas tembakau telah menyebabkan membanjirnya arus
1 Antonius P Manalu, “Perkembangan Agama Katolik dan Penggaruhnya Terhadap Masyarakat Lintongnihuta (1937-1985), Skripsi, belum di terbitkan, Universitas Sumatera Utara, Medan: 2009. Hal. 18.
kedatangan pendatang dari etnis lain ke Medan. Hal ini sesuai dengan perkembangan infrasruktur dan fisik kota yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendatang.
Pendatang tersebut terdiri dari orang-orang Eropa, Cina, India, Arab, Mandailing, Minangkabau, dan juga pendatang dari Pulau Jawa. Beberapa faktor pemicu lainnya yang menjadi daya tarik pendatang dalam mencoba kehidupan di Medan di antaranya adalah letak geografis yang strategis serta kesuburan tanah di sekitarnya.2
Keadaan kota Medan yang heterogen tidak hanya dilihat pada sisi banyaknya etnis saja, melainkan juga karena keadaan kota Medan yang banyak terbentuk atas sistem kepercayaan masyarakat yang ada, salah satunya agama Katolik. Adanya agama Katolik di Medan didasari atas upaya-upaya misi yang dibawa oleh misionaris-misionaris pada masa kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia atas perintah Paus di Roma sebagai pimpinan tertinggi agama Katolik.
Sebelum adanya pembagian wilayah misi di tahun 1902, kedudukan wilayah indonesia merupakan sebuah Vikariat Apostolik3 yang berkedudukan di Batavia dengan Ordo Biarawan Serikat Jesus4 sebagai penanggung jawab kegiatan misi.
Barulah setelah tahun itu wilayah indonesia dibagi atas daerah-daerah misi katolik yang diamanatkan atas ordo-ordo biarawan, wilayah Sumatera saat itu kemudian
2 Usman Pelly, dkk, Sejarah Sosial Daerah Sumatera Utara Kotamadya Medan, Medan:
Depdikbud, 1984, hal. 3-4.
3Vikariat apostolik merupakan salah satu lembaga tingkatan dalam system profinsial gerejawi katolik yang diperintahkan oleh Uskup Penuh, kedudukan Vikariat Apostolik adalah sebagai koordinasi atas Prefektur-prefektur Apostolik di sekitarnya dan bertanggung jawab langsung kepada pimpinan gereja Katolik (Paus) di VatikanApos ntolik.
4Serikat Yesus merupakan ordo biarawan yang pertama kali melakukankaryamisike Indonesia yang dimpinoleh Santo FransiskusXaverius.
dipegang oleh ordo Kapusin Belanda5 yang berkedudukan di Padang, kedudukan Padang kemudian diangkat sebagai Prevektur Apostolik Padang.6
Pada 30 Juni 1911 dibentuklah Prefektur Apostolik Sumatera, yang berkedudukan di Padang dibawah pimpinan Mgr. Liberatus Cluts OFM Cap.
Bersama dengan Mgr. Liberatus kemudian tibalah misionaris-misionaris kapusin pertama : Matheus de Wolf, Camillus Buil, Agustinus Huijbergts, dan remigius van Hoof.7
Ketika daerah Sumatera dijadikan salah satu daerah karya misi ordo Kapusin Belanda, Medan bukanlah daerah yang terdapat banyak penganut Katolik, walaupun pada tahun 1878-1884 telah ada karya misi Katolik oleh Pastor Yesuit C.W.J.
Wenneker yang hanya berkarya pada orang Eropa dan belum berani melakukan karya misi ke masyarakat pribumi di Medan karena belum paham bahasa melayu. Penganut agama Katolik saat itu hanyalah di lingkungan tuan kebon dan tentara Belanda.
Terutama ketika terjadi Perang Sunggal melawan Belanda yang dipimpin Datuk Kecil pada tahun 1872 yang saat itu banyak didatangkan tentara Belanda ke Medan banyak diantaranya tentara penganut agama Katolik, dengan demikian saat itu sudah ada di Medan dan sekitarnya lebih kurang 300 orang beragama Katolik. Karena tidak
5Ordo Kapusin merupakan satu kongregrasi dalam Gereja Katolik di mana para anggotanya hanya terdiri dari rohaniwan (pastur) dan berasal dari Belanda. Secara historis, Ordo Kapusin masuk ke Indonesia pada tahun 1904 melalui daerah Kalimantan.
6Prefektur Apostolik merupakan salah satu lembaga tingkatan dalam system profinsial gerejawi katolik yang tidak diperintahkan oleh Uskup, tetapi oleh seorang Prefek Apostolik. Lembaga ini setingkat dibawah lembaga Vikariat Apostolik yang dipimpin oleh Uskup penuh.
7Sejarah Gereja Katolik Indonesia, (Ende-Flores: Bagian Dokumentasi Penerangan Kantor Waligereja Indonesia, 1974), hal.15.
ada gereja bagi mereka, maka dari Padang dikirim seorang pendeta Jezuit (pendeta tentara Belanda) yang khusus untuk penganut Katolik orang Eropa di Medan.
Sebelumnya pada tahun 1879 didirikan Gereja Katolik yang pertama di Medan, yaitu gereja Kathedral yang sekarang terletak di Jalan Pemuda No. 1. Pada tahun 1887 datang lagi 2 orang pendeta tambahan dari Batavia. Tetapi waktu itu gereja Katolik hanya diperbolehkan melakukan karya misi di Medan dan sekitarnya serta tidak dibenarkan oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk mengadakan misi ke daerah-daerah Batak, karena disana sudah ada zending-zending Protestan bergerak.8
Gereja Kathedral merupakan gereja yang diperuntukkan khusus sebagai tempat ibadah bangsa Eropah. Akibat dari adanya batas-batas sektoral antar etnis di Medan saat itu, upaya menyebarkan agama Katolik di sebarkan atas wilayah etnis, yaitu kepada masyarakat Eropa di Jalan Pemuda, kepada masyarakat Tamil di gereja Hayam Wuruk yang didirikan tahun 1915, dan untuk masyarakat Tionghoa ada gereja Kristus Raja di jalan Hakka (sekarang Jalan M.T Haryono) yang didirikan pada tahun 1924. Pada tahun 1926, sekelompok orang batak dibaptis menjadi orang Katolik di Medan.9
Seiring dengan perkembangan kota Medan, para misionaris Katolik kemudian menjadikan Kota Medan sebagai pusat kedua karya misi setelah Padang. Pada tahun
8Tengku Luckman Sinar SH, “Sejarah Medan Tempo Doloe”, (Medan, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Seni Budaya MELAYU : 1991), hal. 76.
9RP. Bonaventura Situmorang, OFM Cap, dkk, “Jubileum 100 Tahun Gereja Katolik ST.Antonius Dari Padua”, (Medan, Percetakan Bina Media Perintis Medan, 2015), hal. 8.
1923 datanglah suster-suster dari Dongan Belanda, yang memulai karya mereka sebagai biarawati pertama di Medan. Bersama kedatangan mereka dibukalah Sekolah St.Yosef pada 1 juli tahun itu juga. Setelah itu kemudian pada tanggal 19 November 1930 diberkati dan diresmikanlah rumah sakit St. Elisabet di Medan. Rumah sakit ini sengaja didirikan sebagai penunjang karya misi yang lain, yaitu karya perawatan orang sakit.10
Setelah mengalami kemajuaan dalam penyebaran agama Katolik di Sumatera, Keadaan Prefektur apostolik yang berkedudukan di Padang kemudian di tingkatkan menjadi Vikariat Apostolik pada 21 Juli 1932. Padatahun 1941 Roma memutuskan pemindahan Vikariat Apostolik dari Padang ke Medan.Tapi karena perang dan pergolakan terhadap kedatangan Jepang ke Indonesia, pemindahan ini baru dilaksanakan setelah para misionaris dibebaskan dari penawanan Jepang.11 Mgr.
Matias Brans sebagai uskup Vikariat Padang pindah dari Padang ke Medan tanggal 3 Januari 1946, lima tahun setelah keputusan Roma.
10SejarahGerejaKatolikIndonesia, (Ende-Flores: BagianDokumentasiPenerangan Kantor Waligereja Indonesia, 1974), hal.18
11Pada tahun 1939, perang meletus di Eropa. Dua tahun kemudian perang ini merambah Timur jauh dan pada bulan Maret 1942 meliputi Sumatera. Dalam waktu singkat pulau itu direbut oleh Jepang. Semua Misionaris diinternir kecuali beberapa suster orang Cina dan Jerman. Tak seorang Imam pun dapat bergerak bebas di vikariat selama Perang. Proses misi pun tak dapat bergerak dan cenderung berhenti. Terutama sejak hubungan dengan Nederland putus akibat kedatangan Jepang.
Pada pertengahan tahun 1942, semua pemilik paspor Belanda di internir dan mereka harus tinggal tetap di kamp sampai dengan kapitulasi pada tahun 1945. Kamp-kamp itu serimg dipindahkan, dipersatukan atau dipisahkan; dan kelaparan semakin mengancam. Setelah kapitulasi pun jalan penderitaan kaum misionaris juga belum berakhir. Gerakan Kemerdekaan Indonesia menyebabkan hampir seluruh Sumatera tidak boleh dimasuki Belanda. Hanya di beberapa tempat di pesisir para misionaris dapat bertempat tinggal dan mulai bekerja secara berangsur-angsur. Barulah setelah dua bulan, pada bulan 1947, sekolah Katolik pertama dibuka di Medan. Lihat artikel P. Gentilis Aster OFM Cap, dalam KEPENTINGAN KITA BERBEDA : Lima puluh Tahun Misi Katolik di Sumatera (1911-1961) : terjemahan oleh P.Leo Joosten OFM Cap, Medan; 2008. hal. 111.
Sesudah pengakuan Belanda atas kemerdekaan Indonesia 1949, situasi keamanan semakin kondusif. Para misionaris kembali di izinkan untuk berkarya kembali bahkan masuk sampai kepedalaman dan menghidupkan kembali semangat misionaris katolik di sumatera khususnya vikariat Medan.
Pada tahun 1959, setelah Mgr. Ferrerius Van De Hurk dating dari Eropa untuk diangkat menjadi Uskup baru di Vikariat Medan, Di tahun-tahun itu pula kemudian terjadi pemisahan daerah Sibolga dan Nias menjadi suatu Vikaris apostolik yang baru. Dengan adanya pemisahan dan pengangkatan Uskup baru di vikariat Medan, semakin membawa warna baru bagi misionaris di Medan. Apalagi pada tahun 1961 dibentuklah hirarki Indonesia, seluruh wilayah Propinsi Gerejani dan Vikariat Apostolik Medan diangkat menjadi Keuskupan Agung Medan.
Pada periode terbentuknya wilayah Propinsi Gerejani Katolik di Indonesia, Sumatera Utara terbagi atas dua wilayah keuskupan Katolik, yaitu Keuskupan Agung Medan dan Keuskupan Sibolga. Wilayah Keuskupan Sibolga, meliputi daerah:
Kabupaten Nias, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah dan Kotamadya Sibolga.
Sedangkan Keuskupan Agung Medan meliputi daerah: Kabupaten Langkat, Tanah Karo, Tapanuli Utara, Asahan, Labuhan Batu, Deli Serdang, Dairi dan Kabupaten Simalungun serta daerah Kota madya Medan, Tebing Tinggi, Binjai, Tanjung Balai dan Pematang siantar. Medan merupakan titik pangkal untuk perjalanan tugas mengunjungi berbagai jemaat Katolik yang berjumlah kecil di beberapa tempat yang dekat maupun jauh seperti Pangkalan Brandan, Pangkalan Susu, Binjai, Kabanjahe,
Berastagi, Tebing Tinggi dan Belawan yang hamper semuanya pada suatu titik waktu kemudian menjadi stasi induk atau pun bakal menjadi stasi induk.12
Berdasarkan uraian diatas, penulis menganggap bahwa penyebaran agama Katolik di Medan mempunyai proses yang sangat panjang dan upaya misionaris dalam menyebarkan agama Katolik dengan pendirian rumah sakit dan sekolah- sekolah Katolik juga berpengaruh dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat Medan. Terdapat banyak hal tantangan yang menarik untuk dikaji bagaimana proses misi penyebaran dan perkembangan agama Katolik di Medan.
Atas dasar pemikiran diatas, maka penulis tertarik untuk mengulas proses misi penyebaran dan perkembangan agama Katolik di Medan secara lebih objektif yang dipandang dari aspek historis yang objektif dan merangkumnya kedalam sebuah skripsi yang berjudul “Upaya Penyebaran Gereja Katolik di MedanTahun 1911- 1961”. Alasan pembatasan periodesasi berawal tahun 1911 karena pada tahun itu merupakan tahun pergantian karya misi antara misionaris Ordo Jesuit kepada misionaris Ordo Kapusin Belanda untuk melakukan penyebaran agama Katolik di Medan, dan berakhir pada tahun 1961 dikarenakan pada saat itu telah terbentuk perwakilan hierarki Katolik yang dikenal dengan Keuskupan Agung di Medan.
A. RumusanMasalah
Dalam sebuah penulisan karya ilmiah, dibutuhkan sebuah rumusan masalah, hal ini dimaksudkan agar penulisan yang dilakukan menjadi lebih terarah dan tepat
12Bagian Dokumentasi penerangan Kantor Waligereja Indonesia, Sejarah Gereja Katolik Indonesia: Wilayah –wilayah Keuskupan dan Majelis Agung Waligereja Indonesia Abad ke-20, Jakarta: Arnoldus Ende-Flores, hal. 18.
sasaran sesuai dengan objek yang telah ditentukan. Sesuai dengan latar belakang diatas, maka ditentukan beberapa rumusan masalah, yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana kondisi masyarakat di Medan ketika masuknya agama Katolik?
2. Bagaimana upaya penyebaran Agama Katolik di Medan?
3. Bagaimana pengaruh penyebaran Agama Katolik di Medan tahun 19011-1961?
B. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Sebuah penelitian tentunya memiliki tujuan dan manfaat dari penelitian yang dilakukan tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk menjawab permasalahan yang sudah terlebih dahulu dirumuskan kedalam rumusan masalah. Dengan demikian penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1. Menjelaskan kondisi masyarakat di Medan ketika masuknya Agama Katolik.
2. Menjelaskan upaya penyebaran Agama Katolik di Medan.
3. Menjelaskan pengaruh penyebaran Agama Katolik di Medan tahun 1911-1961.
Selanjutnya, adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk menambah pembendaharaan referensi khazanah penelitian sejarah lokal Sumatera Utara.
2. Untuk mengetahui proses Misi Katolik di Medan secara lebih objektif.
3. Aspek praktis yang mungkin diharapkan dari hasil penelitian ini adalah dapat dijadikan masukan sebagai sarana referensi bagi penelitian berikutnya yang akan meneliti tentang karya misi dalam Agama Katolik.
E. Tinjauan Pustaka
Untuk melakukan sebuah penelitian, perlu menggunakan beberapa referensi yang berkaitan dengan topik penelitian sebagai acuan yang tepat. Adapun tinjauan pustaka yang menjadi acuan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
Karel Steenbrink dalam Orang-orang Katolik di Indonesia (1808-1942), mengulas tentang awal-awal kedatangan misionaris Katolik ke Indonesia, Ordo-ordo biarawan yang melakukan karya misi ke Indonesia, dan juga serta perkembangannya agama Katolik menjelang Indonesia merdeka.
Buku terbitan Kantor Waligereja Indonesia yang berjudul Sejarah Gereja Katolik Indonesi : Wilayah-wilayah Keuskupan dan Majelis Agung Waligereja Indonesia Abad ke-20 (1974), memberi informasi tentang pembagian wilayah karya misi Katolik di indonesia. Kemudian pembagian wilayah profinsial Katolik di Indonesia, serta kedudukan dan struktur tingkatan dalam agama Katolik dan juga proses berdirinya Keuskupan Agung Medan sebagai organisai perwalian agama katolik di Medan.
Skripsi Rina Hutabarat yang berjudul Masuknya Agama Katolik dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat di Palipi Tapanuli Utara, skripsi ini terbit tahun 2014. Relavansinya skripsi ini membahasa mengenai penyebaran agama katolik di Palipi, namun didalamnya menyinggung kedatangan misi katolik ke Sumatera sehingga membantu penulis dalam melengkapi referensi dalam misi Katolik di Medan.
Tengku Luckman Sinar SH dalam “Sejarah Medan Tempo Dulu”, membantu penulis dalam menjelaskan perkembangan kota Medan dan pemerintahan kota Medan ketika berstatus sebagai ibukota Keresidenan Sumatera Timur. Selain itu mengetahui bagaimana pengaruh perkembangan kota dalam pemindahan pusat misi katolik di Sumatera dari Padang ke Medan.
P. Gentilis Aster, dalam buku Kepentingan Kita Berbeda : Lima Puluh Tahun Misi Kapusin di Sumatera (1911-1961) terjemahaan dari P.Leo Joosten, membahas detil proses misi dan tantangan Ordo Kapusin Belanda di Sumatera, keberhasilan penyebaran agama Katolik sangat bergantung pada pergerakan Ordo Biarawan.
Dalam hal ini Ordo Biarawan Kapusin mendapat bagian wilayah Sumatera (Padang dan Medan) sebagai daerah misi nya. Melalui buku dapat membantu penulis dalam mereka ulang sejarah peran Ordo biarawan kapusin Belanda yang melanjutkan karya misi di Sumatera menggantikan Ordo Jesuit.
F. Metode Penelitian
Penelitian yang telah dilakukan adalah sebuah penelitian sejarah yang menekankan pada aspek manusia, temporal, dan spasial. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan metode sejarah. Yang dimaksud dengan metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau.13
13 Louis Gottschalk,MengertiSejarah, terj.dariNugrohoNotosusanto, Jakarta: UI Press, 1985,hlm. 39.
Metode sejarah berisi tahapan yang harus dilalui untuk menghasilkan sebuah tulisan sejarah. Tahapan-tahapan tersebut adalah heuristik, kritik, intepretasi, dan historiografi.
Tahap pertama adalah heuristik. Secara sederhana heuristik berarti proses pengumpulan sumber-sumber historis yang berkaitan dengan topic penelitian. Dalam kaitannya dengan hal ini, penelitian telah melakukan studi arsip dan studi pustaka.
Studi arsip dilakukan dengan mengumpulkan sejumlah data primer berupa arsip dan catatan perjalanan terkait dengan proses masuk, maksud, dan tujuan masuknya misi katolik di Medan. Dalam hal ini, penulis telah mendatangi Arsip yang ada di Keuskupan Agung Medan, dan juga balai arsip Ordo Kapusin di Nagahuta Pematang Siantar. Selain studi arsip, Studi pustaka dilakukan untuk mengumpulkan sumber- sumber yang berhubungan dengan topic penelitian ini baik dalam bentuk buku, skripsi, tesis, disertasi, jurnal dan lainnya. Untuk mengumpulkan sumber pustaka penulis mengunjungi beberapa perpustakaan yakni, Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Daerah Sumatera Utara, Perpustakaan Tengku Lukman Sinar, Perpustakaan Museum Pusaka di Berastagi dan juga Perpustakaan Katolik di Seminari Tinggi Sinaksak Pematang Siantar.
Setelah mendapatkan sumber-sumber yang diinginkan, maka tahap yang selanjutnya adalah mengkritik sumber maupun informasi. Pada tahap ini, sumber- sumber dan informasi relevan yang telah diperoleh diverifikasi kembali untuk
mengetahui keabsahannya.14Oleh karena itu perlu dilakukan kritik, baik kritik eksteren maupun interen. Kritik eksteren mencakup seleksi dokumen mau pun informasi perbandingan dari para informan. Apakah dokumen atau informasi tersebut perlu digunakan atau tidak dalam penelitian. Kemudian untuk sumber dokumen juga menyoroti tampilan fisik dokumen, mulai dari ejaan yang digunakan, jenis kertas, stempel, atau apakah dokumen tersebut telah dirubah atau masih orisinil.
Tahap selanjutnya adalah interpretasi. Interpretasi merupakan penafsiran- penafsiran terhadap sumber-sumber yang telah dikritik. Dalam tahap ini, penelitiakan melakukan analisa dan sintesa. Analisa berarti menguraikan. Dari proses analisa akan diperoleh fakta-fakta. Kemudian data-data yang telah diperoleh disintesakan sehingga mendapat sebuah kesimpulan.15
Tahap terakhirya itu historiografi (penulisan) merupakan tahapan akhir dalam metode sejarah. Fakta-fakta yang didapat dari proses interpretasi sebelumnya dituangkan dalam bentuk tulisan sejarah yakni skripsi sarjana. Tulisan ini menjadi sebuah kisah sejarah yang baru dengan selalu memperhatikan aspek kronologisnya.
Metode yang dipakai dalam penulisan ialah deskriptif naratif yaitu dengan menganalisis setiap data dan fakta yang ada untuk mendapatkan penulisan sejarah yang kritis dan ilmiah.
14Kuntowijoyo,Penganta r Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1995, hal.
99
15Ibid.,hal. 100
BAB II
KONDISI MASYARAKAT MEDAN SEBELUM MASUKNYA AGAMA KATOLIK DI MEDAN
2.1 Kondisi Geografis.
Medan merupakan wilayah yang terletak di pesisir Pantai Timur Sumatera.
Wilayahnya terletak pada 3˚ 35’ lintang utara dan 98˚ 40’ bujur timur.16Daerah ini berada lebih kurang 14 meter dari permukaan laut, dan beriklim tropis. Wilayahnya yang terletak antara pantai Selat Malaka dan pegunungan Dataran Tinggi Karo membuat daerahnya tergolong panas. Suhu panas rata-rata per tahun mencapai 27˚
Celcius dengan pengaruh udara pegunungan dan laut tersebut.17
Wilayah yang disebut dengan Medan pada awalnya terdiri dari beberapa kampung-kampung kecil seperti kampung Medan Putri, kampung Pulo Brayan, dan kampung Kesawan. Kampung Medan Putri merupakan perkempungan orang Melayu yang disebut sebagai asal-usul wilayah Medan. Kampung Medan Putri tersebut terletak antara pertemuan Sungai Babura dan Sungai Deli yang termasuk dalam wilayah XII Kuta Hamparan Perak. Menurut John Anderson penduduk kampung Medan pada saat itu berjumlah 200 jiwa.18
16Encyclopedie van Nederlandsch-Indie, No. 7, s’Gravenhage-Leiden: Martinus Nijhoff-E. J.
Brill, 1917, hal. 1126.
17 Usman Pelly, dkk., Sejarah Sosial Daerah Sumatera Utara Kotamadya Medan, Jakarta:
Depdikbud, 1984, hal.1.
18 John Anderson, Mission to East Coast of Sumatra in 1823, Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1971, hal, 273.
Letak Medan yang berada di antara pertemuan Sungai Babura dan Sungai Deli sangatlah strategis mengingat transportasi utama pada masa itu adalah melalui sungai yang menghubungkan antara pedalaman di Deli Tua dengan Labuhan yang merupakan pusat kesultanan Deli. Pusat kesultanan Deli tersebut merupakan bandar yang ramai dan penting serta mampu menampung kegiatan ekspor dan impor barang dagangan dari dan ke luar kesultanan Deli.19Dalam akses transportasi masyarakat, selain melalui sungai terdapat jugaakses darat yaitu jalan setapak dan berlumpur jika hujan datang yang menyusuri sepanjang sungai Deli.20
2.2 Sistem Pemerintahan
Wilayah Medan tidak bisa dilepaskan dari kekuasaan pemerintahan kesultanan Deli. Kesultanan Deli yang berpusat di Labuhan merupakan suatu bandar yang ramai dan makmur sebelum masuknya kolonialisme Belanda di wilayah tersebut.21 Kolonialisme Belanda masuk ke wilayah Deli yaitu ketika sultan Deli yakni Sultan Mahmud Perkasa Alam menandatangani perjanjian dengan
19Ratna, “Labuhan Deli: RiwayatmuDulu”, dalamHistorisme, Edisi No. 22/Tahun XI/Agustus 2006, Medan: USU Press, 2006, hal. 7.
20 M.A. Loderichs, D. A. Buiskool, B. B. Hering (et.al.), Medan: Beeld van Een Stand, Purmerend: Asia Maior, 1997, hal. 14-15.
21 Kolonialisme Belanda masuk ke wilayah Deli melalui kerajaan Siak dengan Traktat Siak (Perjanjian Siak). Dengan Traktat Siak tersebut, kolonial Belanda mulai melakukan ekspansi politik ke kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur yang merupakan vasal dari kerajaan Siak, yaitu Kota Pinang, Batu Bara, Bedagai, Panai, Bilah, Asahan, Serdang, Langkat, Temiang, serta daerah kesultanan Deli.
Lihat W. H. M. Schadee, Geschiedenis van Sumatra Oostkust, Deel I, Amsterdam: Oostkust van Sumatra Instituut, 1918, hal. 71-73.
pemerintahan kolonial Belanda melalui Residen E. Netscher pada tanggal 22 Agustus 1862. Perjanjian ini dikenal dengan nama Acte van Verband.22
Medan sebagai salah satu kota terbesar di Sumatera merupakan hasil dari perkembangan ekonomi perkebunan yang pesat. Wilayah yang disebut Gemeente Medan pada awalnya adalah perkampungan yang sederhana dan kemudian menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi yang kompleks. Hal ini disebabkan oleh masuknya ekspansi ekonomi perkebunan yang dimulai pada 1865. Namun terdapat hal yang unik dalam perkembangan Gemeente Medan. Pada dasarnya proses pengembangan Gemeente Medan bukanlah sebuah hal yang telah direncanakan oleh pemerintah kolonial Belanda seperti halnya Gemeente Batavia ataupun Gemeente Bandung.23Gemeente Medan terbentuk karena adanya kepentingan dari pengusaha- pengusaha untuk menjadikan daerah ini sebagai poros ekonomi perkebunan.
Perkembangan Gemeente Medan mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu sangat bergantung pada kapitalisme perkebunan. Gemeente Medan menjadi pusat dari kegiatan industri perkebunan itu sendiri. Hampir semua bangunan perkantoran dibangun di wilayah Gemeente Medan bertujuan untuk menopang industri tersebut.
Dalam pengembangan ekonomi kota, terjadi struktur piramida antara tiga kelompok.
22 Dalam hal ini Sultan Mahmud Perkasa Alam bersedia mengakui kedaulatan pemerintah kolonial Belanda dengan syarat bahwa kerajaan Siak bukan merupakan atasan bagi kesultanan Deli;
Nurhamidah, “Perkembangan Kota Medan 1909-1951”, dalam e-USU Repository, Medan: Universitas Sumatera Utara, 2004, hal. 15.
23 Alexander Avan, Parijs Van Sumatra, Medan: Rainmaker Publishing, 2012, hal. 45.
Kelompok tersebut adalah planter (tuan kebun), entrepreuner (terutama pengusaha Cina) dan Sultan Deli sebagai penguasa wilayah Deli.24
Setelah Medan dijadikan ibukota Keresidenan Sumatera Timur maka terjadi pembagian wilayah, penduduk, dan hukum antara pemerintahan Gubernemen dengan daerah langsung kesultanan atau swapraja. Di dalam wilayah kekuasaan langsung sultan yang terpisah dari wilayah Gubernemen, dibuat peraturan-peraturan dan ketentuan tentang batas dan hak sultan atas segala isi yang terdapat dalam hukumnya.
Di samping itu, diatur pula tentang hak Gubernemen dalam mencampuri urusan kesultanan Deli. Dalam tahun 1887, Residen Sumatera Timur mengeluarkan aturan tentang penyerahan tanah untuk perumahan. Implementasi dari peraturan ini terlaksana pada tahun 1889 dengan dikeluarkan model akte atau sertifikat penyerahan tanah yang disebut dengan grant. Dalam perkembangannya kemudian terdapat beberapa jenis akte atau grant yaitu, Grant Sultan, Grant Deli Maatschappij dan Controleursgrant.25
Pembentukan Gemeente Medan serta masih berkuasanya sultan di wilayahnya, memberi gambaran adanya dualisme pemerintahan dan wilayah di Medan khususnya dikarenakan sebagian wilayah Gemeente Medan dengan penduduk gubernemen dan sebagian lagi penduduk sultan yang masing-masing mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda-beda. Kepada penduduk yang berdomisili di wilayah
24 Dirk A. Buiskool, “Medan, A Plantation City on the East Coast of Sumatra 1870-1942”, dalamFreekColombijn, dkk., (eds.), Kota Lama Kota Baru: Sejarah Kota-Kota di Indonesia SebelumdanSetelahKemerdekaan, Yogyakarta: Ombak, 2005, hal. 286-287.
25 Gerard Jensen, Grantrechten in Deli, Mededeeling No. 12, Amsterdam: Oostkust van Sumatra-Instituut, 1925, hal. 7 dan 9.
gemeente, pemerintah biasanya menetapkan kewajiban yang agak ringan apabila dibandingkan dengan penduduk yang ada di wilayah kesultanan. Salah satu contoh misalnya dalam kewajiban pembayaran belasting atau pajak, penduduk gemeente hanya terbatas pada pembayaran belasting saja, sedangkan penduduk kesultanan ditambah lagi dengan membayar uang ganti kerja rodi.26
Gemeente Medan terbentuk sesuai dengan surat keputusan yang tertuang dalam Staatsblad 1909 No. 180 yang didasari pada Desentralisatiewet 1903.
Desentralisatiewet 1903 merupakan undang-undang ketatanegaraan Belanda yang mengatur mengenai pembentukan daerah-daerah desentralisasi di Hindia Belanda.
berdasarkan pasal-pasal dari undang-undang tersebut, beberapa daerah ataupun bagian dari daerah daat didesentralisasikan, yaitu diberikan kewenangan sendiri dalam mengatur keuangan yang terpisah dari pemerintah pusat untuk digunakan dalam mengurus kepentingan khusus daerahnya.27
Perkembangan Gemeente Medan didukung dengan dibangunnya fasilitas dan infrastruktur kota seperti, kantor-kantor pemerintah, kantor perusahaan perkebunan, dan fasilitas-fasilitas umum lainnya. Fasilitas umum ini berupa jalan raya, stasiun kereta api, pusat pasar, kantor pos, rumah sakit, kereta api, rumah potong hewan, perusahaan air, perusahaan listrik, sekolah, lapangan dan alun-alun, taman kota, dan lain sebagainya.
26Usman Pelly, op.cit.,hal. 12.
27Staatsblad van Nederladsch-Indie, 1903, No. 329; lihat juga Staatsblad van Nederladsch- Indie, 1909, No. 180.
Dalam perkembangannya yang sangat pesat, Gemeente Medan banyak berkembang dalam berbagai bidang. Dalam hal perkembangan perkampungan, pada awalnya Gemeente Medan terdiri dari 4 kampung yaitu Kesawan, Sei Renggas, Petisah Hulu, dan Petisah Hilir. Seiring berjalannya waktu mulai berkembang kampung dan permukiman lainnya seperti Kampung Aur dan Kampung Madras.28 Selain itu, terdapat juga permukiman eksklusif bagi orang Eropa dan pedagang- pedagang Cina. Bahkan pada penduduk pribumi juga ada beberapa suku yang tinggal secara eksklusif atau berkelompok seperti kampung suku Mandailing.29
Perkembangan Gemeente Medan didukung dengan bertambah luasnya wilayah kota. Perluasan wilayah kota tersebut terjadi karena adanya hibah tanah yang diberikan oleh Kesultanan Deli kepada pemerintah Gemeente Medan pada tanggal 30 November 1918. Tanah yang dihibahkan tersebut yang berbatasan dengan wilayah Gemeente Medan kecuali tanah di Kota Maksum, dan Kampung Sei Kerah Percut yang merupakan tanah yang dimiliki oleh Kesultanan Deli, tanah yang dikuasai oleh pemerintah kolonial (Gubernemen) dan tanah yang dipakai oleh Deli Spoorweg Maatschappij.30
Gemeente Medan sebenarnya merupakan tanah-tanah konsesi dan tanah-tanah yang diberikan Sultan Deli kepada pemerintah kolonial Belanda untuk dijadikan daerah gubernemen. Dalam penyerahan ini oleh Sultan Deli ditetapkan beberapa pengecualian daerah yang tidak termasuk wilayah Gemeente Medan yaitu: (1)
28 Dirk A. Buiskool, op.cit., hal. 291-294.
29 Tengku Luckman Sinar, loc.cit.
30Ibid., hal. 50-51.
Kampung Kota Maksum dan Sei Kerah Percut, (2) Tidak termasuk tanah-tanah yang telah dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda, (3) Tidak termasuk tanah-tanah yang telah diserahkan pada Deli Maatschappij, (4) Dan tidak mengurangi hak-hak yang telah dipunyai oleh orang secara pribadi.31
3.3. Penduduk
Penduduk asli Medan sebenarnya adalah suku Melayu yang berada dalam pemerintahan kesultanan Deli. Akibat dari kegiatan ekonomi dan industri perkebunan tembakau terjadi arus urbanisasi dan migrasi yang terus meningkat dari daerah sekitarnya ke wilayah ini. Tujuan utama yang mendorong terjadinya arus perpindahan itu adalah faktor ekonomi dengan kemungkinan keadaan daerah asal penduduk tersebut yang kurang menguntungkan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Para pendatang tersebut antara lain terdiri dari etnis Toba, Mandailing, Angkola, Simalungun, Karo, Minangkabau, Jawa, dan Aceh.32
Perkembangan industri perkebunan yang sangat pesat membuat wilayah Medan bertambah ramai oleh kedatangan pendatang. Situasi ini membuat Sultan Deli kembali mengadakan penambahan pasal pada perjanjian Acte van Verband pada 10 November 1902. Isi perjanjian tambahan tersebut berkenaan dengan pemisahan status rakyat kesultanan Deli dengan rakyat pemerintah kolonial Belanda.33 Dengan adanya pemisahan ini dikenal istilah kawula kesultanan dan kawula Gubenermen. Hal ini
31Usman Pelly, op.cit.,hal. 11.
32Usman Pelly, op.cit.,hal. 2-3.
33Nurhamidah, 2004, op.cit.,hal. 16.
juga berimbas pada adanya dua hukum yang berlaku di Gemeente Medan yakni hukum wilayah dan penduduk kesultanan juga hukum wilayah dan penduduk gubernemen atau pemerintahan Gemeente Medan.
Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terdapat dua gelombang migrasi besar ke Medan. Gelombang pertama berupa kedatangan orang Tionghoa dan Jawa sebagai kuli kontrak perkebunan. Tetapi setelah tahun 1880 perusahaan perkebunan berhenti mendatangkan orang Tionghoa, karena sebagian besar dari mereka lari meninggalkan kebun dan sering melakukan kerusuhan. Perusahaan kemudian sepenuhnya mendatangkan orang Jawa sebagai kuli perkebunan. Orang-orang Tionghoa bekas buruh perkebunan kemudian didorong untuk mengembangkan sektor perdagangan. Gelombang kedua ialah kedatangan orang Minangkabau, Mandailing dan Aceh. Mereka datang ke Medan bukan untuk bekerja sebagai buruh perkebunan, tetapi untuk berdagang, menjadi guru, dan ulama
Gelombang perpindahan penduduk yang masuk ke Medan turut mempengaruhi pertambahan penduduk kota. Pertumbuhan penduduk tidak terbatas hanya dari penduduk asli saja melainkan juga pendatang dari pulau Jawa, ditambah dengan orang Eropa, serta Timur Asing seperti India, Arab, dan Cina. Kenaikan pertumbuhan penduduk Medan terjadi karena arus perpidahan penduduk (di samping perluasan areal Medan) serta letak geografis yang strategis dari Medan dan kesuburan tanahnya telah menarik minat para pendatang untuk turut mencoba
kehidupan di Medan.34Peningkatan jumlah penduduk Medan dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel. 1
Jumlah penduduk Gemeente Medan dari Tahun 1905-1930.
No. Kategori/Kelompok Penduduk
Tahun
1905 1912 1920 1930
1 Eropa 954 1.408 3.128 4.293
2 Timur Asing 10.105 12.315 18.297 31.021
3 Bumiputera 2.191 13.257 23.823 41.270
Jumlah 13.250 26.980 45.248 76.584
Sumber: Nasrul Hamdani, Komunitas Cina di Medan Dalam Lintasan Tiga Kekuasaan 1930-1960, Jakarta: LIPI Press, 2013, hal. 85 dan 87.
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa setiap tahun jumlah penduduk di Medan mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun 1905 Medan telah dihuni oleh 13.250 penduduk dan didominasi oleh orang Timur Asing lebih dari 75 % jumlah penduduk yakni 10.105 orang. Tujuh tahun berikutnya yaitu tahun 1912 penduduk Medan mengalami peningkatan dua kali lipat menjadi 26.980 orang.
Peningkatan yang signifikan terjadi pada kelompok bumiputera yakni dari 2.191 menjadi 13.980 orang. Hal ini dikarenakan sejak awal abad XX terjadi arus migrasi pendatang dari daerah sekitar Medan yang didominasi oleh etnis Minangkabau dan Mandailing. Jumlah penduduk Medan pada tahun 1912 yang “hanya” 26.980 orang, pada tahun 1920 lalu meningkat menjadi 45.248 orang. Pada tahun 1930 jumlahnya bertambah lagi hingga mencapai angka 76.584 orang.35
34Ibid.,hal. 3.
35 Nasrul Hamdani, Komunitas Cina di Kota Medan Dalam Lintasan Tiga Kekuasaan 1930- 1960, Jakarta: LIPI Press, 2013, hal. 84-86.
2.4 Sistem Kepercayaan
Pada awalnya daerah Medan-Deli merupakan wilayah dari kesultanan Deli dangan dominasi masyarakat suku Melayu yang beragama Islam. Secara garis besar wilayah kesultanan deli terbagi dua, yakni wilayah hilir yang didiami oleh suku Melayu yang beragama Islam dan wilayah hulu yang di huni suku Karo yang kebanyakan belum memeluk agama Islam atau masih mempercayai keyakinan luluhur.
Kehadiran Islam di masyarakat melayu merupakan petanda dimulainya babak baru, karena agama ini di samping menjadi sumber bagi adat melayu, juga dijadikan sebagai pelurus berbagai segi kebudayaan Melayu yang dianggap bersalahan dengan ajaran Islam. Dari sini terlihat dengan jelas dominasi Islam dalam budaya Melayu, sehingga Islam mewarnai segala aspek kehidupan orang Melayu, menggantikan berbagai sebutan untuk yang kuasa (dewa-dewa) menjadi Allah dan menggantikan berbagai simbol keagamaan yang dipandang menyalahi ajaran Islam.36 Hampir seluruh masyarakat suku Melayu Deli memeluk agama Islam Sufi. Menurut mereka Melayu adalah Islam, karena hampir seluruh adat-istiadat dan budaya suku Melayu berlandaskan Islam.
36 Hasbullah, Islam dan Tamadun Melayu. (Pekanbaru : LPM Fak Ushuludin UIN SUSKA &
YPR,2010), hal.,55
Sementara di wilayah Hulu yang didiami oleh suku Karo yang belum memeluk agama Islam masih ditemukan masyarakat yang mempercayai keyakinan leluhur. Leluhur masyarakat Karo percaya bahwa segala hal di dunia ini baik yang kelihatan maupun tidak kelihatan adalah ciptaan “Dibata”. Mereka percaya adanya suatu kekuatan gaib yang dianggap lebih tinggi daripadanya. Mereka mau melakukan berbagai hal untuk berkomunikasi dan mencari hubungan dengan kekuatan gaib tersebut.37
Disamping menganut kepercayaan dengan konsep Dibata, orang Karo juga menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Kepercayaan animisme yang dimaksud adalah kepercayaan kepada makhluk lain yang berkekuatan gaib. Dalam bahasa masyarakat Karo sering disebut umang. Sedangkan kepercayaan dinamisme yang dimaksud adalah kepercayaan terhadap benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
Perkembangan industri perkebunan yang pesat di kawasan Medan, mengakibatkan adanya migrasi penduduk ke daerah Medan untuk pemenuhan tenaga kerja perkebunan. Mereka adalah orang-orang etnis Cina, Tamil, dan orang-orang Jawa.
Orang-orang Cina umumnya di Medan bekerja sebagai pedagang. Mayoritas mereka beragama Buddha, Konghuchu, dan Taoisme. kepercayaan ini bagi orang
37 Koentcaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta : Aksara Baru. 1985. Hal 376.
Cina disebut dengan Tri Dharma. Orang-orang Cina juga sangat menghormati leluhur mereka yang telah meninggal.
Kelompok masyarakat Tamil merupakan etnis pendatang yang datang ke Medan sebagai pedagang dan kuli kontrak. Umumnya masyarakat Tamil di Medan berasal dari India selatan. Segregasi rasial yang diterapkan pemerintah kolonial juga terwujud dalam pembagian zona-zona pemukiman di Kota Medan. Kajian Usman Pelly menunjukkan bahwa pemukiman orang India terkonsentrasi di Kampung Keling, terpisah secara spasial dengan pemukiman suku bangsa lain.38 Kepercayaan masyarakat Tamil umumnya beragama Hindu. Namun adapula yang memeluk agama Islam.
38 Usman Pelly, Urbanisasi dan Adaptasi; Peran Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing, (Jakarta: LP3ES, 1994), hlm. 78.
BAB III
UPAYA PENYEBARAN AGAMA KATOLIK DI MEDAN TAHUN 1911- 1961
3.1 Kedatangan Misi Katolik Di Indonesia
Awal karya misi Katolik di Nusantara dimulai sejak pertengahan abad 7, dimana di pantai barat Sumatera Utara sudah terdapat pemeluk Kristen.Pada abad 13 dan 14 beberapa misionaris Fransiskan39 singgah di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan ketika berlayar menuju Cina.Penyebaran misinya tidak bertahan lama.Kemudian pada tahun 1511Portugis singgah di Malaka dibawah pimpinan Vasco da Gamma.Portugis menaklukkan Malaka, daerah Goa dan tempat-tempat lain serta melakukan monopoli perdagangan.Dari Malaka mereka bertolak melakukan pelayaran ke tempat asal rempah-rempah ke daerah Timur.Selama dalam perjalanan pelayaran para kaum rohaniawan juga turut serta untuk pemeliharaan rohani para pelaut, pedagang, serta serdadu-serdadu.Tahun 1512 kapal Portugis berlayar di Pulau Banda Maluku.40
Para pedagang Portugis berhasil melakukan perdagangan dengan baik dengan masyarakat Maluku, dan kaum rohaniawan juga turut menyebarkan misi di daerah ini.Akan tetapi situasi terhadap seorang misionaris Simon Vaz. Karya misi ini kemudian dilanjutkan oleh Santo Fransiskus Xaverius yang datang mengunjungi
39Fransiskan Biarawan atau biarawati dalam Gereja Katolik yang menggabungkan diri pada Lembaga Hidup Bakti (tarekat), yang didirikan oleh pendiri tarekatnya. Ordo Fransiskan pendiri tarekatnya yakniFransiskus, sehingga cara hidup kaum biarawan mengikuti jejaknya.
40 Drs. H. A. Zaidan Djauhury, dkk, Monografi Kelembagaan Agama di Indonesia, Jakarta, 1984, hlm. 153.
kepulauan Maluku: Ambon, Ternate, Halmahera dan Molotai pada tahun 1546-1547.
Fransiskus banyak memberikan perhatian kepada kaum kecil di Maluku, membuka sekolah-sekolah bagi kaum pribumi sehingga banyak penduduk kampung menaruh perhatian, peduli dan mulai santun padanya.Dari sinilah banyak penduduk yang berkeinginan untuk dibaptis oleh Santo Fransiskus Xaverius.
Pembagian wilayah misi baru terlaksana pada masa Mgr. Luypen menjadi Uskup di Batavia. Hal ini karena tidak adanya dukungan finansial dari pemerintah dan dari pimpinan Serikat Jesuit di Belanda yang menolak ide pembagian wilayah misi. Karena Serikat Jesuit merasa sudah mampu dan cukup untuk memenuhi segala kebutuhan yang ada serta kekhawatiran jika misi dilakukan oleh beberapa ordo maka akan muncul keseragaman dalam kepemimpinan yang diterapkan oleh ordo-ordo tersebut.41
Kebijakan Mgr. Luypen yang membagi satu Vikariat Batavia menjadi beberapa bagian Vikariat yang berdiri otonom menjadi awal mulanya pembagian vikariat di Indonesia.Pembagian itu mengakibatkan keluarnya Dekrit Roma, yang diambilalih oleh MSC (Missionariorum Sacratissimi Cordis Jesu) atau Misionaris Hati Kudus Yesus dari Provinsi Belanda. 42Daerah tersebut akan berpisah dari Vikariat Batavia dan menjadi Prefektur Apostolik Nieuw Guinea. Pater Mathias
41 Anton Haryono, Awal Mulanya Adalah Muntilan :Misi Jesuit di Yogyakarta1914-1940, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2009, hlm. 44.
42Ibid., hlm 46.
Neyens, misionaris Hati Kudus Yesus ditunjuk sebagai Prefektur Apostolik43 pertama oleh Kepausan Roma. Wilayahmisi MSC mencakup New Guinea, Kepulauan Kei dan Tanimbar, Aru, Ambon, Banda, Seram dan Halmahera. Pembagian ini merupakan pembagian pertama oleh Serikat Jesuit yang menyerahkan sebagian daerah misinya kepada MSC karena beberapa Imam MSC sebenarnya sudah mulai berkarya di Irian Barat dan Timur walaupunbelum resmi dan terbuka.
Dalam menjalankan misi di Prefektur Apostolik New Guine, paramisionaris MSC tidak mendapat dukungan finansial dari pemerintah Belanda.Gereja, Pastoran, dan segala yang mendukung kegiatan misi merupakansumbangan dari SJ yang diserahkan kepada misionaris MSC. Dengan dibentuknyaPrefektur Apostolik maka seluruh wilayah Indonesia Timur dipisahkan dari Vikariat Batavia.MSC memisahkan daerah Manado dari Prefektur Apostolik NewGuinea tahun 1919 dan menyerahkan daerah Sulawesi Selatan kepada paraMisionaris Scheut (CICM). Pembagian wilayah oleh Vikariat Apostolik Batavia dilanjutkan tanggal 11Desember 1905 dengan didirikan Prefektur Apostolik Borneo.Seluruh wilayah Borneo-Belanda dipisahkan dari Vikariat Batavia dan dipercayakan kepada Ordo Kapusin Provinsi Belanda (OFM Cap). Tahun 1911, Ordo Kapusinmenerima daerah misi dari Vikariat Batavia yaitu wilayah Sumatera. Tahun 1926, Kalimantan selatan (Banjarmasin) dan timur diserahkan kepada kongregasiMisionaris Keluarga Kudus atau Missionarium Sacre Familia (MSF) agarkegiatan misi tidak terganggu akibat wilayah misi yang terlalu
43Prefektur Apostolik adalah pemimpin karya misi di wilayah tertentu atas nama Takhta Suci atau propaganda Fide(sejenis kementerian kepausan yang bertanggung jawab atas karya misi Katolik di daerah-daerah yang belum mengenal injil).
luas. Tahun 1913,wilayah Flores dan Timor diserahkan kepada para Misionaris Sabda Allah atauSocietas verbi Divini (SVD).Para Pater SVD memisahkan Timor dari Floresdengan mendirikan Prefektur Apostolik Atambua tahun 1936. 44 Dengan pembagianwilayah tersebut maka karya misi SJ terbatas di Pulau Jawa.Sejumlah PrefekturApostolik yang terbentuk di luar Jawa merupakan hasil dari semangat iman yangdilakukan oleh Serikat Yesus. Mereka secara nyata telah meletakkan dasar- dasarbagi proses perkembangan misi Katolik di Indonesia dengan Ordo-ordo lainnya.Dengan terbentuknya Prefektur baru memberikan kesempatan dan waktu yang banyak bagi untuk mengoptimalkan karya misi di Pulau Jawa.45
Missionaris Kapusin tiba di Indonesia pertama kalinya pada tahun 1905 di Singkawang (Kalimantan Barat).Ordo Kapusin yang pertama tiba di Indonesia adalah: P. Pacificus Bos dari Uden, P. Eugenius dari Reijen, P. Beatus dari Dennenburg, P. Camillus dari Pannendern, Br. Wilhelmus dari Oosterhout dan Theodoricus dari Uden.46
3.2 Kedatangan Misi Katolik ke Sumatera
Pada abad ke- 20 Sumatera merupakan bagian dari wilayah kekuasan Dutch East Indies Company (VOC). Kebijakan VOC dalam bidang keagaman ditandai oleh larangan untuk hidup menurut agama Katolik, larangan ini tidak menghapus toleransi.
44 Weitjens Jan, dkk, Gereja dan Masyarakat: Sejarah Perkembangan Gereja Katolik di Yogyakarta, Yogyakarta: Panitia Misa Syukur Pesta Emas RI, 1995,hlm. 5.
45 Anton Haryono, op.cit., hlm. 45.
46 Yosafat Tano Simamora, dkk, Jubileum 100 Tahun Kapusin di Indonsia, Medan, 2015, hlm. 16.
Seluruh di kepulauan Indonesia yang masih dibawah kerajan Belanda dipercayakan kepada Serikat Jesuit47 untuk reksa pastoral.48
Pada tahun 1911 terdapat pembagian di Vikariat Batavia (jakarta, sekarang), yang pada awalnya mencakup seluruh Hindia-Belanda, dipisahkan sebagai daerah misi sendiri. Pada tahun 1902 Irian Barat dan Pulau Batu menjadi Prefektur sendiri.
Pada tahun 1905 diikuti oleh Borneo (Kalimantan) dan pada tahun 1911 Sumatera dan pulau-pulau disekitarnya.
Para misionaris Katolik mulai melihat daerah-daerah lain di Sumatera yang belum banyak dipengaruhi Protestan.Pada saat itu Padang menjadi pilihan yang aman untuk menumbuhkan benih-benih Katolik kepada masyarakat.Pada tahun 1902 misionaris Katolik memulai kembali misi (sebutan dalam penyebaran agama Katolik) yang sempat terhenti karena meninggalnya Pastor Caspar de Hesselle pada 31 Agustus 1854. Pastor tersebut merupakan misionaris Katolik pertama yang mengunjungi Sumatera dan tertarik untuk mendirikan Katolik disana. Minimnya pengetahuan Pastor Caspar de Hesselle tentang kebudayaan suku-suku di Sumatera, Medan alam yang sulit,49 perbedaan budaya diantara keduanya membuat Katolik sulit untuk masuk dalam kehidupan sosial masyarakat Sumatera.50Oleh sebab itu misi sempat terhenti.
47 Arie Van Diemen, OFMCap, Seratus Tahun Kapusin di Sumatera, Pemantang Siantar, 2010, hlm. 6.
48Reksa Pastoran merupakan wilayah pengembangan pastoran.
49Wawancara dengan Pastor Leo Joosten, OFM Cap yang merupakan seorang Pastor, Penulis dan Peneliti Masyarakat Karo, pada tanggal 24 Mei 2016 pada pukul 09.30 WIB di Museum Karo Berastagi.
50 Karel Steenbrink, Catholics in Indonesia 1808-1942. Leiden: KITLV,2007, hlm. 325.
Usaha misionaris Katolik membuka kembali misi di Sumatera membuah hasil.Pada tanggal 30 Juni 1911 dibentuklah Prefektur Apostolik Sumatera51yang berkedudukan di Padang. Ordo Kapusin Belanda kemudian ditugaskan untuk mengambil alih kegiatan misi Katolik di Sumatera dengan Mgr. Liberatus Cluts Ofm Cap sebagai pemimpin Prefektur Sumatera. Terbentuknya Prefektur Apostolik Sumatera ternyata memudahkan misionaris Katolik dalam menyebarkan agama Katolik sehingga karya misi dilanjutkan ke daerah-daerah Batak.
Pada 13 Juni 1912 rombongan misionaris Kapusin tiba di Sumatera bersama dengan Mgr. Liberatus Cluts, yaitu : Pastor Mattheus de Wolf, Pastor camilius Buil, Pastor Agustinus Huijgbrets dan Pastor Remigius van Hoof. Kepada lima pastor ini kemudian diserahkan tugas untuk menggembalakan umat yang ada di seluruh Sumatera. Mgr. Liberatus dan Pastor Camillius ditempatkan di Medan. Pastor Mattheus di Padang, Pastor Remigius di Tanjung Sakti, dan Pastor Augustinus di Kota Raja (Banda Aceh).
Penyebaran agama Katolik di Sumatera tidak mudah, selain karena kurangnya dukungan dari pemerintah Hindia Belanda, izin untuk mendirikan misi disana belum juga diperoleh dari pimpinan pusat. Oleh karena itu para misionaris Katolik berusaha meminta bantuan kepada Pastor-pastor diPadang, Sawah Lunto, dan Bukit Tinggi untuk memperoleh izin menyebarkan misi.52
51Prefektur Apostolik Sumatera merupakan suatu lembaga yang ada dalamsusunan gereja Katolik yang mengurusi segala sesuatu tentang karya misi Katolik di Sumatera.
52 P.Gentilis Aster, OFMCap, op.cit., hlm. 99.
Sejak dibukanya perkebunan oleh pihak swasta Belanda di Sumatera Timur sering terjadi kenakalan kerja para kuli kontrak.Pemerintah Belanda menganggap kenakalan ini merupakan suatu ancaman bagi kegiatan kerja di perkebunan.Oleh karena itu, pemerintah Belanda sepakat untuk mendatangkan misionaris Protestan untuk memberikan pelajaran agama bagi para kuli kontrak. Pelajaran agama yang diberikan di perkebunan teryata memberikan dampak lain. Para kuli kontrak yang sudah mempelajari Kristen Protestan turut mengajak sanak-saudaranya yang berada di daerah pedalaman Batak untuk mengenal tentang Kristen Prostestan. Melalui informasi yang diperoleh dari Kuli Kontrak, para misionaris Prostestan mulai menjelajahi pedalaman Batak dan berusaha membangun Protestan di tengah-tengah masyarakat Batak yang masih menganut kepercayaan lokal.
Dengan masuknya agama dari luar seperti Katolik ada perubahan pemikiran atau penetrasi kebudayaan dari luar terutama bagi pemeluk agama tersebut.
Berangsur-angsur, salah satunya berkat usaha agama Kristen menyebarkan ajaran- ajarannya, animisme perlahan-lahan semakin ditinggalkan. Misionaris berusaha memberantas kebiasaan-kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran-ajaran agama Kristen seperti pemujaan kepada arwah nenek moyang, magis dan lain-lain.53
Karya misionaris untuk orang-orang Eropa tidak membawa banyak kegembiran.Kebanyakan orang Katolik menghayati imannya secara pasif sekali.Kehidupan Katolik yang sehat jarang terdapat di lingkungan orang-orang kolonial. Sejak misionaris Kapusin masuk ke Sumatera kelompok-kelompok orang
53 Mawi, op.cit., hlm. 24.