• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MISI KATOLIK DI KOTA MEDAN

4.4. Bidang Rohani

Berdirinya Keuskupan Agung Medan

Menurut Hukum Gereja Katolik Roma, Keuskupan atau dioses adalah bagian umat Katolik yang tinggal dalam suatu daerah dengan batas-batas tertentu, dengan seorang Uskup yang adalah pengganti rasul Yesus Kristus mempersatukan mereka

81 Yayasan Setia Medan, “Sejarah Berdirinya Yayasan Setia Medan”, diakses dari http://sdsintyoseph.blogspot.co.id/2016/11/sejarah-berdirinya-yayasan-setia-medan.html, Pada Tanggal 6 Juni 2017, pukul 00.39

sebagai guru dalam ajaran, imam dalam ibadat suci dan pelayan dalam kepemimpinan.

Keuskupan Agung terjadi dari pengelompokan beberapa keuskupan yang berdekatan yang membentuk suatu Provinsi Gerejani, seperti negara Indonesia saat ini disatukan oleh suatu kesatuan Provinsi Gerejawi oleh pimpinan gereja Katolik di Roma. Dalam hal ini suatu Keuskupan menjadi Keuskupan Agung dan dipandang sebagai metropolit bukan karena luas wilayah, ataupun karena kedewasaan iman umat pada umumnya. Keuskupan Agung tidak lebih tinggi dari Keuskupan lainnya, melainkan mendapat fungsi mempersatukan Keuskupan-keuskupan yang berdekatan, yang disebut Keuskupan sufragan, seperti suatu gugusan (cluster), dalam rangka penggembalaan umat yang kurang lebih mirip budayanya, untuk hal-hal yang dianggap berfaedah.

Di daerah-daerah misionaris katolik, pembentukan Keuskupan sebagai perpanjangan dari hierarki Katolik dipimpin langsung oleh Paus di Roma, serta harus mendapat rekomendasi dari Paus sebagai pemimpin tertinggi. Secara teratur, sebelum menjadi Keuskupan, wilayah yang akan dijadikan suatu daerah keuskupan harus melalui tahapan dalam otoritas misi, yaitu prefektur Apostolik dan kemudian Vikariat Apostolik dan menjadi keuskupan.

Pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia melarang perkembangan agama Katolik di Indonesia. Perubahan politik di Belanda, khususnya kenaikan tahta Raja Lodewijk, seorang Katolik, membawa pengaruh yang cukup positif. Kebebasan umat beragama mulai diakui pemerintah. Pada tanggal 8 Mei 1807 pimpinan Gereja

Katolik di Roma mendapat persetujuan Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda di Batavia. Prefektur Apostolik adalah suatu wilayah Gereja Katolik yang bernaung langsung di bawah pimpinan Gereja Katolik di Roma, yang dipimpin bukan oleh seorang Uskup, melainkan oleh seorang Imam biasa yang ditunjuk oleh Paus, yang disebut Prefek Apostolik (Prefektur apostolik adalah daerah misi di mana Gereja Katolik belum berkembang).

Pada awal abad ke-20, tampak semakin jelas bahwa satu vikariat apostolik (Batavia), yang mencakup seluruh Nusantara terlampau luas. Wilayah dan tanggung jawab perlu dibagi-bagi. Sejak tahun 1902, beberapa daerah sudah dipisahkan dari Vikariat Apostolik Batavia ke dalam beberapa wilayah independen (vikariat apostolik maupun prefektur apostolik), yaitu Maluku dan Irian (1902), Kalimantan (1905), Sumatra (1911), Nusa Tenggara (1913/14), Sulawesi (1919). Vikariat Apostolik Batavia hanya meliputi Jawa saja.

Prefektur Apostolik Sumatera telah didirikan pada tahun 1911, dan diberikan kepada Mgr. Liberatus Cluts, OFMCap untuk menjabat sebagai Prefek pertama yang bertempat tinggal Padang dari tahun 1912-1921. selanjutnya Prefek Apostolik yang kedua yaitu Mgr. Mathias Brans, OFMCap, yang menjabat dari 1921 sampai 1954.

Masa ini prefektur apostolic Sumatera banyak mengalami perkembangan. Sumatera Selatan kemudian dipisahkan dari bagian Utara tahun 1923 dan Kongregasi dari Hati Kudus Yesus (SCJ) mulai berkarya di Prefektur Apostolik Bengkulu (yang kemudian menjadi Palembang) yang baru didirikan. Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria (SSCC) di Prefektur Apostolik Pangkal Pinang (termasuk Riau, Bangka, dan

Kepulauan Belitung). Sedang Pimpinan Kapusin sendiri telah tinggal di Sumatera bagian Utara dibawah kepemimpinan Mgr. Brans.

Pada tahun 1932, seiring dengan pertumbuhan umat katolik di Sumatera, status kedudukan Prefektur Apostolik Padang ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Padang. Pada tahun 1941, pertumbuhan umat Katolik yang pesat di Medan, seiring dengan semakin berkembangnya misi Katolik di Tapanuli kemudian mengakibatkan perpindahan pusat Vikariat Apostolik dari Padang menuju Medan.

Kota Medan dipilih sebagai pusat Vikariat Apostolik yang baru dikarenakan pertumbuhan umat yang lebih pesat dibandingkan di Padang, selain itu untuk memudahkan akses menjadi lebih dekat misionaris yang bekerja di Tapanuli.

Sehingga kemudian nama Vikariat Apostolik Padang diganti menjadi Vikariat Apostolik Medan.

Ketika penguasa Jepang memasuki daerah Hindia-Belanda, mulailah awal periode suram bagi umat Katolik dan kegiatan misi. Ketika itu semua misionaris Katolik ditawan dan ditangkap. Mgr. Brans dengan semua misionaris ordo Kapusin dari daerah Padang ditahan di Bangkinang. P. Landelinus rademaker dan P. Spanjers ditahan di Kota Raja. P. Spanjeers dan P. Dijkstra kemudian meninggal di kamp tahanan Jepang. Adapula P. Ludgerus Van De Sande ditawan bersama tentara KNIL bersama dengan P. Ezechiel Vergeest yang juga bertugas untuk pelayanan kepada tentara Belanda.82

82 Simamora, Yosafat tano dkk., Jubileum 100 Tahun Kapusin Di Indonesia : Membaharui Semangat Revolusioner (Pematang Siantar, belum diterbitkan), hlm. 29.

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu dan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, berakhir pula penawanan terhadap misionaris-misionaris Katolik. Akan tetapi para misionaris-misionaris belum diizinkan untuk kembali ke daerah misi masing-masing. Karena situasi politik saat itu masih panas, bermunculan laskar-laskar pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan yang saat itu belum diakui oleh penuasa Hindia-Belanda. Mgr. Brans selaku pimpinan Vikariat Medan kemudian melalui surat-surat dan relasi untuk menghubungi penguasa agar kepada para misionaris diberi izin untuk kembali ke daerah misi yang telah lama ditinggalkan. Partai Katolik Republik Indonesia juga mencoba berbagai usaha untuk menghubungi penguasa pemerintahan Republik Indonesia di Jakarta untuk memberikan izin kepada misionaris katolik untuk kembali bekerja.

Semua orang asing harus mendapat izin masuk indonesia dan memiliki izin untuk menjadi penduduk Indonesia. Setiap misionaris harus memiliki KIM (Keterangan Izin Masuk) atau SKK (Surat Keterangan Kependudukan). Dokumen ini biasanya dapat diperoleh, tetapi dalam situasi ketegangan hubungan antara Indonesia dan Belanda, sering prosedurnya diperoleh. Karena itulah Mgr. Brans mendorong para misionaris agar bersedia menjadi warga negara Indonesia demi kelangsungan misi.surat uskup ini mendapat tanggapan yang baik, banyak imam Katolik asing yang menjadi warga negara Indonesia. Imam-imam yang memperoleh SKK menjadi lebih aman. Dengan demikian karya misi dapat dijamin kelanjutannya.83

83 Joosten, Leo. Tali Pengkur Jatuh Ke Tanah Permai, (Medan: Bina Media Perintis, 2005), hlm. 29.

Situasi misi Katolik di Medan semakin membaik seiring dengan diberikan perizinan bagi misionaris Katolik untuk kembali bekerja. Selain itu pada 3 Januari 1946, Mgr. Brans kemudian pindah dari Padang ke Medan untuk memegang kembali jabatan sebagai pimpinan Vikariat Apostolik Medan. Tahun 1955 P. Ferrerius van den Hurk diangkat untuk memimpin Vikariat Medan menggantikan Mgr. Brans.

Adapun Mgr. Brans kemudian kembali ke Belanda setelah memimpin misi di Sumatera selama 35 tahun.84

Pada tahun 1961 Hirarki Katolik Indonesia didirikan. Vikariat Apostolik Medan diubah menjadi Keuskupan Agung Medan. Gereja Katolik di indonesia ditantang untuk mandiri dan menghasilkan imam-imam dan pelayan bagi umatnya sendiri. Imam-imam baru yang berasal dari putra-putra daerah kemudian ditahbiskan untuk pelayan bagi umat Katolik di Keuskupan Agung Medan, sehingga tidak bergantung kepada misionaris dari Belanda untuk memberikan pelayanan dan mengajarkan agama Katolik lebih dalam lagi.

84 Ibid., hlm 32.

BAB V KESIMPULAN

5.1 Simpulan

Medan merupakan daerah yang strategis sebagai pintu masuk kolonial Belanda untuk sampai daerah Tapanuli yang saat itu banyak terjadi perlawanan suku-suku batak yang menolak invasi kolonial Belanda di tanah mereka. Ketika terjadi Perang Sunggal melawan Belanda yang dipimpin oleh Datuk Kecil pada tahun 1871, maka membutuhkan banyak tentara untuk meredam perlawanan tersebut. Sehingga secara tidak langsung kemudian mengakibatkan bertambahnya orang eropa Katolik di kota Medan. Selain itu pembukaan lahan perkebunan di Sumatera Timur juga berakibat pada semakin banyak penduduk di Kota Medan. Selain tuan-tuan kebun, juga datangnya orang-orang asing seperti orang Cina dan Tamil yang bekerja sebagai buruh perkebunan, adapula orang-orang suku Jawa yang sengaja didatangkan untuk bekerja sebagai buruh kontrak di perkebunan-perkebunan Medan-Deli. Penduduk asli kota Medan saat itu adalah Suku Karo yang mendiami daerah Hulu, dan suku Melayu yang banyak bermukim di daerah hilir (pesisir).

Kehadiran Katolik di Medan pada awalnya merupakan usaha misionaris Katolik dari Ordo Jesuit untuk mnyebarkan Agama Katolik di Medan, selain itu akibat datangnya tentara-tentara Belanda ke Medan untuk meguasai daerah Sumatera Timur. Didalam pasukan tersebut juga berisi tentara-tentara yang beragama Katolik, sehingga kemudian diikuti oleh datangnya para pastor-pastor Katolik untuk melayani

kegiatan ibadah mereka. Selain itu pembukaan lahan-lahan perkebunan asing di Sumatera Timur juga mengakibatkan datang pula pengusaha dan tuan-tuan kebun Eropa yang beragama Katolik.

Hindia Belanda pada awalnya merupakan daerah provinsi gerejawi dibawah pimpinan Paus di Roma dengan nama Vikariat Apostolik Batavia. Seluruh kegiatan penyebaran agama Katolik di Hindia belanda dipegang oleh pastor-pastor Ordo Jesuit. Setelah adanya pemecahan wilayah Vikariat Apostolik Batavia, Medan merupakan salah satu daerah pelayanan misi Katolik dalam wilayah Prefektur Apostolik Sumatera yang berkedudukan di Padang. Pastor-pastor dari Ordo Kapusin belanda bertanggung jawab atas kegiatan misi di seluruh Sumatera.

Sebelum tahun 1912 ketika adanya pembagian wilayah misi Katolik di Indonesia, di Medan telah ada komunitas-komunitas Eropa Katolik dan orang-orang Tamil. Setalah Izin pemerintah Hindia Belanda kepada para misionaris Katolik untuk melakukan misi Katolik di Medan, maka dituslah Pastor Camillus Buil untuk melayani orang-orang Katolik Eropa. Sedangkan kegiatan Misi untuk orang-orang Tamil di serahkan kepada Pastor Martinus Van Loon. Pada tahun 1920 juga dimulai kegiatan penyebaran agama Katolik ke lingkungan orang-orang Cina Medan. Pastor Marcellinus Simons ditugaskan sebagai penangggung jawab atas kegiatan misi di lingkungan orang Cina di Medan.

Kegiatan penyebaran agama Katolik bagi orang-orang Pribumi di Medan belum cepat terlaksana akibat adanya pelarangan izin dari pemerintah Kolonial Belanda kepada misionaris Katolik untuk menyebarkan agama Katolik. Pada tahun

1925 barulah beberapa keluarga Batak di Medan memberikan diri menjadi Katolik.

Jumlah orang Batak yang menjadi Katolik terus meningkat sehingga pada tahun 1927 diangkat seorang pastor khusus bernama P. Marianus Spanjers untuk mengurusi pemeliharaan rohani orang Batak.

Akibat kurangnya pastor-pastor untuk melakukan kegiatan misi di Medan, Mgr. Matthias Brans sebagai pimpinan Prefektur Apostolik Sumatera meminta kepada Suster-suster di belanda untuk membantu misi di Sumatera. Suster-suster fransiskanes Dongen (SVD) dari Dongen Belanda tiba pada tahun 1923 di Medan.

Kemudian disusul datangnya 4 orang Suster-suster FSE (Fransikanes Santa Elisabeth) dari Breda, Belanda tahun 1925. Kemudian di tahun 1931, datanglah 6 Suster dari Kongregasi Suster-suster Santo Yoseph (KSSY) tiba di Medan. Mereka berasal dari kota Amersfoort, Belanda.

Ketika Belanda Menyerah kepada Jepang di tahun 1942, kota Medan juga dikuasai oleh tentara Jepang. Pada masa itu merupakan masa-masa sulit bagi kegiatan misi Katolik. Banyak Pastor dan Suster ditangkap dan diasingkan oleh tentara Jepang.

Akibatnya kegiatan misi pun dihentikan. Pelayanan ibadah gereja hanya dilakukan oleh orang-orang awam saja.

Penyebaran agama Katolik di Medan selain berpengaruh kepada Katolik (Misi) itu sendiri, juga memberi pengaruh terhadap situasi Kota Medan. Antara lain di bidang pendidikan, kesehatan, dan karya-karya sosial. Di bidang pendidikan, misi Katolik membantu masyarakat Medan untuk mendapat pendidikan. Terutama dengan dibukanya sekolah-sekolah bagi anak-anak Cina-Eropa, sekolah bagi anak-anak suku

Tamil, dan juga pengajaran bagi orang-orang Batak di Medan. Di bidang Kesehatan, adanya misi Katolik berpengaruh pada didirikannya Rumah Sakit Santa Elisabeth di Jl. Haji Misbach pada tahun 1929. Sedangkan di bidang sosial, kegiatan misi juga berpengaruh pada dibukanya panti-panti asuhan bagi orang-orang buta, tuli, dan juga kepada mereka yang cacat mental. Selain itu pertumbuhan umat Katolik akibat adanya kegiatan misi di Medan juga berpengaruh di bidang rohani itu sendiri. Yaitu dengan didirikannya Keuskupan Agung Medan yang merupakan Provinsial Gerejawi dalam hierarki Katolik berada langsung di bawah pimpinan agama Katolik di Vatikan.

5.2 Saran

Penulisan ini masih jauh dari hasil yang sempurna seperti yang diharapkan banyak pihak. Oleh sebab itu penulis memberikan saran-saran untuk penulisan selanjutnya yang lebih baik mengenai perkembangan Agama Katolik Medan maupun di daerah lain. Adapun saran-saran tersebut adalah:

1. Perlunya penambahan atau perbanyakan litratur mengenai perkembangan Agama Katolik sebagai pedoman dalam sebuah penelitian. Terutama kelengkapan data mengenai orang-orang pertama yang dibabtis Katolik dalam proses misionaris Katolik. Sulitnya untuk mendapatkan litratur dan data tertulis menjadi tantangan dalam penelitian selanjutnya.

2. Pemerintah daerah maupun gereja-gereja setempat perlu memperhatikan pentingnya penyimpanan data-data yang lengkap mengenai perkembangan

gereja agar kelak dapat dipergunakan sebagai acuan dalam penelitian selanjutnya.

Dokumen terkait