• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

2.1 Kajian Teori

2.1.3 Bimbingan dalam Konteks Pendidikan

2.1.3.1 Pengertian Bimbingan

Guidance atau bimbingan memiliki arti yang sangat luas dan tergantung pada konsep dasar para ahli dan penerapannya. PP No. 28 Tahun 1990, BAB X Pasal 25 ayat (1) (dalam Furqon, 2005) memaparkan bahwa bimbingan merupakan “bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan” (hlm. 2). Rochman Natawidjaja (dalam Winkel, 2004) mengartikan bimbingan sebagai “proses pemberian bantuan kepada seseorang secara terus menerus, agar orang tersebut dapat menyesuaikan diri dan bertindak sesuai dengan tuntutan lingkungan disekitarnya, sehingga ia dapat membagikan ide-ide positif yang bermanfaat” (hlm. 29). Sedangkan menurut Strang (dalam Furqon, 2004) bimbingan adalah “proses belajar bagaimana menyelesaikan masalah dan berkembang secara optimal” (hlm. 4).

Melihat dari ketiga pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah suatu bantuan yang diberikan kepada sesorang untuk membantu orang tersebut mengerti dan memahami dirinya sendiri, berkembang secara optimal serta membantu dirinya keluar dari permasalahannya.

2.1.3.2 Tujuan Bimbingan

Depdikbud (dalam Furqon, 2005) memaparkan tujuan layanan bimbingan di sekolah dasar adalah “untuk membantu peserta didik agar dapat memenuhi tugas-tugas perkembangan yang meliputi aspek pribadi sosial, pendidikan, dan karier sesuai dengan tuntutan lingkungan” (hlm. 20). Barus (2011) menerangkan tujuan bimbingan di SD untuk membantu peserta didik dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya agar dapat mengaktualisasikan tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial, akademik/ belajar, dan karier sesuai dengan tuntutan lingkungan. Sedangkan Nurihsan (2006) merumuskan tujuan bimbingan adalah agar peserta didik dapat (1) merencanakan masa studi, memilih karir yang tepat, dan merancang masa depannya; (2) mengembangkan potensi dan kelebihan yang dimilikinya; (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya; (4) mengatasi permasalahan yang dihadapinya dalam bidang akademik, pribadi, sosial, serta karir.

Berdasarkan penjabaran di atas dapat disimpulkan tujuan bimbingan adalah mengarahkan dan membantu peserta didik untuk mencapai tugas-tugas perkembangannya yang disesuaikan dengan tuntutan lingkungan sekitarnya serta membantu peserta didik memecahkan permasalahannya.

2.1.3.4 Landasan Bimbingan di Tingkat SD

Pendidikan menurut Furqon (2005) adalah usaha yang dilakukan untuk membimbing dan mengembangkan pertumbuhan fisik, mental, emosional dan moral seseorang agar dapat menjalankan kehidupannya sesuai tuntutan lingkungan sekitar. Kebutuhan akan layanan pendidikan di sekolah dasar muncul dari karakteristik dan masalah-masalah perkembangan peserta didik. Optimalisasi perkembangan peserta didik usia SD dapat dicapai dengan memadukan proses pembelajaran dan ragam bimbingan.

Hal ini diperkuat dengan ditetapkannya UU no. 20 Tahun 2003, PP no. 19 Tahun 2005, Permendiknas no. 22 Tahun 2006 yang memaparkan bahwa “pelayanan bimbingan dan konseling (BK) merupakan bagian yang integratif dalam sistem pendidikan di sekolah”. UUSPN dan PP Nomor 28 Tahun1990 memaparkan bahwa pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan memiliki tujuan “untuk memberikan bekal bagi peserta didik dalam mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah” (dalam Furqon, 2005, hlm. 49).

Oleh karena itu sekolah dasar memiliki peranan strategis dalam pemberian ragam bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik agar tugas perkembangan peserta didik dapat berjalan dengan optimal. Ragam bimbingan yang ada di SD akan dijabarkan pada bagian berikut ini.

2.1.3.5 Ragam Bimbingan di SD

1. Ragam Bimbingan

Tiga ahli membagi ragam bimbingan menjadi 3 macam dengan definisi yang berbeda- beda beberapa diantaranya dijabarkan di bawah ini:

a. Bimbingan Akademik atau Belajar

Bimbingan akademik atau belajar menurut Yusuf dan Nurihsan (2010) adalah “bimbingan yang diarahkan untuk membantu individu dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah akademik” (hlm. 10). Winkel (2002) berpendapat bimbingan belajar atau bimbingan akademik adalah “bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, dalam memilih program studi yang sesuai, dan mengatasi kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan-tuntutan belajar di suatu institusi pendidikan” (hlm. 115).

Hal senada juga diungkapkan oleh Tohirin (2007) bahwa bimbingan akademik atau bimbingan belajar adalah “bantuan dari pembimbing kepada peserta didik dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah belajar’ (hlm. 130). Jadi, bimbingan belajar adalah bimbingan yang diberikan kepada peserta didik guna menghadapi dan memecahkan masalah-masalah belajar, kesulitan belajar, dan cara belajar yang tepat.

Sukmadinata (2009) mengungkapkan bahwa perkembangan belajar peserta didik tidak selalu mulus dan sesuai harapan. Pada saat tertentu mereka menghadapi berbagai masalah ataupun kesulitan. Masalah belajar merupakan inti dari masalah pengajaran, karena belajar merupakan aktivitas utama dalam pengajaran dan melalui belajar peserta didik dapat berkembang secara optimal. Masalah-masalah belajar yang sering menghambat peserta didik adalah tidak ada

motivasi belajar, materi pelajaran yang sulit, kurangnya sarana dan prasarana, tidak tekun, kurang dapat berkonsentrasi, kurang mampu menyusun dan mentaati jadwal belajar, dan lain-lain.

Bimbingan belajar menurut Tohirin (2007) memiliki dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum bimbingan belajar adalah membantu peserta didik untuk berkembang secara optimal, agar tidak menghambat perkembangan belajar mereka. Tujuan khusus bimbingan belajar adalah membantu peserta didik mencegah dan menghadapi masalah-masalah belajarnya. Kebutuhan-kebutuhan untuk mencapai tugas perkembangan belajar menurut Brown dan Trusty (dalam Barus, 2010) adalah sebagai berikut:

1) Berkemampuan membaca, menulis, berhitung sesuai dengan tuntutan kurikulum.

2) Keterampilan mendengarkan, mengikuti petunjuk/ instruksi, mengorganisasi aktivitas belajar, tugas-tugas sekolah, dan kegiatan lainnya.

3) Keterampilan belajar efektif dan menghadapi ulangan-ulangan atau tes. 4) Berlatih dan membiasakan diri untuk melakukan pekerjaan sehari-hari. 5) Belajar menghargai waktu, hidup hemat, bekerja keras dan produktif. 6) Belajar mengembangkan kebiasaan pola hidup sehat dan efektif.

Perangkat pembelajaran PKn yang terintegrasi bimbingan belajar akan digunakan untuk mengatasi masalah belajar peserta didik dalam hal tidak tekun.

Berdasarkan Slameto (2010) ciri-ciri peserta didik yang tekun belajar adalah: (1) membuat catatan atau ringkasan; (2) mengulang bahan pelajaran; (3) konsentrasi; (4) mengingat materi yang dipelajari; (5) tidak mudah putus asa;

b. Bimbingan Pribadi

Yusuf dan Nurihsan (2010) berpendapat bahwa bimbingan pribadi merupakan “bimbingan untuk membantu para individu dalam memecahkan masalah-masalah pribadi” (hlm. 12). Bimbingan pribadi menurut Winkel (2004) adalah “bimbingan dalam hal menghadapi keadaan batinnya sendiri, dalam mengatur diri sendiri di bidang kerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu luang, penyaluran nafsu seksual dan sebagainya” (hlm. 115). Sedangkan Tohirin (2007) menyatakan bimbingan pribadi adalah bantuan yang diberikan kepada individu untuk mengatasi masalah-masalah pribadinya. Jadi, bimbingan pribadi adalah bimbingan yang diberikan kepada peserta didik guna menghadapi dan mengurangi masalah-masalah pribadi.

Tohirin (2007) berpendapat bahwa individu pada saat-saat tertentu mengalami kesulitan yang berasal dari dirinya sendiri. Hal ini timbul karena individu tersebut merasa kurang berhasil dalam menyadari dan menyesuaikan diri dengan potensi-potensi yang dimilikinya. Masalah pribadi juga dapat timbul karena individu gagal menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya. Masalah-masalah pribadi yang biasanya dialami oleh individu menurut Sukmadinata (2009) adalah tidak bertanggung jawab, tidak percaya diri, cemas, takut, kurang bersemangat, mudah putus asa, ragu-ragu dalam bertindak, tidak teliti, mudah berubah, dan lain-lain.

Bimbingan pribadi memiliki tujuan penting menurut Tohirin (2007) yang pertama membantu individu mengatasi masalah-masalah pribadinya, yang kedua membantu individu mencapai tujuan dan memenuhi tugas perkembangannya, dan yang ketiga membantu individu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekitar.

Kebutuhan-kebutuhan untuk memperlancar tugas perkembangan pribadi menurut Brown dan Trusty adalah sebagai berikut:

1) Pemahaman tehadap dirinya sendiri yang meliputi kelebihan-kelebihan, kelemahan-kelemahan, minat-minat, gambaran tubuh, perbedaan-perbedaan, dan kesamaan- kesamaan dengan orang lain.

2) Menghargai diri sendiri, memandang positif tentang diri sendiri, dan penerimaan diri.

3) Mengembangkan rasa percaya diri, berani tampil, dan berlatih mengungkapkan gagasan sendiri.

4) Berlatih dan membiasakan diri untuk melakukan pekerjaan sehari-hari. 5) Belajar menghargai waktu, hidup hemat, bekerja keras dan produktif. 6) Berlatih mengambil keputusan-keputusan sederhana.

7) Belajar mengembangkan kebiasaan pola hidup sehat dan efektif.

8) Membiasakan bersikap dan bertindak jujur, santun, rendah hati, mentaati norma-norma.

9) Memahami dan menentukan perilaku baik dan buruk, perbuatan salah dan benar.

10) Berlatih bertanggung jawab dan konsekuen.

11) Berlatih mengembangkan perilaku bertanggung jawab, teliti dan konsekuen. 12) Berlatih mengatur keperluan diri sendiri, perawatan diri dan kegiatan pribadi. 13) Berlatih merancang dan melaksanakan rencana, pilihan-pilihan, serta

prioritas-prioritasnya sendiri (dalam Barus, 2010).

Perangkat pembelajaran PKn yang terintegrasi bimbingan pribadi akan digunakan untuk mengatasi masalah pribadi peserta didik dalam hal tidak teliti.

Berdasarkan Sukmadinata (2009) ciri-ciri peserta didik yang teliti adalah: (1) bertanggung jawab; (2) berhati-hati; (3) konsentrasi; (4) memperhatikan petunjuk; (5) berpikir kritis; dan (6) menyadari pentingnya apa yang sudah dipelajari.

c. Bimbingan Sosial

Yusuf dan Nurihsan (2010) berpendapat bahwa bimbingan sosial merupakan “bimbingan untuk membantu para individu dalam memecahkan masalah-masalah sosial” (hlm. 12). Bimbingan sosial menurut Winkel (2004) adalah “bimbingan dalam membina hubungan kemanusiaan dengan sesama di berbagai lingkungan atau pergaulan sosial” (hlm. 115). Sedangkan Tohirin (2007) menyatakan bimbingan sosial adalah bantuan yang diberikan kepada individu untuk mengurangi masalah-masalah sosial. Jadi, bimbingan sosial adalah bimbingan yang diberikan kepada peserta didik guna mengurangi masalah-masalah sosial.

Bimbingan sosial memiliki tujuan penting menurut Tohirin (2007) yaitu membantu individu mengatasi masalah-masalah sosialnya, yang kedua membantu individu mencapai tujuan dan memenuhi tugas perkembangannya, sehingga individu mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Kebutuhan-kebutuhan untuk memperlancar tugas perkembangan pribadi menurut Brown dan Trusty adalah sebagai berikut:

(1) keterampilan berkomunikasi; (2) keterampilan bergaul; (3) keterampilan

mengelola emosi; (4) keterampilan untuk menentukan sikap; (5) keterampilan bekerja sama; (6) kesadaran menghargai perbedaan;

(7) menumbuhkan sikap toleransi; (8) menghargai dan menghormati pendapat orang lain; (9) mengetahui perkembangan dirinya dan berperilaku

sehat sesuai dengan jenis kelaminnya; (10) mengembangkan kemampuan daya tahan terhadap tekanan-tekanan kelompok sebayanya (dalam Barus, 2010, hlm. 15).

d. Bimbingan Karir

Bimbingan karir menurut Yusuf dan Nurihsan (2010) merupakan “bantuan terhadap individu untuk mengenal dunia kerjanya, mengembangkan masa depannya, menentukan dan mengambil keputusan secara tepat dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil sehingga mereka mampu mewujudkan diri secara bermakna” (hlm. 13). Menurut Winkel (2004) bimbingan karier adalah “bimbingan dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia pekerjaan, dalam memilih lapangan pekerjaan atau jabatan/profesi tertentu serta membekali diri supaya memangku jabatan itu, dan dalam menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan dari lapangan pekerjaan yang telah dimasuki” (hlm. 18).

Nurihsan (2006) mengungkapkan bimbingan karir merupakan bantuan untuk individu dalam perencanaan, pengembangan, dan penyelesaian masalah-masalah karir. Jadi, bimbingan karier adalah bimbingan yang diberikan kepada peserta didik guna mengenalkan mereka pada dunia kerja yang akan mereka alami suatu saat nanti.

Penelitian ini hanya akan berfokus pada ragam bimbingan pribadi dan belajar karena hasil dari wawancara, observasi dan penyebaran AUK menunjukkan bahwa peserta didik mengalami masalah pribadi dalam hal tidak teliti dan masalah belajar dalam hal tidak tekun. Kedua bimbingan tersebut akan diberikan secara klasikal atau kelompok, seperti yang akan dijabarkan pada bagian berikut.

2. Layanan Bimbingan Klasikal

Bimbingan klasikal menurut Barus (2011) disebut juga bimbingan kelompok. Bimbingan klasikal menurut Nurihsan (2009) adalah “bantuan terhadap individu yang dilaksanakan dalam situasi kelompok. Winkel (2004) mengungkapkan bahwa bimbingan klasikal adalah layanan bimbingan yang diberikan pada 3-15 orang atau lebih. Jadi, dapat disimpulkan bahwa bimbingan klasikal adalah bantuan yang diberikan kepada 3-15 peserta didik atau lebih yang dilaksanakan dalam situasi kelompok.

Tujuan bimbingan ini adalah untuk membantu peserta didik mengatur kehidupan sendiri, memiliki pandangan sendiri dan tidak sekadar mengikuti pendapat orang lain, mengambil sikap sendiri, dan berani menanggung sendiri dampak serta konsekuensi dari tindakan-tindakan yang diambilnya. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui pelayanan kelompok kecil (2-6 peserta didik), setengah besar (7-12 orang), dan besar (13-20 orang) atau satu kelas (20-40 orang). Tujuan ini tidak hanya mengarah pada perkembangan kelompok/sosial tetapi juga perkembangan pribadi, belajar, dan karir peserta didik (Winkel, 2004).

Bimbingan ini biasanya diberikan untuk membahas masalah-masalah yang di alami peserta didik baik masalah pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Bimbingan klasikal biasanya bersifat preventif dan kuratif. Aktifitas bimbingan klasikal berupa dinamika kelompok seperti: diskusi kelompok; bermain peran; simulasi; dan lain-lain. Aktifitas tersebut dapat mengaktifkan individu dan memungkinkan terjadinya tukar pendapat, pengalaman, rencana, dan penyelesaian masalah (Nurihsan, 2009).

Aktifitas yang dirancang pada bimbingan klasikal harus disesuaikan dengan tugas perkembangan, ciri khas, dan permasalahan yang di alami oleh peserta didik. Hal ini dilakukan agar bimbingan ini dapat membantu peserta didik secara optimal. Berikut penjabaran tugas perkembangan, ciri khas, dan permasalahan yang dialami peserta didik usia 9-12 tahun.

3. Tugas Perkembangan, Ciri Khas, dan Permasalahan yang Dialami Peserta

Didik Usia 9-12 Tahun.

a. Tugas Perkembangan

Tugas-tugas perkembangan menurut Havighurst adalah “tugas-tugas yang muncul pada suatu periode dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan membawa kearah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya, sementara kegagalan dalam melaksanakan tugas tersebut menimbulkan rasa tidak bahagia, ditolak oleh masyarakat dan kesulitan menghadapi tugas-tugas berikutnya” (dalam Furqon, 2005, hlm. 18).

Havighurst menerangkan beberapa tugas perkembangan peserta didik usia 9/10-12/13 tahun antara lain:

(1) mempelajari keterampilan fisik; (2) membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh; (3) belajar menyesuaikan diri dengan teman sebaya; (4) mulai mengembangkan peran sosial sebagai wanita atau pria; (5) mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari; (6) mengembangkan kata hati, moral, dan nilai-nilai; (7) mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok dan lembaga-lembaga sosial; (8) mencapai kebebasan pribadi (dalam Furqon, 2005, hlm. 36).

b. Ciri-ciri Peserta Didik Usia 9-12 Tahun

Masa kanak-kanak akhir dibagi menjadi dua, yaitu: (1) Masa kelas rendah, antara usia 6/7 tahun- 9 tahun, biasanya mereka duduk di kelas I, II, dan III SD. (2) Masa kelas tinggi, antara usia 10 tahun- 12/13 tahun, biasanya mereka duduk di kelas IV, V, dan VI SD.

Peserta didik kelas IV SD termasuk pada masa kelas tinggi dan memiliki ciri khas sebagai berikut: (1) perhatiannya tertuju kepada kehidupan sehari-hari yang menyenangkan; (2) ingin tahu, ingin belajar dan realistis; (3) timbul minat kepada pelajaran-pelajaran tertentu; (4) peserta didik memandang nilai sebagai sesuatu yang dapat mengukur prestasi belajarnya di sekolah; serta (5) peserta didik senang membentuk kelompok bermain atau peergroup untuk bermain bersama, mereka membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya (Izzaty dkk, 2008).

c. Permasalahan yang dialami Peserta Didik Usia 9-12 Tahun

Kowitz memerinci permasalahan yang dihadapi anak-anak SD sebagai berikut:

1) Masalah Pribadi

Permasalahan pribadi peserta didik usia SD meliputi: kemampuan intelektual, kondisi fisik, kesehatan dan kebiasaan-kebiasaannya. Kebiasaan-kebiasaan yang muncul biasanya seperti gejala perilaku malas untuk belajar, malas datang ke sekolah, kurang percaya diri, kurang memiliki inisiatif, kurang bertanggung jawab, tidak teliti, tidak bersemangat, mudah putus asa, perilaku yang tidak sesuai norma dan menunjukkan perilaku agresif.

2) Masalah Penyesuaian Sosial

Peserta didik belajar segala sesuatu dari guru dan dari teman-temannya. Peserta didik tidak hanya belajar kemampuan kognitif tetapi juga mempelajari kemampuan sosial. Permasalahan sosial yang biasa dialami peserta didik adalah: perasaan rendah diri, ketergantungan pada kawan, iri hati, cemburu, curiga, persaingan, perkelahian, permusuhan, terbentuknya klik, dan lain-lain.

3) Masalah Belajar

Masalah belajar biasa dialami peserta didik di setiap kelas dan setiap mata pelajaran atau bidang studi. Permasalahannya seperti: tidak menguasai materi yang ditargetkan sebagai tujuan pengajaran hal ini dapat disebabkan kesalahan dalam cara belajar, kurang motivasi belajar, tidak mengerjakan tugas, tidak mengulang pelajaran, tidak tepat waktu, tidak tekun, kurangnya fasilitas dan dukungan orang tua, atau karena kesalahan-kesalahan cara mengajar guru (dalam Furqon, 2005).

Dokumen terkait