• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

E. Bimbingan Pribadi Sosial

1. Definisi Bimbingan Pribadi-Sosial

Bimbingan pribadi sosial merupakan proses untuk membantu seseorang dalam mengembangkan potensinya, mengenal dirinya sendiri serta mengenal lingkungan sekitarnya dan membantu mengatasi masalah yang dihadapi sehingga menjadi manusia yang seimbang antara kehidupan individu dan kehidupan sosial. Kegiatan bimbingan di sekolah memusatkan pelayanan pada peserta didik sebagai individu yang harus mengembangkan kepribadianya. Siswa SMP sebagai remaja awal memang sangat memerlukan bimbingan, terutama dalam relasi sosialnya.

Siswa SMP merupakan individu yang sedang tumbuh dan berkembang menjadi semakin dewasa. Sekolah sebagai institusi pendidikan perlu membantu siswa dalam mengembangkan diri.

Menurut Winkel (2006) bimbingan pribadi sosial merupakan bimbingan dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri dan mengatasi pergumulan batinnya sendiri, dalam mengatur dirinya sendiri dibidang kerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu luang, penyaluran

nafsu seksual serta bimbingan dalam membina hubungan kemanusiaan dengan sesama dan berbagai lingkungan.

2. Tujuan Bimbingan Pribadi- Sosial

Yusuf (2006: 14), mengatakan secara rinci menyebutkan tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan pribadi sosial antara lain:

a. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, sekolah, tempat kerja maupun masyarakat pada umumnya.

b. Memiliki sikap toleran terhadap umat beragama lain dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.

c. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), serta mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut.

d. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang berkaitan dengan keunggulan maupun kelemahan, baik fisik maupun psikis.

e. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.

g. Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya.

h. Memiliki rasa tanggun jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.

i. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahmi dengan sesame manusia.

j. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain.

k. Memiliki kemampuan dalam mengambil keputusan secara efektif.

3. Bentuk-Bentuk Bimbingan Pribadi Sosial

Bentuk-bentuk bimbingan yang utama digunakan ialah bimbingan kelompok, baik kelompok kecil maupun kelompok besar. Bimbingan kelompok dapat dilaksanakan dengan berbagai cara misalnya dibentuk kelompok kecil dalam rangka lanyanan konseling ( konseling kelompok). Sifat bimbingan yang cocok ialah sifat perseverative dan preventif, sehingga dapat menyesuaian diri dengan perubahan-peribahan dalam dirinya dan meletakkan dasar bagi perkembangannya (Winkel, 2006: 144).

4. Strategi-strategi Bimbingan Pribadi Sosial

Winkel (2006: 128) mnjelaskan tentas strategi/ perencanaan dalam bimbingan pribadi sosial sebagai berikut:

a. Identifikasi Masalah

Pada langkah ini yang harus diperhatikan guru adalah mengenali gejala-gejala awal dari suatu masalah yang dihadapi siswa. Maksud dari gejala awal disini adalah apabila siswa menunjukkan tingkah laku berbeda atau menyimpang dari biasanya. Untuk mengetahui gejala awal tidaklah mudah, karena harus dilakukan secara teliti dan hati-hati dengan memperhatikan gejala-gejala yang nampak, kemudian dianalisis dan selanjutnya dievaluasi. b. Diagnosis

Pada langkah diagnosis yang dilakukan adalah menetapkan ”masalah” berdasarkan analisis latar belakang yang menjadi penyebab timbulnya masalah. Dalam langkah ini dilakukan kegiatan pengumpulan data mengenai berbagai hal yang menjadi latar belakang atau yang melatar belakangi gejala yang muncul. c. Prognosis

Langkah prognosis ini pembimbing menetapkan alternatif tindakan bantuan yang akan diberikan. Selanjutanya melakukan perencanaan mengenai jenis dan bentuk masalah apa yang sedang dihadapi individu.

d. Pemberian Bantuan

Setelah guru merencanakan pemberian bantuan, maka dilanjutkan dengan merealisasikan langkah-langkah alternatif bentuk bantuan berdasarakan masalah dan latar belakang yang menjadi penyebabnya. Langkah pemberian bantuan ini dilaksanakan dengan berbagai pendekatan dan teknik pemberian bantuan. e. Evaluasi dan Tindak Lanjut

Setelah pembimbing dan klien melakukan beberapa kali pertemuan, dan mengumpulkan data dari beberapa individu, maka langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi dan tindak lanjut. Evaluasi dapat dilakukan selama proses pemberian bantuan berlangsung sampai pada akhir pemberian bantuan. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik, seperti melalui wawancara, angket, observasi diskusi, dokumentasi dan sebagainya.

5. Langkah-Langkah Penyusunan Topik Bimbingan Pribadi Sosial Penyusunan program bimbingan dan konseling umumnya mengikuti empat langkah pokok, yaitu identifikasi kebutuhan, penyusunan rencana kerja, pelaksanaan kegiatan dan penilaian kegiatan. Keempat langkah di atas merupakan suatu rangkaian kegiatan yang sebaiknya dilakukan secara berkesinambung (Winkel, 2006)

a. Identinfikasi kebutuhan. Program yang baik adalah program yang sesuai (match) kebutuhan konseli seperti: Kebutuhan aktualisasi diri dan pemenuhan diri (self actualization needs) seperti pengembangan potensi diri. Kebutuhan harga diri

(esteem needs) seperti status atau kedudukan, kepercayaan diri, pengakuan, reputasi, kehormatan diri dan penghargaan. Kebutuhan social (social needs) seperti cinta, persahabatan, perasaan memiliki, kekeluargaan dan asosiasi. Kebutuhan keamanan dan rasa aman (safety and security needs) seperti perlindungan dan stabilitas. Kebutuhan fisiolgis (physiological needs) seperti makan, minum, perumahan, seks dan istirahat, Semua kebutuhan di atas perlu di analisis untuk ditetapkan kebutuhan mana yang akan diprioritaskan untuk diberikan pelayanan bimbingan konseling.

b. Penyusunan rencana kegiatan. Rencana kegiatan bimbingan disusun atas dasar jenis-jenis dan prioritas kebutuhan konseli. Selain itu, rencana kegiatan bimbingan juga harus disesuaikan dan diintegrasikan antara satu kegiatan dengan kegiatan lainnya serta disusun secara spesifik dan realistis.

c. Pelaksanaan kegiatan. Pelaksanaan kegiatan merupakan realisasi rencana program bimbingan yang telah disusun. Dalam kaitannya, buat format monitoring dan kembangkan dalam rangka pencatatan proses kegiatan (proses bimbingan). d. Penilaian kegiatan. Penilaian dilakukan mencakup semua

kegiatan bimbingan dan konseling yang telah dilaksanakan. Penilaian dilakukan pada setiap tahap kegiatan dalam keseluruhan program. Hasil penilaian merupakan gambaran tentang proses seluruh hsil yang dicapai disertai dengan rekomendasi tentang kegiatan berikutnya (follow up).

Dokumen terkait