4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Parameter Kimia Perairan 1 Salinitas
4.2.4. Biocemical Oxygen Demand (BOD)
Sebaran melintang nilai BOD di perairan bagian selatan Selat Bali pada tiap stasiun di lapisan permukaan, termoklin, dan dekat dasar perairan disajikan pada Gambar 26, 27 dan 28. Secara keseluruhan nilai rata-rata dari nilai BOD baik pada lapisan permukaan, termoklin maupun lapisan dekat dasar perairan adalah sebesar 2,02 mg/L. Secara umum penentuan nilai BOD banyak digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran pada suatu badan perairan. Menurut Salmin (2005) suatu perairan yang tingkat pencemarannya rendah dan bisa dikategorikan sebagai perairan yang baik kadar BOD berada pada kisaran 0-10 ppm.
Gambar 26. Sebaran melintang BOD lapisan permukaan di bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011
Dari Gambar 26 terlihat bahwa nilai BOD pada lapisan permukaan berkisar antara 1-2 mg/L. Nilai rata-rata BOD pada stasiun 1-5 yang berada pada wilayah
114-114,5 °BT adalah sebesar 1 mg/L, stasiun 6-8 yang terletak pada 114,5-115 °BT adalah sebesar 1,3 mg/L dan pada stasiun 9 yang terletak antara 115-115,5 °BT nilainya sebesar 1,32 mg/L. Nilai BOD tertinggi teramati pada stasiun 6 dengan nilai sebesar 2,75 mg/L.
Gambar 27. Sebaran melintang BOD lapisan termoklin di bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011
Pada lapisan termoklin, warna hijau pada Gambar 27 menunjukkan kisaran nilai BOD lebih rendah pada stasiun 1-5 yang berada pada wilayah 114-114,5 °BT sedangkan semakin ke arah timur, nilai BOD relatif rebih besar yang ditunjukkan dengan gradasi warna hijau ke merah. Menurut Polii (1994), Perbedaan nilai BOD disebabkan adanya pengaruh suhu terhadap laju reaksi penguraian bahan organik. Suhu perairan akan mempengaruhi kecepatan benturan antar molekul serta keaktifan enzim. Jika dilihat sebaran suhu pada lapisan termoklin, mengindikasikan bahwa pada lapisan perairan yang memiliki kisaran suhu lebih rendah, nilai BOD nya akan semakin tinggi. Tetapi suhu tidaklah satu-satunya faktor yang mempengaruhi nilai BOD.
Gambar 28. Sebaran melintang BOD lapisan dekat dasar di bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011
Pada lapisan dekat dasar perairan, perbedaan warna pada gambar 28 menunjukkan bahwa nilai BOD semakin tinggi ke arah timur dan stasiun 6,7, dan 8 yang berbatasan dengan Samudera Hindia di sebelah selatan. Secara umum parameter BOD banyak digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran air buangan. Rendahnya nilai BOD yang diamati pada semua stasiun, mengindikasikan bahwa tingkat pencemaran di wilayah selatan Selat Bali masih rendah. Salmin (2005) menyatakan bahwa suatu perairan yang tingkat pencemarannya rendah dan dapat dikategorikan sebagai perairan yang baik, kadar BOD berada pada kisaran 0- 10 mg/L. Jika dibandingkan dengan baku mutu peruntukan biota air laut, nilai BOD dari seluruh stasiun pada lapisan permukaan, termoklin, maupun dekat dasar perairan di bagian selatan Selat Bali masih berada pada batas toleransi yang diperbolehkan (< 20 mg/L).
4.2.5. Amonia
Sebaran melintang amonia pada seluruh stasiun pada lapisan permukaan, lapisan termoklin, dan lapisan dekat dasar perairan disajikan pada Gambar 29, 30 dan 31. Secara keseluruhan nilai konsentrasi amonia di perairan bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011 baik pada lapisan permukaan, termoklin, maupun lapisan dekat dasar perairan berkisar antara 0,05-0,23 mg/L. Nilai ini terlihat sangat kecil jika dibandingkan dengan baku mutu menurut Kepmen-LH No. 51 tahun 2004 untuk peruntukan biota laut yaitu sebesar 3 mg/L.
Gambar 29. Sebaran melintang amonia lapisan permukaan di bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011
Pada lapisan permukaan terlihat bahwa sebaran kandungan amonia pada permukaan air laut dengan kedalaman maksimal 10 meter cenderung lebih tinggi nilainya semakin ke arah timur walaupun perbedaannya tidak signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan gradasi warna hijau yang semakin pekat pada stasiun 6,7,8 dan 9 pada Gambar 29, akan tetapi perbedaannya tidak lebih dari 0,05 mg/L. Toksisitas amonia meningkat pada saat kelarutan oksigen rendah dan pengaruh racunnya
menurun ketika terjadi peningkatan konsentrasi CO2 sehingga amonia jarang
dijumpai pada perairan dengan kelarutan oksigen yang cukup. Pada pengukuran konsentrasi oksigen terlarut yang sudah dibahas sebelumnya terlihat bahwa konsentrasi oksigen terlarut pada lapisan permukaan cenderung tinggi. Hal ini yang mengindikasikan konsentrasi amonia yang teramati pada perairan selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011 relatif kecil.
Gambar 30. Sebaran melintang amonia lapisan termoklin di bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011
Pada lapisan termoklin, secara keseluruhan konsentrasi amonia berkisar antara 0,05 mg/L sampai 0,1 mg/L. Pada stasiun 1-5 yang terletak antara 114-114,5 °BT konsentrasi amonia rata-rata dari kelima stasiun tersebut adalah sebesar 0,07 mg/L, sedangkan pada stasiun 6 sampai 8 yang berada pada wilayah 114,5-115 °BT dan berbatasan dengan Samudera Hindia di bagian selatan, konsentrasi amonia cenderung lebih tinggi yaitu berkisar antara 0,01 mg/L sampai 0,13 mg/L, sedangkan pada stasiun 9, konsentrasi amonia sebesar 0,06 mg/L.
Menurut Effendi (2003), kadar amonia bebas yang melebihi 0,2 mg/L dapat bersifat toksik bagi beberapa jenis ikan, selain itu kadar amonia yang tinggi dapat
dijadikan sebagai adanya indikasi adanya pencemaran bahan organik yang berasal dari limbah domestki, industri dan limpasan. Adapun sumber amonia di perairan adalah dari hasil pemecahan nitrogen organik (protein dan urea), serta nitrogen anorganik yang terdapat di dalam tanah dan air yang berasal dari dekomposisi bahan organik oleh mikroba.
Gambar 31. Sebaran melintang amonia lapisan dekat dasar di bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011
Seperti halnya pada lapisan permukaan dan termoklin, pada lapisan dekat dasar perairan selatan Selat Bali pun terlihat konsentrasi amonia pada bulan Maret 2011 relatif kecil. Dari keseluruhan stasiun rata-rata konsentrasi amonia pada lapisan dekat dasar perairan adalah sebesar 0,1 mg/L. Pada stasiun 1-5 yang berada pada 114-114,5 °BT konsentrasi amonia rata-rata sebesar 0,13 mg/L sedangkan pada stasiun 6 sampai 8 konsentrasi amonia pada lapisan dekat dngan dasar perairan teramati sebesar 0,11 mg/L. Nilai konsentrasi terendah teramati pada stasiun 9 yaitu dengan konsentrasi amonia sebesar 0,08 mg/L. Menurut Sanusi (2006), peningkatan temperatur dan pH air akan meningkatkan persentase amonia yang tidak mengalami ionisasi. Pada temperatur dan pH yang sama, persentase amonia yang tidak
mengalami ionisasi dalam air tawar akan lebih besar jika dibandingkan dengan air laut.
Secara keseluruhan, amonia hasil pengukuran yang dilakukan pada seluruh titik sampling di perairan selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011 berkisar antara 0,05 sampai 0,2 mg/L. Konsentrasi amonia yang bersifat toksik bagi sebagian besar biota perairan berkisar antara 0,60 mg/L sampai 2,00 mg/L. Handy & poxton (1993) menyatakan bahwa amonia yang tidak terionisasi bersifat akut pada organisme perairan dan tingkat keracunannya sangat tergantung pada salinitas, suhu dan pH sementara nitrat dan nitrit secara signifikan tidak bersifat toksik bagi ikan. Berdasarkan literatur sebelumnya, maka dapat dikatakan bahwa kandungan amonia pada perairan Selat Bali tidak bersifat toksik bagi organisme.
4.2.6. Nitrat
Grafik konsentrasi nitrat pada tiap stasiun di lapisan permukaan, termoklin, dan dekat dasar perairan dapat dilihat pada Gambar 32. Sebaran nitrat yang teramati pada tiap stasiun relatif sangat kecil, bahkan pada lapisan permukaan nilai nitrat hanya terdeteksi pada stasiun 9 dengan nilai sebesar 0,024 mg/L sedangkan sisanya nilai konsentrasi nitrat berada di bawah batas deteksi alat/metode yang digunakan untuk melakukan analisis kandungan nitrat yaitu sebesar 0,001 mg/L.
Pada lapisan permukaan (Gambar 32 a), relatif tingginya konsentrasi nitrat yang teramati pada stasiun 9 diakibatkan letak stasiun 9 yang relatif lebih dekat dengan daratan dibanding dengan stasiun lainnya. Anwar (2008) menjelaskan bahwa secara teoritis kisaran nitrat pada umumnya akan semakin bertambah tinggi dekat dengan wilayah pantai terutama wilayah yang memiliki kedalaman perairan yang relatif rendah karena sifat dari nitrat yang dapat terakumulasi dan mengendap pada dasar perairan. Hal ini sesuai dengan data pengamatan yang menunjukkan bahwa pada stasiun 9 yang memiliki kedalaman paling rendah dan jaraknya yang relatif dekat dengan daratan nilai dari nitrat cenderung lebih tinggi dibanding stasiun yang lainnya. Saragih (2002) menyatakan bahwa secara umum konsentrasinitrat di perairan Selat Bali yang tinggi ditemukan di bagian timur Selat Bali kemudian perlahan menurun ke arah tengah selat.
(a) (b)
(c)
Gambar 32. Grafik konsentrasi nitrat pada lapisan permukaan (a); termoklin (b); dekat dasar perairan (c) di bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011
Seperti halnya hasil yang di dapat pada lapisan permukaan, pada lapisan termoklin pun terlihat bahwa rata-rata hasil pengukuran berada dibawah batas deteksi alat/metode yang digunakan. Pada lapisan termoklin nilai konsentrasi nitrat hanya terdeteksi pada stasiun 8 yang memiliki kedalaman termoklin 120 meter. Kedalaman lapisan termoklin pada staiun 8 ini adalah kedalaman termoklin yang paling tinggi jika dibandingkan dengan stasiun lainnya. Menurut Saragih (2002) secara umum konsentrasi nitrat akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman.
Pada lapisan dekat dasar perairan, konsentrasi dari nilai nitrat tidak terdeteksi hanya pada stasiun 1 dan 3. Stasiun 1 dan 3 memliki kedalaman paling rendah dibanding stasiun lainnya. Nilai rata-rata yang teramati pada stasiun 2, 4-9 adalah sebesar 0,11 mg/L dengan kisaran 0,003-0,19 mg/L.
0,00 0,04 0,08 0,12 0,16 0,20 St 1 St 2 St 3 St 4 St 5 St 6 St 7 St 8 St 9 (m g /L ) Stasiun nilai analisa < 0,001 0,00 0,04 0,08 0,12 0,16 0,20 St 1 St 2 St 3 St 4 St 5 St 6 St 7 St 8 St 9 (m g /L ) Stasiun nilai analisa < 0,001 nil a i a n a li s a < 0 ,0 0 1 0,00 0,04 0,08 0,12 0,16 0,20 St 1 St 2 St 3 St 4 St 5 St 6 St 7 St 8 St 9 (m g /L ) Stasiun n il a i a n a li s a < 0 ,0 0 1 n il a i a n a li s a < 0 ,0 0 1
Menurut Saragih (2002) konsentrasi nitrat di perairan Selat Bali pada bulan Agustus 2000 pada lapisan permukaan berkisar antara tidak terdeteksi hingga 4,32 mg/L dan pada kedalaman 150 m konsentrasi meningkat menjadi berkisar antara 3,98-8,11 mg/L. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan kandungan nitrat di perairan Selat Bali pada bulan Agustus yang merupakan musim timur dibanding dengan hasil pengamatan yang dilakukan pada bilan Maret yang merupakan musim peralihan. Terlihat bahwa kandungan nitrat pada bulan Agustus lebih tinggi dibanding dengan bulan Maret.
Nitrat merupakan salah satu faktor pembatas bagi produktivitas di laut. Menurut Mackenthum (1969) in Anwar (2008) kandungan nitrat lebih dari 0,1 mg/L masih dapat digunakan untuk pertumbuhan fitoplankton sedangkan kurang dari 0,1 mg/L merupakan faktor pembatas bagi perairan tersebut.
4.2.7. Fosfat
Hasil pengamatan terhadap kandungan fosfat menunjukkan bahwa secara umum kandungan fosfat di perairan Selat Bali berada pada konsentrasi yang relatif kecil. Grafik konsentrasi fosfat pada tiap stasiun di lapisan permukaan, termoklin, dan dekat dasar perairan dapat dilihat pada Gambar 33.
Pada lapisan permukaan, nilai fosfat hanya terdeteksi di stasiun 5 sedangkan sisanya konsentrasi fosfat berada di bawah batas deteksi alat/metode yang digunakan untuk melakukan analisis kandungan fosfat yaitu sebesar 0,005 mg/L. Nilai konsentrasi fosfat yang teramati di stasiun 5 nilainya sebesar 0,01. Nilai ini masih berada di bawah ambang batas maksimum kandungan fosfat sesuai baku mutu menurut Kepmen-LH No. 51 tahun 2004 untuk peruntukan biota laut yaitu sebesar 0,015 mg/L.
(a) (b)
(c)
Gambar 33. Grafik konsentrasi fosfat pada lapisan permukaan (a); termoklin (b); dekat dasar perairan (c) di bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011
Kondisi yang sama ditunjukkan pada lapisan termoklin perairan. Konsentrasi nilai fosfat pada lapisan ini hanya terdeteksi pada stasiun 8 yang memiliki kedalaman paling tinggi yaitu 120 m sedangkan sisanya konsentrasi fosfat berada di bawah batas deteksi alat/metode yang digunakan. Nilai konsentrasi fosfat pada stasiun 8 adalah sebesar 0,021 mg/L. Secara umum kadar fosfat akan semakin tinggi seiring dengan bertambahnya kedalaman suatu perairan.
Pada lapisan dekat dasar perairan terlihat bahwa nilai fosfat hanya tidak terdeteksi pada stasiun 1 yang memiliki kedalaman perairan paling rendah yaitu sebesar 26 meter. Hal ini menunjukkan bahwa seiring bertambahnya kedalaman kandungan fosfat di perairan Selat Bali akan semakin tinggi. Nilai rata-rata kandungan fosfat yang teramati pada stasiun 2-9 adalah sebesar 0,06 mg/L.
0,00 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06 0,07 0,08 St 1 St 2 St 3 St 4 St 5 St 6 St 7 St 8 St 9 (m g /L ) Stasiun
nilai analisa < 0,005 nilai analisa < 0,005
0,00 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06 0,07 0,08 St 1 St 2 St 3 St 4 St 5 St 6 St 7 St 8 St 9 (m g /L ) Stasiun nilai analisa < 0,005 n il a i a n a li s a < 0 ,0 0 5 0,00 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06 0,07 0,08 St 1 St 2 St 3 St 4 St 5 St 6 St 7 St 8 St 9 (m g /L ) Stasiun n il a i a n a li s a < 0 ,0 0 5
Kandungan fosfat tertinggi terlihat pada stasiun 7 yang memiliki kedalaman 1500 meter.
Menurut Wardoyo (1987) in Anwar (2008) konsentrasi fosfat dalam perairan alami pada umumnya tidak melebihi 0,1 ppm. Kandungan fosfat yang melebihi kebutuhan normal akan meningkatkan kesuburan perairan dan merangsang pertumbuhan fitoplankton. Kadar fosfat yang baik di perairan akan meningkatkan produktivitas perairan. Sebagai indikator produktivitas perairan, keberadaan fitoplankton atau zooplankton dapat diketahui melalui kandungan fosfat ideal yang terkandung di perairan.
4.2.8. Raksa (Hg)
Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap kandungan Hg yang terlarut di perairan Selat Bali pada bulan Maret 2011 baik pada lapisan permukaan, termoklin, maupun dekat dasar perairan nilainya sangat kecil. Dari ketiga lapisan kolom perairan yang diamati, yaitu lapisan permukaan, termoklin, dan lapisan dekat dasar perairan kandungan konsentrasi dari Hg berada di bawah batas deteksi alat/metode yang digunakan untuk melakukan analisis kandungan Hg yaitu sebesar 0,0002 mg/L. Jika dibandingkan dengan baku mutu menurut Kepmen-LH No. 51 tahun 2004 untuk peruntukan biota laut nilai kandungan Hg maksimum yang diperbolehkan ada dalam perairan adalah sebesar 0,001 mg/L.
Pengukuran logam berat seperti Hg, Pb, dan Cu biasanya digunakan untuk mengetahui tingkat pencemaran suatu perairan. Dalam lingkungan perairan, media yang dipakai sebagai indikator pencemaran logam berat adalah air, sedimen, dan organisme. Menurut Bryan (1976) logam berat yang masuk ke perairan akan mengalami tiga proses akumulasi yaitu proses fisik, kimia, dan biologi. Hg merupakam unsur logam yang paling beracun terhadap organisme. Menurut Waldichuk (1974) in Bahri (2003) kandungan Hg yang membahayakan di dalam air laut adalah 0,00015 ppm. Sumber utama Hg di perairan ada dua jenis yaitu yang berasal dari alam dan dari kegiatan manusia seperti perindustrian dan farmasi. Nilai kandungan Hg yang teramat dari semua titik pengamatan menunjukkan nilai yang sangat kecil, hal ini disebabkan karena letak stasiun pengamatan yang jauh dari
daratan dan aktivitas manusia sehingga pengaruh akibat buangan limbah dan lainnya tidak ada. Nilai kandungan Hg yang sangat kecil ini menunjukkan bahwa pada stasiun pengamatan belum tercemar dan tidak membahayakan bagi organisme akuatik di dalamnya.
4.2.9. Kadmium (Cd)
Sama seperti halnya Hg, hasil pengamatan yang dilakukan terhadap kandungan Cd yang terlarut di perairan Selat Bali pada bulan Maret 2011 baik pada lapisan permukaan, termoklin, maupun dekat dasar perairan nilainya sangat kecil. Dari ketiga lapisan kolom perairan yang diamati, kandungan konsentrasi dari Cd berada di bawah batas deteksi alat/metode yang digunakan untuk analisis yaitu sebesar 0,001 mg/L. Jika dibandingkan dengan baku mutu menurut Kepmen-LH No. 51 tahun 2004 untuk peruntukan biota laut nilai kandungan Cd maksimum yang diperbolehkan ada dalam perairan adalah sebesar 0,001 mg/L. Kandungan kadmium (Cd) dalam perairan laut pada umumnya relatif kecil (0,0001 mg/L) sementara pada perairan yang tercemar nilainya mencapai 10 mg/L (Bishop 1983 in Mukhtasor 2006).
4.2.10. Tembaga (Cu)
Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap kandungan Cu di perairan Selat Bali pada bulan Maret 2011 menunjukkan nilai yang berbeda tiap lapisan perairan. Pada lapisan permukaan, konsentrasi nilai Cu berkisar antara tak terdeteksi sampai 0,049 mg/L. Pada lapisan termoklin semua stasiun konsentrasi kandungan Cu berada di bawah batas deteksi alat/metode yang digunakan untuk analisis yaitu sebesar 0,005 mg/L, sedangkan pada lapisan dekat dasar perairan nilai dari konsentrasi Cu berkisar antara tak terdeteksi sampai 0,009 mg/L. Grafik konsentrasi tembaga (Cu) pada tiap stasiun di lapisan permukaan, termoklin, dan dekat dasar perairan dapat dilihat pada Gambar 34.
(a) (b)
(c)
Gambar 34. Grafik konsentrasi tembaga (Cu) pada lapisan permukaan (a);
termoklin(b); dekat dasar perairan (c) di bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011
Dari Gambar 34 terlihat bahwa pada lapisan permukaan,kandungan Cu tertinggi pada stasiun 2 yaitu sebesar 0,049 mg/L. Pada lapisan termoklin dari semua stasiun pengamatan nilainya <0,005 mg/L, sedangkan pada lapisan dekat dasar perairan kandungan Cu tertinggi pada stasiun 5 yaitu sebesar 0,008 mg/L. Jika dibandingkan dengan baku mutu menurut Kepmen-LH No. 51 tahun 2004 untuk peruntukan biota laut nilai kandungan Cu maksimum yang diperbolehkan ada dalam perairan adalah sebesar 0,008 mg/L maka secara umum kandungan Cu di perairan Selat Bali pada semua titik pengamatan relati kecil. Sedangkan menurut Mukhtasor (2007) kandungan Cu di wilayah samudera sekitar 1 mg/L, akan tetapi di perairan yang tercemar dapat mencapai 11 mg/L. Kandungan tembaga di perairan dapat berasal dari buangan limbah industri dan dari atmosfer yang tercemar oleh asap
0,00 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 St 1 St 2 St 3 St 4 St 5 St 6 St 7 St 8 St 9 (m g /L ) Stasiun nilai analisa < 0,001 n il a i a n a li s a < 0 ,0 0 1 0,00 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 St 1 St 2 St 3 St 4 St 5 St 6 St 7 St 8 St 9 (m g /L ) Stasiun nilai analisa < 0,001 0,00 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 St 1 St 2 St 3 St 4 St 5 St 6 St 7 St 8 St 9 (m g /L ) Stasiun nilai analisa < 0,001 n il a i a n a li s a < 0 ,0 0 1
pabrik tembaga, pelapisan logam, tekstil, serta dari pengecatan anti foulling pada kapal.
4.2.11. Timbal (Pb)
Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap kandungan timbal (Pb) di perairan Selat Bali pada bulan Maret 2011 menunjukkan nilai yang berbeda tiap stasiun baik pada lapisan permukaan, lapisan termoklin, maupun dekat dasar perairan. Grafik konsentrasi timbal (Pb) pada tiap stasiun di lapisan permukaan, termoklin, dan dekat dasar perairan dapat dilihat pada Gambar 35.
(a) (b)
(c)
Gambar 35. Grafik konsentrasi timbal (Pb) pada lapisan permukaan (a); termoklin (b); dekat dasar perairan (c) di bagian selatan Selat Bali pada bulan Maret 2011
Pada dasarnya daya larut logam berat dapat menjadi tinggi atau lebih rendah tergantung pada kondisi lingkungan perairan, pada daerah yang kekurangan oksigen
0,000 0,002 0,004 0,006 0,008 0,010 0,012 0,014 0,016 0,018 St 1 St 2 St 3 St 4 St 5 St 6 St 7 St 8 St 9 (m g /L ) Stasiun nilai analisa < 0,001 n il a i a n a li s a < 0 ,0 0 1 0,000 0,002 0,004 0,006 0,008 0,010 0,012 0,014 0,016 0,018 St 1 St 2 St 3 St 4 St 5 St 6 St 7 St 8 St 9 (m g /L ) Stasiun nilai analisa < 0,001 0,000 0,002 0,004 0,006 0,008 0,010 0,012 0,014 0,016 0,018 St 1 St 2 St 3 St 4 St 5 St 6 St 7 St 8 St 9 (m g /L ) Stasiun nilai analisa < 0,001 n il a i a n a li s a < 0 ,0 0 1
misalnya akibat kontaminasi bahan-bahan organik menyebabkan daya larut logam berat akan menjadi lebih rendah dan mudah mengendap. Pada lapisan permukaan, konsentrasi Pb berkisar antara tak terdeteksi sampai 0,015 mg/L. Pada lapisan termoklin berkisar antara tak terdeteksi sampai 0,014 mg/L, sedangkan pada lapisan dekat dasar perairan nilai dari konsentrasi Pb berkisar antara tak terdeteksi sampai 0,017 mg/L.
Dari Gambar 35 terlihat bahwa pada lapisan permukaan, kandungan Pb tertinggi pada stasiun 9 yaitu sebesar 0,015 mg/L. Pada lapisan termoklin Stasiun 9 pun memiliki nilai konsentrasi Pb paling tinggi yaitu sebesar 0,014 mg/L, sedangkan pada lapisan dekat dasar perairan kandungan Pb tertinggi pada stasiun 3 yaitu sebesar 0,017 mg/L. Menurut Fardiaz (1992) in Bahri (2003) sumber timbal dapat berasal dari industri seperti baterai, kabel cat, keramik, dan pestisida. Waldichuk (1974) in Bahri (2003) menyatakan bahwa kandungan normal Pb di laut adalah sebesar 0,00003 ppm, sedangkan pengamatan terhadap organisme laut konsentrasi Pb pada air laut tidak melebihi dari 0,01 ppm. Pada lapisan dekat dasar perairan pengamatan terhadap kandungan Pb secara umum nilainya lebih tinggi dibanding pada lapisan diatasnya. Hal ini dikarenakan karena sifat dari Pb yang terakumulasi dan mengendap pada dasar perairan (Bryan 1976).
4.3. Penentuan Status Mutu Air