• Tidak ada hasil yang ditemukan

Biografi-Biografi Kuno Versus Modern

Dalam dokumen publikasi e-reformed (Halaman 114-118)

Masih ada beberapa aspek yang mengganggu dari keempat Injil yang perlu saya jernihkan. Secara khusus, saya ingin lebih memahami jenis gaya sastra yang mereka wakili.

"Ketika saya pergi ke toko buku dan melihat pada bagian biografi, saya tidak melihat jenis tulisan yang sama dengan yang saya lihat dalam keempat Injil," kata saya. "Kalau seseorang menulis suatu biografi saat ini, mereka secara menyeluruh menyelidiki kehidupan orang tersebut. Namun coba lihat Markus, ia tidak berbicara tentang

115

kelahiran Yesus atau apa pun juga tentang tahun-tahun pertama kedewasaan Yesus. Sebaliknya, ia berfokus pada suatu periode tiga tahun dan mengisi separuh Injilnya dengan peristiwa-peristiwa yang menuju ke dan memuncak pada minggu terakhir Yesus. Bagaimana Anda dapat menjelaskan itu?"

Blomberg mengacungkan dua jari. "Ada dua alasan," jawabnya. "Yang satu berkaitan dengan kesusastraan dan yang lain bersifat teologis."

"Alasan kesusastraan adalah bahwa pada dasarnya, beginilah cara orang- orang menulis biografi pada zaman kuno. Mereka tidak memiliki pemahaman, seperti yang kita miliki sekarang, bahwa penting untuk memberikan proporsi yang seimbang kepada semua periode dalam kehidupan seseorang atau bahwa perlu untuk menceritakan kisah tersebut dalam urutan kronologis yang tepat atau bahkan untuk mengutip orang-orang secara kata demi kata, sejauh esensi dari apa yang mereka katakan dipertahankan. Orang-orang Yunani dan Yahudi kuno bahkan tidak memiliki simbol untuk tanda-tanda kutipan."

"Satu-satunya tujuan untuk apa sejarah perlu dicatat menurut mereka adalah karena terdapat beberapa hal yang harus dipelajari dari karakter-karakter yang dideskripsikan. Dengan demikian, para penulis biografi ingin berdiam sepanjang porsi bagian

kehidupan orang tersebut yang patut diteladani, yang membantu menjelaskan, yang dapat menolong orang lain, yang memberi makna pada suatu periode sejarah." "Dan apa alasan teologisnya?" tanya saya.

"Itu mengalir dari pokok yang baru saja saya jelaskan. Orang-orang Kristen percaya bahwa sebagaimana menakjubkannya kehidupan dan ajaran dan mujizat Yesus, kehidupan mereka tidak akan bermakna jika secara historis kematian Kristus dan kebangkitan-Nya dari kematian dan bahwa ini memberikan pendamaian, atau pengampunan, atas dosa kemanusiaan, tidak berdasar pada fakta-fakta yang sesungguhnya."

"Jadi, Markus pada khususnya, sebagai penulis dari Injil yang mungkin ditulis paling awal, mempersembahkan kira-kira separuh kisahnya bagi peristiwa-peristiwa yang menuju ke dan mencakup periode waktu satu minggu dan memuncak pada kematian dan kebangkitan Kristus."

"Dengan pentingnya penyaliban," ia menyimpulkan, "ini sangat masuk akal dalam literatur kuno."

Misteri Q

Sebagai tambahan kepada keempat Injil, para sarjana sering merujuk kepada apa yang mereka sebut Q, yang mewakili kata bahasa Jerman "Quelle", atau "sumber." Karena kemiripan bahasa dan isi, telah diasumsikan secara tradisional bahwa Matius dan Lukas menggunakan Injil Markus yang telah ditulis lebih dulu dalam menuliskan Injil

116

mereka sendiri. Sebagai tambahan, para sarjana berkata bahwa Matius dan Lukas juga memasukkan beberapa material dari Q misterius ini, material yang tidak ada dalam Markus.

"Sebenarnya apakah Q ini?" tanya saya pada Blomberg.

"Itu tidak lebih dari suatu hipotesis," jawabnya, sekali lagi menyandar dengan santai di kursinya. "Dengan sedikit perkecualian, itu hanyalah perkataan-perkataan atau ajaran-ajaran Yesus, yang mungkin sekali waktu dulu pernah menjadi sebuah dokumen yang berdiri sendiri dan terpisah."

"Anda lihat, dulu adalah suatu gaya sastra yang umum untuk mengumpulkan perkataan-perkataan dari guru-guru yang dihormati, seperti kalau kita memilih lagu-lagu terbaik dari seorang penyanyi dan mengumpulkannya dalam suatu album 'terbaik'. Q mungkin adalah sesuatu seperti itu. Setidaknya itulah teorinya."

Namun, jika Q ada sebelum Matius dan Lukas, itu akan merupakan material awal tentang Yesus. Barangkali, saya pikir, itu dapat memberi penjelasan baru pada seperti apakah Yesus sebenarnya.

"Izinkan saya menanyakan ini," kata saya. "Jika Anda memisahkan material dari Q saja, gambaran Yesus seperti apa yang Anda dapatkan?"

Blomberg mengusap janggutnya dan menatap langit-langit ruangan untuk sesaat seraya ia merenungkan pertanyaan itu. "Yah, Anda harus tetap mengingat bahwa Q adalah suatu kumpulan perkataan, dan dengan demikian itu tidak memiliki material kisah yang akan memberi kita suatu gambaran tentang Yesus yang lebih bulat sepenuhnya," jawabnya, berbicara dengan perlahan sementara ia memilih tiap kata yang ia ucapkan dengan hati-hati.

"Meskipun demikian, Anda mendapati bahwa Yesus membuat beberapa pernyataan yang kuat sebagai misal, bahwa Ia adalah Firman yang menjelma menjadi manusia dan bahwa Ia adalah Dia yang melalui-Nya Tuhan akan menghakimi semua manusia, entah mereka mengakui-Nya atau menyangkali-Nya. Sebuah buku kesarjanaan penting baru-baru ini telah mengajukan pendapat bahwa jika Anda memisahkan semua perkataan Q, seseorang sebenarnya memperoleh gambaran yang sama tentang Yesus -- seorang yang membuat pernyataan-pernyataan yang berani tentang diri- Nya sendiri --

sebagaimana yang Anda dapati dalam keempat Injil secara lebih umum."

Saya ingin menekannya lebih jauh pada titik ini. "Tidakkah Ia akan terlihat sebagai seorang pembuat mujizat?" selidik saya.

"Sekali lagi," jawabnya, "Anda harus mengingat bahwa Anda tidak akan mendapatkan banyak cerita mujizat sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, karena itu semua biasanya ditemukan di dalam kisah, dan Q terutama adalah suatu daftar perkataan."

117

Ia berhenti untuk menjangkau ke atas mejanya, mengambil sebuah Alkitab bersampul kulit, dan membalik halaman-halamannya yang usang.

"Namun, sebagai contoh, Lukas 7:18-23 dan Matius 11:2-6 berkata bahwa Yohanes Pembaptis mengirim utusan-utusannya untuk bertanya pada Yesus apakah Ia benar-benar Kristus, sang Mesias yang mereka nanti-nantikan. Yesus menjawab pada intinya, 'Katakan padanya untuk mempertimbangkan mujizat-mujizat-Ku. Katakan pada-Nya apa yang telah kamu lihat: yang buta melihat, yang tuli mendengar, yang timpang berjalan, yang miskin telah mendengar kabar baik yang diberitakan kepada mereka.'" "Jadi, bahkan dalam Q," ia menyimpulkan, "jelas terdapat suatu kesadaran akan pelayanan mujizat-mujizat Yesus."

Disebutkannya Matius oleh Blomberg memunculkan pertanyaan lain dalam pikiran saya tentang bagaimana keempat Injil dikumpulkan. "Mengapa," tanya saya, "Matius -- yang mengaku sebagai saksi mata Yesus -- memasukkan bagian dari suatu Injil yang ditulis oleh Markus, yang semua orang setuju bahwa ia bukanlah seorang saksi mata? Jika Injil Matius benar-benar ditulis oleh seorang saksi mata, Anda akan berpikir bahwa ia pasti mengandalkan pengamatannya sendiri.

Blomberg tersenyum. "Itu hanya masuk akal jika Markus memang mendasarkan

laporannya pada ingatan kesaksian mata Petrus," katanya. "Seperti yang Anda katakan sendiri, Petrus adalah seorang yang berada dalam kalangan terdekat Yesus dan secara pribadi dapat melihat dan mendengar hal-hal yang tidak dilihat dan didengar murid-murid lain. Jadi, akan masuk akal bagi Matius, bahkan meskipun ia adalah seorang saksi mata, untuk mengandalkan versi Petrus tentang peristiwa- peristiwa sebagaimana yang diteruskannya melalui Markus."

Ya, pikir saya kepada diri sendiri, itu memang masuk akal. Sebenarnya, suatu analogi mulai terbentuk dalam pikiran saya berdasarkan pengalaman saya selama bertahun-tahun sebagai seorang reporter surat kabar. Saya ingat menjadi bagian dari

sekerumunan jurnalis yang mengepung seorang tokoh politik Chicago terkenal, almarhum Walikota Richard J. Daley, untuk menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang sebuah skandal yang terjadi di dalam angkatan kepolisian. Ia mengucapkan beberapa perkataan sebelum menyelamatkan diri ke dalam limusinnya. Bahkan walaupun saya adalah seorang saksi mata atas apa yang telah terjadi, saya segera mendatangi seorang reporter radio yang telah berada lebih dekat dengan Daley, dan memintanya untuk memutar kembali rekamannya yang berisi apa yang baru saja dikatakan oleh Daley. Dengan cara ini, saya dapat memastikan bahwa saya menuliskan kata-katanya dengan tepat.

Itu, setelah saya renungkan, rupanya adalah apa yang Matius lakukan dengan Markus -- meskipun Matius memiliki ingatannya sendiri sebagai seorang murid (saksi mata), pencariannya akan keakuratan mendorongnya untuk mengandalkan beberapa material yang datang langsung dari Petrus sebagai kalangan terdekat Yesus.

118

Dalam dokumen publikasi e-reformed (Halaman 114-118)