Harus diakui bahwa kebimbangan kadang-kadang dapat membawa dampak positif, tetapi selama bertahun-tahun saya juga sudah menyadari bahwa kalau semua kebimbangan kita ungkapkan ke permukaan, mungkin juga menyesatkan. Seperti respons pertama saya terhadap kisah Ron Bronski, kadang-kadang sikap skeptis berlebihan dapat secara halus dimanfaatkan sebagai tameng untuk menjauhkan orang lain dari motivasi yang lebih dalam. Saya tidak ingin menolak keabsahan dari
orang-34
orang yang mencari jawaban terhadap hambatan-hambatan mereka dalam mendekat kepada Allah, tetapi saya merasa perlu sampai ke akar permasalahan, mengapa beberapa individu mengemukakan isu-isu tentang keraguan.
"Dalam pengalaman Anda," kata saya kepada Anderson, "apakah orang-orang tertentu mengaku memiliki keberatan-keberatan intelektual, meskipun kebimbangan mereka bersumber pada hal yang berbeda?"
"Ya, tentu saja," katanya sambil menganggukkan kepalanya dan menegakkan kembali kaki-kaki kursi depannya ke atas lantai lagi. "Bahkan faktanya, secara pribadi
menurutku semua rasa tidak percaya sebenarnya memiliki alasan-alasan mendasar yang lain. Kadang-kadang seseorang dapat secara jujur mempercayai bahwa masalah mereka bersifat intelektual, tetapi sebenarnya mereka belum cukup mengenali dirinya sendiri dan belum menjelajahi kemungkinan-kemungkinan yang lain."
"Dapatkah Anda memberiku sebuah contoh?" saya bertanya.
Dia hanya membutuhkan waktu sejenak untuk menemukan sebuah contoh yang pas. "Ketika aku masih remaja, seorang novelis yang brilian -- seorang ateis yang paling ateis, dan berasal dari keluarga komunis -- mengunjungi kota kecil kami di Kanada untuk mengumpulkan warna-warna lokal bagi buku barunya yang masih dalam proses penulisan. Suatu hari dia mengunjungi keluarga kami dan ikut dalam sebuah
percakapan serius. Dia berkata, 'Bolehkah aku menanyakan pertanyaan-pertanyaan tentang agamamu?' Meskipun aku sudah cukup lama bergumul dengan keraguanku, aku menjawab ya."
"Dia bertanya, 'Sungguhkah Anda percaya ada Allah yang mengenal namamu? Aku menjawab, 'Ya, itulah yang kupercaya.' Dia berkata lagi, 'Percayakah Anda bahwa Alkitab itu benar? Tentang bayi yang lahir dari seorang perawan, orang-orang mati yang dibangkitkan lagi dari kuburnya?' Aku menjawab, 'Ya, itulah yang kupercaya.'"
"Lalu dia berbicara lagi dengan penuh emosi, 'Aku sudah tidak mau lagi mempercayai semua itu, karena aku sudah bepergian ke seluruh dunia dan aku melihat bahwa sebagian besar manusia hidup menderita. Orang-orang yang tampaknya benar-benar memperoleh apa yang mereka harapkan dari kehidupan adalah orang-orang yang mengatakan bahwa mereka percaya pada apa yang kamu percayai. Tetapi aku masih belum dapat percaya karena otakku selalu menjadi penghalangnya!'"
Mata Anderson semakin melebar. "Aku sangat terkejut, Lee. Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab bagaimana karena otaknya jauh lebih cemerlang daripada otakku!" Kemudian Anderson menjulurkan badannya ke arah saya. "Namun, setelah
kurenungkan kembali, menurutku masalah sebenarnya bukan pada otaknya," katanya. Aku mulai memikirkan tentang apa yang akan membuatnya rugi kalau dia mengikut Yesus. Dia adalah bagian dari sekelompok penulis yang menganggap semua agama
35
adalah tipuan belaka. Aku yakin bahwa kesombongan profesionalnya, serta penolakan dari kawan-kawannya merupakan harga yang terlalu tinggi yang harus dibayarnya." Anderson membiarkan kisah itu mengendap sejenak. "Perkenankan aku memberikan sebuah contoh yang lain," katanya menawarkan.
"Suatu kali aku pernah berbicara dengan seorang mantan Marinir yang mengatakan, 'Aku sedang susah sekali. Aku punya lima orang anak, dan aku menghasilkan banyak sekali uang, lebih banyak daripada yang dapat kubelanjakan dengan kedua tanganku. Aku suka tidur dengan perempuan berganti-ganti di kotaku -- dan aku membenci diriku sendiri. Anda harus menolong aku, tetapi jangan menceramahi aku dengan
pembicaraan-pembicaraan tentang Tuhan sebab aku tidak akan percaya semua itu.'" "Kami berbicara selama berjam-jam. Akhirnya aku berkata, 'Mungkin Anda mengira Anda sedang menembak langsung kepadaku, tetapi menurutku tidak. Menurutku masalahnya bukan karena kamu tidak dapat percaya; menurutku adalah karena kamu tidak mau percaya, karena kamu takut meninggalkan semua kesenangan-kesenangan yang kamu nikmati setiap malam.'"
"Dia berpikir sejenak dan kemudian mengatakan, 'Ya, kukira itu memang benar. Aku tidak dapat membayangkan tidur hanya dengan seorang wanita saja, aku tidak dapat membayangkan hidup dengan uang yang lebih sedikit daripada yang kudapatkan sekarang -- dan itulah yang harus terus kulakukan karena aku berbohong untuk mendapatkannya.' Akhirnya dia mencoba untuk berbicara jujur."
Sesudah itu, suara Anderson menurun sampai mendekati bisikan. "Dan inilah
pendapatku," katanya, "orang itu terus-menerus mendebat selama berjam-jam tentang kebimbangan intelektualnya. Dia berusaha meyakinkan orang lain bahwa dia tidak dapat percaya, karena dia memiliki terlalu banyak keberatan intelektual. Namun, semua itu sebenarnya hanya kamuflase dan tipuan. Semua itu cuma seperti kabut yang
dipakainya untuk menutupi alasan sebenarnya dia ragu mendekat kepada Tuhan." Anderson kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Aku berbicara dengan seorang anak gadis lain yang pernah mengalami pelecehan seksual," katanya melanjutkan. "Cara memperkenalkan Tuhan kepadanya, disaring melalui sikap religius orang tuanya, memang sangat mengerikan. Aku tidak dapat menyalahkan kalau dia menghadapi masalah sebegitu besar untuk dapat percaya, tetapi argumentasinya masih selalu dalam alam intelektual. Kalau Anda mencoba untuk menggali lebih dalam lagi ke dalam hambatan-hambatan yang sesungguhnya, dia tidak ingin mengulang dan menghadapi kembali kepedihan yang pernah dirasakannya. Dia memanfaatkan
kebimbangan intelektual untuk mengelabui orang."
"Kemudian ada lagi, aku pernah berbincang-bincang tentang Allah dengan seorang pria di Pacific Northwest. Dia mengemukakan semua isu-isu intelektual, tetapi ketika kita lebih mendalaminya lagi, ternyata dia tidak ingin percaya kepada Allah, karena dia tidak ingin menjual topless bar (yang dilayani oleh perempuan-perempuan muda tanpa
36
penutup dada) yang dimilikinya. Uang yang dihasilkan dari bar itu banyak sekali, dan baginya itu sangat menyenangkan hatinya."
"Itulah pengalamanku," kata Anderson menyimpulkan. "Kalau Anda menggali ke bawah permukaan, sebenarnya ada keinginan untuk percaya atau ada ketidakinginan untuk percaya. Itulah intinya."
Saya meraba dagu saya sambil berpikir. "Jadi, Anda mengatakan bahwa mengakui beriman adalah sebuah pilihan," kata saya.
Anderson menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Benar sekali," jawabnya, "Itu memang sebuah pilihan."
(Catt.: Bagian ke 2 dari artikel ini dikirim dalam surat yang berbeda)
Untuk Pembuktian Lebih Jauh
Sumber-sumber Tambahan untuk Topik Ini
• Lynn Anderson. If Really Believe, Why Do I Have These Doubts? 2d Edition. West Monroe, La.: Howard, 2000.
• Gary E. Parker. The Gift of Doubt. San Francisco: Harper & Row, 1990. • Os Guinness. In Two Minds. Downers Grove, III.: InterVarsity Press, 1976. • Gary R. Habermas. The Thomas Factor. Nashville: Broadman & Holman, 1999 Judul buku : Pembuktian atas Kebenaran Iman Kristiani
Judul asli : The Case of Faith
Judul Artikel : Saya Masih Punyai Keraguan Karena Itu, Saya Tidak Dapat Menjadi Orang Kristen
Penulis : Lee Strobel
Penerbit : Gospel Press, Batam Center 2005 Halaman : 286 -- 296
37