f) Teori Tindakan Anti-Dialog (Penindasan-Represi)
B. Ki Hadjar Dewantara
1. Biografi Ki Hadjar Dewantara
Raden Mas Suwardi Suryaningrat, dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Secara silsilah beliau berasal dari keluarga Keraton Putra Pakualam Yogyakarta. Raden Mas sebagai gelarnya adalah gelar bangsawan Jawa yang diberikan kepada seorang pria keturunan bangsawan tingkat 2 sampai 7 oleh raja terdekat atau pemimpin keturunan yang memerintah di Kerajaan Jawa. Gelar ini dipakai di semua kerajaan di Jawa oleh ahli waris Kerajaan Mataram. Ayahnya bernama K.P.H. Suryaningrat dan Raden Ayu Sandijah sebagai ibunya adalah cicit dari -Nyai Ageng Serang, keturunan Raden Sahid (Sunan Kalijaga) yang makamnya di Kadilangu Demak. Dari silsilah keluarga, Suwardi merupakan cucu dari Sri Paku Alam III. Suwardi dikenal sebagai tokoh nasionalis dan religius dan ternyata menempuh pendidikan agama Islam di Pondok Pesantren Kalasan di bawah bimbingan KH.
Abdurahman. Ia berpendidikan dasar di European Laguerre School(ELS).
ELS adalah sekolah dasar kolonial Belanda di Indonesia yangbahasa pengantarnya menggunakan bahasa Belanda. Sejak tahun 1903 Belanda memberikan kesempatan belajar kepada warga penduduk pribumi dan warga Tionghoa untuk dapat sekolah tingkat dasar, sekalipun awalnya, hanya untuk warga Belanda. Beberapa tahun kemudian, pemerintah kolonial Belanda merasa bahwa kebijakan ini merugikan pemerintah Belanda, dan akhirnya ELS kembali diperuntukan hanya untuk warga negara Belanda. Pada tahun 1907 dibuka sekolah khusus untuk penduduk asli, dan pada tahun 1914 sekolah ini berganti nama menjadi Horanchu Inlanshe School (HIS),dan sekolah untuk bahasa Tionghoa menjadi Horanchu Chaineshe School (HCS) , dibuka pada tahun 1908.
Setelah lulus dari ELS, Suwardi melanjutkan pendidikannya di Sekolah Guru Belanda (Kweekschool) selama satu tahun. Karena kecerdasan dan kemampuannya dalam berbahasa Belanda, Suwardi mendapat beasiswa untuk belajar di Sekolah Kedokteran Bumiputra yaitu STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandse Artsen) di Jakarta. Suwardi belajar di STOVIA selama 5 tahun, tetapi tidak dapat lulus karena menderita sakit selama 4 bulan, yang mengakibatkan beasiswanya dicabut. Menurut Suwardi, pencabutan beasiswanya itu sangat bersifat politis, karena Suwardi telah membacakan puisi dalam pertemuan tersebut, yang menggelorakan keperwiraan Ali Basah Sentot Prawiradirdjo, panglima
perang Andalan Pangeran Diponegoro. Keesokan harinya dia dipanggil oleh kepala STOVIA dan dituduh menghasut pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda.227 Setelah tidak melanjutkan pendidikan di STOVIA, akhirnya Suwardi memanfaatkan kesempatan ini bekerja sebagai jurnalis di beberapa surat kabar seperti Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaya Timur, dan Poesara. Ia juga sebagai editor surat kabar Goentoer Bergerak dan Hindia Bergerak. Sejak tahun 1908,Suwardi aktif di bidang propaganda pada perkumpulan Budi Utomo, mengampanyekan serta menyadarkan rakyat Indonesia akan urgensi persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara.
Bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdjo Setyabudhi) dan Dr. Cipto Mangunkusumo—dijuluki “Tiga Serangkai”—mereka mendirikan Partai India pada 25 Desember 1912. Ini adalah partai politik pertama yang bercita-cita mencapai kemerdekaan Indonesia.228
Suwardi terus berjuang untuk mendirikan Komisi Bumiputra pada November 1913 sebagai tandingan komisi untuk merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda. Rencana perayaan itu, ditentang oleh Suwardi melalui tulisannya berjudul Seandainya Saya Orang Belanda dan Satu Untuk Semua, Tetapi Semua Untuk Satu’’. Suwardi mengkritik kebijakan politik ini melalui tulisan tersebut. Berdasarkan surat tersebut, Gubernur Idenberg memvonis Suwardi diasingkan ke Pulau Bangka. Kedua teman seperjuangannya, yaitu Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo, tidak terima dengan perlakuan diskriminatif kepada rekannya. Mereka berdua, mencoba membela Suwardi melalui tulisan-tulisannya dengan mengkritik pemerintahan kolonial Belanda, tetapi kritiknya itu dianggap provokatif. Douwes Dekker diasingkan ke Kupang, sementara Cipto Mangunkusumo ke Pulau Banda. Namun, ketiganya ingin diasingkan ke Belanda, dengan pertimbangan dapat belajar banyak dan menimba pengalaman di Belanda. Ini adalah manifestasi dari kecerdasan mereka dalam keadaan yang tidak menguntungkan, masih sempat memikirkan masa depan Indonesia, dan akhirnya permintaan mereka dikabulkan, dan sejak Agustus 1913 dan seterusnya mereka dijatuhi hukuman pengasingan di Belanda.229
227Suparto Rahardjo, Ki Hadjar Dewantara, Biografi Singkat 1889-1959, (Yogyakarta: Garasi, 2020), cetakan ke-II, hlm. 9-12.
228Suparto Rahardjo, Ki Hadjar Dewantara ..., Ibid., hlm. 13.
229Ibid., hlm. 15.
Pada tahun 1907, sebelum pergi ke Belanda, Suwardi mempersunting Raden Ayu Sutartinah yang merupakan cucu dari Sri Paku Alam III dan masih sepupu dengan Suwardi, yang akhirnya dikenal sebagai -Nyai Hadjar Dewantara. Pada 14 September 1913, Suwardi singgah di India dalam perjalanan ke Belanda untuk memberikan hadiah ulang tahun kepada istrinya. Hadiah ini diberikan kepada kawan seperjuangannya di tanah air dan isi surat itu antara lain: bahwa kita belum memiliki identitas nasional. Siapkan lagu kebangsaan, karena sudah tiba saatnya untuk merayakan kemerdekaan kita.” Kata-kata ini menginspirasi Wage Rudolf Supratman untuk menciptakan lagu Kebangsaan Indonesia Raya, bahkan Presiden Soekarno memilih Ki Hadjar Dewantara diangkat sebagai ketua tim penyempurna naskah lagu kebangsaan Indonesia Raya. Anak-anak Suwardi lahir di Belanda, yakni Ni Sutapi Asti dan Ki Subroto Haryomataram. Sekalipun diasingkan di Belanda, Suwardi tetap mempelopori kemerdekaan Indonesia melalui pemikiran pembangunan pendidikan nasional. Suwardi telah mempraktikkan teori kontinuitas,230 konvergensi,231 bahkan konsentrisme,232 sejak menempuh pendidikan
230Kontinuitas, Secara sosiologis, kontinuitas diwujudkan dalam bentuk kesepahaman komunitas untuk memberdayakan sesuatu yang representatif menghasilkan perilaku budaya, menginternalisasi pengembangannyauntuk mencapai tujuan yang diharapkan. Merriam (1964: 303) mengatakan bahwa perubahan bisa terjadi dalam lingkungan kebudayaan (internal), dan kebudayaan (eksternal). Perubahan secara internal timbul dari dalam dan dilakukan oleh para pelaku kebudayaan itu (inovasi). Perubahan eksternal, perubahan yang dilakukan oleh orang-orang dari luar lingkup kebudayaan yang menurut Dyson dalam Sujarwa (1987: 39) dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti faktor kebutuhan, keuntungan langsung yang dapat dinikmati, senang pada satu hal yang baru (novelty) dan sifat inovatif yang ingin selalu berkreasi. Sedang yang menolak karena hal yang baru bertentangan dengan tata nilai yang sudah dianut sebelumnya. Teori Kontinuitas dan Perubahan, https://text-id.123dok.com/document/dzxmd41oy-teori-kontinuitas-dan-perubahan-genjring-bonyok-dan-tardug.html.
231Konvergensi, sintesis antara faktor hereditas dan faktor lingkungan dalam proses perkembangan tingkah laku. Menurut aliran ini hereditas tidak akan berkembang secara wajar, jika tidak diberi rangsanan dari factor lingkungan, sebaliknya rangsangan dari lingkungan tidak akan membina perkembangan tingkah laku anak yang ideal tanpa dipengaruhi oleh faktor hereditas. Teori Konvergensi:
Definisi dan Latar Belakang, https://www.referensimakalah.com/2013/03/teori-konvergensi-definisi-latar.html.
232Konsentrisme adalah pusat kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik, serta merupakan zona dengan derajat aksesibilitas tinggi. Zona ini terbagi atas dua bagian, yaitu bagaian paling inti atau Retail Business District (RBD) dengan kegiatan dominan pertokoan, perkantoran dan jasa, dan bagian luarnya atau
di Belanda. Ia mengadaptasi ilmu pendidikan yang didapat di Belanda dengan konteks Indonesia, sehingga pendidikan kita tetap berakar pada akar budaya tanah air kita. Pada tanggal 3 Juli 1922, ia dan rekan-rekan seperjuangannya mendirikan universitas nasional, National Onderwijs Institut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa). Ia menolak terhadap pendidikan yang mengutamakan intelektualisme (kognisi) dan mengabaikan sisi mental atau spiritual (sisi emosional siswa). Enam tahun setelah berdirinya Tamansiswa, Suwardi menerbitkan majalah Wasita di mana ia sebagai penulis dan editornya. Melalui majalah ini, ide-ide tentang pendidikan dan pendidikan yang ingin diterapkan Ki Hadjar Dewantara di Tamansiswa disebarluaskan di kalangan masyarakat pribumi untuk mencerahkan semangat kemerdekaan Indonesia. Menurut perhitungan tahun Caka, ketika berusia 40 tahun Suwardi berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara dan pada 23 Februari 1928, gelar Raden Mas Suwardi Surioningrat dicabut. Suwardi oleh para sahabatnya dikenal sebagai orang yang cerdas dan bijaksana dalam bidang pendidikan. Setelah diberi nama Ki Hadjar Dewantara, pemikiran radikalnya menjadi dingin seperti peredam dan lebih kooperatif, lebih memilih gerakan budaya daripada kegiatan politik.
Pada saat Jepang menduduki Indonesia, Ki Hadjar Dewantara tetap aktif di bidang politik dan pendidikan. Selanjutnya ia mendirikan Pusat Tenaga Rakyat (Putera) pada tahun 1943, namanya berdampingan dengan Ir. Soekarno, Dr. Mohammad Hatta, dan Bpk. KH. Mansur.
Setelah Indonesia merdeka, Ki Hadjar Dewantara dipercaya menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama. Ki Hadjar Dewantara dianugerahi gelar doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tahun 1957.233 Pada tanggal 6 Februari 1957 diangkat menjadi anggota kehormatan Dewan Guru Besar Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, dan pada tanggal 26 April 1959, dalam usia 70 (kurang lima hari), Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia dan dimakamkan dalam upacara nasional sebagai perwira senior anumerta.
Wholesale Business District (WBD) yang ditempati oleh bangunan dengan peruntukan kegiatan ekonomi skala besar, seperti pasar , pergudangan (warehouse) dan gedung penyimpanan barang yang bertahan lama (storage buildings). (sumber:
TeoriKonsentris,https://123dok.com/document/ eqoor40q-makalah-teori-konsentris.html.
233Ibid., hlm. 16-21.
Pada tanggal 28 April 1959 ia dinyatakan sebagai pahlawan nasional dan pada tanggal 27 November 1961 ia dianugerahi rumah pahlawan.234
Pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara menggunakan teori konstruktivistik dari perspektif bahwa fokus proses belajar mengajar adalah pada peserta didik sebagai pusat belajar.235Aliran konstruktivisme berpengaruh besar sejak tahun 1930 sampai 1940-an di Amerika dan Eropa. Menurut Ki Hadjar Dewantara, bahwa landasan pertama dari Pendekatan Konstruktivistik Pendidikan adalah ‘teori konvergensi’, yang menyatakan bahwa ‘pengetahuan manusia, sejak lahir, terdiri dari faktor bawaan endogen (dalam) dan faktor eksogen dari pendidik. Hasil interaksi kedua faktor, baik ‘fundamental’ (faktor intrinsik bawaan) dan ‘instruksi’ (ekstrinsik pendidikan) berperan dalam pembentukan kepribadian. Yang dicita-citakan oleh Ki Hadjar Dewantara adalah Konsep Manusia Merdeka yaitu: (a) manusia hidup bebas tanpa dikendalikan; (b) berdiri dengan kekuatan sendiri; dan (c) mampu mengatur kehidupan dengan tertib. Melalui teori konstruktivis, Ki Hadjar Dewantara menekankan pentingnya siswa menyadari alasan dan tujuan belajar. Pendidikan adalah upaya membina kehidupan siswa melalui pengajaran, keteladanan, dan peradaban untuk membentuk pribadi yang mulia dan tubuh yang sehat.236
Dua bulan sebelum kematiannya, Presiden Soekarno mengunjungi Ki Hadjar Dewantara. Ia pernah menjadi guru di Tamansiswa Cabang Bandung dan anggota Majelis Besar Perhimpunan Tamansiswa. Saya iba mendengar dan memperhatikan Ki Hadjar Dewantara tentang
234Moch. Tauhid, Ki Hadjar Dewantara, Pahlawan dan Pelopor Pendidikan Nasional, (Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1968), hlm. 22.
235Konstruktivisme adalah aliran filsafat pengetahuan yang menganggap bahwa pengetahuan merupakan hasil konstruksi atau bentukan kita (Mathews, 1994;
Bettencourt, 1989). Alex Sobur, Kamus Filsafat , Refleksi,Tokoh dan Pemikiran, Bandung: Pustaka Setia, 2017, cetakan ke-1, hlm. 568. Dapat dilihat juga di Ruman, Belajar dan Pembelajaran, Berorientasi Standar Proses Pendidkan, (Jakarta:
Kencana, 2017, cetakan ke-1, hlm. 112 Teori belajar Konstruktivistik dipelopori oleh Piaget, Bruner dan Vigotssy pada awal abad 20-an yang berpandangan bahwa pengetahuan dan pemahaman tidaklah diperolah secara pasif, tetapi secara aktif melalui pengalaman personal dan aktivitas ekseperimental. Peserta didik aktif dan mencari untuk membuat pengertian tentang apa yang ia pahami.
236Y. Suyitno, Tokoh-Tokoh Pendidikan Dunia (Dari Dunia Timur, Timur Tengah dan Barat), (Bandung: Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, 2009), hlm. 13-15.
kondisi sakitnya. Sebelum meninggal, Ki Hadjar Dewantara mewariskan wasiat kepada anaknya Bambang Sukowati: Jika suatu hari seseorang menanyakan pendapat Anda, apakah Ki Hadjar Dewantara seorang nasionalis, liberalis, sosialis, humanis, tradisionalis, atau demokratis
? Katakanlah bahwa saya orang Indonesia biasa yang bekerja untuk orang Indonesia dengan cara Indonesia. Ki Hadjar Dewantara telah diangkat (anumerta) sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 tanggal 28 November 1959, Ki Hadjar Dewantara ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan hari kelahirannya secara resmi ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei. Pada 17 Agustus 1960 Ki Hadjar dianugerahi Bintang Mahaputera I, ia juga mendapatkan Kehormatan Satya Lencana Merdeka pada tanggal 20 Agustus 1961. Sebagai penghargaan atas prestasinya, namanya kemudian diabadikan sebagai salah satu nama kapal perang Indonesia KRI Ki Hadjar Dewantara dan diabadikan pada uang kertas pecahan Rp 20.000,- (20.000 rupiah).237 Ki Hadjar Dewantara sebagai seorang bangsawan yang menanggalkan kebangsawanannya dan menjadi bapak bangsa. Menurut Ki Hadjar Dewantara, bahwa tujuan pendidikan adalah untuk memajukan bangsa secara utuh berdasarkan nilai-nilai dasar kemerdekaan, tidak ada diskriminasi dalam hal agama, suku, budaya, adat istiadat, status ekonomi, atau sosial. Oleh karenanya, logis jika dikatakan bahwa Ki Hadjar Dewantara adalah tokoh penting dalam perjuangannya membebaskan manusia Indonesia.238