• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manusia Merdeka secara Kecerdasan Intelektual (Kognitif)

Dalam dokumen A. Latar Belakang (Halaman 177-181)

c. Tut Wuri Handayani (di Belakang Memberi Dorongan)

F. Manusia Merdeka sebagai Agen Perubahan

1. Manusia Merdeka secara Kecerdasan Intelektual (Kognitif)

Pendidikan Islam adalah pendidikan humanistik kritis bertujuan menciptakan manusia berakhlakul karimah meniru perilaku nabi sebagai Insan Kamil yaitu manusia sempurna, merdeka dari keterbelungguan,

369Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ (Emotional Spiritual Quotien) Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukkun Islam, (Jakarta: Arga, 2001), hlm. 56. H. A. Rusdiana dan Nasihudin, Pengembangan Perencanaan Program Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2019), Cetakan ke-1, hlm. 181.

370Fauzan Akmal Firdaus, Akrim Mariyat, “Humanistic Approach In Education According To Paulo Freire”, At Ta’dib, Journal of pesantren education, Vol 12, No 2 (2017), https://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/tadib/article/view/1264

manusia berbudaya.371 Secara akademik output PAI adalah penguasaan Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu bagian urgen yang harus dikuasai untuk menjalani kehidupan umat manusia berfungsi menjelaskan (description) suatu fenomena yang terjadi di masyarkat yang dapat berbentuk penemuan baru (discovery) sebagai sarana untuk pengembangan (development) yang bersifat inovatif untuk pembangunan, sebagai alat untuk menganalisa (memprediksi) terhadap sesuatu yang mungkin terjadi dan fungsi sebagai alat kontrol atau pengawasan, sehingga sesuatu keadaan dapat terkendalikan sesuai apa yang dikehendaki.372

Selanjutnya PAI diajarkan untuk menghasilkan profil manusia merdeka secara intelektual di mana dalam konsep Pendidikan Islam memiliki karaktersitik kompetensi keilmuan, sebagaimana tergambarkan Khalil bin Ahmad yang dikutif oleh Imam Al Ghazali yang membagi manusia dalam 4 tipologi, yaitu: Pertama, Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri adalah tipologi orang yang tahu (T) atau berilmu dan dia tahu (T) kalau dirinya berilmu (T). Manusia tipologi ini sebagai golongan manusia yang ideal, sebab orang yang tahu bahwa dirinya mengetahui adalah perilaku orang alim, orang yang bijak, memiliki kompetensi ilmu dan dia mengetahui bahwa ilmu yang didapat harus benar-benar dimanfaatkan untuk kemasalahan umat. Orang semacam ini senantiasa akan mengamalkan ilmunya semaksimal mungkin, sehingga menjadi manusia yang bermanfaat (khoirunnas ’anfauhum linnas), Ia tahu kalau dirinya memiliki keluasan ilmu, sehingga harus mengajarkan dan mengamalkan ilmunya kepada orang lain yang membutuhkan. Terhadap tipologi orang semacam ini kita harus mengapresiasi, menghormati, mengikuti dan meneladaninya dalam berbagai aspek kehidupan, baik sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, politik, agama dan lainnya.

Kedua, Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri, yaitu tipologi orang yang tahu atau berilmu (T), tapi dia tidak mengetahui (TT) kalau dirinya berpengatahuan (T). Tipologi orang semacam ini sering dijumpai dalam kehidupan masyarakat yaitu orang yang memiliki kompetensi ilmu, akan tetapi dia tidak menggunakan kemampuannya untuk kepentingan

371Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2012, Cetakan ke-44, hlm. 151.

372Endang Saefuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1987, Cetakan ke-7, hlm.. 61.

dirinya dan umat, tipologi ini seperti orang tidur, orang yang dalam kondisi tidak sadar, orang yang cuek. Terhadap orang semacam ini, maka bangunkanlah ia. Ketiga, Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu La Yadri,yaitu tipologi orang yang tidak tahu (TT), tetapi mengetahui (T) bahwa dirinya tidak tahu (TT). Golongan ini adalah mereka yang sedang dalam proses mencari ilmu, artinya mencari ilmu yang didasari oleh ketidaktahuannya, sehingga ia selalu berusaha keras untuk mencari ilmu. Orang tipe ini masih tergolong orang baik karena menyadari akan kekurangannya sendiri, berusaha belajar dan terobsesi untuk mengejar ketinggalan, tipe orang ini selalu berorientasi pada dirinya dan belajar dari kesalahan serta kekurangannya. Melalui studinya, ia berharap suatu saat bisa menimba ilmu dan menjadi lebih baik. Keempat, Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri, yaitu tipologi orang yang tidak tahu (TT), dan tidak mengetahui (TT) bahwa dirinya tidak tahu (TT). Tipologi orang keempat ini paling buruk karena termasuk orang bodoh, orang yang tidak punya ilmu karena ketidaktahuannya, bahkan bisa tersesat dan menyesatkan. Orang seperti ini tidak akan berhasil di dunia ini dan akan rugi di akhirat.373

Untuk mencapai tujuan pendidikan humanistik, yaitu membuat orang mandiri secara kognitif dalam hal keterampilan interdisipliner sebagai identitas. Menurut Covey S. R., ada empat sifat unggul yang perlu diketahui dalam karya ilmiahnya berjudul “Tujuh Kebiasaan Orang yang Sangat Efektif” (1990), yang disebut “Manusia Berkualitas”, adalah: (1) orang yang memiliki kesadaran diri: kesadaran diri tentang hakikat kehidupan manusia, dengan mempertanyakan diri seperti: dari mana?, mau apa?, dan mau kemana ?, apa kebutuhan kita?, siapa orang-orang di sekeliling kita?, siapa orang-orang tua kita?, siapa guru-guru kita?, apa peran mereka dalam kehidupan kita?, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang menggambarkan tentang eksistensi atau identias individu.

Kesadaran diri ini memosisikan manusia sebagai makhluk spiritual;

(2) manusia yang memiliki kehendak independen (free will): kesadaran diri yang membuat orang selalu ingin tahu apa yang tidak mereka ketahui. Kesadaran diri ini dianalogikan dengan karakter makhluk yang

373Imam Al Ghazali, (Terj), H. Moh Zuhri, Ihya ‘Ulumuddin Jilid I, Semarang:

CV. As Syifa’, 1990, hlm. 185.

belajar. Namun pengaruh lingkungan dapat melumpuhkan kepribadian

“kehendak bebas”, menjadikannya kehendak yang sebenarnya bukan milik sendiri, yang mengarah pada kepribadian seperti ABS (asal bapak senang). Ketika sifat ‘kehendak bebas’ tidak diatur, ia dapat mengarah pada sifat ‘egois’, di mana segala sesuatunya diperhitungkan demi keuntungan pribadi; (3) manusia yang memiliki nurani: sifat ini membedakan baik dan buruk, apa yang perlu dilakukan dan apa yang harus dihindari, dan sebagainya. Sifat-sifat ini juga memosisikan individu sebagai makhluk sosial yang memotivasi orang agar dapat mencintai dan dicintai; serta (4) manusia yang memiliki imajinasi kreatif (creative imagination); menstimulasi orang untuk memperluas wawasan berpikirnya jauh melampaui situasi dan hal-hal yang belum pernah mereka alami, yang mereka dengar atau lihat. Kualitas-kualitas ini memperkuat kualitas manusia sebagai makhluk belajar. Orang perlu dimotivasi untuk tidak hanya mengetahui sesuatu dan mampu melakukannya sendiri, tetapi juga untuk menciptakan sesuatu yang

‘baru’–inovatif. Kualitas-kualitas inilah yang memberi peluang orang mengalami dinamika dan kemajuan dalam hidupnya dan membuat seluruh hidupnya menjadi lebih bermakna, sesuai dengan maksud dan tujuan diciptakannya manusia serta tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini.374

Kesadaran diri yang mengarahkan pada kualitas hidup indiviu adalah gambaran manusia unggul yang menjadi tujuan dari pemberlakuan Merdeka Belajar bagi peserta didik dan guru. Untuk terciptanya SDM Unggul yang dimaksud, maka diperlukan paradigma baru bagi guru untuk menciptakan kemerdekaan siswa dalam proses pembelajaran, seperti terlihat pada perbandingan mengajar dari paradigma lama ke paradigma baru di bawah ini.

374Kisdarto Atmosoeprapto, Temukan Kembali Jati Diri Anda, Jakarta: Gramedia, 2004, cetakan pertama, hlm. 79-81.

Table 4.3 Perbandingan Paradigma Mengajar Lama dan Paradigma Mengajar Baru375

No Keterangan Paradigma Lama Paradigma Baru 1 Pengetahuan Guru mentransfer

pengetahuan kepada siswa

Guru dan siswa bersama-sama menkonstruksikan pengetahuan

2 Peserta didik Peserta didik diposisikan sebagai gelas kosong yang dituangi dengan pengetahuan guru

Peserta didik sebagai Pembangun, penemu, pengubah pengetahuan yang aktif

3 Tujuan guru Guru membeda-bedakan peserta didik

Guru harus mampu mengeksplorasi kompetensi, minat dan bakat siswa 4 Interaksi Interaksi bersifat

interpersonal di antara para siswa dan antarguru dan siswa

Interaksi secara personal di antara para siswa dan antara guru dan siswa

5 Konteks Berorientasi persaingan dan Individualistik

Berorientasi pada

pembelajaran kooperatif di ruang kelas dan tim kooperatif di antara guru dan pengelola sekolah

6 Asumsi tentang mengajar

Setiap orang yang ahli memiliki kemampuan mengajar

Mengajar adalah sesuatu yang melibatkan berbagai unsur dan membutuhkan banyak pelatihan

7 Cara pemahaman

Menggunakan Logika-ilmiah Bersifat naratif

8 Epistemologi Reduksionis Konstruktifis 9 Metode

pembelajaran

Memorisasi Menghubungkan

10 Suasana sosial Adaptasi /keseragaman kultur

Keberagaman dan penghargaan pribadi/ keberagaman budaya dan kebersamaan.

Dalam dokumen A. Latar Belakang (Halaman 177-181)