• Tidak ada hasil yang ditemukan

Biografi Singkat Dan Sekilas Kehidupan

Diharapkan Sinarnya) (1931-1992)

B. Biografi Singkat Dan Sekilas Kehidupan

H. Khuwailid Ahmad Daulay adalah seorang muqri’ internasional yang berasal dari Sumatera Utara. Beliau lahir di Penyabungan pada tanggal 01 Januari 1931 dan merupakan anak pertama dari pasangan Bapak Ahmad Dhikir Daulay dan ibu Nur’aini Nasution. Beliau mempunyai 2 saudara

laki-laki yang bernama Ismail Daulay dan Marwan Daulay. Or-ang tuanya berprofesi sebagai petani dan pedagOr-ang. Beliau berasal dari keluarga yang kondisi perekonomiannya menengah ke bawah, namun punya semangat untuk belajar, terutama mempelajari Alquran. Beliau menempuh pendidikan di SR (Sekolah Rakyat) Panyabungan, Mandailing Natal, dan mulai menghafal Alquran sejak SMP. Hingga akhir hayatnya, beliau

telah menghafal Alquran 30 juz.1

Setelah berkeluarga, beliau memutuskan untuk pindah dari Panyabungan ke Padang Sidempuan dan membawa

1 Wawacara dengan Rafi’ah anak kandung H. Khuwailid Ahmad Daulay

istrinya, Syamsiah Nasution, dan anaknya yang saat itu baru satu orang. MTQ pertama yang diikuti oleh beliau adalah MTQ di Padang Sidempuan. Namun setelah 2 tahun tinggal di Padang Sidempuan, beliau memutuskan untuk pindah lagi bersama keluarganya ke Medan untuk mengembangkan karirnya sebagai muqri’ dan hafidz. Menurut Prof. Dr. M. Yasir Nasution bahwa keberangkatannya ke Medan adalah untuk menimba ilmu dari Syaikh Azrai’ Abdurrauf.2 Anak H. Khuwailid Ahmad Daulay keseluruhannya berjumlah 6 orang dari isteri pertama 5 orang dan dari isteri kedua 1 orang yaitu:3

1. H. Muhibban Daulay 2. Hj. Suhailah Daulay 3. Rafi’ah Daulay 4. Hannah Daulay 5. Najla Daulay 6. Rahmad Daulay

Sesampainya di Medan, beliau bertemu dengan ust. Azra’i Abdul Rauf yang saat itu menjadi guru qira’at pertama di Medan dan segera akrab, bahkan berguru dan belajar qiraat padanya. Selain itu, beliau juga berteman dengan muqri’ lainnya yang berasal dari Sumatera Utara, yaitu almarhum ustadz Hasan Basri Sa’i. Pada masa itu, keduanya sering bepergian bersama untuk haflah Quran di berbagai daerah. Keduanya sangat dikagumi oleh masyarakat, sampai-sampai setiap mereka mengikuti haflah, masyarakat berbondong-bondong datang bahkan dari jauh sekalipun untuk mendengarkan

2 Wawancara dengan Prof. Dr. M. Yasir Nasution murid, tutur anak H. Ahmad Khuwailid Daulay.

bacaan Alquran mereka. Ustadz Khuwailid Daulay dan Ustadz

Hasan Basri sering disebut-sebut sebagai “dua matahari”.4

4 Wawancara dengan Abdul Aziz Nasution murid H. Khuwailid Ahmad Daulay

Sehari-hari, beliau menjadi guru Alquran dan mengajar dari satu tempat ke tempat lain. Pada masa itu, ada beberapa orang yang mau menjadi donatur untuk kegiatan belajar mengajar baca Alquran, dan mengundang ustadz Khuwailid sebagai pengajar. Beberapa tempat mengajar beliau antara lain di rumah Ir. Nur Sahadi di Jalan. Bromo, Lorong Sukri, Mesjid Jamik di depan kampus UISU, kediaman Bapak Halim di Gang Langgar, Mesjid Agung Medan, Komplek Perumahan Pertamina di Tanjung Mulia, Masjid Quatul Muslimin di Pasar Merah, Jalan Purwo, Mesjid Istiqomah di Jalan Pahlawan, Jalan Gajah Mada, rumah ibu Tengku Ingsun di Jalan Pahlawan, Gang Krambik, Masjid Syailendra, Sukaraja, Kantor Panti Asuhan Al Washliyah 20 Medan, dan rumah beliau sendiri di Jalan. Letda Sujono, Gang Pisang, Medan.

Sebagai guru, beliau merupakan sosok yang baik, sabar, dan mengajar murid-muridnya dengan cara serius namun santai. Sifat humoris dan suka melucunya terbawa sampai ia mengajar, namun tetap serius saat waktunya harus serius. Ia mengajarkan setiap maqom (lagu) dari setiap maqro’ sampai tuntas dan sampai murid-muridnya sudah bisa, sehingga pembelajaran untuk satu maqro’ bisa menghabiskan waktu 2-3 bulan. Selain itu, beliau adalah seorang guru yang perhatian rendah hati, sampai-sampai mau ke rumah muridnya dan membawa mereka untuk menemaninya mengajar ke tempat lain atau memenuhi undangan. Kemudian, ia merupakan guru yang ingin murid-muridnya maju dan senang mengorbitkan muridnya untuk sukses. Sebagai bukti, saat ia tidak bisa hadir untuk memenuhi undangan membaca Alquran karena sakit atau hal lain, ia mengirim surat pada murid-muridnya untuk menggantikannya membaca Alquran di tempat tersebut.

Hal itu merupakan salah satu cara beliau mendidik murid-muridnya, dengan memberikan pengalaman.

Selain menjadi guru, beliau kerap kali diundang untuk membaca Alquran di beberapa acara, antara lain acara maulid nabi, isra’ miraj, dan haflah Quran bersama beberapa muqri’ lainnya, seperti ustadz Hasan Basri, ustadz Azra’i Abd Rauf, Ustadz Yusuf Rangkuti. Beliau bahkan pernah mendampingi Syekh Toha Sulaiman, muqri’ dari Mesir untuk membaca Alquran di mesjid Agung yang turut dihadiri oleh Ustadz Azra’i Abd Rauf dan Ustadz Yusuf Rangkuti. Kemudian, ia juga kerap diundang menjadi juri di berbagai perhelatan Musabaqah dan menjadi pelatih Training Center (TC) antara lain menjadi pelatih dalam TC kafilah Provinsi Jambi pada tahun 1975 selama satu bulan atas permintaan Gubernur Jambi H. Jamaluddin Tambunan, orang tua Bupati Deli Serdang Ashari Tambunan, pelatih dalam TC kafilah Pertamina untuk MTQ Provinsi Sumut pada tahun 1977 di Pangkalan Susu, dan Pelatih TC peserta Kab. Labuhan Batu di Rantau Prapat pada tahun 1977. Ia juga menjadi pendamping kafilah Kota Medan untuk MTQ Provinsi Sumut di Padang Sidempuan, dimana utusannya antara lain H. Yusnar Yusuf, Abd. Aziz Nasution, Suryani Nasution, Zainul Arifin, dan sebagainya. Sebagai seorang ayah, beliau merupakan sosok yang bertanggungjawab untuk keluarganya. Beliau juga merupakan orang yang santai, suka bergurau namun disiplin terhadap keluarganya. Ia mendorong anak-anaknya agar mempelajari berbagai disiplin ilmu dan tidak membatasi anak-anaknya dalam menimba ilmu, terutama ilmu Alquran. Ia berkata pada anak-anaknya, bahwa ilmu itu tidak ada habisnya

dan harus terus dipelajari hingga akhir hayat. Ilmu itu juga harus disampaikan pada orang lain.

Dari awal SMP, anak-anaknya belum diarahkan ke Alquran. Mulai Aliyah mulai diarahkan ke Alquran. Bakat tilawah dan yang berhubungan dengan Alquran menurun pada anak-anaknya. Anak-anaknya juga menggeluti dunia MTQ, qasidah dan nasyid. Anak pertamanya, H. Muhibban Daulay (alm) menjadi pemenang qasidah tingkat Kota Medan. Anak kedua, Hj. Suhailah Daulay, menjadi pemenang MTQ tingkat Nasional. Anak ketiga dan kelima, Rafi’ah Daulay dan Najla’ Daulay, menjadi pemenang MTQ tingkat Provinsi

di Sumatera Utara. Anak keempat, Hannah Daulay, berkecimpung di bidang nasyid. Sedangkan anak terakhir, Al Hafiz Rahmad Daulay, menjadi imam besar mesjid di Qatar.

Beliau selalu menghafal Alquran dimanapun. Setiap bulan puasa, ia dan keluarganya mengadakan tadarusan dan anak-anaknya disuruh membaca menggunakan mic, agar beliau bisa mengoreksi bacaan anak-anaknya saat di sudut rumah manapun. Kebiasaan-kebiasaannya pun sering berhubungan dengan Alquran. Setiap pukul 3 pagi, beliau bangun untuk mendengarkan irama lagu Alquran dari siaran

radio Kuwait. Setelah subuh, beliau tidak tidur lagi sampai zuhur dan kemudian pergi untuk mengajar mengaji.

Sisi lain Ustadz Khuwailid Daulay, ia hobi menonton film Spy (mata-mata). Aktor kegemarannya adalah Charles Bronson dan Alan Delon. Sedangkan makanan kesukaannya adalah kepala ikan kakap. Ia merupakan orang yang supel, berteman dengan siapa saja tanpa memandang apa dan siapa pun statusnya. Beliau terus mengabdikan dirinya untuk Alquran dan dunia MTQ hingga beliau tua dan sakit, sampai pada akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 14 Juli 1992 di Bandar Selamat, Medan karena sakit gula. Istrinya lebih dulu meninggal pada tahun 1990.5