• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nurasiah Djamil Mengukir Prestasi

Dalam dokumen Sebelas Muqri' Sumatera Utara Di Pentas Dunia (Halaman 160-169)

dari Sumatera Utara) (1947 – 2013)

C. Nurasiah Djamil Mengukir Prestasi

Adanya bakat dan fasilitas kemudian didukung pula oleh spirit dan kemauan maka prestasi demi prestasi diukir indah oleh Nurasiah Djamil. Profesionalitasnya di bidang seni baca Alquran, muballigh, penyanyi dan pencipta lagu membuat prestasi dan penghargaan yang diraihnya sulit untuk dihitung.

Mulai dari usia yang relatif muda sosok Nurasiah Djamil sudah menorehkan prestasi yang luar biasa. Kepiawaiannya bernyanyi membuat orkes gambus tempatnya bergabung semakin banyak mendapat undangan. Dengan bergabungnya Nurasiah Djamil orkes gambus ini cukup terkenal ke berbagai pelosok ttanah air bahkan sampai ke mancanegara terutama. Lagu favorit yang dinyanyikannya pada masa itu berjudul

Inta Walau Tasy dari Mesir.

Pada saat kuliah di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Nurasiah Djamil ditunjuk oleh rektor UISU (H. Bahrum Djamil, SH) untuk mewakili kampus UISU mengikuti MTQ atas nama mahasiswa dan berhasil meraih juara I RRI Sumatera Utara. Meskipun namanya sudah melambung sebagai penyanyi namun Nurasiah Djamil tidak pernah berhenti menyalurkan bakat muqri’ah-nya. Beliau terus-menerus belajar mengaji kepada seorang muqri’ Sumatera Utara yang terkenal yaitu Usman Fattah.

Pada tahun 1970 Nurasiah Djamil kembali mendapat tawaran untuk mengikuti MTQ oleh ketua LPTQ Ismail Sulaiman. Waktu itu seleksi dilaksanakan di GOR Sumatera Utara dan meraih juara I tingkat Provinsi Sumatera Utara. Setelah itu beliau dikirim ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk mengikuti MTQ tingkat Nasional dan berhasil meraih juara II. Pada tahun yang sama pula dikirim lagi ke MTQ Internasional di Kuala Lumpur dan mendapat juara II.

Selain itu, pada tahun yang sama (1970) Nurasiah Djamil mengikuti MTQ Internasional di Makkah dan berhasil mendapat juara II. Kemudian ketika MTQ tingkat Internasional digelar di Thailand Nurasiah Djamil berhasil meraih juara I demikian juga ketika MTQ Internasional digelar di Singapura.

Prestasi yang diperoleh Nurasiah Djamil secara berturut-turut telah mengharumkan nama Sumatera Utara tidak hanya pada tingkat Nasional tapi juga Internasional. Hal ini telah menginspirasi Gubernur Sumatera Utara untuk memberikan penghargaan kepadanya yaitu dengan mem-berangkatkannya melaksanakan ibadah haji.

Lagunya yang berjudul “Panggilan Haji” direkam oleh PT. Musica Studio Jakarta. Album ini laku keras dipasaran sehingga terjual sebanyak 100.000,- (seratus ribu) copy. Pada masa itu, angka tersebut sudah termasuk yang paling laris sehingga meraih “Golden Record”. Lagu “Panggilan Haji” ini tetap melegendaris sampai sekarang yang dulunya sering diperdengarkan di atas menara masjid.

Popularitas Nurasiah Djamil semakin mendapat tempat di hati masyarakat. Namanya selalu menjadi buah bibir karena lagu-lagunya enak didengar dan syair-syairnya pun sarat pula dengan pesan-pesan keagaman, moral dan sosial. Beliau mendapat kontrak rekaman lagu nasyid selama 12 (dua belas) tahun sejajar dengan para penyanyi Indonesia papan atas seperti H. Benyamin S, Titiek Puspa, Muchsin Alatas, Hetty Koes Endang, Rafika Duri, Ahmad Albar dan lain-lain.

Meskipun lagu “Panggilan Haji” yang membawa nama Nur-asiah Djamil membahana di Nusantara tetapi bukan lagu ini karyanya yang pertama. Lagu pertama yang diciptakannya berjudul “Belajar di Waktu Kecil”. Pada masa itu, penyanyi nasyid masih sangat langka sehingga mendorong keinginannya untuk menciptakan lagu nasyid sendiri yang akan dibawakan oleh kelompok-nya.

Lagu-lagu ini mencapai puncaknya ketika Nurasiah Djamil diajak rekaman untuk lagu-lagu dakwah dan rekaman untuk 30 (tiga puluh) juz Alquran di Musica Studio, Jakarta. Setelah itu, rekaman lagi pada 7 (tujuh) studio di Jakarta pada tahun 1970, bahkan dalam setahun Nurasiah Djamil bisa dikontrak 3 (tiga) sampai (empat) kali.

Ajakan di atas disambut baik oleh Nurasiah Djamil karena beliaupun ingin agar lagu-lagu yang bernuansa Islami lebih memasyarakat di tengah-tengah umat Islam. Rita Nurai Nasution (salah seorang murid kesayangannya) sudah mengoleksi 65 (enam puluh lima) kaset bacaan Alquran 30 (tiga puluh) juz, 100 (seratus) kaset qasidah dan 500 (lima ratus) buah lagu yang diciptakan oleh Nurasiah Djamil. Komentar Rita

Nurai bahwa banyak orang suka mendengarkan syair lagu ciptaan Nurasiah Djamil karena menyejukkan dan mengikuti irama lagu Alquran.

Album “Panggilan Ka’bah dan Ya Robbi Barik” sudah tersebar di seluruh Indonesia dan Malaysia. Menurut Rita selanjutnya, salah satu keinginan Nurasiah Djamil adalah

ingin mengedarkan kaset-kasetnya ke seluruh Indonesia, namun beliau khawatir bahwa kasetnya akan dibajak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Sekitar tahun 2008, Nurasiah Djamil pernah diundang ke daerah Singkil, Aceh. Kepergiannya kali ini bersamaan dengan Prof. Dr. Hasan Asari, MA (Guru Besar UIN Sumatera Utara) untuk mengisi sebuah acara pada salah satu kampus yang ada di tempat ini. Pada saat itu Nurasiah Djamil diundang sebagai muqri’ah dan Hasan Asari sebagai pemakalah.

Setelah berbincang dengan panjang lebar lalu keduanya menjadi akrab. Keakraban ini terjalin setelah Nurasiah Djamil mengetahui kalau Hasan Asari adalah adik kandung dari Dr. Lahmuddin Nasution, M.Ag. Lahmuddin Nasution adalah salah seorang ulama yang kharismatik di Sumatera Utara yang juga dosen Nurasiah Djamil sewaktu kuliah di UISU. Hasan Asari menyaksikan bahwa Nurasiah Djamil adalah sosok yang sangat dikagumi dan diidolakan oleh masyarakat Singkil. Buktinya, sebelum Nurasiah Djamil sampai, penduduk Singkil sudah lama antri menunggu kehadirannya. Mereka menunggu hanya untuk bersalaman dan membeli kaset lagu-lagunya. Menurut Hasan Asari lebih lanjut, kaset lagu yang dibawa oleh Nurasiah Djamil yang satu kardus besar ludes

hanya beberapa menit.2

Sebelum kedatangannya ke Singkil bersama Hasan Asari Nurasiah Djamil bercerita bahwa dulunya beliau pernah datang ke daerah ini dengan naik kapal dari Sibolga. Di tengah pelayaran

2 Wawancara dengan Prof. Dr. Hasan Asari, MA, (Guru Besar UIN Sumatera Utara), tanggal 22 September 2018 di Takengon, Aceh Tengah.

tiba-tiba datang ombak dan badai yang sangat dahsyat sehingga membuat hati Nurasiah Djamil ketika itu sangat kecut. Peristiwa ini benar-benar berkesan di dalam kehidupan Nurasiah Djamil. Peristiwa ini diakui oleh Hasan Asari memang cukup berkesan karena Nurasiah Djamil mengajaknya (sedikit agak memaksa) pergi ke pelabuhan untuk menunjukkan kronologis kejadian karena besarnya ombak dan badai. Sewaktu sampai di pelabuhan, Nurasiah Djamil menunjuk ke tengah laut untuk memberitahu Hasan Asari tempat kapal mereka terdampar karena tidak bisa merapat ke pelabuhan. Mereka, kata Nurasiah Djamil, hanya bisa dijemput dengan sampan-sampan kecil untuk mendarat ke pelabuhan Singkil.

Melalui peristiwa inilah, Nurasiah Djamil menceritakan kepada Hasan Asari bahwa dirinya terinspirasi menulis lagu yang berkenaan dengan fenomena yang dialaminya. Lagu ini cukup hits sehingga Hasan Asari berkomentar bahwa ada dua buah lagu Nurasiah Djamil yang dapat dihafalnya yaitu

“Adikku Sayang dan Musafir”.3

Hasan Asari, meskipun hafal bait-bait syair lagu yang berkenaan dengan fenomena ombak dan badai ini namun lupa judul lagu tersebut. Tetapi menurut Rita Nurai Nasution (kalau tidak silaf), lagu yang berkenaan dengan fenomena ombak dan badai ini diberinya judul “Musafir”. Adapun sebagian bait syair lagu dimaksud adalah sebagai berikut:

3 Lagu-lagu Nurasiah Djamil mudah diingat karena selain berbicara tentang alam juga lagu-lagunya selalu dikumandangkan pada saat menidurkan anak-anak. Lagu “Adikku Sayang” mudah dihafal karena ibunya selalu mengumandangkannya ketika hendak menidurkan adiknya, demikian kenang Prof. Hasan Asari.

Dialun riak gelombang Dihempas ombak dan badai Laksana gunung tinggi menjulang Hati sedih, pedih, harapkan sampai

ke pantai … ke tepi pantai

Kepiawaian Nurasiah Djamil menangkap fenomena alam yang kemudian dituangkannya dalam sebuah lagu ternyata menjadikan lagu tersebut cukup populer di masyarakat. Sekiranya ditelusuri lagu-lagu yang dikarang oleh Nurasiah Djamil maka dapat dipastikan adanya fenomena terjadi yang melatar-belakanginya sama halnya lagu “Panggilan Haji”.

Tentu saja fenomena-fenomena tersebut menarik untuk dikaji sebagai gambaran kehidupan alam dan sosial yang sangat bermanfaat bagi sejarah kehidupan. Sama halnya dengan asbâb nuzûl pada kajian Alquran dan asbâb

al-wurûd pada kajian hadis. Akan tetapi karena buku ini sifatnya

mengakumulasi informasi tentang sejumlah tokoh tentu tidak pada kapasitasnya hal ini dibicarakan.

Dalam dokumen Sebelas Muqri' Sumatera Utara Di Pentas Dunia (Halaman 160-169)