• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.  Hasil

5.1.2. Biomasa dan Cadangan Karbon Bawah Permukaan

Berat volume (Db) adalah masa fase padat tanah (Ms), dibagi dengan volume total tanah (Vt). Volume total tanah adalah jumlah volume dari fase padat tanah dalam keadaan di lapangan. Nilai Db yang umum untuk tanah gambut berkisar antara 0,05-0,3 g cm-3, namun kadangkala bisa sampai <0,01 dan >0,4 g cm-3. Berbeda dengan tanah mineral, tanah gambut tidak membentuk bongkahan dan mudah terbakar.

Pada Tabel 5 dapat dilihat hasil dari berat volume (Bulk density) dari beberapa jenis tanah gambut pada lahan gambut di Kab. Humbang Hasundutan. Pengambilan contoh gambut pada lahan gambut di Kab. Humbang Hasundutan dilakukan pada tiga tipe penutupan lahan yaitu tanah bervegetasi, tanah tidak bervegetasi dan tanah bekas galian. Volume contoh tanah (Vt) dari ring contoh sebesar 254,82 cm3. Sehingga diperoleh Bulk density di lokasi penelitian berkisar antara 0,274 - 0,286 g cm-3 (tanah bekas galian dengan tanah bervegetasi), sedangkan Bulk density pada tanah tidak bervegetasi sebesar 0,282 g cm-3.

Tabel 5. Berat volume (Bulk density) dari beberapa jenis tanah gambut pada lahan gambut di Kab. Humbang Hasundutan

No Tipe Penutupan Lahan Bulk Density

(g cm-3)

1 Tanah bervegetasi 0,286

2 Tanah tidak bervegetasi 0,282

3 Tanah bekas galian 0,274

5.1.2.2 Kandungan Karbon Gambut Contoh

Data kandungan karbon (%C) gambut merupakan variabel utama untuk menentukan total karbon (cadangan karbon) yang tersimpan pada lahan gambut. Secara umum, cadangan karbon yang tersimpan pada hamparan tanah gambut dapat diketahui berdasarkan ketersediaan data: ketebalan gambut, kandungan karbon (%C), Bulk density, dan luas areal lahan gambut. Kandungan karbon

gambut dapat ditentukan dengan salah satu dari beberapa metode yaitu, pengabuan kering (lost in ignition), Walkley and Black (pengabuan basah), atau C analyzer. Pada lahan gambut di Kab. Humbang Hasundutan, kandungan C gambut diperoleh pada tanah bervegetasi, tanah tidak bervegetasi dan tanah bekas galian.

Tabel 6. Hasil penilaian sifat kimia tanah gambut di lokasi penelitian di Kab. Humbang Hasundutan

No Tipe Penutupan Lahan

Walkley & Black

Kjeldhal Bray 1 N NH4OAc pH 7.0

C-org N-Total P K KTK

(%) (%) (ppm) (me/100g)

1 Tanah bervegetasi 56.81 1.20 22.42 0.46 175.22 2 Tanah tidak bervegetasi 56.78 1.15 20.93 0.23 126.85 3 Tanah bekas galian 56.58 0.95 12.85 0.23 145.20

Pada Tabel 6 dapat dilihat kandungan C yang terbesar terdapat pada tanah bervegetasi adalah 56,81 %. Sedangkan kandungan C terkecil terdapat pada tanah bekas galian adalah 56,58 %.

5.1.2.3 Kematangan Gambut Contoh

Pengamatan kematangan gambut berguna untuk menaksir kesuburan dan kandungan C gambut. Gambut yang lebih matang biasanya lebih subur, walaupun banyak faktor lain yang menentukan kesuburan gambut, misalnya campuran liat dan abu. Gambut pada lahan gambut di Kab. Humbang Hasundutan merupakan gambut hemik, yang mempunyai ciri-ciri yaitu sebagian bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarna coklat, dan bila diremas kandungan seratnya yang tertinggal di telapak tangan antara sepertiga dan dua pertiga jumlah semula.

Pada Lampiran 2 dapat dilihat tingkat kematangan gambut yang terdapat pada lahan gambut di Kab. Humbang Hasundutan yang terdiri atas tiga tipe penutupan lahan dari jumlah plot yang diukur.

5.1.2.4 Ketebalan Gambut

Bentuk contoh tanah gambut dilakukan dengan cara menggunakan bor gambut (contoh hampir tidak terganggu). Dengan menggunakan bor gambut

contoh gambut dapat diambil dari permukaan sampai ke dasar (substratum) gambut tergantung jumlah batang besi penyambung (extension rod) yang dipunyai. Bahkan gambut yang berada dalam keadaan terendam airpun dapat diambil contohnya dengan menggunakan bor gambut. Contoh gambut yang diambil dengan bor gambut dapat digunakan untuk analisis berat volume (Db), kadar air (% volume), dan sifat kimia termasuk kandungan karbon (C). Ketebalan gambut yang diukur rata-rata sebesar 2,5 meter (Istomo. 2006). Gambut di lokasi penelitian merupakan gambut topogen yang memiliki akar-akar pohon yang tersusun sangat rapat (lebih rapat bila dibandingkan dengan gambut ombrogen) (Istomo. 2006).

Pada Lampiran 3 dapat dilihat ketebalan gambut yang terdapat pada lahan gambut di Kab. Humbang Hasundutan yang terdiri atas tiga tipe penutupan lahan dari jumlah plot yang diukur.

5.1.2.5 Luas Tanah Gambut Contoh

Luas keseluruhan lahan gambut di desa Nagasaribu Kec. Lintongnihuta Kab. Humbang Hasundutan sebesar 97,99 ha. Lokasi lahan gambut tersebut dipisah oleh jalan besar. Lokasi lahan gambut tersebut dibagi menjadi tiga bagian yaitu tanah bervegetasi, tanah tidak bervegetasi dan tanah bekas digali. Luas tanah bervegetasi 0,06 ha (600 m2), luas tanah tidak bervegetasi sebesar 0,01 ha (100 m2)dan luas tanah bekas galian sebesar 2 ha (20.000 m2). Tidak semua luas lahan dipergunakan untuk melakukan penelitian ini karena sebagian lahan gambut ini tidak memungkinkan untuk dilakukan analisa vegetasi.

Tabel 7. Luas tanah gambut yang dibagi atas tiga jenis tanah pada lahan gambut di Kab. Humbang Hasundutan

No Tipe Penutupan Lahan Luas areal (ha)

1 Bervegetasi 0,06

2 Tidak Bervegetasi 0,01

5.1.2.6 Pengukuran Tinggi Muka Air Saluran

Tinggi muka air di saluran drainase di lahan gambut Kab. Humbang Hasunduntan berkisar antara 25 - 55 cm.Tinggi muka air tanah pada lahan gambut yang didrainase dipengaruhi oleh dalam saluran drainase, sedangkan jenis vegetasi tidak terlihat berpengaruh terhadap tinggi muka air tanah (Finn . 1983). Hasil penelitian Andrie et al. (2010) juga menemukan bahwa pembuatan saluran drainase yang berlebihan menyebabkan perubahan sifat-sifat fisika, kimia dan biologi gambut, dampaknya dalam muka air tanah pada musim kemarau letaknya jauh dari permukaan tanah, sedangkan pada musim hujan berada dekat permukaan tanah.

5.1.3 Perhitungan Pendugaan Simpanan Karbon Bawah Permukaan

Dengan diperolehnya luas lahan gambut, kedalaman tanah gambut, berat volume (Bulk density) dan Simpanan karbon (C-Organik) pada setiap jenis tanah gambut pada lahan gambut di Kab. Humbang Hasundutan maka dapat dihitung Biomasa bawah permukaan gambut.

Pada Tabel 8 dapat dilihat hasil dari potensi biomasa bawah permukaan pada lahan gambut di Kab. Humbang Hasundutan. Simpanan karbon terbesar terdapat pada jenis tanah tidak bervegetasi sebesar 0,400 ton. Sedangkan simpanan karbon terkecil terdapat pada jenis tanah bervegetasi sebesar 0,333 ton. Total simpanan karbon bawah permukaan pada luas areal 2,07 ha sebesar 1,118 ton..

Tabel 8. Potensi biomasa bawah permukaan pada lahan gambut di Kab. Humbang Hasundutan No Tipe Penutupan Lahan Bulk density (ton/m3) Luas tanah gambut (ha) Ketebalan gambut (m) Kadar karbon (C-Organik) (%) Simpanan karbon (ton) 1 Bervegetasi 0,286 0,06 2,5 56,81 0,333 2 Tidak bervegetasi 0,282 0,01 2,5 56,78 0,400 3 Bekas galian 0,274 2 2,5 56,58 0,385

5.1.4 Perhitungan Jumlah Emisi CO2

Gas rumah kaca (GRK) yang dikeluarkan (diemisikan) lahan gambut adalah CO2, CH4 (metan), dan N2O. Di antara ketiga gas tersebut CO2 merupakan GRK terpenting karena jumlahnya yang relatif besar, terutama dari lahan gambut yang sudah berubah fungsi dari hutan menjadi lahan pertanian dan pemukiman.

Pada Tabel 9 dapat dilihat hasil dari jumlah emisi CO2 pada lahan gambut di Kab. Humbang Hasundutan.

Tabel 9. Emisi CO2 pada lahan gambut di Kab. Humbang Hasundutan Ea (t CO2) Ebb (t CO2) Ebo (t CO2) Sa Δt Efiensi Pembakaran (%) Emisi Total (ton/tahun) 25,55 7.122,09 769,18 0 5 25 1,58

Dari hasil yang diperoleh bahwa emisi karena terbakarnya jaringan tanaman di atas permukaan tanah (Ea) sebesar 25,55 t CO2. Emisi karena kebakaran gambut (Ebb) sebesar 7122,09 t CO2. Emisi dari dekomposisi gambut (Ebo) sebesar 769,18 t CO2 dimana pendugaan berdasarkan penurunan permukaan gambut (subsiden). Dimana Ea, Ebb dan Ebo dikalikan 25 % (efisiensi pembakaran). Tidak ada terjadi Sequestrasi (Sa) atau penambatan karbon oleh tanaman pada lahan gambut di Kab. Humbang Hasundutan sehingga dianggap 0. Sedangkan perbedaan atau lamanya waktu yang diperhitungkan (Δt) selama 5 tahun.

Sehingga emisi CO2 dapat dihitung dengan menggunakan rumus diatas, yaitu: E = (25,55 t CO2 + 7.122,09 t CO2 + 769,18 t CO2 – 0 )/5 th

E = 7.916,82 t CO2/5 th E = 7,9 ton/5 thn

Dari perhitungan diatas dapat diinterpretasi bahwa 7,9 ton akan teremisi dari 2,07 ha di Kab. Humbang Hasundutan selama 5 tahun dan emisi per tahun sebesar 1,58 ton dengan efisiensi pembakaran sebesar 25%.

Dokumen terkait