• Tidak ada hasil yang ditemukan

Biomassa dan Cadangan Karbon Tersimpan di Berbagai Tipe

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Biomassa dan Cadangan Karbon Tersimpan di Berbagai Tipe

Berdasarkan hasil perhitungan, penutupan lahan di TNMB memiliki kisaran rata-rata pendugaan biomassa tersimpan sebesar 46,39 Mg.ha-1 – 241,85 Mg.ha-1 dan kisaran rata-rata cadangan karbon sebesar 20,31 Mg.ha-1 – 120,93 Mg.ha-1. Hutan primer memiliki biomassa dan cadangan karbon tersimpan tertinggi sedangkan areal pertanian memiliki biomassa tersimpan dan cadangan karbon yang terendah dibandingkan tipe penutupan lahan lainnya. Hasil pendugaan biomassa tersimpan dan cadangan karbon yang tersaji dalam Tabel 13 berdasarkan pengukuran langsung di lapang pada 8 tipe penutupan lahan. Khusus untuk tipe penutupan lahan yang tidak dilakukan pengukuran secara langsung yaitu perkebunan kakao, perkebunan kopi, dan perkebunan sengon, maka digunakan data sekunder yang relevan. Rekapitulasi hasil perhitungan rata-rata biomassa dan cadangan karbon tersimpan dengan setiap komponen penyusunnya yang diukur secara langsung di lapang disajikan dalam Lampiran 2 dan 3.

Tabel 13 Rata-rata biomassa dan cadangan karbon tersimpan di berbagai tipe penutupan lahan di TNMB

No. Tipe penutupan lahan Rata-rata biomassa

tersimpan (Mg.ha-1)* Rata-rata cadangan karbon (Mg.ha-1)* 1. Hutan primer 241,85 120,93 2. Hutan sekunder 239,04 106,61 3. Mangrove 152,19 67,06 4. Kebun campuran 50,32 22,14 5. Areal pertanian 46,39 20,41 6. Semak belukar 75,24 32,28

7. Padang rumput dan alang-alang 49,35 21,17

8. Perkebunan karet 218,09 95,96

Keterangan: *1 Mg = 1 Ton = 106 g

5.3.1 Cadangan Karbon Hutan

Tipe penutupan lahan berupa hutan dibedakan menjadi tiga kelas, yaitu hutan primer, hutan sekunder, dan mangrove. Cadangan karbon di hutan primer dijadikan sebagai acuan dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini, dapat diasumsikan bahwa hutan primer mengalami kehilangan cadangan karbon sebesar 11,84% selama proses peralihan menjadi hutan sekunder. Persentase ini tidak berbeda jauh dengan persentase penurunan cadangan karbon yang ada di hutan primer di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, yaitu sebesar 17%. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kesamaan faktor yang mempengaruhi rendahnya

persentase penurunan cadangan karbon baik di Kabupaten Nunukan maupun di TNMB. Faktor yang mempengaruhi rendahnya persentase penurunan cadangan karbon adalah komposisi asli dari hutan dan perubahan trend aktivitas perambahan hutan dari waktu ke waktu (Lusiana et al. 2005).

Terdapat 2 faktor yang mempengaruhi rendahnya persentase penurunan cadangan karbon secara tidak langsung di TNMB, yaitu komposisi asli dari hutan dan perubahan trend aktivitas perambahan hutan dari waktu ke waktu, dalam kaitannya dengan kegiatan pemantauan sesuai hukum dan penegakan hukum secara tegas. Hutan primer dan hutan sekunder memiliki komposisi vegetasi yang tidak jauh berbeda. Dari 102 spesies pohon yang ditemukan di hutan sekunder, 60 spesies diantaranya juga ditemukan di hutan primer. Spesies pohon yang ditemukan baik di hutan primer maupun di hutan sekunder seperti berasan, baderan, bendo, besole. Selain itu, pada 6 plot pengukuran di hutan sekunder, dijumpai pohon-pohon berdiameter mencapai 100 - 200 cm di antara area terbuka (gap) didalam hutan sekunder, seperti Glintungan (B. javanica) dan Ketangi (Lagerstroemia speciosa). Spesies pohon pencekik, seperti Apak (F. benjamina) dan Gondang (F. variegata) juga cukup banyak ditemukan menempel pada pohon di dalam plot pengukuran di hutan sekunder. Satu pohon dapat ditempeli 2 sampai 3 pohon pencekik. Hutan sekunder di TNMB, khususnya di zona inti berpotensi untuk menjadi hutan primer kembali setelah mencapai klimaks dalam suksesi primer.

Peningkatan kegiatan pemantauan dalam kawasan dan penegakan hukum yang dilakukan secara tegas oleh pihak taman nasional, menyebabkan penurunan trend perambahan hutan dari waktu ke waktu. Sejak perambahan hutan marak terjadi pada tahun 1997, penegakan hukum bagi pencurian kayu ilegal ditegakkan secara tegas. Setiap hasil temuan kayu curian maupun pelaku yang tertangkap mencuri hasil hutan maupun satwa akan dilaporkan ke kepolisian setempat yang akan diteruskan sampai vonis pengadilan diturunkan. Hal ini menimbulkan efek jera bagi pelaku pencurian kayu. Selain penegakan hukum, pengelola taman nasional juga melakukan kegiatan pemantauan kawasan hutan dengan melibatkan warga lokal yang tergabung dalam Jagawana. Kegiatan pemantauan menjadi lebih intensif karena informasi-informasi pencurian hasil hutan dan satwa liar maupun

51

perambahan hutan atau kebakaran hutan lebih cepat diterima oleh polisi hutan (Polhut) yang berada di dekat area yang diduga terjadi aktivitas pencurian.

Mangrove di TNMB memiliki nilai cadangan karbon sebesar 67,06 Mg.ha-1 atau memiliki persentase 55,45%. Persentase ini sebenarnya bisa lebih besar dengan asumsi kondisi mangrove di lokasi ini pada masa lalu lebih baik daripada kondisi mangrove pada saat pengukuran dilakukan. Pada tahun 1994, tsunami menerjang di sepanjang garis pantai kawasan TNMB sehingga merusak vegetasi mangrove dan sebagian hutan pantai. Rusaknya vegetasi mangrove menyebabkan penurunan kemampuan penyerapan karbon di mangrove tersebut.

Nilai cadangan karbon yang tersimpan, baik dalam hutan primer, hutan sekunder di TNMB cukup kecil dibandingkan dengan jumlah cadangan karbon di beberapa lokasi dengan tipe hutan yang sama. Hasil pengukuran cadangan karbon di hutan primer dan hutan sekunder di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur oleh Lusiana et al. (2005) menunjukkan cadangan karbon sebesar 230,10 Mg.ha-1 dan 212,90 Mg.ha-1.

5.3.2 Cadangan Karbon Non-hutan

Tipe penutupan lahan non-hutan yaitu semak belukar, padang rumput dan alang-alang, kebun campuran, areal pertanian, dan perkebunan (karet, kakao, kopi, dan sengon). Konversi hutan menjadi areal pertanian, kebun campuran, dan perkebunan terjadi di kawasan ini. Sejarah tentang keberadaan beberapa padang rumput dan alang-alang serta semak belukar sudah alami terbentuk berdasarkan informasi dari citra Landsat 5 TM tahun 1989.

Nilai cadangan karbon pada areal pertanian lebih rendah 8,59% daripada kebun campuran. Persentase ini dapat diasumsikan tidak terlalu jauh berbeda, karena areal pertanian yang ada di TNMB berada di zona rehabilitasi. Pada zona rehabilitasi, di sela pematang sawah ditanami pohon-pohon buah maupun bahan baku obat yang wajib ditanam dari pengelola taman nasional. Areal pertanian di dalam kawasan TNMB selama lebih dari 20 tahun, namun rehabilitasi baru dilakukan sejak tahun 1997, sehingga potensi penyerapan karbon masih relatif sedikit. Kebun campuran yang ada di TNMB umumnya berada di zona rehabilitasi dan di dalam areal perkebunan. Kebun campuran yang sering dijumpai menggunakan teknik tumpangsari. Pohon-pohon buah ditanam berselingan

dengan tanaman hortikultura seperti Pisang dan Kacang, atau dengan pohon komersil seperti Jati, Mahoni, dan Sengon.

Pengukuran cadangan karbon secara langsung yang dilakukan di areal perkebunan hanya dilakukan di areal perkebunan Karet. Pengukuran cadangan karbon untuk areal Kakao, Kopi, dan Sengon tidak dilakukan secara langsung, namun menggunakan data sekunder. Pengukuran cadangan karbon di perkebunan karet memiliki persentase sebesar 79,35% atau bila dibandingkan dengan hutan primer memiliki perbedaan sebesar 24,97 Mg.ha-1. Hal ini disebabkan oleh pengelolaan areal kebun Karet oleh pihak perkebunan. Jarak tanam yang dekat dan ukuran diameter tiap pohon yang hampir seragam mampu menyimpan karbon lebih besar daripada areal perkebunan dengan sistem tumpangsari (kebun campuran).

5.4 Perubahan Cadangan Karbon Tersimpan dalam Skala Lanskap TNMB

Dokumen terkait