• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.8 Kadar Karbon

5.9.1 Biomassa Pohon Mati/Nekromasa

Biomassa merupakan banyaknya materi organik yang tersimpan dalam pohon. Biomassa dapat diukur dengan mengetahui berat atau volume bagian-bagian kayu, dan nilai kadar airnya. Perhitungan biomassa dilakukan pada contoh uji nekromasa yang dibagi kedalam 3 dekomposisi pelapukan yang dapat dihitung dengan rumus allometrik pendugaan biomassa dalam kondisi pohon mati berdiri bercabang dihitung dengan rumus allometrik Kettering (2001) sedangkan pendugaan biomassa nekromasa pohon mati berdiri hanya batang utama, pohon tumbang, dan tunggak pohon dihitung berdasarkan persamaan allometrik menurut Hairiah (2001). Perbandingan nilai total perhitungan pendugaan biomassa nekromasa dominan dari kedua rumus tersebut dapat dilihat pada Gambar 13.

Gambar 13 Perbandingan total biomassa pohon mati/nekromasa di setiap kondisi hutan gambut.

Berdasarkan Gambar 13, kayu Meranti memiliki total biomassa tertinggi pada setiap kondisi hutan, sedangkan nilai total biomassa terendah pada primary

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 18000 20000 Primary Forest LOA Secondary Forest Degraded Forest B iomassa (kg/ ha) Kondisi Hutan Meranti Medang Milas Balam Kelat Timah-timah Suntai

forest dan LOA terdapat pada jenis Balam. Jenis Timah-timah memiliki total biomassa terendah pada secondary forest. Sedangkan pada degraded forest, total biomassa terendah terdapat pada jenis Suntai. Jenis Meranti merupakan pohon yang banyak tumbuh pada setiap kondisi hutan gambut, namun sering mengalami gerowong pada bagian kayu teras/empulur (heartwood) yang menyebabkan pohonnya mudah tumbang/roboh sehingga nekromasa Meranti pun banyak dijumpai pada setiap kondisi hutan.

Berdasarkan data kerapatan kayu dari ketujuh nekromasa dominan berdasarkan tingkat dekomposisinya maka dapat ditentukan nilai total biomassa dari seluruh nekromasa yang ditemukan pada setiap plot penelitian di keempat kondisi hutan gambut berdasarkan perhitungan dari kedua persamaan penduga biomassa nekromasa. Hasil pendugaan total biomassa seluruh nekromasa berdasarkan tingkat dekomposisi dari setiap kondisi hutan dapat dilihat pada Tabel 27.

Tabel 27 Total biomassa Nekromasa dari setiap kondisi hutan gambut berdasarkan tingkat dekomposisi

No Kondisi Hutan Rata-rata Biomassa (ton/ha) Total Biomassa (ton/ha) Tidak Lapuk Setengah Lapuk Lapuk

1 Primary forest 1.96 16.56 1.43 19.96

2 LOA 57.65 23.36 0.80 81.81

3 Secondary forest 35.12 12.58 3.42 51.12

4 Degraded forest 31.11 20.11 0.37 51.59

Rata-rata (ton/ha) 31.46 18.15 1.50 51.12

Hasil akhir total biomassa pohon mati/nekromasa dari perhitungan kedua persamaan penduga biomassa pada dekomposisi tidak lapuk dan setengah lapuk yang tertinggi terdapat pada logged over area, sedangkan yang terendah terdapat pada primary forest untuk dekomposisi tidak lapuk dan setengah lapuk terdapat pada. Pada dekomposisi lapuk, kondisi secondary forest memiliki rata-rata biomassa tertinggi, sedangkan nilai terendah sebesar 0.37 ton/ha terdapat pada degraded forest. Dari data-data tersebut dapat dilihat bahwa pada dekomposisi tidak lapuk memiliki rata-rata biomassa paling besar dibandingkan dengan tingkat dekomposisi lainnya.

Terjadinya degradasi hutan akibat kegiatan penebangan cenderung akan memperbesar jumlah nekromasa pohon di hutan. Hal ini menunjukan bahwa

biomassa yang hilang dari hutan akan semakin menurun dengan adanya kegiatan penebangan. Pada penelitian ini jumlah nekromasa pohon di primary forest yang mengalami degradasi ringan (pohon tumbang akibat tua, angin besar, dan penyakit) yakni sebesar 19.96 ton/ha. Jumlah tersebut relatif lebih kecil dibandingkan dengan jumlah nekromasa logged over area sebesar 81.81 ton/ha, degraded forest sebesar 51.59 ton/ha, dan secondary forest sebesar 51.12 ton/ha. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa biomasa yang terdapat pada pohon mati/nekromasa berkisar antara 19.96 ton/ha–81.81 ton/ha.

Total Secara keseluruhan, nilai total rata-rata biomasa pohon

mati/nekromasa pada semua kondisi hutan adalah 51.12 ton/ha yang berarti bahwa

sekitar 51.12 ton/ha tegakan kehilangan biomassanya meski tanpa pembakaran dan

hal itu berarti bahwa secara tidak langsung telah melepaskan CO2 ke udara tanpa

pembakaran dan hal ini berarti pula bahwa jumlah karbon tersimpan pada tegakan di areal tersebut berkurang dengan banyaknya kandungan biomassa pada pohon mati.

Pengurangan biomasa pada tegakan akibat kegiatan pemanenan hutan yaitu pada kondisi LOA sebesar 81.81 ton/ha. Pengurangan biomasa pada LOA paling tinggi diantara kondisi hutan lainnya. Menurut Whitten eta1. (1984) dalam Tresnawan (2002) menyatakan bahwa pembukaan hutan dan perubahan dalam penggunaan lahan yang disebabkan oleh kegiatan pemanenan akan mengakibatkan pengurangan biomasa dalam jumlah yang sangat besar, yaitu ± 100 ton/ha di hutan dataran rendah. Perbedaan tersebut dikarenakan pada penelitian ini dilakukan pada hutan dataran rendah tanah gambut (tanah basah) sedangkan pada penelitian Tresnawan (2002) yang mengacu pada Whitten et al (1984) dilakukan pada hutan dataran rendah tanah mineral (tanah kering). Hutan tanah mineral memiliki tingkat keanekaragaman flora dan fauna yang lebih tinggi. Selain itu, vegetasi hutan tanah mineral lebih banyak dibandingkan dengan hutan rawa gambut, sehingga penurunan biomasa akibat kegiatan pemanenan hutan akan lebih tinggi dibandingkan dengan hutan rawa gambut.

Kegiatan pemanenan hutan akan menyebabkan jumlah nekromasa semakin besar pada areal tersebut. Besarnya kandungan nekromasa mengindikasikan bahwa terjadi penurunan pada jumlah biomassa tersimpan pada tegakan di areal tersebut. Semakin menurunnya jumlah biomasa tersebut akan membawa dampak negatif terhadap kelangsungan ekosistem hutan terutama dalam ketersediaan unsur hara

dan kesuburan tanah. Hal ini juga berpengaruh terhadap siklus karbon di atmosfer karena hampir 50% biomassa tumbuhan terdiri dari unsur karbon dan unsur tersebut dapat lepas ke atmosfer apabila hutan mengalami gangguan degradasi.

5.9.2 Biomassa Serasah

Perhitungan biomassa serasah (serasah kasar dan halus) dihitung berdasarkan total berat basah dan nilai rata-rata persen kadar airnya. Biomasa serasah kasar dan serasah halus memberikan sumbangan biomasa yang relatif kecil dibandingkan dengan pohon dan nekromassa. Nilai rata-rata biomasa serasah kasar dan serasah halus di primary forest, logged over area/LOA, secondary forest, dan degraded forest dapat dilihat pada Tabel 28.

Tabel 28 Rata-rata biomassa serasah dari setiap kondisi hutan gambut

No Kondisi Hutan Rata-rata Biomassa (ton/ha) Rata-rata (ton/ha) Serasah Kasar Serasah Halus

1 Primary forest 12.92 12.60 12.76

2 LOA 13.90 8.41 11.15

3 Secondary forest 8.05 3.84 5.95

4 Degradded forest 11.68 4.44 8.06

Total Rata-rata (ton/ha) 11.64 7.32 9.48

Pada Tabel 28 dapat dilihat bahwa nilai biomassa serasah kasar tertinggi terdapat pada kondisi logged over area, sedangkan rata-rata biomassa terendah terdapat pada kondisi secondary forest. Biomassa tertinggi untuk serasah halus terdapat pada kondisi primary forest, sedangkan nilai rata-rata biomassa terendah terdapat pada kondisi secondary forest. Secara keseluruhan, nilai rata-rata biomassa serasah kasar lebih besar dibandingkan dengan serasah halus sehingga nilai total rata-rata serasah dari semua kondisi hutan adalah sebesar 9.48 ton/ha.

Secara umum jumlah biomasa serasah kasar dan serasah halus pada keempat kondisi hutan gambut terdapat perbedaan yang cukup besar antara hutan primer, hutan bekas tebangan, hutan sekunder, dan hutan terdegradasi. Hal ini antara lain disebabkan oleh adanya kegiatan pemanenan hutan dan penutupan tajuk yang berbeda. Kerusakan hutan alam lebih banyak disebabkan oleh fenomena alam seperti pohon tua mati, pohon tumbang oleh angin dan hujan lebat, sedangkan kerusakan pada logged over area, secondary forest, dan

degraded forest sangat besar akibat dari kegiatan pemanenan hutan dan pembukaan lahan hutan oleh masyarakat sekitar hutan pada degraded forest.

Besarnya nilai biomassa serasah kasar hutan pada LOA disebabkan karena banyaknya limbah batang, cabang, ranting, dan daun yang dihasilkan dari kegiatan penebangan yang berlangsung di lokasi hutan tersebut. Sedangkan produksi serasah halus terbesar pada primary forest dimana proses dekomposisi serasah yang lambat diakibatkan oleh kondisi hutan yang lembab dan basah tergenang air, sehingga keberadaan serasah akan lebih lama di permukaan tanah.

Berdasarkan data perhitungan rata-rata biomassa serasah pada setiap kondisi hutan, primary forest memiliki nilai rata-rata biomassa serasah tertinggi sebesar 12.76 ton/ha sedangkan secondary forest memiliki nilai rata-rata total biomassa serasah terendah yaitu sebesar 5.95 ton/ha. Hal tersebut dikarenakan pada kondisi hutan sekunder tutupan tajuknya lebih rendah dibandingkan hutan primer. Besarnya kandungan biomassa pada serasah menggambarkan secara tidak langsung CO2 yang tidak dilepaskan ke udara lewat pembakaran dan hal ini berarti bahwa jumlah karbon tersimpan pada tegakan di areal tersebut berkurang dengan banyaknya kandungan biomassa pada serasah.